Mudah Memaafkan

Mudah Memaafkan

Setelah bersiap-siap di hotel dan makan siang, kami langsung beranjak menuju Bandara Cengkareng. Saat akan meninggalkan hotel, beliau mengucapkan selamat tinggal kepada pemilik hotel, kemudian mengeluarkan sebuah pena dan berkata, ”Pena aku hilang, dan aku menemukan pena ini di kamar hotel, boleh aku pakai?” Sang pemilik hotel secara spontan berkata, “Silakan ya Syaikh, silakan ya Syaikh.” Ini kelihatannya perkara sepele karena hanya sebuah pena, tetapi bagi syaikh itu bukan sepele, beliau harus tetap minta izin karena pena tersebut milik orang lain. Bisa saja apabila kita menganggap sepele maka akan datang setan dan berkata, “Ambil saja pena itu, itukan sarana yang diberikan pihak hotel kepada penghuni kamar sebagaimana pihak hotel menyediakan sabun dan shampo.” Kami pun naik mobil menuju bandara. Syaikh mengeluarkan uang sejumlah 500 real, lalu berkata, “Firanda jangan lupa berikan uang ini ke si fulan (ahli herbal), usahakan ia untuk menerima uang ini bagaimanapun caranya, karena kemungkinan ia akan menolaknya.” Di tengah perjalanan ada seorang ikhwah yang menelponku meminta izin agar Syaikh mau mendoakan anak-anaknya di bandara, dan ia akan membawa anak-anaknya di bandara. Saat kami sampai di bandara tampak beberapa ikhwan yang sudah menunggu, di antaranya ikhwan yang meminta anak-anaknya didoakan. Aku pun mengabarkan hal itu kepada Syaikh maka beliau pun memegang kepala anak ikhwan tersebut dan berdoa kepada Allah agar menyembuhkan anak tersebut. Demikian juga Syaikh diminta untuk mendoakan anaknya yang lain agar menjadi anak shaleh maka Syaikh pun mendoakannya. Di bandara kami pun bertemu dengan si ahli herbal, maka saat Syaikh menjauh bersama ikhwan-ikhwan yang lain, aku pun memberikan uang tersebut kepada si ahli herbal. Seperti telah kuduga ia menolak dengan keras sambil berkata, “Aku sudah senang sekali bisa mengkhidmah Syaikh, dan aku tidak ingin uang tersebut.” Aku pun tetap berusaha keras untuk memasukkan uang tersebut ke kantongnya, tetapi ia pun berusaha keras untuk menolaknya seakan-akan kami sedang bertengkar. Namun, masih ada satu jurus yang aku yakin dapat menjatuhkan ahli herbal ini, maka aku pun berkata kepadanya, “Ini hadiah dari Syaikh, dan bukan ongkos mijit. Bukankah Nabi tidak menolak hadiah?”  Mendengar perkataanku ini ia pun luluh dan menerima uang tersebut. Setelah itu kami pun masuk ke ruang tunggu, namun ternyata petugas Saudi Air lines mengabarkan bahwa pesawat delay selama dua jam. Akhirnya kami pun duduk menunggu. Beliau kemudian berkata kepadaku, “Firanda, engkau punya uang? Aku mau pinjam. Soalnya uangku sudah habis.” Aku katakan, “Uangku ada Syaikh.” Beliau kemudian meminjam uang senilai 1 juta rupiah, yang satu juta ini senilai 400 real. Beliau lalu berkata, “Firanda, aku lupa, anakku yang paling kecil Abdul Aziz belum aku belikan hadiah.” Beliau pun keluar dari ruang tunggu, kemudian kurang lebih satu jam beliau kembali sambil membawa sekantong hadiah untuk putra bungsunya Abdul Aziz.  Saat menunggu kedatangan pesawat, aku melihat syaikh membuka buku dan belajar sambil memberi catatan-catatan kecil di buku tersebut. Aku baru sadar itulah kenapa beliau meminta pena dari hotel, ternyata digunakan beliau belajar selama dalam perjalanan.

Batinku berkata, “Ternyata semakin tinggi ilmu seseorang, semakin semangat belajar. Bahkan di tengah keramaian seperti bandara, beliau tetap belajar memanfaatkan waktu.” Akhirnya pesawat berangkat, dan pertama kali pesawat transit adalah di bandara Singapura. Para penumpang diminta untuk turun dari pesawat dan membawa seluruh barang bawaan. Kami pun keluar dari pesawat dan langsung mencari mushala untuk shalat maghrib dan isya dengan jama’ ta’khir. Selepas shalat, aku minta izin Syaikh ke kamar kecil, dan saat kembali ke mushala aku mendapati beliau sedang melaksanakan shalat witir. Setelah itu kami pun kembali naik ke pesawat untuk melanjutkan penerbangan. Sempat aku menuju ke bagian depan pesawat untuk ke kamar kecil, ternyata aku melihat Syaikh tidak tidur, tetapi beliau sedang membaca sebuah buku. Subhaanallah, di pesawat pun beliau belajar. Demikianlah kepribadian Syaikh, beliau seorang yang sangat menghargai waktu. Para pemerhati kajian syaikh di Radio Rodja dan tentu para pendengar  dapat mengamati di dua tahun awal pengajian syaikh di radiododja, waktu siarannya adalah ba’da isya di Jakarta, atau selepas ashar di kota Madinah. Akan tetapi, karena syaikh memiliki jadwal tetap pengajian di masjid Nabawi,  kajian Syaikh dimajukan menjadi sekitar sejam sebelum maghrib waktu di Jakarta atau selepas shalat zhuhur di kota Madinah. Ini sudah menunjukan bagaimana kesibukan beliau yang sangat luar biasa. Beliau memiliki jadwal mengajar di Al-Jami’ah Al-Islamiyah (Islamic University of Madina). Sebagai dosen pembimbing, beliau harus membimbing sekitar empat atau lima mahasiswa dalam menulis tesis atau disertasi. Beliau juga merupakan pengajar tetap setiap hari di masjid Nabawi. Selain itu beliau sering mengisi muhadharah atau kajian di radio Al-Qur’an Arab Saudi. Sebagai dosen penguji beliau harus membaca beberapa risalah ilmiyah (tesis atau disertasi) yang sangat tebal. Beliau juga memiliki kesibukan mengurus website dakwah milik beliau. Belum lagi safari dakwah, baik dalam negeri maupun luar negeri. Beliau juga masih aktif menulis buku dan mengisi di Radio Rodja dua kali sepekan. Sungguh kesibukan yang sangat luar biasa. Bagi beliau waktu adalah emas, sangat berharga untuk beribadah kepada Allah.

Para pemirsa kajian rutin beliau di Radio Rodja tentu dapat mengamati bahwa hampir setiap kajian beliau, yang aku terjemahkan di awal pengajian Syaikh selalu berbicara sekitar lima sampai sepuluh menit, kemudian aku terjemahkan. Adapun setelah itu beliau tidak berbicara lama, tetapi dengan sedikit jeda untuk kemudian aku terjemahkan. Beliau tidak diam mengamati aku yang sibuk menerjemahkan, tetapi waktu tersebut beliau gunakan untuk shalat sunnah. Bahkan terkadang beliau sampai melaksanakan shalat sunnah dua kali. Mekanismenya yaitu beliau berceramah beberapa saat, kemudian aku menerjemahkan. Saat aku menerjemahkan, beliau shalat sunnah dua rakaat, setelah itu beliau ceramah lagi dan aku menerjemahkan lagi, beliau kembali shalat sunnah lagi dua rakaat.

Pernah juga di saat aku sedang menerjemahkan, beliau membuka manuskrip kitab-kitab ulama yang telah usang, kemudian beliau membacanya sambil  menunggu aku selesai menerjemahkan atau beliau membaca kitab-kitab yang lain. Demikianlah Syaikh Abdurrazzaq yang  sangat menghargai waktu. Tidak seperti kebanyakan kita yang memiliki waktu yang banyak terbuang. Aku jadi teringat tentang cerita yang aku dengar di Radio Al-Qur’an Arab Saudi bahwa Syaikh Nashir As-Sa’di yang begitu menghargai waktu, suatu hari pernah melewati beberapa orang yang sedang asyik ngobrol sambil minum ghahwah (kopi arab), beliau berkata kepada mereka, “Kalau seandainya waktu kalian yang berlebih ini bisa aku beli maka akan aku beli dari kalian.” Syaikh Abdurrazzaq juga pernah bercerita kepadaku tentang bagaimana perhatiannya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah terhadap waktu. Beliau mengatakan bahwa Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah jika berjalan maka cara berjalan beliau seperti orang yang tergesa-gesa, seakan-akan ada perkara penting yang selalu menanti beliau. Oleh karena itu, syaikh Bakr Abu Zaid sering mengatakan tentang proyek-proyek karya ilmiah beliau, “Ini adalah proyek seumur hidup.”

Kembali ke perjalanan menuju Madinah, kami masih harus transit untuk kedua kali di Riyadh, dan akhirnya kami pun tiba di bandara Jeddah. Saat di Jeddah kami harus mengambil barang bagasi, aku baru sadar bahwa tiket pesawat dari Jeddah ke Madinah -milik kami berdua- yang aku bawa tertinggal di pesawat. Sementara keberangkatan dari Jeddah ke Madinah sekitar 20 menit lagi. Akhirnya aku sedikit khawatir bahwa Syaikh akan marah karena sulit untuk kembali ke pesawat dan waktunya pun tidak akan terkejar. Akhirnya aku kabarkan kepada beliau, namun ternyata tidak ada sedikitpun rasa marah, bahkan beliau berkata dengan tenangnya, “Tidak mengapa, kita coba laporkan ke petugas. Siapa tahu bisa yang penting nomor booking tiket masih ada.” Ternyata setelah diurus pun tidak bisa karena pesawat tidak terkejar, hanya ada jadwal penerbangan menjelang zhuhur sehingga akhirnya kami naik mobil dari Jeddah menuju Madinah. Di tengah perjalanan, saat mobil mengisi bahan bakar, Syaikh kembali meminjam uangku seratus real. Beliau pun pergi ke mini market, dan membeli coklat serta makanan-makanan ringan sekantong plastik, kemudian memberikannya kepadaku dan berkata, “Ini hadiah dariku untuk anak-anakmu, jadi utangku sekarang 500 real.” Subhaanallah, beliau meminjam uang dariku untuk membelikan hadiah untuk anak-anakku. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tiga sampai empat jam, akhirnya sampailah kami di kota tercinta Madinah. Sesampai di rumahnya, Syaikh tidak istirahat terlebih dahulu, ternyata beliau hanya ganti baju lalu menuju Universitas Islam Madinah untuk menjalankan tugasnya sebagai dosen.

Demikianlah perjalanan dakwah dan pribadi Syaikh Abdurrazzak Badr. Semoga apa yang dituangkan dalam buku kecil dapat membangkitkan kembali semangat setiap muslim dalam beramal dan menuntut ilmu. Marilah kita semua mendoakan beliau agar Allah menjaga dan menetapkan hati beliau di atas keikhlasan dan sunnah serta selalu memberikan taufiq kepada beliau. Karena bagaimanapun tidak ada seseorang yang merasa aman dari fitnah. Aku sangatlah yakin bahwa semakin beriman dan bertakwa serta berilmu,  godaan dan cobaan yang dihadapi akan semakin besar. Bukankah Rasulullah pernah bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ مِنْ النَّاسِ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي بَلَائِهِ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ

Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi kemudian orang-orang shaleh kemudian yang terbaik dan seterusnya. Seseorang diuji berdasarkan agamanya. Jika imannya kokoh maka akan ditambah cobaannya dan jika ternyata imannya lemah dikurangi cobaannya. (HR. Ahmad 3/78 No. 1481 dengan sanad yang hasan)

Di sini aku pun ingin memohon maaf apabila terdapat perkataan yang kurang berkenan, atau ada cerita yang sebenarnya kurang pantas untuk disampaikan. Selain itu, perlu diingat bahwa apa yang disampaikan termasuk periwayatan dengan makna dan berupa pendekatan. Oleh karena itu, tidak luput dari kekurangan, mengingat kemampuan penulis sebagai seorang hamba sangatlah terbatas. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan para pembaca sekalian. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Penulis: Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema: SEPENGGAL CATATAN PERJALANAN
DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA
(Mendulang Pelajaran Akhlaq dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizohulloh)