Berdoa Kepada Allah Agar Dijauhkan Dari Penyakit Riya’

Berdoa Kepada Allah Agar Dijauhkan Dari Penyakit Riya’

Selain merenungkan perkara-perkara yang telah disebutkan dalam pasal lalu, maka ada beberapa perkara yang perlu dilakukan oleh seseorang agar lebih mantap dalam menolak dan melawan Riya’.

Merupakan perkara yang terpenting untuk melawan riya adalah berdoa kepada Allah agar terjauhkan dari Riya’

Pertama : Doa agar dijauhkan dan dilindungi dari Riya’

Dari Abu Musaa Al-‘Asy’ari radhiallahu ‘anhu beliau berkata:

خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ :  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ فَقَالَ لَهَ مَنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُوْلَ : وَكَيْفَ نَتَّقِيْهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟، قَالَ : قُوْلُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وُنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

“Suatu hari Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami dan maka ia berkata, “Wahai manusia, jagalah diri kalian dari kesyirikan ini, karena sesungguhnya ia lebih samar dari pada rayapan semut”. Maka ada seseorang yang berkata, “Lantas bagaimana cara kami menjauhinya padahal ia lebih samar dari rayapan semut wahai Rasulullah?”

Nabi ﷺ berkata : “Katakanlah : Yaa Allah kami berlindung kepadaMu dari perbuatan syirik kepadaMu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami beristighfar (memohon ampunanMu) dari kesyirikan yang kami tidak ketahui” (Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa at-Tarhib no 36)

Kedua : Doa tatkala dipuji

Sungguh pujian terkadang bisa menghilangkan keikhlasan seseorang dan membuat seseorang menjadi terjangkiti riya dan ujub.

عَنْ أَبِي مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ وَيُطْرِيْهِ فِي مَدْحِهِ فَقَالَ أَهْلَكْتُمْ أَوْ قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ

Dari Abu Musa rahdiallahu ‘anhu ia berkata, “Nabi ﷺ mendengar seseorang memuji orang lain, dan berlebihan dalam memujinya, maka Nabi ﷺ berkata, “Kalian telah membinasakannya” atau “Kalian telah mematahkan tulang punggungnya” (HR Al-Bukhari no 2663 dan Muslim no 3001)

Orang yang dipuji berlebihan akan binasa, akan tetapi kebinasaannya berkaitan dengan agamanya, bisa jadi juga berkaitan dengan dunianya, karena ia tertimpa penyakit ujub dengan dirinya. (Lihat penjelasan An-Nawawi dalam Al-Minhaaj 18/127)

Al-Muhallab berkata, “Rasulullah berkata demikian –wallahu A’lam- yaitu agara orang tersebut tidak magrur (terpedaya dengan dirinya) karena banyaknya pujian sehingga ia memandang bahwa dirinya memiliki kedudukan tinggi tersebut di mata manusia. Maka iapun meninggalkan memperbanyak kebajikan dan syaitanpun mendapat peluang untuk menggodanya dan mengesankan kepada dirinya kehebatan dirinya sehingga akhirnya iapun meninggalkan sikap tawadhu'”(Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Battol 8/48)

أَنَّ رَجُلاً جَعَلَ يَمْدَحُ عُثْمَانَ فَعَمِدَ الْمِقْدَادُ فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَكَانَ رَجُلاً ضَخْمًا فَجَعَلَ يَحْثُو فِي وَجْهِهِ الْحَصْبَاءَ فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ مَا شَأْنُكَ؟ فَقَالَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِيْنَ فَاحْثُوا فِي وُجُوْهِهِمِ التُّرَابَ

Ada seseorang yang mulai memuji-muji Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu, maka Al-Miqdaad radhiallahu ‘anhu pun lalu berlutut di atas kedua lututnya –beliau adalah seorang yang bertubuh besasr- lalu beliaupun menaburkan kerikil kepada wajah sipemuji tadi. Maka ‘Utsman bertanya kepadanya, “Ada apa gerangan?”, maka ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berkata, “Jika engkau melihat para tukang puji maka taburkan tanah pada wajah-wajah mereka” (HR Muslim no 3002)

Jika seseorang dipuji maka hendaknya ia tidak terpedaya dengan pujian tersebut, lalu ia mengucapkan doa yang dibaca oleh para sahabat jika dipuji:

اللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّوْنَ

“Yaa Allah janganlah Engkau menghukumku karena pujian mereka, ampunilah dirikau atas ketidak tahuan mereka, dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka” (Riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrod no 589/761)

Ini adalah doa yang agung yang mengingatkan seseorang tentang hakekat dirinya yang penuh dengan kekurangan, dan agar ia tidak terpedaya dengan pujian orang-orang yang tidak mengetahui hakekat dirinya.

Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan melemparkan tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382).

Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah suatu hal yang mengherankan jika Nabi ﷺ mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi ﷺ – yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ-pen), yang Nabi ﷺ telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi ﷺ mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya, “Robku, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah aku dengan pengampunanMu”. Yang mewasiatkan adalah Nabi ﷺ dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat diantara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.

Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.

Diantara mereka ada yang menjadi da’i yang terkenal dengan pengorbanannya dan perjuangannya dalam berdakwah maka orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya karena Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaranya. Demikian juga ada yang terkenal dengan sikapnya yang selalu menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan demikianlah… Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi yang sangat mudah menggelincirkan seseorang, oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang memiliki pengikut…

Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya diantara manusia dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali kepada keikhlasan, karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan. Dan diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraan mereka di hadapan Allah.

Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, karena yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah ﷺ. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.

Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji di hadapan manusia maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: “Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”, ia mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang diagungkan semakin menjadi-jadi agar diagungkan dirinya??, orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?? Ini bukanlah jalan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan dirinya -dan dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan masuk surga setelah Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah pasar untuk merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.

Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub (takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat). Ada diantara salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan jika ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut, kenapa?, karena keselamatan jiwanya lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa orang lain, karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka, yang pada diam memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal tersebut, Namun yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya dihadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain…”)). (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud).

Ditulis oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Judul: Berjihad Melawan Riya’ (Series)