Quran Surat At-Taghabun

1. يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۖ لَهُ ٱلْمُلْكُ وَلَهُ ٱلْحَمْدُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

yusabbiḥu lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr
1. Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

2. هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤْمِنٌ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

huwallażī khalaqakum fa mingkum kāfiruw wa mingkum mu`min, wallāhu bimā ta’malụna baṣīr
2. Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

3. خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ

khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqqi wa ṣawwarakum fa aḥsana ṣuwarakum, wa ilaihil-maṣīr
3. Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu).

4. يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

ya’lamu mā fis-samāwāti wal-arḍi wa ya’lamu mā tusirrụna wa mā tu’linụn, wallāhu ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr
4. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

5. أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَؤُا۟ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَبْلُ فَذَاقُوا۟ وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

a lam ya`tikum naba`ullażīna kafarụ ming qablu fa żāqụ wa bāla amrihim wa lahum ‘ażābun alīm
5. Apakah belum datang kepadamu (hai orang-orang kafir) berita orang-orang kafir terdahulu. Maka mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih.

6. ذَٰلِكَ بِأَنَّهُۥ كَانَت تَّأْتِيهِمْ رُسُلُهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ فَقَالُوٓا۟ أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا۟ وَتَوَلَّوا۟ ۚ وَّٱسْتَغْنَى ٱللَّهُ ۚ وَٱللَّهُ غَنِىٌّ حَمِيدٌ

żālika bi`annahụ kānat ta`tīhim rusuluhum bil-bayyināti fa qālū abasyaruy yahdụnanā fa kafarụ wa tawallaw wastagnallāh, wallāhu ganiyyun ḥamīd
6. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka membawa keterangan-keterangan lalu mereka berkata: “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

7. زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَن لَّن يُبْعَثُوا۟ ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

za’amallażīna kafarū al lay yub’aṡụ, qul balā wa rabbī latub’aṡunna ṡumma latunabba`unna bimā ‘amiltum, wa żālika ‘alallāhi yasīr
7. Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

8. فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلنُّورِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلْنَا ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

fa āminụ billāhi wa rasụlihī wan-nụrillażī anzalnā, wallāhu bimā ta’malụna khabīr
8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

9. يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ ٱلْجَمْعِ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ ٱلتَّغَابُنِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعْمَلْ صَٰلِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ وَيُدْخِلْهُ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

yauma yajma’ukum liyaumil-jam’i żālika yaumut-tagābun, wa may yu`mim billāhi wa ya’mal ṣāliḥay yukaffir ‘an-hu sayyi`ātihī wa yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, żālikal-fauzul-‘aẓīm
9. (Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.

10. وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābun-nāri khālidīna fīhā, wa bi`sal-maṣīr
10. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

11. مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

mā aṣāba mim muṣībatin illā bi`iżnillāh, wa may yu`mim billāhi yahdi qalbah, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm
11. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

12. وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ

wa aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụl, fa in tawallaitum fa innamā ‘alā rasụlinal-balāgul-mubīn
12. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

13. ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

allāhu lā ilāha illā huw, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn
13. (Dialah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.

14. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanū inna min azwājikum wa aulādikum ‘aduwwal lakum faḥżarụhum, wa in ta’fụ wa taṣfaḥụ wa tagfirụ fa innallāha gafụrur raḥīm
14. Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

15. إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

innamā amwālukum wa aulādukum fitnah, wallāhu ‘indahū ajrun ‘aẓīm
15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

16. فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

fattaqullāha mastaṭa’tum wasma’ụ wa aṭī’ụ wa anfiqụ khairal li`anfusikum, wa may yụqa syuḥḥa nafsihī fa ulā`ika humul-mufliḥụn
16. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

17. إِن تُقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

in tuqriḍullāha qarḍan ḥasanay yuḍā’if-hu lakum wa yagfir lakum, wallāhu syakụrun ḥalīm
17. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.

18. عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-‘azīzul-ḥakīm
18. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Asbabun Nuzul dan Tafsir Surat At-Taghabun

Surah at-Taghobun adalah salah satu dari surah-surah al-Musabbihat, dan surah-surah al-musabbihat adalah surah-surah yang diawali, dengan سَبَّحَ atau يُسَبِّحُ dan jumlah keseluruhannya ada 5 surah, adapun yang diawali dengan fi’il madhi سَبَّحَ ada 3 surah yaitu surah al-hadid, yaitu firman-Nya:

{سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}

Telah bertasbih kepada Allah semua yang berada di langit dan yang berada di bumi (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hadid: 1)

Kemudian surah al-Hasyr,

{سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}

Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 1)

Lalu surah ash-Shaff,

{سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}

Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. As-Shaf: 1)

Dan adapun surah-surah yang diawali dengan fi’il mudhari’ يُسَبِّحُ ada 2 surah yaitu surah al-jumu’ah,

{يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ}

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. Al-Jumu’ah: 1

Kemudian surah at-taghobun,

{يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taghobun: 1)

Semua surah-surah ini disebut dengan surah-surah al-Musabbihat. Dan ada dua surah lainnya yang dibuka dengan kalimat tasbih, yaitu surah al-Isra:

{سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra: 1)

Kemudian juga surah al-A’la yang diawali dengan kalimat tasbih dalam bentuk fi’il amr (Kata kerja perintah),

{سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى}

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi” (QS. Al-A’la: 1)

Jadi di dalam al-Quran surah-surah yang diawali dengan kalimat tasbih totalnya ada tujuh surah, namun yang dikenal dengan surah-surah al-musabbihat hanya ada lima surah, yaitu surah-surah yang diawali dengan سَبَّحَ atau يُسَبِّحُ ([1]).

Allah subhanahu wa ta’ala membuka surah-surah ini dengan kalimat tasbih untuk menunjukkan akan betapa agungnya tasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena tasbih artinya mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala dari segala kekurangan juga aib. Karena Allah subhanahu wa ta’ala maha sempurna yang tidak ada kekurangan atau pun aib sama sekali. Tasbih (mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala) adalah tujuan dari dakwah para Rasul, karena dakwah para Rasul adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala  dan menjauhkan kesyirikan, karena semua bentuk kesyirikan adalah bentuk tidak mentasbihkan/mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala. Tatkala orang-orang kafir mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala punya anak berarti dia tidak mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala, begitu juga seseorang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki anak wanita sebagaimana orang-orang musyrik mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki anak wanita yaitu para malaikat, maka ini adalah bentuk tidak mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala, dan perkataan mereka bahwa Allah subhanahu wa ta’ala istirahat pada hari ke tujuh setelah menciptakan langit dan bumi maka ini juga termasuk bentuk tidak mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala, dan bentuk-bentuk lainnya seperti menyembah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Semua bentuk kesyirikan adalah lawan dari bentuk tasbih atau mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ketika mensucikan diri-Nya dari bentuk kesyirikan,

أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kalian meminta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS. An-Nahl: 1)

Oleh karenanya tasbih adalah intisari dari dakwahnya para Rasul, dan tasbih sama saja dengan mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama apakah surah at-taghobun, makkiyyah atau madaniyyah? Penyebab perbedaan pendapat ini adalah dikarenakan terdapat satu ayat di dalam surah ini yaitu,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka; dan jika kalian maafkan dan kalian santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. At-Taghobun: 14

Sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat Ibnu Abbas:

وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ} قَالَ: «هَؤُلَاءِ رِجَالٌ أَسْلَمُوا مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَرَادُوا أَنْ يَأْتُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَبَى أَزْوَاجُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ أَنْ يَدَعُوهُمْ أَنْ يَأْتُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَوْا النَّاسَ قَدْ فَقُهُوا فِي الدِّينِ هَمُّوا أَنْ يُعَاقِبُوهُمْ»، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ} [التغابن: 14] الآيَةَ:: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ “

“beliau ditanya oleh seorang laki-laki mengenai ayat ini: {Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka} (QS. Attaghabun: 14), beliau menjawab: mereka adalah para lelaki penduduk Makkah yang telah masuk Islam, dan ingin menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun istri-istri dan anak-anak mereka enggan jika mereka ditinggalkan untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Ketika mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam , mereka melihat orang-orang (yang telah datang lebih dahulu) sungguh telah memahami agama, sehingga mereka berniat ingin menghukum istri-istri dan anak-anak mereka, maka turunlah ayat ini: {Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka} (QS. Attaghabun 14).” ([2])

Sebab turunnya ayat ini menunjukkan bahwa turunnya surah ini setelah hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke kota Madinah, dan menyebabkan kebanyakan para ulama menganggap bahwa surah at-taghobun adalah surah madaniyyah. Namun sebagian ulama yang lain seperti riwayat dari Ibnu Abbas dan Atho bin Yasar mengatakan bahwa surah ini adalah surah makkiyyah([3]), mengapa dikatakan surah ini surah makkiyyah? Karena nuansa yang ada dalam surah ini bercerita tentang keimanan kepada hari akhir dan hari kebangkitan, dan ini semua tidak cocok kepada audience kaum mukminin, akan tetapi lebih cocok kepada audience orang-orang yang kafir Quraisy yang mereka mengingkari hari kebangkitan. Sehingga nuansa dan topik yang ada dalam surah at-taghobun bercerita tentang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, beriman kepada Rasul-Nya, dan beriman kepada hari kiamat, dan ini semuanya adalah ciri-ciri surah makkiyyah. Karenanya sebagian ulama mengatakan bahwa surah at-taghobun adalah surah makkiyyah kecuali ayat ke 14 karena ayat tersebut madaniyyah, dan ini sangat mungkin terjadi di dalam al-quran terdapat sebuah surah yang tidak turun secara sekaligus satu surah, terkadang turun sebagian ayat-ayatnya dalam suatu kondisi dan sisanya turun dalam kondisi yang lain. Dan penulis lebih memilih kepada pendapat yang mengatakan bahwa surah at-taghobun adalah surah makkiyyah dilihat dari nuansa isi surah tersebut yang bercerita tentang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, beriman kepada Rasul-Nya, dan beriman kepada hari kiamat, kecuali ayat ke 14 dari surah ini yang ayat tersebut adalah ayat madaniyyah. Wallahu ta’ala a’lam bis shawab.

At-Taghobun adalah salah satu dari nama-nama hari kiamat([4]), dan hari kiamat memiliki nama-nama yang sangat banyak yang setiap masing-masing namanya menunjukkan akan sifat hari tersebut, contohnya hari kiamat disebut dengan Yaumul Mahsyar dinamakan demikian karena para manusia dibangkitkan di padang mahsyar, disebut dengan Yaumul Ba’ts dinamakan demikian karena para manusia dibangkitkan dari kuburnya, dan disebut dengan as-Shookhkhoh dinamakan demikian karena pada hari tersebut terdapat suara yang sangat keras yang memekikkan telinga, disebut dengan at-Thoommah dinamakan demikian karena pada hari itu terdapat malapetaka yang sangat besar dimana tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya, disebut dengan Yaumul Qiyamah dinamakan demikian karena pada hari tersebut para manusia semuanya berdiri dan tidak ada satu pun yang duduk dalam keadaan  menanti kedatangan Allah subhanahu wa ta’ala dalam waktu 50.000 tahun, disebut dengan as-Saa’ah dan dinamakan demikian karena hari tersebut datangnya tiba-tiba dan tidak ada seorang pun yang menduga akan datangnya hari tersebut yang datang secara tiba-tiba,  disebut dengan al-Qori’ah dinamakan demikian karena hari tersebut sangat menakutkan sehingga rasa sakit tersebut menusuk hati setiap orang yang menghadapi hari tersebut, dan banyak lagi nama yang lainnya yang banyaknya nama-nama ini menunjukkan akan dahsyatnya hari tersebut. Dan di antara nama-nama tersebut adalah at-Taghobun. Apa yang dimaksud dengan at-taghobun? At-taghobun diambil dari kata الْغَبْنُ yang secara bahasa diartikan dengan kekurangan([5]), kerugian([6]), tidak mendapatkan bagian/kesempatan yang terluputkan([7]), dan terperdaya. Adapun dalam mu’amalah contohnya: jika ada seseorang membeli barang dengan harga 100 juta, ternyata harga barang tersebut dipasaran harganya hanya 50 juta maka orang tersebut dinamakan مَغْبُوْن (orang yang terperdaya), karena seharusnya orang tersebut dengan uang 100 juta bisa membeli dua barang tersebut, akan tetapi orang tersebut terperdaya dan dia hanya mendapatkan satu saja. Atau termasuk contoh مَغْبُوْن (orang yang terperdaya) adalah ketika ada suatu barang dengan harga 100 juta namun orang tersebut ragu dan akhirnya tidak membeli barang tersebut, namun ketika tahu ternyata barang tersebut nilainya sangat tinggi akan tetapi ternyata barang tersebut sudah dibeli oleh orang lain, dan orang tersebut hanya bisa berkata dalam hatinya: saya telah rugi karena tidak membeli barang tersebut, harusnya saya beli namun tidak jadi saya beli. Dan ini semua dalam mu’amalah dinamakan ghabn. Dan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

” نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ “

“Ada dua nikmat yang banyak manusia terperdaya dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” ([8])

Maksud dari مَغْبُونٌ فِيهِمَا (terperdaya dalam keduanya) adalah dia tidak bisa menggunakan kesempatan yang baik dalam kesehatan dan waktu luang untuk bisa beraktifitas dengan baik, waktu luangnya dia buang pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan kesehatannya tidak dia gunakan untuk beramal shalih, maka dalam keadaan ini dia telah terperdaya dan rugi. Jadi dalam bahasa arab ghabn artinya rugi yang kerugian tersebut akhirnya mendatangkan penyesalan yang dalam. Lalu mengapa hari kiamat disebut dengan at-taghobun? At-taghobun berasal dari wazan تَفَاعَلَ yang seakan-akan dari dua sisi atau dua pihak saling merugikan satu dengan yang lainnya. Namun para ulama mengatakan bahwa hari kiamat dinamakan dengan at-taghobun karena banyak sekali kerugian di hari tersebut yang dirasakan oleh orang-orang pada hari tersebut. Kita bisa klasifikasikan ghobn/kerugian pada hari kiamat tersebut dengan 3 tingkatan([9]):

Pertama: kerugian dalam keimanan, yaitu orang-orang kafir yang merasa rugi pada hari kiamat ketika melihat orang-orang yang beriman mendapatkan surga yang sangat indah, yang begitu luas, dan yang penuh dengan kenikmatan. Maka pada hari tersebut mereka benar-benar merasa rugi karena sebenarnya surga tersebut bisa mereka peroleh dengan hanya beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya dan beramal shalih, akan tetapi mereka tidak beriman, maka mereka benar-benar merasa rugi saat itu. Seharusnya kenikmatan yang luar biasa tersebut yang bisa dibayar/ditebus dengan sesuatu yang sedikit, dan kenikmatan tersebut seharusnya bisa mereka peroleh, akan tetapi kenikmatan yang luar biasa tersebut tidak mereka bayar ketika mereka di dunia, mereka  tidak mau beriman, dan mereka lebih mendahulukan kelezatan yang sedikit. Hingga dikatakan mereka mengalami ghobn/kerugian karena sebenarnya mereka mampu untuk mendapatkan surga tersebut akan tetapi mereka lebih mendahulukan kelezatan yang sedikit yang bersifat sementara, dan akhirnya mereka mendapatkan kerugian, dimana mereka terluputkan dari meraih kelezatan dan kenikmatan yang abadi dan sempurna. Maka dari sisi itulah mereka dikatakan rugi yang kerugian tersebut diiringi dengan penyesalan yang sangat dalam, akan tetapi  penyesalan tersebut tidak bisa memberikan manfaat untuk mereka sama sekali di akhirat.

Kedua: kerugian dalam ketaatan, dan ini dialami oleh orang-orang yang beriman, karena setiap orang yang beriman pada hari kiamat akan menyesal, hal ini disebabkan kurangnya ketaatan yang mereka lakukan di dunia sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan dalam surah al-fajr,

يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ

“Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” QS. Al-Fajr: 24

Para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk juga orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.

Ibnu Katsir berkata -:

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا

“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” ([10])

Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :

لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ

“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran” ([11])

Orang yang beriman tersebut sudah melakukan amal shalih, namun ketika di akhirat dia sadar bahwasanya amalnya tersebut terasa kurang banyak. Dia sudah berbakti kepada kedua orang tuanya namun dia masih merasa kurang, dia sudah melakukan shalat malam namun dia merasa kurang dan berkata kepada dirinya, “Mengapa aku tidak melakukan shalat malam lebih banyak?”. Dia sudah membaca al-Quran namun merasa kurang karena dia merasa masih ada waktu-waktu yang dia buang, dan seandainya dia beramal shalih lebih banyak tentu derajat dan pahala dia lebih tinggi dan lebih  banyak. Maka pada saat itu dia merasa menyesal dan merasa rugi padahal dia sudah beruntung mendapatkan surga, akan tetapi dia masih merasa rugi karena dia tidak mendapatkan yang lebih banyak dari apa yang telah ia dapatkan. Maka inilah jenis kedua yaitu ghabn fi at-Tho’ah, yaitu menyesal karena dahulu ia tidak maksimal dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga terluput darinya kebaikan-kebaikan yang sangat banyak yang seharusnya ia dapatkan di akhirat.

Ketiga: Ghabn fil infaq, yaitu kerugian yang dirasakan oleh orang-orang yang kurang dalam infaknya karena dia merasa bahwa dia ketika di dunia merasa kurang banyak dalam berinfak, berinfak terhadap orang tua masih perhitungan, untuk keluarganya, anaknya, istrinya masih perhitungan, berinfak untuk membangun masjid masih perhitungan padahal dia memiliki harta yang lebih dari cukup, namun ketika ia keluarkan untuk berinfak dia masih perhitungan, dan ia pun menyesal karena infak yang sedikit ketika dia keluarkan tatkala di dunia ternyata Allah subhanahu wa ta’ala akan ganti tatkala di akhirat dengan sesuatu yang lebih banyak yang tidak ada bandingannya, maka pada hari kiamat itu dia merasa bahwa dia adalah مَغْبُون rugi, orang yang menyesal karena dia tatkala di dunia dia berinfak hanya sedikit.

Kaitan surat ini dengan surat sebelumnya yaitu surat al-munafiqun adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir seperti Al-Alusi dalam kitab tafsirnya ruuhul ma’aani([12]) dia mengatakan bahwa kaitan antara surah at-taghobun dengan surah al-munafiqun karena di surah al-munafiqun Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)

Di akhir ayat dari surah al-munafiqun Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang penyesalan seseorang yang di dunia tidak sempat untuk berinfak atau lalai dari berinfak karena tersibukkan dengan hartanya dan tersibukkan dengan anak-anaknya maka lalu dia menyesal dan Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan diantara bentuk penyesalan yang dia rasakan adalah ketika hari kiamat dia akan merasakan al-ghabn yaitu kerugian yang besar, telah luput darinya kesempatan yang banyak yang kesempatan tersebut seharusnya bisa dia dapatkan namun dia lalaikan selama dia hidup di dunia, dan inilah kaitannya antara surah at-taghobun dengan surah sebelumnya yaitu surah al-munafiqun.

Intinya surah ini dinamakan dengan surah at-taghobun untuk menjelaskan betapa banyak penyesalan-penyesalan yang dirasakan pada hari kiamat, entah itu penyesalan-penyesalan dari orang-orang kafir ataupun penyesalan-penyesalan dari orang-orang yang beriman, bahkan penyesalan-penyesalan yang berasal dari orang-orang yang berinfak karena mereka ketika di akhirat menyadari bahwa infak yang mereka keluarkan tatkala di dunia masih kurang dan seandainya dia berinfak di dunia dengan infak yang lebih banyak tentu pahala yang didapatkan ketika di akhirat jauh lebih besar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

_____________

Footnote:

([1]) Lihat: al-Lubab fii ‘Uluumil Kitaab 18/452

([2]) HR. At-tirmidzi no. 3317 dan ia berkata: hadits ini adalah hadits hasan shahih, begitu juga hadits ini dihasankan oleh Al-Albani.

([3]) Lihat: Tafsir Al-Alusy 14/314

([4]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/136

([5]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/136

([6]) Lihat: Tafsir At-Tahrir wat Tanwir 28/275

([7]) Lihat: Tafsir Al-Alusy 14/319

([8]) HR. Bukhari no. 6412

([9]) Lihat: Tafsir Al-Alusy 14/319, Tafsir Al-Qurthubi 18/137

([10]) Tafsir Ibnu Katsir 8/389

([11]) Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih

([12]) Lihat: Tafsir al-Alusi 14/314