Tafsir Surat Al-Ma’arij Ayat-11

11. يُبَصَّرُونَهُمْ ۚ يَوَدُّ ٱلْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِى مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍۭ بِبَنِيهِ

yubaṣṣarụnahum, yawaddul-mujrimu lau yaftadī min ‘ażābi yaumi`iżim bibanīh
11. sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya.

Tafsir :

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan fi’il majhul dalam kata يُبَصَّرُونَهُمْ, sehingga maknanya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala yang membuat mereka saling melihat satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya di akhirat kelak, manusia akan dibuat bisa saling melihat, antara suami dan istri, antara ayah dan anak, antara kawan dengan kawan, namun di antara mereka tidak bisa saling membantu dan saling bertanya-tanya karena kesibukan dan ketakutan yang dialami setiap orang tatkala itu.

Dan karena saking takutnya seseorang pada hari itu, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang orang-orang kafir bahwa dia berangan-angan untuk menebus dirinya dari azab yang pedih dengan anak-anaknya, atau dengan istrinya, atau dengan bapak dan ibunya dan kerabat-kerabatnya yang lain, asalkan dia bisa selamat dari azab Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahkan dia berangan-angan untuk bisa menebus dirinya dengan semua orang di dunia ini. Dia rela semuanya masuk neraka asalkan dirinya bisa selamat([1]). Bayangkanlah bagaimana kondisi pada hari itu sampai-sampai orang kafir berangan-angan demikian. Padahal kita tahu bahwa pada dasarnya manusia di atas muka bumi pasti sangat menyayangi anak-anak, bahkan mungkin orang tua akan berkorban dan rela mati demi anaknya. Akan tetapi karena besar dan dahsyatnya perkara pada hari kiamat, kenyataannya jadi berbeda. Mereka akhirnya mereka rela mengorbankan anak-anaknya untuk keselamatannya. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa kata يَوَدُّ dalam ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir tidak hanya berangan-angan, akan tetapi juga mengutarakan angan-angan tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain, dimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا

Pada hari itu, orang yang kafir dan orang yang mendurhakai Rasul (Muhammad), berharap/berangan-angan sekiranya mereka diratakan dengan tanah (dikubur atau hancur luluh menjadi tanah), padahal mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian apa pun dari Allah.” (QS. An-Nisa’ : 42)

Lalu dalam ayat yang lain ternyata mereka mengungkapkan angan-angan mereka tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah’.” (QS. An-Naba’ : 40)

Maka demikian pula firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan kata يَوَدُّ (berangan-angan) untuk menunjukkan bahwa orang-orang kafir tidak sekedar berangan-angan agar mereka dapat menebus dirinya dengan anak-anaknya, istrinya, orang tuanya, dan seluruh manusia di atas muka bumi, tetapi mereka juga mengatakan dan mengadukannya kepada Allah agar permintaan mereka dikabulkan([2]). Artinya karena saking takutnya mereka pada hari itu sehingga membuat akan mereka rusak, karena mereka ingin mengorbankan keluarganya asal mereka bisa selamat.

وَصَٰحِبَتِهِۦ وَأَخِيهِ وَفَصِيلَتِهِ ٱلَّتِى تُـْٔوِيهِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ

Dan isterinya dan saudaranya. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. (QS. Al-Ma’arij 12-14)

Dan dengan hal itu (angan-angan mereka) Allah azza wa jalla semakin menghinakan mereka di hadapan semua keluarga mereka([3]) (bagaimana mereka bisa rela mengorbankan keluarga mereka hanya demi keselamatan mereka sendiri).

________________________

Footnote :

([1]) Tafsir Ath-Thabari: 23/ 606.

([2])  Lihat Tafsir Al-Qurthubi: 18/ 287.

([3])  Attahrir Wa Attanwir, Ibnu ‘Asyur, 29/160