Tafsir Surat Al-Qiyamah Ayat-22

22. وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ

wujụhuy yauma`iżin nāḍirah
22. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.

Tafsir :

Ayat ini dijadikan dalil oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah bahwasanya orang-orang yang beriman pada hari kiamat kelak akan melihat Rabb mereka Allah Subhanahu wa ta’ala([1]). Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwa kelak akan ada wajah-wajah yang ceria berseri-seri karena sebab memandang wajah Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan para ulama Ahlussunnah telah Sepakat bahwa puncak kenikmatan pada hari kiamat kelak adalah melihat wajah Allah Subhanahu wa ta’ala([2]).

Dalam sebuah ayat Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS.Yunus : 26)

Apa yang dimaksud tambahan dalam ayat ini? Yaitu tambahan kenikmatan di surga berupa melihat wajah Allah Subhanahu wa ta’ala([3]). Oleh karenanya pada hari kiamat kelak, bila penduduk surga telah masuk ke dalamnya, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan berfirman,

تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ. ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian? Mereka menjawab, Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Rasulullah bersabda: ‘Lalu Allah membukakan hijab pembatas (wajah-Nya), lalu tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugerah (dapat) memandang Rabb mereka. Kemudian beliau membaca Firman Allah: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (QS. Yunus: 26).”([4])

Itulah tambahan kenikmatan yang akan dirasakan oleh kaum mukminin, yaitu melihat wajah Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga berdoa,

وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Dan aku memohon kelezatan memandang kepada wajah-Mu serta keridhaan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.”([5])

Dan para ulama Ahlussunnah telah sepakat dalam menetapkan sifat wajah Allah Subhanahu wa ta’ala tidak sama dengan makhluknya, meskipun sama-sama disebut sebagai wajah. ([6])

Oleh karenanya para sahabat yang meriwayatkan tentang hadits-hadits melihat Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat sekitar dua puluh orang sahabat, sehingga hadits-haditsnya disebut sebagai hadits yang mutawatir. Maka tidak diragukan lagi bahwasanya orang-orang beriman akan melihat Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat kelak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ (وفي رواية أخرى: عِيَانًا)، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian -dalam riwayat lain: dengan mata telanjang-([7]) sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.”([8])

Akan tetapi sebagian orang mentakwil ayat ini. Mereka mengatakan bahwa maksud kata نَاظِرَةٌ adalah menunggu([9]). Sehingga menurut mereka arti dari ayat ini adalah “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) menunggu (balasan) dari Tuhannya.” Akan tetapi pendapat ini dibantah oleh para ulama di antaranya adalah Al-Qurthubi rahimahullah. Sesungguhnya tatkala seseorang telah masuk surga, tidak ada lagi yang namanya menunggu([10]). Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Fathir,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ، جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (Mereka akan mendapat) surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.”

Kata يُحَلَّوْنَ dalam ayat ini jika dalam bahasa Arab I’robnya adalah حَالٌ yang maknanya adalah ketika mereka masuk surga, maka akan langsung terkondisikan mereka mendapat kenikmatan dengan pakaian yang indah dan perhiasan-perhiasan([11]). Tidak ada orang yang masuk surga kemudian hanya melihat-lihat terdahulu, melainkan kenikmatan itu akan langsung mereka dapatkan.

Oleh karenanya ayat ini adalah dalil yang tegas sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi’i dan ulama Ahlussunnah lainnya bahwasanya pada hari kiamat kelak orang-orang beriman akan melihat Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan akidah ini diselisihi oleh Mu’tazilah, mereka meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak bisa dilihat di dunia maupun di akhirat. Dan ada orang-orang di zaman sekarang yang masih berpemahaman demikian. ([12])

_____________________________

Footnote :

([1])  Tafsir Ar-Razi 30/730 dan Al-Qurthubiy 19/107.

([2])  Tafsir Ibnu Katsir 4/262.

([3])  Tafsir Al-Qurthubiy 8/330.

([4])  HR. Muslim no. 181

([5])  HR. An-Nasa’i no. 1305

([6])  Ad-Durr Al-Mantsur 8/350.

([7])  HR. Bukhari no. 7435

([8])  HR. Bukhari no. 554

([9])  Tafsir Al-Qurthubiy 19/110.

([10])  Tafsir Ath-Thabariy 24/72 dan Tafsir Ar-Raziy 30/731.

([11])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 14/351.

([12])  Tafsir Ar-Raziy 30/730 dan At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibni ‘Asyur 29/355.