Tafsir Surat Al-Insan Ayat-14

14. وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا

wa dāniyatan ‘alaihim ẓilāluhā wa żullilat quṭụfuhā tażlīlā
14. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.

Tafsir :

Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa pohon-pohon yang tinggi di surga memiliki naungan yang rendah sehingga membuat para penghuni surga nyaman. Para ulama menyebutkan bahwa meskipun tidak ada panas di dalam surga, Allah Subhanahu wa ta’ala tetap memberikan naungan. Hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan bahwa tidak ada rasa lapar dan haus di surga, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala berikan makan dan minum untuk berlezat-lezat dengannya. Maka meskipun di surga tidak ada panas, Allah Subhanahu wa ta’ala tetap memberikan naungan dari pohon untuk menambah keindahan surga.

Kemudian penghuni surga akan dimudahkan untuk mendapatkan buah-buah di surga. Kata ذُلِّلَتْ artinya adalah ditundukkan. Para ulama menyebutkan dalam buku-buku tafsirnya bahwa kapan saja penghuni surga menginginkan buah, maka buah tersebut akan datang mendekat kepadanya dan langsung dimakan([1]). Dan dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan,

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ

Buah-buahannya dekat.” (QS. Al-Haqqah : 23)

Artinya tidak ada orang yang memanjat pohon untuk mengambil buah. Semua buah-buahan akan datang sendiri sesuai kehendak setiap orang, baik orang tersebut dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring.

Demikianlah surga dengan segala puncak kenikmatannya. Bahkan karena surga adalah tempat puncaknya kenikmatan, maka tidak ada orang yang tidur di surga. Oleh karenanya tatkala ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنَامُ أَهْلُ الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ، وَأَهْلُ الْجَنَّةِ لَا يَنَامُونَ

Wahai Rasulullah, apakah penduduk surga tidur?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Tidur itu adalah saudara kematian, dan penduduk surga tidak tidur’.”([2])

Kalau sekiranya penduduk surga tidur di dalam surga, maka saat itu dia sedang tidak merasakan kenikmatan. Sedangkan di surga seseorang tidak boleh berhenti dari kenikmatan. Oleh karenanya penduduk surga akan terus merasakan kenikmatan demi kenikmatan tanpa ada tidur.

_______________________________

Footnote :

([1]) Lihat Tafsir Al-Qurthuby 18/270.

([2])  HR. Ath-Thabrani no. 919 dalam Mu’jam Al-Ausath