Tafsir Surat ‘Abasa Ayat-11

11. كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

kallā innahā tażkirah
11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.

Tafsir :

Firman Allah كَلَّا bisa datang dalam dua makna, terkadang artinya لاَ “Tidak” (yang disebut oleh para ulama dengan kalimat zajr) dan terkadang artiya حَقًّا “Sungguh benar”[1]. Para ulama berbeda pendapat ke dalam dua tafsiran tentang makna “peringatan”. Apakah ini adalah teguran/peringatan Allah Subhanallahu Wata’ala secara khusus kepada Nabi shalallahu ‘alaihiwassallam  Muhammad atau teguran/peringatan secara umum. Bagi yang berpendapat ini adalah teguran kepada Nabi, maka كَلَّا maknanya adalah لاَ “Tidak”, sehingga firman Allah كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ artinya yaitu “sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, itu suatu peringatan”. Seakan-akan Allah berkata, “Sekali-kali jangan begitu wahai Muhammad, janganlah engkau semangat kepada orang kaya yang kafir sementara engkau berpaling dari orang mukmin yang miskin”.[2]

Bagi yang berpendapat bahwa peringatan ini umum kepada kaum muslimin maka كَلَّا maknanya adalah حَقًّا “Sungguh benar”. Maka arti firman Allah كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ adalah “Sungguh benar, sungguh ini adalah peringatan”, sehingga jadilah ayat ini peringatan kepada kaum muslimin secara umum. Dan ini adalah pendapat Ibnu Katsir, beliau berkata :

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ أَيْ هَذِهِ السُّورَةُ أَوِ الْوَصِيَّةُ بِالْمُسَاوَاةِ بَيْنَ النَّاسِ فِي إِبْلَاغِ الْعِلْمِ مِنْ شَرِيفِهِمْ وَوَضِيعِهِمْ

“Yaitu surat ini atau washiat untuk menyamakan manusia antara pembesar maupun yang miskin dalam hal penyampaian ilmu” (Tafsir Ibnu Katsir 8/322) [3]

Apa yang dilakukan oleh Nabi ini adalah تَرْكُ الْأَوْلَى “meninggalkan suatu yang lebih utama”[4] (lihat Tafsir al-Qurthubi 19/215)

______________________

Footnote :

[1] Lihat penjelasan Al-Qurthubi dalam tafsirnya 11/147 ketika mentafsirkan ayat 79 dari surat Maryam

[2] Dan ini adalah pendapat mayoritas mufassirin diantaranya Ibnu Jarir At-Thobari dalam tafsirnya (24/107),

[3] Dan ini pendapat yang dipilih oleh As-Sa’di dalam tafsirnya. Namun kedua pendapat ini tidak bertentangan karena jika memang teguran tersebut peringatan khusus untuk Nabi, toh menjadi pelajaran bagi umatnya secara umum.

[4] Meskipun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa sikap Nabi tersebut adalah dosa kecil (lihat Tafsiir al-Qurthubi 19/215), karena para Nabi tidak makshum dari dosa-dosa kecil, namun pasti langsung ditegur oleh Allah, sebagaimana dalam kasus ini. Namun pendapat yang menyatakan bahwa sikap Nabi tersebut adalah sikap تَرْكُ الْأَوْلَى “meninggalkan yang lebih utama” itu lebih baik dan lebih hati-hati. Dan ini pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaukani (Fathu Qodiir 5/463)