Tafsir Surat Al-Infithar Ayat-11

11. كِرَامًا كَٰتِبِينَ

kirāmang kātibīn
11. yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)

Tafsir:

Seluruh yang kita lakukan akan dicatat oleh malaikat tersebut, tanpa terkecuali. Allah berfirman :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf : 18)

Seluruh apa yang kita lakukan baik itu perkataan, penglihatan, lirikan mata pandangan haram, semuanya akan dicatat oleh malaikat. Allah menyifati malaikat tersebut dengan malaikat yang mulia agar kita mempunyai rasa malu terhadap malaikat apabila kita hendak bermaksiat.

Sebagian salaf menyatakan bahwa ayat يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia?) bukan hanya berkaitan dengan orang kafir tetapi juga berkaitan dengan orang muslim yang akan dihisab oleh Allah subhanallahu wata’ala. Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah ditanya,

لَوْ أَقَامَكَ اللَّهُ تعالى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَقَالَ لَكَ: مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ؟ مَاذَا كُنْتَ تَقُولُ؟

“Jika Allah subhanallahu wata’ala menghadirkan engkau di hadapan-Nya kemudian Allah bertanya kepada engkau, ‘Wahai Fudhail apa yang membuat engkau terperdaya sehingga engkau bermaksiat kepadaku?’”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

كُنْتُ أَقُولُ غَرَّنِي سُتُورُكَ الْمُرْخَاةِ، لِأَنَّ الْكَرِيمَ هُوَ السَّتَّارُ

“Saya akan menjawab, ‘’Aku terpedaya oleh sitarmu yang terjulur (menutupi maksiatku), karena al-Kariim (yang Maha Baik) adalah As-Sattaar (yang Maha menutupi aib manusia).” (Tafsir al-Qurthubi 19/245-246)

Inilah yang membuat orang banyak yang terperdaya karena setiap dia bermaksiat, Allah tidak membongkar aibnya. Seandainya setiap bermaksiat Allah membongkar aib kita, niscaya tidak akan ada yang berbuat maksiat. Namun Allah selalu menutup aib yang kita lakukan ketika bermaksiat. Inilah yang membuat kita akhirnya terus bermaksiat, karena menyangka tidak ada yang melihat dan mencatat segala pebuatan kita. Oleh karena itu, Allah menyebutkan dalan surat ini كِرَامًا كَاتِبِينَ bahwasanya ada para malaikat-malaikat yang mulia yang senantiasa mencatat amalan kita, sehingga hendaknya kita malu kepada  malaikat-malaikat tersebut.

Sesungguhnya malaikat-malaikat itu benar-benar hadir menyertai kita, meskipun mereka adalah makhluk-makhluk yang ghaib. Dan keghaiban malaikat itu melebihi keghaiban para jin. Jin adalah makhluk ghaib tetapi kehadiran jin kadang masih bisa kita rasakan, kita menyaksikan ada yang kesurupan jin, atau ada yang merinding karena merasakan adanya jin. Adapun malaikat maka benar-benar tidak kita rasakan. Padahal malaikat benar-benar melihat dan mencatat semua apa yang kita lakukan.