Tafsir Surat Al-Infithar Ayat-5

5. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ

‘alimat nafsum mā qaddamat wa akhkharat
5. maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.

Tafsir:

Setelah Allah bersumpah dengan beberapa makhluknya akan kejadian yang akan menimpa para makhluknya tersebut mulai dari langit tatkala terbelah, bintang-bintang tatkala berjatuhan, lautan tatkala meluap, dan manusia tatkala dibangkitkan dari kuburan mereka kemudian Allah berkata bahwa semua itu agar maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dia lakukan selama dia hidup di dunia.

Tentang makna مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ terdapat beberapa tafsiran dari para salaf. Tafsiran pertama yaitu dia akan melihat seluruh keburukan-keburukan yang pernah dia lakukan. Ditambah dia tidak sekedar melihat dan mengetahui kembali perbuatannya dulu tetapi dia juga akan mengetahui balasan apa yang pantas dia dapatkan. Allah berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

(7) Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (8) Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7-8)

Bukan hanya sekedar melihat catatan amalnya tetapi dia juga akan melihat balasannya. Jika itu adalah amalan kebaikan maka akan dibalas dengan kebaikan, jika itu amalan keburukan akan dibalas dengan keburukan.

Diantara tafsiran salaf terhadap ayat ini yaitu dia akan mengetahui segala kebaikan yang pernah dia lakukan dan dia juga akan mengetahui segala keburukan yang pernah dia lakukan karena Allah akan menghadirkan di hadapannya.

Tafsiran yang lain menurut para salaf yaitu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dia  kedepankan dan apa yang telah dia akhirkan. Yang dikedepankan maksudnya adalah amalan-amalan yang dilakukan semasa hidupnya dan diakhirkan adalah amalan-amalan yang berjalan setelah dia meninggal. Ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang melakukan amalan-amalan yang kelak setelah meninggal dunia amalan pahala dari amalan tersebut tetap mengalir. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR Muslim no. 1631)

Ketiga amalan tersebut termasuk amalan yang dia akhirkan meskipun dia meninggal dunia. Karena pahala yang dia dapatkan masih mengalir bahkan setelah dia meninggal dunia. Banyak sekali amalan yang bisa diakhirkan. Misalnya dia bangun masjid maka pahala akan terus mengalir kepadanya karena orang-orang tetap shalat di masjid tersebut. Dia menyekolahkan seorang anak ke sebuah pondok pesantren kemudian membiayainya hingga menjadi seorang da’i, maka selama anak ini berdakwah maka pahalanya juga mengalir kepada dirinya. Dia mencetak buku-buku agama dan dia bagikan secara gratis, kemudian ada yang membaca buku tersebut dan beramal shaleh dengannya maka seluruh amalan shaleh yang orang ini kerjakan berdasarkan panduan dalam buku tersebut, maka pahalanya juga akan mengalir kepadanya tanpa mengurangi pahala orang ini. Ada orang yang menggali sumur kemudian sumur tersebut diwakafkan, maka selama sumur tersebut dimanfaatkan pahala akan terus mengalir kepadanya. Atau seorang yang mendidik anaknya lalu jadilah anaknya shaleh dan bertakwa kepada Allah, maka setelah dia meninggal anaknya terus mendoakan dia sehingga pahala-pahala kebajikan mengalir kepadanya.

Kita menginginkan pahala sebanyak-banyaknya sementara umur kita tidak cukup, kemampuan kita terbatas, dan semangat kita turun naik. Oleh karena itu, apabila punya modal maka lakukanlah amalan-amalan yang bisa terus mengalir tersebut meskipun sudah meninggal dunia. Sesungguhnya orang yang seperti ini adalah orang yang sangat bahagia.

Sebaliknya orang yang sangat menderita adalah orang yang melakukan keburukan yang dosanya mengalir. Mereka adalah orang-orang yang menyebarkan atau mengajarkan keburukan kepada orang lain. Mengajari seorang pemuda untuk minum khamr, mengajari bermain musik yang mana disepakati oleh 4 madzhab akan keharamannya, atau mengajari ilmu-ilmu kesesatan kemudian para pemuda itu terus-menerus mengamalkannya, maka orang yang mengajarinya juga akan mendapatkan dosa, bahkan ketika dia telah meninggal dunia pun jika keburukan itu masih terus dikerjakan oleh murid-muridny tadi. Keburukan yang bisa terus mengalir bisa juga akibat tempat-tempat haram yang dia buka, membuka rumah-rumah perzinahan, maka dosa-dosanya akan terus mengalir kepada dirinya. Sungguh menakjubkan, meskipun telah meninggal dunia namun seakan-akan mereka masih hidup. Yaitu orang-orang yang berbuat baik meskipun sudah meninggal dunia namun amalan-amalanya masih hidup atau sebaliknya orang-orang yang berbuat kejahatan meskipun sudah meninggal dunia namun hasil keburukannya masih terus berjalan. Intinya ayat ini menjelaskan bahwasanya pada hari kiamat kelak, setiap jiwa akan mengetahui secara detail seluruh apa yang dia kerjakan baik amalan kebajikan maupun amalan keburukan.