Tafsir Surat al-Muthaffifin Ayat-28

28. عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ

‘ainay yasyrabu bihal-muqarrabụn
28. (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.

Tafsir:

Para penghuni surga kelak akan meminum khamr yang dicampur dengan tasnim. Namun yang meminum tasnim yang murni hanyalah al-muqarrabun yaitu yang didekatkan oleh Allah. Ini dalil bahwasanya penghuni surga bertingkat-tingkat. Diantaranya al-abrar yang akan mendapatkan limpahan kenikmatan, namun di atas itu ada yang lebih tinggi lagi yaitu al-muqarrabun. Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11)

“(10) Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga); (11) Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah).” (QS. Al-Waqi’ah : 10-11)

Al-Muqarrabun adalah orang-orang yang mendapatkan posisi sangat tinggi di surga kelak, merekalah yang berhak meminum tasnim dengan murni, tidak dicampur sama sekali dengan yang lainnya. Adapun penghuni surga yang lain yaitu al-abrar mereka tidak minum tasnim secara murni melainkan telah dicampur dengan khamr.

Dalam ayat ini Allah tidak menggunakan huruf مِنْ (dari) sehingga maknanya akan menjadi “mata air yang para al-muqarrabun minum darinya” tetapi menggunakan huruf الْبَاءُ (dengan) sehingga maknanya menjadi “mata air yang para al-muqarrabun minum dengannya”. Secara makna, kalimat yang lebih cocok adalah yang pertama, yaitu minum dari mata air bukan minum dengan mata air. Namun para ulama mengatakan bahwa ini merupakan salah satu uslub dalam bahasa arab yaitu uslub tadmiin التَّضْمِيْنُ. Karenanya, mereka menafsirkan ayat ini dengan عَيْنًا يَلْتَذُّ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ artinya “mata air yang para al-muqarrabun berlezat-lezat dengan mata air tersebut”. Sehingga mereka tidak hanya sekedar minum tetapi berlezat-lezat. Demikianlah para penghuni surga, mereka makan dan minum bukan dengan tujuan untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga tetapi dalam rangka berlezat-lezat.

Kemudian pada pembahasan selanjutnya, Allah berbicara tentang kebiasaan orang-orang musyrikin dan orang-orang kafir yang suka mengolok-olok orang-orang shalih, yang mana ini akan terus berlajut hingga kiamat kelak bahwasanya orang-orang yang shalih dan bertaqwa akan sering mejadi olok-olokan orang-orang kafir atau orang-orang munafik