Tafsir Surat al-Muthaffifin Ayat-12

12. وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu’tadin aṡīm
12. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.

Tafsir:

Terkait makna مُعْتَدٍ dan أَثِيمٌ, para ulama semisal Al-Hafidz Ibnu Katsir berpendapat bahwa  مُعْتَدٍ adalah orang yang melakukan perbuatan dosa yang berkaitan dengan perbuatannnya. Seperti meminum khamr, berzina, atau membunuh orang lain, dan lain sebagainya. Sedangkan أَثِيمٌ adalah dosa yang berkaitan dengan perkataannnya, seperti berdusta. (Tafsir Ibnu Katsir 8/346)

Pendapat yang lain mengatakan bahwa مُعْتَدٍ adalah dosa yang berkaitan dengan mendzalimi orang lain. Sedangkan أَثِيمٌ adalah dosa yang berkaitan dengan mendzalimi diri sendiri. (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/259). Diantara dosa yang berkaitan dengan orang lain yaitu dengan mendzalimi orang lain, mengambil harta orang lain tanpa hak, menipu orang lain, menjatuhkan harkat dan martabat orang lain, menuduh orang lain dengan tuduhan yang tidak-tidak. Bayangkanlah, jika mengurangi timbangan sedikit saja yang berkaitan dengan hak orang lain Allah ancam dengan kebinasaan dan kesengsaraan, maka bagaimana pula orang yang mengambil harta rakyat dengan cara mengkorupsinya. Betapa banyak rakyat yang terdzalimi yang akan menuntutnya pada hari kiamat kelak.

Sedangkan mendzalimi diri sendiri adalah bermaksiat berkaitan dengan dirinya sendiri. Dia tidak ragu melakukan yang haram, tidak ragu memandang yang haram, tidak ragu memakan yang haram. Hal ini semua terjadi karena dia tidak beriman kepada hari akhirat. Bisa jadi dia tidak merasa akan dibangkitkan di hari kiamat dan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah subhanallahu wata’ala. Ketahuilah bahwa keimanan pada hari kiamat merupakan perkara yang paling membuat orang tidak bermaksiat. Jika ada orang yang berani melakukan kemaksiatan, maka menunjukkan bahwa imannya terhadap hari akhirat itu kurang. Apabila dia beriman bahwa dia akan dibangkitkan oleh Allah dengan keimanan yang kuat dan yang kokoh, dia akan takut melakukan kemaksiatan atau ketika dia terjerumus ke dalam kemaksiatan dia akan segera bertaubat kepada Allah subhanallahu wata’ala.