Tafsir Quran Surat Al-Zalzalah Ayat-8

8. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarahu
“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”

Tafsir Quran Surat Al-Zalzalah Ayat-8

Dua ayat ini adalah ayat yang komprehensif yang mencakup segala sesuatu. Barangsiapa yang menjadikan ayat ini sebagai pegangannya maka dia akan berusaha selalu bertakwa kepada Allāh dan dia akan semangat beribadah serta semangat meninggalkan kemaksiatan.

Ayat ini menjadi dalil bahwasanya keburukan sekecil apapun hendaknya tidak diremehkan, sebagaimana diremehkan oleh sebagian orang. Karena dosa yang diadzab oleh Allah bukan hanya dosa-dosa besar saja, tetapi seluruh kemaksiatan sekecil apapun itu akan dicatat oleh Allah dan akan ada pertanggungjawabannya. Bahkan sekedar lirikan mata, Allah berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS Ghafir : 19)

Jangankan lirikan mata bahkan isi hati juga diketahui oleh Allah. Tidak ada yang sepele di sisi Allah. Oleh karena itu, Nabi bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

Hatihatilah kalian dengan dosadosa yang dianggap ringan karena sesungguhnya dosadosa tersebut berkumpul pada diri seseorang sampai membinasakannya.” (HR Ahmad no. 3627)

Jika surat ini dicermati maka didapati bahwasanya balasan-balasan Allah itu akan didapatkan di hari kiamat. Allah berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan.”  (QS Ali ‘Imran : 30)

Allah juga berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil, dan yang besar melainkan tercatat semuanya,’ dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzhalimi seorang jua pun.” (QS Al-Kahfi : 49)

Namun sebagian ulama seperti Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwasanya balasan kebaikan maupun keburukan bukan hanya di akhirat, akan tetapi di dunia juga[1]. Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini. Seperti firman Allah:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيم * وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

“(13) Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan; (14) Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS Al-Infithar : 13-14)

Terkait ayat ini, Imam Ibnul Qayyim berkata bahwasanya orang-orang yang baik tersebut ada dalam tiga kenikmatan, kenikmatan dunia, kenikmatan di alam kubur, dan kenikmatan yang sempurna di akhirat kelak.

Ibnu Taimiyyah pernah berkata:

إِنَّ فِيْ الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَا يَدْخُلْ جَنَّةَ الآخِرَةَ

“Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan memasuki surga akhirat.” (Madarijus Salikin, 1/488)

Orang yang beriman dan beramal shalih akan merasakan kebahagiaan, sebelum kebahagiaan di akhirat dia akan merasakan kebahagiaan di dunia, begitu pun di alam barzakh. Demikian juga pelaku kemaksiatan, dia akan mendapatkan balasannya di dunia sebelum di akhirat. Oleh karena itu, seandainya seorang muslim terjerumus dalam kemaksiatan sekecil apapun dia akan melihat dampaknya. Allah berfirman:

مَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura : 30)

Sampai-sampai Rasulullah juga bersabda dalam sebuah haditsnya:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit yang berkepanjangan, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab-sebab tersebut.”  (HR Bukhari no. 5641)

Telah diriwayatkan bahwasanya ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu membaca firman Allah:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan ahlil Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS An-Nisa’ : 123)

Maka Abu Bakar berkata:

فَكُلَّ سُوءٍ عَمِلْنَا جُزِينَا بِهِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ ، أَلَسْتَ تَمْرَضُ ؟ أَلَسْتَ تَنْصَبُ ؟ أَلَسْتَ تَحْزَنُ ؟ أَلَسْتَ تُصِيبُكَ اللَّأْوَاءُ ؟ ” قَالَ : بَلَى ، قَالَ : ” فَهُوَ مَا تُجْزَوْنَ بِهِ

“Apakah setiap keburukan yang kita lakukan, kita akan dibalas (di akhirat kelak)?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar, tidakkah engkau merasakan sakit? Tidakkah engkau merasakan letih ? Tidakkah engkau merasakan sedih? Tidakkah menimpa engkau kesulitan-kesulitan hidup?” Abu Bakar berkata: “Tentu saja wahai Rasulullah” Rasulullah berkata, “Inilah balasan yang Allah berikan di dunia.” (HR Ahmad no. 65)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang dengan kesedihan dan kegundah-gulanaan yang dia rasakan serta kesulitan yang dia hadapi selama di dunia. Akan tetapi pengaruh yang sempurna adalah di akhirat.

[1] Lihat kembali tafsir surat al-Infithoor ayat 13