Tafsir Quran Surat Al-Humazah Ayat-1

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

Latin: waylun likulli humazatin lumazatin

1. Arti: “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela”

Tafsir Surat Al-Humazah Ayat-1

Para ulama sepakat bahwasanya Surat Al-Humazah adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah, dan pokok pembicaraan surat ini berkaitan tentang cercaan dan ancaman bagi orang-orang yang suka mengumpat dan mencela. Oleh karena itu, surat ini dibuka dengan firman Allah وَيْلٌ yang bermakna “celaka.”

Di dalam Al-Quran, tidak ada surat yang didahului dengan وَيْلٌ kecuali hanya dua surat yaitu surat Al-Muthaffifin dan surat Al-Humazah. Surat Al-Muthaffifin berisikan tentang ancaman bagi orang-orang yang tidak menunaikan hak manusia berkaitan dengan harta, yaitu ketika mereka menimbang harta orang lain maka mereka mengurangi timbangan tersebut. Adapun surat Al-Humazah berisikan tentang celaan orang-orang yang suka mengumpat dan mencela yaitu berkaitan dengan harga diri orang lain.

Menganggu orang lain dari sisi hartanya maupun harga dirinya bukanlah perkara yang sepele dalam syariat. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ

“Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian.” (HR Bukhari no. 67)

Sebagaimana perbuatan membunuh orang lain membuatnya diancam oleh Allah maka begitu pula merampas harta orang lain. Demikian juga mencela orang lain. Dari sini perlu setiap orang untuk berhati-hati dan menjaga lisannya agar tidak mudah mencela orang lain atau menjatuhkan harga diri orang lain tanpa hak karena diancam oleh Allah dengan kecelakaan.

Para ulama mencoba menjelaskan hubungan antara surat Al-Humazah dengan surat Al-‘Ashr. Surat Al-‘Ashr membahas tentang kerugian yang dialami oleh manusia. Sedangkan surat Al-Humazah membahas tentang diantara kerugian tersebut adalah orang-orang yang terjerumus dalam umpatan dan celaan.

Allah berfirman pada permulaan surat:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela”

Di kalangan para ahli tafsir terdapat dua pendapat tentang makna وَيْلٌ. Pertama, salah satu nama lembah di neraka Jahannam. Kedua, celaan secara umum yang bermakna celaka.

Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya (20/181) menyatakan bahwa kata وَيْلٌ (celaka) kembali kepada tiga pemaknaan, yaitu:

Pertama, الْخِزْيُ yang berarti kehinaan

Kedua, الْعَذَابُ yang berarti adzab

Ketiga, الْهَلَكَةُ yang berarti kebinasaan

Sehingga ketika Allah mengatakan وَيْلٌ (celaka) maka terkumpul padanya tiga kecelakaan, yaitu kehinaan, adzab, dan kebinasaan.

Kemudian para ahli tafsir juga membedakan tentang makna هُمَزَةٍ dan لُمَزَةٍ. Sebagian ulama mengantakan bahwa هُمَزَةٍ berkaitan dengan ghibah, yaitu menyebutkan kejelekan-kejelekan orang lain ketika orang tersebut tidak ada. Adapun لُمَزَةٍ berkaitan dengan celaan langsung di hadapan orang lain. Ada pula yang memaknai هُمَزَةٍ dengan mencela orang lain dengan menggunakan anggota tubuh seperti mencibir orang lain dengan bibirnya atau dengan pandangan matanya, sedangkan لُمَزَةٍ adalah mencela orang lain dengan menggunakan lisan seperti perkataan, “wahai si bodoh”, “wahai si pincang”.

Seseorang boleh menjatuhkan orang lain jika syariat memperbolehkan seperti orang tersebut memang orang yang sangat tercela. Tetapi menjatuhkan orang lain dalam hal ini sesama kaum muslimin dengan tanpa hak, maka ini tidak boleh. Dan perbuatan tersebut merupakan indikator kesombongan. Karena tidaklah seseorang akan merendahkan orang lain tanpa hak kecuali karena dia merasa dirinya tinggi, merasa dirinya lebih hebat. Sehingga dia mudah menjatuhkan orang lain. Nabi bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim no. 91)