Faedah Dari Bulan Ramadan- (Khutbah Idul Fitri)

Faedah Dari Bulan Ramadan
(Khutbah Idul Fitri)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هدى مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليهِ وَسلَّم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْد

Ma’asyiral muslimin

Hari ini adalah hari kebahagiaan dan kemenangan setelah kaum muslimin berjuang selama sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan syahwatnya karena Allah ﷻ. Maka bergembiralah pada hari ini, karena Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan; Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya.” (Muttafaqun ‘alaih)([1])

Adapun kebahagiaan yang akan didapatkan oleh seseorang yang berpuasa tatkala bertemu dengan Rabb-Nya adalah dia akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar pada hari kiamat kelak. Bukankah Allah ﷻ dalam hadis qudsi berkata,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Semua amalan bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku (Allah), dan Aku lah yang membalasnya.”([2])

Ini adalah isyarat bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang spesial, dan Allah ﷻ akan memberikan ganjaran yang sangat besar. Oleh karenanya, banyak ahli tafsir yang mengatakan bahwa di antara pahala bagi orang-orang yang berpuasa adalah sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Orang yang berpuasa adalah orang yang sedang bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ, dan dia bersabar dalam menjauhi larangan Allah ﷻ, serta dia juga sabar dalam menahan lapar dan dahaga, sehingga mereka akan mendapatkan pahala tanpa batas.

Orang-orang yang berpuasa juga akan diberikan kemuliaan pada hari kiamat kelak. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ المِسْكِ

Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kasturi.” (Muttafaqun ‘alaih)([3])

Sebagian ulama mengatakan bahwa keutamaan ini akan diberikan bagi orang yang berpuasa ketika kelak berada di padang mahsyar. Pada hari kiamat kelak, akan keluar bau yang harum dari mulut-mulut orang-orang yang berpuasa ketika di dunia.

Orang-orang yang berpuasa juga akan diberikan keutamaan berupa masuk ke dalam surga melalui pintu khusus bernama pintu Ar-Rayyan. Demikian pula, tatkala pada hari kiamat, Al-Qur’an dan puasa seseorang akan membelanya pada hari kiamat kelak, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Al-Qur’an kelak pada hari kiamat akan memberi syafaat kepada seorang hamba. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan nafsu syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.’ Dan Al-Qur’an berkata, ‘Aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya’. Beliau melanjutkan sabdanya, ‘Maka keduanya (Al-Qur’an dan puasa) memberikan syafaat kepadanya’.”([4])

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْد

Ma’asyiral muslimin

Adapun kebahagiaan kedua bagi orang yang berpuasa adalah kebahagiaan tatkala berbuka. Setiap kali dia berbuka, orang yang berpuasa akan merasa bahagia, terlebih lagi tatkala dia menyempurnakan puasanya selama sebulan penuh. Oleh karenanya, hari ini disebut dengan Idul Fitri yang maknanya adalah hari raya berbuka, karena orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadan bergembira dengan berbuka pada hari ini, dan karena telah menjalankan ibadah kepada Allah ﷻ.

Maka dari itu, bergembiralah wahai kaum muslimin sekalian. Tatkala Anda di bulan Ramadan berdiri lama saat qiyamullail karena Allah ﷻ, semoga pada hari kiamat kelak Anda dimudahkan dengan tidak lama menunggu kedatangan Allah ﷻ di padang mahsyar.

Berbahagialah Anda yang senantiasa bersedekah di bulan Ramadan, karena Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya hingga perkara di antara manusia diputuskan.”([5])

Bergembiralah Anda yang berpuasa, Anda yang membaca Al-Qur’an hingga khatam, ketahuilah bahwa pada hari ini adalah hari kemenangan bagi Anda sekalian.

Ma’asyiral muslimin

Sesungguhnya bulan Ramadan adalah pesantren yang mengajarkan kepada kita banyak makna-makna, di mana makna-makna tersebut harus kita senantiasa bawa untuk menghadapi kehidupan sebelas bulan ke depan, hingga datang bulan Ramadan berikutnya. Di antara faedah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kegiatan kita selama bulan Ramadan yaitu:

  1. Berpuasa mengajarkan kita untuk peka terhadap orang-orang miskin dan orang-orang yang kelaparan

Sesungguhnya, orang yang berpuasa sangat tahu persis bagaimana rasanya ketika rasa lapar menusuk perut ketika dia berpuasa. Dia tahu bagaimana dahaganya orang yang berpuasa. Maka demikianlah keadaan orang miskin yang mereka susah untuk mendapatkan makan dan minum. Oleh karenanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانًا وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

Tidak beriman kepada-Ku seorang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangga sebelahnya tidur dalam kondisi lapar dan dia mengetahui.”([6])

Dari hadis ini, Nabi Muhammad ﷺ menyuruh kita untuk peka terhadap orang di sekitar kita. Jangan sampai kita dalam kondisi sedang bersenang-senang, sementara orang-orang di sekitar kita sedang bersusah payah.

Kita mungkin berbahagia, setiap bulan Ramadan kita bisa buka puasa bersama dengan kawan-kawan, karib kerabat, anak dan istri. Sementara di belahan bumi yang lain, saudara-saudara kita tidak bisa berpuasa dengan kerabat dan keluarga mereka. Salah seorang dari Suriah pernah mengatakan bahwa beberapa tahun silam mereka berpuasa dan berbuka dengan keluarga dan kerabat, akan tetapi saat ini mereka telah terpencar di beberapa negara yang berbeda. Maka betapa bahagianya kita yang bisa merasakan puasa dan berbuka bersama dengan keluarga. Oleh karenanya, ini adalah di antara nikmat yang harus kita syukuri.

  1. Kita tidak berani berbuka sebelum waktunya meskipun tidak ada orang yang melihat

Ini adalah pelajaran yang besar bagi kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ﷻ meskipun tidak ada yang melihat kita. Sungguh, betapa banyak orang yang tatkala di hadapan kawan-kawannya tampak bertakwa, akan tetapi tatkala sendirian dia berani melanggar perintah-perintah Allah ﷻ, dia tidak menjaga pandangannya, tidak menjaga lisannya, serta tidak menjaga pendengarannya.

Oleh karenanya, dengan puasa kita belajar tentang muraqabah, bahwasanya Allah ﷻ senantiasa mengawasi kita. Kalau sekiranya dengan berpuasa kita bisa meninggalkan makanan yang halal, minuman yang halal, berhubungan suami istri yang halal, maka seharusnya kita bisa lebih takut lagi dengan perkara-perkara maksiat karena Allah ﷻ.

  1. Kerja sama antar anggota keluarga untuk beribadah kepada Allah ﷻ

Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk bekerja sama antara seorang suami, istri, dan anak-anak untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Sebagaimana kebiasaannya istri yang memasakkan makanan untuk sahur dan berbuka, saling membantu dalam membangunkan anak-anak, saling mengingatkan untuk berpuasa, saling mengingatkan untuk qiyamullail, dan saling memberi motivasi.

Ini semua merupakan pelajaran yang sangat berharga, bahwasanya dalam menjalani kehidupan berumah tangga harus bersama-sama dan tidak boleh egois. Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ tatkala sepuluh hari terakhir Ramadan disebutkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Nabi bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadan), beliau mengencangkan sarung beliau, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarga Beliau.”([7])

Ini dalil bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ memikirkan istri-istrinya agar mereka juga beribadah.

Maka dari itu, dalam kehidupan ini seseorang tidak boleh bersikap tidak peduli terhadap istri dan anak-anaknya. Seseorang tidak boleh egois dan harus memikirkan keluarganya. Oleh karenanya, Allah ﷻ berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى﴾

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Maka dalam kehidupan ini, kita harus saling bantu membantu antara seorang suami, istri dan anak-anak, agar kita bisa bersama-sama dikumpulkan ke dalam surga kelak.

  1. Perhatian Nabi Muhammad ﷺ terhadap istrinya meskipun sedang berpuasa

Telah datang hadis-hadis yang menunjukkan tentang bagaimana Nabi Muhammad ﷺ yang sibuk berpuasa dan iktikaf, beliau tetap memperhatikan istri-istri beliau. Di antaranya hadis dari Aisyah i, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Nabi mencium dan mencumbu (istri-istri Beliau) padahal Beliau sedang berpuasa. Dan Beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian.”([8])

Demikian pula riwayat yang menyebutkan bahwa tatkala Nabi Muhammad ﷺ iktikaf, beliau membangunkan istri-istrinya untuk bangun salat malam. Bahkan disebutkan pula tatkala beliau ﷺ iktikaf, datang istri beliau Shafiyah i ke masjid, kemudian mereka berbincang-bincang sampai Nabi Muhammad ﷺ pun keluar dari masjid untuk mengantar istrinya pulang ke rumahnya, padahal beliau sedang sibuk beribadah.

Oleh karenanya, seorang tidak memiliki alasan untuk tidak perhatian terhadap istrinya. Jika Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang paling sibuk dalam beribadah dan paling takut kepada Allah ﷻ saja mampu memperhatikan dan bersikap mesra dengan istrinya di bulan Ramadan, maka pasti terlebih lagi jika itu di luar bulan Ramadan.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْد

أَقٌولُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ فَأَسْتَغْفِرُهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، أَللَّهُمَّ صَلِى عَلَيهِ وعَلَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

Ma’asyiral muslimin, di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari bulan Ramadan selanjutnya adalah:

  1. Murah hati untuk banyak bersedekah di bulan Ramadan

Ibnu Abbas t berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan.”([9])

Maka di bulan Ramadan, bagi yang dimudahkan oleh Allah ﷻ untuk bersedekah, kita berharap semoga sedekah kita diterima oleh Allah ﷻ. Akan tetapi, bukan berarti setelah bulan Ramadan kita tidak lagi bersedekah. Kita tetap harus bersedekah, karena telah datang hadis-hadis yang menyebutkan bahwa tatkala Nabi Muhammad ﷺ pada hari Id memerintahkan untuk bersedekah. Ini menunjukkan bahwasanya ibadah sedekah bukan hanya pada bulan Ramadan, akan tetapi tetap berlanjut di hari-hari yang lainnya, karena sedekah itu adalah ibadah yang sangat mulia sebagaimana yang telah disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya hingga perkara di antara manusia diputuskan.”([10])

Ketika matahari berjarak satu mil dari ubun-ubun manusia di hari kiamat kelak, tatkala keringat bercucuran dengan derasnya, maka orang-orang yang rajin bersedekah akan berada di bawah naungan sedekahnya pada hari itu.

Terutama untuk para wanita, ketahuilah bahwa pada hari raya Nabi Muhammad ﷺ maju menuju saf-saf para wanita memberikan nasihat khusus kepada mereka untuk bersedekah. Ketika itu Nabi Muhammad ﷺ berjalan menuju saf-saf para wanita bersama Bilal. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada para wanita,

تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ، فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

Bersedekahlah kalian (para wanita), karena kebanyakan kalian akan menjadi bahan bakar neraka jahanam.” Maka berdirilah seorang wanita terbaik di antara mereka dengan wajah pucat seraya bertanya, “Kenapa ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Karena kalian lebih banyak mengadu (mengeluh) dan mengingkari kebaikan suami.”([11])

Demikianlah sifat wanita, sehingga tidak heran Nabi Muhammad ﷺ menyuruh mereka untuk banyak bersedekah, karena sedekah yang akan menyelamatkan mereka dari neraka jahanam. Maka tatkala Nabi Muhammad ﷺ telah menasihati mereka, para wanita kemudian mengeluarkan sedekah mereka dengan melepaskan cincin-cincin, kalung-kalung, dan anting-anting mereka, kemudian mereka berikan kepada Bilal.

Wahai para wanita, bertakwalah kepada Allah ﷻ, dan di antara bentuk takwa kepada Allah ﷻ adalah dengan taat kepada suami kalian. Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda tentang wanita penghuni surga, beliau ﷺ bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Apabila seorang istri melaksanakan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu inginkan’.”([12])

Oleh karenanya taat kepada suami adalah sebab utama bagi seorang istri untuk masuk ke dalam surga. Akan tetapi melakukannya tentu butuh kesabaran dan perjuangan.

Ma’asyiral muslimin, semoga Allah ﷻ menerima amalan kita.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْد

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ اعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Footnote:

_________

([1])  HR. Bukhari No. 1904 dan HR. Muslim No. 1151.

([2])  HR. Bukhari No. 5927.

([3])  HR. Bukhari No. 5972 dan HR. Muslim No. 1151.

([4])  HR. Ahmad No. 6626.

([5])  HR. Ahmad No. 17371.

([6])  HR. Thabrani No. 751 dalam Mu’jam al-Kabir.

([7])  HR. Bukhari No. 2024.

([8])  HR. Bukhari No. 1927.

([9])  HR. Bukhari No. 6.

([10])  HR. Ahmad No. 17371.

([11])  HR. Muslim No. 885.

([12])  HR. Ahmad No. 1661, dinyatakan hasan lighairih oleh al-Arnauth.