Al-Ahad Ash-Shamad

AL-AHAD ASH-SHAMAD

Al-Ahad dan Ash-Shamad adalah dua nama yang Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Ikhlas, Allah ﷻ berfirman,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Ketika kita membaca surah Al-Ikhlas tidak ada di dalamnya kata Al-Ikhlas, namun surah tersebut dinamakan dengan Al-Ikhlas karena dia dimurnikan untuk membahas tentang sifat-sifat Allah ﷻ dan tidak membahas yang lain. Surah ini diturunkan ketika orang-orang musyrikin datang kepada Rasulullah ﷺ  dengan berkata:

انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ

“sifatilah kepada kami bagaimana Rabbmu?” ([1])

Nabi Muhammad ﷺ tidak menjawab pertanyaan tersebut hingga akhirnya turun firman Allah ﷻ mengajarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ bagaimana cara menjawab pertanyaan orang-orang musyrikin tersebut. Allah ﷻ berfirman

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Surat Al-Ikhlas nilainya sama dengan sepertiga Al-Quran, hal ini dikarenakan isinya khusus membahas tentang sifat-sifat Allah ﷻ dan tidak ada pembahasan yang lainnya. Para ulama mengatakan Al-Qur’an secara kandungannya terbagi menjadi tiga:

  1. Berbicara tentang hukum-hukum
  2. Berbicara tentang janji dan ancaman
  3. Berbicara tentang tauhid atau sifat-sifat Allah ﷻ.

Al-Qurthubi dan yang lainnya mengatakan bahwa Al-Qur’an ditinjau dari isinya yang berbicara tentang tauhid dan sifat-sifat Allah ﷻ maka Al-Qur’an adalah sepertiga dari Al-Qur’an. ([2])

Apa makna bahwa Al-Ikhlas adalah sepertiga dari Al-Quran? Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa merajihkan bahwasanya yang dimaksud dari sepertiga Al-Qur’an adalah sepertiga pahala membaca Al-Qur’an. Maksudnya jika kita membaca surah Al-Ikhlas maka pahalanya sama dengan membaca 10 juz. Karunia Allah ﷻ luas, jika Allah ﷻ ingin memberikan pahala sebanyak-banyaknya maka itu terserah Allah ﷻ. Dalam sebagian amalan saleh terkadang pahalanya lebih besar dari yang lain, maka ini semua terserah kehendak Allah ﷻ. Contoh-contoh amalan yang seperti ini sangat banyak seperti salat di masjid Quba, umrah, puasa 6 hari di bulan Syawal, dan lainnya. Inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, namun bukan berarti orang yang membaca surah Al-Ikhlas 3 kali dia telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Memang benar dia mendapatkan pahala sepertiga dari Al-Qur’an akan tetapi dia juga memerlukan untuk membaca surah lainnya([3]). Karena dengan itu dia akan mendapatkan pahala-pahala lainnya dari sisi tadabur, pengertian tentang hukum-hukum, mengenal sifat-sifat Allah ﷻ, mengetahui tentang surga dan neraka, dan lainnya. Ketika membaca surah Al-Ikhlas saja memang benar dia mendapatkan pahala sepertiga Al-Qur’an akan tetapi untuk mendapatkan pahala dari sisi tadabur dan lainnya dia memerlukan untuk membaca Al-Qur’an secara keseluruhan. Seperti seseorang yang memiliki kebutuhan yang banyak seperti baju, makanan, rumah dan lainnya yang total kebutuhannya setelah dikalkulasi sebesar 100 juta misalnya. Orang tersebut hanya memiliki uang 33  juta, yang ia miliki dibandingkan dengan kebutuhan yang lainnya berupa makanan pakaian, dan lainnya ia hanya memiliki sepertiga kebutuhannya. Akan tetapi yang ia butuhkan bukan hanya uang 33 juta saja, namun ia juga membutuhkan pakaian, tempat tinggal, dan lainnya. Ibnu Taimiyah berkata seperti itulah permisalan ketika membaca surah Al-Ikhlas. Sehingga tidaklah benar seseorang yang mengatakan akan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 3 kali. Karena maksud dari surah Al-Ikhlas adalah seprtiga Al-Qur’an adalah dari sisi pahalanya.

Karena agungnya pahala dari surah Al-Ikhlas ini, para sahabat senang untuk mengulang-ulang membaca surat Al-Ikhlas. Datang dalam hadits yang menyebutkan hal ini, di antaranya dikisahkan ada seorang sahabat mendengar sahabat yang lain mengulang-ulang membaca surah Al-Ikhlas. Ketika di pagi hari dia pun datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan apa yang ia dengar seakan-akan ia menganggap remeh amalan tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” ([4])

Dalam sebagian riwayat ada seorang lelaki yang ia bangun di malam hari lalu membaca di waktu sahur surah Al-Ikhlas. Dia tidak membaca surah yang lainnya, dia hanya mengulang-ulang membaca surah Al-Ikhlas. Nabi Muhammad ﷺ pun mengatakan bahwa surah Al-Ikhlas pahalanya sepertiga Al-Qur’an.

Nabi Muhammad ﷺ juga pernah bersabda

إِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ، وَإِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“sungguh aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an, dan ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” ([5])

Rasulullah ﷺ  juga pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ جَزَّأَ الْقُرْآنَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ، فَجَعَلَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ جُزْءًا مِنْ أَجْزَاءِ الْقُرْآنِ

“sesungguhnya Allah membagi Al-Qur’an menjadi 3 bagian, dan menjadikan qul huwallahu ahad satu bagian Al-Qur’an.” ([6])

Ini menunjukkan bahwa surah Al-Ikhlas adalah surah yang sangat agung karena ia berisi tentang sifat-sifat Allah ﷻ.

Penulis ingatkan, bahwa seluruh isi Al-Qur’an agung. Akan tetapi keagungannya bertingkat-tingkat. Sebagaimana terdapat ayatteragung di dalam Al-Qur’an yaitu ayat al-kursi, Nabi ﷺ bersabda,

أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ آيَةُ الْكُرْسِيِّ

“ayat teragung di dalam Al-Qur’an adalah ayat al-kursi.” ([7])

Mengapa ayat al-kursi menjadi ayat teragung di dalam Al-Qur’an? Karena ayat al-kursi isinya khusus tentang sifat-sifat Allah ﷻ. Dari awal hingga akhir ayat ini berisi tentang keagungan Allah ﷻ. Tentu tidak sama ayat-ayat yang ada pada surah Al-Ikhlas dengan ayat-ayat yang ada pada surah al-lahab. Semua ayat Al-Qur’an agung namun keagungannya bertingkat-tingkat. Jika ditinjau dari isinya maka surah Al-Ikhlas adalah surah yang spesial.

Di antara yang menjadikan surah Al-Ikhlas menjadi agung adalah karena di dalamnya terdapat nama Allah ﷻ Al-Ahad dan Ash-Shamad. Kedua nama ini tidak disebutkan dalam surah-surah yang lain. Kita perlu tahu apa makna Al-Ahad dan Ash-Shamad yang menjadikan surah Al-Ikhlas menjadi surah yang agung.

Footnote:

([1]) HR. At-Tirmidzi No. 3364, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani.

([2]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi (20/247).

([3]) Lihat: Al-Fatawa Al-Kubraa (5/333-334).

([4]) HR. Bukhari No. 5013 .

([5]) HR. Ahmad No. 9535,dan dinyatakan oleh Syuaib Al-Arnauth sanadnya sahih dengan syarat Muslim.

([6]) HR. Muslim No. 811.

([7]) HR. Thabrani No. 8660