Asy-Syakur (الشَّكُوْرُ) – Yang Maha Membalas Kebaikan

Asmaul Husna
Asy-Syakur (
الشَّكُوْرُ) – Asy-Syakir (الشَّاكِرُ)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Nama Allah Subhanahu wa ta’ala Asy-Syakur (الشَّكُوْرُ) atau Asy-Syakir (الشَّاكِرُ) artinya adalah Yang Maha Membalas kebaikan, atau dengan kalimat yang lebih kita pahami adalah Yang Maha Berterima kasih. Asy-Syakur dan Asy-Syakir maknanya sama, akan tetapi bentuk lafal Asy-Syakur (الشَّكُوْرُ) merupakan bentuk sighat mubalaghah, yaitu maknanya Allah Subhanahu wa ta’ala sering dan sangat membalas kebaikan dengan balasan yang banyak.

Lafal nama Allah Subhanahu wa ta’ala Asy-Syakir (الشَّاكِرُ) datang dalam dua ayat di dalam Al-Quran, yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147)

Adapun lafal nama Allah Subhanahu wa ta’ala Asy-Syakur (الشَّكُوْرُ) disebutkan dalam beberapa ayat, di antaranya seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Dan barang siapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Asy-Syura: 23)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun.” (QS. At-Taghabun: 17)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala tentang perkataan penghuni surga,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri’.” (QS. Fathir: 34)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain,

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 30)

Inilah beberapa ayat-ayat yang menyebutkan tentang Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki nama Asy-Syakur dan Asy-Syakir

Makna Asy-Syakur (الشَّكُوْرُ) – Asy-Syakir (الشَّاكِرُ)

Kita tahu bahwa yang namanya bersyukur itu antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Seorang hamba dikatakan bersyukur apabila dia rajin beribadah, rajin bersedekah, rajin beramal saleh, ini dikatakan bahwa hamba tersebut bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi yang kita bahas ini adalah tentang Allah Subhanahu wa ta’ala yang bersyukur kepada hamba-hamba-Nya. Maka ini dikatakan bahwa inilah bentuk bersyukur yang agung, Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Bersyukur. Bentuk Maha Bersyukurnya Allah Subhanahu wa ta’ala bisa kita lihat dari beberapa makna-makna dari nama Allah Subhanahu wa ta’ala ini. Untuk menjelaskan makna nama Allah Subhanahu wa ta’ala ini, kita bisa mengklasifikasikan ke dalam beberapa makna.

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan seseorang sekecil apa pun kebaikan tersebut

Kita melihat perilaku manusia, betapa sering mungkin kita melakukan kebaikan yang mungkin kecil kepada seseorang, dan kita dapati orang tersebut tidak bersyukur, dia tidak berterima kasih. Kenapa demikian? Karena menurut orang tersebut, kebaikan yang kita lakukan itu biasa, kecil, hampir-hampir tidak ada nilainya, sehingga menurutnya tidak perlu dia berterima kasih. Adapun Allah Subhanahu wa ta’ala tidak demikian, sekecil apa pun kebaikan yang seorang hamba lakukan, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan berterima kasih. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah kita sebutkan,

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Kata خَيْرًا dalam ayat ini nakirah yang datang dalam bentuk syarat, sehingga memberikan faedah umum, yaitu barang siapa yang berbuat kebaikan apa pun, sekecil apa pun, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan balas perbuatan baiknya tersebut. Oleh karenanya kita juga dapati Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

لا تَحقِرَنَّ مِنَ المَعْرُوف شَيْئًا، وَلَو أنْ تَلقَى أخَاكَ بوجهٍ طليقٍ

Janganlah kamu menganggap remeh kebaikan sedikit pun, meskipun kamu hanya bermanis muka (tersenyum) kepada saudaramu (sesama muslim) ketika bertemu.”[1]

Kita tentu sudah terlalu sering mengumbar senyum kepada orang lain, tapi apakah semua orang yang kita tersenyum kepada mereka mengingat senyum kita? Tentu tidak. Tapi Allah Subhanahu wa ta’ala, ketika kita tersenyum kepada seseorang, meskipun orang tersebut tidak membalas senyuman kita, namun senyuman kita tersebut akan dicatat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, Allah tidak akan lupa, dan Allah Subhanahu wa ta’ala akan balas. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah: 7)

Jangankan kita berbicara tentang amalan zahir yang paling kecil seperti senyum, niat yang merupakan amalan yang tidak tampak secara kasat mata, jika seseorang berniat kebaikan maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan membalasnya. Oleh karenanya dalam sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

Barang siapa yang berniat kebaikan lantas tidak jadi ia kerjakan, Allah mencatat satu kebaikan disisi-Nya secara sempurna.”[2]

Hadits ini sangat luar biasa. Seseorang yang mungkin berniat ingin menelepon orang tua sebagai bentuk baktinya, kemudian tidak jadi karena dia lebih dahulu ditelepon oleh kawan atau yang lainnya, sehingga akhirnya dia lupa untuk menelepon orang tuanya. Ternyata niatnya menelepon orang tuanya yang tidak jadi dia kerjakan tersebut dicatat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai satu kebaikan yang sempurna. Maka ini jelas menunjukkan bahwasanya di antara Maha Bersyukurnya Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Dia membalas kebaikan seseorang meskipun kebaikan tersebut sangatlah kecil.

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala membalas pahala seorang hamba dengan berlipat-lipat ganda

Hal ini sebagaimana yang Nabi Muhammad ﷺ telah sabdakan,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

Barang siapa yang berniat kebaikan lantas tidak jadi ia amalkan, Allah mencatat satu kebaikan disisi-Nya secara sempurna, dan jika ia berniat lantas ia amalkan, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan, bahkan hingga dilipatgandakan tujuh ratus kali lipat, bahkan berlipat ganda yang tidak terbatas.”[3]

Lihatlah, pelipatan ganda pahala yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan atas kebaikan yang dilakukan oleh seorang ada tiga model, yaitu dibalas sepuluh kali lipat, dibalas tujuh ratus kali lipat, atau terserah Allah.

Praktik akan hal ini banyak sekali kita jumpai, di antaranya adalah di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang asalnya pahala dilipat gandakan, akan tetapi juga kualitas pahala diperbesar pada bulan itu. Oleh karenanya ketika seseorang bertanya tentang berapa banyak pahala yang didapatkan oleh seseorang tatkala berpuasa pada bulan Ramadhan, maka jawabannya adalah tidak ada dalil yang tegas menyebutkan hal tersebut. Akan tetapi kita katakan bahwa aturan pahala itu tetap berlaku, yaitu satu kebaikan dilipatgandakan minimal sepuluh kali lipat, namun bisa tujuh ratus kali lipat, atau bisa juga lebih daripada itu. Kemudian pada bulan Ramadhan, kualitas pahala dilipatgandakan. Selain puasa juga ada ibadah umrah yang mendapatkan kualitas yang lebih besar pada bulan Ramadhan. Kata Nabi Muhammad ﷺ,

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ كَحَجَّةٍ مَعِي

Umrah di bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”[4]

Ini menunjukkan bahwa kualitas pahala pada bulan Ramadhan sangat luar biasa. Lebih daripada itu adalah pada malam Lailatul Qadar, dimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam lailatul qadr itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Pahala orang yang beribadah di malam Lailatul Qadar itu setara dengan seribu bulan beribadah.

Intinya, berbicara pahala atas kebaikan yang dilakukan maka pahalanya minimal sepuluh kali lipat. Hal ini juga sebagaimana yang Nabi Muhammad ﷺ sabdakan tentang pahala baca Al-Quran,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Quran, maka baginya satu pahala kebaikan, dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan ‘Alif lam mim’ itu satu huruf, akan tetapi ‘Alif’ satu huruf, ‘Lam’ satu huruf dan ‘Mim’ satu huruf.”[5]

Inilah kaidah Allah Subhanahu wa ta’ala dalam membalas kebaikan seorang hamba. Berbeda halnya jika seorang hamba melakukan maksiat, satu kemaksiatan yang dia lakukan hanya dicatat baginya satu keburukan. Dari sini kita bisa bayangkan perbedaannya, pahala yang berlipat-lipat menanti seseorang yang berbuat kebaikan. Inilah mengapa Allah Subhanahu wa ta’ala dikatakan Asy-Syakur, Dia Maha Berterima kasih kepada hamba-hamba-Nya.

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak butuh dengan kebaikan hamba-Nya

Di antara hal yang menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Bersyukur atas kebaikan yang dilakukan hamba-hamba-Nya adalah ternyata Allah Subhanahu wa ta’ala tidak butuh dengan kebaikan-kebaikan hamba-Nya. Inilah yang membedakan antara manusia terhadap manusia lain dan Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap manusia. Misalnya kita dengan orang lain, kita akan berterima kasih ketika dia berbuat baik kepada kita. Sebab adanya jasa yang dia lakukan sehingga kita berterima kasih kepadanya. Sehingga aneh jika kita berterima kasih sementara dia tidak melakukan apa-apa terhadap kita. Akan tetapi di antara Maha Baik-Nya, Maha Membalas kebaikan, Allah Subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan yang kita lakukan, padahal Allah Subhanahu wa ta’ala tidak butuh dengan kebaikan kita. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS. Luqman: 12)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra’: 7)

Ini menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan kita, namun Allah Subhanahu wa ta’ala tidak butuh dengan kebaikan kita. Oleh karenanya dalam hadits qudsi Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا

Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta manusia dan jin, semuanya berada pada tingkat ketakwaannya orang yang paling saleh di antara kalian, maka hal itu sedikit pun tidak akan menambahkan kekuasaan-Ku.”[6]

Ini menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Membalas kebaikan, sementara Dia tidak butuh dengan kebaikan kita. Terlebih lagi jika kita mau katakan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala-lah yang memberi taufik serta hidayah kepada kita untuk beramal saleh. Maka bagaimana mungkin Allah Subhanahu wa ta’ala tidak dikatakan sebagai Asy-Syakur, sedangkan Dia yang memberi taufik dan hidayah kepada seseorang untuk beramal, kemudian seseorang itu beramal untuk dirinya sendiri, namun Allah Subhanahu wa ta’ala memberi balasan atas amal saleh yang dikerjakan.

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak hanya membalas kebaikan di akhirat, bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan seseorang di dunia terlebih dahulu

Nabi Yusuf ‘alaihissalam berkata,

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)

Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan perkataan tersebut ketika beliau telah menjadi pembesar Mesir tatkala itu. Perkataan beliau ini menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala membalas ketakwaan dan kesabarannya di dunia, yaitu dengan dijadikannya beliau sebagai bendaharawan Mesir.

Kita tentu sudah begitu banyak mendengar cerita yang masuk kepada kaidah الجزاء من جنس العمل (balasan sesuai dengan perbuatan). Pernah ada seseorang bercerita kepada saya bahwa suatu hari dia pergi ke masjid. Singkat cerita dia kemudian hendak pulang. Ketika dia hendak pulang, dia bertemu dengan seorang yang sudah tua kehilangan sendalnya. Maka seketika dia memberikan sendal yang dia pakai kepada orang tua tersebut. Setelah kejadian itu, tidak lama dia diberi oleh orang lain sendal yang lebih bagus daripada sendal yang dia pakai sebelumnya. Kisah lain juga yang saya pernah dengar, ada seseorang yang meminta bantuan kepada si A untuk membelikan sebuah alat kesehatan. Maka si A kemudian membelikan alat tersebut yang mungkin harganya berkisar satu juta rupiah. Tidak lama setelah kejadian itu, ada orang yang memberinya hadiah uang sepuluh juta rupiah. Masya Allah, cerita seperti ini tentu sangat banyak, dimana Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan balasan di dunia terlebih dahulu sebelum di akhirat bagi orang yang berbuat kebaikan. Oleh karenanya ini di antara hal yang menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Membalas kebaikan, tidak ada satu kebaikan pun yang terluput dari-Nya.

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala memberi balasan kepada orang-orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu wa ta’ala dengan ganti yang lebih baik

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah melainkan Allah akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik dari-Nya untukmu.”[7]

Lihatlah Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau meninggalkan kemaksiatan ketika diajak berzina, beliau bersabar dalam penjara, bahkan sebelum itu juga beliau bersabar dengan sempitnya sumur, maka kemudian akhirnya Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan kepada beliau kekuasaan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Dan demikianlah Kami memberi kekuasaan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir) untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56)

Kemudian juga lihatlah kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, ketika beliau dihadirkan pameran kuda-kuda, ternyata hal itu membuat beliau lupa untuk berzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka kemudian yang beliau lakukan adalah meminta kuda-kuda tersebut untuk dihadirkan, lalu disembelihnya seluruh kuda-kuda tersebut, tidak lain beliau melakukan itu karena itulah yang melalaikan beliau dari mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala. Lalu apa ganti yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam? Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba’: 12)

Lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala memberi ganti kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam atas kuda-kuda dengan angin yang bisa berjalan ke mana-mana dengan sangat cepat.

Selain itu, para ulama juga menyebutkan contoh yaitu para syuhada. Mereka telah menyerahkan jiwa mereka karena Allah Subhanahu wa ta’ala, maka ruh mereka di alam barzakh beterbangan seperti burung-burung di surga. Seperti Ja’far bin Abi Thalib, ketika dalam peperangan dia membawa bendera dengan tangan kanannya, kemudian tangan kanannya terputus, maka dia memegang bendera dengan tangan kirinya. Namun kemudian tangan kirinya pun ikut terputus, maka jadilah kedua tangannya terputus dalam medan pertempuran. Akan tetapi apa ganti dari Allah Subhanahu wa ta’ala bagi Ja’far bin Abi Thalib? Yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala memberi ganti tangannya yang putus dengan sayap,[8] oleh karenanya dia diberi gelar dengan Ja’far Ath-Thayyar.

Intinya, banyak sekali kisah yang lain, bahwasanya siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu wa ta’ala, maka Allah Subhanahu wa ta’ala gantikan baginya di dunia sebelum di akhirat.

Perkara-perkara yang hendak diperhatikan berkaitan dengan syukur

Kita tahu bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Asy-Syakur, dan Dia mencintai hamba-Nya yang bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan urgensi mempelajari fikih Al-Asma’ Al-Husna, kita ketahui bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala suka jika hamba-hamba-Nya memiliki sifat-sifat yang merupakan atsar (dampak) dari sifat Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki nama Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun), maka Allah Subhanahu wa ta’ala suka jika hambanya suka untuk memaafkan manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Asy-Syakur, maka Allah Subhanahu wa ta’ala juga suka jika hamba-Nya pandai untuk berterima kasih.

Maka dari itu, ada beberapa perkara yang perlu untuk kita perhatikan dalam bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, di antaranya:

  1. Hendaknya ikhlas dalam beribadah agar Allah Subhanahu wa ta’ala membalas dengan balasan terbaik

Contoh kisah dalam hal ini adalah kisah yang masyhur tentang wanita pezina yang masuk surga karena memberi minum kepada seekor anjing. Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa-dosanya karena dia ikhlas karena Allah ketika memberi minum kepada anjing tersebut.[9] Mengapa dia diampuni? Ibnul Qayyim menyebutkan bahwasanya dia diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala karena dia ikhlas, dia menolong anjing tersebut sementara tidak ada yang melihatnya, kemudian dia tidak bisa mengharapkan terima kasih dari anjing tersebut sehingga dia memberi minum kepada anjing tulus karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

Contoh juga seperti dalam sebuah hadits, tentang seorang laki-laki yang memindahkan gangguan dari jalan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

Ketika seorang laki-laki berjalan pada suatu jalan dan menemukan dahan berduri lalu ia membuangnya maka Allah menyanjungnya dan mengampuni dosanya.”[10]

Menghilangkan gangguan dari jalan ternyata bisa membuat seseorang diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Padahal dalam hadits yang lain Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

Iman itu ada tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan, ‘LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah)’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”[11]

Ternyata, laki-laki tersebut sedang melakukan cabang keimanan yang paling rendah, yaitu menghilangkan gangguan dari jalan. Akan tetapi karena dia ikhlas, perbuatan yang sangat sepele tersebut membuat dia diampuni dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Contoh lain juga seperti kisah seorang ibu yang membelah sebutir kurma untuk anaknya. Dikisahkan bahwa ada ibu bersama kedua orang putrinya meminta makan ke rumah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, maka ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mencari-cari makanan di rumahnya namun tidak menemukan apa-apa kecuali sebutir kurma. Maka kurma tersebut diberikan kepada wanita tersebut, dan yang menakjubkan adalah wanita tersebut membelah dua sebutir kurma tersebut, kemudian diberikannya kepada kedua anaknya. Tentu yang juga tidak kalah menakjubkan adalah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang memberikan sebutir kurma kepada wanita tersebut, sementara dia sendiri tidak memiliki makanan yang bisa dia makan di rumahnya. Kemudian, setelah seorang ibu bersama kedua anaknya itu pergi, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha kemudian menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ setelah mendengar cerita dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha beliau berkata,

مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّار

Barang siapa yang diuji sesuatu karena anak-anak perempuannya lalu ia berlaku baik terhadap mereka maka mereka akan melindunginya dari api neraka.”[12]

Tentu kita melihat bahwa amalan yang dilakukan seorang ibu tersebut kepada anaknya adalah amalan yang sederhana, yaitu hanya membagi sepenggal kurma kepada anak, akan tetapi jika itu dilakukan karena Allah Subhanahu wa ta’ala maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan balas dengan balasan yang terbaik.

Dari sini kita mengingat bahwasanya benarlah perkataan para salaf,

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمٌهٌ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat pula.”

Oleh karenanya jika kita ingin diberikan balasan oleh Asy-Syakur (Yang Maha Bersyukur) dengan balasan yang terbaik, maka hendaknya kita berusaha untuk seikhlas mungkin dalam beribadah.

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala itu Asy-Syakur dan mencintai hamba-Nya yang suka bersyukur

Sikap syukur seorang hamba itu ada dua, yaitu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan bersyukur kepada sesama manusia.

  • Syukur kepada Allah

Bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala yaitu seseorang banyak beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Beramallah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Demikian juga Rasulullah ﷺ berkata ketika beliau shalat hingga kaki beliau bengkak,

أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Apakah tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?[13]

Jadi, bukti nyata seseorang yang bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan dia juga dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan cara banyak beribadah kepada-Nya.

Seseorang jika sudah pandai bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan mengazab dirinya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147)

  • Bersyukur kepada sesama manusia

Di antara hal yang banyak dilupakan oleh kita adalah di antara bentuk kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dengan cara kita bersyukur (berterima kasih) kepada sesama manusia. Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ

Barang siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah.”[14]

Dalam riwayat yang lain Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

إِنَّ أَشْكَرَ النَّاسِ لِلَّهِ أَشْكَرُهُمْ لِلنَّاسِ

Sesungguhnya orang yang paling bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling berterima kasih kepada manusia.”[15]

Kemudian juga dalam lafal yang lain,

لَا يَشْكُرُ اللَّهُ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.”[16]

Hadits-hadits semacam ini sangat banyak. Oleh karenanya seseorang jika ingin dikatakan sebagai orang yang bersyukur, maka dia harus pandai berterima kasih kepada sesama manusia, dan Nabi Muhammad ﷺ yang memerintahkan demikian. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Dan barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, kemudian apabila kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka doakanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya.”[17]

Ada orang-orang yang kebaikannya perlu untuk kita balas seperti tetangga kita, dia memberi kue atau makanan, maka kita pun juga memberi kue atau makanan pula. Namun ada pula orang-orang yang kaya raya, atau raja, mereka tidak butuh balasan seperti apa yang mereka berikan kepada kita, akan tetapi dia hanya butuh terima kasih dari kita. Maka di antara bentuk terima kasih kita kepada orang seperti mereka adalah kita mendoakan mereka sampai kita merasa doa kita tersebut sudah cukup untuk membalas kebaikannya, jika kita merasa belum cukup maka kita terus mendoakan mereka.

Dari sini kita kemudian sadar bahwasanya orang yang paling utama kita mendapatkan rasa syukur kita adalah orang tua kita. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku tempat kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Orang yang bertauhid, orang yang mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala, harusnya dia berterima kasih kepada orang tuanya sebelum dia berterima kasih kepada orang lain. Hendaknya dia tidak bersikap pelit kepada orang tuanya, tidak merendahkannya, tidak menyakiti hatinya, bahkan hendaknya dia memenuhi seluruh permintaannya jika dia mampu.

Maka dari itu, ketika seseorang telah diberi kebaikan dari orang lain, jangan kemudian dia bersikap tidak peduli, sehingga tidak ada bentuk terima kasih meskipun hanya dengan ucapan “Terima kasih” atau “Jazakallahu khairan”. Ketahuilah bahwa orang yang tidak mau membalas kebaikan seseorang meskipun hanya dengan ucapan “Terima kasih”, maka itu pertanda bahwa dia adalah orang yang sombong. Sebagian orang ada yang tidak mau berterima kasih karena merasa tidak ingin punya balas budi. Ingatlah wahai saudaraku sekalian, jika orang memberi lantas Anda tidak ingin merasa berhutang budi, tolak pemberiannya. Tapi kalau Anda mau menerima kebaikan tersebut, maka balaslah dengan balasan yang sesuai dengan kebaikan tersebut, dan jika tidak mampu maka paling tidak ucapkanlah “Jazakallahu khairan”. Benar bahwasanya yang berbuat kebaikan agar tidak mengharapkan balasan, akan tetapi orang yang diberi kebaikan harus memberi balasan, karena Nabi Muhammad ﷺ yang menyuruh hal tersebut.


Footnote:

__________
[1] HR. Muslim No. 2626.

[2] HR. Bukhari No. 6491.

[3] HR. Bukhari No. 6491.

[4] Shahih al-Jami’ Ash-Shaghir No. 4098.

[5] HR. At-Tirmidzi No. 2910, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[6] HR. Muslim No. 2577.

[7] HR. Ahmad No. 23074, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[8] Lihat di antaranya HR. Al-Hakim No. 4943 dalam Al-Mustadrak, dia mengatakan hadits ini sahih berdasarkan syarat Imam Muslim.

[9] Sebagaimana disebutkan dalam HR. Bukhari No. 3467 dan HR. Muslim No. 2245.

[10] HR. Bukhari No. 652.

[11] HR. Muslim No. 35.

[12] HR. Bukhari No. 5995.

[13] HR. Bukhari No. 1130.

[14] HR. At-Tirmidzi No. 1954, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[15] HR. Ahmad No. 21846, Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hadits ini sahih lighairih dan sanadnya dha’if. Adapun Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini dha’if dalam Silsilah Al-Ahadits adh-Dha’ifah No. 5339.

[16] HR. Bukhari No. 218 dalam Al-Adab Al-Mufrad, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[17] HR. Abu Daud  No. 1672, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.