Muqaddimah Bab 6 – Adz Dzikr Wad Dua’

بَابُ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ
MUQADDIMAH BAB ADZ-DZIKR WAD DUA’

Setelah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di Kitabul Jami’ membawakan lima bab, yaitu Bab Al-Adab, Bab Al-Birr was Shilah (kebaikan dan silaturrahmi), Bab Az-Zuhd wal Wara’, Bab At-Taberharapib min Maiil Akhlaq (peringatan dari akhlak buruk), Bab At-Targhib fii Makarimil Akhlaq (motivasi untuk berakhlak mulia), kemudian beliau membawakan bab yang terakhir yaitu Bab Adz-Dzikr wad Dua’. Diharapkan agar seseorang itu dalam kehidupannya memperbanyak zikir dan doa kepada Allah ﷻ karena zikir dan doa merupakan ibadah yang sangat afdhol. Oleh karena itu, Nabi pernah berwasiat kepada seorang sahabat,

لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Hendaklah lisanmu selalu basah karena berzikir kepada Allah .”([1])

Kita harus menyadari bahwa kita sedang hidup di zaman yang penuh dengan hal-hal yang bisa memalingkan kita dari mengingat Allah ﷻ. Media sosial yang begitu gencar, peristiwa di tengah manusia dan kejadian alam yang silih berganti yang membuat kita selalu terpancing membaca dan mencari informasi tentangnya. Tidak hanya sekali dua kali, tetapi hal-hal tersebut seakan menjadi kebutuhan pokok yang manusia tidak bisa lepas darinya. Semua itu membuat kita berpaling dari mengingat Allah ﷻ.

Sesungguhnya orang yang paling bahagia adalah yang banyak mengingat Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”([2])

Bagaimana kehidupannya tidak akan tenteram, dia mengingat Zat yang kebahagiaannya ada di tangan-Nya. Seseorang yang menginginkan kebahagiaan maka dia harus banyak mengingat Allah ﷻ. Allah ﷻ juga memuji mereka di dalam Al-Quran, Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”([3])

Jika kita merenungi maka akan dijumpai bahwasanya zikir adalah ibadah yang paling mudah. Setiap orang mudah untuk mengucapkan astaghfirullah, alhamdulillah, subhanallah. Bersamaan dengan itu keutamaannya sangat besar, sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits-hadits yang akan datang. Hanya saja sangat disayangkan karena ternyata banyak pula yang tidak diberi taufik untuk berzikir.

Ketika kami dulu belajar di kota Madinah, zikir adalah sesuatu yang biasa mengalir dari lisan-lisan orang Arab. Kita akan jumpai anak muda hingga orang tua renta terbiasa untuk berzikir, kita naik Taksi maka supir taksinya mengemudikan mobilnya sambil berzikir. Demikian pula dengan guru-guru kita, di tengah aktivitas mereka berzikir, saat naik mobil mereka berzikir, saat naik peﷺat mereka berzikir. Namun sangat disayangkan karena hal itu jarang kita jumpai di negara kita. Bahkan terkadang kita justru sungkan membaca zikir di tengah keramaian, membaca Al-Quran di atas kereta, di atas mobil, dan seterusnya.

Oleh karena itu, jika ditanya siapakah orang yang paling terbaik dalam ibadahnya maka jawabannya adalah yang paling banyak mengingat Allah ﷻ. Orang berpuasa yang terbaik adalah orang yang ketika berpuasa paling banyak mengingat Allah ﷻ. Orang shalat yang terbaik adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ﷻ, karena ada orang yang shalat namun pikirannya melayang-layang tidak fokus mengingat Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sungguh, Aku ini Allah , tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.”([4])

Mujahid yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.”([5])

Ibadah zikir adalah ibadah yang perlu untuk dihidupkan terus-menerus, rumah yang kita huni hendaknya dihidupkan dengan membaca zikir di dalamnya. Tatkala bersama anak dan istri biasakan membaca Al-Quran di depan mereka, biasakan melantunkan zikir saat bersama mereka. Ibadah zikir adalah ibadah yang sangat mudah, bersamaan dengan itu tidak semua diberi taufik oleh Allah ﷻ dimudahkan untuk berzikir kepada Allah ﷻ.

Zikir bisa dilakukan dengan tiga hal, yaitu:

  1. Zikir dengan hati.

Allah ﷻ berfirman,

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”([6])

Dari ayat ini diketahui bahwa di antara tempat berzikir adalah dengan hati.

  1. Zikir dengan lisan.

Inilah bentuk zikir yang paling mudah dan banyak dilakukan serta dipahami oleh orang, dengan kalimat astaghfirullah, alhamdulillah, subhanallah, dan seterusnya.

  1. Zikir dengan anggota tubuh

Seperti shalat. Allah ﷻ berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.”([7])

Allah ﷻ juga berfirman,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah Kitab (Al-Quran) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”([8])

Tentunya zikir yang terbaik adalah zikir yang mengandung zikir dengan hati. Bisa jadi zikir lisan dipadukan dengan zikir hati atau bisa juga zikir anggota badan dipadukan dengan zikir hati. Adapun zikir dengan lisan saja tanpa dibarengi zikir hati maka pahalanya kurang, demikian pula zikir anggota badan tapi hatinya lalai.

Doa terbagi dua, yaitu:

  1. Doa masalah yaitu doa dengan memohon langsung melalui lisan
  2. Doa ibadah yaitu doa dalam kondisi beribadah. Seperti seseorang yang melakukan shalat, haji, dan ibadah lainnya tidak lain adalah untuk mengharap pahala dari Allah ﷻ atau agar diampuni dosanya. Sehingga secara tidak langsung ketika dia melakukan ibadah-ibadah semisal shalat sama halnya dia memohon dan berdoa kepada Allah ﷻ.


Kedua amalan di atas yaitu zikir dan doa adalah ibadah. Zikir adalah ibadah dari sisi mengingat Allah ﷻ, sedangkan doa adalah ibadah dari sisi menunjukkan ketundukan di hadapan Allah ﷻ. Keduanya adalah hal yang dicintai oleh Allah ﷻ. Sehingga selayaknya seseorang tidak ragu dan tidak bosan untuk mengisi waktu-waktunya dalam berzikir dan berdoa kepada Allah ﷻ. Jangan sampai kita lebih banyak menghabiskan waktu dalam hal yang sia-sia, lalai dalam berzikir kepada Allah ﷻ. Nabi adalah potret manusia yang paling banyak mengisi waktunya untuk berzikir dan berdoa kepada Allah ﷻ. setiap saat beliau mengisi waktunya untuk berzikir, beristighfar, bertasbih, lalu berdoa kepada Allah ﷻ.

Mungkin inilah tujuan Ibnu Hajar meletakkan pembahasan Kitabul Jami’ di akhir pembahasan kitab Bulughul Maram dan lebih khusus lagi mengakhirkan pembahasan bab zikir dan doa, karena orang yang terbaik adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ﷻ dan paling banyak berdoa kepada Allah ﷻ.

Footnote:

___________

([1]) HR. Tirmidzi no. 3375, dikatakan bahwa sanadnya sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth.

([2]) QS. Ar-Ra’d: 28.

([3]) QS. Ali Imran: 191.

([4]) QS. Thaha: 14.

([5]) QS. Al-Anfal: 15.

([6]) QS. Al-Kahfi: 28.

([7]) QS. Thaha: 14.

([8]) QS. Al-Ankabut: 45.