Seorang Mukmin Cermin Bagi Saudaranya – Hadis 16

Hadits 16
Seorang Mukmin Cermin Bagi Saudaranya

Dari Abu Hurairah, dari Nabi , beliau bersabda,

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ

Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.([1])

Maksud hadits Nabi ini adalah sebagaimana fungsi cermin, dia akan menampilkan sesuai kenyataannya, dia tidak akan membohongi kita. Jika kita punya jerawat di wajah kita, dia akan menampilkan itu. Jika kita punya cacat di wajah maka dia akan menampilkan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dia akan menampilkan apa adanya, sesuatu yang baik ataupun sesuatu yang buruk. Dia tidak munafik dan tidak menjadi penjilat kita.

Sehingga maksud seorang mukmin cermin bagi mukmin lainnya adalah jika saudara kita punya kesalahan maka hendaknya tidak disembunyikan, tetapi kita berusaha menasihatinya. Bahkan teman yang sejati adalah teman yang menasihati, bukan yang membiarkan terjerumus dalam kesalahan. Jika malah sebaliknya, maka pertemanan tersebut bukan dibangun karena Allah.

Hanya saja memang perlu diperhatikan metode-metode dalam menasihati. Jangan sampai menyakitinya dengan menggunakan kata-kata kasar. Maka hendaknya bagi setiap mukmin yang melihat saudaranya melakukan suatu kesalahan agar berusaha menasihatinya, karena itu adalah konsekuensi persahabatan karena Allah dan konsekuensi amar makruf nahi munkar. Allah berfirman,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Kemudian setiap orang di samping menasihati kawannya yang salah, dia juga siap untuk dinasihati jika dia terjatuh dalam kesalahan. Karena tidak sedikit orang yang hanya siap menasihati tanpa siap dinasihati. Siapa pun dia harus siap dinasihati, baik dia murid maupun Ustaz, baik dia karyawan maupun pimpinan, baik dia orang miskin maupun orang kaya. Karena siapa pun punya kekurangan.

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa untuk mengetahui kekurangan pribadi terkadang kita perlu kawan kita yang tulus yang bisa berfungsi sebagai cermin. Betapa sering seseorang memiliki kekurangan namun ia tidak menyadarinya, maka ia perlu kepada kawannya yang menjadi cermin baginya.

Footnote:

([1]) HR. Abu Dawud no. 4918