Motivasi Agar Tawadhu’ – Hadis 9

Hadits 9
Motivasi Agar Tawadhu

Dari ‘Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu, Nabi bersabda,

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.([1])

Umumnya jika Nabi ingin menyampaikan sabdanya kepada para sahabat, beliau langsung mengucapkannya. Tetapi pada hadits ini, Nabi mengawalinya dengan kalimat إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ  (sesungguhnya Allah mewahyukan padaku) artinya perkara yang akan disampaikan adalah perkara yang spesial dan tidak biasa.

Perkara tersebut adalah tawadhu’, sebuah akhlak yang sangat mulia. Bentuknya dengan rendah hati dan rendah diri, tidak merasa tinggi hati dan tinggi diri, ditambah dia melakukannya karena Allah ﷻ. Inilah ciri-ciri orang saleh sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ﷻ di dalam Al Quran. Allah ﷻ berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)

Karena kesombongan itu tampak dari sikap, cara berbicara, dan cara berjalan. Sebagaimana Allah juga berfirman tentang nasihat Luqman kepada anaknya agar tidak sombong dalam sikap,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Allah ﷻ juga membenci sifat kesombongan yang ada pada manusia, karena hanya Allah ﷻ yang berhak atas sifat tersebut. Nabi bersabda dalam sebuah hadits qudsi,

قَالَ اللهُ: الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Allah berfirman, Al-Kibriya (kesombongan) adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merebut salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya dalam neraka.”([2])

Oleh karena itu, setiap orang harus berusaha untuk bersikap tawadhu’, jika dia belum memilikinya maka dia melatih dirinya. Karena sebagaimana akhlak-akhlak yang lain bisa diubah dengan melatihnya, demikian pula sikap tawadhu. Orang-orang yang memiliki kelebihan-kelebihan jika tidak dibarengi dengan tawadhu’, maka kelebihannya tersebut bisa mengantarkannya dalam kesombongan.

Seandainya dia memiliki benda-benda yang bisa menjerumuskannya ke dalam kesombongan maka hendaknya dia tinggalkan benda-benda tersebut. Karena kesombongan dapat membahayakan keadaannya di akhirat. Allah ﷻ berfirman tentang keadaan Qarun yang sombong dengan hartanya,

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنتَصِرِينَ

“Maka Kami benamkan Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al-Qasas: 81)

Nabi juga pernah menyebutkan tentang keadaan orang yang ditenggelamkan oleh Allah ﷻ ke dalam bumi gara-gara sombong, beliau ﷺ bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسَهُ فَخَسَفَ الله بِه الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Suatu ketika ada orang yang berjalan dengan congkak dengan memakai dua kain burdahnya, dia kagum dengan dirinya sendiri, maka Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, maka dirinya terbolak-balik di dalamnya sampai hari Kiamat.”([3])

Karenanya Nabi g bersabda :

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

“Siapa yang meninggalkan pakaian (yang indah dan bernilai -red) karena tawadhu’ kepada Allah, padahal ia mampu untuk memakainya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan khalayak manusia hingga Allah memberinya pilihan untuk memilih gaun keimanan mana yang ia suka untuk memakainya” ([4])

Bukan berarti seseorang itu memakai baju yang jelek, tetapi baju yang bagus selama tidak berlebih-lebihan dan merasa angkuh([5]). Karena dia juga mesti menampakkan nikmat Allah ﷻ yang ada pada dirinya. Nabi bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلىَ عَبْدِهِ

“Sesungguhnya Allah suka melihat (tampaknya) bekas nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya.”([6])

Ketika tidak ada sikap tawadhu’ pada diri seseorang maka dia akan mudah menzalimi orang lain baik dengan perkataan maupun perbuatan. Demikian pula bisa mengantarkannya pada rasa berbangga-bangga, seperti bangga dengan sukunya lalu merendahkan suku yang lain.

Di antara sifat unggul yang ada pada diri Nabi adalah beliau memiliki sikap tawadhu’, ketika berjumpa dengan anak-anak maka beliau akan menyalami anak-anak tersebut. Diriwayatkan oleh Tsabit Al-Bunani berharapu, bahwa dia pernah berjalan bersama Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, melewati anak-anak kecil. Lalu Anas mengucapkan salam kepada mereka, dan mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Nabi dahulu biasa melakukannya.”([7])

Suatu ketika Nabi juga pernah melewati saudara Anas yang masih kecil lalu dengan lembut beliau menyapanya,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

“Wahai Abu ‘Umair, apa yang terjadi dengan burung kecil itu?”([8])

Bahkan Nabi juga menunjukkan sikap tawadhu’ ketika beberharapadapan dengan seorang yang kurang akalnya. Dia berkata kepada Nabi,

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لِيْ إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ يَا أُمَّ فُلَانٍ انْظُرِي أي السَّكَك شِئْتِ حَتَّى أَقْضِي لَكِ حَاجَتَكِ فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا

‘Wahai Rasulullah, saya punya ada perlu denganmu,’ maka Rasulullah berkata kepadanya, ‘Wahai Ummu Fulan, lihatlah kepada jalan mana saja yang engkau mau hingga aku penuhi keperluanmu.’ Maka Nabi pun berkhalwat dengan wanita tersebut di sebuah jalan hingga wanita tersebut selesai dari keperluannya.”([9])

Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan mengajaknya berbicara dan tiba-tiba dia gemetar ketakutan, maka Nabi berkata kepadanya,

هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ

“Tenangkan dirimu, sesungguhnya aku bukan seorang raja, aku hanyalah anak seorang wanita yang memakan dendeng.”([10])

Nabi ﷺ juga pernah bersabda,

لَوْ دُعِيْتُ إِلَى كُرَاعٍ لأَجَبْتُ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَيَّ كُرَاعٍ لَقَبِلْتُ

“Seandainya aku diundang untuk menikmati kaki kambing, niscaya aku penuhi, dan seandainya aku diberi hadiah kaki kambing, niscaya aku menerimanya.”([11])

Inilah beberapa contoh pengamalan tawadhu’ yang ada pada diri Nabi ﷺ. Dan sifat ini juga diamalkan oleh para ulama. Dikisahkan bahwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di pernah mengunjungi hampir semua tetangganya, padahal sibuknya luar biasa tetapi beliau tetap mengunjunginya.

Oleh karena itu, sekali lagi ditekankan akan pentingnya sifat tawadhu’, hendaknya setiap orang berusaha menghiasi dirinya dengan sifat ini dan beberharapati-hati dari perkara-perkara yang bisa menghilangkan tawadhu’. Hati-hati dengan harta yang banyak, jabatan yang tinggi, ilmu, bahkan karena berteman dengan orang yang tidak tawadhu’ bisa menjadikannya terjebak dan mengikuti sifat temannya tersebut.

Footnote:

___________

([1]) HR. Muslim no. 2865.

([2]) HR. Abu Dawud no. 4090 dan Ibnu Majah no. 4174. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4311.

([3]) HR. Bukhari no. 5789 dan Muslim no. 2088.

([4]) HR. At-Tirmidzi 2481, Ahmad no 15631 dan Al-Hakim no 7372, dan dinilaih hasan oleh Al-Albani.

([5]) Syaikh Al-Útsaimin berkata, “Seseorang jika berada diantara orang-orang yang ekonominya sedang sehingga tidak bisa membeli baju yang mahal, lalu ia tawadhu’ dan menggunakan pakaian yang seperti mereka agar tidak menyedihkan hati mereka, agar ia tidak sombong di hadapan mereka, maka ia akan meraih pahala yang agung. Adapun jika ia berada diantara orang-orang yang ekonominya lapang yang mereka mengenakan pakaian yang mahal -akan tetapi tidak haram- maka yang lebih afdol adalah ia mengenakan pakaian seperti pakaian mereka, karena Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Tentu tidak diragukan jika seseorang berada diantara orang orang-orang yang kaya dimana mereka memakai pakaian yang bagus sementara iapun memakai pakaian yang murah maka bisa dianggap sebagai pakaian syuhroh (tampil beda/menarik Perhatian-red). Maka seseorang melihat-lihat situasi dan kondisi”. (Syarh Riyadus Shalihin 4/317-318)

([6]) HR. Tirmidzi no. 2819.

([7]) HR. Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168.

([8]) HR. Bukhari no. 6203.

([9]) HR Muslim no. 2326.

([10]) HR. Ibnu Majah no. 3303.

([11]) HR. Bukhari no. 5178 dan Muslim no. 1429.