Menjauhi Syubhat – Hadis 1

Hadis 1
Menjauhi Syubhat

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رضي الله تعالى عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ -وَأَهْوَى النُّعْمَانُ بِإِصْـبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ-: “إِنَّ الْحَلالَ بَـيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ، لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّـبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِيْ الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِيْ الْحَرَامِ: كَالرَّاعِيْ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ: مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِيْ الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ: اَلْقَلْبُ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Nu’mān bin Basyīr –radhiyallahu’anhuma-, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda -lantas Nu’mān memberi isyarat dengan kedua jarinya memegang  kedua telinganya-, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang musytabihāt (samar) di mana banyak orang tidak mengetahui hakikat dari perkara yang rancu ini. Barang siapa yang menjauhkan diri dari syubhāt (perkara-perkara yang rancu), sungguh dia telah menyucikan agamanya dan harga dirinya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara-perkara yang syubhat maka dia akan terjerumus dalam perkara-perkara yang haram. Sebagaimana penggembala yang dia menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar daerah terlarang, dikhawatirkan hewan gembalaannya akan masuk ke dalam daerah larangan tersebut. Ketahuilah, bahwasanya setiap raja itu memiliki daerah larangan. Ketahuilah, bahwasanya daerah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah . Ketahuilah bahwasanya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh jasad. Dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, dia adalah jantung (hati).”([1]

Pembaca dirahmati oleh Allãh ﷻ , hadis pertama dalam bab Az-Zuhd wal Wara’ ini menjelaskan tentang pentingnya perilaku zuhud dan warak, yakni menjauhkan diri dari hal-hal yang diragukan akan kehalalan dan keharamannya.

Rasulullãh ﷺ  menjelaskan (bahwa) ada perkara yang jelas kehalalannya seperti roti, buah-buahan, madu, susu dan makanan-makanan yang sudah jelas kehalalannya, pakaian-pakaian yang boleh dipakai, transaksi yang diperbolehkan dan sebagainya.

Selain perkara yang jelas kehalalannya, ada juga perkara yang jelas keharamannya. Misalnya: memakan daging babi, minum khamr, memakai emas dan sutra untuk lelaki, berbagai perbuatan haram sepert zina, gibah, namimah, dengki, hasad dan sebagainya.

Di antara perkara yang jelas kehalalan dan keharamannya ini, terdapat perkara-perkara yang masih diragukan tentang kehalalan atau keharamannya. Perkara-perkara seperti ini, kebanyakan orang tidak mengetahui hakikat halal atau haramnya. Hal ini disebabkan karena mungkin perkaranya pelik, ada ikhtilaf ulama dalam permasalahan tersebut, perkara-perkara tersebut tidak diketahui kecuali oleh para ulama tentang hakekatnya, dan sebagainya.

Namun para ulama yang rāsikhūn fil ‘ilmi (yang mumpuni keilmuannya) mengetahui hakikat perkara tersebut, halal atau haramnya. Oleh karenanya, perkara syubhat merupakan perkara yang nisbi, tidak diketahui oleh banyak orang, akan tetapi ada sebagian orang yang mengetahui hakikat halal-haramnya, yaitu para ulama. ([2])

Kemudian Rasulullah ﷺ  memberikan jalan keluar ketika kita bertemu perkara-perkara yang kita ragukan. Caranya bagaimana? Kita tinggalkan/jauhkan perkara yang meragukan tersebut, karena itu adalah perkara syubhat. Inilah yang disebut dengan warak. Kita menjauhi perkara yang kita ragu tentang kehalalannya. Barang siapa yang menjauhkan diri dari perkara yang syubhat, maka dia telah mensucikan agamanya dan harga dirinya.

Agamanya terjaga karena apa yang tidak jelas kehalalannya saja dijauhi, apalagi yang haram, tentu lebih dia jauhi lagi. Dia menjaga agamanya dan juga harga dirinya.

Sebaliknya, barang siapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, dia telah melakukan sesuatu tanpa tahu itu halal atau haram. Bisa jadi syubhat pertama ternyata hakikatnya halal, syubhat yang kedua juga hakikatnya halal, namun syubhat ketiga, keempat, kelima dan keenam ternyata hakikatnya adalah haram.

Ini sama seperti jika dia menggembalakan kambing di daerah terlarang. Dimana di sekitar daerah terlarang adalah daerah syubhat karena dikhawatirkan kambingnya lepas kemudian masuk ke dalam daerah yang terlarang.

Demikian juga orang-orang yang senantiasa melakukan perkara-perkara yang syubhat, (maka) dikhawatirkan suatu saat dia akan terjerumus ke dalam perkara yang haram. Oleh karenanya, sifat warak mengkonseksuensikan kita untuk menjauhkan diri kita dari perkara perkara yang syubhat. Karena ini akan menjatuhkan agama dan harga diri kita dan suatu saat kita bisa saja lantaran olehnya terjerumus ke dalam perkara yang haram.

Kemudian Rasulullah ﷺ  di akhir hadis menyebutkan tentang masalah jantung, yang sering diterjemahkan dalam bahasa indonesia dengan hati. ([3]) Ini dalil bahwasanya perkara yang halal atau haram berkaitan dengan masalah hati kita. Seandainya kita melakukan perkara yang haram dan kita menembus perkara-perkara yang syubhat maka ini akan berpengaruh dengan hati kita, hati kita akan menjadi kurang baik.

Kita harus menjaga hati kita. Barang siapa yang wara’, menjauhkan diri dari perkara-perkara yang syubhat, maka dia telah menjaga kesucian hatinya. Dan kalau hatinya sudah baik maka niscaya akan berpengaruh kepada seluruh anggota tubuhnya. ([4])

Sebaliknya juga siapa yang berusaha menjaga hatinya maka mudah baginya untuk meninggalkan perkara yang syubhat, karena orang yang mudah menerjang syubhat dikarenakan hatinya bermasalah([5]).

Peringatan : Yang dianggap mutasyabihat padahal bukan

Terkadang sebagian orang menganggap suatu hal itu sebagai sesuatu yang musytabihat, akan tetapi hakikatnya dia tidak musytabihat sama sekali. Seperti seseorang yang terkena was-was, dan ia khawatir jika air yang sudah dia ketahui benar-benar suci itu terkena najis, tanpa ada dasar sama sekali, tanpa dia melihat adanya benda najis yang masuk ke dalam air tersebut, atau bahkan dia tidak melihat adanya perubahan pada air tersebut. Begitu juga seperti orang yang sudah jelas-jelas berwudu dan ia sudah benar-benar melihat mencuci dan mengusap anggota wudunya secara sah, lalau ia was-wa kalau-kalau air itu belum mengenai anggota badannya. Atau dia sudah berwudu, lalu ia khawatir kalau-kalau ia sudah batal tanpa dasar apapun.

Untuk keadaan yang seperti ini, seseorang tidak perlu menggunakan hadis ini untuk dirinya. Sehingga ia akhirnya mencari air yang lain, atau ia mengulangi wudunya kembali yang sebelumnya sudah sah. ([6])

footnote:

_______

([1]) HR.  Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599

([2]) Berkata Al-Khatthabi rahimahullahu Ta’ala:

وَمْعْنَى قَوْلِهِ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ أَيْ أَنَّهَا تَشْتَبِهُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ دُوْنَ بَعْضٍ وَلَيْسَ أَنَّهَا فِيْ ذَوَاتِ أَنْفُسِهَا مُشْتَبِهَةٌ لَا بَيَانَ لَهَا فِيْ جُمْلَةِ أُصُوْلِ الشَّرِيْعَةِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَتْرُكْ شَيْئًا يَجِبُ لَهُ فِيْهَا حُكْمٌ إِلاَّ وَقَدْ جَعَلَ فِيْهِ بَيَاناً وَنَصَبَ عَلَيْهِ دَلِيْلًا وَلَكْن البَيَان ضَرْبَانِ، بَيَانٌ جَلِيٌّ يَعْرِفُهُ عَامةُ النَّاسِ كَافَّةً، وَبَيَانٌ خَفِيٌّ لَا يَعْرِفُهُ إِلاَّ الخَاصُّ مِنْ العُلَمَاءِ الذِيْنَ عَنَوْا بِعِلْمِ الأُصُوْلِ فَاسْتَدْرَكُوْا مَعَانِي النُّصُوصِ، وَعَرَفُوا طُرُقَ القِيَاسِ وَالاسْتِنْبَاطِ وَرَدَّ الشَّيْءِ إِلَى المثل والنَّظِيْر.

Dan maksud dari sabda beliau “Dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar,” yaitu: samar bagi sebagian orang dan tidak samar bagi sebagian orang lainnya. Bukanlah maksud beliau bahwa ia samar (tidak diketahui akan kehalalan atau keharamannya) pada dzatnya dan tidak ada penjelasan di dalam keseluruhan pokok ajaran syariat. Karena sesunggunya Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah meninggalkan satupun sesuatu yang membutuhkan hukum kecuali Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan tentangnya penjelasan, dan telah menetapkan dalil untuknya. Hanyasaja, penjelasan itu ada dua macam, 1. Penjelasan yang teramat jelas, yang mana semua orang bisa mengetahui dan memahaminya. 2. Dan penjelasan yang tersirat, yang mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang khusus dari kalangan ulama yang telah mendalami ilmu usul fikih dan memahami makna-makna yang tersirat dari dalil-dalil. Juga, mereka mengetahui metode analogi, dan pengambilan dalil, serta mengembalikan sesutau kepada yang semisalnya.” (Ma’alim As-Sunan, Al-Khatthabi, 3/56)

([3]) Karena Rasulullah ﷺ  mengibaratkannya dengan segumpal daging. Adapun hati itu adalah darah, dan bukan daging. Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ، فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ، فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ»

Dihalakan kepada kalian dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua bangkai itu adalah “ikan” dan “belalang”. Dan adapun dua darah itu adalah “hati” dan “limpa”(H.R. Ibnu Majah, No.3314, Ahmad, No.5723)

([4]) Berkata imam Ibnu Al-Qoyyim rahimahullahu Ta’ala:

إِنَّ الْقَلْبَ يَعْتَرِضُهُ مَرَضَانِ يَتَوَارَدَانِ عَلَيْهِ إِذَا اسْتَحْكَمَا فِيهِ كَانَ هَلَاكُهُ وَمَوْتُهُ وَهُمَا مَرَضُ الشَّهَوَاتِ وَمَرَضُ الشُّبُهَاتِ هَذَانِ أَصْلُ دَاءِ الْخَلْقِ إِلَّا مَنْ عَافَاهُ اللهُ وَقَدْ ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى هَذَيْنِ الْمَرَضَيْنِ فِي كِتَابِهِ إِمَّا مَرَضُ الشُّبُهَاتِ وَهُوَ أَصْعَبُهُمَا وَأَقْتَلُهُمَا لِلْقَلْبِ.

Sesungguhnya hati itu bisa dimasuki oleh dua penyakit, yang mana dua penyakit itu jika menghampirinya dan ia bercokol di sana, maka itu adalah kehancuran dan kematian baginya. Dan dua penyakit itu adalah penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Dan dua penyakit ini adalah poros dari segala penyakit pada seorang hamba, kecuali siapa yang diselamatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan dua penyakit ini di dalam kitab-Nya (Al-Qur’an). Adapun penyakit syubhat, dan dia adalah penyakit yang paling susah dan paling membunuh hati dari kedua penyakit ini (Miftah Dar As-Sa’adah, Ibnu Al-Qayyim, 1/110)

([5]) Jami’ al-Úlum wa al-Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali 1/210

([6]) Lihat : Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyyah yang dinisbahkan kepada Ibnu Daqiq Al-‘Ied, 1/46