Sejarah Bani Israil

Sejarah Bani Israil

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Tentu sejarah bani Israil setelah zaman Nabi Musa ‘alaihis salam tidak kita dapatka di literatur buku-buku Islam. Kita hanya bisa mendapatkannya dari khabar-khabar israiliyaat diantaranya dari Kitab Perjanjian Lama (Taurot) yang tercantum di Bible bersama Perjanjian Baru (injil). Dan sebagaimana kita ketahui bahwa kedua kitab suci tersebut (At-Taurot dan Injil) telah mengalami distorsi dan penyimpangan. Karenanya jika ada khabar-khabar yang jelas-jelas bertentangan dengan apa yang dikabarkan oleh syari’at kita maka harus ditolak. Berikut ini lanjutan sejarah Bani Israil setelah masa nabi Musa ‘alaihis salam.

Orang -orang Yahudi yang dipimpin oleh Nabi يُوشَعُ بْنُ نُوْنَ Yusa’ bin Nun ‘alaihissalam (yang dalam perjanjian lama disebut dengan Yosua bin Nun) akhirnya menguasai Palestina kemudian mereka pun tinggal di sana. Tatkala mereka tinggal di Palestina Nabi Yusa’ bin Nun membagi daerah Palestina yang dikuasai oleh 12 Hakim. Masa itu disebut dengan عَصْرُ الْقُضَاةِ ‘Ashrul qudhaah’ yaitu masa kehakiman. Dalam Injil juga disebutkan Kitab Hakim-Hakim yaitu tentang bagaimana Hakim-hakim Yahudi mengatur Palestina di masa itu. Jumlah mereka 12 orang hakim karena Bani Israil ada 12 suku berdasarkan jumlah anak-anaknya Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Maka masing-masing suku dipimpin oleh satu hakim.

Masa kehakiman ini berlaku sampai sekitar 350 tahun menurut pendapat sebagian ulama mereka. Sebagian ulama mengatakan hanya sekedar 100 tahun dari semenjak mereka masuk Palestina sampai masa para hakim tersebut([1]). Dan masa para hakim tersebut berakhir pada zaman Nabi Samuel ‘alaihissalam dimana zaman tersebut orang-orang meminta agar diutus seorang raja yang bisa menyatukan 12 suku yang ada. Karena dimasa kehakiman terjadi banyak penyimpangan, pertikaian, kekufuran sehingga mereka saling bermusuhan. Sampai pada zamannya Nabi Samuel para pembesar Bani Israil berkumpul meminta agar Nabi Samuel memohon kepada Allah agar diutus seorang raja yang dapat menyatukan mereka([2]).

Kisah ini Allah abadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 246 – 276

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa([3]), yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim”. [QS. Al-Baqarah : 246 ]

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”. [QS. Al-Baqarah : 247]

Dalam Injil disebutkan nama raja tersebut adalah Saul([4]) adapun dalam Islam namanya adalah Thalut. Saat itu mereka butuh seorang raja yang dapat menyatukan mereka untuk menyerang musuh-musuh mereka. Karena mereka diserang oleh pihak-pihak luar yang masuk ke Palestina untuk mengusir mereka. Namun ketika Thalut yang ditunjuk oleh Allah sebagai raja mereka protes. Karena Thalut bukan dari keturunan suku-suku raja. Ternyata Thalut berasal dari suku Bani Israil biasa dan dia bukan orang yang berharta.

Akhirnya diangkatlah Thalut sebagai raja Bani Israil. Maka berubahlah dari ‘Ashrul Qudhaah’ atau Masa kehakiman menjadi Masa para raja. Kemudian Allah sebutkan dalam ayat-ayat berikutnya terjadi jihad untuk melawan Jalud. Disebutkan bahwa Jalud dibunuh oleh Nabi Dawud ‘alaihissalam. Kerajaannya pun diserahkan kepada Nabi Dawud karena beliau hebat dalam melawan musuh-musuh Allah ﷻ. Maka inilah pertama ada seorang nabi sekaligus raja yaitu Nabi Dawud ‘alaihissalam.

Pada zaman Nabi dawud ‘alaihissalam beliau membangun Haikal yaitu kerajaan. Kemudian disempurnakan pembangunannya oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang mereka sebut dengan Solomo. Setelah Nabi Sulaiman meninggal terjadilah keributan. Akhirnya orang-orang Yahudi yang sebelumnya bersatu padu di zaman para raja terpecah menjadi 2 kerajaan. Setelah meninggalnya Nabi Sulaiman kerajaan dipegang oleh putranya Ruhbu’am bin Sulaiman. Akan tetapi sebagian besar rakyatnya tidak mau membaiat Ruhbu’am. Mereka menyaratkan jika ingin menjadi raja maka jangan terlalu ketat dalam peraturan karena dahulu bapak beliau yaitu Nabi Sulaiman menurut mereka terlalu ketat dalam peraturan. Namun Ruhbu’am enggan menolak dan tetap ingin melanjutkan ajaran bapaknya. Akhirnya mayoritas Yahudi dari sepuluh suku meninggalkan Ruhbu’am dan membaiat orang lain yang bernama Yurbu’am bin Nubat. Dia adalah putra Nubat, beliau adalah salah satu dari anak buah Nabi Sulaiman yang dahulu membangkang. Adapun yang membaiat Ruhbu’am hanya dua suku saja yaitu suku Binyamin dan Yahudza. Sehingga Bani Israil terpecah menjadi 2 kerajaan :

  1. Kerajaan Israil atau kerajaan utara yang dipimpin oleh Yurbu’am terdiri dari 10 suku.
  2. Kerajaan Yahudza (Yahudi) atau kerajaan selatan ibukotanya Yerussalem yang dipimpin oleh putra Nabi Sulaiman yaitu Ruhbu’am terdiri dari 2 suku([5]).

Pada masa perpecahan ini terjadilah banyak kekacauan, kekufuran bahkan kemurtadan([6]). Terjadi juga perang antar saudara belum lagi memerangi musuh-musuh yang datang kepada mereka. Terjadilah pada masa ini konflik dalam dan luar negeri. Sampai akhirnya datanglah raja Sarjun II (722 SM) dari Iraq untuk menyerang Palestina dan akhirnya mampu menguasai kerajaan utara Palestina([7]).

Di zaman ini pula Taurat hilang bertahun-tahun dan di antara mereka juga tidak ada yang menghafal Taurat. Adapun kerajaan Yahudza masih tetap tegak namun terus diperangi sampai akhirnya datang seseorang yang bernama Bukhtanasshar (Nebukadnezar) dari Babilonia yang ada di Irak. Dia telah merebut kerajaan Asyuriyyin di Irak kemudian datang ke Palestina untuk menyerang kerajaan Yahudza dan akhirnya berhasil dikuasai. Kemudian mereka menjadikan Bani Israil sebagai budak-budak mereka. Kemudian diasingkan di daerah Babilonia. Masa-masa ini disebut dengan masa perbudakan Babilonia. Di zaman ini pula terjadi penghancuran Haikal Sualiman oleh Bukhtanasshar pada tahun 586 SM. Hancurlah seluruh kerajaan Yahudi akhirnya mereka menjalani masa perbudakan di Babilonia dalam waktu yang sangat panjang([8]).

Pada tahun 539 SM Babilonia dikuasai oleh Persia. Raja mereka Koresh Agung berbuat baik kepada Bani Israil. Dia menyuruh Bani Israil untuk balik ke Palestina. Sebagian mereka tetap bertahan di Irak sebagian yang lain pulang ke Palestina. Disebutkan jumlah mereka yang pulang sekitar 50.000 Yahudi di bawah pimpinan Uzair (Ezra) dan Nehemia([9]). Dua orang saleh inilah yang membawa mereka pulang ke Palestina.

Uzair inilah yang diyakini oleh orang Yahudi ketika Taurat hilang Uzair lah yang menghafalnya dengan pengilhaman dari Allah ﷻ. Kemudian dia mendikte Taurat kepada Bani Israil([10]). Saking salehnya akhirnya mereka menganggapnya sebagai anak tuhan. Sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah : 30)

Para ulama khilaf apakah Uzair ini adalah sosok orang saleh saja atau dia adalah seorang Nabi([11]). Namun intinya dia adalah orang yang saleh dan karena itu dia dianggap sebagai anak Allah ﷻ oleh orang-orang Yahudi.

Kemudian tatkala mereka pulang ke Palestina mereka dapati suku-suku sudah bercampur dan tidak bisa dibedakan mana suku yahudza mana suku binyamin. Hingga akhirnya mereka dikenal dengan suku Yahudi.([12])

Kemudian mereka tinggal di Palestina di bawah kepemimpinan kerajaan Persia karena kerajaan Persia telah menguasai Babilonia dan mengalahkan Bukhtanassar. Kemudian Persia dikalahkan oleh seorang raja Yunani yang bernama Aleksander Makedoni setelah itu terjadi pergolakan dan mereka dikuasai oleh Al-Batholisa dari Mesir. Setelah itu Romawi menguasai Palestina sampai pada sekitar tahun 63 SM([13]). Intinya mereka berulang kali di kuasai oleh berbagai kerajaan dan yang terakhir adalah kerajaan Romawi.

Di zaman inilah lahir Nabi Isa alaihissalam. Beliau memperbaiki kondisi Yahudi yang banyak melakukan kesyirikan serta keburukan akhlak. Nabi Isa mengajarkan kepada mereka akidah yang benar dan mengajarkan akhlak yang baik. Namun orang-orang Yahudi tidak mau menerima dakwah Nabi Isa alaihissalam. Mereka berharap nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi yang kuat seperti nabi Dawud yang dapat mengalahkan menggulingkan Romawi. Ternyata nabi Isa alaihissalam tidaklah demikian. Beliau diutus di zaman kekuasaan Romawi dan beliau tidak melawan imperatur yang ada bahkan nabi Isa justru mendakwahkan tauhid untuk memperbaiki kondisi Bani Israil. Beliau juga tidak diperintahkan oleh Allah untuk mengalahkan Romawi karena secara kekuatan tidak mungkin. Beliau hanya diperintahkan untuk fokus dalam memperbaiki akidah orang-orang Yahudi.

Di antara akhlak buruk Yahudi adalah hobi membunuh nabi. Jika ada nabi yang datang tidak sesuai dengan keinginan mereka maka nabi tersebut akan dibunuh. Termasuk yang mereka ingin bunuh adalah nabi Isa alaihissalam. Bahkan mereka bekerja sama dengan Romawi menunjukkan di mana nabi Isa yang kemudian menurut versi mereka nabi Isa disalib. Ini adalah yang disangka oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Padahal tidak demikian sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمۡۚ

“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.(QS. An-Nisa : 157)

Intinya mereka punya andil yaitu kerja sama dengan Romawi untuk membunuh nabi Isa alaihissalam. Inilah yang diyakini oleh orang-orang Nasrani bahwa orang Yahudi punya sumbangsih dalam membunuh nabi Isa. Tapi itu yang mereka inginkan karena dengan itu menurut mereka nabi Isa akan menebus dosa-dosa mereka. seharusnya mereka berterima kasih kepada orang Yahudi karena berhasil menangkap nabi Isa sehingga dosa-dosa mereka bisa ditebus.

Setelah Allah mengangkat nabi Isa maka kondisi orang-orang Yahudi semakin kacau karena silih berganti dikuasai berbagai suku. Kemudian masuklah mereka pada fase (syatat) terpencar. Karena di Palestina mereka selalu ingin menggulingkan pemerintahan mereka selalu protes dan selalu gagal dalam usaha pergolakan tersebut. Dalam masa ini mereka hidup dalam kesengsaraan yang bertubi-tubi. Sejak nabi Sulaiman meninggal dunia mereka berada dalam kondisi sengsara. Pertumpahan darah, kesyirikan, kemurtadan sampai nabi Isa lahir mereka tetap dimusuhi oleh Romawi. Akhirnya kekaisaran (Emperor) Romawi menghancurkan Haikal Sulaiman untuk yang kedua kalinya([14]). Dihancurkan sehabis-habisnya setelah dahulu pernah dihancurkan oleh Bukhtanassar (Nebukadnezar). Hanya tinggal satu tembok yang mereka sebut sebagai tembok ratapan.

Ditahun 135 M (setelah lahirnya nabi Isa) orang-orang Yahudi melakukan pergolakan lain. Di zaman pemerintahan Romawi pada masa raja Adrianus yang pada akhirnya dia menganjurkan kerajaan Yerussalem dan menggantikan Haikal Sulaiman dengan kuil untuk menyembah dewa Jupiter dewa paling tinggi bagi orang orang Romawi. Kemudian dia mengganti kota Yerusalem dengan nama Aelia Capitolina. Mereka juga membunuh orang-orang Yahudi dan diusir serta dilarang untuk masuk ke Palestina([15]). Semenjak itulah orang-orang Yahudi terpencar ke berbagai daerah. Berkata ahli sejarah yahudi yang bernama Syahin Makarius, “Sampai disinilah berakhir sejarah Bani Israil sebagai suatu umat karena setelah itu kota Yerusalem dihancurkan dan mereka akhirnya terpencar di seluruh penjuru bumi Allah”.([16])

kemudian mereka melaksanakan siasat baru dan pada akhirnya mereka kembali ke Palestina sampai zaman kita sekarang ini. Tatkala mereka terpencar maka tetap saja mereka mengalami kehinaan demi kehinaan. Karena mereka kufur kepada Allah dan mereka menghina Allah. Mereka berkata bahwa Allah capek menciptakan langit dan bumi pada 6 hari dan hari ke tujuh Allah capek. Mereka juga mengatakan bahwa tangan Allah terbelenggu sebagaimana firman Allah,

وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا۟ بِمَا قَالُوا۟ ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَآءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم مَّآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ

“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki. Dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat…” QS. Al-Ma’idah : 64

Dan itulah kondisi orang orang Yahudi. Allah juga berfirman,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡهِمۡ إِلَىٰ یَوۡمِ ٱلۡقِیَـٰمَةِ مَن یَسُومُهُمۡ سُوۤءَ ٱلۡعَذَابِۗ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِیعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورࣱ رَّحِیمࣱ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya kepada mereka (orang Yahudi) sampai hari Kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-A’raf : 167)

Hal ini terus berlaku hingga pada zaman nabi Muhammad mereka juga berkhianat dan diusir oleh Nabi. Sebagian mereka diperangi sebagian yang lain dibunuh. Baik suku Bani qoinuqo’, Bani Nadzir, Bani quraidzah yang nabi perangi mereka di khoibar akhirnya mereka dikeluarkan dari jazirah Arab pada zaman Umar bin Khattab.

Demikianlah nasib mereka, Allah sebutkan dalam surat Al Isra,

وَقَضَيْنَآ إِلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ فِى ٱلْكِتَٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

“Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” [QS. Al-Isra’ 4]

Jika kita lihat ada orang sombong maka orang-orang Yahudi lebih sombong lagi. Mereka adalah makhluk yang paling sombong di muka bumi ini. Mereka mengklaim bahwa mereka adalah ras pilihan, suku pilihan Allah, keturunan para Nabi. Mereka bangga dengan suku mereka sehingga mereka sombong dan membuat kerusakan. Kesombongan tersebut mengantarkan kepada banyak kerusakan. Akhirnya Allah berikan mereka siksaan dan bencana yang tak henti hentinya.

Allah ﷻ berfirman,

فَإِذَا جَاۤءَ وَعۡدُ أُولَىٰهُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡكُمۡ عِبَادࣰا لَّنَاۤ أُو۟لِی بَأۡسࣲ شَدِیدࣲ فَجَاسُوا۟ خِلَـٰلَ ٱلدِّیَارِۚ وَكَانَ وَعۡدࣰا مَّفۡعُولࣰا

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. [QS. Al-Isra’ 4]

Kata para ahli tafsir maksudnya adalah Bukhtanassar([17]). Allah kirim dia untuk memberikan hukuman kepada mereka karena mereka sombong, angkuh, musyrik. Padahal sudah turun banyak nabi kepada mereka yang membawa berbagai mukjizat namun mereka tetap membangkang.

Kemudian Allah berfirman,

ثُمَّ رَدَدۡنَا لَكُمُ ٱلۡكَرَّةَ عَلَیۡهِمۡ وَأَمۡدَدۡنَـٰكُم بِأَمۡوَ ا⁠لࣲ وَبَنِینَ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ أَكۡثَرَ نَفِیرًا ۝ إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ فَإِذَا جَاۤءَ وَعۡدُ ٱلۡـَٔاخِرَةِ لِیَسُـࣳۤـُٔوا۟ وُجُوهَكُمۡ وَلِیَدۡخُلُوا۟ ٱلۡمَسۡجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةࣲ وَلِیُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوۡا۟ تَتۡبِیرًا

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar”.

“ Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai. [QS Al-Isra’ 6 – 7]

Kata sebagian ulama yaitu pada zaman Romawi tatkala Haikal Sulaiman benar-benar dihancurkan.

Perhatikan bagaimana mereka dikuasai. Yang pertama oleh Asyuriyin kemudian faroinah Mesir setelah itu babiliyin Irak kemudian para Yunani setelah itu Al-Batholisah Mesir, kemudian penyembah berhala Romawi dan seterusnya sampai di zaman Nabi mereka juga diusir dari jazirah Arab([18]).

Di zaman moderen Yahudi juga tidak luput dari siksaan yang terus menerus. Di Eropa dibawah kekuasaan orang Nasrani di Inggris pada tahun 1298 M raja yang bernama Edward I memerintahkan untuk mengusir seluruh orang Yahudi dari Inggris dan mereka juga membunuh banyak orang Yahudi. Kemudian di Perancis mereka diperbudak oleh raja Luwis ke-9. Orang-orang Prancis pun menyiksa dan mengusir mereka. Pada tahun 1582 M mereka diusir kedua kalinya dari Prancis.

Di Italia mereka dimusuhi oleh pendeta-pendeta katolik dengan permusuhan yang luar biasa. Akhirnya pada tahun 1540 M orang-orang Italia membunuh para Yahudi dan mengusir mereka dari Italia. Di Rusia terjadi pembantaian luar biasa di zaman hakim Kaisar Nasrani pada tahun 1841 M, 1842 M dan 1902 M dimana ribuan Yahudi di bunuh di Rusia ([19]). Di Jerman di masa Adolf Hitler bahkan tidak hanya di Jerman dia keliling Eropa untuk mencari orang-orang Yahudi di antaranya di Amsterdam orang-orang Yahudi Amsterdam dibawa ke Jerman untuk dibantai. Demikian mereka terus tertindas dan terbantai Hingga nanti pada akhirnya mereka akan di bantai juga oleh orang Islam sebagaimana disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.”([20])

Intinya demikian nasib mereka sampai hari kiamat, sebagaimana firman Allah,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡهِمۡ إِلَىٰ یَوۡمِ ٱلۡقِیَـٰمَةِ مَن یَسُومُهُمۡ سُوۤءَ ٱلۡعَذَابِۗ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِیعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورࣱ رَّحِیمࣱ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya kepada mereka (orang Yahudi) sampai hari Kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-A’raf : 167)

Yang demikian itu karena kurang ajarnya mereka kufurnya dan syiriknya mereka, kesombongan mereka dan kebiadaban mereka.

Bagaimana mereka bisa berkumpul kembali di Palestina di zaman sekarang ini?

Disebutkan bahwa ketika mereka sudah terpencar di berbagai negeri yang pertama kali mengajak orang Yahudi adalah seseorang yang bernama Sir Henry Finch dari Inggris pada tahun 1616 M dia menulis buku judulnya “Nida’ul Yahud” panggilan orang-orang Yahudi yang berisi ajakan kepada orang Yahudi untuk kumpul kembali([21]). Kemudian muncul jendral bernama Napoleon Bonaparte menyuruh mereka menegakkan negara di Palestina. Bahkan dia menulis suatu penjelasan yang isinya bahwasanya Yahudi adalah pewaris Palestina yang syar’i dan mereka berhak untuk tinggal di sana([22]). Muncul juga propaganda-propaganda berikutnya dari para pemikir Yahudi seperti pendeta Yahudi yang menulis tentang Zionisme.

Akhirnya mereka mendirikan pergerakan Zionisme dimana-mana. Mereka mengadakan perkumpulan-perkumpulan zionis sehingga mereka berhasil mengumpulkan uang yang sangat banyak.

Pada tahun 1882 M mereka meminta kepada Konsul Ustmani yang ada di Rusia agar mereka diberi hak untuk tinggal di Palestina akan tetapi Sultan Abdul Hamid di Turki menolak permintaan mereka. Namun Yahudi tidak putus asa mereka kemudian masuk dalam segala lini di berbagai macam negeri. Sehingga sampai dalam lini agama, politik dan berita. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka berhasil menjadi Paus di Vatikan. Kemudian Paus tersebut mengadakan kongres II pada tahun 1963 M di situ dia membuat suatu keputusan bahwa orang-orang Yahudi tidak bersalah dan tidak berdosa dalam peristiwa penyaliban nabi Isa alaihissalam. Paulus ke-6 pada tahun 28 Oktober 1965 M juga mengadakan kongres di mana dia menguatkan keputusan bahwasanya orang-orang Yahudi terlepas dari tuduhan orang-orang Nasrani dan juga orang-orang Yahudi memiliki andil dalam menangkap nabi Isa. Dan ini dari sisi agama mereka berhasil hingga naik ke puncak bahkan akhirnya menjadi Paus Vatikan. Kemudian juga dalam masalah keuangan mereka juga mampu menguasai hingga disebutkan ada suatu keluarga yang disebut sebagai keluarga Rothschild yaitu bankir-bankir di daerah Eropa dan merekalah yang membiayai pergerakan Zionis di dunia ini. Adapun masalah pemberitaan (Media) maka orang-orang Yahudi memiliki kantor pemberitaan yang bernama Routher. Dan dia menguasai berita-berita di zaman tersebut dan ini untuk pembentukan opini([23]).

Hal ini sangatlah penting yaitu menguasai keuangan, menguasai berita, bahkan dalam masalah agama mereka berhasil menjadi Paus Vatikan. Begitu pula dalam masalah politik mereka ikut campur sehingga mereka menjadi pembesar-pembesar di Amerika dan negara-negara besar lainnya di Eropa seperti contohnya sekarang di Amsterdam walikotanya adalah orang Yahudi padahal beberapa tahun yang lalu orang-orang Yahudi di bantai di situ. Ini menunjukkan bahwasanya mereka mampu untuk masuk di berbagai macam lini.

Akhirnya pada tahun 1896 M ada seorang wartawan bernama Theodor Herzl dia menulis sebuah buku berjudul Daulah Yahudiyyah (Negara Yahudi). Kemudian dia mengadakan kongres di Swiss pada tahun 1897 M dan dihadiri oleh pembesar-pembesar Yahudi dan tokoh Alim Ulama mereka yang kemudian mereka memilih Palestina sebagai negara mereka. mereka mengadakan kongres yang berisi bahwa mereka harus memiliki negara, hal ini dikarenakan orang-orang Yahudi terpencar di mana-mana yang akhirnya mereka memilih Palestina sebagai negara mereka. Pada tahun 1901 M Theodor Herzl mengumpulkan uang yang banyak untuk membeli tanah di Palestina. Kemudian dia datang kepada Sultan Abdul Hamid yang berada di Turki ketika khilafah ‘Utsmaniyah berniat menyogoknya agar Yahudi diizinkan untuk berpindah ke Palestina akan tetapi Sultan Abdul Hamid menolak tawaran tersebut.([24])

Pada tahun 1909 M para Zionis berhasil masuk di Turki kemudian membuat pergerakan-pergerakan sehingga terjadi pemberontakan atau pelengseran Sultan Abdul Hamid dengan seorang tokoh yang bernama Musthofa Kamal Ataturk. Sultan Abdul Hamid dilengserkan dan sekedar dijadikan sebagai simbol dan khilafah dihentikan maka berakhirlah khilafah Utsmaniyah. Setelah itu banyak syiar-syiar Islam diubah seperti bahasa Arab diubah menjadi bahasa Turki, ucapan assalaamu’alaikum diubah dengan salam yang lain, wanita dilarang berjilbab dan akhirnya semuanya menjadi kacau balau pada zaman Musthofa Kamal Ataturk. Dari sini masuklah sekuler ke dalam Turki sehingga sangat wajar didapati banyak orang yang tidak shalat di Turki disebabkan bekas pengaruh Musthofa Kamal Ataturk yang begitu luar biasa. Mungkin sekarang mereka orang-orang Turki mulai mengadakan perbaikan akan tetapi pengaruh Musthofa Kamal Ataturk sangat luar biasa. Pada tahun 1917 M menteri luar negeri Inggris yang bernama Balfour dia memberikan izin kepada Yahudi untuk tinggal di Palestina. Kaum muslimin yang tinggal di Palestina yang imannya lemah tanahnya dibeli oleh orang Yahudi dengan harga yang mahal. Sebagian lagi dipaksa untuk dikuasai dan akhirnya Yahudi semakin berkuasa di Palestina. Intinya pada Tahun 1947 M Amerika mengeluarkan keputusan bahwasanya Palestina dibagi menjadi 2 bagian yaitu sebagian untuk kaum muslimin dan sebagian lagi untuk orang-orang Yahudi dan pada tahun 1948 M tegaklah kerajaan Israel di Palestina. Dan demikianlah sebab mengapa Yahudi bisa sampai berada di Palestina.([25])

Penulis ingin menyampaikan beberapa prasangkaan keliru atau dakwah propaganda orang-orang Yahudi yang tidak benar, di antaranya:

Pertama: mereka menganggap bahwasanya mereka adalah suku pilihan Allah subhanahu wa ta’ala dikarenakan mereka keturunan nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Dan mereka menganggap bahwa mereka adalah suku pilihan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai buktinya kebanyakan nabi dari Bani Israil. Dan mereka pun bangga bahwasanya mereka sebagai keturunan nabi.

Maka kita katakan: benar bahwa menjadi keturunan para nabi adalah suatu kemuliaan akan tetapi yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Maka sungguh sia-sia jika menjadi keturunan para nabi namun tidak bertakwa. Imam Asy-Syaukani tatkala membahas tentang ini beliau menyebutkan bahwasanya betapa banyak keturunan nabi yang ternyata melenceng. Contohnya seluruh Bani Israil mengaku keturunan nabi Ya’qub namun ternyata mereka bejat. Bahkan 100% mereka kafir jika di antara mereka ada yang tidak kafir seharusnya mereka masuk Islam padahal mereka semua adalah keturunan nabi. Demikian juga suku Quraisy semuanya keturunan nabi Ismail akan tetapi tidak semua dari mereka bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya menjadi anak nabi tidak menjamin menjadi ma’shum (terjaga dari kesalahan). Begitu juga contohnya dengan keturunan nabi yang sekarang ada yang biasa disebut dengan habaib di antara mereka ada yang sangat saleh, di antara mereka ada yang Syiah, di antara mereka ada yang shufi, di antara mereka ada yang pelaku maksiat, dan di antara mereka ada yang banyak terkena kasus-kasus. Jadi tidak semua habib orang yang saleh. Betul sebagai keturunan nabi adalah kemuliaan namun Allah subhanahu wa ta’ala memiliki barometer dalam mengukur kemuliaan yaitu firman-Nya,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Bilal bin Rabah yang hitam lebih utama dari banyak orang-orang Arab atau pun dari orang-orang Quraisy. Jangan sampai menganggap diri mereka lebih utama di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sementara mereka tidak bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala bantah dalam firmannya,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (QS. Al-Maidah: 18)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala membantah pernyataan mereka yang mengatakan bahwa mereka adalah kekasih Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kalian kekasih Allah subhanahu wa ta’ala lalu mengapa nenek moyang kalian ada yang diazab oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diubah menjadi kera-kera dan babi-babi? Karena tidak mungkin jika kalian kekasihnya lalu diubah menjadi kera-kera dan babi-babi. Dan ini menunjukkan bahwasanya ada sesuatu yang tidak beres dari kalian. Dan kembali Allah subhanahu wa ta’ala membantah pernyataan mereka bahwasanya kalian sama seperti manusia lainnya maka jangan sombong. Yahudi sangatlah sombong, saking sombongnya mereka menolak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya disebabkan nabi Muhammad bukan berasal dari Yahudi. Maka tidak benar bahwasanya mereka adalah pilihan-pilihan Allah subhanahu wa ta’ala.([26])

Kedua: Di antara propaganda mereka adalah mereka menganggap bisa menjaga suku mereka dan mereka bisa menjaga ras mereka. Apa maksud mereka di balik propaganda mereka ini? Mereka ingin menyatakan bahwasanya kami ras Yahudi adalah yang berhak menguasai Palestina dan mereka bisa menjaga ras mereka. ([27])

Maka kita katakan ini tidak benar. Karena secara pandangan singkat saja kalau kita lihat bentuk orang-orang Yahudi maka kita dapati mereka memiliki bentuk yang bermacam-macam bagaimana mungkin dia mengatakan bisa menjaga ras Yahudi sementara bentuk mereka berbeda-beda. Penulis pernah bertemu ketika musim haji dengan seseorang intel atau diplomat dia bercerita ketika dia berada di Tel Aviv terjadi perang antara Yahudi berkulit putih dengan Yahudi berkulit hitam. Dan Yahudi hitam tidak diakui oleh Yahudi berkulit putih. Maksud penulis dari kisah ini bahwasanya tidak benar pernyataan mereka bahwa mereka bisa menjaga ras mereka. Mereka bermacam-macam dan di antara mereka banyak Yahudi Turki bahkan disebutkan kebanyakan Yahudi keturunan Turki. Jika kebanyakan Yahudi keturunan Turki maka hendaknya mereka tidak mengaku-ngaku bahwa nenek moyangnya tinggal di Palestina karena nenek moyang mereka ada yang berasal dari Cina, Turki, dan Afrika maka tidak benar pengakuan mereka bahwa Palestina adalah negeri nenek moyang mereka. jadi kita harus bantah bahwasanya tidak benar pernyataan mereka bahwa mereka bisa menjaga ras mereka. penulis pernah ketika ke Amsterdam lalu berjumpa dengan seorang habib dan dia menceritakan bahwa dia mempunyai teman seorang Yahudi yang mereka membuat perkara baru yaitu menjadikan garis keturunan dari Ibu bukan bapak. Ini adalah perkara baru dalam Yahudi. Wallahu a’lam apakah mereka bertujuan memperbanyak komunitas sehingga mereka tidak hanya menyandarkan keturunan dari bapak bahkan bisa disandarkan dari jalur ibu. Hal ini semakin merusak keutuhan ras mereka dan inilah yang terjadi sekarang. Oleh karenanya kita katakan kepada mereka orang-orang Yahudi bahwasanya mereka bukanlah ras murni Yahudi, kalian bukan keturunan nabi Ya’qub secara murni, kalian telah bercampur dengan suku lainnya maka tidak bisa dijamin bahwa kalian semua adalah Yahudi murni.

Ketiga: Di antara propaganda mereka adalah mereka menganggap bahwa mereka lebih berhak atas Palestina. Bantahannya kita katakan bahwasanya jika mereka memang adalah ras Yahudi asli apa alasan mereka bahwasanya merekalah yang berhak untuk menguasai Palestina? Bukankah sebelum nabi Ya’qub tinggal di Palestina sudah ada suku-suku yang lain seperti Kan’aniyin dan suku-suku yang lain yang tinggal di situ yang mungkin telah menetap di situ ribuan tahun sebelum kedatangan nabi Ya’qub. Kita tahu bahwa nabi Ibrahim asalnya bukan tinggal di Palestina akan tetapi nabi Ibrahim dari Babil jadi nenek moyang nabi Ya’qub tidak berasal dari Palestina. kemudian nabi Ya’qub tinggal di Palestina tidak dalam waktu yang lama yaitu mungkin sekitar 300 tahun tinggal di Palestina lalu apakah dengan tinggal 300 tahun di Palestina menjadikan seluruh Palestina sebagai milik mereka? tentu ini tidak benar([28]). Seandainya ada orang Palembang tinggal di Jakarta selama 500 tahun maka ini tidak menjadikan mereka mengklaim Jakarta sebagai daerah asal mereka karena ada suku asli di Jakarta yaitu suku betawi. Jadi apa yang membuat kalian wahai orang-orang Yahudi mengatakan bahwasanya Palestina adalah hak kalian sementara kalian hanya segelintir manusia tatkala itu ketika tinggal di sana dan juga terdapat suku-suku yang lain. Jadi pernyataan mereka bahwasanya kami yang paling berhak atas Palestina adalah pernyataan yang tidak benar. Karena Palestina dikuasai dengan silih berganti terlebih lagi kalian adalah orang-orang yang kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah yang bisa penulis sampaikan tentang suku Yahudi maka berhati-hatilah karena mereka adalah musuh yang sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan di akhir zaman bahwa musuh kita bukanlah suku-suku yang lain dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berbicara tentang penganut agama yang lain dan yang Allah subhanahu wa ta’ala bicarakan adalah Yahudi. Dan ini menunjukkan bahwasanya mereka akan eksis sampai hari kiamat dan kaum muslimin yang akan membantai mereka.

Footnote:
____________

([1]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 255.

([2]) Lihat: Perjanjian lama kitab Samuel I : 8.

([3]) Yaitu zaman Nabi Samuel ‘alaihissalam.

([4]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 255.

([5]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 256.

([6]) Lihat : Perjanjian lama kitab Raja-raja I (12,14,15,16,17,18,19,22); kitab Raja-raja II (1,13,15,16,17,21-24).

([7]) Lihat : Perjanjian lama kitab Raja-raja II : 2; Al-Quds ‘Arobiyah Islamiyah karya Dr. Sayyid Farroj Rasyid hal. 74-75.

([8]) Lihat : Perjanjian lama kitab Raja-raja II : 24-25; Tarikh Bani Israil karya Muhammad Daruzah hal. 207-208; Al-Yahudiyah hal.84 karya Dr. Ahmad Syalbi.

([9]) Lihat : Perjanjian Lama Kitab Ezra dan Nehemia; Qomus Al-kitab Al-Muqoddas hal. 458.

([10]) Lihat : Perjanjian Lama Kitab Ezra : 7; Qomus Al-kitab Al-Muqoddas hal. 621.

([11]) Ibnu katsir berpendapat bahwa Uzair (Ezra) adalah seorang yang saleh dan bukan nabi meskipun yang masyhur di kalangan Bani Israel beliau adalah Nabi (lihat : Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/389)

([12]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. hal. 258.

([13]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. hal. 259.

([14]) Lihat : Tarikh Al-Israiliyyin hal. 71-78.

([15]) Lihat : Abhast fil fikri Al Yahudi karya Dr.Hasan Dzodzo hal. 36-37.

([16]) Lihat : Tarikh Al-Israiliyyin hal. 77.

([17]) Lihat Tafsir At-Thobari 17/357.

([18]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. hal. 262.

([19]) Lihat : Tarikh Isroiliyyin hal. 80-97.

([20]) HR. Muslim 2922

([21]) Lihat: Al-Quds Arobiyah Islamiyah hal. 167.

([22]) At-Tarikh Al-Yahudi karya Dr. Shobir Dzoimah 2/195.

([23]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 256-266.

([24]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 267.

([25]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 267-268

([26]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 273-275

([27]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 281

([28]) Lihat: Mujaz Tarikh Al-Yahuud wa Ar-Radd ‘Alaa Ba’dhi Mazaa’imihim Al-Bathilah karya Mahmud bin Abdurrahman Qodah hal. 287