Kisah Keluarga ‘Imran

Keluarga ‘Imran

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

‘Imran adalah nama seseorang yang saleh, sampai-sampai dalam Al-Quran terdapat surah yang menyebutkan tentang keluarga ‘Imran, yaitu surah Ali-’Imran. Kisah keluarga ‘Imran ini Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Ali-‘Imran ayat ke-33. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ، ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing), (sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Ali-‘Imran : 33)

Di sini, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Dia memilih Adam dan Nuh ‘alaihimassalam. Nabi Adam ‘alaihissalam sebagai Abul Basyar (nenek moyang), dialah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala tanpa ayah dan tanpa ibu, kemudian darinyalah seluruh manusia berasal. Oleh karenanya tatkala di padang mahsyar, orang-orang akan datang kepada Nabi Adam ‘alaihissalam dan berkata,

يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو البَشَرِ، خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ، وَأَمَرَ المَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، وَأَسْكَنَكَ الجَنَّةَ

Wahai Adam, kamu adalah bapak seluruh manusia. Allah menciptakan kamu langsung dengan tangan-Nya dan meniupkan langsung ruh-Nya kepadamu dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu dan menempatkan kamu tinggal di surga.”(Muttafaqun ‘alaih)([1])

Setelah itu, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut Nabi Nuh ‘alaihissalam. Nabi Nuh ‘alaihissalam juga nenek moyang seluruh manusia saat ini, akan tetapi dia adalah nenek moyang yang kedua([2]). Hal ini dikarenakan ketika terjadi banjir yang menimpa manusia di atas muka bumi pada masa Nabi Nuh ‘alaihissalam, maka semua manusia meninggal dunia kecuali yang ikut di atas perahu Nabi Nuh ‘alaihissalam. Kemudian, di antara orang-orang yang ikut dengan Nabi Nuh ‘alaihissalam, ternyata keturunan Nabi Nuh ‘alaihissalam yang berlanjut keturunannya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

Dan Kami jadikan anak cucunya (sebagai) orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. Ash-Shaffat : 77)

Anak Nabi Nuh ‘alaihissalam yang ikut bersamanya menaiki bahtera di antaranya adalah Ham, Sam, dan Yafits([3]). Dari ketiga anak Nabi Nuh ‘alaihissalam inilah yang melanjutkan keturunan setelah. Oleh karena itu, kita semua ini merupakan keturunan Nabi Nuh ‘alaihissalam, sehingga Nabi Nuh ‘alaihissalam disebut sebagai Abul Basyar Ats-Tsani (nenek moyang yang kedua). Pendapat ini juga didukung oleh satu riwayat yang sampai kepada kita. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang hasan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Abu Bakar berkata,

أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَصَلَّى الْغَدَاةَ، ثُمَّ جَلَسَ حَتَّى إِذَا كَانَ مِنَ الضُّحَى ضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ جَلَسَ مَكَانَهُ حَتَّى صَلَّى الْأُولَى وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ، كُلُّ ذَلِكَ لَا يَتَكَلَّمُ، حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى أَهْلِهِ، فَقَالَ النَّاسُ لِأَبِي بَكْرٍ: أَلا تَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَأْنُهُ؟ صَنَعَ الْيَوْمَ شَيْئًا لَمْ يَصْنَعْهُ قَطُّ، قَالَ: فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: نَعَمْ عُرِضَ عَلَيَّ مَا هُوَ كَائِنٌ مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا، وَأَمْرِ الْآخِرَةِ، فَجُمِعَ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ بِصَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَفَظِعَ النَّاسُ بِذَلِكَ حَتَّى انْطَلَقُوا إِلَى آدَمَ عَلَيْهِ السَّلامُ، وَالْعَرَقُ يَكَادُ يُلْجِمُهُمْ، فَقَالُوا يَا آدَمُ، أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ، وَأَنْتَ اصْطَفَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، قَالَ: قَدْ لَقِيتُ مِثْلَ الَّذِي لَقِيتُمْ، انْطَلِقُوا إِلَى أَبِيكُمْ بَعْدَ أَبِيكُمْ، إِلَى نُوحٍ {إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ}

Pada suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat subuh kemudian duduk, hingga ketika tiba waktu dhuha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa, kemudian duduk di tempat semula hingga tiba shalat Dzuhur, Ashar dan Maghrib, beliau tidak berbicara hingga shalat isya di akhir malam, kemudian beliau pulang ke keluarganya. Maka orang-orang berkata kepada Abu Bakar, ‘Mengapa kamu tidak tanyakan kepada Rasulullah atas apa yang beliau lakukan hari ini? Sebelumnya beliau belum pernah melakukannya sama sekali’. Ia berkata, ‘kemudian dia bertanya kepada beliau’. Maka beliau menjawab, ‘Ya, telah diperlihatkan kepadaku apa yang akan terjadi dari urusan dunia dan akhirat, maka dikumpulkanlah orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan di satu tempat, maka manusia ketakutan dengan hal itu, sehingga mereka datang kepada Adam sementara keringat hampir-hampir menutupi mereka, mereka berkata: Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia dan Allah ‘Azza wajalla telah memilihmu, maka mintalah syafaat untuk kami kepada Rabbmu. Adam menjawab: Aku pun sedang menghadapi seperti apa yang sedang kalian hadapi, pergilah kepada bapak kalian setelah bapak kalian ini, yaitu Nuh’. (Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah) ‘Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran atas segala umat’.”([4])

Ini adalah dalil yang tegas menunjukkan bahwasanya Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah Abul Basyar Ats-Tsani (nenek moyang yang kedua). Jadi, kita ini seluruhnya keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam dan sekaligus kita seluruhnya juga merupakan keturunan Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam, Allah Subhanahu wa ta’ala juga memiliki keluarga Ibrahim ‘alaihissalam. Keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberikan keberkahan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bershalawat selalu mengatakan,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”([5])

Keluarga Ibrahim ‘alaihissalam adalah keluarga yang diberkahi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam-lah kemudian lahir Ishaq dan Ismail. Dari keturunan Nabi Ishak kemudian lahir Nabi-Nabi Bani Israil, karena seluruh Bani Israil adalah keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Dan dari keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam kemudian lahir Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah, karena keluarga Ibrahim diberkahi maka disebutkan secara khusus.

Setelah itu, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan secara khusus tentang keluarga ‘Imran. Siapakah keluarga ‘Imran? Secara umum ada dua pendapat dikalangan para Ahli Tafsir. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ali-‘Imran adalah keluarganya Nabi Musa ‘Alaihissalam, karena Nabi Musa sendiri bernama Musa bin ‘Imran. Sementara pendapat yang lain mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan ‘Ali-‘Imran adalah bapaknya Maryam yang merupakan kakek dari Nabi Isa ‘alaihissalam([6]). Kedua pendapat ini sama-sama memiliki landasan dalil, akan tetapi yang lebih kuat adalah pendapat kedua, yaitu yang dimaksud keluarga ‘Imran dalam ayat tersebut adalah bapaknya Maryam. Oleh karenanya setelah menyebutkan ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala mulai bercerita tentang kisah keluarga ‘Imran, tentang istrinya ‘Imran, tentang ibunya Nabi Isa yaitu Maryam, kemudian tentang Nabi Isa ‘alaihissalam, kemudian tentang Zakaria dan Yahya. Kisah mereka semua ini berkaitan dengan keluarga ‘Imran. ‘Imran memiliki istri bernama Hannah([7]), adapun Zakaria disebutkan memiliki istri yang sebagian menyebutkan bahwa namanya adalah Isya’([8]).

Para ulama menyebutkan bahwa istri Zakaria memiliki hubungan kekerabatan dengan Hannah. Hanya kemudian para ulama khilaf tentang apakah istri Zakaria merupakan saudari dari Hannah atau saudari dari Hannah yaitu ibunya Maryam([9]). Banyak riwayat menyebutkan bahwa istri Zakaria adalah saudari Hannah, sehingga pendapat ini menjadikan Yahya merupakan cucu ‘Imran. Berarti ketika kita bicara tentang keluarga ‘Imran, maka kita akan berbicara tentang ‘Imran, tentang istrinya yaitu Hannah, kemudian tentang Maryam, kemudian tentang cucunya yaitu Isa dan Yahya ‘alaihimassalam.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan,

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(mereka sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Ali-‘Imran : 33)

Terdapat dua pendapat di kalangan Ahli Tafsir. Pendapat pertama mengatakan bahwa keluarga ‘Imran adalah keturunan Nabi Nuh dan Nabi Adam ‘alaihimassalam([10]). Pendapat ini adalah pendapat yang benar, karena benar bahwa keluarga ‘Imran ini merupakan keturunan Ibrahim, Nuh, dan Adam ‘alaihimassalam. Pendapat yang lain menyebutkan bahwa maksud dari ayat ini adalah keluarga ‘Imran secara turun-temurun merupakan keluarga yang bertauhid([11]), keluarga yang sama-sama rajin beribadah dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Pendapat kedua ini juga merupakan pendapat yang benar.

Kisah Keluarga ‘Imran

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian mulai bercerita tentang keluarga yang penuh berkah ini, yaitu keluarga ‘Imran yang dimulai dari istrinya. Hannah istri ‘Imran, disebutkan dalam buku tafsir bahwasanya dia telah tua dan sudah mengalami masa menopause. Suatu hari, tatkala dia sedang bersantai bernaung di bawah sebuah pohon, tiba-tiba dia melihat seekor burung sedang memberi makan kepada anak-anak, akhirnya dalam hatinya timbul rasa ingin memiliki anak lagi. Maka dia pun berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar Allah menganugerahkan kepadanya anak([12]). Tatkala itu Allah kabulkan langsung doanya, sehingga dia pun haid kembali. Setelah haid (setelah dia suci), maka suaminya pun menggaulinya sehingga akhirnya dia pun hamil. Setelah dia hamil, maka dia berdoa agar anaknya kelak menjadi pelayan di Baitul Maqdis. Inilah yang dikatakan Hannah dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba (laki-laki) yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui’.” (QS. Ali-‘Imran : 35)

Artinya, Hannah bersyukur kepada Allah yang telah mengabulkan doanya sehingga bisa mengandung dengan bernazar agar putra yang lahir dari dirinya kelak akan menjadi pelayan di Baitul Maqdis.

Ternyata, tatkala dia melahirkan anak yang ada di dalam perutnya tersebut, anak yang keluar bukan anak laki-laki, melainkan anak perempuan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman menceritakan,

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Maka ketika melahirkannya, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan’. Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. ‘Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) syaithan yang terkutuk’.” (QS. Ali-‘Imran : 46)

Dalam ayat ini, Hannah meminta uzur kepada Allah. Sebelumnya dia bernazar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa dia ingin punya anak laki-laki agar anaknya tersebut menjadi pelayan di Baitul Maqdis, akan tetapi ternyata yang lahir adalah anak perempuan, maka dia meminta uzur kepada Allah([13]). Kisah ini menjadi dalil bahwasanya bisa jadi kita minta sesuatu kepada Allah namun Allah memberikan hal lain dari apa yang kita minta, meskipun yang Allah berikan itu adalah yang tidak sesuai dengan harapan kita namun ternyata itu lebih baik bagi kita.

Di dalam ayat ini pula terdapat pernyataan Allah Subhanahu wa ta’ala yang menjelaskan kepada Hannah bahwa meskipun yang dia lahirkan adalah perempuan, tapi perempuan yang dia lahirkan tersebut tidak seperti perempuan pada umumnya. Memang benar bahwa secara jenis-jenis, laki-laki lebih utama daripada perempuan, akan tetapi perempuan yang Allah anugerahkan kepada Hannah adalah perempuan yang spesial. Artinya, Allah menegaskan bahwa Dia lebih tahu tentang kemaslahatan yang terbaik bagimu istrinya ‘Imran. Di antara spesialnya anugerah Allah tersebut adalah Allah menjadikan anak perempuan tersebut sebagai wanita yang akan melahirkan Nabi Isa ‘alaihissalam, yaitu Maryam. Ini menunjukkan bahwasanya Allah bisa saja mengabulkan sesuatu yang kita minta dengan sesuatu di luar daripada permintaan kita. Oleh karena itu, ketika kita meminta sesuatu namun Allah belum kabulkan, maka yakinlah bahwasanya Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika sekiranya Allah penuhi permintaan kita, bisa jadi apa yang kita minta itu menimbulkan kemudharatan tanpa kita sadari. Oleh karena itu dikatakan bahwa Allah yang menciptakan kita lebih tahu apa yang lebih maslahat bagi kita daripada diri kita sendiri.

Di antara faedah ayat ini pula, boleh seseorang menamakan anaknya langsung setelah anak itu lahir, sebagaimana yang dilakukan oleh Hannah yang langsung memberi nama anaknya dengan nama Maryam setelah dia melahirkan. Dan demikian pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika Ibrahim lahir maka beliau berkata,

وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ، فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ

Pada suatu malam anakku lahir seorang laki-laki, lalu kuberi nama dengan nama bapakku, Ibrahim.”([14])

Memang benar bahwa kita diperintahkan untuk memberi nama kepada anak yang baru lahir pada hari ketujuh, sebagaimana dalam hadits disebutkan,

كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh setelah kelahirannya, di cukur dan diberi nama.”([15])

Akan tetapi, seorang bayi jika dinamakan pada hari pertama juga boleh dalam Islam. Maka jika kita memiliki anak, tidak mesti kita harus menunggu hingga hari ketujuh untuk memberikannya nama, kita bisa memberikan nama di hari pertama anak kita lahir, dan ini adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan juga hal tersebut yang dilakukan oleh Hannah (istri ‘Imran) dengan memberi nama anak perempuannya dengan nama Maryam.([16])

Kemudian Hannah berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar Maryam dijauhkan dari godaan syaithan beserta anak cucu dari putrinya tersebut. Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا وَالشَّيْطَانُ يَمَسُّهُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ إِيَّاهُ، إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا

Tidaklah bayi yang dilahirkan kecuali syaithan akan menganggunya ketika ia lahir, sehingga mereka menangis keras karena gangguan syaithan tersebut, kecuali Maryam dan putranya.”([17])

Hadits ini menjelaskan bahwasanya Maryam dan Nabi Isa ’alaihissalam tidak diganggu oleh syaithan. Dan ini adalah kebenaran dari firman Allah Subhanahu wa ta’ala, di mana Nabi Isa ‘alaihissalam berkata,

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Dan keselamatan bagiku pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam : 33)

Demikianlah Nabi Isa ‘alaihissalam, ketika lahir tidak diganggu oleh syaithan, ketika meninggal tidak disalib, dan ketika dibangkitkan pun tidak dalam kondisi yang buruk, melainkan dia dibangkitkan sebagai orang yang saleh.

Kisah Zakaria dan Yahya

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala melanjutkan firman-Nya,

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَامَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, ‘Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?’ Dia (Maryam) menjawab, ‘Itu dari Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali-‘Imran : 37)

Hal ini merupakan di antara perkara yang tidak biasa. Para Ahli Tafsir menyebutkan bahwa biasanya yang menjadi pelayan di Baitul Maqdis adalah anak laki-laki. Akan tetapi karena Hannah sudah bernazar untuk menjadikan anaknya sebagai pelayan di Baitul Maqdis. Orang-orang sangat menghormati Hannah karena dia adalah istri dari ‘Imran. ‘Imran adalah yang orang paling saleh sekaligus ulama di zaman itu. Sehingga tatkala Hannah bernazar agar putrinya Maryam menjadi pelayan di Baitul Maqdis, semua orang pun menerima.([18])

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa pemeliharaan Maryam diserahkan kepada Zakaria. Bagaimana cerita Zakaria dalam mengurus Maryam? Disebutkan bahwa ketika Hannah melahirkan Maryam, suaminya yaitu ‘Imran sudah meninggal dunia, sehingga jadilah Maryam seorang putri yang yatim([19]). Ketika Maryam telah dilahirkan, dibalutlah Maryam dengan kain oleh Hannah lalu kemudian dibawa ke Baitul Maqdis. Tatkala tiba di Baitul Maqdis, para ahli ibadah (pendeta) yang ada di situ kemudian berebutan untuk merawat Maryam, karena mereka ingin merawat putri dari orang yang paling alim di antara mereka. Akhirnya, ketika mereka berebut ingin merawat Maryam, dengan terpaksa mereka harus melakukan undian untuk menentukan siapa yang berhak untuk merawat Maryam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau pun (Muhammad) tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar.” (QS. Ali-‘Imran : 44)

Terdapat khilaf yang panjang tentang apa makna pena tersebut. Ada yang mengatakan bahwa pena di sini maksudnya adalah mereka melemparkan tongkat ke sungai, dan tongkat siapa yang tidak tenggelam maka dialah yang berhak merawat Maryam. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah pena itu sendiri, yaitu pena siapa yang keluar maka itulah yang berhak merawat Maryam([20]). Demikianlah perkataan Ahli Tafsir, akan tetapi intinya nama yang keluar dari undian tersebut adalah Zakaria, sehingga Zakaria yang mengurusi Maryam. Dan yang menjadi suatu kebetulan adalah Zakaria memiliki kekerabatan dengan Maryam, baik itu dia sebagai pamannya Maryam([21]) atau sebagai iparnya Maryam([22]). Intinya, Zakaria memiliki hubungan kekerabatan dengan Maryam.

Zakaria adalah seorang Nabi yang saleh, dan dialah orang yang paling saleh di zaman itu setelah meninggalnya ‘Imran. Sebenarnya sejak awal dialah yang paling berhak untuk merawat Maryam, hanya saja karena orang-orang berebutan ingin merawat Maryam, sehingga tidak ada jalan keluar dengan mengundi. Akhirnya Zakaria mengurus Maryam dirawat sampai besar. Disebutkan bahwa Zakaria membuat mihrab untuk Maryam. Bahasa kita saat ini mengartikan mihrab dengan tempat imam shalat dan ini adalah istilah baru, akan tetapi mihrab dalam ayat ini adalah suatu tempat ibadah semacam kuil yang dibuat khusus untuk orang beribadah di tempat tersebut. Zakaria membuat mihrab yang agak tinggi, sehingga setiap orang yang mau ke tempat tersebut harus menaiki tangga. Mihrab tersebut dikunci dan hanya dibuka ketika Zakaria mengantarkan makanan kepada Maryam.([23])

Ketika Maryam semakin dewasa, terjadi sesuatu yang aneh, yaitu sebagaimana firman Allah,

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَامَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, ‘Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?’ Dia (Maryam) menjawab, ‘Itu dari Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali-‘Imran : 37)

Setiap kali Zakaria ‘alaihissalam mengantar makanan kepada Maryam, ternyata dia dapati di sisi Maryam ada makanan yang sudah tersedia. Ahli Tafsir menyebutkan bahwa yang lebih mengherankan lagi adalah Zakaria mendapati buah-buahan muncul di sisi Maryam yang seharusnya tumbuh di musim dingin sementara saat itu musim panas. Demikian pula tatkala di musim dingin, Zakaria mendapati buah-buahan yang seharusnya tumbuh di musim panas([24]). Terkumpul dua keanehan dalam hal ini, pertama adalah aneh dari sisi datangnya makanan tersebut, yang kedua aneh dari sisi makanan tersebut datang bukan pada musimnya. Oleh karenanya Zakaria bertanya kepada Maryam bahwa dari mana dia dapatkan makanan tersebut? Maka Maryam menjawab bahwa itu dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Inilah yang disebut dengan karamah. Kita tahu bahwa Maryam bukan seorang Nabi, akan tetapi dia adalah seorang wanita yang salehah, dia hadiahkan dirinya berkhidmah kepada Baitul Maqdis untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dia tinggalkan seluruh perkara kesenangan dunia untuk bisa berkhidmah di Baitul Maqdis sehingga hidupnya penuh dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka sebab itu Allah pun memberikan makanan tersebut secara tiba-tiba tanpa dia usahakan.

Perlu untuk kita pahami bahwa hal ini bukan dalil untuk seseorang meninggalkan ikhtiar (berusaha). Maryam adalah seorang wanita yang memang tabiatnya tinggal di rumah. Kalaupun sekiranya Allah tidak memberikan makanan kepada Maryam, Zakaria pasti tetap akan membawa makanan, hanya saja Allah ingin memuliakan Maryam. Sebagian orang salah paham tentang kisah ini, mereka menjadikan kisah ini sebagai dalil untuk tidak berusaha dan mencukupkan diri untuk berdoa, mereka yakin bahwa akan muncul secara tiba-tiba makanan sebagaimana yang berlaku pada Maryam. Maka dari itu, ketahuilah bahwa tawakal yang benar adalah penggabungan antara berdoa dan berusaha.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa’.” (QS. Ali-‘Imran : 38)

Apa yang terjadi kepada Maryam di mihrab tersebut menandakan bahwa akibat bisa muncul tanpa sebab jika Allah Subhanahu wa ta’ala telah berkehendak. Ketika Zakaria ‘alaihissalam melihat kejadian ajaib yang terjadi pada Maryam, yaitu tiba-tiba Allah berikan rezeki kepadanya tanpa dia berusaha, mulailah tergerak hatinya untuk berdoa kepada Allah agar dikaruniakan seorang anak([25]). Menurut perkiraannya, dia tidak bisa punya anak karena melihat bahwa dirinya sudah tua dan istrinya juga mandul. Maka ketika dia melihat keajaiban yang terjadi pada Maryam, maka dia berpikir bahwa bisa jadi dia tidak memiliki sebab untuk punya anak namun Allah bisa memberikan dia anak.

Akhirnya, Zakaria berdoa kepada Allah “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”. Dalam surah Maryam Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengabadikan doa Zakaria yang menunjukkan perendahan dirinya, di surah tersebut dia berkata,

رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا، يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia wahai Tuhanku seorang yang diridhai.” (QS. Maryam : 4-6)

Di sini, Zakaria berdoa kepada Allah dengan menyebutkan kekurangannya serta bentuk husnuzannya kepada Allah. Dia menyebutkan uzur kepada Allah bahwa tubuhnya sudah lemah (tua), rambutnya sudah putih, istrinya mandul, dan banyak orang yang harus diajari masalah agama sehingga perlu generasi penerus darinya. Akan tetapi Zakaria berhusnuzan kepada Allah dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah putus asa dalam berdoa Allah, dan setelah itu dia meminta kepada Allah agar dianugerahkan seorang putra yang akan mewarisinya dan mewarisi keluarga Ya’qub.

Ketika Zakaria ‘alaihissalam telah berdoa, maka Allah Subhanahu wa ta’ala langsung mengabulkan doanya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Maryam,

يَازَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

(Allah berfirman), ‘Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya’.” (QS. Maryam : 7)

Dalam surah Ali-‘Imran Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, ‘Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh’.” (QS. Ali-‘Imran : 39)

Dari sini kemudian kita pelajari bahwa tatkala Zakaria ingin punya anak, maka yang dia lakukan adalah shalat, dan di dalam shalatnya itulah dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, jika seseorang ada keperluan atau hajat kepada Allah, maka dalam kondisi apa pun hendaknya dia segera shalat. Dalam sebuah hadits disebutkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ، صَلَّى

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam gelisah oleh suatu urusan, beliau mengerjakan shalat.”([26])

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian.” (QS. Al-Baqarah : 45)

Sesungguhnya keterikatan yang paling kuat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah dengan shalat. Allah menjadikan suatu ibadah yang seorang hamba bisa dengan langsung mengetuk pintu untuk berbicara dengan Allah, yaitu dengan shalat. Oleh karenanya inilah yang dilakukan oleh Zakaria, ketika dia menginginkan dari sisi Allah seorang anak, maka dia shalat dan berdoa, dan Allah Subhanahu wa ta’ala langsung mengabulkan doanya.

Sementara Zakaria ‘alaihissalam sedang shalat, maka datanglah para malaikat memberi kabar gembira kepadanya bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengaruniakan anak kepadanya. Malaikat mengabarkan bahwa Zakaria akan dikaruniakan seorang anak bernama Yahya, dan Yahya disifati bahwa dia kelak akan membenarkan Nabi Isa ‘alaihissalam yang akan diciptakan dengan kalimat “كُنْ فَيَكُونُ”. Kemudian Yahya disifati akan menjadi pemimpin dalam agama bagi kaumnya dan dia adalah seorang yang sangat saleh lagi bertakwa kepada Allah, sangat banyak ilmunya. Kemudian juga dia memiliki sifat mampu menahan syahwatnya (untuk menikah)([27]), sehingga dia akan terfokus untuk berkhidmah untuk agama, dan tentunya dia adalah seorang Nabi dari Nabi-Nabi yang saleh.

Ketika Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam, dia pun kaget. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Dia (Zakaria) berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki’.” (QS. Ali-‘Imran : 40)

Di sini, Nabi Zakaria ‘alaihissalam tidak sedang menolak atau meragukan pemberian Allah Subhanahu wa ta’ala, akan tetapi dia bingung tentang bagaimana cara dia bisa memiliki anak sedangkan dia merasa bahwa dirinya sangat tua dan istrinya mandul. Bahkan dalam surah Maryam Allah menceritakan bahwa Zakaria berkata,

رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?” (QS. Maryam : 8)

Disebutkan bahwa ketika itu Zakaria ‘alaihissalam telah hampir mencapai usia seratus tahun. Seakan-akan Nabi Zakaria ‘alaihissalam mengatakan bahwa sebab-sebab untuk dia tidak bisa memiliki anak sangatlah jelas, sehingga dia merasa bingung bagaimana dia bisa memiliki anak. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menjawab kebingungannya tersebut dengan sangat mudah, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

(Allah) berfirman, ‘Demikianlah’. Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku, sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali’.” (QS. Maryam : 9)

Artinya, menciptakan Yahya adalah hal yang sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana mudahnya Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan Zakaria ‘alaihissalam ketika dia belum berwujud sama sekali.

Setelah malaikat mengabarkan kabar gembira tersebut, Nabi Zakaria ‘alaihissalam kembali meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

Dia (Zakaria) berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” (Allah) berfirman, ‘Tandamu ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat’.” (QS. Maryam : 10)

Dalam surah Ali-‘Imran Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا

Dia (Zakaria) berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda’. Allah berfirman, ‘Tanda bagimu, adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.” (QS. Ali-‘Imran : 41)

Nabi Zakaria ‘alaihissalam meminta tanda kepada Allah Subhanahu wa ta’ala bahwa dia benar-benar akan punya anak. Maka Allah memberikan jawaban bahwa dia tidak akan berbicara kepada orang-orang kecuali dengan isyarat. Ada yang menyebutkan bahwa Zakaria ‘alaihissalam hanya bisa memberi isyarat dengan tangannya, ada yang mengatakan bahwa isyaratnya adalah dengan alis mata, dan ada yang mengatakan bahwa isyaratnya menggunakan mata.([28]) Intinya, Zakaria ‘alaihissalam tidak bisa berbicara tiga hari tiga malam. Setelah mendapatkan jawaban dari Allah Subhanahu wa ta’ala, ternyata benar saja bahwa dia tidak bisa berbicara, sehingga hal tersebut menjadi bukti bahwasanya tanda yang terdekat bahwa dia akan memiliki anak sudah datang, maka tanda berikut sudah pasti adalah kehadiran anaknya Yahya ‘alaihissalam.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka, bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam : 11)

Entah bagaimana cara Zakaria untuk memerintahkan murid-murid atau kaumnya untuk bertasbih kepada Allah di waktu pagi dan petang hari, akan tetapi dalam surah Ali-‘Imran Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Zakaria,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali-‘Imran : 41)

Para Ahli Tafsir menyebutkan bahwa meskipun Zakaria ‘alaihissalam tidak bisa berbicara dengan orang-orang, akan tapi untuk berdzikir maka dia masih bisa mengeluarkan suara dari mulutnya([29]). Ini di antara mukjizat bagi Zakaria, dan ini merupakan bukti bahwasanya jika Allah bisa merubah kondisi Zakaria yang awalnya bisa berbicara kemudian menjadi tidak bisa, bahkan ucapan yang keluar hanya terbatas pada dzikir semata, maka untuk menjadikan istrinya yang sebelumnya mandul menjadi subur adalah hal yang muda bagi Allah, atau yang sebelumnya Zakaria sudah tua dan mungkin sudah tidak mengeluarkan sperma, akan tetapi menjadi bisa dengan izin Allah dan menghasilkan anak.

Kisah Nabi Yahya ‘alaihissalam sendiri tidak banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Di antara firman Allah yang menyebutkan kisahnya adalah di surah Ali-‘Imran dan surah Maryam. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا، وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا، وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا، وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

Wahai Yahya, ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak, dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa, dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka. Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam : 12-15)

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Yahya ‘alaihissalam diberikan hikmah ketika dia masih kecil, dia juga dikaruniakan sifat kasih sayang dan kelembutan, serta jauh dari perangai yang buruk, dan ini semua memang merupakan sifat kenabian. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyifati Yahya sebagai anak yang bertakwa kepada Allah lagi berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong lagi suka bermaksiat. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyifati Yahya ‘alaihissalam dengan keselamatan tatkala dia dilahirkan, diwafatkan, dan ketika dibangkitkan kembali.

Akan tetapi disebutkan di buku-buku tafsir bahwasanya Yahya ‘alaihissalam dibunuh oleh Bani Israil, akan tetapi secara sanad tidak ada yang sahih tentang kisah terbunuhnya Nabi Zakaria maupun terbunuhnya Nabi Yahya ‘alaihimassalam. Kisah terbunuhnya Nabi Yahya ‘alaihissalam, ada beberapa pendapat yang disebutkan dalam buku-buku tafsir.

Pertama: Disebutkan bahwa ada seorang Raja menikah dengan seorang wanita yang merupakan mahramnya. Kemudian laki-laki tersebut diingatkan oleh Nabi Yahya ‘alaihissalam bahwa hal tersebut dilarang. Nabi Yahya ‘alaihissalam mengeluarkan hukum (fatwa) bahwasanya tidak boleh seorang laki-laki menikah dengan mahramnya. Maka Raja tersebut pun marah, dan dia membunuh Nabi Yahya ‘alaihissalam agar dia bisa menikah dengan mahramnya.

Kedua: Disebutkan bahwasanya ada seorang pembesar menikahkan putranya dengan putri pembesar yang lain. Kemudian putranya tersebut menceraikan istrinya dengan talak tiga. Maka orang pembesar tersebut datang kepada Nabi Yahya meminta fatwa apakah anaknya bisa kembali lagi kepada istrinya tersebut. Maka Nabi Yahya ‘alaihissalam menjawab bahwa hal tersebut tidak bisa hingga wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain. Karena pembesar tersebut jengkel dan tidak puas dengan jawaban Nabi Yahya ‘alaihissalam, akhirnya mereka pun membunuh Nabi Yahya ‘alaihissalam.

Ketiga: Disebutkan bahwasanya Nabi Yahya ‘alaihissalam dirayu oleh seorang wanita pelacur, dan dia tidak pernah mau. Wanita tersebut senantiasa menggoda Nabi Yahya ‘alaihissalam, akan tetapi tetap Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak mau. Ternyata, ada seorang laki-laki penguasa yang suka kepada wanita pelacur tersebut dan ingin menikahinya. Akhirnya, karena wanita tersebut jengkel kepada Nabi Yahya ‘alaihissalam, maka dia memberi syarat kepada penguasa tersebut bahwa dia tidak akan menikahinya sampai dia bisa menghadirkan kepala Nabi Yahya di hadapannya. Akhirnya, penguasa tersebut mengirim orang untuk membunuh Nabi Yahya ‘alaihissalam, dan kepalanya dihadirkan kepada sang wanita, lalu kemudian penguasa menikahi wanita pelacur tersebut.([30])

Sebenarnya masih ada banyak model kisah lain, namun semuanya tidak memiliki kejelasan dalam sanadnya. Mereka mengatakan Nabi Yahya ‘alaihissalam meninggal dengan di bunuh karena mereka berdalil dengan keumuman ayat, yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ

Dan karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar).” (QS. An-Nisa’ : 155)

قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Katakanlah (Muhammad), ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?’.” (QS. Al-Baqarah : 91)

Di antara ciri-ciri Bani Israil adalah mereka suka membunuh para Nabi, dan para ulama mencontohkan dengan Bani Israil membunuh Yahya dan Zakaria ini, dan ini pendapat Sebagian ulama.

Wallahu a’lam bishshawwab, sebagian ulama menyebutkan bahwa tidak ada dalil yang tegas dalam hal ini (kematian Zakaria dan Yahya), terlebih lagi ada ayat-ayat yang menjelaskan bahwasanya Nabi Yahya ‘alaihissalam mati tidak dalam keadaan dibunuh. Di antaranya adalah ayat yang telah kita sebutkan, di mana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

Dan kesejahteraan bagi dirinya (Yahya) pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam : 12-15)

Artinya, keselamatan bagi Nabi Yahya ‘alaihissalam ketika dia dilahirkan dan ketika dia wafat. Maka ketika ada kisah yang menyebutkan bahwa beliau mati karena dipenggal, apakah bisa dikategorikan bahwa dia mati dalam keadaan selamat? Tentu tidak. Demikian juga ketika Nabi Zakaria ‘alaihissalam berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا، يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia wahai Tuhanku, seorang yang diridhai’. ” (QS. Maryam : 5)

Jika ternyata Nabi Yahya ‘alaihissalam meninggal dalam keadaan masih muda, maka siapa yang akan melanjutkan dakwahnya Nabi Zakaria ‘alaihissalam? Oleh karenanya ini menunjukkan bahwa tidak ada kejelasan tentang akhir kehidupan Nabi Zakaria dan Yahya ‘alaihissalam, sehingga sulit untuk kita mengatakan bahwa Zakaria dan Yahya ‘alaihimassalam dibunuh oleh Bani Israil karena tidak ada sanad yang sahih tentang masalah ini, bahkan sebagian ayat menunjukkan seakan-akan Nabi Yahya tidak mungkin dibunuh oleh Bani Israil.

Kisah Maryam dan Isa ‘alaihissalam

Setelah itu, Allah Subhanahu wa ta’ala melanjutkan kisah tentang Maryam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).” (QS. Ali-‘Imran : 42)

Yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala telah memilih Maryam sebagai wanita mulia dan wanita salehah, Allah Subhanahu wa ta’ala telah membersihkannya dari keburukan dan akhlak yang buruk, dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga melebihkannya daripada seluruh wanita di zaman itu dari sisi kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Maryam,

يَامَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ

Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Ali-‘Imran : 43)

Ayat ini merupakan dalil bahwasanya orang-orang Bani Israil sebenarnya memiliki ibadah yang pada ibadah tersebut ada sujud, berdiri dan rukuk. Akan tetapi sekarang mungkin tidak lagi dapati orang-orang Yahudi melakukan hal tersebut. Oleh karenanya banyak Ahli Tafsir yang menafsirkan اقْنُتِي dengan makna bahwa Maryam diperintahkan untuk berdiri yang lama tatkala dia shalat di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Kemudian Maryam juga diingatkan untuk rukuk dan sujud bersama orang-orang yang juga shalat.

Setelah turunnya firman Allah ini kepada Maryam, disebutkan oleh para ulama bahwasanya Maryam akan berdiri lama sekali dalam shalatnya, sampai kakinya pun bengkok karena saking lamanya dia berdiri. ([31])

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau pun tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar.” (QS. Ali-‘Imran : 44)

Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwasanya kisah Maryam ini adalah kabar gaib tentang kisah zaman dahulu dari Bani Israil yang Allah kisahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibacakan kepada Ahlul kitab agar mereka tahu bahwa Muhammad adalah seorang Nabi.

Ahli Kitab tahu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah tinggal di zaman dahulu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak pernah baca Injil dan Taurat, akan tetapi beliau tahu kisah Maryam, Zakaria, Yahya, dan yang lainnya itu sebagai bukti kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.([32])

Allah Subhanahu wa ta’ala kembali berfirman melanjutkan kisah Maryam,

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ، وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, ‘Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang saleh’.” (QS. Ali-‘Imran : 45-46)

Allah Subhanahu wa ta’ala melalui malaikat-Nya mengabarkan kepada Maryam bahwasanya dia akan memiliki anak yang bernama Al-Masih Isa putri Maryam, karena dia tidak memiliki ayah untuk disandarkan pada namanya([33]). Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan kisah ini secara berurutan, mulai dari kisah menakjubkan Zakaria yang bisa punya anak meskipun sebab-sebab yang menjadikan seseorang punya anak telah hilang, lalu kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian menyebutkan kisah yang lebih menakjubkan tentang Maryam, di mana dia bisa punya anak tanpa ayah.

Di antara ciri-ciri Nabi Isa ‘alaihissalam yang disampaikan oleh malaikat adalah namanya Isa Ibnu Maryam, dia akan menjadi orang terhormat dan terpandang di dunia maupun di akhirat, kemudian dia termasuk orang yang dekat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, dia akan berbicara dengan manusia tatkala masih dalam gendongan maupun sudah tua, dan dia menjadi hamba Allah yang saleh. Dari sini kemudian menjadi dalil bahwasanya Nabi Isa ‘alaihissalam bukan Tuhan, karena tidak mungkin Tuhan berubah dari kecil menjadi dewasa (besar) hingga tua, waktu kecil digendong, dan ketika dewasa bisa jalan sendiri. Tentu ini bukanlah ciri-ciri Tuhan.

Nabi Isa ‘alaihissalam diberi gelar dengan Al-Masih. Al-Masih sendiri kita ketahui ada dua, pertama Al-Masih Al-Huda yaitu Nabi Isa ‘alaihissalam, dan kedua Al-Masih Adh-Dhalalah yaitu Dajjal. Dan kelak pada akhir zaman Al-Masih yang haq (Nabi Isa ‘alaihissalam) akan membunuh Al-Masih yang batil (Dajjal). Lantas apa makna Al-Masih bagi Nabi Isa ‘alaihissalam? Al-Masih sendiri memiliki beberapa makna. Ada yang mengatakan bahwa makna Al-Masih adalah orang yang berjalan-jalan, karena Nabi Isa ‘alaihissalam tidak punya tempat tertentu, dia berjalan kemana-mana untuk berdakwah. sebagian yang lain mengatakan bahwa makna Al-Masih adalah menyentuh, karena ketika Nabi Isa ‘alaihissalam menyentuh orang yang sakit maka akan sembuh. Sebagian yang lain juga mengatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam diberi gelar Al-Masih karena beliau dihapuskan dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala([34]). Berbeda dengan Dajjal, dia disebut Al-Masih karena yang dihilangkan darinya adalah matanya, sehingga dia buta sebelah dan mata yang lainnya bisa melihat namun cacat (tidak sempurna). Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلاَ إِنَّ المَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ العَيْنِ اليُمْنَى

Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan Al-Masih Dajjal buta sebelah kanan.”([35])

Kembali kepada kisah Maryam, Maryam adalah seorang yang sangat salehah. Dan dalam banyak dalam Al-Quran Allah Subhanahu wa ta’ala memujinya. Di antaranya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan dia termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim : 12)

Ini adalah contoh tentang seorang wanita yang salehah. Dia pernah di digoda dengan seorang lelaki yang sangat tampan, namun dia menolak. Allah Subhanahu wa ta’ala menceritakan dalam surah Maryam,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا، فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا، قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Quran), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitul Maqdis), lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. Dia (Maryam) berkata, ‘Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa’.” (QS. Maryam : 16-19)

Ketika Maryam menjauh dari keluarganya dalam rangka beribadah kepada Allah, maka Allah mengirim kepadanya malaikat Jibril. Tatkala itu Jibril menjelma sebagai seorang yang tampan. Maryam mengira lelaki yang merupakan jelmaan Jibril tersebut ingin menggodanya, dan tatkala itu tidak ada yang melihat. Bahkan kalaupun Maryam melakukan perzinaan dengan lelaki tersebut maka tidak ada yang melihatnya. Akan tetapi ketika melihat Jibril dengan jelmaan laki-laki tampan, Maryam kemudian segera berkata kepada laki-laki tersebut bahwa dia berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan dia pun mengingatkan laki-laki tersebut untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikianlah seharusnya wanita salehah, kalau ada lelaki yang menggodanya dia langsung mengingatkan laki-laki tersebut untuk bertakwa kepada Allah. Kisah ini juga menjadi dalil bahwasanya seseorang hendaknya selalu meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala meskipun dia adalah orang yang paling saleh. Lihatlah Maryam, dia adalah wanita salehah namun tetap meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. mengapa seseorang harus terus meminta perlindungan kepada Allah? Karena seseorang tidak bisa selamat dari fitnah kecuali atas perlindungan Allah Subhanahu wa ta’ala. ketahuilah bahwa betapa banyak orang yang menganggap dirinya memiliki iman yang kuat, akan tetapi ketika digoda oleh wanita atau laki-laki dalam sekejap imannya pun hancur, dan terjadilah apa yang terjadi tanpa dia sadari. Sesungguhnya ketika syahwat seseorang sudah bergelora, sangat mungkin baginya untuk secara tiba-tiba lupa dengan segala hal, lupa dengan keimanan, lupa dengan Tuhannya, lupa dengan anaknya, lupa dengan pasangannya (suami atau istri), yang ada di dalam benaknya adalah bagaimana dia menyelesaikan syahwatnya semata. Maka dari itu, tatkala di hadapan kita ada godaan, yang pertama kita ucapkan “A’udzubillahi minasysyaithanirojim” atau “A’udzubillahi minka”.

Tatkala Maryam mengatakan kepada laki-laki yang datang kepadanya untuk bertakwa, maka laki-laki itu pun mengatakan bahwa dirinya adalah Jibril yang diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam surah Maryam Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Dia (Jibril) berkata, ‘Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci’.” (QS. Maryam : 19)

Maka Maryam kemudian heran dan berkata,

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا، قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

Dia (Maryam) berkata, ‘Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina? Dia (Jibril) berkata, ‘Demikianlah’. Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan’.” (QS. Maryam : 20-21)

Dalam surah Ali-‘Imran disebutkan,

قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ، وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

Dia (Maryam) berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah, maka jadilah sesuatu itu. Dan Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil’.” (QS. Ali-‘Imran : 47-48)

Di sini Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian menjelaskan lagi ciri-ciri Nabi Isa ‘alaihissalam, yaitu dia akan menguasai Injil dan Taurat. Akhirnya Maryam pun kemudian mengandung, dan ini adalah ujian yang sangat berat yang harus dilewatinya. Bagaimana tidak? Dia senantiasa dikenal oleh masyarakat bahwasanya dia adalah seorang wanita salehah, dia adalah putri dari ulama mereka dan putri dari orang yang paling saleh di zaman itu. Maka apa kata orang-orang kalau selama ini dia tidak pernah hadir di tengah-tengah masyarakat namun tiba-tiba datang (hadir) dan membawa anak. Apa kata orang-orang? Orang-orang mengira bahwa dia beribadah, akan tetapi ternyata muncul dan membawa anak. Oleh karenanya itu adalah ujian yang sangat berat bagi Maryam, karena tiba-tiba dia mengandung tanpa ada yang menggaulinya sebelumnya, bahkan tidak ada laki-laki yang menyentuhnya sama sekali. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا، فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَالَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, ‘Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan’.” (QS. Maryam : 22-23)

Maryam khawatir tidak bisa menghadapi ujian, karena ujian di hadapannya sangatlah berat, bahkan cercaan dan hinaan manusia sudah bisa dia bayangkan di depan matanya. Maka dia mengatakan bahwa sekiranya dia meninggal sebelum kejadian itu maka itu akan jauh lebih menenangkan. Akan tetapi ceritanya berbeda, dia tidak meninggal, ternyata dia hamil dan sudah hendak untuk melahirkan.

Tatkala Maryam hendak melahirkan, dia pun kehausan dan kelaparan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا، وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu’.” (QS. Maryam : 24-25)

Tatkala Maryam menggerakkan pohon kurma, maka ruthab (kurma muda) kemudian berjatuhan dan dia pun memakannya. Dan ini merupakan dalil bahwasanya seorang harus berusaha meskipun dengan sebab yang sangat kecil, sebagaimana Maryam. Padahal kita tahu bahwa Maryam dalam keadaan hendak melahirkan, dalam kondisi sangat lemah, yang jika dia menggoyangkan pohon kurma tersebut pasti tidak akan bergoyang. Akan tetapi karena Maryam sudah melakukan usaha, maka ruthab pun berjatuhan.

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman,

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini’.” (QS. Maryam : 26)

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian mengajarkan kepada Maryam agar tidak berbicara apa pun ketika dia bertemu dengan seseorang. Dan ini adalah di antara satu strategi ketika kita tidak bisa mengungkapkan suatu alasan, karena semua orang pasti mendustakan alasan kita. Maryam, apa yang mau dia ucapkan? Kalau dia mengatakan bahwa anak yang dia bawa adalah anak Tuhan, apakah orang-orang akan percaya? Tentu mereka tidak akan percaya, karena tidak mungkin ada wanita yang bisa memiliki anak kecuali telah digauli oleh laki-laki. Maka alasan apa pun yang disampaikan oleh Maryam pasti didustakan oleh orang-orang yang mendengarnya, maka Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkannya untuk diam ketika bertemu dengan orang-orang.

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman,

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يَامَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا، يَاأُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

Kemudian dia (Maryam) membawa dia (bayi itu) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Mereka (kaumnya) berkata, ‘Wahai Maryam, sungguh engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina’.” (QS. Maryam : 27-28)

Maryam kemudian diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk mendatangi kaumnya, dan ternyata apa yang dikhawatirkan oleh Maryam benar-benar terjadi. Mulailah cercaan muncul kepadanya, bahkan Maryam pun dituduh sebagai wanita pezina. Dan ini adalah dalil bahwasanya Bani Israil menilai wanita akan disebut pezina apabila dia datang membawa anak tanpa kejelasan ayahnya meskipun tidak ada yang melihat perzinaan tersebut.

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman,

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا

Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’.” (QS. Maryam : 29)

Seakan-akan Maryam memberi isyarat kepada orang-orang bahwa janganlah mereka bertanya kepadanya, akan tetapi mereka disuruh untuk bertanya kepada anak yang dibawanya. Maka orang-orang pun heran, karena bagaimana mungkin mereka bisa berbicara dengan anak yang masih dalam ayunan. Akan tetapi kemudian tiba-tiba Isa ‘alaihissalam yang tatkala itu masih dalam gendongan berkata,

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا، وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا، وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا، وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Dia (Isa) berkata, ‘Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali’.” (QS. Maryam : 30-33)

Di dalam surah Al-‘Imran Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِ الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ، إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

(Isa) sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), ‘Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman. Dan sebagai seorang yang membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan agar aku menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu. Dan aku datang kepadamu membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus’.” (QS. Ali-‘Imran : 49-51)

Kemudian di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala kembali menyebutkan di antara ciri-ciri Nabi Isa ‘alaihissalam adalah dia merupakan Rasul bagi Bani Israil, dan bukan kepada yang lainnya. Oleh karena itu, sebenarnya agama Nasrani bukan agama internasional, agama Nasrani adalah agama khusus bagi Bani Israil sebagaimana agama Yahudi yang juga khusus bagi Bani Israil.

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan bahwasanya Nabi Isa akan memiliki beberapa mukjizat, yang semuanya itu bisa terjadi karena izin (kehendak) Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan atas dasar kemampuan Nabi Isa ‘alaihissalam. Bahkan kemampuan Nabi Isa ‘alaihissalam yang bisa mengetahui apa yang orang lain makan tanpa dia lihat itu adalah karena izin Allah Subhanahu wa ta’ala.

Adapun Nabi Zakaria dan Yahya ‘alaihimassalam, mereka pun berdakwah sebagaimana kewajiban para Nabi, namun tidak diceritakan dalam literatur kita (Al-Quran dan hadits Nabi) tentang bagaimana dakwah mereka dan apa yang mereka hadapi. Hanya saja disebutkan dalam kisah israiliyat bahwasanya Nabi Zakaria dan Yahya ‘alaihimassalam meninggal dalam kondisi dibunuh oleh Bani Israil.

Inilah kisah keluarga ‘Imran yang telah kita sebutkan. Kita telah menyebutkan tentang ‘Imran sebagai seorang yang saleh dan yang paling alim di zamannya, kemudian tentang istrinya yaitu Hannah yang merupakan seorang wanita yang salehah. Kemudian juga tentang Maryam bintu ‘Imran putri Hannah, kemudian juga kita sebutkan sedikit kisah tentang Nabi Isa ‘alaihissalam, dan kemudian kita juga telah sebutkan sedikit kisah tentang Yahya bin Zakaria.

Footnote:

([1]) HR. Bukhari no. 3340 dan HR. Muslim no. 194

([2]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/326

([3]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/89

([4]) HR. Ahmad no. 15

([5]) HR. Bukhari no. 3370

([6]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/63

([7]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/63

([8]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/79

([9]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/79

([10]) Lihat: Ruuhul Bayaan 2/52

([11]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 6/328

([12]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/66

([13]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/66 dan Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/425

([14]) HR. Muslim no. 2315

([15]) HR. Abu Daud no. 2838

([16]) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/425

([17]) HR. Bukhari no. 4548

([18]) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/425

([19]) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/426

([20]) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/425

([21]) Zakaria sebagai paman apabila pendapat yang dipilih adalah istri Zakaria adalah saudara perempuan Hannah.

([22]) Zakaria sebagai ipar apabila pendapat yang dipilih adalah istri Zakaria merupakan saudara perempuan Maryam. (Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/425)

([23]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/71

([24]) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/426

([25]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 6/359

([26]) HR. Abu Daud no. 1319, dan Al-Albani mengatakan hadits ini hasan

([27]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/77

([28]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 6/386-388

([29]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 6/390

([30]) Lihat: Al-Bahrul Muhith 7/15-16

([31]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/84-85

([32]) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/435

([33]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 6/413

([34]) Lihat: Al-Muharror Al-Wajiz Fii Tafsiir Al-Kitaab Al-‘Aziiz 1/435

([35]) HR. Bukhari no. 3439