Kisah Nabi Ismail ‘alaihis salam #2

Kisah Nabi Ismail ‘alaihis salam #2

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Ibrahim dan Ismaíl membangun Ka’bah

Kemudian dalam waktu yang lain Nabi Ibrahim ‘alaihissalam datang mengunjungi Ismail ‘alaihissalam. Ketika itu dia mendapati Ismail ‘alaihihissalam sedang mengasah anak panahnya dekat zamzam. Kemudian Nabi Ibrahim mendatanginya, dan Ismail pun menghampirinya karena telah mengenali Ayahnya dan mereka saling berbuat sebagaimana layaknya seorang Ayah terhadap anaknya dan seorang anak terhadap Ayahnya, di antaranya berpelukan karena telah lama tidak bertemu. Kemudian Ibnu ‘Abbas menuturkan,

ثُمَّ قَالَ يَا إِسْمَاعِيلُ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ، قَالَ: فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ، قَالَ: وَتُعِينُنِي؟ قَالَ: وَأُعِينُكَ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَا هُنَا بَيْتًا، وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوْلَهَا، قَالَ: فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَا القَوَاعِدَ مِنَ البَيْتِ، فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي، حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ البِنَاءُ، جَاءَ بِهَذَا الحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ فَقَامَ عَلَيْهِ، وَهُوَ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الحِجَارَةَ، وَهُمَا يَقُولاَنِ: {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ} [البقرة: 127]، قَالَ: فَجَعَلاَ يَبْنِيَانِ حَتَّى يَدُورَا حَوْلَ البَيْتِ وَهُمَا يَقُولاَنِ: {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ} [البقرة: 127[

Kemudian dia (Ibrahim) berkata; “Wahai Isma’il, Allah memerintahkanku dengan suatu perintah”. Isma’il berkata; “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu”. Ibrahim berkata lagi; Apakah kamu akan membantu aku?”. Isma’il berkata; “Ya aku akan membantumu”. Ibrahim berkata; “Allah memerintahkan aku agar membangun rumah di tempat ini”. Ibrahim menunjuk ke suatu tempat yang agak tinggi di banding sekelilingnya”. Perawi berkata; “Dari tempat itulah keduanya meninggikan pondasi Baitullah, Isma’il bekerja mengangkut batu-batu sedangkan Ibrahim yang menyusunnya (membangunnya) hingga ketika bangunan sudah tinggi, Isma’il datang membawa batu ini lalu meletakkannya untuk Ibrahim agar bisa naik di atasnya sementara Isma’il memberikan batu-batu’ Keduanya bekerja sambil mengucapkan do’a; “Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (QS. Albaqarah 127). Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus saja membaca do’a; “Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (QS. Albaqarah 127).” ([1])

Batu yang digunakan oleh Ibrahim ‘alaihissalam untuk dipijak ketika membangun Ka’bah itulah yang disebut sebagai Maqam Ibrahim. Maqam tersebut dahulunya berdempetan dengan Ka’bah. Akan tetapi kemudian dimundurkan ketika zaman Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu agar memudahkan orang untuk tawaf([2]). Kemudian kisah pembuatan Ka’bah ini menjadi dalil bahwa tatkala seseorang telah berbuat amal saleh, hendaknya dia berusaha unutk berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar amalannya diterima([3]).

Kemudian setelah mereka membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menyeru manusia untuk berhaji. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firmanNya:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj : 27)

Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk menyeru manusia, dia berkata kepada Allah,

يَا رَبِّ، وَكَيْفَ أُبْلِغُ النَّاسَ وَصَوْتِي لَا يَنْفُذُهُمْ؟ فَقِيلَ: نَادِ وَعَلَيْنَا الْبَلَاغُ

Wahai Tuhanku, bagaimanakah saya menyampaikan seruan itu kepada manusia, sedangkan suara  tidak dapat mencapai mereka?” Allah. berfirman, “Berserulah kamu, dan Aku yang menyampaikannya.”([4])

Kemudian disebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam naik ke atas maqamnya lalu berseru,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنْ رَبَّكُمْ قَدِ اتَّخَذَ بَيْتًا فَحُجُّوهُ

Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian telah membuat sebuah rumah (Baitullah), maka berhajilah (berziarahlah) kalian kepadanya.” ([5])

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menyampaikan seruan haji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang-orang yang Allah telah catat untuk berhaji. Maka dengan begitu Allah akan mendatangkan orang-orang untuk berhaji baik dengan berjalan kaki atau dengan hewan tunggangannya.

Kisah penyembelihan Ismaíl

Akan tetapi dalam hadits panjang di atas sama sekali tidak meyinggung kisah penyembelihan Nabi Ismai ‘alaihissalam. Hal ini karena hadits ini terfokus pada kisah pembangunan Ka’bah. Namun para Ulama menyebutkan bahwa ditengah-tengah ziarahnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang berulang-ulang kepada Nabi Ismail ‘alaihissalam di Mekkah terjadi kisah penyembelihan Ismaíl yang Allah abadikan kisahnya dalam surah Ash-Shaffat. Karenanya dalam hadits yang panjang di atas Ismáil mengetahui tentang sifat-sifat Ayahnya, dan ketika bertemu mereka langsung berpelukan karena mereka berdua sudah saling mengenal sebelumnya, wallahu a’lam.

Allah kembali lagi menguji Ibrahim pada hal yang berkaitan dengan apa yang dicintai oleh Ibrahim. Tatkala seseorang anak telah mencapai usia dewasa dan telah mampu untuk melanjutkan pekerjaan Ayahnya, maka disitulah puncak kecintaan seorang Ayah kepada anaknya. Maka saat itulah Allah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk menyembelih Ismail ‘alaihissalam. Allah berfirman :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi([6]) bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“. (QS. Ash-Shaffat : 102)

Saat itu kira-kira umur Isma’il belasan tahun dan umur Ibrahim sekitar 100 tahun, dan tentu ia mulai lemah dan mulai bertumpu kepada sang anak. Saat itulah puncak kecintaan seorang Ayah kepada sang anak. Namun ternyata Allah memerintahkan sang Ayah yaitu Ibrahim untuk menyembelih sang anak.

Ujian ini tentu lebih berat daripada ujian tatkala Ibrahim dilemparkan ke lautan api. Betapa sering seorang Ayah lebih mencintai anaknya dari pada dirinya sendiri.

Ibrahim berkata dengan penuh ketenangan :

يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

“Hai anakku sesungguhnya aku sedang melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”.

Perhatikanlah : mimpi telah berlalu, namun Nabi Ibrahim mengungkapkannya seakan-akan Beliau sedang melihat mimpi tersebut, padahal mimpi telah selesai. Ini menunjukan bahwa mimpi tersebut benar-benar hadir dalam benak Beliau tatkala Beliau menyampaikannya kepada putranya Isma’il.

Derajat wahyu para Nabi yang paling rendah adalah melalui mimpi([7]), lebih rendah derajatnya dari pada datangnya malaikat atau ilham langsung dari Allah apalagi bertemu langsung dengan Allah. Meskipun perintah menyembelih sang anak datang melalui derajat wahyu yang terendah namun Ibrahim sama sekali tidak ragu, tidak menanti mimpi datang untuk kedua atau ketiga kali, dan sama sekali tidak memberi penawaran kepada Allah, “Apakah ada perintah yang lain selain ini?”. Sama sekali tidak !!, Ibrahim langsung menunaikan perintah Allah.

Ibrahim tatkala menyampaikan perintah ini kepada sang anak, Beliau menyampaikan juga bukan dengan keras, Beliau tidak berkata, “Sesungguhnya Allah telah memerintahku untuk menyembelihmu, maka kamu harus taat”. Akan tetapi Ibrahim menyempaikannya dalam bentuk penawaran, فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى “Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu?”. Tujuannya agar Isma’il juga bisa menjalankan ketaatan tanpa ada keterpaksaan, akan tetapi benar-benar karena tunduk kepada Allah. Agar Isma’il juga meraih pahala yang besar dari Allah.

Ternyata sang anak tidak kalah sabarnya dengan sang Ayah. Beliau dengan serta merta menjawab يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”

Sungguh menakjubkan iman sang Ayah, dan tidak kalah menakjubkan juga adalah iman sang anak.

Allah telah menguji Ibrahim dengan ujian yang sangat berat, karena Ibrahim telah meraih predikat yang sangat tinggi, yaitu Kholillur Rahman (kekasih Allah).

Allah berfirman :

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai Kholil Nya (kesayanganNya)” (QS An-Nisaa : 125)

Ini adalah perdikat spesial yang tidak dimiliki oleh para Nabi yang lain, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya Nabi Ibrahim diuji pada perkara yang sangat ia cintai, yaitu putranya yang telah ditunggu kehadirannya puluhan tahun. Semua ini agar membuktikan bahwa kecintaannya kepada Allah lebih daripada segalanya.

Sungguh betapa sering seorang hamba diuji pada perkara-perkara dunia yang sangat ia cintai, apakah berkaitan dengan Istrinya, atau putranya, atau mobilnya, atau rumahnya, atau perkara-perkara yang lainnya, agar Allah membuktikan bahwa kecintaannya kepada Allah lebih dari segalanya, agar hati sang hamba tersebut tidak terikat kepada perkara-perkara dunia tersebut.

Ibrahim digoda syaitan

Meneladani Ibrahim álaihis salam dalam memusuhi dan tidak mentaati syaitan

Ibnu Ábbas meriwayatkan secara marfu’ :

«لَمَّا أَتَى إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ اللَّهِ الْمَنَاسِكَ عَرَضَ لَهُ الشَّيْطَانُ عِنْدَ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّانِيَةِ فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدِ الْجَمْرَةِ الثَّالِثَةِ فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ»

“Ketika Nabi Ibrahim kekasih Allah mendatangi manasik maka syaitan muncul menghadanginya/menggodanya di jamroh Áqobah, maka Nabi Ibrahim melemparnya dengan tujuh kerikil hingga syaitan tenggelam ke bumi. Lalu syaitan pun menggodanya di jamroh yang kedua maka Nabi Ibrahim melemparnya dengan tujuh kerikil hingga hilang di telan bumi, lalu syaitan muncul dan menggoda Beliau di jamroh yang ketiga, maka Nabi Ibrahim melemparnya dengan tujuh kerikil hingga syaitan menghilang di telan bumi”.

Ibnu Ábbas berkata الشَّيْطَانَ تَرْجُمُونِ وَمِلَّةَ أَبِيكُمْ تَتَّبِعُونَ “Kalian melempar syaitan dan kalian mengikuti agama Ayah kalian (Ibrahim)”. (HR Al-Hakim no 1713 dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro 9693 dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albani dalam Shahih At-Trghiib no 1156)

Dalam riwayat yang lain :

ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الْوُسْطَى فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَثَمَّ تَلَّهُ لِلجَبِينِ وَعَلَى إِسْمَاعِيلَ قَمِيصٌ أَبْيَضُ، وَقَالَ: يَا أَبَتِ، إِنَّهُ لَيْسَ لِي ثَوْبٌ تُكَفِّنُنِي فِيهِ غَيْرُهُ، فَاخْلَعْهُ حَتَّى تُكَفِّنَنِي فِيهِ، فَعَالَجَهُ لِيَخْلَعَهُ، فَنُودِيَ مِنْ خَلْفِهِ: {أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا} [الصافات: 105] فَالْتَفَتَ إِبْرَاهِيمُ، فَإِذَا هُوَ بِكَبْشٍ أَبْيَضَ أَقْرَنَ أَعْيَنَ

“…Kemudian syaitan menggodanya di jamroh yang tengah, maka Nabi Ibrahim melemparnya dengan 7 kerikil, di sanalah Ibrahim membaringkan Ismaíl di pelipisnya sementara Ismaíl memakai jubah putih, dan ia berkata, “Wahai Ayahanda tidak ada kain untuk mengkafankan aku kecuali baju ini, maka bukalah bajuku ini agar engkau mengkafankan aku dengan bajuku ini”. Maka Nabi Ibrahim mulai membuka baju Ismaíl maka Beliau dipanggil dari arah belakangnya, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”. Nabi Ibrahim menengok ke belakang tiba-tiba ada seekor domba yang putih bertanduk dan lebar matanya”([8])

Asy-Syingqithi berkata, “Seakan-akan melempar jamarot merupakan lambang dan isyarat permusuhan kepada syaitan yang Allah telah memerintahkan kita untuk memusuhinya dalam firmanNya

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Sesungguhnya syaitan adalah musuh kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh” (QS Fathir : 6),

dan juga dalam firmanNya -yang mengingkari orang-orang yang berwala kepada syaitan

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS al-Kahfi : 50).

Sebagaimana diketahui bahwasanya melempar dengan batu termasuk bentuk yang paling besar yang menunjukan akan permusuhan” ([9])

Proses Penyembelihan

Allah berfirman :

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya) (QS As-Sooffaat : 103)

Allah memuji keduanya, bahwasanya keduanya telah berserah diri inilah Islam yang sesungguhnya tunduk dan pasrah dengan perintah Allah.

Nabi Ibrahim membaringkan Isma’il di atas pelipisnya agar ia tidak melihat wajah anaknya yang kesakitan tatkala proses penyembelihan berlangsung, khawatir Ia mundur dari ujian berat ini. Demikian juga agar Ismaíl tidak melihat pisau yang tajam tersebut. Tatkala Nabi Ibrahim benar-benar akan menyembelih sang anak dan sang anak benar-benar telah pasrah untuk disembelih maka Allah telah mengetahui kesungguhan mereka berdua, maka tatkala itu Allah berkata :

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS As-Sooffaat : 104-105)

Artinya yaitu Wahai Ibrahim angkatlah tanganmu, hentikanlah penyembelihan tersebut. Sungguh engkau telah menjalankan perintah dalam mimpimu, dan Aku tidak perlu dengan darah anakmu.

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (QS As-Sooffaat : 106)

Akhirnya Allah menurunkan tebusannya.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (QS As-Sooffaat : 107)

Lalu Allah berfirman :

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ، سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ، إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaffat : 108-111)

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat : 112)

Terdapat khilaf dikalangan para Ulama Islam tentang siapa sebenarnya disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. akan tetapi orang-orang Yahudi dan Nasrani sepakat bahwa yang disembelih adalah Ishaq ‘alaihissalam. para Ulama kaum muslim ada yang mengatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail ‘alaihissalam dan adapula yang berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq ‘alaihissalam. Wallahu a’lam bisshawwab tentang siapa yang disembelih, akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyebutkan bahwa Nabi Ismail ‘alaihissalam yang disembelih([10]). Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut :

  1. Pertama : yang menguatkan pendapat bahwa Ismail ‘alaihissalam yang disembelih adalah karena Allah lebih dulu menyebutkan tentang kehadiran Ismail ‘alaihissalam daripada Ishaq ‘alaihissalam sebagaimana yang disebutkan dalam surah Ash-Shaffat di atas. Sehingga kalau benar bahwa Ishaq ‘alaihissalam yang disembelih, maka tentu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akan heran karena Allah telah menjanjikan keNabian untuk Ishaq ‘alaihissalam, maka kenapa harus disembelih sebelum menjadi Nabi?
  2. Kedua : adalah Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam ayat yang lain,

فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

Maka Kami sampaikan kepadanya (Sarah) berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud : 71)

Kabar gembira tersebut disampaikan kepada Sarah sebelum lahirnya Ishaq ‘alaihissalam. dan dalam kabar tersebut disebutkan bahwa Ishaq kelak akan memiliki anak bernama Ya’qub. Maka jika dalam kondisi seperti itu, kemudian diperintahkan untuk menyembelih Ishaq ‘alaihissalam, maka tentu akan semakin mengherankan karena Allah telah menjanjikan anak yaitu Ya’qub ‘alaihissalam dari Ishaq ‘alaihissalam.

  1. Ketiga : adalah karena disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa kambing yang menjadi ganti dari penyembelihan tersebut diletakkan disamping Ka’bah di Mekkah. Sedangkan Ishaq ‘alaihissalam tidak berada di Mekkah melainkan di negeri Syam.

Demikianlah beberapa alasan dan dalil yang menguatkan pendapat bahwa yang hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah Ismail dan bukan Ishaq ‘alaihimassalam. Dan ini pun menjadi dalil tentang kemulian Ismail ‘alaihissalam.

Pelajaran Yang Diambil

Sungguh banyak sekali pelajaran dan ‘ibroh yang bisa kita dapatkan dari kisah pengorbanan ini. Diantaranya :

  • Pertama: Disyariatkannya untuk meninggalkan tempat yang merupakan konsentrasi musuh Islam di situ jika sudah tidak memungkinkan lagi untuk berdakwah. Sebagaimana Nabi Ibrahim meninggalkan kampung halamannya karena seluruh kaumnya memusuhi dakwahnya.
  • Kedua: Dianjurkan untuk berdoa kepada Allah agar menganugrahkan anak yang shalih. Sungguh diantara anugrah terbesar kepada seseorang adalah memperoleh anak yang shalih.
  • Ketiga: Para Nabi mereka berdoa kepada Allah, karena mereka adalah hamba sehingga beribadah dan berdoa kepada sang Pencipta. Karenanya tidak boleh seseorang meminta kepada Nabi sebagaimana kaum Nashoro meminta dan berdoa kepada Nabi Isa apalagi meminta kepada mayat-mayat di kuburan, ini semua adalah kesyirikan.
  • Keempat: Disyariatkannya bermusyawarah antara seorang Ayah dan anak dalam menghadapi permasalahan berat, terutama jika sang anak adalah seorang anak yang shalih dan permasalahan yang dihadapi berkaitan juga dengan sang anak.
  • Kelima: Orang yang beriman pasti diuji, dan semakin tinggi keimanan seseorang maka semakin berat ujiannya. Allah berfirman tentang ujian yang dihadapi oleh Ibrahim dan Isma’il :

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (QS As-Sooffaat : 106)

Ujian ini sangat berat dan sangat nyata menampakan kuatnya aqidah Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam.

Sungguh benar sabda Nabi :

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُوْنَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

“Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, lalu selanjutnya dan selanjutnya”

Ujian Ibrahim Nampak pada perkara-perkara berikut :

Ibrahim sudah sangat tua tatkala ujian tersebut. Dan Beliau tentu sangat butuh dengan bantuan anaknya, akan tetapi justru sang anak diperintahkan untuk disembelih
Orang yang diperintahkan untuk disembelih adalah buah hatinya yang telah dinanti kehadirannya puluhan tahun !!.

Seseorang tatkala terkena ujian dan musibah yang lain ia masih bisa kuat menghadapinya, akan tetapi begitu terasa berat tatkala yang terkena musibah adalah buah hatinya ?

Isma’il tatkal diperintahkan untuk disembelih bukan tatkala masih kecil akan tetapi tatkala sudah remaja. Saat itulah kecintaan seorang Ayah kepada anaknya di posisi puncak kecintaan. Seandainya hilangnya dan wafatnya seorang anak karena kecelakaan atau tanpa kesengajaan maka itu tentu suatu perkara yang berat, bagaimana lagi jika ternyata sang Ayah yang diperintahkan untuk menyembelih sang anak.

Terlebih lagi anak yang diperintahkan untuk disembelih adalah anak yang sangat taat kepada orang tuanya. Sedangkan kehilangan seorang anak yang kurang taat saja sangat menyedihkan hati apalagi anak yang taat??

  • Keenam: Betapa besar dan berat ujian yang dihadapi oleh seseorang maka jika seseorang bertakwa kepada Allah maka pasti ada solusinya. Lihatlah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bertakwa dan bersabar bahkan pasrah menghadapi ujian tersebut maka Allahpun mengirim tebusan berupa seekor domba sebagai pengganti Nabi Isma’il.

Allah berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan jalan keluar (solusi) baginya” (QS AT-Tholaq : 2)

Dengan takwa maka pasti ada solusi cepat atau lambat. Karenanya jika seseorang menghadapi permasalahan dan ujian lantas ia tidak mendapatkan solusi maka hendaknya ia mencurigai dirinya, jangan-jangan ia tidak atau belum bertakwa kepada Allah.

  • Ketujuh: Terkadang solusi datang di puncak kesulitan. Tebusan domba tidaklah Allah datangkan kecuali tatkala Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya Isma’il. Maka janganlah seseorang pernah putus asa dalam menghadapi ujian.

Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tatkala putranya Yusuf hilang, lalu adiknya Binyamin tertahan, lalu kakak mereka juga tertahan di Mesir, yaitu setelah ketiga anaknya tertahan maka ia berkata :

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS Yusuf : 83)

Lalu Beliau berkata :

يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS Yusuf : 87)

  • Kedelapan: Perkataan Isma’il ‘alaihis salam tatkal dikabarkan tentang perintah untuk disembelih : سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ “insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Ini adalah kalimat tawakkal kepada Allah, dimana Isma’il menyerahkan kesabarannya kepada kehendak Allah. Kalimat yang jauh dari sikap ujub, dan kalimat inilah yang menyebabkan datangnya kekuatan dari Allah dan pertolongan dari Allah.
  • Kesembilan: Sikap Nabi Ibrahim tatkala hendak menyembelih putranya dengan membaringkan Isma’il di atas pelipisnya adalah diantaranya untuk menghilangkan segala gangguan yang bisa menghalangi seseorang dalam menjalankan perintah Allah. Karena jika Ibrahim melihat wajah Isma’il yang kesakitan tatkala disembelih bisa jadi hatinya menjadi kurang kuat dalam menjalankan perintah Allah. Maka seseorang tatkala menjalankan perintah Allah berusaha menghilangkan seluruh rintangan dan gangguan yang bisa memundurkannya dari menjalankan perintah Allah.
  • Kesepuluh: Kecintaan Ibrahim kepada anaknya tidak menghalangi Beliau untuk menjalankan perintah Allah kepada sang anak. Namun sebaliknya ada sebagian orang tua yang terlalu cinta kepada anaknya sehingga kasihan untuk membangunkan sang anak dari tidurnya yang pulas untuk sholat subuh. Ini adalah kecintaan yang keliru yang justru merupakan bentuk pengkhianatan kepada agama sang anak. Justru kalua orang tua sayang kepada sang anak maka seharusnya ia membangungkan sang anak untuk sholat subuh.
  • Kesebelas : Karena kisah pengorbanan Nabi Ibrahim inilah disyari’atkannya kurban setiap tahun. Kisah ini hampir semua kaum muslimin mengetahuinya. Akan tetapi apakah semua kaum muslimin tatkala menyembelih kurban menghadirkan kisah pengorbanan ini dalam hatinya ?
  • Kedua belas: Menyembelih sembelihan karena Allah adalah ibadah yang mulia. Allah menggandengkannya dengan ibadah sholat.
  • فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah hanyak kepada Robbmu dan sembelihlah (hanya kepada Robbmu)” (QS Al-Kautsar : 2).

Maka sebagaimana sholat tidak boleh diserahkan kecuali hanya kepada Allah, maka demikian pula tidak boleh seseorang menyembelih kepada selain Allah, karena hal itu merupakan kesyirikan, seperti menyembelih kepada jin yang sering dilakukan oleh sebagian saudara kita yang tidak mengetahui akan dosa kesyirikan tersebut.

 

Kisah penyembelihan Ismaíl dijadikan sebab disyariátkannya hari kurban setiap tahun, yaitu setiap 10 dzulhijjah. 10 dzulihijjah dikenal dengan hari ‘iedul adha’, dikenal juga sebagai hari an-Nahr yang disebut oleh Allah sebagai al-hajju al-akbar. Hari terbaik sepanjang tahun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ

“Sesungguhnya hari teragung di sisi Allah ta’aalaa adalah hari an-Nahr” ([11])

Hari yang agung yang kita lalui setiap tahun, selalu mengingatkan kita akan sebuah pengorbanan besar yang dilakukan oleh seorang Ayah dan anaknya, yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam. Pengorbanan yang luar biasa yang menunjukan ketundukan luar bisa kepada Allah, menunjukan kecintaan yang luar biasa kepada Allah. Kisah pengorbanan mereka berdua yang Allah abadikan dalam al-Qur’an.

Footnote:

_____________

([1]) HR. Bukhari 4/144 no. 3364

([2]) lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/68

([3]) Ibrahim adalah sosok yang selalu merendah di hadapan Allah. Meskipun beliau adalah kekasih Allah beliau tetap saja berdoa agar amal ibadah beliau diterima. Wuhaib bin al-Ward membaca firman Allah

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqoroh : 127)

Lalu beliaupun menangis, dan berkata :

يَا خَلِيلَ الرَّحْمَنِ تَرْفَعُ قَوَائِمَ بَيْتِ الرَّحْمَنِ وَأَنْتَ مُشْفِقٌ أَنْ لَا يَقْبَلَ منك

“Wahai kekasih Allah, engkau membangun rumah Allah, lalu engkau khawatir bahwa Allah tidak menerima amalmu darimu…” (Tafsir Ibn Abi Hatim 1/233 no 1240, dan dinukil juga oleh Ibnu Katsir 1/427)

Ibrahim álaihis salam meskipun seorang kekasih Allah beliau tetap saja kawatir dengan kondisi beliau pada hari kiamat. Beliau berdoa dengan doa yang diabadikan dalam al-Qurán, Ibrahim berkata :

وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ، وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ، رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ، وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ، وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ، يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“…dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS Asy-Syu’aroo : 81-89)

([4]) Tafsir Ibnu Katsir 5/414

([5]) Tafsir Ibnu Katsir 5/414

([6]) Dikatakan oleh Ibnu Abbas sebagaimana dinukil oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya (Tafsir Al-Qurthubi 15/102) diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari secara Mu’allaq dari ‘Ubaid bin Umair bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya mimpi para Nabi adalah wahyu” (Sahih Bukhori 1/171 Hadist no. 859)

([7]) Adapun derajat wahyu adalah sebagai berikut :

Pertama : Mimpi yang benar

Kedua : Wahyu yang dilemparkan malaikat ke hati nabi tanpa melihat malaikat tersebut

Ketiga : Malaikat menjelma menjadi seorang lelaki lalu berbicara dengan nabi

Keempat : Wahyu datang seperti bunyi lonceng yang keras

Kelima : Malaikat datang dalam bentuknya yang asli

Keenam : Allah wahyukan langsung sementara Nabi di atas langit pada waktu malam isra’ mi’roj

Ketujuh : Berbicara langsung dengan Allah tanpa perantara malaikat (Lihat Zaadul Maáad, Ibnul Qoyyim 1/77-79)

([8]) HR Ahmad no 2707, lihat juga Fathul Baari 12/378

Ibnu Hajar juga menyebutkan riwayat-riwayat, bahwa di awal Islam tanduk domba tersebut masih digantungkan di mizab ka’bah atau di tergantung di dalam ka’bah

([9]) Adwaaul Bayaan 4/479-480.

Al-Ghozali berkata, “Adapun melempar jamarot maka jadikanlah tujuannya adalah untuk tunduk kepada perintah Allah dengan menampakan penghambaan dan membudakan diri kepadaNya, yaitu dengan semangat bangkit menjalankan perintahnya meskipun tidak memahami dan tidak keuntungan bagi jiwa. Lalu niatkan untuk meniru Nabi Ibrahim álaihis salam dimana beliau digoda oleh Iblis -yang dilaknat oleh Allah- di lokasi tersebut untuk memasukan syubhat kepada beliau atau untuk menjerumuskan beliau dalam kemaksiatan. Maka Allah memerintah beliau untuk melemparnya dengan batu untuk mengusirnya dan memutuskan harapannya.

Jika terbetik dalam benakmu bahwasanya syaitan memang menggoda Ibrahim dan disaksikan oleh Ibrahim maka Ibrahim pun melemparnya, adapun aku maka syaitan tidak muncul menggodaku, maka ketahuilah bahwa pikiran ini dari syaitan, dialah yang telah melemparkan pemikiran itu kepada hatimu agar engkau jadi malas melempar, dan ia mengkhayalkan kepadamu bahwa melempar jamarot adalah perbuatan yang tidak ada faidahnya dan hanya mirip dengan permainan belaka, maka cueklah darinya dan buanglah pemikiran tersebut dari dirimu dengan serius dan semangat dalam melempar sehingga menjengkelkan syaitan.

Ketahulilah sesungguhnya engkau meskipun secara dzhohir sedang melempar kerikil ke jamarot namun pada hakikatnya engkau sedang melempar wajah syaitan, dan engkau mematahkan pundaknya. Karena tidaklah menjadikan syaitan jengkel kecuali jika engkau menjalankan perintah Allah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah dengan menjalankan perintahNya meskipun tidak ada manfaat bagi jiwa dan tidak bisa dipahami” (Ihyaa’ Úluum ad-Diin 1/270)

([10]) Lihat Tafsir Al-Qurthubi 15/100-101

([11]) HR Abu Dawud no 1765 dan dishahihkan oleh Al-Albani