Kisah Nabi Ibrahim di Harran dan Mesir

Kisah Nabi Ibrahim di Harran dan Palestina

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di Harran

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kembali bertemu dengan kaum yang berbuat kesyirikan di Harran. Akan tetapi kesyirikan yang mereka lakukan, berbeda dengan kesyirikan yang dilakukan oleh kaumnya di Babil. Kalau di Babil penduduknya menyembah berhala, di Harran menyembah benda-benda langit([1]). Kisah inilah yang orang-orang mengira bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mencari tuhan, padahal tidak demikian. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah orang yang sejak awal telah dan mendakwahkan tauhid. Hanya saja di antara metode dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah berdialog dengan kaumnya yang dengan dialog tersebut membuat mereka berpikir, sebagaimana yang beliau lakukan di Babil. Maka tidak benar anggapan orang-orang bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mencari tuhan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am : 75)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah yakin terhadap keberadaan tuhan sebelum berdialog dengan kaumnya di Harran. Maka bertemulah beliau dengan kaum yang menyembah benda-benda langit. Ketahuilah bahwa model kesyirikan di alam semesta ini hanya dua, yaitu kalau tidak menyembah benda-benda di bumi, maka pasti menyembah benda-benda di langit. Dua model kesyirikan tersebut dihadapi oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang dialog yang terjadi antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan kaumnya yang menyembah benda-benda langit dalam firmannya,

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

Maka Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam“. (Al-An’am : 76)

Firman Allah فَلَمَّا , di sini Allah menggunakan huruf faa’ yang menunjukan tertib (urutan). Yaitu setelah Ibrahim yakin dan beriman (sebagaimana disebutkan pada ayat sebelumnya) baru kemudian terjadi kisah “ketika malam telah gelap….dst”.

Jadi di dalam ayat ini, Nabi Ibrahim sedang berdialog dengan kaumnya yang menyembah bintang-bintang dan bukan mencari tuhan. Akan tetapi perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang seperti itu ditujukan agar kaumnya itu mau berpikir bahwa benda-benda langit tidak pantas jadi tuhan. Seakan-akan Ibrahim berkata kepada kaumnya, “Bintang adalah tuhanku, marilah bersamaku kita merenung tentang bintang apakah pantas menjadi tuhan kita?, apakah ada pendapat yang menguatkannya sebagai tuhan?”. Ibrahim menampakan seakan-akan ia mengakui benda-benda langit tersebut sebagai tuhan, namun dalam rangka untuk membantah, agar kaumnya berfikir.

Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdialog dengan kaumnya yang menyembah bulan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat“. (QS. Al-An’am : 77)

Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdialog dengan kaumnya yang menyembah matahari. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَاقَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

Maka ini dalil bahwasanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak sedang mencari tuhan, tetapi berdialog dengan kaumnya. Oleh karenanya Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan,

وَالْحَقُّ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ، عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، كَانَ فِي هَذَا الْمَقَامِ مُنَاظِرًا لِقَوْمِهِ

Yang benar, bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, pada posisi itu, beliau sedang berdebat dengan kaumnya.”([2])

Kemudian Nabi Ibrahim berkata kepada kaumnya tersebut,

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am : 79)

Setelah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata demikian kepada mereka, ternyata kaumnya pun mendebat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Mereka tidak terima tatkala mereka dikatakan berbuat kesyirikan. Bahkan kaumnya menakut-nakuti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan sesembahan mereka. Akan tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak peduli dengan perkataan dan ancaman mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada mereka tatkala dia dibantah dan ditakut-takuti oleh kaumnya,

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ، وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya”. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” (QS. Al-An’am : 80-81)

Akan tetapi Akhirnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun diusir oleh kaumnya dari Harran.

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di Mesir

Pada suatu ketika pergilah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membawa istrinya Sarah dari Harran melintasi negeri Mesir. Ternyata Raja yang menguasai negeri Mesir ketika itu adalah Raja yang mata keranjang. Ia memiliki orang orang yang mencari wanita-wanita yang cantik.

Rasulullah shallallahu álaihi wasallam bersabda :

هَاجَرَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِسَارَةَ، فَدَخَلَ بِهَا قَرْيَةً فِيهَا مَلِكٌ مِنَ المُلُوكِ، أَوْ جَبَّارٌ مِنَ الجَبَابِرَةِ، فَقِيلَ: دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بِامْرَأَةٍ هِيَ مِنْ أَحْسَنِ النِّسَاءِ (وفي رواية : لَقَدْ قَدِمَ أَرْضَكَ امْرَأَةٌ لَا يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تَكُونَ إِلَّا لَكَ)، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ: أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ مَنْ هَذِهِ الَّتِي مَعَكَ؟ قَالَ: أُخْتِي، ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهَا فَقَالَ: لاَ تُكَذِّبِي حَدِيثِي، فَإِنِّي أَخْبَرْتُهُمْ أَنَّكِ أُخْتِي، وَاللَّهِ إِنْ عَلَى الأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرُكِ، فَأَرْسَلَ بِهَا إِلَيْهِ (وفي رواية : فَقَامَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى الصَّلَاةِ) فَقَامَ إِلَيْهَا (وفي رواية : فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهِ لَمْ يَتَمَالَكْ أَنْ بَسَطَ يَدَهُ إِلَيْهَا)، فَقَامَتْ تَوَضَّأُ وَتُصَلِّي، فَقَالَتْ: اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ آمَنْتُ بِكَ وَبِرَسُولِكَ، وَأَحْصَنْتُ فَرْجِي، إِلَّا عَلَى زَوْجِي فَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيَّ الكَافِرَ، فَغُطَّ حَتَّى رَكَضَ بِرِجْلِهِ، (وفي رواية : فَقُبِضَتْ يَدُهُ قَبْضَةً شَدِيدَةً، فَقَالَ لَهَا: ادْعِي اللهَ أَنْ يُطْلِقَ يَدِي وَلَا أَضُرُّكِ) قَالَتْ: اللَّهُمَّ إِنْ يَمُتْ يُقَالُ هِيَ قَتَلَتْهُ، فَأُرْسِلَ ثُمَّ قَامَ إِلَيْهَا، فَقَامَتْ تَوَضَّأُ تُصَلِّي، وَتَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ آمَنْتُ بِكَ وَبِرَسُولِكَ وَأَحْصَنْتُ فَرْجِي إِلَّا عَلَى زَوْجِي، فَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيَّ هَذَا الكَافِرَ، فَغُطَّ حَتَّى رَكَضَ بِرِجْلِهِ، فَقَالَتْ: اللَّهُمَّ إِنْ يَمُتْ فَيُقَالُ هِيَ قَتَلَتْهُ، فَأُرْسِلَ فِي الثَّانِيَةِ، أَوْ فِي الثَّالِثَةِ، فَقَالَ: وَاللَّهِ مَا أَرْسَلْتُمْ إِلَيَّ إِلَّا شَيْطَانًا، ارْجِعُوهَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ، وَأَعْطُوهَا آجَرَ فَرَجَعَتْ إِلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، فَقَالَتْ: أَشَعَرْتَ أَنَّ اللَّهَ كَبَتَ الكَافِرَ وَأَخْدَمَ وَلِيدَةً (وفي رواية : فَأَخْدَمَهَا هَاجَرَ)

Ibrahim álihis salam berhijrah dengan Sarah, maka Ibrahim pun membawa Sarah masuk ke sebuah negeri yang di situ ada seorang Raja atau seorang penguasa yang dzalim. Maka dikatakan kepadanya, “Telah masuk ke negerimu Ibrahim dengan seorang wanita yang termasuk wanita tercantik” (dalam riwayat yang lain : Telah datng ke negerimu seorang wanita yang tidak pantas kecuali hanya untukmu([3])). Maka Raja tersebut mengirim utusan untuk bertanya kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, siapakah wanita ini yang bersamamu?”. Ibrahim berkata, “Saudariku”. Kemudian Ibrahim berkata kepada Sarah, “Janganlah engkau mendustakan perkataanku, karena aku telah mengabarkan kepada mereka bahwasanya engkau adalah saudariku. Demi Allah tidak ada di atas muka bumi seorang mukmin selain aku dan engkau”. Maka Ibrahim pun melepas Sarah kepada sang Raja, (dalam riwayat yang lain : Maka Ibrahim pun shalat([4])) maka sang Rajapun bangun menuju Sarah (dalam riwayat yang lain : Tatkala Sarah diketemukan dengan sang Raja maka sang Raja tidak kuasa menahan dirinya untuk menjulurkan tangannya ke Sarah). Maka Sarahpun bangun lalu wudhu dan shalat, ia pun berdoa, “Ya Allah sungguh aku telah beriman kepadamu dan kepada Rasul-Mu, dan aku telah menjaga kemaluanku kecuali hanya kepada suamiku, maka janganlah engkau menjadikan orang kafir ini (sang Raja) menguasai diriku”. Maka Raja tersebut tercekik (dan mengeluarkan suara orang tercekik) hingga menggerak-gerakan kakinya dan menendangkannya di tanah([5]). (Dalam riwayat yang lain : Maka tangannya terbelenggu dengan belenggu yang kuat. Maka ia pun berkata kepada Sarah : Berdoalah kepada Allah, maka aku tidak akan menyakitimu) Sarah berdoa, “Ya Allah jika Raja ini mati maka akan dikatakan sang wanita (Sarah) telah membunuhnya”. Maka terlepaslah Raja tersebut, kemudian ia kembali menuju Sarah. Maka Sarahpun berwudhu dan shalat  dan berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku beriman kepadaMu dan Rasul-Mu dan aku menjaga kemaluanku kecuali hanya kepada suami, maka janganlah engkau menjadikan orang kafir ini menguasaiku”. Maka Raja tersebut tercekik (dan mengeluarkan suara orang tercekik) hingga menggerak-gerakan kakinya dan menendangkannya di tanah. Sarah berdoa, “Ya Allah jika Raja ini mati maka akan dikatakan sang wanita (Sarah) telah membunuhnya”. Maka terlepaslah Raja tersebut, kedua kali atau ke tiga kali, maka Raja tersebut berkata, “Demi Allah kalian tidak mengirim kepadaku melainkan syaitan, kembalikan wanita ini kepada Ibrahim, dan berikanlah kepada wanita ini pembantu”. Maka Sarahpun kembali kepada Ibrahim álaihis salam, lalu ia berkata, “Lihatlah, Allah mengalahkan Raja kafir dan memberikan pembantu wanita. (dalam riwayat yang lain : Maka sang Raja memberikan Hajar([6]) untuk membantu Sarah)” ([7])

Maksud dari perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam “Tidak ada orang beriman di muka bumi ini kecuali aku dan kamu” adalah tidak ada orang yang beriman kepada Allah kecuali mereka berdua di negeri Mesir tersebut. Karena sebagaimana telah dijelaskan bahwasanya Luuth álaihis salam juga beriman, hanya saja ia berada di negeri yang lain, yaitu di kota Sodom. Atau kata para ulama maksudnya adalah tidak ada pasangan suami istri yang beriman kecuali mereka berdua. Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta Sarah untuk ikut mengakui bahwa dia adalah saudara perempuannya. Karena jika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengatakan bahwa dia adalah suaminya, maka pasti dia akan dibunuh. Sehingga agar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam selamat, dia pun mengatakan bahwa Sarah adalah saudarinya. Dan inilah kedustaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang ketiga.

Tiga dusta ini yang menghalangi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk memberi syafaat pada hari kiamat kelak di padang mahsyar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ فَيَقُولُونَ: يَا إِبْرَاهِيمُ أَنْتَ نَبِيُّ اللَّهِ وَخَلِيلُهُ مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ، فَيَقُولُ لَهُمْ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنِّي قَدْ كُنْتُ كَذَبْتُ ثَلاَثَ كَذِبَاتٍ نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى مُوسَى

“Maka merekapun mendatangi Ibrahim, maka mereka berkata, “Wahai Ibrahim, engkau adalah seorang Nabinya Allah dan kekasih Allah dari penghuni bumi, berilah syafaát bagi kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau lihat kondisi kami?”. Maka Ibrahim berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Rabbku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah Rabbku murka seperti itu sebelumnya dan tidak akan murka seperti itu setelahnya. Sesungguhnya aku pernah berdusta tiga kali. Jiwaku, jiwaku, jiwaku (justru yang butuh kepada syafaát([8])), pergilah kepada Nabi yang lain, pergilah kalian kepada Musa” ([9])

Bagaimana mulia dan takwanya Ibrahim, kedudukannya sebagai kekasih Allah tidaklah menjadikan beliau pada hari kiamat merasa pantas untuk memberikan syafaát. Bahkan tiga kedusataan yang beliau pernah lakukan selalu teringat oleh beliau, dan beliau anggap sebagai perkara yang besar yang menjadikan beliau tidak berani memberi syafaat. Padahal ketiga kedustaan tersebut semuanya karena Allah dan dalam kondisi terdesak. Dan hendaknya inilah sifat seorang yang beriman tidak pernah ujub dan bangga dengan amal shalih yang telah ia kerjakan.

Lihat Ibrahim meskipun beliau adalah kekasih Allah akan tetapi beliau tetap berdoa kepada Allah dengan penuh tawadu:

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ، رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ، وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ، وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ، يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah Bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS Asy-Syuároo : 82-89)

Masih panjang kisah Nabi Ibrahim seperti :

  • Perjalanan Ibrahim álaihis salama menemani Hajar dan Ismaíl ke Mekah. (akan dibahas di kisah Nabi Ismaíl)
  • Kisah Ibrahim menjamu tamu-tamu malaikat (akan dibahas pada kisah Nabi Luth)

Kisah Ibrahim di Perjanjian Lama (Bible)

Adapun di Bible (Perjanjian Lama) maka tidak disebutkan tentang bagaimana dakwah Nabi Ibrahim dan perdebatan beliau terhadap kaum musyrikin dan Raja Numrud. Akan tetapi Bible hanya fokus tentang keluarga Ibrahim (Abraham) yang merupakan nenek moyang silsilah Bani Israíl. Lain halnya dengan al-Qurán yang fokus menceritakan tentang perjuangan dakwah Ibrahim serta ujian berat yang dialami oleh beliau. Ini semua tidak disebutkan dalam Bible.

Footnote:
____

([1]) Lihat Qashah Al-Anbiya’ 1/169

([2]) Tafsir Ibnu Katsir 3/292

Yang menunjukan bahwa ini adalah bentuk dialog Ibrahim dengan kaumnya (bukan sedang mencari tuhan) adalah perkara-perkara berikut :

Pertama : Sebelum terjadi dialog Allah sudah menyatakan bahwa Ibrahim termasuk orang yang yakin.

Kedua : Allah sendiri telah menyebutkan di akhir kisah bahwa ini adalah perdebatan. Allah berfirman :

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku (QS Al-Anám : 80)

Allah juga berfirman setelah itu وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya” (QS Al-Anám : 83)

Ketiga : Sebagaimana telah lalu ayat-ayat yang menunjukan bahwa Ibrahim tidak pernah berbuat syirik sama sekali (Lihat al-‘Adzb al-Muniir, Asy-Syingqithy 1/414)

Keempat : Para ulama juga telah sepakat bahwa para nabi dan rasul ma’shum (terjaga) dari melakukan kekufuran, sementara meyakini bintang atau bulan atau matahari sebagai Rabb adalah kekufuran yang nyata.

Kelima : Bisa jadi perkataan Ibrahim هَذَا رَبِّي “Ini tuhanku”, maksudnya bukan pernyataan tapi pertanyaan yang beliau tujukan kepada kaumnya agar mereka berfikir, yaitu أَهَذَا رَبِّي؟ “Ini tuhanku?”, hanya saja huruf hamzah أَ untuk bertanya dihilangkan. Hal ini seperti firman Allah أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ “maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?”(QS Al-Anbiya’ : 34), yaitu maknanya أَفَهُمُ الْخَالِدُونَ,  hanya saja hamzah untuk bertanya dihapuskan karena dipahami. (Lihat Tafsir at-Thobari 7/26)

([3])  Dikatakan setelah Hawwa hingga zamannya Saarah tidak ada wanita yang lebih cantik dari Sarah (Lihat Qoshosh al-Anbiyaa 1/198)

([4])  Syariát shalat telah ada sejak dahulu hanya saja mungkin terdapat perbedaan dalam tata cara dan jumlah rakaatnya. Yang jelas disebutkan dalam hadits bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendirikan shalat. Bahkan dalam kisah di atas Sarah berwudhu juga. Sehingga Ibnu Hajar merajihkan pendapat bahwa wudhu juga disyariátkan pada umat-umat sebelumnya, hanya saja yang menjadi keistimewaan umat ini adalah adanya cahaya bekas wudhu pada hari kiamat. (LIhat Fathul Baari 1/236)

([5]) Lihat penjelasan al-‘Aini di Umdatul Qoori 12/31.

([6]) Disebutkan bahwa Ayahnya Hajar adalah salah seorang raja kaum al-Qibth (Lihat Fathul Baari 6/394)

([7]) HR al-Bukhari no 3357, 3358 dan Muslim no 2371

([8]) HR al-Bukhari no 4712 dan Muslim no 194

([9]) Lihat Irsyaad as-Saari, al-Qostholaani 7/205