Pentingnya Memperhatikan Adab-Adab Mencari ilmu

Adab-Adab Penuntut ilmu

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Telah diketahui bersama bahwa ilmu adalah sesuatu yang sangat agung dan menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar nilainya. Di antara dalil yang menunjukkan akan keagungan ilmu dan pemiliknya adalah firman Allah ﷻ,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ali ‘Imran: 18)

Dalam ayat di atas Allah ﷻ menggandengkan antara persaksian dirinya dan persaksian malaikat dengan persaksian ahli ilmu. Ini menunjukkan agungnya kedudukan para pemilik ilmu, sekaligus menunjukkan agungnya kedudukan ilmu itu sendiri.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah   akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”([1])

Menempuh jalan untuk beribadah ada banyak macamnya. Di antaranya seperti menempuh jalan menuju masjid untuk melaksanakan salat berjamaah, menempuh jalan demi berbakti kepada orang tua, menempuh jalan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, menempuh jalan untuk menjenguk orang sakit, menempuh jalan untuk bersilaturahmi, dan seterusnya. Tidak diragukan lagi perjalanan-perjalanan tersebut merupakan ibadah-ibadah yang bisa mengantarkan seseorang menuju surga. Namun ternyata dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ mengkhususkan perjalanan seseorang menuntut ilmu adalah jalan yang paling mudah mengantarkan seseorang menuju surga. Mengapa demikian? Hal ini karena ilmu akan membuka pintu-pintu atau jalan-jalan ibadah lainnya bagi seseorang, sehingga ia akan mengetahui kebaikan-kebaikan yang harus ia kerjakan dan juga mengetahui keburukan-keburukan yang harus ia tinggalkan.

Oleh karena itu, sebagaimana seseorang sadar bahwa salat malam yang ia lakukan adalah ibadah, harta yang ia sedekahkan juga ibadah, maka seharusnya ia pun sadar bahwa aktivitas yang ia lakukan ketika duduk di majelis ilmu, mendengarkan, mencatat, mempelajari, menghayati, dan memurajaah ilmu, itu semua adalah ibadah. Dari sini, seorang penuntut ilmu dituntut untuk memperhatikan aturan dan adab-adab menuntut ilmu, sebab aktivitas yang ia lakukan adalah suatu ibadah, sama halnya seperti ibadah-ibadah lainnya yang memiliki aturan dan adab-adab.

Keutamaan Adab dan Akhlak

Ketika berbicara tentang adab maka akan terbetik pada benak seseorang adalah berbicara tentang akhlak. Hal ini adalah suatu yang benar sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,

وَحَقِيقَةُ الْأَدَبِ اسْتِعْمَالُ الْخُلُقِ الْجَمِيلِ

“Hakikat adab adalah menggunakan akhlak yang indah.” ([2])

Perhatian syariat terhadap akhlak sangatlah besar. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” ([3])

Hadis di atas menunjukkan bahwa di antara maqashid syariah (maksud syariat) adalah untuk menyempurnakan akhlak. Ungkapan “menyempurnakan” memberi isyarat bahwa perkara akhlak adalah perkara yang sudah dikenal sebelumnya oleh kaum jahiliah, sehingga kedatangan Nabi Muhammad ﷺ adalah untuk menyempurnakannya.

Meskipun mereka juga melakukan kemaksiatan-kemaksiatan tetapi mereka juga memiliki akhlak mulia yang diwariskan secara turun temurun dari nenek-nenek moyang mereka. Di antaranya seperti memuliakan tamu yang merupakan warisan kakek moyang mereka yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sebagaimana diketahui semua orang Quraisy adalah keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam. Di antaranya juga adalah kejujuran, keberanian, dermawan, setia, menepati janji, dan seterusnya.

Semisal kisah Hatim At-Tha’i ayah dari ‘Adi bin Hatim tentang sifat al-karam (kedermawanan). Hatim At-Tha’i adalah seorang yang sangat dermawan, sampai-sampai pada saat itu ketika orang-orang berbicara tentang kedermawanan maka dia dijadikan sebagai contoh orang yang dermawan. Disebutkan dalam biografinya bahwasanya ketika dia ingin menjamu tamu maka dia akan menyalakan api yang sangat besar. Hal ini agar menjadi tanda yang dapat dilihat dari kejauhan bagi orang-orang yang sedang safar ataupun yang sedang lapar bahwa dia sedang siap untuk menjamu tamu dengan mempersiapkan hidangan makanan, sehingga orang-orang tersebut datang mengunjungi kediamannya. Bahkan yang lebih menakjubkan, disebutkan bahwa Hatim At-Tha’I menjanjikan kemerdekaan untuk budaknya jika api yang dinyalakan budaknya menghasilkan tamu untuk dijamunya. Inilah salah satu contoh sifat dermawan yang dipraktikkan oleh kaum jahiliah dahulu.

Demikian pula seperti kisah Abul Bakhtari tentang sifat al-wafa’ (kesetiaan). Dia adalah seorang yang baik dan pernah menolong Nabi Muhammad ﷺ dalam beberapa kejadian, meskipun dia adalah orang musyrik. Sampai tiba perang Badar, Nabi Muhammad ﷺ menyuruh para sahabat untuk bertempur melawan kaum musyrikin tetapi Nabi Muhammad ﷺ melarang membunuh Abul Bakhtari karena pernah berbuat baik kepada Nabi Muhammad ﷺ. Tatkala perang berkecamuk, para sahabat berjumpa dengan Abul Bakhtari dan mengatakan, “Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ melarang kami membunuhmu.” Abul Bakhtari berkata, “Bagaimana dengan temanku?” Kemudian para sahabat menegaskan bahwa yang tidak diperbolehkan dibunuh oleh Nabi Muhammad ﷺ hanyalah Abul Bakhtari, adapun yang lainnya tetap dibunuh. Abul Bakhtari kemudian berkata, “Tidak, aku akan mati bersama kawanku. Saya tidak ingin wanita-wanita di Makkah bercerita bahwa Abul Bakhtari menyelamatkan dirinya dan meninggalkan kawannya.” Akhirnya para sahabat pun membunuhnya. Lihatlah bagaimana sikap setia Abul Bakhtari, bahkan dalam masalah hidup dan mati pun ia tetap setia.

Begitu juga dengan kejujuran Abu Sufyan saat dia masih musyrik ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan Heraklius kepadanya. Diceritakan dalam Shahih Bukhari dari Abu Sufyan bahwa,

Heraklius menerima rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi Muhammad dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Iliya’ mereka menemui Heraklius  atas undangan Heraklius  untuk diajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraklius  bersama dengan para pembesar-pembesar Negeri Romawi. Heraklius  berbicara dengan mereka melalui penerjemah. Heraklius  berkata, “Siapa di antara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?” Abu Sufyan berkata, maka aku menjawab; “Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia.” Heraklius  berkata; “Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya.” Maka mereka meletakkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraklius  berkata melalui penerjemahnya: “Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku maka kalian harus mendustakannya.” Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya.”([4])

Inilah beberapa gambaran tentang keadaan orang-orang jahiliah yang sangat mengagungkan akhlak. Kedatangan Islam salah satunya untuk menyempurnakan akhlak tersebut, apa yang belum ada ditambah oleh Nabi Muhammad ﷺ dan apa yang masih kurang disempurnakan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Adab dan Takwa

Di antara hal yang tidak disadari oleh sebagian orang adalah mereka menyangka bahwa ketakwaan hanya berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Allah ﷻ saja. Padahal tidak demikian, ketakwaan juga sangat erat kaitannya dengan hubungan antara manusia satu dengan lainnya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah   di mana pun engkau berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”([5]

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali ketika mensyarah hadis Nabi Muhammad ﷺ di atas pada kalimat وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ, beliau berkata,

هَذَا مِنْ خِصَالِ التَّقْوَى، وَلَا تَتِمُّ التَّقْوَى إِلَّا بِهِ، وَإِنَّمَا أَفْرَدَهُ بِالذِّكْرِ لِلْحَاجَةِ إِلَى بَيَانِهِ، فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَظُنُّ أَنَّ التَّقْوَى هِيَ الْقِيَامُ بِحَقِّ اللَّهِ دُونَ حُقُوقِ عِبَادِهِ

“Berakhlak mulia adalah bagian dari ketakwaan dan tidak akan sempurna ketakwaan kecuali dengan akhlak. Akan tetapi Nabi Muhammad mengkhususkan penyebutannya karena ada keperluan untuk menjelaskannya, sebab banyak manusia yang menyangka bahwa takwa itu hanyalah menjalankan hak-hak Allah , sedangkan hak-hak di antara manusia tidak termasuk.”([6])

Oleh karena itu, jangan disangka akhlak bukan bagian dari takwa karena disebutkan secara terpisah. Namun dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan akhlak secara tersendiri dalam rangka untuk memberi perhatian khusus terhadap akhlak. Metode ini banyak dijumpai di dalam Al-Qur’an atau hadis. Semisal firman Allah ﷻ,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh….” (QS Al-Baqarah: 277)

Beramal saleh disebutkan secara tersendiri, tetapi bukan berarti beramal saleh  bukan bagian dari iman, tetapi disebutkan amal saleh  secara khusus agar kita perhatian bahwa iman bukan saja perkataan dan pengakuan tetapi harus diiringi bukti amal saleh. Seperti juga firman Allah ﷻ,

مَن كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah: 98)

Dalam ayat di atas Jibril dan Mikail disebutkan secara khusus karena kedudukan mereka berdua yang sangat mulia di tengah para malaikat yang lain. Maka dalam hadis tadi Nabi Muhammad ﷺ sengaja menyebutkannya agar kita memberi perhatian khusus pada akhlak.

Dari sini sekali lagi seseorang harus menyadari bahwa akhlak mulia adalah ibadah. Bahkan lebih dari itu banyak dalil yang menunjukkan bahwa akhlak mulia adalah barometer keimanan. Di antaranya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaknya.” ([7])

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin akan mendapatkan kedudukan ahli puasa dan salat dengan akhlak baiknya.” ([8])

مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik, dan sesungguhnya orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan salat.”([9])

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga adalah Takwa kepada Allah   dan berakhlak yang baik.” ([10])

Inilah sekian banyak dalil yang sangat tegas menunjukkan akhlak mulia itu adalah ibadah yang sangat agung dan pahalanya sangat berat di sisi Allah ﷻ. Oleh karena itu, jika seseorang semangat menuntut ilmu akidah, fikih, hadis, dan yang lainnya, maka ia juga harus semangat menuntut ilmu tentang akhlak dan adab, sebab pahalanya juga sangat besar.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan mengapa seseorang yang berakhlak mulia dia akan menuai pahala yang sangat besar? jawabannya yaitu karena pahalanya akan terus bertambah. Di mana pun dia bertemu dengan orang maka pahalanya akan bertambah, bertemu istrinya pahalanya bertambah, bertemu orang tuanya pahalanya bertambah, bertemu anaknya pahalanya bertambah, bertemu tetangganya pahalanya berjalan, dan seterusnya.

Jika direnungkan akan didapatkan kesimpulan bahwa waktu seseorang di dunia ini tidak banyak dihabiskan untuk berinteraksi dengan Allah ﷻ secara langsung berupa ibadah-ibadah mahdhah, tetapi sebagian besar digunakan untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya, seperti istri, anak, orang tua, tetangga, rekan kerjas, sopir, pembantu, dan seterusnya. Inilah di antara rahasia seorang yang berakhlak mulia memiliki pahala yang sangat besar.

Di antara keistimewaan akhlak juga adalah akhlak merupakan salah satu ciri dakwah Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal oleh musuh-musuhnya, sebagaimana hadis sebelumnya tentang pertanyaan Heraklius kepada Abu Sufyan. Oleh karena itu, semestinya dakwah sunnah juga demikian. Kita ketahui -wal hamdulillah- bahwa satu-satunya dakwah yang serius terhadap pembahasan tauhid yang berani memperingatkan umat dari bahaya kesyirikan dengan detail adalah dakwah sunnah salafiyah. Namun sedikit disayangkan ciri dakwah Nabi Muhammad ﷺ satunya belum terlalu tampak, yaitu dakwah yang menyeru kepada akhlak mulia sebagaimana dakwah Nabi.

Mestinya kedua sisi ini sama-sama diperhatikan karena keduanya sangat berkaitan. Sebagaimana para ulama sejak dahulu ketika menulis kitab Akidah maka mereka akan memasukkan pembahasan akhlak ke dalam kitabnya. Seperti yang ditulis oleh Abu Utsman Ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf wa Ashhabil Hadis, beliau memasukkan pembahasan akhlak di tengah-tengah pembahasan akidah. Demikian pula yang dilakukan oleh Imam Al-Muzani dalam kitab Syarhus Sunnah, Al-Ismaili dalam kitab I’tiqad Aimmatil Hadis, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, Ibnu Baththah dalam As-Syarh wal Ibanah, mereka semua memasukkan pembahasan akhlak dalam kitab akidah. Hal ini karena akhlak merupakan praktik dan buah dari akidah yang benar.

Para ulama juga banyak menulis kitab-kitab khusus yang membahas mengenai akhlak, seperti Al-Adabul Mufrod karya Imam Bukhari, Al-Jami li Akhlaqir Rawi karya Khathib Al-Bahgdadi, Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah, Imam An Nawawi dalam Muqaddimah Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam Kitabul Jami’ min Bulughil Maram, Ibnu Muflih dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah. Demikian pula kitab-kitab adab terkait penuntut ilmu di zaman sekarang seperti Hilyah Thalibil Ilmi karya Syaikh Bakr Abu Zaid, dan seterusnya dari kitab-kitab para ulama yang membahas mengenai adab.

Banyak pula dijumpai riwayat dari para salaf seputar keutamaan beradab dalam menuntut ilmu. Seperti perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah,

نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ

“Kita lebih butuh kepada sedikit adab daripada banyak ilmu.” ([11])

Karena seorang yang belajar ilmu tanpa mempelajari adab maka dikhawatirkan ilmunya akan menjadi bumerang baginya yang justru menyerangnya. Imam Malik rahimahullah juga berkata,

كَانَتْ أُمِّي تُعَمِّمُنِي وَتَقُولُ لِي: اذْهَبْ إِلَى رَبيعَةَ فَتَعَلَّمْ مِنْ أَدَبِهِ قَبْلَ عِلْمِهِ

Dahulu ibuku memakaikanku imamah dan ibuku berkata kepadaku, “Pergilah ke Rabi’ah (seorang alim kota Madinah pada zamannya) belajarlah dari adabnya sebelum ilmunya.”([12])

‘Abdullah bin Wahab rahimahullah berkata,

مَا نَقَلْنَا مِنْ أَدَبِ مَالِكٍ، أَكْثَرُ مِمَّا تَعْلَّمْنَا مِنْ عِلْمِهِ

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” ([13])

Bahkan diceritakan oleh sebagian ulama, bahwa majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang. Dikatakan hanya lima ratus orang yang menulis, dan sisanya mengambil faedah dari tingkah laku, budi pekerti dan adab beliau.

Footnote:

______

([1]) HR. Muslim No. 2699.

([2]) Madarij As-Salikin (2/361).

([3]) HR. Ahmad No. 8952, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([4]) HR. Bukhari No. 7.

([5]) HR. Tirmidzi No. 1987, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani.

([6]) Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (337).

([7]) HR. Tirmidzi No. 1162, Abu Daud No. 4682 dan Ad-Darimi No. 2792, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([8]) HR. Abu Daud No. 4798, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([9]) HR. Tirmidzi No. 2003, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([10]) HR. Tirmidzi No. 2004 dan Ibnu Majah No. 4246, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani.

([11]) Madarij As-Salikin (2/376).

([12]) Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik (1/130).

([13]) Siyar A’lami An-Nubala (8/113).