Adab Penuntut Ilmu #1

Adab Penuntut Ilmu

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

  1. Ikhlas kepada Allah

Apabila seseorang beramal, tetapi tidak ikhlas kepada Allah ﷻ, maka akan menjadi amalan yang sia-sia. Menuntut ilmu tidak hanya untuk berkumpul, bukan sekadar komunitas, bukan sekedar supaya bisa berkomunikasi langsung dengan ustaz. Tidak. Itu hanyalah perkara sekunder. Yang paling utama adalah niat kita karena Allah ﷻ.

Seharusnya kita sadar bahwa kita jahil dan bodoh. Kita menuntut ilmu agar kita punya ilmu, bisa melaksanakan kewajiban menuntut ilmu, bisa beribadah dengan benar, bisa menasihati istri dan anak-anak, dan orang tua, agar tidak sembarang berbicara, agar tidak sembarang menulis karya tulis, agar bisa menjaga penglihatan dan pendengaran. Itulah di antara niat karena Allah ﷻ.

Adapun untuk berkumpul dengan guru dan saling mengobrol, maka hal itu tidak menjadi masalah, asalkan tidak menjadi tujuan utama. Tujuan utama adalah agar kita bisa menuntut ilmu dan melaksanakan ibadah dengan ikhlas. Percuma saja, seseorang beribadah, namun dengan niat tidak ikhlas.

Janganlah menuntut ilmu supaya dipandang. Janganlah menuntut ilmu supaya diakui. Janganlah menuntut ilmu supaya dikatakan sudah rajin mengaji. Janganlah meniatkan dengan hal itu, karena semua tujuan itu bukan karena Allah ﷻ. Hendaknya kita mengikhlaskan niat kepada Allah ﷻ semata.

Sebagaimana ibadah-ibadah yang lain bisa menjerumuskan pelakunya kepada riya’, maka demikian juga dengan menuntut ilmu. Sebagaimana seseorang yang melaksanakan ibadah haji, umrah dan sedekah, begitu juga dengan menuntut ilmu. Orang yang menuntut ilmu bisa terjerumus ke dalam riya’ dan ‘ujub. Diriwayatkan dari Ka’b bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barang siapa yang menuntut ilmu agar bisa menampakkan ilmunya di hadapan para ulama, berdebat dengan orang-orang bodoh atau menarik perhatian orang-orang kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”([1])

Orang yang menuntut ilmu rawan terjerumus ke dalam riya’ dan ‘ujub. Bisa saja kita menuntut ilmu agar ketika berbicara didengar dan dihormati, disetarakan dengan ulama, bisa berdampingan dengan para ulama, supaya kita dikenal sebagai penuntut ilmu senior, karena dekat dengan para ulama. Selain itu, bisa saja seseorang menuntut ilmu dengan tujuan untuk mendebat orang-orang bodoh agar tampak keilmuannya, sehingga dia menjadi perhatian orang-orang, maka penuntut ilmu yang demikian akan mendapatkan ancaman dari Allah ﷻ berupa masuk ke dalam neraka Jahanam. Tidak selayaknya bagi seorang penuntut ilmu bersikap demikian. Akan tetapi, karena kita jahil, maka kita belajar.

Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu selalu berhati-hati. Kita menuntut ilmu, bukan untuk diakui, akan tetapi karena itu adalah kewajiban. Kita berdakwah pun bukan untuk diakui hebat daripada yang lainnya. Akan tetapi, apabila kita diberikan anugerah dari Allah ﷻ berupa kemampuan, maka hendaknya kita menyampaikan apa yang kita mampu, karena itu termasuk kepada tugas untuk menyampaikan kebenaran. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.”([2])

Terdapat suatu perkataan dari seorang salah seorang ulama yang menakjubkan, yaitu Al-Imam Abul Hasan al-Qaththan rahimahullah, berkata,

أُصِبْتُ بِبَصَرِيْ، وَأَظُنُّ أَنِّيْ عُوْقِبْتُ بِكَثْرَةِ كَلاَمِيْ أَيَّامَ الرِّحْلَةِ

“Aku ditimpa kebutaan, dan aku menyangka bahwa aku dihukum akibat banyak bicara ketika perjalanan (menuntut ilmu).” ([3])

Ketika menukil perkataannya, Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

صَدَقَ وَاللهِ، فَقَدْ كَانُوا مَعَ حُسْن القَصْدِ، وَصحَّةِ النِّيَّة غَالباً، يخَافونَ مِنَ الكَلاَمِ، وَإِظهَار الْمَعْرِفَة وَالفَضيلَة، وَالْيَوْمَ يُكْثِرُوْنَ الكَلاَم مَع نَقْصِ العِلْمِ، وَسُوْءِ القَصْد.

“Sungguh benar (perkataannya), demi Allah, mereka (para salaf) dahulu dengan tujuan yang benar, secara umum dengan niat yang lurus, takut berbicara dan takut ingin menunjukkan kehebatannya. Pada hari ini, banyak orang yang banyak berbicara disertai sedikitnya ilmu mereka disertai dengan tujuan yang buruk.”([4])

Apa yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi menandakan bahwasanya ketika berbicara pun, para salaf bersungguh-sungguh memperhatikan bahwa yang mereka sampaikan di hadapan orang lain adalah ilmu. Terkadang ada niat yang tidak lurus untuk menunjukkan kehebatannya dalam suatu bidang ilmu tertentu. Sejatinya itu adalah niat yang buruk dan dapat merusak tujuan seseorang yang menuntut ilmu.

Inilah di antara hal yang harus banyak diperhatikan bagi orang memiliki ilmu. Sebelum menuntut ilmu pun niatnya harus karena Allah ﷻ.Bukan, supaya orang-orang terpukau ketika kita berbicara tentang ilmu.

Diriwayatkan juga tentang Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah, oleh Al-Qadhi ‘Alauddin bin Al-Lahham berkata,

ذَكَرَ لَنَا مَرَّةً الشَّيْخُ مَسْأَلَةً فَأَطْنَبَ فِيْهَا، فَعَجِبْتُ مِنْ ذَلِكَ وَمِنْ إِتْقَانِهِ لَهَا، فَوَقَعْتُ بَعْدَ ذَلِكَ بِمَحْضَرٍ مِنْ أَرْبَابِ الْمَذَاهِبِ وَغَيْرِهِمْ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ فِيْهَا الْكَلِمَةَ الْوَاحِدَةَ، فَلَمَّا قَامَ، قُلْتُ لَهُ: أَلَيْسَ قَدْ تَكَلَّمْتَ فِيْهَا بِذَلِكَ الَكَلَامِ، قَالَ: إِنَّمَا أَتَكَلَّمُ بِمَا أَرْجُوْ ثَوَابَهُ، وَقَدْ خِفْتُ مِنَ الْكَلَامِ فِيْ هَذَا الْمَجْلِس

“Suatu ketika syaikh (Ibnu Rajab) menerangkan suatu permasalahan kepada kami, maka beliau menjelaskannya dengan panjang lebar, sehingga aku terkagum akan penguasaan dan keterampilan dalamnya ilmu beliau. Setelah itu, aku ikut hadir dalam suatu majelis perkumpulan para ulama besar, namun dalam majelis tersebut beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tatkala beliau berdiri, aku bertanya kepada beliau, ‘Bukankah engkau telah menjabarkan permasalahan tersebut?’, lalu beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku hanya ingin berbicara sesuatu yang hanya berharap pahala dari Allah. Sungguh aku takut untuk berbicara di majelis tersebut’.”([5])

Lihatlah para ulama, di mana mereka tidak mau menampakkan diri, meskipun di majelis itu telah berkumpul para pembesar ilmu. Permasalahan ini sangat penting, kita tidak tahu niat orang-orang yang berilmu berdiri di hadapan umum, kecuali Allah ﷻ yang lebih mengetahuinya. Hendaknya kita memperhatikan diri kita sendiri, agar lebih waspada.

Disebutkan bahwa ‘Ali bin Bakkar rahimahullah berkata,

لأَنْ أَلْقَى الشَّيْطَانَ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَلْقَى حُذَيْفَةَ الْمَرْعَشِيَّ، أَخَافُ أَنْ أَتَصَنَّعَ لَهُ، فَأَسْقُطَ مِنْ عَيْنِ اللهِ

“Sungguh aku bertemu dengan setan lebih sukai daripada bertemu dengan Huzaifah Al-Mar’asyi, aku khawatir (ketika bertemu dengannya) aku berbicara dengan dibuat-buat, sehingga aku pun jatuh di hadapan Allah .”([6])

Dia khawatir perbuatannya termasuk riya’, karena ingin dipuji dan dipandang oleh orang lain. Inilah gambaran para salaf, bagaimana mereka memperhatikan gerak-gerik dan niat-niat mereka dengan ilmu mereka.

Di antara tanda-tanda kecelakaan bagi orang yang menuntut ilmu adalah sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah,

وَعَلَامَاتُ الشَّقَاوَةِ أَنَّهُ كُلَّمَا زِيْدَ فِيْ عِلْمِهِ زِيْدَ فِيْ كِبْرِهِ وَتِيْهِهِ وَكُلَّمَا زِيْدَ فِيْ عَمَلِهِ زِيْدَ فِيْ فَخْرِهِ وَاحْتِقَارِهِ لِلنَّاسِ وَحسن ظَنّه بِنَفسِهِ وَكُلَّمَا زِيْدَ فِيْ مَالِهِ زِيْدَ فِيْ بُخْلِهِ وَإِمْسَاكِهِ وَكُلَّمَا زِيْدَ فِيْ قَدْرِهِ وَجَاهِهِ زِيْدَ فِيْ كِبْرِهِ وَتِيْهِهِ

“Di antara tanda-tanda orang-orang celaka dalam ilmu adalah semakin bertambah ilmunya, maka semakin sombong dan angkuh. Semakin bertambah amalnya, maka semakin angkuh, semakin merendahkan orang lain dan semakin berbaik sangka dengan diri sendiri. Semakin bertambah hartanya, maka semakin pelit dan menahan hartanya. Semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, maka dia semakin bertambah keangkuhan dan kesombongannya.”([7])

Terkadang sebagian penuntut ilmu, semakin dekat dengan gurunya dan sering ikut majelisnya, maka dia semakin merasa hebat dan sombong. Sebagian mereka ketika sudah mampu mengamalkan dan mengajarkan ilmunya, maka semakin merendahkan orang lain.

Bisa saja, ketika kita mampu memahami dan mengajarkan hal-hal yang pelik, lalu merasa sombong dengan membandingkan kawan kita yang hanya bisa mengajarkan surat Al-Fatihah saja. Akhirnya, kita merasa lebih hebat dan merendahkan kawan tersebut. Padahal, kita tidak tahu, bisa jadi dia lebih ikhlas dari pada kita atau pahala yang dia dapatkan lebih besar dari pada pahala yang kita dapatkan. Apabila kita mendapati seorang yang berilmu dengan sifat yang demikian, maka sungguh dia adalah orang yang celaka.

Bahkan, sebagian orang yang berilmu merasa susah menerima nasihat dari orang lain, karena dia merasa telah mengetahui segala sesuatu, seakan-akan dia terlepas dari kesalahan. Selain itu, dia tidak mau ditegur kesalahannya, dia merasa dirinya pasti benar, tidak mau diperbaiki kesalahannya. Apabila ada orang yang menemukan kesalahannya, maka dia akan marah. Dia merasa tinggi dan besar, karena ilmu yang dia dapatkan. Ini merupakan kesalahan dari niatnya ketika menuntut ilmu dan orang yang seperti ini termasuk orang yang celaka. Oleh karenanya, hendaknya kita waspada dan selalu memperhatikan niat ikhlas kita karena Allah ﷻ.

  1. Memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu

Sebagaimana, perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,

أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إلَّا بِسِتَّةٍ … سَأُنْبِيكَ عَنْ مَكْنُونِهَا بِبَيَانِ

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَبُلْغَةٍ … وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ

“Wahai saudaraku, kau tidak akan meraih ilmu kecuali dengan enam perkara,

aku akan menjelaskan tentangnya, maka perhatikanlah.

Kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, biaya (bekal),

bimbingan guru dan waktu yang panjang.” ([8])

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan beberapa syarat atau adab dalam menuntut ilmu, di antaranya adalah:

  • Kecerdasan. Orang yang menuntut ilmu harus cerdas, dia harus selalu berpikir, bagaimana mengolah data maupun merangkum ilmu.
  • Semangat. Hendaknya seorang yang menuntut ilmu selalu semangat, baik semangat dalam menulis ilmu, semangat datang ke majelis ilmu, meskipun wabah melanda. Apabila tidak memungkinkan untuk hadir langsung di dalam majelis, maka di era yang serba modern ini dia bisa mengikuti majelis ilmu dengan memanfaatkan media sosial yang ada.
  • Sungguh-sungguh. Hendaknya seorang penuntut ilmu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dengan mancatat apa yang disampaikan oleh gurunya. Apabila dia tidak paham dengan pelajaran yang disampaikan, maka hendaknya dia mencari tahu dan bertanya, baik kepada gurunya maupun kepada temannya. Jangan sampai dia bermalas-malasan hingga terkantuk-kantuk ketika di dalam majelis ilmu.
  • Biaya (bekal). Seorang penuntut ilmu memerlukan biaya dalam rangka menuntut ilmu, dia membutuhkan alat tulis untuk menulis ilmu yang dia dapatkan. Begitu juga dengan kebutuhan-kebutuhan lain yang dapat mendukungnya untuk menuntut ilmu.
  • Bimbingan guru. Penuntut ilmu memerlukan bimbingan guru, tidak hanya dengan sekedar otodidak. Meskipun suatu saat dia memerlukan metode otodidak, tetapi dengan syarat dia telah mencapai tahap tertentu.

Pada asalnya dia membutuhkan bimbingan guru dalam menuntut ilmu. Sebagaimana penulis ketika menuntut ilmu bersama para guru dan ulama pun harus ditempuh dengan dengan waktu yang lama. Setelah itu, menempuh ilmu dengan otodidak. Apabila sesekali waktu menemukan kesulitan, maka beliau akan berusaha berkomunikasi dengan guru-guru beliau. Ada kalanya seseorang belajar dengan otodidak, tetapi waktunya tidak sejak awal ketika dia mulai belajar. Karena orang yang belajar secara otodidak, maka sejatinya dia telah menghabiskan banyak waktunya.

  • Waktu yang panjang. Sebagaimana contoh dari Nu’aim Al-Mujmir rahimahullah berguru kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu selama 20 tahun berturut-turut([9]). Begitu juga dengan Abdullah bin Nafi’ yang berguru kepada Imam Malik rahimahullah  selama 35 tahun([10]). Mereka belajar, menuntut ilmu dan berguru tidak hanya datang di dalam majelis ilmu saja. Namun, mereka mendengarkan apa yang disampaikan guru, mengulang-ulang ilmu yang telah didapatkan dan menulisnya. Bukan berarti mereka tidak bekerja dan hanya belajar saja. Tidak. Bahkan, di samping menuntut ilmu mereka juga bekerja.

Apabila kita mampu mengumpulkan enam perkara ini, maka kita akan meraih ilmu yang kita cari. Perkara ini tidak mustahil untuk bisa kita lakukan. Kita semua bisa melakukannya. Meskipun kita memiliki pekerjaan, setidaknya kita memiliki waktu untuk menuntut ilmu.

  1. Bertahap (التَّدَرُّج)

Inilah hal yang sering ditinggalkan oleh para penuntut ilmu. Banyak penuntut ilmu yang mungkin 10 tahun lamanya dia belajar, namun ketika ditanya tentang suatu ilmu, ternyata dia tidak memahaminya. Tentu saja, ini disebabkan tidak konsistennya mereka dalam belajar. Sesekali waktu mereka belajar di satu tempat, namun tidak sampai menyelesaikan apa yang mereka pelajari. Setelah itu, karena sebab tertentu mereka berpindah tempat belajar, tetapi tidak sampai menyelesaikan apa yang dia pelajari dan begitu seterusnya. Hal ini tidaklah dilarang, tetapi seorang penuntut ilmu harus mempunyai waktu, di mana dia fokus kepada ilmu tersebut.

Boleh saja bagi seorang penuntut ilmu mengikuti pelajaran dari seorang guru dengan tema tertentu. Akan tetapi, hendaknya dia memiliki waktu untuk belajar ilmu yang teratur, misalnya tentang ilmu fikih dari bab Thaharah hingga pembahasan terakhir, bab zakat dari permulaan hingga akhir dan seterusnya. Apabila seorang penuntut ilmu mempelajari ilmu-ilmu tersebut dengan konsisten, maka sejatinya akan terbina pola pikirnya. Sehingga, ketika dia belajar selama bertahun-tahun, dia akan merasa bahwa dia telah berubah. Artinya ada sesuatu yang baru yang telah dia dapatkan. Otaknya mulai tertata, ketika mengajarkan kepada orang lain, dia mampu menjelaskannya dengan teratur, karena telah memiliki landasan-landasan ilmu.

Akan tetapi, kalau seorang penuntut ilmu hanya belajar dengan tema-tema tertentu saja, meskipun sampai 10-20 tahun, maka sejatinya dia tidak akan memiliki ilmu. Tentu saja semua berpahala, bukan berarti perbuatan tersebut berujung sia-sia. Namun, kita menginginkan waktu kita benar-benar bermanfaat. Maka dari itu, hendaknya kita belajar dengan tadarruj/bertahap.

Banyak dari para penuntut ilmu yang terjatuh ke dalam futhur. Di antara hal yang membuat penuntut ilmu selamat dari futhur adalah dengan menuntut ilmu secara bertahap. Hal itu dapat menghilangkan kemalasan. Sejatinya menuntut ilmu mempunyai kelezatan tersendiri. Setiap kali dia mendapatkan ilmu, maka dia semakin penasaran dan ingin terus menambah lagi ilmu pengetahuannya. Oleh karenanya, dengan cara ‘bertahap’ adalah perkara penting dalam menuntut ilmu dan hendaknya dia mencari guru yang mampu mengajarkan pelajaran dengan baik, mudah dipahami dan teratur pembahasannya.

Pelajaran tematik atau dengan tema-tema tertentu, tentu saja baik sekaligus sebagai penyemangat, namun hendaknya dilakukan pada sesekali waktu saja. Apabila seorang penuntut ilmu selalu mencari pelajaran tematik saja, maka bagaimana cara dan kapan waktunya untuk bisa membina pengetahuan masyarakat. Allah ﷻ berfirman,

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ

“Tetapi jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 79)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

الرَّبَّانِيُّوْنَ يُرْشِدُونَ النَّاسَ بِالْعِلْمِ، وَيُرَبُّوْنَهُمْ لِلصِّغَارِ قَبْلَ كِبَار

“Ulama Rabbani adalah orang-orang yang mengajarkan ilmu kepada orang-orang dan mendidik masa muda mereka sebelum menjadi besar.”([11])

Misalnya bagi seseorang yang belajar buku Akidah, maka buku pertama yang hendaknya dipelajari adalah Al-Ushul Ats-Tsalatsah. Mempelajari buku ini, bukan berarti mengkajinya selama satu tahun penuh. Akan tetapi, hendaknya dia mencari guru yang mengajarinya dalam beberapa kali pertemuan sampai selesai. Setelah itu, dia pun bisa mengulang-ulang pelajarannya dengan mandiri atau melanjutkan buku akidah yang lainnya.

Begitu juga ketika seseorang mempelajari kitab At-Tauhid. Penulis mengajarkan kitab At-Tauhid hampir tiga tahun dengan 66 bab pembahasan. Setelah itu, bisa dilanjutkan dengan mempelajari kitab Al-‘Aqidah Al-Washitiyah. Apabila kita hendak mempelajari ilmu fikih -pun juga sama-, maka hendaknya kita memulai dari bab yang pertama, yaitu bab Thaharah.

Sebaiknya seorang penuntut ilmu mencari majelis dari seorang guru yang dapat dipercaya keilmuannya untuk membahas tentang ilmu tersebut. Meskipun, tidak secara detail, namun, setidaknya hal itu dapat membina pola pikirnya sebagai penuntut ilmu. Tentu saja, agar setiap orang dimudahkan untuk mempelajari semua ilmu, maka hendaknya belajar bahasa Arab, sembari mempelajari ilmu-ilmu yang lain.

Yang menjadi kesalahan bagi banyak penuntut ilmu adalah mereka hanya fokus untuk kenal dan dekat dengan guru, tanpa mengambil ilmu darinya. Akibatnya, ketika ditanyakan kepadanya suatu masalah, mereka kebingungan. Meskipun, sudah ada perubahan dengan sikap dan adab mereka, karena pergaulannya dengan gurunya. Tentu saja, hal ini baik dan terpuji. Akan tetapi, sejatinya mereka telah melupakan satu hal, yaitu ilmu yang tidak mereka dapatkan dari gurunya tersebut.

Terkadang penuntut ilmu terlalu gandrung dengan gurunya dan tidak berkeinginan untuk belajar dengan guru yang lain. Sehingga dia selalu mengikuti pelajaran apa pun yang disampaikan gurunya, meskipun sejatinya dia tidak membutuhkan pelajaran itu. Bahkan, pelajaran yang sangat dibutuhkannya dari guru yang lain, malah dia abaikan. Maka, perbuatannya ini adalah sebuah kesalahan.

Tentu saja, baik bagi penuntut ilmu untuk selalu antusias dengan gurunya. Tetapi, bukan berarti dia harus selalu bersama gurunya. Jadi, hendaknya dia juga sungguh-sungguh dalam mencari pelajaran yang dia butuhkan kepada guru yang lain.

Setiap penuntut ilmu kembali kepada niat masing-masing. Seorang guru sebelum menjadi guru pun harus belajar dengan para guru. Tidak hanya sekedar bertemu dan mengobrol tanpa ada sedikit pun faedah dan ilmu yang diambil dari mereka. Terkadang dia mengenal satu guru dan tidak mengenal guru yang lain, namun apabila ilmu yang dibutuhkan terdapat pada guru yang tidak dikenalnya, maka dia tetap mendatanginya dan menuntut ilmu darinya.

Nasihat bagi para penuntut ilmu, terutama mereka yang sibuk di dalam majelis-majelis pengajian, hendaknya tidak berfokus pada satu pelajaran dengan tema tertentu saja. Akan tetapi, hendaknya mengatur waktu untuk mempelajari satu pokok ilmu tertentu, sehingga tertata pola pikir seorang penuntut ilmu. Di samping itu, dia berusaha menulis dan merangkum pelajaran tersebut, kemudian saling berbagi dengan teman-teman penuntut ilmu yang lain. Demikian yang lebih baik, sehingga seorang penuntut ilmu akan lebih merasakan perubahan di dalam dirinya, di mana dia dahulu jahil akan suatu masalah, kemudian dia telah mengetahui masalah tersebut, dan bahkan bertambah pengetahuan darinya.

Footnote:
__________

([1]) HR. Tirmizi no. 2654, hadis gharib dan dihasankan oleh Al-Albani.

([2]) HR. Bukhari no. 3461.

([3]) Siyar A’lam An-Nubala’, 15/464 dan Tadzkirah Al-Huffadz, (3/51).

([4]) Siyar A’lam An-Nubala’, 15/464.

([5]) Al-Jauhar karya Ibnu Al-Mibrad Al-Hanbali, (1/52).

([6]) Siyar A’lam An-Nubala’, (9/585).

([7]) Al-Fawaid, karya Ibnu Al-Qayyim, (1/155).

([8]) Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, (1/138).

([9]) Siyar A’lam An-Nubala’, 8/107

([10]) Siyar A’lam An-Nubala’, 8/108

([11]) Al-Lubab fii ‘Ulum Al-Kitab, (7/347).