Ujian-Ujian Kehidupan

Ujian-Ujian Kehidupan

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ untuk diuji. Oleh karenanya, ujian merupakan sifat yang melazimi manusia. Makhluk apa saja yang hidup di muka bumi ini, pasti diuji oleh Allah ﷻ dan tidak mungkin tidak diuji. Tidak mungkin ujian tersebut terlepas darinya, karena mereka diciptakan untuk diuji. Allah ﷻ telah menegaskan hal ini dalam banyak ayat, seperti firman Allah ﷻ,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kemudian pada ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan).” (QS. Al-Baqarah: 214)

Jadi, ujian merupakan perkara yang sudah pasti. Allah ﷻ berfirman,

الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-‘Ankabut: 1-2)

Di dalam ayat yang lain, Allah ﷻ berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk: 1-2)

Begitu juga, dengan firman Allah ﷻ,

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Hud: 7)

Allah menciptakan alam semesta ini untuk menguji manusia. Oleh karenanya, Allah menekankan di dalam surat Al-Kahfi,

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya. (QS. Al-Kahfi: 7)

Ujian merupakan satu hal yang pasti dan tidak bisa terpisah dari manusia yang hidup di atas muka bumi. Tidak ada satu manusia pun yang ingin hidup di dunia ini, melainkan pasti diuji. Jika tidak ingin hidup tanpa ujian, maka lebih baik dia mati saja. Tidak mungkin, manusia hidup tanpa ujian, semua manusia yang hidup pasti diuji oleh Allah ﷻ.

Terkadang manusia diuji, kemudian beberapa waktu dia akan merasakan kegembiraan, kemudian diuji lagi. Begitulah pernak-pernik kehidupan manusia. Oleh karenanya, Allah ﷻ berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Manusia tidak luput dari ujian. Dari sejak keluar di dunia ini, dia terlahir dalam kondisi kepayahan, lalu tumbuh merangkak, lalu menjadi seorang anak kecil. Setelah itu, dia tumbuh besar, lalu ketika dewasa dia harus bekerja dan tentunya dia akan mendapati banyak ujian di dalam pekerjaan-pekerjaannya tersebut. Setelah itu, dia menikah, dimana dia akan mendapatkan kesenangan dengan pasangan hidupnya dan tidak luput pula ujian-ujian yang harus dihadapi di dalam rumah tangga. Ketika bertambah anggota keluarganya dengan lahirnya seorang anak, maka dia merasa senang dengan kehadirannya, namun dia harus menghadapi bermacam-macam ujian tatkala merawat dan mengurusi anak-anaknya. Demikianlah, ujian itu akan selalu ada sampai dia meninggal dunia.

Lihatlah, kenyataan yang ada, semua orang diuji. Apabila kita mau merenungkan, maka tidak ada manusia yang tidak diuji, baik orang yang paling kaya sekalipun hingga orang yang paling miskin, baik orang yang paling tersohor sekalipun, hingga orang yang tidak dikenal sama sekali, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, semuanya mendapatkan ujian dari Allah ﷻ.

Mungkin saja ada orang yang memiliki derajat yang tinggi sekalipun, seperti raja dalam suatu kerajaan atau pemimpin suatu negara. Tidak mungkin dia tidak diuji. Bisa saja dalam di dalam kerajaan atau negaranya terjadi peperangan, rakyatnya mengalami kesengsaraan dan kesulitan, kondisi negaranya yang tidak stabil, kondisi ekonomi yang tidak baik atau cacian dan makian dari rakyatnya, dan inilah bentuk ujian padanya. Siapapun pasti diuji, tidak ada yang tidak diuji.

Wanita pun diuji, ada yang merasa sedih karena sudah masuk usia tiga puluh tahun lebih, tetapi tidak kunjung ada yang melamarnya. Dia senantiasa berdoa kepada Allah ﷻ agar segera mendatangkan lelaki yang melamarnya, sehingga dia dapat hidup sebagaimana wanita-wanita yang lain yang memiliki suami dan rumah tangga yang dia khayalkan. Dia diuji dengan kesendiriannya. Sebaliknya, ada seorang wanita yang diuji, di mana setiap hari berdoa dan menangis, lantaran sikap suaminya yang tidak ramah, selalu menyakiti hatinya dan merendahkan dirinya, sehingga dia berangan-angan seandainya dia tidak memiliki suami dan tidak menjalani kehidupan rumah tangga.

Sebagian dari mereka diuji dengan kemandulan, tidak memiliki anak, sehingga dia selalu berdoa kepada Allah ﷻ agar segera dikaruniakan keturunan. Dia hidup tanpa memiliki anak, sementara wanita-wanita lain membawa anak-anak mereka yang lucu. Di sisi yang lain, ada juga wanita yang bersedih hati, lantaran kelakuan anak-anaknya yang nakal, sehingga orang tuanya tidak diperhatikan. Apalagi, ketika sebagian mereka memasuki masa tuanya, sedangkan anak-anaknya telah tumbuh besar, menikah dan hidup dengan keluarganya masing-masing. Akan tetapi, orang tuanya hanya hidup sendirian, tidak ada satu pun dari mereka yang menengoknya, memberikan perhatian kepada mereka maupun memberikan kabar tentang mereka. Tentu saja, ini adalah ujian dan menjadi penderitaan tersendiri bagi sebagian orang.

Sebagian orang diuji dengan kemiskinan, susah dalam mencari pekerjaan. Sebaliknya, sebagian orang diuji dengan kekayaannya, bisnisnya merosot, memikirkan karyawan maupun pegawai yang bekerja untuknya. Semuanya ini menjadi ujian dan penderitaan tersendiri. Demikianlah ujian dan di dalam kehidupan ini yang penuh dengan penderitaan. Apalagi, pada zaman sekarang banyak orang yang menyibukkan diri ke dalam media sosial, yang mana pada hakikatnya mereka mencari penderitaan di dunia maya tersebut. Mereka membuat perdebatan, yang sejatinya menimbulkan cacian dan makian dari orang-orang yang ditujukan kepadanya.

Maka dari itu, Sesungguhnya kehidupan ini tidak ada yang luput dari ujian, siapa pun itu orangnya. Itulah tabiat dari kehidupan ini. Suatu hal yang tidak terpisahkan dari pernak-pernik kehidupan. Barang siapa ingin hidup di dunia ini, maka dia harus diuji. Apabila tidak ingin diuji, maka kematian lebih baik baginya.

Siapakah yang tidak pernah merasakan sakit? Apakah si miskin saja yang sakit? Orang kaya pun juga merasakan sakit. Ada seorang yang memiliki harta yang berlimpah, rumah di luar negeri dan kapal pribadi. Akan tetapi, akhirnya lemah tidak berkuasa ketika ditimpa wabah penyakit. Kapal pribadi, rumah dan segala aset yang dimilikinya pun tidak bermanfaat dan tidak bisa memberikan pertolongan untuknya. Inilah kehidupan, harus kita sadari bahwasanya Allah ﷻ memang menciptakan manusia dan alam semesta ini dalam rangka untuk menguji manusia. Hal ini sudah terpatri dalam kehidupan. Di samping itu, ini sudah menjadi kenyataan yang ada dan tidak ada seorang pun yang luput dari ujian.

Siapa yang tidak pernah sedih? Semua orang pasti pernah merasakan kesedihan. Siapa yang tidak pernah sakit? Semua orang pasti pernah sakit. Siapa yang tidak pernah marah? Semua orang pasti pernah marah. Siapa yang tidak pernah menangis? Semua orang pasti pernah menangis. Entah dia seorang ratu atau pembantu, raja atau hanya seorang bawahan, semuanya pernah menangis, sedih, sakit ataupun marah. Itulah pernak-pernik kehidupan. Maka dari itu, tatkala kita mengetahui bahwa kehidupan kita ini pasti ada ujiannya, maka hendaknya kita menyiapkan diri kita untuk menghadapi ujian tersebut.

Macam-macam ujian

  1. Ujian dengan hal-hal yang di luar keinginan hamba

Ujian ini terjadi bukan karena keinginan seorang hamba. Tujuan Allah ﷻ memberikan ujian ini adalah untuk mengangkat derajat hamba-hamba-Nya. Ujian ini sering di alami oleh para nabi, para sahabat, begitu juga dengan para ulama dan orang-orang saleh. Allah ﷻ menguji mereka dalam rangka untuk mengangkat derajat mereka. Orang-orang yang mendapatkan ujian ini adalah golongan yang istimewa. Di antara ujian ini adalah:

  1. Musibah yang berkaitan dengan dirinya atau tubuhnya. Terkadang, kita melihat atau mendengar musibah yang menimpa kepada seseorang berkaitan dengan diri atau tubuhnya, entah dia mengalami cacat atau hal-hal lain yang tidak disukai.
  2. Musibah yang berkaitan dengan hartanya. Sebagian orang yang bekerja dan mengumpulkan hartanya selama bertahun-tahun. Ketika hartanya sudah mulai banyak terkumpul, maka dia menggunakannya dalam suatu transaksi, hingga meludeskan semua hartanya. Peluh keringat yang telah dia keluarkan selama bertahun-tahun, tiba-tiba sirna dalam waktu yang sangat cepat. Ini merupakan bentuk ujian dalam hartanya.
  3. Musibah yang berkaitan dengan orang yang dicintainya berupa keluarga, orang tua, saudara, istri dan anak-anaknya. Bisa saja salah satu anggota keluarga seseorang tertimpa suatu penyakit tertentu, atau bahkan salah satu di antara mereka meninggal dunia.
  1. Ujian karena sebab perbuatan hamba

Kebanyakan orang mendapatkan ujian karena sebab-sebab ini. Barang siapa yang dapat menghadapinya, maka dia akan mendapatkan pahala. Di antara sebab-sebabnya adalah:

  1. Karena ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba. Misalnya adalah:

Tatkala seseorang berjihad, maka dia akan mengalami banyak ujian. Allah ﷻ  berfirman,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. (QS. An-Nisa’: 104)

تَأْلَمُونَ ‘merasakan sakit’. Artinya orang-orang yang pergi berjihad, pasti akan merasakan sakit, baik berupa perjalanannya yang jauh, kepanasan, keletihan, tertusuk pedang atau hal yang semisalnya. Jika orang-orang beriman yang berjihad merasakan sakit, sesungguhnya orang-orang kafir juga merasakan penderitaan yang sama. Musibah ini adalah akibat dari seorang hamba yang ingin berjihad, sehingga ketika dia ingin melakukan ketaatan, maka dia akan mendapatkan musibah atau hal-hal yang tidak dia sukai. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ

Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. (QS. At-Taubah: 120)

Segala hal yang dialami oleh seseorang ketika sedang berjihad, pada hakikatnya berasal dari keinginannya sendiri untuk taat kepada Allah ﷻ. Namun, ketaatan itu melazimkan adanya musibah-musibah yang harus dihadapinya.

  • Ibadah haji dan umrah.

Orang yang melaksanakan haji dan umrah, pasti akan menemukan kesulitan-kesulitan yang akan dia hadapi. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu’anha, bertanya kepada Nabi ﷺ,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ مِنْ جِهَادٍ؟ قَالَ نَعَمْ، عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

“‘Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi para wanita?’ beliau bersabda, ‘Benar, Hendaknya kalian melakukan satu jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah’.”([1])

Oleh karenanya, Nabi ﷺ bersabda kepada ‘Aisyah radhiallahu’anha tentang umrah yang ditunaikannya,

إِنَّ لَكِ مِنَ الْأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ

“Sesungguhnya pahalamu sesuai dengan kadar keletihanmu.”([2])

  • Amar makruf nahi munkar.

Setiap orang beriman yang berusaha mengamalkan ilmunya, ber-amar makruf nahi munkar, khususnya di tempat dia berdakwah, pastinya ada ujian yang menyertainya. Ketika ada orang-orang sedang bersenang-senang, tiba-tiba dia datang dan mengatakan bahwa apa yang dinikmatinya itu adalah haram. Dia memutuskan hawa nafsu manusia yang sedang dalam kesenangan secara tiba-tiba, pastinya hal ini akan menimbulkan permasalahan. Maka dari itu, ketika Allah ﷻ berfirman,

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-‘Asr: 1-3)

Karena, orang yang mengingatkan dalam kebaikan, dia harus bersabar dengan ujian-ujian dari akibat tersebut. Demikian juga, yang dikatakan oleh Luqman Al-Hakim kepada anaknya, sebagaimana difirmankan oleh Allah ﷻ,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ

“Dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17)

Kenapa di dalam perkara amar makruf nahi munkar harus bersabar? Para ulama mengatakan bahwa karena ketika seseorang berusaha menegakkan amar makruf nahi munkar, maka pasti dia akan menghadapi ujian-ujian. Maka dari itulah, Allah ﷻ mengingatkan dengan firman-Nya,

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17)

Setiap orang yang berdakwah, baik dia seorang ustaz atau orang biasa, ketika dia berusaha untuk ber-amar makruf nahi munkar, pasti ada saja orang yang tidak menyukainya. Inilah musibah-musibah yang tidak disukai disebabkan karena ketaatan yang dilakukan oleh hamba kepada Allah ﷻ dan semua itu berpahala di sisi Allah ﷻ.

  1. Karena kemaksiatan.

Terkadang Allah ﷻ memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya, disebabkan karena maksiat yang telah dilakukannya. Banyak sekali orang yang mendapatkan ujian, dikarenakan mereka bermaksiat kepada Allah ﷻ. Apabila mereka bersabar dengan ujian tersebut, maka akan menggugurkan dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya. Akan tetapi, apabila tidak bisa bersabar, maka akan menjadi bagian hukuman yang Allah berikan kepadanya dan semakin menambah dosa-dosanya. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Begitu juga dengan firman Allah ﷻ,

وَما أَصابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. (QS. An-Nisa’: 79)

Maka dari itu, Allah memberikan musibah-musibah disebabkan karena maksiat. Musibah ini jika seseorang menghadapinya dengan sabar, maka akan menggugurkan dosa dan mengangkat derajatnya. Akan tetapi, jika tidak sabar, maka hal itu akan menjadi bagian dari hukuman. Bahkan, bisa jadi hamba tersebut semakin terpuruk dan bertambah dosanya. Inilah ujian-ujian yang akan dihadapi oleh manusia berkaitan dengan hal-hal yang tidak disukai.

Sikap manusia dalam menghadapi ujian

Ada beberapa tingkatan bagi orang-orang yang terkena ujian, di antaranya:

  1. Mengeluh atau tidak menerima (الجَازِئ)

Hukumnya adalah haram. Orang yang mengeluh dan tidak menerima ujian yang diberikan oleh Allah ﷻ kepadanya, akan tampak dari lisan, tulisan dan perbuatan. Semua itu berasal dari hati, yang kemudian terlampiaskan dalam macam-macam bentuk tersebut. Di antara contohnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ، أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Bukan dari golongan kami orang yang menampar pipinya, merobek bajunya atau menyeru dengan seruan jahiliyah (apabila seorang tertimpa musibah).”([3])

Ini semua menunjukkan ketidak sabaran seseorang ketika mendapatkan ujian dari Allah ﷻ. Tidak hanya itu, bisa saja seseorang melampiaskan ketidak sabarannya dengan memukul benda atau apa saja yang ada di sekitarnya, atau bahkan membanting benda tersebut. Dia merasa tidak menerima dengan ujian yang menimpanya. Ini menunjukkan bahwa dia tidak sabar dengan ujian yang ditimpakannya. Orang yang dalam keadaan demikian ini, tentu saja berdosa. Konsekuensinya adalah musibah tersebut akan menambah dosanya, yaitu musibah di atas musibah.

Ketika seseorang tertimpa musibah dan tidak rela dengan musibah tersebut, maka terkadang akan tampak dari lisannya. Dia tidak mampu menahan diri hingga berteriak, protes dan marah, seakan-akan apa yang telah Allah tentukan kepadanya adalah suatu kesalahan.

Sangat disayangkan, ketika mendengar seorang wanita yang terhitung sudah lama menuntut ilmu, tetapi ketika tertimpa suatu musibah seakan-akan semua ilmu yang telah dipelajarinya hilang begitu saja. Bagimu wahai wanita muslimah, yang telah berhijab, menjaga auratnya dan rajin dalam menuntut ilmu. Apakah tatkala diberikan musibah kepada kalian, lalu protes dan marah kepada Allah?

Tidak hanya melalui lisan saja, terkadang protes tersebut dia lampiaskan ke dalam bentuk tulisan maupun perbuatan. Inilah di antara bentuk atau sikap tidak menerima terhadap ujian yang Allah ﷻ berikan. Hendaknya setiap muslim berhati-hati terhadap sikap yang demikian.

  1. Bersabar (الصَّابِر)

Hukumnya adalah wajib. Seseorang yang tertimpa musibah, pasti hatinya akan terasa pedih, namun dalam hal ini dia mampu untuk menahan diri, baik lisannya maupun perbuatannya. Secara bahasa, (الصَّبْر) bermakna (الحَبْس) ‘menahan’. Hatinya merasa sedih, namun sejatinya dia menerima musibah tersebut. Meskipun dia tidak suka dengan hal tersebut, namun dia berusaha tetap sabar. Orang yang melakukan hal ini akan mendapatkan pahala, diampuni dosa-dosanya dan diangkat derajatnya.

  1. Rida dengan musibah (الرَّاضِي)

Ketika Allah ﷻ memberikan ujian ataupun musibah kepadanya, dia tidak merasa perih, marah ataupun menyesal di dalam hatinya. Bahkan, dia menerima ujian tersebut, karena dia merasa rida dengan ujian yang Allah berikan kepadanya. Tentunya, derajat ini lebih tinggi daripada sabar.

Adapun hukumnya, terdapat khilaf di antara ulama berkaitan dengan hal ini. Sebagian mereka berpendapat bahwasanya hukumnya adalah wajib, sedangkan yang lain berpendapat sunah. Yang benar, hukum dalam permasalahan ini adalah sunah dan tidak sampai ke dalam derajat wajib, karena dia telah mengamalkan sesuatu di atas amalan yang seharusnya dia hadapi berupa sabar dalam menghadapi musibah. Tentunya, barang siapa yang mampu berada pada derajat ini, akan mendapatkan pahala yang lebih besar dari pada pahala sabar. Ini semua merupakan teori, apabila kita tertimpa suatu musibah, maka kita tidak akan mengetahui sikap kita sampai kepada derajat yang mana.

  1. Bersyukur (الشَّاكِر)

Ini merupakan derajat yang paling tinggi ketika seseorang tertimpa suatu ujian ataupun musibah. Dia merasa senang dengan musibah tersebut. Baginya tidak bermasalah jika musibah tersebut senantiasa bersamanya. Tentu sangat sulit untuk mencapai derajat ini, yaitu dia merasa bersyukur dengan adanya musibah yang menimpanya. Namun, orang yang berada pada kondisi seperti ini sangat sedikit.

Bagaimana cara seseorang untuk mencapai derajat ini?

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar seseorang bisa bersyukur dengan musibah-musibah yang menimpanya, di antaranya:

  1. Melihat kepada orang yang lebih susah

Sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian, karena sesungguhnya hal itu lebih pantas agar kalian tidak merendahkan nikmat Allah kepada kalian.”([4])

Siapa saja yang tertimpa musibah, hendaknya dia tetap bersyukur. Karena jika direnungkan, sejatinya musibah yang ditimpakan kepadanya lebih ringan dari pada orang lain. Masih ada orang yang mendapatkan musibah lebih parah dari pada dirinya. Apabila dia merasa tidak beruntung dengan musibah yang menimpanya, sejatinya ada yang lebih tidak beruntung dengan musibah yang dialaminya. Apabila dia merasa rugi karena kehilangan sebagian hartanya, sejatinya ada orang yang telah lenyap semua harta yang dimilikinya.

Barang kali ada seseorang yang terkena musibah yang mengharuskannya berjalan dengan bantuan tongkat, maka sudah seharusnya dia bersyukur karena masih memiliki kaki dan bisa berjalan, karena ada orang yang masih memiliki kaki, tetapi dia harus memakai kursi roda untuk selamanya, atau bahkan ada orang yang sudah tidak memiliki kedua kakinya. Yang lebih parah lagi ada orang yang tergeletak tidak mampu berbuat apa pun. Ketika dia merenungkan ini semua, maka dia akan lebih sering beryukur kepada Allah ﷻ.

  1. Merenungkan ganjaran dari musibah

Ganjaran musibah sangat banyak, di antaranya adalah:

  • Mengurangi dosa, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ummu As-Sa’ib atau Ummu Al-Musayyib

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيد

“Janganlah mencela demam, karena dia akan menghilangkan dosa-dosa bani Adam sebagaimana alat besi menghilangkan karat besi.” ([5])

Demam saja mampu menghilangkan dosa, apalagi penyakit yang lebih parah daripada itu. Contoh lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ: لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Apabila Nabi menjenguk orang yang sedang sakit, maka beliau berdoa, ‘Tidak mengapa, semoga (penyakit yang menimpamu) menggugurkan dosa-dosamu, jika Allah menghendakinya’.”([6])

Selain itu, hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi ﷺ bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan, kegelisahan, hingga duri yang menimpanya, melainkan Allah akan menghapuskan dengannya dosa-dosanya.”([7])

Segala keletihan yang didapatkan dari pekerjaan atau aktifitas apa pun, penyakit apa pun, baik pusing, sakit kepala, sakit kaki, kesedihan masa lalu yang selalu membuat  orang sedih, karena mengingatnya, kekhawatiran masa depan, bagaimana nasibnya di masa depan kelak, segala kegelisahan yang membuat hatinya tidak tenang maka itu semua akan mengurangi dosa-dosanya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa terkadang di antara kebaikan Allah adalah Allah ﷻ memberikan hukuman atau mengurangi dosa-dosa seseorang melalui kegelisahan yang dirasakannya. Hendaknya dia lebih bersyukur, karena kegelisahan itu merupakan ujian yang lebih ringan. Lantas, bagaimana jika anak atau anggota keluarganya atau hartanya diambil oleh Allah ﷻ?

Begitu juga dengan segala gangguan yang menimpa kepada seseorang, baik itu berupa orang lain yang telah mencacinya, mengambil hartanya ataupun menzaliminya hingga duri yang melukainya pun, maka semua itu akan menggugurkan dosa-dosanya.

  • Mengangkat derajat. Ketika Allah ﷻ menginginkan derajat lebih tinggi bagi seorang hamba, namun Allah melihat amalnya, ternyata amalnya tidak cukup untuk mengangkatnya naik ke atas derajatnya yang tinggi, maka Allah ﷻ akan memberikan ujian kepadanya. Dalam satu hadis Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ، لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ، أَوْ فِي مَالِهِ، أَوْ فِي وَلَدِهِ

“Sesungguhnya seorang hamba ketika Allah menginginkan derajat bagi hamba-Nya, sedangkan amalannya tidak mampu mengangkatnya, maka Allah akan mengujinya di badannya atau hartanya atau anaknya.” ([8])

Begitu juga dengan firman Allah ﷻ,

إِنَّما يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسابٍ

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (QS. Az-Zumar: 10)

Maka dengan pahala tersebut, Allah ﷻ mengangkatnya kepada derajat yang tinggi. Inilah di antara ganjaran seseorang yang bersyukur apabila diberikan ujian oleh Allah.

  • Menghindarkan dari perkara yang lebih besar.

Penulis memiliki teman yang saat itu hendak naik sebuah pesawat. Ketika itu, dia tertinggal sebuah pesawat, maka dia berusaha mengejar pesawat tersebut, namun dia tidak mampu mendapatkan pesawat tersebut. Hal yang terduga, ternyata pesawat tersebut meledak di udara. Dia yang termasuk terlambat menaiki pesawat tersebut. Sebuah musibah baginya, karena tidak jadi terbang. Ternyata Allah menghindarkannya dari musibah yang lebih besar yaitu, meledaknya pesawat yang seharusnya dia naiki.

Kita tidak tahu, bisa jadi kita memiliki sebuah kendaraan, tetapi tiba-tiba motor tersebut dicuri oleh orang lain. Tentu saja, kita tidak suka dnegan hal itu. Akan tetapi, ternyata itu adalah cara Allah ﷻ untuk menghilangkan kita dari musibah yang lebih besar. Bisa jadi, ketika kita naik kendaraan tersebut, tanpa kita sadari tiba-tiba terjadi kecelakaan dan akhirnya kita meninggal dunia, sehingga meninggalkan anak, istri dan keluarga kita.

Oleh karenanya, jika kita merenungkan hal ini, maka selayaknya bagi kita bersyukur kepada Allah. Kenapa ujian dari Allah itu mengurangi dosa? Karena, bisa saja kita sering beristighfar, namun istighfar kita tidak diterima oleh Allah ﷻ atau mungkin kita tidak khusyu’ saat istighfar atau mungkin ada dosa-dosa yang dianggap biasa, namun tetap tidak meminta ampunan terhadap dosa-dosa tersebut atau bahkan cenderung mengacuhkannya. Sehingga cara Allah ﷻ untuk menghilangkan dosa-dosa kita adalah dengan memberikan musibah atau ujian kepada kita, sebagai bentuk kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-Nya.

  • Besarnya pahala di akhirat. Di antaranya adalah:

Allah ﷻ berfirman,

إِنَّما يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسابٍ

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (QS. Az-Zumar: 10)

Begitu juga di dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَوَدُّ أَهْلُ العَافِيَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ البَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالمَقَارِيضِ

“Orang-orang yang tidak terkena musibah pada hari kiamat ketika melihat orang-orang yang yang terkena musibah diberikan pahala, mereka berangan-angan, ‘Seandainya kulitnya dipotong-potong dengan gunting dahulu ketika di dunia.”([9])

Hadits tersebut menjelaskan bahwa pada hari kiamat kelak sejatinya orang-orang berangan-angan agar diberikan musibah pada saat di dunia, karena melihat pahala besar yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Jadi, hadis ini menunjukkan bahwasanya orang yang diuji dengan ujian-ujian, mereka mendapat pahala yang sangat besar tanpa batasan dari Allah ﷻ. Hal ini seharusnya membuat orang bersyukur terhdap setiap musibah yang dihadapinya.

  1. Merenungkan hikmah musibah

Di antara hal yang bisa membuat seseorang bersyukur dengan ujian atau musibah adalah merenungkan hikmah yang ada di antara musibah adalah:

  • Dengan musibah kita tahu lemahnya diri kita.
  • Dengan musibah kita tahu kadar nikmat Allah ﷻ.
  • Dengan musibah kita tidak merasa sombong dan angkuh.
  • Musibah menjadi teguran. Bagaimana seorang hamba ditegur oleh Allah ﷻ atas kelalaiannya, sehingga dia berusaha memperbaiki dirinya.
  • Dengan musibah kita tidak merasa ‘ujub, dia menyadari bahwa dia memiliki banyak kesalahan dan kekurangan.
  • Tidak tenteram dengan dunia. Kita tahu bahwa dunia ini tidak semuanya terasa manis. Imam Asy-Syafi’i ﷺ berkata,

مِحَنُ الزَمانِ كَثيرَةٌ لا تَنقَضي, وَسُرورُهُ يَأتيكَ كالأَعيادِ

“Sesungguhnya ujian kehidupan ini datang tidak berhenti-berhenti dan kesenangan datang sesekali bagaikan hari ‘id.” ([10])

Tatkala kita diuji dengan musibah, mungkin dengan anggota keluarga yang meninggal dunia atau hilang. Kita tahu bahwasanya dunia itu isinya adalah kesedihan dan kekhawatiran. Maka, kita berharap dengan akhirat yang tidak ada kesedihan maupun kekhawatiran, di mana semuanya berisi tentang kesenangan dan kegembiraan. Mudah-mudahan kita bisa beranjak dari sabar menjadi rida dan bersyukur kepada Allah yang memiliki pahala yang besar di sisi Allah ﷻ.

Orang yang bersabar, pada hakikatnya dia telah diberikan anugerah yang sangat besar. Disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seseorang diberikan suatu yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran.”([11])

Apabila seseorang diberikan anugerah berupa kesabaran, tidak mudah emosi ataupun meronta-ronta, tenang dengan apa yang dihadapinya, sejatinya itu adalah anugerah yang luar biasa, dia telah diberikan akhlak yang indah, yaitu sabar. Kita perlu ingat bahwa kita tidak mungkin bersabar kecuali dengan ijin Allah ﷻ,

وَاصْبِرْ وَما صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

Maka dari itu, jika kita berada pada kondisi yang sulit, hendaknya kita meminta kepada Allah ﷻ agar kita dianugerahi kesabaran.

Di antara hal yang membuat kita mampu untuk bersabar adalah ketika kita diberikan musibah langsung mengucapkan

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Berdasarkan firman Allah ﷻ,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 156)

Hendaknya seseorang mengucapkan kalimat itu dan tidak mengucapkan yang lainnya. Itu adalah kalimat istirja’, yang dapat mengembalikan seluruhnya kepada Allah ﷻ dan membuat kita tegar dalam menghadapi musibah. Di samping itu, seseorang bisa berdoa dengan mengucapkan,

اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah, berikanlah aku pahala pada musibahku dan berikanlah ganti yang lebih baik darinya.”

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiallahu’anha -istri Nabi ﷺ- berkata,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ فِي مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا  قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ، رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah, lalu mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali, Ya Allah, berikanlah aku pahala pada musibahku dan berikanlah ganti yang lebih baik darinya’, melainkan Allah akan memberikan baginya pahala pada musibahnya dan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik’. Dia berkata, ‘Ketika Abu Salamah wafat, aku mengucapkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah , maka Allah memberikan ganti yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah ’.” ([12])

Hendaknya seseorang meminta kepada Allah ﷻ secara langsung. Atau boleh berdoa dengan mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas segala kondisi.”

Berdasarkan hadis riwayat ‘Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Apabila beliau melihat hal yang tidak disukai, maka beliau mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah atas segala kondisi’.” ([13])

Kita yakin bahwasanya di balik musibah tersebut, pasti ada hikmah-hikmah yang Allah ﷻ kehendaki, yang mungkin kita tidak mengetahuinya atau mungkin Allah ﷻ menampakkan sebagiannya dan sebagian yang lain disembunyikan. Ini hanyalah teori dan ini semua memerlukan perjalanan hidup dengan belajar bersabar, belajar rida maupun bersyukur. Namun, yang namanya ujian pasti akan menerpa siapapun. Kita semua tidak ada yang lolos dari ujian maupun musibah dari Allah ﷻ.

Footnote:
________

([1]) H.R. Ahmad no. 25322 dan Ibnu Majah no. 2901 dan disahihkan oleh Al-Albani

([2]) H.R. Ahmad dan Al-Hakim no. 1733, hadis sahih dengan syarat Bukhari dan Muslim

([3]) H.R. Muslim no. 103  dan Bukhari no. 1294 dengan redaksi hadis,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ…

“Bukan dari golongan kami orang yang menampar pipinya, dst.”

([4]) H.R. Muslim no. 2963

([5]) H.R. Muslim no. 2575

([6]) H.R. Bukhari no. 3616

([7]) H.R. Bukhari no. 5641

([8]) H.R. Abu Dawud no. 3090 dan disahihkan oleh Al-Albani.

Abu Dawud mencantumkan tambahan hadis tersebut dari Ibnu Nufail berkata,

ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ – ثُمَّ اتَّفَقَا – حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

“Kemudian Allah menjadikannya sabar atas ujian tersebut, sehingga dia mampu mencapai derajat yang diinginkan Allah I.”

([9]) H.R. At-Tirmidzi no. 2402, dihasankan oleh Al-Albani dan Al-Baihaqi no. 9451 di dalam Syu’abul Iman

([10]) Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i hal. 11

([11]) H.R. Bukhari no. 1469

([12]) H.R. Muslim no. 918

([13]) H.R. Ibnu Majah no. 3803 dan dihasankan oleh Al-Albani