Nasihat Untukmu, Wahai Anakku

Nasihat Untukmu, Wahai Anakku

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Satu perumpamaan orang tua yang menasihati anaknya sebagai wujud kasih sayang adalah sebagaimana tentang nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Tentunya, ini adalah perkara yang penting bagi orang tua dan juga bagi anak-anak, karena kita tahu bahwa anak adalah buah hati setiap orang. Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sinan radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

دَفَنْتُ ابْنِي سِنَانًا، وَأَبُو طَلْحَةَ الخَوْلَانِيُّ جَالِسٌ عَلَى شَفِيرِ القَبْرِ، فَلَمَّا أَرَدْتُ الخُرُوجَ أَخَذَ بِيَدِي، فَقَالَ: أَلَا أُبَشِّرُكَ يَا أَبَا سِنَانٍ؟ قُلْتُ: بَلَى، فَقَالَ: حَدَّثَنِي الضَّحَّاكُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَرْزَبٍ، عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ، فَيَقُولُ اللَّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ

“Aku telah menguburkan anakku Sinan, sedangkan Abu Thalhah Al-Khaulani duduk di tepi kuburan. Ketika aku hendak keluar, tiba-tiba dia memegang tanganku, seraya berkata, ‘Maukah aku beritakan kabar gembira kepadamu, wahai Abu Sinan?’, aku berkata, ‘Tentu’. Dia berkata, ‘Adh-Dhahhak bin Abdurrahman bin ‘Arzab, dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah bersabda, ‘Apabila anak dari  seorang hamba meninggal dunia, maka Allah berkata kepada malaikatnya (yang mencabut nyawa), ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hambaku?’, mereka berkata, ‘Benar’, lalu Allah berkata lagi, ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?’, mereka berkata, ‘Benar’, lalu Allah berfirman, ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?’, mereka berkata, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’’([1]), maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah sebuah rumah untuk hamba-Ku di surga dan namakanlah rumah itu dengan ‘Baitul-hamdi’ (rumah pujian)’.” ([2])

Di dalam hadits tersebut Allah ﷻ berkata kepada malaikat yang telah mengambil buah hati seorang hamba, قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ  ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?’. Ini jelas bahwasanya anak adalah buah hati seseorang. Oleh karenanya, kecintaan orang tua terhadap anaknya sangat luar biasa. Allah ﷻ telah berfirman,

الْمالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَياةِ الدُّنْيا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Ayat ini menjelaskan bahwasanya harta dan anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia. Barang siapa yang memiliki anak yang saleh dan putri yang salihah, maka seakan-akan dia telah meraih surga yang disegerakan kenikmatannya, di antaranya bisa dengan melihat anak-anak yang taat kepada orang tuanya dan berakhlak mulia. Hal itu tentu menjadi kebahagiaan yang luar biasa yang dirasakan oleh orang tua, terutama bagi kita sebagai orang tua di mana banyak di antara kita sudah memiliki anak.

Adapun jika sebaliknya, ketika ada seseorang mendapati anaknya nakal, atau  tidak taat kepada orang tuanya, cenderung membangkang dan malas beribadah, maka itu seakan-akan seperti azab yang disegerakan bagi orang tua. Oleh karenanya, perhatian terhadap anak memang benar-benar harus diberikan kepada mereka, dengan meluangkan waktu atau bahkan dengan mengorbankan harta maupun perasaan. Semuanya itu perlu dikorbankan demi anak-anak, dan juga untuk orang tua di kemudian hari.

Tentunya, pendidikan yang diberikan kepada anak-anak bisa dengan pendidikan secara perbuatan, berupa contoh atau teladan, maupun perkataan berupa nasihat. Para ulama mengatakan bahwa mendidik anak-anak harus disertai kesabaran yang besar([3]). Jika seseorang tidak menghiasi dirinya dengan kesabaran ketika mendidik anak-anak, maka dia tidak layak menjadi seorang ayah ataupun ibu. Jika seseorang telah mendapati dirinya menjadi seorang ayah maupun ibu, maka dia harus memiliki bekal kesabaran dalam mendidik anak-anaknya. Maka dari itu, sebagaimana perkataan ulama, bahwa perumpamaan ketika mendidik anak-anak, terutama pada saat usia dini atau remaja adalah seperti seseorang yang menyalakan api kompor ketika memasak, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Apabila api tersebut terlalu kecil, maka dikhawatirkan api tersebut akan padam dan akan berakibat lamanya masakan tersebut. Namun, apabila api tersebut terlalu besar, maka akan berakibat masakan tersebut hangus. Oleh karenanya, api tersebut harus sering diperhatikan, jangan sampai api tersebut mati.

Demikianlah sikap orang tua dalam mendidik anak-anak. Sebagai orang tua, kita harus selalu memberikan perhatian dan jangan sampai lalai dari mereka. Kita tidak boleh terlalu percaya kepada mereka, karena hal itu akan mengakibatkan sang anak terjerumus ke dalam hal yang tidak diinginkan, dan apabila hendak menegur mereka pun harus menggunakan teguran yang lembut. Apalagi anak-anak zaman sekarang, di mana kebanyakan mereka sering bergaul dengan media sosial dan mereka juga memiliki pengetahuan yang banyak tentang itu, sedangkan di balik itu terdapat banyak sekali godaan-godaan. Oleh karenanya, hendaknya setiap orang tua selalu waspada dan memberikan perhatiannya kepada anak-anaknya, karena pasukan iblis bisa menggoda mereka kapan saja.

Ayat-ayat di dalam surat Luqman terdapat nasihat yang berharga dari seorang ayah yang bernama Luqman kepada putranya. Beliau dikenal dengan Luqman Al-Hakim, dan Allah ﷻ telah menyifatinya di dalam firman-Nya,

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman.” (QS. Luqman: 12)

Hikmah yang dimaksud adalah ilmu, nasihat maupun kata-kata bijak. Oleh karenanya, terjadi khilaf di antara para ulama apakah Luqman merupakan seorang nabi atau seorang yang bijak? Jumhur ulama mengatakan bahwa Luqman bukanlah seorang nabi, melainkan Luqman adalah seorang bijak yang diberikan anugerah oleh Allah ﷻ berupa ilmu, sehingga apa yang dia utarakan dan kata-kata yang dia sampaikan mencakup segala hal yang bijak([4]).

Nasihat Luqman Al-Hakim  ini dikumpulkan oleh Al-Alusi di dalam tafsirnya Ruh Al-Ma’ani, begitu juga oleh Thahir Ibnu ‘Asyur di dalam kitabnya At-Tahriir wa At-Tanwiir([5]). Nasihat yang disampaikan Luqman tersebut bersifat umum, berkaitan dengan muamalah, uang, keluarga, hubungan dengan Allah SWT dan di antaranya berkaitan dengan anak-anak.

Allah ﷻ menukilkan kepada kita nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Kita bisa membayangkan bagaimana seorang yang bijak seperti Luqman Al-Hakim, yang merupakan seorang yang pandai menasihati orang banyak, yang dalam satu kesempatan menasihati anaknya sendiri. Tentu saja dia akan memilih kata-kata terindah yang bisa masuk ke dalam hati anaknya, sehingga benar-benar bermanfaat bagi anaknya. Di antara nasihat Luqman Al-Hakim adalah sebagaimana firman Allah ﷻ ,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Pada ayat ini terdapat perselisihan di antara ulama, apakah putranya adalah seorang musyrik ataukah beriman? Secara zhahir, putra Luqman Al-Hakim bukanlah seorang musyrik, tetapi seorang beriman, karena setelah Luqman Al-Hakim menasihati anaknya sebagaimana disebutkan di dalam ayat tersebut, dia memberikan nasihat-nasihat yang lain yang berkaitan dengan seorang muslim. Oleh karena itu, meskipun putranya adalah seorang mukmin, tetapi Luqman Al-Hakim tetap menasihati putranya tentang perkara yang sangat berbahaya bagi kehidupan setiap orang yang beriman, yaitu kesyirikan([6]).

Firman Allah ﷻ,

يَابُنَيَّ

“Wahai anakku!”

Luqman Al-Hakim memanggil anaknya dengan يَابُنَيَّ ‘Wahai anakku’. Dalam bahasa Arab, panggilan tersebut merupakan panggilan yang paling halus dari orang tua kepada seorang anak laki-laki. Selain itu, panggilan tersebut juga menggambarkan panggilan yang penuh dengan kasih sayang dari seorang ayah. Ini menunjukkan bahwasanya ketika seseorang memberikan nasihat terhadap anaknya, maka dia harus memancarkan kasih sayang kepada anaknya, bukan dengan memancarkan raut muka yang jengkel dan menakutkan, di mana sang anak akan merasakan adanya kebencian dari orang tuanya.

Luqman Al-Hakim menasihati anaknya dengan menggunakan kata-kata yang menunjukkan bahwa dia sangat sayang kepada putranya. Demikianlah seharusnya bagi setiap orang dalam memberikan nasihat, hendaknya dia memberikan nasihat itu dari hati ke hati kepada orang yang dinasihatinya. Jika yang menasihati sayang kepada yang dinasihati, maka tentu mudah bagi yang dinasihati untuk menerimanya. Akan tetapi, jika yang menasihati terlihat benci, terlihat ingin merendahkan atau menjatuhkan orang yang dinasihati, maka sejatinya sejak awal hatinya sudah menolak nasihat tersebut. Hal ini berlaku bagi siapa saja yang hendak memberikan nasihat.

Sesungguhnya jika kita sendiri menasihati orang lain dengan menggunakan kata-kata yang menunjukkan sayang kepadanya, maka nasihat kita akan mudah diterima. Akan tetapi, jika sejak kita awal telah membumbui dengan kata-kata kasar, kebencian dan yang sejenisnya, maka orang yang hendak kita nasihati akan sulit menerimanya. Maka terutama ketika menasihati anak, tentunya kita harus menggunakan kata-kata yang lembut, sebagaimana Luqman Al-Hakim menasihati anaknya dengan memanggil يَابُنَيَّ ‘Wahai anakku’ atau ‘Wahai putraku’. Sederhananya, panggilan tersebut jika dalam bahasa keseharian kita adalah seperti orang tua yang memanggil anaknya dengan ucapan ‘wahai putraku yang sangat aku sayangi’.

لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Syirik

Menurut ilmu bahasa, perkataan Luqman kepada anaknya bermakna  لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِشْرَاكًا ‘Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah dengan bentuk syirik apa pun’, baik itu berupa syirik besar maupun syirik kecil. Perkara syirik besar tentu akan tampak, seperti menyembah atau meminta kepada penghuni kubur, meminta kepada selain Allah ﷻ, percaya kepada Tuhan selain Allah ﷻ, menyembelih untuk selain Allah ﷻ, atau dengan mengikuti agama yang menyimpang. Semua perkara tersebut tampak secara zhahir dan mudah dipahami oleh banyak orang, di mana seseorang menyamakan Tuhan dengan makhluk. Kita tentu paham bahwa hakikat kesyirikan adalah penyembahan terhadap makhluk, seseorang menyamakan Tuhan Pencipta alam semesta dengan makhluk yang disembah. Hal ini sebagaimana yang dipraktikkan oleh pemeluk agama-agama selain Islam, di mana di antara mereka ada yang menyembah nabi, wali, jin, malaikat, berhala, sapi, tikus, matahari maupun rembulan. Padahal, semua yang disembah itu merupakan makhluk. Oleh karenanya, di antara kezaliman yang sangat besar adalah melakukan kesyirikan.

Lafal ظُلْمٌ dalam bahasa arab bermakna وَضْعُ شَيْىءٍ فِيْ غَيْرِ مَحَلِّهِ ‘meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya’. Kezaliman paling besar yang dilakukan oleh seseorang adalah kesyirikan karena seseorang telah meletakkan ibadah yang tidak pada tempatnya, yaitu dia meletakkan ibadah kepada sesama makhluk. Padahal, seharusnya dia meletakkan ibadah hanya kepada Tuhan Pencipta alam semesta. Perkara ini adalah perkara zhahir yang sangat tampak, di mana setiap orang tua harus mengingatkan akan hal ini kepada anak-anaknya.

Perkara kesyirikan akan mudah diketahui jika dipraktikkan kepada generasi terdahulu. Akan tetapi, jika berbicara tentang zaman sekarang, perkara tersebut menjadi hal yang samar terutama bagi anak-anak, di mana banyak sekali syubhat yang tersebar di internet, baik dari orang-orang kafir maupun Ateis, sedangkan kita sebagai orang tua kesulitan dalam mengontrol aktivitas anak-anak. Terkadang, karena rasa keingintahuan anak-anak yang sangat besar, akhirnya mereka digiring untuk membaca syubhat-syubhat yang bersumber dari orang-orang kafir, entah itu dari kaum Nasrani, Yahudi atau Ateis, yang tentu saja hal ini akan membahayakan bagi pemikiran anak-anak. Oleh karenanya, hendaknya setiap orang tua selalu waspada akan pendidikan anak-anaknya, terutama di dalam masalah tauhid dan bahaya kesyirikan. Jika kita sebagai orang tua mampu menjelaskan perkara ini dengan baik, maka naluri dan fitrah mereka akan mudah menerima.

Selain pada perkara syirik besar, anak-anak juga butuh untuk dididik supaya terhindar dari syirik kecil sejak dini, agar mereka terbina di atas perbuatan yang ikhlas kepada Allah ﷻ. Di antara contohnya adalah dengan mengajarkan kepada mereka tawakal, baik tawakal dengan belajar maupun bertindak. Seandainya mereka sedang menghadapi ujian sekolah, maka kita ajarkan kepada mereka untuk selalu tawakal kepada Allah ﷻ dengan cara belajar, adapun hasilnya apakah nanti mereka lulus atau tidak, maka semua diserahkan kepada Allah ﷻ. Yang terpenting dalam hal ini adalah kita telah mengajarkan kepada mereka bagaimana tawakal yang sebenarnya, yaitu dengan selalu menyandarkan diri kepada Allah ﷻ.

Selain itu, orang tua juga bisa mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak mencari pujian dari orang lain, berlatih untuk ikhlas kepada Allah ﷻ. Inilah yang hendaknya ditanamkan kepada anak-anak, karena di antara makna nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya adalah لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ‘Janganlah engkau menyekutukan Allah’, artinya janganlah berbuat syirik, syirik besar maupun syirik kecil.

Zaman sekarang adalah zaman media sosial. Kebanyakan anak-anak suka memamerkan jati dirinya di dalam akunnya agar dipuji oleh orang lain di dalam media sosial. Banyak orang tua yang merasa kesulitan dalam mengontrol aktivitas mereka di dunia maya tersebut. Terkadang mereka sudah terbiasa dengan pujian-pujian yang mereka dapatkan berkaitan dengan perkara dunia yang telah dia pamerkan kepada teman-temannya, bisa jadi perkaranya adalah ringan, seperti memamerkan makanan lezat, gadget baru ataupun motor baru yang bisa dia pamerkan. Jika hal ini sudah terbiasa dilakukan sehingga tidak terkontrol, maka lama kelamaan pada perkara ibadah pun dia akan terbiasa untuk memamerkannya. Ketika shalat, ketika membaca Al-Quran, ketika umrah, semuanya dipamerkan. Akhirnya semua perkara ibadah yang dipamerkannya tersebut akan menjerumuskannya ke dalam perkara riya’. Oleh karenanya, hendaknya kita sebagai orang tua selalu mengingatkan anak-anak kita agar tidak berbuat syirik akbar dan syirik kecil, karena syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Hal ini harus kita tanamkan, terutama pada zaman sekarang ini.

Demikian juga dengan interaksi sosial, terutama anak-anak yang hidup di luar negeri, terlebih lagi di negeri kafir, di mana sering terjadi interaksi anak-anak muslim dengan anak-anak non muslim. Dalam keadaan seperti ini harus ditanamkan ajaran tauhid sejak dini. Mereka harus di ajarkan tentang tauhid sekaligus bahaya kesyirikan, meskipun dia bergaul dengan anak-anak non muslim. Semua ini bertujuan agar mereka bisa menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.

Kewajiban Berbakti kepada orang tua

Allah ﷻ berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Para ulama berselisih pendapat tentang ayat ini, apakah ayat tersebut merupakan جُمْلَة اعْتِرَاضِيَّة, artinya Allah ﷻ memasukkan ayat tersebut untuk menekankan nasihat Luqman Al-Hakim, ataukah ayat tersebut merupakan nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya dengan cara berbicara langsung dengan menukil firman Allah ﷻ? Wallahu a’lam, secara zhahir, ini adalah nasihat Luqman Al-Hakim kepada putranya dengan menukil nasihat dari Allah ﷻ secara umum. Oleh karenanya, ayat ini diawali dengan وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ ‘Dan Kami perintahkan kepada manusia’.([7])

Luqman Al-Hakim menyampaikan nasihatnya dengan membacakan firman Allah ﷻ kepada putranya tentang berbakti kepada kedua orang tua. Dia mengingatkan bahwa ‘Selain engkau mempunyai kewajiban terhadap Allah , engkau juga mempunyai kewajiban terhadap kedua orang tuamu’.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.”

Ayat ini bersifat umum dan mencakup seluruh manusia agar berbakti kepada kedua orang tua mereka, karena seorang anak adalah hasil dari kedua orang tuanya. Tanpa kedua orang tuanya, maka dia tidak akan ada di atas muka bumi ini.

Setelah itu, Luqman Al-Hakim menyebutkan bagaimana peran ibu bersusah payah dalam mengandungnya, sebagaimana firman Allah ﷻ,

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu.”

Sebagian ulama menyebutkan bahwa seorang ayah ketika menasihati anaknya, hendaknya sewaktu-waktu dia mengingatkan tentang pentingnya berbakti kepada ibu([8]). Misalnya dia mengatakan kepada anaknya, ‘Wahai anakku! ibumu dahulu yang pernah bersusah payah mengandungmu selama sembilan bulan’ atau ‘Wahai anakku! Ingatlah ibumu yang dahulu mengandungmu, merasakan kepayahan setengah mati’. Mungkin saja ketika ibu yang mengatakan demikian akan memberikan kesan yang tidak etis. Akan tetapi, jika ayah yang menyampaikan dan menceritakan tentang bagaimana dahulu dia melihat betapa susahnya ibu mengandungnya, maka akan memberikan kesan di dalam hati sang anak. Oleh karenanya, ini adalah sesuatu yang harus diingatkan kepada anak-anak.

Hal yang membuat kita miris adalah anak-anak pada zaman sekarang lupa dengan ini semua. Ketika mereka lahir di dunia ini dan bisa mendapatkan segala hal yang diinginkannya, akhirnya mereka lupa dengan kebaikan orang tuanya. Bahkan, yang terjadi adalah seorang anak menuntut kewajiban orang tuanya yang harus diberikan kepadanya, sedangkan dia sendiri lupa bahwa dia juga memiliki kewajiban yang harus ditunaikannya kepada orang tuanya. Oleh karenanya, peran kita sebagai orang tua adalah dengan mengingatkan kepada anak-anak tentang kedudukan orang tua, terutama ibu.

Luqman Al-Hakim membacakan ayat yang berkaitan dengan kewajiban berbakti kepada orang tua, terutama kepada ibu. Firman Allah ﷻ,

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ

“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”

Ada beberapa pendapat tentang makna lafal وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ ‘lemah yang bertambah-tambah’. Sebagian ulama berpendapat bahwa maksudnya adalah kelemahan yang bertambah-tambah. Yaitu ketika dalam keadaan hamil, sang ibu muntah-muntah hingga bertambah lemah dan lelah. Pendapat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah kelemahan yang berturut-turut, yaitu mulai dari kelemahan seorang ibu sebagai seorang wanita yang lemah, lalu kelemahan ketika dia mengandung, ketika melahirkan pun dia juga mengalami kondisi yang sangat lemah, sehingga dia mengalami perpindahan dari kelemahan yang satu kepada kelemahan berikutnya, lalu kelemahan berikutnya.([9])

Sebagai seorang wanita, sang ibu sangat lemah. Bayangkan saja, selama sembilan bulan dia membawa janin yang ada di dalam perutnya. Janin tersebut ikut memakan apa yang dimakan oleh ibunya dan meminum apa yang diminum ibunya. Bahkan, sebagian ibu didapati sampai keropos giginya karena banyak kalsium yang diserap oleh anak yang ada di dalam kandungannya. Terlebih lagi, sebagian ibu sampai kekurangan gizi dan sakit-sakitan. Itulah realitas yang didapatkan dari seorang wanita yang hamil, sehingga di samping dia mengalami kelemahan sebagai seorang wanita, lalu ditambah kelemahan saat dia hamil, kemudian ditambah lagi dengan kelemahan tatkala hendak melahirkan. وَهْنٍ ‘lemah yang bertambah-tambah’, kelemahan ini tidak pernah dirasakan oleh para lelaki.

Firman Allah ﷻ,

وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ

“Dan menyapihnya dalam usia dua tahun.”

Selain mengandung dan melahirkan, setelah itu sang ibu kemudian menyusui bayinya selama dua tahun. Ini bukanlah pekerjaan yang ringan, bahkan ini adalah pekerjaan yang sangat berat. Bagaimana seorang ibu menggendong anaknya, jika diletakkan anaknya akan menangis, sedangkan anaknya akan merasa tenang ketika digendong, bahkan sampai tertidur. Bagi seorang laki-laki, dia akan sadar akan hal ini saat dirinya menjadi seorang ayah. Sebagian besar anak-anak tidak mengetahui hal ini, akan tetapi ketikad mereka telah tumbuh dewasa dan menjadi seorang ibu atau ayah, maka mereka akan tahu bagaimana peran ibu atau ayah mereka saat merawat mereka ketika masih kecil.

Pernah disiarkan di dalam radio Idza’atul Quran di Arab Saudi bahwa ada seseorang mengatakan bahwa dia ingin tahu bagaimana beratnya menjadi seorang ibu. Dia meminta kepada istrinya agar tidak beraktivitas selama sehari, dan sebagai gantinya dialah yang akan menggantikan istrinya mengurus pekerjaan rumahnya. Akhirnya, dia mengerjakan semua pekerjaan istrinya, mulai dari menggendong bayi, menyiapkan makanan dan minuman, menidurkan bayi dan semua pekerjaan rumah lainnya. Ternyata, dia melakukan semua pekerjaan tersebut dengan kondisi setengah mati, akhirnya dia tahu betapa beratnya menjadi seorang ibu. Mungkin dia tahu bahwa sebagai seorang laki-laki dia mampu mengangkat benda-benda berat dan yang semisalnya. Akan tetapi, ketika mengurus anaknya yang masih bayi, ternyata dia baru sadar bahwa itu bukanlah pekerjaan yang sepele. Dia tahu bahwa ketika membawa anaknya, dia harus mengangkatnya dengan penuh kelembutan, lalu menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Tentu saja ini adalah pekerjaan yang berat, terutama bagi kaum laki-laki, mereka tidak bisa berbuat banyak jika dihadapkan dengan pekerjaan yang satu ini. Pekerjaannya akan banyak terganggu, apalagi jika anaknya terjaga di malam hari, maka akan banyak waktunya yang harus dia sisihkan. Ternyata tidak mudah untuk mengurus anak.

Perkara inilah yang sering dilupakan oleh anak-anak. Oleh karenanya, tidak mengapa jika seorang anak sudah mulai tumbuh besar diperintahkan untuk menjaga adik-adiknya yang lain. Di samping agar dia bisa mengetahui betapa sulitnya menjaga seorang adik, dia juga akan tahu bagaimana memberikan kasih sayangnya kepada adiknya. Perkara ini perlu diingatkan kepada anak-anak, terutama pada zaman sekarang ini, karena kebanyakan anak-anak lupa dengan kebaikan orang tuanya.

Demikian juga bagi seorang ibu, hendaknya dia mengingatkan kepada putranya tentang jasa ayahnya. Seorang ibu bisa mengingatkan tentang bagaimana ayahnya bekerja keras, bagaimana ayahnya mencari nafkah, bagaimana ayahnya dimaki-maki orang, bagaimana ayahnya bekerja di bawah terik matahari, bagaimana ayahnya harus bangun sebelum waktu subuh untuk berangkat menuju tempat bekerja, lalu pulang di waktu malam dalam keadaan letih dan penuh kepayahan, menanggung berat yang sangat luar biasa, hutang yang menumpuk, kebutuhan yang belum terpenuhi, biaya sekolah anak-anaknya yang belum bisa dibayarkan, bahkan harus menanggung malu karena meminjam uang dari orang lain. Ini semua tidak dirasakan oleh ibu dan hanya dirasakan oleh ayah. Maka ini jasa-jasa dan kebaikan sang ayah juga harus diingatkan kepada anak-anak.

Maka dari itu, sudah seharusnya bagi ayah dan ibu untuk saling bekerja sama dalam hal mendidik anak. Ibu memberikan nasihat kepada anaknya tentang ayah, dan ayah memberikan nasihat tentang ibu. Nasihat ini perlu diulang-ulang untuk diingatkan kepada anak-anak, karena mereka sering kali lupa dengan jasa-jasa kedua orang tuanya, dan hal ini bertujuan agar tidak timbul kedurhakaan sang anak kepada orang tuanya kelak.

Firman Allah ﷻ,

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu.”

Di dalam ayat ini, seakan-akan Allah ﷻ berfirman kepada setiap anak bahwa di antara bukti seseorang termasuk hamba yang bersyukur adalah hendaknya dia bersyukurlah kepada kedua orang tuanya. Jika sang anak tidak pandai bersyukur kepada kedua orang tuanya, itu berarti sang anak tidak pandai bersyukur kepada Allah ﷻ.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لَا يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak pandai berterima kasih kepada manusia.” ([10])

Orang yang paling utama bagi seseorang untuk berterima kasih kepadanya adalah kedua orang tuanya. Jika kita tidak pandai berterima kasih kepada kedua orang tua kita, artinya kita tidak bersyukur kepada Allah ﷻ. Kita tidak bersyukur kepada Allah ﷻ disebabkan karena kita tidak mampu berterima kasih kepada kedua orang tua. Jika kepada kebaikan orang tua saja kita tidak mampu berterima kasih, apalagi berterima kasih kepada kebaikan orang lain?

Perkara ini juga harus selalu kita diingatkan kepada anak-anak, baik ketika mereka masih kecil, atau ketika tumbuh remaja, maupun ketika setelah tumbuh menjadi dewasa. Terutama menghadapi zaman sekarang yang rawan dengan godaan-godaannya. Mereka cenderung memiliki banyak kesibukan masing-masing. Jika dibandingkan dengan zaman dahulu, anak-anak tidak banyak disibukkan dengan gawai. Adapun zaman sekarang ini, anak-anak lebih banyak disibukkan dengan gawai. Ketika sekolah mereka sibuk belajar dengan membawa gawai, ketika pulang sekolah pun mereka dituntut dengan tugas-tugas yang mengharuskan mereka untuk menggunakan gawai, sampai harus memiliki akun media sosial, grup pertemanan dan lain sebagainya. Akhirnya, gawai tersebut menjadikan mereka lalai dengan kewajiban yang harus dia tunaikan kepada kedua orang tuanya.

Sungguh sebuah penderitaan yang dialami oleh orang tua jika di masa tua mereka tidak diperhatikan oleh anak-anak mereka. Anak-anak tidak memberikan perhatian kepadanya, tidak menelepon untuk menanyakan kabarnya, tidak memberikan hadiah kepadanya, bahkan mereka lebih nyaman jika menempatkannya di panti jompo. Hal ini banyak dialami oleh orang-orang kafir. Kebanyakan dari mereka ditinggalkan oleh anak-anak mereka ketika sampai masa tuanya. Di antara mereka pun ada yang tinggal sebatang kara dan hanya ditemani oleh seekor anjing, ke mana pun dia pergi selalu ditemani oleh anjingnya, adapun anaknya tidak pernah menengoknya sama sekali. Bahkan, ketika sakit pun mereka (sang anak) enggan untuk menjenguknya. Sungguh penderitaan yang besar bagi orang tua yang tidak pernah dikunjungi oleh anak-anaknya.

Hendaknya setiap orang selalu ingat الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ ‘balasan sesuai dengan perbuatan’. Justru, ketika seseorang, baik ketika saat masa anak-anak atau masa mudanya, sering memberikan perhatiannya kepada orang tuanya, maka saat dia mendapati masa tuanya pun, Allah ﷻ akan memberikan kemudahan kepada anak-anaknya kelak untuk memberikan perhatian kepadanya. Demikianlah, jika sekarang kita sering kali memberikan perhatian kepada ayah atau ibu, baik dengan menelepon atau memberikan hadiah kepada mereka, maka saat kita memasuki masa tua kita, anak-anak kita akan memberikan perhatian yang serupa kepada kita.

Di antara penderitaan yang sangat buruk yang dirasakan oleh seseorang adalah ketika memasuki masa tua, namun ditinggalkan oleh anak-anaknya, meskipun dia memiliki kekayaan yang berlimpah. Di dalam pesawat terbang, penulis pernah bertemu dengan seorang warga Cina, seorang kafir yang umurnya kurang lebih sekitar 50 tahun. Penulis saling mengobrol lama dengan orang tersebut. Sampai akhirnya dia bercerita bahwa dunia sudah dia dapatkan, dia telah mempunyai segalanya dan banyak kekayaan yang dia miliki. Akan tetapi, ada satu penderitaan yang dia rasakan, yaitu anak-anaknya yang jauh darinya. Padahal, dia telah memenuhi segala kebutuhan mereka. Namun, di masa tuanya mereka tidak pernah mengunjunginya sama sekali, bahkan tidak ada dari mereka yang meneleponnya.

Sebagian orang tua menyekolahkan anaknya hingga ke luar negeri. Tentu sebuah kebanggaan tersendiri ketika orang tua mampu sekolah di negeri orang. Namun, berselang waktu yang lama, ternyata sang anak lebih nyaman untuk hidup, tinggal, dan membina keluarga di negeri tersebut. Akhirnya orang tua hidup sendiri, jauh dari anaknya, karena sibuk dengan kegiatannya.  Allah ﷻ berfirman,

الْمالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَياةِ الدُّنْيا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Setiap orang tua pasti merasa bahagia apabila anak-anaknya memberikan perhatian kepadanya. Oleh karenanya, hendaknya bagi kita sebagai orang tua agar selalu mengingatkan dan memberikan nasihat kepada anak-anak. Kita pun hendaknya demikian, Jika kita selalu memberikan perhatian yang banyak kepada orang tua kita hingga mereka meninggal dunia, maka pada masa tua pun anak-anak akan memberikan perhatiannya kepada kita.

Firman Allah ﷻ,

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu.”

Ini adalah peringatan dari Allah ﷻ bahwasanya perintah agar setiap anak berbakti kepada orang tuanya itu bukan hanya sekedar jika dilaksanakan berpahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Bahkan sebaliknya, ini adalah wasiat Allah ﷻ yang akan diminta pertanggungjawaban bagi setiap manusia, sebab pada permulaan ayat Allah ﷻ berfirman, وَوَصَّيْنَا ‘kami wasiatkan (perintahkan)’, dan ini menunjukkan perintah.

Setelah itu, pada akhir ayat disebutkan إِلَيَّ الْمَصِيرُ ‘Hanya kepada Akulah kembalimu’. Artinya, terdapat tanggung jawab yang akan diminta oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ akan meminta pertanggungjawaban dari setiap manusia tentang sikap mereka kepada orang tua mereka, sikap mereka kepada ayah mereka, sikap mereka kepada ibu mereka yang begitu sulit merawatnya.

Sungguh menyedihkan jika didapati pada zaman sekarang ini kita bersikap pelit dan hitung-hitungan terhadap kedua orang tua kita. Sangat tidak adil, jika dibandingkan kehidupan kita dahulu waktu masih kecil, di mana kedua orang tua sangat sayang kepada kita dan memberikan segala hal kepada anak-anaknya tanpa pamrih. Sangat sulit dibayangkan, seandainya dahulu mereka bersikap pelit kepada kita, seandainya mereka tidak memberikan air susu dan makanan yang baik kepada kita, dan justru mereka menggunakan uangnya dengan berfoya-foya, sehingga kita mengalami gizi buruk, badan kurus dan tak terurus, maka bisa jadi kita menjadi orang yang bodoh dan terbelakang. Akan tetapi, kedua orang tua selalu berkorban tanpa pamrih, bahkan terkadang rela berhutang untuk memenuhi segala kebutuhan anaknya, rela meminjam uang hanya untuk melihat agar anaknya selalu dalam keadaan sehat, rela tidak tidur karena yang terpenting anaknya bisa tidur nyenyak, bahkan mereka kebingungan dan tidak bisa tidur serta air mata yang bercucuran ketika melihat anaknya sakit. Semua ini tidak bisa kita rasakan kecuali jika kita telah menjadi seorang ayah atau ibu. Orang tua kita pun dahulu pernah mengalami hal yang demikian. Dekapannya, kehangatannya, kita telah melupakannya, dan sekarang kita tidak bisa lagi mengingatnya sama sekali. Oleh karenanya, kita sebagai orang tua sangat perlu untuk mengingatkan perkara ini kepada anak-anak kita. Ayah mengingatkan mereka untuk berbakti kepada ibu. Begitu pula, ibu mengingatkan mereka agar hormat dan berbakti kepada ayah.

Ini adalah suatu hal yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat kelak, karena Allah ﷻ berfirman,

إِلَيَّ الْمَصِيرُ

‘Hanya kepada Akulah kembalimu.’

Artinya, Allah ﷻ akan meminta pertanggungjawaban atas wasiat yang telah Allah ﷻ perintahkan. Seakan-akan Allah ﷻ berfirman, “Sudahkah kalian menjalankan wasiat-Ku atau tidak?.”

Maka dari itu, mulai sekarang kita sebagai anak hendaknya mencari tahu apakah hal yang disukai oleh orang tua kita, berusaha mencari keridaan orang  tua, berusaha membuat mereka tersenyum dan tertawa bahagia, berusaha membuat mereka senang dengan melihat kita karena bangga mempunyai anak seperti kita. Sudah seharusnya kita berbuat semaksimal mungkin untuk membuat mereka bahagia sebelum ajal menjemput.

Allah ﷻ berfirman,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)

Di dalam ayat ini, Allah ﷻ memberikan kaidah bahwasanya kita harus taat terhadap perintah orang tua, tetapi tidak dalam segala hal. Jika orang tua memaksa kepada kemaksiatan, terlebih lagi kepada kesyirikan, maka hendaknya kita tidak taat kepadanya. Oleh karenanya, diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah b.” ([11])

Di antara hal yang dilarang untuk taat dalam rangka bermaksiat kepada Allah ﷻ adalah taat kepada kedua orang tua ketika keduanya memerintahkan kita berbuat syirik. Tidak hanya syirik saja, tetapi kemaksiatan yang lain pun demikian. Apabila keduanya memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah ﷻ, maka hendaknya kita menolaknya dengan cara yang baik. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Meskipun kedua orang tua adalah orang yang gemar berbuat kemaksiatan, musyrik atau bahkan kafir, maka hendaknya kita menolak perintah buruk mereka dengan cara yang halus. Pada ayat tersebut Allah ﷻ tidak menyebutkan, ‘hardiklah keduanya’ atau yang semisalnya. Bahkan, jika keduanya memerintahkan kepada puncak kemaksiatan berupa kesyirikan, maka hendaknya kita tetap mengamalkan firman Allah ﷻ, ([12])

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Apa pun yang terjadi kepada kita, jangan pernah mengangkat suara di hadapan kedua orang tua. Orang tua mengomel seperti apa pun, tetap jangan mengangkat suara di hadapannya. Meskipun kita telah beranjak dewasa, hendaknya tidak membentak keduanya.

Sungguh sangat disayangkan ketika melihat anak kecil yang membentak kedua orang tuanya. Orang tua pasti akan merasa sakit hati yang mendalam ketika melihat anaknya membentaknya. Bagaimana seorang anak yang dahulu berasal dari air mani ayahnya, lalu menjadi janin di dalam perut ibunya, kemudian lahir di dunia. Namun, ketika tumbuh dewasa, anaknya berbicara lantang dan membentak kedua orang tuanya. Tentu saja, ini adalah penderitaan bagi seorang ayah dan ibu.

Maka dari itu, janganlah kita sebagai seorang anak mengangkat suara di hadapan orang tua kita. Seburuk apa pun orang tua kita dalam melakukan kemaksiatan, kita tetap tidak diperbolehkan mengangkat suara di hadapan mereka. Apabila kedua orang tua memerintahkan kepada keburukan, Allah ﷻ tidak memerintahkan kepada manusia untuk durhaka, untuk memukul, untuk bersifat pelit, untuk membentak, atau untuk menghardik keduanya. Tidak demikian. Namun, Allah ﷻ berfirman,

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Maka apa pun yang keduanya lakukan, hendaknya kita selalu berbuat baik kepada keduanya. Jika mereka melakukan kesalahan, hendaknya kita menasihatinya. Sebesar apa pun mereka marah kepada kita, hendaknya kita diam, mendengarkan, berkata yang baik, dan tidak perlu mengeraskan suara atau menghardik keduanya. Allah ﷻ melarang kepada seorang anak yang menghardik kedua orang tuanya, meskipun dalam keadaan murka sekalipun. Namun, jika mereka memerintahkan kepada kesyirikan atau kemaksiatan, maka hendaknya kita menolaknya dan tetap berbuat baik kepada keduanya, sebagaimana firman Allah ﷻ,

فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Sebagian orang merasa malu ketika orang-orang mengetahui jati diri ayah maupun ibunya. Bisa jadi perasaan malu tersebut disebabkan penampilan kedua orang tuanya yang tidak nyaman dipandang mata orang lain. Tentu saja ini merupakan sikap yang buruk terhadap kedua orang tua. Selagi kita masih memiliki kedua orang tua, sejatinya mereka adalah pintu surga kita. Percuma saja kita belajar sampai tingkatan yang paling tinggi, tetapi tidak mampu berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Padahal, salah satu jalan yang mudah untuk masuk surga adalah dengan berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Cukup dengan seseorang membuat kedua orang tuanya tertawa, bahagia, bangga melihat dirinya, maka dia bisa masuk ke dalam surga.

Tidak perlu banyak teori untuk bisa masuk ke dalam surga. Sebagian orang bersusah payah menunaikan haji, umrah, berdakwah keliling penjuru negeri, pintar dalam menulis dan menasihati orang, tetapi ternyata pelit, bersikap tidak baik, dan tidak hormat kepada orang tuanya. Oleh karenanya, diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu ketika ada seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad ﷺ bermaksud memohon ijin untuk berjihad, maka beliau ﷺ bertanya kepadanya,

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Lalu dia berkata, ‘Benar’, lalu beliau bersabda, ‘Maka berjihadlah kepada kedua orang tuamu’.”([13])

Rasulullah memerintahkan kepada orang tersebut untuk berjuang dalam berbakti kepada orang tuanya. Sebagaimana dia rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk berperang di medan pertempuran, maka hendaknya dia lebih memilih mengorbankan jiwa dan raganya untuk berjihad untuk kedua orang tuanya. Oleh karenanya, berbakti kepada kedua orang tua termasuk bentuk jihad, karena membutuhkan pengorbanan harta, waktu ataupun perasaan. Apalagi ketika orang tua sudah memasuki masa uzurnya, terkadang bicaranya melantur, tidak menghargai kebaikan anak-anaknya, banyak marah. Saat itulah waktu untuk berjihad, yaitu dengan merawat keduanya.

Allah ﷻ berfirman,

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Jika kedua orang tua menyuruh kita kepada keburukan, maka hendaknya kita tidak mengikuti mereka, dan ini termasuk pengorbanan tersendiri. Ketika terjadi perlawanan saat kita menolak ajakan keburukan dari mereka, maka hendaknya kita bersikap sabar dan tetap teguh mengikuti jalan Allah ﷻ.

Ingatlah bahwa semua yang diperbuat oleh seorang anak kepada orang tuanya berada dalam pantauan Allah ﷻ. Allah ﷻ mengetahui ketika seseorang berbuat baik kepada orang tuanya. Allah ﷻ mengetahui sikap kita ketika orang tua kita berbuat kemaksiatan atau memerintahkan keburukan kepada kita. Oleh karenanya, Allah ﷻ berfirman,

ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Inilah di antara nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya, di antara isi dari nasihatnya adalah:

  • Tentang Allah ﷻ
  • Tentang orang tua
  • Tentang diri kita dengan Allah ﷻ

Setelah itu, Luqman Al-Hakim berusaha memberikan motivasi kepada anaknya untuk melakukan kebajikan, meskipun hal yang kecil, sebagaimana dia memotivasi untuk tidak melakukan keburukan sekecil apa pun.

Allah ﷻ berfirman,

يَابُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata), ‘Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha teliti’.” (QS. Luqman: 16)

Luqman Al-Hakim berulang-ulang memanggil anaknya dengan يَابُنَيَّ ‘Wahai putraku’. Hal itu dilakukan agar anaknya merasa bahwa ayahnya sangat sayang kepadanya. Oleh karenanya, panggilan seperti ini, baik itu ditujukan kepada orang tua seperti ‘Iya, ibu’ atau ‘Iya, ayah’, maupun kepada anak seperti ‘nak’, hal itu akan membuat hati orang yang dipanggil merasa senang. Sebagai orang tua dia akan merasa senang, karena dengan demikian anaknya mengaku bahwa dia adalah anak darinya. Begitu pula yang dirasakan oleh seorang anak, ketika dipanggil demikian, dia akan merasa bahwa orang tuanya sangat sayang kepada dirinya, sehingga dia akan lebih mudah untuk mendengar nasihatnya.

Berbeda kondisinya jika orang tua yang bersikap kasar dan selalu mengangkat suaranya di depan anaknya, maka dia akan merasa bahwa orang tua merupakan musuh baginya. Pernah terjadi di dalam suatu daerah di mana orang tua gemar sekali memarahi  dan memukul anaknya. Saking kesalnya, akhirnya anak tersebut mengambil pisau, lalu memberikannya kepada orang tuanya dan memintanya agar membunuhnya. Ini adalah kejadian nyata, di mana sang anak merasakan kebencian yang sangat besar dari orang tuanya. Akibatnya dia merasa bahwa dia adalah seorang anak yang tidak disayang oleh orang tuanya, anak yang terbuang, dia merasa bahwa orang tuanya menyesal telah melahirkan dirinya dan merasa bangga dengan anak-anak yang lain, dirinya tidak lain hanyalah tempat pelampiasan caci maki oleh orang tuanya.

Sebagai orang tua, hendaknya kita selalu bersikap baik kepada anak-anak kita, meskipun mereka mempunyai kekurangan, kita harus tetap menunjukkan kasih sayang kepada mereka. Bagaimanapun keadaan mereka, sejelek apa pun kekurangan yang dimilikinya atau sebejat apa pun keburukan yang telah dilakukannya, hendaknya tetap berusaha berbuat baik kepada mereka.

Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada anaknya saat hendak tertimpa azab. Pada penghujung hidup anaknya ketika hendak tenggelam, Nabi Nuh ‘alaihissalam masih tetap mendakwahi anaknya dengan perkataan yang sangat lembut. Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata kepadanya,

يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42)

Padahal, selama kurang lebih 900 tahun beliau mendakwahinya, dan bahkan beliau pernah diejek oleh anaknya bersama orang-orang kafir. Akan tetapi, pada saat-saat yang paling genting seperti itu, Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak memanggilnya sebagai anak yang durhaka kepada orang tuanya. Oleh karenanya, sebejat apa pun kelakuan anak kita, sehingga membuat kesal orang tua dan bahkan membuat marah yang luar biasa, dia tetaplah anak kita. Hendaknya kita tetap memanggilnya dengan panggilan yang baik lagi lembut, يَابُنَيَّ ‘Wahai putraku’.

Nasihat tidak akan diterima, kecuali tatkala yang dinasihati merasa bahwasanya yang menasihati sayang kepada yang dinasihati. Itulah yang diungkapkan oleh para nabi ketika pengikutnya tidak merasa bahwa sejatinya para nabi telah menasihati mereka. Para nabi berkata kepada kaumnya,

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

“Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku adalah pemberi nasihat yang terpercaya kepada kamu.” (QS. Al-A’raf: 68)

Inilah yang disampaikan oleh para nabi kepada pengikut-pengikutnya. Sejatinya mereka menginginkan kebaikan dari kaumnya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh para nabi kepada umatnya.

Firman Allah ﷻ,

إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha teliti.”

خَرْدَلٌ adalah sejenis tumbuhan yang ada di daerah Arab, di mana ungkapan حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ untuk menunjukkan kepada sesuatu yang sangat ringan. Oleh karenanya, ayat ini bisa diartikan dengan ‘Meskipun engkau melakukan kebaikan maupun keburukan sekecil atau seringan apa pun, lalu dimasukkan ke dalam batu yang besar atau dilemparkan ke langit yang luas atau ditenggelamkan ke dalam bumi, maka Allah akan mendatangkan itu semua. Sesungguhnya Allah Maha teliti dan mengetahui segala sesuatu sekecil apa pun’.

Luqman Al-Hakim mengajarkan kepada anaknya tentang مُرَاقَبَةُ اللَّه ‘merasa di awasi oleh Allah’. Ini adalah perkara yang sangat diperlukan bagi setiap orang tua maupun anak-anak. Terutama pada zaman sekarang, mulai dari yang tua hingga yang muda, semuanya disibukkan dengan media sosial. Segala hal baik dan buruk bisa didengarkan, dilihat, dan diberikan komentar, dan itu dengan sangat mudah mereka lakukan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.

Luqman Al-Hakim menasihati putranya ‘Wahai putraku! Sekecil apa pun perbuatan yang telah engkau lakukan, lalu engkau memasukkannya ke dalam batu yang besar atau melemparkannya ke langit yang luas atau membenamkannya ke dalam bumi supaya tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka Allah akan mendatangkannya pada hari kiamat kelak’. Artinya, sekecil apa pun perbuatan yang telah seorang lakukan, lalu menyembunyikannya ke dalam batu yang besar atau langit yang luas atau di dasar bumi sekalipun, maka Allah ﷻ akan mendatangkannya kelak pada hari kiamat, entah perbuatan tersebut berupa kebaikan maupun keburukan.

Ini tentunya merupakan motivasi bagi setiap orang untuk berbuat kebaikan, meskipun hal yang remeh sekalipun. Oleh karenanya, hendaknya setiap orang tua mendidik anak-anaknya untuk tidak malas mengerjakan kebaikan sekecil apa pun. Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Nabi Muhammad ﷺ bersabda kepadaku,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya tersenyum ketika bertemu dengan saudaramu.” ([14])

Hendaknya setiap orang tua melatih anak-anaknya untuk bersedekah, meskipun hanya Rp 100,- atau Rp 200,-. Ajarkan kepada mereka untuk memberi dan berbagi dengan orang lain. Jadikan diri mereka pribadi yang tidak pelit. Selalu melatih mereka sejak dini untuk bersikap peka terhadap orang yang membutuhkan. Bukankah di antara doa Nabi Muhammad ﷺ adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ المَسَاكِينِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu perbuatan yang baik, jauh dari segala kemungkaran dan mencintai orang-orang miskin.”([15])

Ajarkan kepada mereka untuk selalu memberi dan mencintai orang miskin, serta untuk tidak tega dan merasa kasihan ketika melihat orang miskin lagi membutuhkan. Jangan mengajarkan kepada mereka untuk selalu mementingkan diri sendiri dan tidak membutuhkan orang lain, karena itu akan menimbulkan sikap selalu mementingkan kebutuhan pribadinya tanpa menghiraukan kebutuhan orang lain, dan kepekaannya terhadap orang lain hilang, apalagi kepada orang yang sedang membutuhkan.

Kebaikan sekecil apa pun akan ada hisabnya pada hari kiamat. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebajikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Setiap orang yang berbuat kebaikan sekecil apa pun, pasti akan melihatnya hasilnya, meskipun hanya sekedar tersenyum. Begitu pun sebaliknya, setiap perbuatan keburukan sekecil apa pun, baik yang didengar maupun dilihat, Allah ﷻ Maha mengetahuinya, dan kelak semua itu akan didatangkan pada hari kiamat. Segala hal keburukan yang pernah dilakukan, meskipun tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya, tapi Allah ﷻ mengetahuinya, sehingga Allah ﷻ akan mendatangkannya pada hari kiamat kelak.

Terkadang, sebagian orang lupa bahwa banyak sekali kesalahan yang pernah dia lakukan. Sebagian orang gemar berbohong, dan saking banyaknya kebohongan yang dilakukan, dia lupa siapa saja orang yang pernah dia bohongi, dan dia lupa kebohongan apa saja yang pernah dia lakukan. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat  kelak Allah ﷻ akan mendatangkan itu semua. Perkara ini sangat penting, dan ini juga merupakan perkara yang paling parah bagi anak-anak pada zaman sekarang ini, terutama ketika mereka melakukan kegiatan belajar secara daring. Bahkan, telah terjadi kepada salah satu orang tua, di mana dia membeli gawai baru untuk anaknya agar dapat mengikuti kegiatan belajar daring, ternyata si anak tidak memanfaatkannya untuk belajar, namun menggunakannya untuk hal-hal negatif. Hal itu terjadi pada zaman sekarang ini.

Sebagian orang tua berniat baik dengan membelikan gawai baru untuk anaknya agar dapat mengikuti pelajaran melalui daring, terutama di masa pandemi seperti ini. Namun, bukan berarti sebagai orang tua, dia melepaskan anaknya begitu saja tanpa kendali, sehingga mereka berbuat semau mereka. Akibat kelalaian orang tua seperti ini, tiba-tiba mereka membuat banyak grup dan komunitas yang mengajak kepada hal-hal yang tidak bermanfaat. Tentunya sebagai orang tua, harus selalu mengawasi setiap aktivitas anak-anaknya, terlebih lagi ketika mereka menggunakan gawai secara pribadi.

Jadi, perumpamaan orang tua yang mendidik anak-anak itu seperti seseorang yang menyalakan api untuk memasak. Di samping mengatur nyala api agar tidak terlalu besar maupun kecil, namun juga harus selalu memperhatikannya atau mengawasinya. Apabila lalai sehingga membuat api tersebut mati, maka masakan pun tidak akan bisa menjadi matang. Begitu pula apabila orang tua lalai di dalam mengawasi aktivitas anak-anak, maka pendidikan anak-anak pun akan menjadi rusak. Oleh karenanya, setiap orang tua harus selalu berusaha keras dalam memberikan pengawasan dan mendidik mereka.

Pada zaman sekarang, rasa مُرَاقَبَةُ اللَّه ‘merasa di awasi oleh Allah’ telah banyak hilang dari kehidupan semua orang. Setiap orang tidak peduli dan merasa seakan-akan Allah ﷻ itu tidak ada. Mereka merasa bebas melakukan, melihat atau mendengar apa saja yang mereka inginkan. Oleh karenanya, orang tua harus banyak waspada dan memberikan perhatian kepada anak-anaknya.

Kita tidak mengatakan bahwa anak kita itu buruk, namun hendaknya kita bertindak preventif sebelum mereka terperangkap ke dalam hal-hal yang buruk. Secara berkala, alangkah baiknya orang tua memeriksa gawai yang dipegang oleh anak-anaknya. Hal ini tidak mengapa dilakukan, agar mereka merasa diawasi, dan orang tua hendaknya selalu mengingatkan bahwa Allah ﷻ selalu mengawasi perbuatan hamba-hamba-Nya.

Setelah itu, Luqman Al-Hakim melanjutkan nasihatnya kepada anaknya. Allah ﷻ berfirman,

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman: 17)

Ajarkan kepada anak-anak untuk berlatih menyampaikan kebaikan sejak kecil. Jika anak-anak memiliki adik, dia bisa mengingatkan adiknya untuk berbuat kebaikan, seperti mengerjakan shalat dan yang lainnnya. Orang tua bisa membiasakan anak-anak untuk selalu beramar makruf nahi mungkar, agar mereka terbiasa dengan kebaikan tersebut, bukan berdiam dengan kebaikan dan berdiam dari kemungkaran.

Ajarkan kepada mereka untuk tidak menyepelekan masalah shalat. Sebagai orang tua, hendaknya selalu berusaha melatih anak-anaknya untuk mendirikan shalat tepat waktu hingga mereka terbiasa dan melaksanakan shalat tanpa disuruh. Sebagai orang tua pula, hendaknya mengajarkan kepada anak-anak tentang betapa agungnya keutamaan shalat, mengajak mereka hadir di dalam shalat berjamaah, tidak bosan mengingatkan mereka untuk menunaikan shalat, dan selalu berdoa kepada Allah ﷻ, sehingga mereka tahu bahwa shalat adalah satu kewajiban yang tidak perlu diingatkan.

وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ

“Dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”

Ketika setiap orang beramar makruf nahi mungkar, tentu akan mendapati orang-orang yang tidak suka dengan perbuatannya, ini adalah sesuatu yang wajar, dan hendaknya tetap bersabar. Misalnya, ketika seorang anak mendapati temannya berbuat kesalahan di dalam suatu grup media sosial, maka hendaknya dia menasihatinya dengan cara yang halus. Di samping itu, hendaknya dia juga bersikap sabar, karena orang yang beramar makruf nahi mungkar pasti ada saja yang tidak menyukainya, dan bahkan ada yang tersinggung. Hal ini mesti dihadapi dengan sabar, karena itu adalah konsekuensi di dalam berdakwah.

Sesungguhnya mustahil bagi seseorang yang berdakwah dengan dakwah yang benar, lalu tidak ada yang tersinggung dengan apa yang telah disampaikannya. Siapa pun yang telah berdakwah dengan dakwah yang benar, bersiaplah untuk diganggu oleh orang lain([16]). Jangankan berdakwah, seorang anak yang rajin menunaikan shalat berjamaah saja terkadang diganggu oleh teman-temannya. Dikatakan sok alim, sok suci, atau kata-kata yang menyakitkan lainnya. Ada juga yang mengikuti pengajian, lalu ditertawakan oleh teman-temannya. Terkadang ada yang diejek dan dianggap kurang pergaulan, karena tidak tahu apa itu Tik Tok, lagu-lagu terbaru, drama Korea terbaru, atau hal-hal lain yang tidak bermanfaat. Oleh karenanya, dalam keadaan demikian sebagai orang tua hendaknya mampu menemani anak-anak, memberikan pengarahan, memberikan nasihat kepada mereka, membuat mereka tegar, menciptakan komunikasi yang baik dengan mereka, agar jangan sampai mereka memendam perkaranya seorang diri.

Di antara hal yang membahayakan bagi anak-anak adalah mereka tidak percaya kepada orang tua dan cenderung menjauh darinya, sehingga tidak mau berkomunikasi kepada orang tua, dan ketika mendapatkan masalah, maka dia memilih untuk memendamnya sendiri, sehingga mengakibatkan hal yang buruk. Buatlah kebiasaan agar anak-anak selalu mengobrol kepada orang tua. Mulai sejak dini hendaknya mereka dilatih untuk selalu berdiskusi dengan orang tuanya, sehingga mereka akan mengerti jika mereka mendapatkan masalah, maka mereka akan mengobrol dan diskusi dengan orang tuanya. Itulah di antara hal yang paling penting berkenaan hubungan antara orang tua dengan anak-anak. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”

Setelah Luqman Al-Hakim mengajarkan anaknya tentang hubungan manusia dengan Allah ﷻ dan orang tuanya, dia mengajarkan kepada anaknya tentang akhlak yang mulia terhadap orang lain.

Perkara agama tidak hanya sekedar hubungan manusia dengan Tuhan saja. Terkadang didapati seseorang memiliki hafalan Al-Quran yang banyak, namun sombongnya luar biasa, merendahkan orang lain. Sikap ini tidaklah pantas dilakukan bagi orang yang menghafalkan Al-Quran. Menghafalkan Al-Quran tidaklah untuk disombongkan. Anak-anak terkadang memiliki benih-benih untuk bersikap angkuh. Maka dari itu, ketika mereka mendapatkan suatu penghargaan, hendaknya orang tua harus selalu mengingatkan agar tidak bersikap angkuh terhadap orang lain. Apabila hal itu dibiarkan, maka suatu saat akan menjadi perangai, sedangkan perangai sangat susah untuk diubah. Perangai angkuh itu akan ada terus sampai mereka tumbuh dewasa. Oleh karenanya, sejak dini mereka harus diingatkan bahaya dari sikap sombong dan angkuh.

Ingatlah wahai para orang tua, jangan paksakan anak-anak untuk mendapatkan peringkat kelas atau suatu kejuaraan tertentu. Biarkanlah mereka dengan prestasinya, meskipun tidak mampu menjadi bintang kelas. Hal itu tidaklah menjadi masalah, yang terpenting adalah mereka telah berusaha. Bisa jadi, ketika mereka mendapatkan peringkat kelas atau menjadi bintang kelas, hal itu akan mengakibatkan mereka bersikap sombong atau angkuh. Terkadang kita mendapati sebagian orang mentang-mentang memiliki hafalan Al-Quran yang banyak, lalu bersikap sombong dan menganggap rendah orang lain.

Allah ﷻ berfirman,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Luqman Al-Hakim berkata kepada anaknya, وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ‘Janganlah engkau memalingkan pipimu dari manusia’, maksudnya adalah tidak memperhatikan manusia ketika berbicara, seakan-akan orang lain tidak berharga di hadapannya. Tentu saja, ini adalah sikap yang tidak beradab. Bahkan, pada zaman sekarang banyak orang yang mengobrol dengan kawannya sambil memainkan gawai. Apalagi, jika hal ini dilakukan di hadapan kedua orang tuanya. Mungkin jika dalam keadaan sangat penting, tidaklah mengapa dilakukan sekali atau dua kali. Akan tetapi, jika hal ini dilakukan berulang-ulang, sehingga dia tidak menghiraukan apa yang telah dibicarakan oleh orang lain kepadanya, tentunya ini adalah salah satu bentuk tidak menghargai orang lain yang ada di hadapannya.

Jika ada orang lain yang berbicara di depan kita, hendaknya diperhatikan dengan baik. Jangan kemudian kita malah cuek, tidak memperhatikannya, bahkan kita sibuk sendiri dengan gawai, dan tertawa sendiri tanpa faedah. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong).”

Luqman Al-Hakim mengajarkan kepada anaknya bagaimana cara muamalah yang baik kepada manusia. Di antaranya adalah dengan cara tidak memalingkan wajahnya ketika berbicara dengan orang lain. Siapa pun dirinya, apa pun kedudukannya, baik dia orang alim, pejabat, orang yang memiliki nasab yang tinggi, keturunan darah biru, janganlah memalingkan wajah dari orang lain ketika berbicara dengan manusia.

Firman Allah ﷻ,

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Ini merupakan contoh dan gambaran agar tidak bersikap angkuh ketika berjalan. Pada zaman dahulu, ketika seseorang bersikap sombong maka akan terlihat dari cara dia berjalan. Adapun pada zaman sekarang, seseorang bisa bersikap sombong dengan benda apa saja yang dimilikinya, entah dengan pakaian, tas, makanan, mobil, atau kendaraan yang dimilikinya. Oleh karenanya, sebagai orang tua hendaknya mengajarkan anak-anaknya untuk tidak sombong dengan apa yang mereka miliki sejak usia dini, meskipun memiliki kedudukan atau harta yang banyak. Sesungguhnya Allah ﷻ tidak menyukai orang yang sombong dan angkuh, baik dari penampilan, cara berbicara, atau bahkan dari sikapnya. Semua hal yang menggambarkan kesombongannya tidak disukai oleh Allah ﷻ.

Firman Allah ﷻ,

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Sederhanalah ketika bergaul dan berjalan, meskipun memiliki harta yang banyak. Dibolehkan bagi seseorang memakai pakaian yang bagus, tetapi hendaknya tidak sombong dan tetap bersikap sederhana. Yang parah adalah ketika tidak memiliki harta, namun memaksakan diri untuk bergaya sok kaya. Sungguh sangat menyedihkan, ketika orang tua tidak memiliki jam tangan, namun anak memiliki jam tangan mewah. Orang tua mengendarai motor butut, namun anak menaiki motor bagus. Padahal, ketika seseorang memiliki kekayaan sebanyak pun, maka tidak diperbolehkan baginya untuk bersikap sombong.

Firman Allah ﷻ,

وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Rendahkanlah suaramu dan tidak berteriak-teriak yang justru menunjukkan keangkuhan, karena seburuk-buruk suara adalah suara keledai. Jika memang seseorang bisa menjadi hebat dengan suaranya yang besar, maka keledailah yang lebih hebat daripada dirinya, demikianlah kalimat sederhananya. Jika seseorang merasa memiliki suara paling besar adalah orang yang paling hebat, maka justru keledailah yang lebih baik daripada dirinya. Oleh karenanya, kecerdasan dan harga diri seseorang bukanlah dinilai dari suaranya yang besar, tetapi dengan kata-kata yang dia sampaikan.

Ayat ini menjadi dalil tentang pentingnya seorang beradab dengan orang lain. Agama dibangun di atas dasar حَبْلٌ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٌ مِنَ النَّاس ‘hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia’. Seseorang hendaknya memiliki hubungan yang baik dengan Allah ﷻ, hubungan yang baik dengan orang tua, kerabat dan orang lain. Oleh karenanya, ini menunjukkan bahwa Islam sangat perhatian terhadap adab, baik adab di dalam berbicara, berjalan, dan berkata-kata.

Jika anak kita berbicara dengan nada sombong, maka sudah seharusnya bagi kita sebagai orang tua untuk menegurnya dan menasihatinya agar menghindari ucapan tersebut. Jika kita mendapati anak kita berkomentar dengan nada yang sombong di media sosial, maka hendaknya kita menegurnya dan menasihatinya. Jika kita tidak menegurnya, maka kesombongan pada dirinya akan terus bertambah dan bertumpuk-tumpuk sehingga menjadi sebuah perangai atau watak alaminya, sedangkan jika sudah menjadi perangai, maka akan sulit untuk mengubahnya. Maka dari itu, sangat penting bagi orang tua mengenalkan perbuatan-perbuatan sombong dan bahayanya kepada anak-anaknya sejak usia dini. Selain itu, ketika melihat anak berlaku sombong, maka hendaknya menegurnya dan memberikan motivasi kepada mereka agar terlepas dari kesombongan.

Footnote:
__________

([1]) Kalimat istirja’ adalah Ucapan إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali’, yang diucapkan seseorang tatkala tertimpa suatu musibah.

([2]) HR. Tirmizi No. 1021 dan disahihkan oleh Ibnu Hibban No. 2948 dan dihasankan oleh Al-Albani.

([3]) Lihat: Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, Li Ibnu Baz, (11/203).

([4]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, (6/298).

([5]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir, (21/169).

([6]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir, (21/ 154)

Ibnu ‘Asyur rahimahullah mengatakan bahwasanya jumhur ulama berpendapat bahwa putra Luqman adalah seorang yang musyrik, tetapi Luqman terus menerus menasihatinya, sehingga pada akhirnya dia beriman kepada Allah ﷻ.

Namun lahirnya anak Luqman bukanlah musyrik, karenanya Luqman menasihatinya dengan banyak nasihat baik berkaitan dengan tauhid maupun berkaitan dengan adab dan kesopanan. Adapun nasihat Luqman agar anaknya tidak musyrik, tidaklah melazimkan bahwa anaknya dalam kondisi musyrik. Karena sangat mungkin seseorang menasihati orang lain agar tidak melakukan sesuatu -dalam rangka pencegahan- meskipun sesuatu tersebut tidak sedang dilakukannya.

([7]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, (14/63).

([8]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, (14/64).

([9]) Lihat: Tafsir Ibn ‘Athiyah, (4/348) dan Tafsir Al-Qurthubi, (14/64).

([10]) HR. Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad No. 218, Ahmad No. 9944, Abu Dawud No. 4811 dan Tirmizi No. 1954, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([11]) HR. Ahmad No. 1095 dengan sanad sahih

([12]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, (14/65).

([13]) HR. Bukhari No. 3004.

([14]) HR. Muslim No. 2626

([15]) HR. Ahmad Tirmizi No. 3233 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani

([16]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, (14/68).