Nasihat Untuk Para Pencari Nafkah

Nasihat Untuk Para Pencari Nafkah

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Mencari nafkah adalah suatu kewajiban bagi seorang kepala rumah tangga atau bagi seorang suami. Allah ﷻ telah menyebutkan dalam banyak agar seorang suami atau kepala rumah tangga untuk mencari rezeki Allah ﷻ. Di antaranya seperti firman Allah ﷻ,

﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan banyaklah mengingat Allah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Demikian juga firman Allah ﷻ dalam ayat yang lain,

﴿هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ﴾

“Dialah (Allah) Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)

Allah ﷻ juga memuji orang-orang yang mencari nafkah namun mereka tidak lupa dari mengingat Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat).” (QS. An-Nur: 37)

Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga telah menyebutkan tujuh golongan yang akan dinaungi pada hari kiamat kelak. Beliau ﷺ bersabda di antaranya,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: …وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ

Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah di bawah naungan-Nya (pada hari kiamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu; (di antaranya) Seorang laki-laki yang hatinya rindu untuk ke masjid.”([1])

Dari sini kita ketahui bahwasanya syariat tidak memuji seseorang yang hanya di masjid terus-menerus, akan tetapi syariat memuji orang beraktivitas, bekerja, namun pekerjaannya tidak membuat ia lupa dari mengingat Allah ﷻ.

Dari beberapa ayat dan hadits di atas menunjukkan bagaimana kita sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga harus mencari rezeki, karena masing-masing dari kita memiliki kewajiban yang harus ditunaikan. Maka, silakan kita semua mencari rezeki, namun jangan sampai karena urusan mencari rezeki menjadikan kita lupa dari mengingat Allah ﷻ. Demikianlah kebiasaan para sahabat, baik kaum Muhajirin dan kaum Anshar, mereka bekerja, berdagang, berkebun, namun mereka tidak lupa untuk mengingat Allah ﷻ. Di antaranya seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan sahabat yang lain j.

Dari sini kemudian kita sama-sama tahu bahwasanya mencari nafkah adalah suatu keniscayaan. Namun, ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan dalam mencari nafkah, dan ini merupakan nasihat buat kita semua, tanpa terkecuali bagi penulis. Di antara hal-hal tersebut antara lain:

  1. Bersandar kepada pemberi rezeki

Yang paling utama untuk kita perhatikan dalam mencari nafkah adalah hendaknya kita bersandar kepada Yang Maha Memberi Rezeki, bukan kepada sebab materi yang ada di hadapan kita.

Ketika seseorang di antara kita ada yang berprofesi sebagai guru, sebagai dokter, sebagai petani, atau sebagai pedagang, ketahuilah bahwa profesi yang kita tekuni itu adalah bentuk ikhtiar kita untuk mencari rezeki, dan yang memberi rezeki hanyalah Allah ﷻ. Maka dari itu, seseorang tidak boleh bersandar kepada ikhtiar yang dia lakukan. Ikhtiar yang dilakukan hanyalah sebab, namun tetap akibat itu datangnya dari Allah ﷻ, karena dari-Nyalah rezeki itu datang.

Ingatlah bahwa rezeki bukan datang dari atasan kita, bukan dari banyaknya murid kita, bukan dari banyaknya pembeli atas dagangan kita, akan tetapi rezeki itu datangnya dari Allah ﷻ. Allah ﷻ-lah yang menggerakkan hati orang-orang untuk membeli dagangan kita, Allah ﷻ-lah yang menggerakkan hati orang-orang untuk belajar dengan kita, dan Allah ﷻ-lah yang menggerakkan hati orang-orang untuk menggunakan jasa kita. Semuanya berasal dari Allah ﷻ, sehingga hati kita pun harus bersandar kepada Allah ﷻ.

Tawakal kepada Allah ﷻ dalam mencari rezeki adalah sesuatu yang harus kita selalu hadirkan dalam keseharian kita. Ingatlah bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia telah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.”([2])

Dalam sebuah hadits juga Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ، أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

Ada sekelompok kaum yang masuk surga, hati mereka seperti hati burung.”([3])

Di antara tafsiran para ulama seperti An-Nawawi ﷺ menyebutkan bahwasanya kaum tersebut bertawakal kepada Allah ﷻ sebagaimana tawakalnya burung-burung.([4])

Ditinjau dari kemampuan seekor burung untuk mencari rezeki, maka kemampuannya sangat sedikit jika dibandingkan dengan kita sebagai manusia, yang Allah ﷻ memberikan kita akal sehingga bisa melakukan berbagai macam hal untuk mendapatkan rezeki. Namun, karena tawakalnyalah sehingga burung-burung itu diberi rezeki oleh Allah ﷻ. Oleh karenanya, Ibnu Rajab al-Hanbali ﷺ pernah mengatakan bahwa di antara sebab utama untuk seseorang mendapatkan rezeki adalah dengan tawakal kepada Allah ﷻ([5]).

Maka dari itu, jangan sampai kita bersandar kepada diri kita, kepada kecerdasan dan kepiawaian kita dalam mencari rezeki, kepada sebab-sebab yang ada di hadapan kita, tapi bersandarlah kepada Allah ﷻ Yang Maha Memberi Rezeki. Hal ini perlu untuk kita ingatkan karena sebagian orang telah salah dalam hal ini. Sebagian orang yang menyangka bahwa kalau tidak bekerja di perusahaan A, maka susah baginya untuk mendapat rezeki. Anggapan-anggapan semacam ini tentu tidak benar. Benar bahwa kita diperintahkan untuk berikhtiar, tapi tetap kita hanya bersandar kepada Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda mengingatkan kepada kita,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

Bersemangatlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.”([6])

Ketahui pulalah bahwasanya dengan senantiasa bertawakal kepada Allah ﷻ, akan menjadikan kita tidak akan lupa dengan Allah ﷻ, dan sebagaimana telah kita sebutkan bahwasanya Allah ﷻ memuji orang-orang yang mencari rezeki sementara mereka tetap mengingat Allah ﷻ. Maka orang yang senantiasa bertawakal kepada Allah ﷻ sudah pasti tidak akan lalai dari shalatnya, karena yang memerintahkan kita untuk shalat adalah Yang Maha Memberi Rezeki, sehingga tidak pantas bagi kita untuk lari dari panggilan Sang Maha Pemberi Rezeki.

  1. Husnuzan kepada Allah

Di antara hal yang perlu kita perhatikan dalam mencari nafkah adalah hendaknya kita berhusnuzan kepada Allah ﷻ. Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Pemberi Rezeki, dan sangat mudah bagi-Nya untuk memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, selama hamba-Nya tersebut husnuzan dan terus berusaha.

Di sini, penulis ingin menekankan bahwasanya bukan berarti seseorang dalam mencari rezeki hanya cukup dengan husnuzan semata, tidak! Tapi juga harus dibarengi dengan usaha (ikhtiar). Kita telah singgung di pembahasan awal bahwa para sahabat juga bekerja, dan kita tidak meragukan bagaimana husnuzan mereka kepada Allah ﷻ. Lihatlah bagaimana perjuangan para sahabat dalam bekerja, disebutkan bahwa seorang sahabat bernama Qais bin Shirma al-Anshari bekerja di siang hari sementara dia sedang berpuasa. Ketika pulang, ia tidak mendapati makanan di rumahnya untuk berbuka, karena kelelahan maka ia pun tertidur. Akhirnya, ia pun kembali berpuasa esok hari tanpa sahur. Ketika kembali bekerja, ia pun akhirnya pingsan([7]).

Ini menunjukkan bahwa para sahabat pun tetap bekerja, bahkan ketika mereka sedang dalam kondisi beribadah (puasa). Oleh karenanya, bekerja dan berhusnuzan kepada Sang Pemberi Rezeki adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Sungguh seseorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya.”([8])

Demikian juga beliau ﷺ bersabda,

مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا، وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ

Siapa yang menjamin untukku untuk tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia, maka aku menjaminnya masuk Surga.”([9])

Demikian juga sabda Nabi Muhammad ﷺ,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidak ada seorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud n memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.”([10])

Dari sini kita tahu bahwa di antara tanda kesungguhan seseorang dalam mencari nafkah adalah ia tidak bergantung kepada manusia, ia lebih memilih untuk bekerja dan husnuzan kepada Allah ﷻ bahwasanya ia akan diberi rezeki oleh-Nya.

Sungguh Allah ﷻ telah menjamin seluruh rezeki hamba-hamba-Nya, dan ini telah Allah tekankan dalam banyak ayat. Di antaranya Allah ﷻ berfirman,

﴿۞وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ﴾

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿وَكَأَيِّن مِّن دَابَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Dan betapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 60)

Jika binatang melata saja Allah ﷻ memberikan rezeki kepada hewan melata yang tidak memiliki akal untuk mencari rezeki, tentu Allah ﷻ juga akan memberi rezeki kepada kita semua.

Bukankah telah jelas bagi kita bahwasanya Allah ﷻ memberikan rezeki kepada seluruh hamba-hamba-Nya? Tidakkah kita mengingat ketika kita tidak bisa berbuat apa-apa, dari mana datangnya rezeki tersebut? Ketika kita masih di dalam perut ibu kita, masih dalam bentuk janin, Allah ﷻ telah memberikan rezeki kepada kita. Ketika lahir ke dunia pun demikian, Allah ﷻ juga memberikan rezeki kepada kita, padahal kita belum bisa berbuat apa-apa. Apa yang kita terima dari orang tua kita itulah rezeki kita dari Allah ﷻ, hanya saja dititipkan melalui orang tua kita. Oleh karenanya, Allah ﷻ mengharamkan seseorang membunuh anaknya karena takut tidak memberinya makan. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا﴾

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31)

Artinya, baik anak-anak maupun orang tua memiliki rezekinya masing-masing, hanya saja rezeki anak-anak diberikan oleh Allah ﷻ melalui orang tuanya masing-masing. Maka dari itu, seseorang tidak boleh suuzan kepada Allah ﷻ terkait rezekinya, karena sesungguhnya rezeki itu telah dicatat oleh Allah ﷻ.

Allah ﷻ memerintahkan kita untuk senantiasa berhusnuzan. Allah ﷻ bersabda dalam hadits qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Sesungguhnya Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila dia berprasangka baik, maka baginya kebaikan dan apabila dia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”([11])

Maka seseorang dalam berikhtiar hendaknya selalu berhusnuzan kepada Allah ﷻ bahwasanya Dia Maha Pemberi Rezeki, dengan begitu insya Allah kita pasti akan diberikan rezeki oleh-Nya.

  1. Jadikan pekerjaan sebagai sarana untuk meraih surga

Ketahuilah bahwasanya yang namanya pekerjaan bisa mengantarkan seseorang kepada surga dan kepada neraka jahanam. Nabi Muhammad ﷺ memberikan sebuah perumpamaan seperti sebuah pedagang. Beliau ﷺ bersabda,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ فُجَّارًا، إِلَّا مَنْ اتَّقَى اللَّهَ، وَبَرَّ، وَصَدَقَ

Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang berdosa kecuali yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik serta jujur.”([12])

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ، قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: بَلَى، وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ، وَيَحْلِفُونَ، وَيَأْثَمُونَ

Sesungguhnya para pedagang adalah orang-orang yang berbuat fajir.” Ditanyakan kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah! Bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?’ Rasulullah bersabda, ‘Ya, jual beli itu halal. Tapi mereka berbicara namun  berdusta, bersumpah (dengan dusta) dan berbuat dosa’.”([13])

Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan jual beli) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menampakkan cacat dagangannya maka keduanya diberkahi dalam jual belinya dan bila menyembunyikan cacatnya dan berdusta maka akan dicabut keberkahan jual belinya.”([14])

Nabi Muhammad ﷺ juga memuji para pedagang, beliau ﷺ bersabda,

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ، وَالصِّدِّيقِينَ، وَالشُّهَدَاءِ

Seorang pedagang yang jujur dan amanah  akan bersama dengan para Nabi, shiddiqin dan para syuhada.”([15])

Hadits-hadits di atas berlaku dalam seluruh pekerjaan. Baik Anda sebagai tenaga pengajar, sebagai pejabat, sebagai tenaga kesehatan, sebagai pegawai pemerintah, sebagai pegawai swasta, dan pekerjaan lainnya, semuanya bisa mengantarkan kita kepada neraka atau surga. Tinggal bagaimana kita menyikapi pekerjaan kita tersebut.

Sebagai seorang guru, jadilah seorang guru yang amanah, janganlah menjadi guru yang menyembunyikan ilmu. Jika Anda seorang tenaga kesehatan, jadilah seorang tenaga kesehatan yang amanah, yang memberikan dan menjelaskan obat yang terbaik bagi pasien yang sedang Anda layani, yang tidak melihat hal-hal yang tidak perlu Anda lihat dari pasien Anda. Jika Anda seorang pegawai pemerintahan, jadilah seorang pegawai yang amanah, masuk dan pulang sesuai waktu yang disepakati, melakukan tugas dengan profesional, melayani masyarakat dengan baik jika tugasnya berkaitan dengan pelayanan masyarakat, dan seterusnya. Apa pun profesi Anda, bersikap amanahlah. Ingatlah bahwa ketika Anda amanah, jujur, selalu ingin kebaikan terhadap pekerjaan Anda, maka tentu hal tersebut akan mendatangkan pahala yang luar biasa. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda mengisyaratkan,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain.”([16])

Oleh karena itu, apa pun profesi kita, berusahalah untuk menjadikan profesi tersebut sebagai sarana untuk kita meraih surga. Bersikap amanahlah dalam profesi Anda, bersikap profesionallah, dan jauhi segala hal-hal haram yang bisa menjadikan hasil dari profesi Anda juga menjadi haram. Ingatlah bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali neraka lebih berhak atasnya.”([17])

  1. Niatkan karena Allah

Di antara perkara yang perlu untuk kita perhatikan dalam mencari nafkah adalah meniatkan segalanya karena Allah ﷻ, karena dengan begitu kita bisa mendapatkan pahala. Jika pekerjaan yang kita lakukan tanpa diniatkan karena Allah ﷻ, maka pekerjaan tersebut akan menjadi pekerjaan yang biasa dan tidak ada pahala padanya. Padahal, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda tentang nafkah yang diberikan kepada istri,

وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ

Dan tidaklah engkau memberi nafkah dengan mengharapkan wajah Allah kecuali engkau mendapatkan pahala, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.”([18])

Di sini, Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan contoh dalam hadits ini bahwasanya seorang suami istri yang bahkan dalam kondisi saling bermesraan, ternyata kemesraan tersebut bisa berpahala di sisi Allah ﷻ selama hal tersebut diniatkan untuk mengharap wajah Allah ﷻ. Oleh karena itu, semua usaha yang kita lakukan dalam bekerja, semua keringat yang bercucuran karena bekerja, semua akan bernilai pahala jika diniatkan karena Allah ﷻ.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara kita meniatkan pekerjaan kita karena Allah ﷻ? Jawabannya sangatlah mudah. Misal seperti ketika Anda hendak keluar rumah, katakan pada diri Anda, “Allah membebani diri saya untuk menanggung anak-anak dan istri, dan saya bekerja untuk menafkahi mereka”. Ungkapan seperti ini sudah lebih dari cukup yang menunjukkan bahwa kita telah meniatkan pekerjaan kita karena Allah ﷻ. Dengan demikian, harta yang kita dapatkan dari pekerjaan, lalu kita benar-benar berikan kepada anak dan istri kita, maka kita akan mendapatkan pahala darinya. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا

Sekeping dinar yang engkau infakkan pada jihad fii sabilillah, sekeping dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, sekeping dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan sekeping dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah sekeping dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.”([19])

Contoh lain, ketika kita hendak bekerja, kita meniatkan hasil dari pekerjaan kita digunakan untuk membantu keluarga, orang tua, saudara, dan kerabat lainnya. Dengan niat begini, seseorang akan mendapat pahala dari pekerjaan yang ia lakukan.

Ingatlah bahwasanya Allah ﷻ Maha Tahu tentang niat-niat kita. Allah ﷻ tahu kalau kita bekerja untuk kita infakkan harta kita di jalan Allah ﷻ. Allah ﷻ tahu kalau kita bekerja untuk menafkahi anak dan istri kita. Allah ﷻ tahu kalau kita bekerja untuk membantu dan menyenangkan orang tua kita. Bahkan, Allah ﷻ tahu jika ternyata kita bekerja hanya untuk mengumpulkan harta dan untuk berfoya-foya belaka. Maka dari itu, perhatikan kembali niat kita dalam bekerja.

Meniatkan karena Allah ﷻ dalam mencari nafkah sangat penting untuk kita terapkan. Hal tersebut disebabkan karena kita setiap harinya akan bekerja, dan tidak sedikit dari kita yang bekerja dalam waktu yang banyak dalam setiap harinya. Maka, jika niat kita bukan karena Allah ﷻ, maka waktu yang kita habiskan untuk bekerja tidak bernilai pahala di sisi Allah ﷻ. Marilah kita renungkan, apakah kita sudah meniatkan pekerjaan kita karena Allah ﷻ? Jika belum, cobalah hitung-hitung, sudah seberapa banyak waktu yang berlalu tanpa ada pahala darinya? Inilah mengapa pentingnya untuk kita meniatkan pekerjaan kita karena Allah ﷻ. Jika niat itu telah dihadirkan, maka dari awal hingga akhir pekerjaan kita seluruhnya bernilai pahala di sisi Allah ﷻ.

  1. Memperhatikan sebab-sebab datangnya rezeki

Berbicara tentang sebab-sebab datangnya rezeki, maka ada dua hal yang perlu untuk kita tinjau yaitu, sebab-sebab duniawi dan sebab-sebab ukhrawi. Sebab-sebab duniawi atau yang biasa kita sebut dengan sebab materi ini telah kita ketahui bersama, yaitu dengan bekerja, baik sebagai pegawai, berdagang, atau yang lainnya. Hal ini telah kita ketahui bersama, dan Allah ﷻ telah menjadikan di alam semesta ini hukum sebab akibat, di antaranya dengan berusaha maka ia akan berhasil untuk meraih sesuatu.

Namun, di sana ada sebab-sebab ukhrawi yang bisa mendatangkan rezeki, bahkan bisa mendatangkan rezeki tanpa diduga-duga, namun banyak kita melalaikannya. Di antara sebab-sebab ukhrawi tersebut adalah silaturahmi. Ketahuilah bahwa silaturahmi memiliki dampak yang luar biasa dalam mendatangkan rezeki. Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa ingin dilapangkan rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.”([20])

Menyambung silaturahmi, asalnya diniatkan karena Allah ﷻ, namun tidak mengapa jika ditambahkan dengan niat untuk mendapatkan rezeki, karena kita tentu tahu bahwa silaturahmi membutuhkan biaya. Oleh karenanya, ketika bersilaturahmi, hendaknya kita niatkan untuk mendapatkan rezeki sehingga kita bisa senantiasa menyambung silaturahmi kepada keluarga dan kerabat kita.

Berbicara tentang silaturahmi, yang paling utama untuk kita sambung silaturahminya adalah kepada orang tua kita. Allah ﷻ berfirman,

﴿يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ﴾

“Mereka bertanya kepada engkau (Muhammad) tentang harta apa yang harus mereka infakkah. Jawablah, ‘Apa saja harta yang kalian infakkan, hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan’. Dan apa saja kebaikan yang kalian buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215)

Allah ﷻ juga berfirman tentang hakikat kebajikan,

﴿لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ﴾

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Dua ayat ini menunjukkan bagaimana keutamaan kerabat, terutama orang tua, untuk kita sambung silaturahmi. Bahkan, Allah ﷻ menyebutkan dalam firman-Nya di atas bahwa yang termasuk kebajikan adalah dengan memberikan harta yang dicintainya atau yang disukainya kepada orang tuanya, bukan harta yang biasa-biasa saja atau yang tidak terpakai. Dari sini, kita juga semakin sadar bahwasanya menyambung silaturahmi, terlebih kepada orang tua dan kerabat membutuhkan pengorbanan. Namun, yakinlah bahwasanya seberapa besar pun yang kita keluarkan untuk menyambung silaturahmi, Allah ﷻ akan kembalikan dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari apa yang kita keluarkan, dan ini telah terbukti dan dialami oleh banyak orang.

Sebab-sebab ukhrawi lain yang perlu untuk kita perhatikan adalah bersedekah. Namun, sekali lagi kita katakan bahwa sedekah yang terbaik adalah sedekah kepada kerabat. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda tentang sedekah,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”([21])

Dari sini, pemahaman yang bisa kita dapatkan adalah sedekah tidak akan mengurangi harta, bahkan akan menambah harta seseorang. Akan tetapi, dalam hal ini dibutuhkan keimanan, karena secara zhahir menginfakkan 100 ribu rupiah dari 1 juta rupiah akan mengurangi harta, akan tetapi yakinlah bahwa apa yang kita keluarkan itu akan kembali, dan bahkan kembali dalam jumlah yang lebih besar. Kalau kita bertanya bagaimana caranya, maka ketahuilah bahwa itu menjadi urusan Allah ﷻ Yang Maha Memberi Rezeki. Oleh karenanya, orang yang rajin bersedekah niatnya karena Allah ﷻ, bukan untuk berbangga-bangga dan pamer, maka Allah ﷻ tidak akan menghinakannya.

Di antara sebab ukhrawi yang lain adalah bertakwa kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ telah berfirman,

﴿وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Ayat ini asalnya berkaitan tentang perceraian, yaitu apabila seseorang bercerai dengan cara yang benar dan disertai dengan ketakwaan, maka kesulitan yang dihadapi baik bagi sang suami maupun istri akan diberi jalan keluar bagi mereka, dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Meskipun ayat ini berkaitan dengan cerai, para ulama mengambil keumuman dari ayat ini, bahwasanya siapa saja yang bertakwa kepada Allah ﷻ dalam urusan apa pun, maka Allah ﷻ akan memberikannya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dari sini, kita boleh mencari rezeki dengan sebab-sebab materi, akan tetapi jangan lupa sebab-sebab ukhrawi yang telah kita sebutkan di atas. Ketahuilah, sebab-sebab materi mungkin Anda bisa perkirakan sebanyak apa yang akan Anda dapatkan, akan tetapi untuk sebab-sebab ukhrawi Anda tidak bisa diperkirakan dari mana datangnya dan seberapa banyaknya.

  1. Gunakan sisa waktu Anda untuk akhirat

Tidak sedikit dari kita yang bekerja dalam sehari 8-10 jam sehari. Namun, waktu tersebut belum ditambah dengan waktu tempuh kita menuju dan pulang dari tempat kerja kita. Sebagian orang mungkin membutuhkan waktu setengah jam untuk pulang pergi dari tempat kerja, namun ada sebagian orang pula yang membutuhkan waktu sampai 3 jam untuk pulang pergi dari tempat kerja. Akhirnya, total waktu yang ia disibukkan dengan perkara dunia bisa sampai 13 jam atau bahkan lebih.

Menyadari banyaknya waktu yang kita habiskan, maka sisa waktu yang kita miliki hendaknya kita manfaatkan dengan baik untuk akhirat. Jika masih ada waktu, sempatkan untuk zikir pagi petang, atau zikir-zikir yang umum ketika dalam perjalanan pergi dan pulang kerja. Ketika telah sampai di rumah, jangan lagi kita menyibukkan diri kita dengan gawai kita, dengan berita-berita yang tidak ada ujungnya, dan yang lainnya. Ketika di rumah, sibukkanlah diri dengan membaca Al-Qur’an, sibuklah bercanda dengan anak-anak, mengobrol dan bermesraan dengan istri, dan yang lainnya. Gunakan waktu senggang Anda untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan kerabat lainnya. Sungguh musibah apabila pagi hingga petang disibukkan dengan pekerjaan dan malam pun disibukkan oleh internet dan media sosial, karena ia telah kehabisan waktu untuk Allah dan telah kehabisan waktu untuk keluarganya dan kerabatnya.

Sungguh yang kita khawatirkan adalah ketika kita menghadap Allah ﷻ dalam keadaan kekurangan amal saleh, karena waktu kita habis untuk urusan dunia yang belum ada ujungnya.

Inilah beberapa nasihat yang bisa kita sampaikan kepada kita semua para pencari nafkah. Semoga kita bisa amalkan nasihat-nasihat ini, dan semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk bisa istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya.

Footnote:
________

([1]) HR. Bukhari No. 1423.

([2]) HR. Ahmad No. 205, Syu’aib al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat.

([3]) HR. Muslim No. 2840.

([4]) Lihat: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawi (17/177).

([5]) Lihat: Jami’ al-‘Ulum Wa Al-Hikam – tahqiq al-Arnauth, karya Ibnu Rajab al-Hanbali (2/496)

([6]) HR. Muslim No. 2664.

([7]) Lihat: Shahih al-Bukhari No. 1915.

([8]) HR. Bukhari No. 2704.

([9]) HR. Abu Daud No. 1643, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam ta’liqnya.

([10]) HR. Bukhari No. 2072.

([11]) HR. Ibnu Hibban No. 639 dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir No. 4316 (2/795).

([12]) HR. At-Tirmidzi No. 1210, beliau mengatakan hadits ini hasan shahih, namun Syekh al-Albani menyatakan hadits ini dha’if dalam al-Misykah No. 2799.

([13]) HR. Ahmad No. 15530, Syu’aib al-Arnauth menyatakan hadits ini shahih dan Syekh al-Albani juga menyatakan hal yang sama dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib No. 1786.

([14]) HR. Bukhari No. 2110.

([15]) HR. At-Tirmidzi No. 1209, beliau berkata hadits ini hasan dan Syekh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dha’if dalam Misykah al-Mashabih No. 2796.

([16]) Shahih al-Jami’ ash-Shaghir Wa Ziyadah No. 3289 (1/623), Syekh al-Albani menyatakan haditsnya hasan.

([17]) HR. At-Tirmidzi No. 614, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam ta’liqnya.

([18]) HR. Muslim No. 1628.

([19]) HR. Muslim No. 995.

Nabi Muhammad ﷺ mengatakan demikian karena nafkah kepada keluarga hukumnya wajib, adapun berinfak kepada anak yatim, buda, dan orang miskin, dan berinfak di jalan Allah adalah sunnah. [Lihat: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (7/81-82)].

([20]) HR. Bukhari No. 5986.

([21]) HR. Muslim No. 2588.