Jangan Hasad

Jangan Hasad

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Mukadimah

Pembahasan kita pada kesempatan kali ini adalah berkaitan dengan salah satu penyakit hati yang menimpa banyak orang, bahkan kita semua mungkin pernah merasakannya. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah,

مَا خلا جَسَد مِن حسدٍ لَكِن اللَّئِيم يُبْدِيهِ وَالْكَرِيمِ يُخْفِيهِ

Tidak ada satu jasad pun yang bersih dari hasad[1], akan tetapi orang yang buruk menampakkannya, adapun orang baik menyembunyikannya.”[2]

Perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah ini menunjukkan bahwasanya hasad itu menimpa banyak orang. Sampai-sampai, Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwasanya hasad itu مَرْكُوزٌ, yaitu sudah terpatri dalam jiwa manusia, sehingga setiap manusia ketika telah diciptakan oleh Allah ﷻ telah memiliki potensi untuk hasad.[3]

Hal tersebut bisa kita lihat dari tingkah anak-anak. Sangat sering sekali hasad timbul di antara anak-anak, baik hasad seorang adik kepada kakaknya atau sebaliknya hasad seorang kakak kepada anaknya. Anak-anak tentu tidak pernah belajar dan diajari untuk hasad, akan tetapi hal itu muncul dengan sendirinya. Oleh karenanya, ini menunjukkan bahwasanya hasad itu telah terpatri dalam hati-hati manusia, sehingga siapa pun memiliki potensi untuk hasad dan iri.

Penyakit hasad ini tidak hanya menimpa orang-orang jahat atau orang-orang dengan akhlak buruk, bahkan hasad ini menimpa orang-orang yang baik, yang mereka berkecimpung dalam urusan akhirat. Oleh karenanya, Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwasanya hasad itu banyak muncul pada perkara-perkara yang di situ orang-orang sama-sama bersyarikat, atau sama-sama memiliki hal tersebut, tidak jarang akan menimbulkan hasad.

Contoh hasad yang paling sering timbul dalam urusan dunia adalah hasadnya seorang wanita dengan para madunya, karena mereka sama-sama bersyarikat pada satu orang suami yang sama, akhirnya yang satu dengan yang lainnya saling memberi mudarat. Namun, hal itu tentu tidak terjadi kepada para istri-istri yang diberi rahmat oleh Allah ﷻ.

Contoh yang lain pula seperti hasadnya seorang pedagang dengan pedagang yang sama-sama menjual produk yang sama, hasadnya para tukang becak dengan tukang becak yang lain, hasadnya antara satu dokter dengan dokter yang lain, bahkan hasad di antara para aparat pemerintahan yang luar biasa besarnya, sehingga kita melihat bagaimana pertikaian di antara mereka.

Sebagaimana telah kita sebutkan bahwasanya hasad juga bisa menimpa orang-orang baik, maka tentu hasad ini bisa menimpa hal-hal yang berkaitan dengan akhirat. Oleh karenanya, Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwasanya seorang ulama yang memiliki pengikut, biasanya akan timbul hasad kepada para ulama lain yang sama-sama memiliki pengikut, kecuali mereka yang diselamatkan oleh Allah ﷻ dari penyakit hasad tersebut.

Sebagaimana telah kita katakan bahwasanya Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa tidak ada di antara kita yang bersih dari hasad, maka tentu ini menunjukkan bahwa di antara kita pasti pernah merasakan hal tersebut, baik ketika kita masih kecil atau bahkan sekarang ini setelah dewasa. Terkadang mungkin kita hasad kepada teman kerja, hasad dengan keluarga, hasad dengan tetangga, semuanya sangat mungkin untuk terjadi, hanya saja di antara kita ada yang mengungkapkannya dan ada yang tidak mengungkapkannya. Oleh karenanya, Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwasanya orang yang mengungkapkan hasadnya baik dengan perkataan atau perbuatan adalah orang yang buruk, adapun orang yang menyembunyikan dan melawan hasad yang ada pada dirinya adalah orang yang mulia.

Bahayanya Hasad

Ada beberapa poin yang menunjukkan bahayanya penyakit hasad menimpa diri seseorang, antara lain:

  1. Hampir semua orang mengalami hasad

Hal ini sebagaimana telah kita sebutkan dalam mukadimah bahwasanya Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa tidak ada satu jasad pun yang bersih dari hasad.

Tentunya, menyadari bahwa di antara kita tidak ada yang lepas dari hasad seharusnya memberikan kewaspadaan bagi diri kita akan bahayanya hasad tersebut, sehingga kita berusaha untuk menghindari dan melawan ketika penyakit itu timbul.

  1. Nabi Muhammad ﷺ menamakan hasad dengan penyakit

Penyakit hasad ini bukan hanya menimpa umat Islam, akan tetapi umat-umat sebelum kita pun juga ditimpa penyakit hasad ini. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الحَسَدُ وَالبَغْضَاءُ، هِيَ الحَالِقَةُ، لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَفَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَلِكَ لَكُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, yaitu hasad dan permusuhan, dan itu menggunduli. Aku tidak mengatakan menggunduli rambut, akan tetapi memangkas agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut? Tebarkanlah salam di antara kalian.”[4]

Pada hadis tersebut, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan bahwasanya umat Islam telah dijangkiti penyakit umat-umat terdahulu yaitu hasad dan permusuhan. Adapun permusuhan, besar kemungkinan hal tersebut muncul karena hasad, sebab betapa sering orang kita menemukan orang yang bermusuhan itu didahului dengan hasad.

Pada hadis ini juga, Nabi Muhammad ﷺ juga menjelaskan bahwa apabila seseorang telah terkena penyakit itu bisa menggunduli agamanya, yaitu penyakit hasad akan menggugurkan agamanya dengan cepat, sebagaimana rambut yang sangat mudah untuk digunduli. Mengapa demikian? Karena ketika seseorang telah hasad, maka potensi untuk berbuat zalim sangatlah besar.

  1. Jika seseorang telah hasad maka potensi berbuat zalim sangat besar

Telah kita singgung sedikit pada poin sebelumnya bahwasanya orang yang hasad, potensi untuk dirinya berbuat zalim sangatlah besar terhadap yang dihasadkan.

Contoh akan hal ini sangat banyak sekali. Di antaranya seperti hasadnya iblis kepada Adam ‘alaihissalam. Sebelum Iblis hasad kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, dia adalah makhluk yang mulia, makhluk yang rajin ibadah, bahkan saking hebatnya dia, dia disejajarkan dengan para malaikat. Akan tetapi, ketika Nabi Adam ‘alaihissalam Allah ﷻ ciptakan dengan berbagai macam kelebihan, maka iblis pun hasad kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, sampai-sampai iblis berkata ketika enggan menaati perintah Allah ﷻ untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam,

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Akhirnya, Iblis pun berusaha mengeluarkan Nabi Adam ‘alaihissalam dari surga. Bahkan bukan hanya itu, iblis bahkan hasad berkelanjutan kepada anak keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam. Iblis berkata kepada Allah ﷻ,

رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ، إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 39-40)

Intinya, hasad yang dialami oleh iblis membuat dia berbuat zalim kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Iblis tidak lagi peduli ketika dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah ﷻ, yang terpenting adalah tujuannya untuk menyesatkan anak keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam.

Contoh lain adalah hasadnya Qabil kepada Habil. Hasad yang terjadi pada Qabil adalah hasad karena kurban. Kurban Habil diterima oleh Allah ﷻ, adapun kurbannya Qabil tidak diterima. Dari situ kemudian Qabil hasad kepada saudaranya Habil, dan karena hasadnya tersebut, Qabil dengan tega membunuh adiknya sendiri yaitu Habil. Ini menunjukkan bagaimana kezaliman timbul karena hasad seorang kakak kepada adiknya.

Contohnya juga seperti hasadnya sepuluh anak Nabi Ya’qub kepada saudaranya yaitu Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Melihat ayahnya yaitu Nabi Ya’qub yang lebih sayang kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam, akhirnya sepuluh saudaranya yang lain pun hasad kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan ingin membunuhnya. Namun, kemudian yang terjadi adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dibuang ke dalam sumur, lalu dijualnya kepada kafilah yang lewat[5]. Ini tentu menunjukkan bagaimana hasad itu memberi potensi yang besar untuk seseorang berbuat zalim kepada orang atau apa pun yang dihasadkan.

Di antara contoh hasad yang berpotensi memunculkan kezaliman adalah seperti hasadnya orang-orang Yahudi terhadap kaum muslimin. Allah ﷻ telah berfirman,

دَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapangdadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 109)

Mengapa orang-orang Yahudi ingin orang-orang Islam untuk kafir kembali? Karena mereka merasa tersaingi dari segi keimanan. Sebelumnya, mereka merasa ahli kitab yang paling hebat karena merasa Allah ﷻ telah menurunkan Taurat kepada mereka, namun ternyata ada kaum lain yang Allah ﷻ juga turunkan kitab kepada mereka yaitu kaum muslimin, akhirnya orang-orang Yahudi pun hasad dan ingin agar kaum muslimin itu kafir kembali, sehingga mereka bisa menjadi kaum yang paling beriman sendiri.

Inilah beberapa contoh-contoh yang menunjukkan ketika hasad telah masuk pada diri seseorang, maka potensi baginya untuk berbuat zalim sangatlah besar.

  1. Hasad sangat mudah menghapus amal saleh

Telah datang dalam sebuah riwayat hadis yang menunjukkan bahwasanya hasad sangat mudah untuk menghapus amal saleh. Hadis tersebut secara sanad daif, akan tetapi maknanya benar, bahwasanya hasad sanga mudah untuk menghapus pahala-pahala amal saleh. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Waspadalah terhadap hasad, karena sesungguhnya hasad dapat memakan kebaikan sebagaimana api yang memakan kayu bakar.”[6]

Meskipun hadis tersebut secara sanad daif, akan tetapi maknanya benar, dan makna tersebut didukung oleh banyak riwayat yang lain, di antaranya adalah hadis yang telah kita sebutkan bahwasanya hasad bisa menggundul agama seseorang[7], artinya hasad itu bisa menghapus kebaikan-kebaikan dan amal saleh yang seseorang lakukan.

Hadis yang kita sebutkan di atas menujukkan dua hal, pertama adalah hasad akan menggugurkan pahala, dan yang kedua adalah cepatnya pahala tersebut gugur. Mengapa demikian? Lihatlah api yang membakar kayu bakar, maka tentu kita bisa melihat bagaimana kayu tersebut sangat cepat terbakar dan tidak lama kemudian akan habis menjadi abu.

Oleh karenanya, ketika Nabi Muhammad ﷺ menyamakan antara hasad seperti api yang membakar kayu bakar, itu artinya hasad yang ada pada diri seseorang tersebut bergejolak di dalam dada, sehingga akhirnya memicu agar seseorang tersebut berbuat berbagai macam kezaliman, yang akhirnya memakan habis amalan-amalannya.

  1. Hasad adalah akhlaknya orang-orang yang buruk

Sebagaimana telah kita sebutkan pada beberapa poin sebelumnya, tentang contoh-contoh hasad. Dari contoh-contoh tersebut menunjukkan kepada kita bahwasanya jika seseorang hasad maka dia telah meniru akhlak iblis, akhlaknya Habil, akhlaknya sepuluh saudara, dan bahkan meniru akhlak Yahudi.

Tentunya, menyadari hal ini membuat kita menjadi waspada agar tidak meniru akhlak orang-orang yang buruk.

Model-model Hasad

Ada beberapa model-model hasad di antaranya:

  1. Berharap kenikmatan hilang dari orang lain meski tidak pindah kepadanya

Hasad dengan model ini adalah hasad dengan tingkatan yang paling parah. Mengapa demikian? Karena ini adalah model hasad yang menunjukkan buruknya jiwa seseorang.

Contoh hasad model seperti ini adalah hasadnya iblis kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Iblis tidak suka kepada Nabi Adam ‘alaihissalam di surga, tapi iblis tidak ingin Nabi Adam keluar dari surga dan kemudian dia yang masuk ke surga, akan tetapi dia hanya ingin Nabi Adam keluar dari surga, dan tidak mengapa baginya tidak masuk lagi ke dalam surga.

Ini adalah hasad yang paling parah, karena dia baru bahagia ketika melihat orang yang dia hasad kepadanya itu jatuh atau hilangnya nikmat darinya, dan itu adalah hasadnya iblis.

  1. Berharap nikmat yang dimiliki orang lain itu berpindah kepadanya

Contoh dalam hal ini seperti misalnya seorang karyawan yang hasad kepada direktur terpilih, sementara dia juga bersaing untuk posisi direktur tersebut. Maka dia kemudian ingin direktur tersebut turun dari jabatannya atau bahkan dipecat, kemudian dia yang menggantikannya sebagai direktur.

Demikian pula contoh para dua warung yang sama-sama berjualan bahan sembako. Maka salah satu dari keduanya hasad kepada yang lainnya, dan ingin agar warung yang lain tersebut bangkrut, sehingga pembeli hanya datang ke warungnya.

Tentunya, hasad model ini juga termasuk model hasad yang parah

  1. Tidak ingin nikmat tersebut hilang dari seseorang, namun dia hanya tidak suka nikmat tersebut ada pada diri orang tersebut

Model hasad ini adalah model hasad yang banyak menimpa diri kita, dan tentu kita juga harus mewaspadainya, karena sekadar tidak suka terhadap nikmat yang orang lain rasakan, maka itulah hasad.

Contohnya ketika salah satu DKM tidak suka dengan DKM masjid yang lain karena ramainya jemaahnya, maka ini berarti DKM tersebut telah hasad. Demikian pula ketika seseorang belajar kepada seorang ustaz, kemudian dia merasa tidak suka ketika melihat ustaz yang lain, maka itu indikasi hasad.

Ingatlah bahwasanya hasad yang timbul karena rasa tidak suka itu harus kita akui sebagai hasad, karena benci terhadap nikmat dan kebaikan yang dimiliki oleh orang lain adalah hasad sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah.[8]

Oleh karenanya, hendaknya setiap kita benar-benar mengintrospeksi diri masing-masing, apakah dia sedang hasad atau tidak.

  1. Tidak ingin kenikmatan hilang dari seseorang, hanya saja bahagia ketika melihat orang tersebut tidak mendapatkan kenikmatan

Di antara contoh bentuk hasad model ini adalah ketika seorang pemilik warung bahagia melihat warung sebelahnya tidak memiliki pembeli. Demikian pula seperti seorang murid yang senang dan bahagia melihat temannya yang lain terus-terusan bodoh dalam pelajaran, dia menyembunyikan ilmu agar dia yang selalu tampil misalnya di depan kelas.

Jadi, bahagia dengan melihat orang lain tidak mendapatkan kenikmatan juga adalah hasad, sehingga seseorang juga harus waspada.

Hasad Yang Boleh

Ada dua jenis hasad yang boleh dilakukan, dan bahkan kita bisa mengategorikannya sebagai perkara yang asalnya bukan hasad.

  1. Hasad kepada orang kafir

Ar-Razi mengatakan bahwasanya hasad asalnya haram, namun boleh hasad kepada orang kafir yang menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk maksiat.[9]

Ketika kita melihat orang kafir menggunakan hartanya untuk berfoya-foya, menggunakan hartanya untuk bermaksiat, kemudian kita merasa tidak suka dan berharap dia miskin misalnya, maka yang demikian tidak mengapa, karena hasadnya pada sisi orang tersebut menggunakan kenikmatan untuk sesuatu yang tidak benar, dan Ar-Razi mengatakan bahwa yang demikian tidak mengapa.

  1. Ghibthah

Secara sederhana, ghibthah adalah ingin sukses atau mendapat kenikmatan seperti apa yang didapatkan oleh orang lain, tanpa harus hilangnya nikmat dari orang tersebut.

Ghibthah ini bukan termasuk hasad yang haram, akan tetapi dia adalah hasad yang boleh. Dalil akan hal ini adalah seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا، فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً، فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak ada hasad kecuali pada dua orang, seseorang yang Allah anugerahkan harta lantas ia menghabiskan[10] hartanya untuk kebenaran, dan seseorang yang dianugerahkan Allah hikmah, maka ia pun memutuskan perkara dengan hikmah tersebut dan mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih)[11]

Hadis ini menunjukkan bahwasanya seseorang boleh hasad kepada orang yang memiliki nikmat atau kelebihan, dengan maksud kita ingin mendapatkan kenikmatan atau kelebihan tersebut agar bisa berbuat seperti yang orang tersebut lakukan, dan tidak berharap hilangnya kenikmatan yang ada pada orang tersebut.

Dua orang yang Nabi Muhammad ﷺ sebutkan dalam sabdanya tersebut adalah dua orang yang hebat, yang dengan kedua orang tersebut agama bisa tegak di suatu negeri. Oleh karenanya, sering penulis sampaikan bahwasanya Allah ﷻ menakdirkan Nabi Muhammad ﷺ ketika di awal dakwah bertemu dengan orang-orang yang kaya. Di antaranya seperti Khadijah, Abu Bakar, Abdurrahman bin ‘Auf, dan beberapa sahabat lainnya radhiallahu ‘anhum.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan dua contoh ghibthah dalam risalahnya Amradh al-Qulub wa Syifauha.[12]

Pertama: Ghibthahnya Umar bin Khattab kepada Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma. Disebutkan dalam Sunan Abu Daud, Umar bin Khattab mengatakan,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ، فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي، فَقُلْتُ: الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟، قُلْتُ: مِثْلَهُ، قَالَ: وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟ قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قُلْتُ: لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا

Rasulullah memerintahkan Kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang saya miliki. Lalu saya mengatakan, ‘Apabila aku dapat mendahului Abu Bakar pada suatu hari maka hari ini aku akan mendahuluinya’. Kemudian saya datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah bersabda, ‘Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya katakan, ‘Harta yang semisal dengan itu’. Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia miliki. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Ia berkata, ‘Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya’. Maka saya berkata, ‘Saya tidak akan dapat mendahuluimu kepada sesuatu pun selamanya’.”[13]

Di sini, Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu ghibthah kepada Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma. Umar tentu tidak berharap Abu Bakar tidak bersedekah, mereka adalah dua orang sahabat yang saling mencintai, akan tetapi Umar ghibthah ingin menyaingi Abu Bakar dalam bersedekah.

Kedua: Ghibthahnya Nabi Musa ‘alaihissalam kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ketika peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Ketika Nabi Muhammad ﷺ telah melewati Nabi Musa ‘alaihissalam, maka Nabi Musa ‘alaihissalam pun menangis. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam ditanya tentang sebab tangisannya, maka beliau pun berkata,

أَبْكِي لِأَنَّ غُلاَمًا بُعِثَ بَعْدِي يَدْخُلُ الجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَدْخُلُهَا مِنْ أُمَّتِي

Aku menangis karena anak ini diutus setelah aku, namun orang yang masuk surga dari umatnya lebih banyak dari orang yang masuk surga dari umatku.”[14]

Ini menunjukkan bahwa ada kecemburuan pada diri Nabi Musa ‘alaihissalam yang juga ingin mencapai derajat yang tinggi seperti Nabi Muhammad ﷺ. Di sini, Nabi Musa ‘alaihissalam tidak benci kepada Nabi Muhammad ﷺ, bahkan beliau sangat sayang kepada kita umat Islam[15].

Ini dua contoh bentuk ghibthah yang dibawakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam risalahnya. Namun, yang lebih utama dari kedua contoh tersebut adalah apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Abu bakar radhiallahu ‘anhu, beliau melakukan amal kebajikan tanpa memandang orang lain, sehingga dia fokusnya kepada Allah ﷻ. Demikian juga Nabi Muhammad ﷺ, beliau berdakwah tanpa membandingkan dirinya dengan nabi-nabi yang lain, beliau hanya fokus untuk mencari keridaan Allah ﷻ.

Oleh karenanya, beramal tanpa harus ada pesaing di samping itu lebih utama daripada harus ada pesaing terlebih dahulu. Maka ketika kita hendak beramal, maka beramallah tanpa harus melihat orang lain. Namun, jika kita hanya bisa semangat ketika melihat orang lain telah beramal lebih dulu, maka tidak mengapa, yang penting kita hanya ghibthah dan tidak hasad.

Berjihad Melawan Hasad

Siapa pun kita tentu akan sangat mudah untuk terkena hasad, sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah. Oleh karenanya hendaknya kita tidak memandang remeh masalah hasad ini.

Lantas, bagaimana cara kita berjihad melawan hasad? Maka ada beberapa cara yang bisa kita tempuh untuk melawan hasad yang timbul di dalam diri kita.

  1. Merenungkan tentang keutamaan hati yang bersih dari hasad

Allah ﷻ telah memuji kaum Ansar karena bersihnya hati mereka. Allah ﷻ berfirman,

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9)

Ayat ini menjelaskan bahwasanya kaum Ansar tidak hasad terhadap kaum Muhajirin atas apa yang Allah ﷻ berikan kepada mereka. Apa keutamaan kaum Muhajirin? Yaitu mereka masuk Islam terlebih dahulu, selalu Allah ﷻ menyebutkan kaum Muhajirin terlebih dahulu lalu kaum Ansar dalam banyak ayat, dan mereka juga kebanyakan satu suku dengan Nabi Muhammad ﷺ. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, kaum Ansar tidak hasad kepada kaum Muhajirin, bahkan ketika yang dibaiat setelah meninggalnya Nabi Muhammad ﷺ adalah Abu Bakar dari kaum Muhajirin pun kaum Ansar tidak hasad.

Selain dengan merenungkan keutamaan hati yang bersih, kita juga bisa merenungkan tentang besarnya pahala orang yang tidak hasad, yaitu bisa masuk surga. Sebuah hadis yang sahih, disebutkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

Kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, maka beliau pun berkata, ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga’. Maka muncullah seseorang dari kaum Ansar, jenggotnya masih basah terkena air wudu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi ﷺ mengucapkan perkataan yang sama, dan muncullah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi ﷺ juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin Amr bin Al-Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, ‘Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?’ Maka orang tersebut berkata, ‘Silakan’.”

Kemudian Anas bin Malik melanjutkan ceritanya,

Abdullah bin Amr bin Al-Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan salat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk salat subuh. Abdullah bertutur, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka aku pun berkata kepadanya: Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah ﷺ berkata sebanyak tiga kali: Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga, lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi ﷺ?’ Orang itu berkata, ‘Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat’. Abdullah bertutur: ‘Tatkala aku berpaling pergi maka ia pun memanggilku dan berkata: Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya’.”

Maka Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata,

هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampu.[16]

Lihatlah, bahwasanya yang menjadikan orang yang disebutkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai penghuni surga adalah karena orang tersebut di antaranya tidak hasad kepada siapa pun.

Oleh karenanya, di antara cara kita berjihad melawan hasad adalah dengan merenungi bersihnya hati orang yang tidak hasad, dan menjadi di antara sebab masuk surga.

  1. Orang yang tidak hasad adalah orang yang bahagia

Ketika kita menyadari bahwasanya orang yang tidak hasad adalah orang yang bahagia, maka tentu kita akan berusaha melawan hasad yang muncul pada diri kita agar kita bisa meraih kebahagiaan.

Ketahuilah, orang yang hasad itu selalu jengkel ketika ada orang yang berhasil, jengkel melihat orang mendapatkan kenikmatan, jengkel melihat orang yang sukses, akhirnya dia tidak akan bahagia.

Ketahui pulalah bahwasanya musuh dari kebahagiaan adalah hasad, dan orang yang telah hasad tentu telah hilang dari dirinya sifat kanaah, dan orang yang telah hilang sifat kanaah dari dirinya maka dia tidak akan bahagia. Orang yang menyadari bahwasanya segala yang terjadi pada orang lain dan diri sendiri merupakan takdir Allah ﷻ, kemudian rida terhadap apa yang Allah ﷻ berikan kepada orang lain, maka Anda akan bahagia.

  1. Menyadari bahwa hasad adalah bentuk protes terhadap keputusan Allah

Allah ﷻ telah berfirman di dalam Al-Qur’an,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Seorang salaf menyebutkan bahwasanya ketika beliau membaca ayat ini, kemudian dia tahu bahwasanya semua telah diputuskan oleh Allah, sehingga dai tidak hasad lagi.

Allah ﷻ-lah yang menjadikan orang lain sukses, Allah ﷻ yang menjadikan orang lain cerdas, Allah ﷻ menjadikan orang lain pejabat, semuanya telah dibagi-bagi dan ditetapkan oleh Allah ﷻ. Ketika kita tidak setuju dengan kecerdasan orang lain, tidak setuju dengan kekayaan orang lain, tidak setuju dengan tingginya jabatan orang lain, atau yang lainnya, maka saat itu kita sedang protes dengan keputusan Allah ﷻ. Ketika itu, seakan-akan kita mengatakan, ‘Ya Allah, Engkau salah dalam membagi-bagi, harusnya saya yang mendapatkan hal tersebut dan bukan dia’.

Protes terhadap keputusan Allah ﷻ melazimkan sikap suuzan kepada Allah ﷻ, karena dengan protes menunjukkan seakan-akan Allah ﷻ tidak bijak dalam memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya.

  1. Memuji Allah karena kita tidak diuji dengan kenikmatan orang lain

Sebagian orang miskin mungkin hasad kepada orang yang kaya. Padahal, ketika dia diberikan kekayaan, belum tentu dia bisa berhasil melalui ujian tersebut. Bahkan, bisa jadi ketika dia diberi kekayaan, yang ada malah dia senantiasa bermaksiat kepada Allah ﷻ dengan harta yang diberikan kepadanya.

Demikian pula ketika sebagian orang dengan paras biasa-biasa saja hasad kepada orang yang memiliki paras yang tampan. Padahal, dia sendiri belum tentu berhasil jika diberi ujian dengan paras yang tampan. Belum tentu dia bisa selamat dari fitnah para wanita.

Demikian pula ketika seorang dai hasad kepada dai lain yang memiliki pengikut yang banyak. Padahal, belum tentu dia bisa ikhlas dalam berdakwah ketika memiliki pengikut yang banyak. Belum tentu seorang dai bisa tulus dan tidak mengharap dunia ketika dia memiliki pengikut yang banyak. Oleh karenanya, ketika seorang dai ternyata bisa ikhlas dengan pengikut yang sedikit, maka itu jauh lebih baik.

Bersyukurlah dengan apa yang Allah ﷻ berikan kepada kita, karena bisa jadi kita telah mengharapkan suatu nikmat yang belum tentu kita bisa melaksanakan kewajiban syukurnya.

  1. Mengingat bahwa hasad adalah akhlak iblis dan Yahudi

Hal ini sebagaimana yang telah kita sebutkan bahwasanya hasad adalah akhlak iblis dan Yahudi. Maka, dengan mengingat dan menyadari akan hal ini, tentu kita bisa terhindar dari hasad, karena tentu tidak ada di antara kita secara sadar mau mengikuti akhlak dari Iblis dan Yahudi.

  1. Berdoa kepada Allah ﷻ

Di antara kita yang paling penting dalam berjihad melawan hasad adalah dengan berdoa kepada Allah ﷻ. Di antara doa yang bisa kita panjatkan adalah doa kaum Muhajirin dan Ansar yang Allah ﷻ sebutkan firman-Nya untuk memuji mereka,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Di antaranya juga kita bisa berdoa dengan doa umum yang Nabi Muhammad ﷺ ajarkan agar terhindar dari penyakit hati,

وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي

Dan cabutlah penyakit dari hatiku.”[17]

Tentunya, ada banyak doa-doa yang bisa kita panjatkan agar kita terhindar dari penyakit hasad. Oleh karenanya, perbanyaklah berdoa kepada Allah ﷻ untuk meminta hati yang bersih, agar kita bisa terhindar dari hasad.

  1. Memuji orang yang kita hasad kepadanya

Di antara cara agar kita bisa melawan hasad adalah dengan memuji orang yang kita hasad kepadanya. Bahkan, ketika ada orang lain yang mencelanya, maka kita jangan tinggal diam apalagi bahagia, tapi kita harus membantah dan memujinya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah telah mengingatkan akan hal ini, bahwasanya di antara bentuk tidak berbuat adil kepada sesama muslim adalah diam ketika melihat saudaranya dijatuhkan oleh orang lain. Seharusnya, seseorang harus membela saudaranya sesama muslim yang sedang dijatuhkan, di antaranya dengan cara memujinya, karena bisa jadi kelak dia membutuhkan pertolongan dari saudaranya tersebut.

Selain itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyebutkan bahwa di antara cara untuk melawan hasad kepada orang lain adalah dengan cara memberikan hadiah kepadanya, dan juga berusaha dekat atau kenal dengannya, karena kebanyakan hasad timbul karena tidak kenal.

Inilah beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika kita terjangkit penyakit hasad. Semoga kita bisa bersama-sama melawan hasad yang ada pada diri kita.

Footnote:

___________

[1] Maksudnya di sini adalah secara umum tidak ada orang pun yang tidak terkena hasad, terkecuali mungkin para nabi.

[2] Majmu’ al-Fatawa (10/124-125).

[3] Lihat: Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam tahqiq Al-Arnauth (2/260).

[4] HR. Tirmizi No. 2510, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa` al-Ghalil (3/328).

[5] Lihat: Tafsir Al-Qurthubi (9/155).

[6] HR. Abu Daud No. 4903, dinyatakan daif oleh Syaikh Al-Albani. Namun, hadis ini disebutkan oleh para ulama karena banyaknya syahid yang mendukung makna dari hadis tersebut.

[7] Lihat: HR. Tirmizi No. 2510.

[8] Lihat: Majmu’ al-Fatawa (18/334).

[9] Lihat: At-Tafsir al-Kabir, karya Ar-Razi (3/238).

[10] سَلِّطُه di sini maksudnya adalah seseorang menguasai harta tersebut untuk menghabiskannya, dan ini menunjukkan bahwasanya orang tersebut berusaha melawan kecintaan harta yang ada pada dirinya untuk kemudian dibelanjakan di jalan kebenaran.

[11] HR. Bukhari No. 73 dan HR. Muslim No. 816.

[12] Lihat: Amradh al-Qulub wa Syifauha (hlm. 17).

[13] HR. Abu Daud No. 1678, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.

[14] HR. Bukhari No. 3887.

[15] Hal ini terlihat dengan saran yang diberikan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk meminta keringanan kepada Allah ﷻ terkait jumlah waktu shalat, yang asalnya 50 puluh waktu menjadi hanya lima waktu.

[16] HR. Ahmad No. 12697, Al-Arnauth mengatakan hadis tersebut sanadnya sahih berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

[17] HR. Ibnu Majah No. 3830, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.