Hukum Berdoa Setelah Shalat Fardhu

Apa hukum berdoa setelah shalat fardhu?

Apabila seseorang berdo’a dengan do’a-do’a yang telah diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a dengannya setelah shalat, maka para ‘ulama tidak ada yang melarang.

Berkata Syaikh ‘Abdullathif bin ‘Abdurrahman bin Hasan:

“Adapun berdo’a dengan do’a-do’a yang terdapat di dalam hadit-hadits yang shahih tanpa mengangkat tangan, seperti berdo’a bin Syu’bah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca setiap kali selesai shalat :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tidak ada Tuhan selain Allah azza wa jalla semat, dan tidak ada sekutu bagiNya, milikNyalah segala kerajaan, dan bagiNyalah segala pujian, dan Allah azza wa jalla maha mampu atas segala sesuatu, ya Allah azza wa jalla, sungguh tidak ada yang mampu menahan pemberianmu, dan taka da yang mampu memberi apa yang engkau tahan, dan kekayaan seseorang tidak mampu menyelamatkannya dari siksamu di akhirat kelak”.

Dan sebagaimana yang diriwayat dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa ia mengajarkan anak-anaknya sebuah do’a sebagimana seseorang sedang mengajarkan anak kecil menulis dan beliau berkata: sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali selesai dari shalat beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ

“Ya Allah azza wa jalla sesungguhnya aku meminta perlindungan kepadamu dari sifat pelit, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut, dan aku meminta perlindunganmu dari sifat pikun, dan aku berlindung kepadamu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepadamu dari adzab qubur” (H.R. Bukhari no 6365)

Dan sebagaimana yang disampaikan oleh Ummu salamah: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai shalat subuh beliau berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“ya Allah azza wa jalla aku meminta kepadamu ilmu yang bermanfaat, dan rezqi yang Thoyyib, dan amalan yang diterima” H.R. Ahmad dan Ibnu Majah.

Dan juga yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal: bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya : “Wahai Mu’adz, aku berwasiat kpadamu agar tidak meninggalkan untuk berdoa dengan kalimat ini pada setiap akhir shalat (sebagian ‘ulama memahami : setiap setelah shalat):

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

ya Allah azza wa jalla bantulah aku untuk bisa selalu berdzikir kepadaMu, dan mensyukuriMu, dan bagus dalam beribadah kepadaMu) H.R. Abu Dawud, dan Annasai dengan sanad yang kuat.

Dan adalah Syaikh (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) tidak melarang dari hal ini dan tidak pula para pengikutnya dan tidak ada satupun daru Ahli hadits yang melarang darinya, akan tetapi, apabila seseorang berdoa dengan do’a-do’a yang tidak ma’tsur datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sembari mengangkat tangan, maka para ‘Ulama berselisih dalam masalah ini menjadi dua pendapat, sebagian mengatakan: boleh dan dianjurkan, dan sebagian yang lain mengatakan: dibenci” ([1]).

Adapun berdoa dengan hal yang tidak di riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dalam masalah ini para ‘ulama berselisih dalam masalah berdoa setelah shalat menjadi dua pendapat.

Pendapat pertama: tidak mengapa bagi seseorang berdo’a setelah shalat, dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ‘ulama bahkan sebagian ‘ulama menganjurkannya.

Berkata Syaikhul Ibnu Taimiyyah:

فَإِنَّ الدُّعَاءَ فِي الصَّلاَةِ أَجْوَبُ مِنْهُ فِي غَيْرِهَا؛ كَالدُّعَاءِ فِي دُبُرِهَا كَمَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ فِي الأَدْعِيَةِ الشَّرْعِيَّةِ؛ فَإِنَّهَا مَشْرُوْعَةٌ فِي آخِرِ الصَّلاَةِ، وَكَذَلِكَ الدُّعَاءُ عَقِبَ الصَّلاَةِ.

“Sesungguhnya berdoa di dalam shalat lebih ditekankan dari selainnya, seperti berdoa di penghujuang shalat, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits tentang doa-doa yang disyari’atkan, dan doa tersebut di syari’atkan untuk dibaca di penghujung shalat, begitu juga berdoa setelah shalat” ([2]).

Beliau juga berkata:

فَإِذَا كَانَ قَدْ لَعَنَ مَنْ يَتَّخِذُ قُبُورَ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ مَسَاجِدَ امْتَنَعَ أَنْ يَكُونَ تَحَرِّيهَا لِلدُّعَاءِ مُسْتَحَبًّا لِأَنَّ الْمَكَانَ الَّذِي يُسْتَحَبُّ فِيهِ الدُّعَاءُ يُسْتَحَبُّ فِيهِ الصَّلَاةُ لِأَنَّ الدُّعَاءَ عَقِبَ الصَّلَاةِ أجوب.

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat untuk menjadikan kuburan orang-orang shalih sebagai masjid, maka tidak mungkin menjadikannya tempat berdoa itu dianjurkan, karena tempat yang dianjurkan untuk berdoa di sana, maka seharusanya dianjurkan untuk shalat di sana, karena doa setelah shalat itu lebih mudah terkabulkan” ([3]).

Berkata imam Ibnu Hajar:

وَمَشْرُوعِيَّةُ الدُّعَاءِ عَقِبَ الصَّلَاةِ وَتَقْدِيمُ الصَّلَاةِ أَمَامَ طَلَبِ الْحَاجَةِ وَالدُّعَاءُ بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Dan dari hadits ini terdapat faedah: disyari’atknnya berdoa setelah shalat, dan disyari’atkannya shalat sebelum meminta sesuatu dan berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat” ([4]).

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata:

فالحاصل أن الدعاء في دبر الصلاة أمر مشروع وأفضله ما كان قبل السلام، وإن دعا بعد السلام وبعد الذكر بينه وبين نفسه فلا بأس، قد جاء في رواية مسلم من حديث علي ما يدل على شريعة الدعاء أيضًا بعد السلام: اللهم اغفر لي ما قدمت وما أخرت وما أسررت وما أعلنت وما أسرفت وما أنت أعلم به مني أنت المقدم وأنت المؤخر لا إله إلا أنت، أو قال: أنت إلهي لا إله إلا أنت.

“Kesimpulannya adalah: bahwa berdoa di penghujung shalat adalah sesuatu yang disyari’atkan, dan yang paling afdol adalah sebelum salam. Dan jika dia berdoa setelah salam dan setelah berdzikir sendiri maka tidak mengapa, karena ada juga hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari hadits ‘Ali  yang menunjukkan disyari’atkannya berdoa setelah salam: “Ya Allah azza wa jalla ampunilah dosa-dosaku telah aku perbuat dan yang belum aku perbuat, engkaulah Dzat yang maha terdahulu yang terakhir, tidak ada Tuhan selain engkau, atau ia mengatakan: engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain allah” ([5]).

Adapun argumentasi mereka adalah memahami lafal “dubur” yang datang dalam hadits-hadits dengan makna “setelah”. Seperti hadits-hadits berikut :

Hadits Ibnu Ábbas, beliau berkata di atas mimbar :

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: ” اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْأَعْوَرِ الْكَذَّابِ “

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah azza wa jalla dari empat perkara ketika setiap dubur (selesai) shalat: (ya Allah azza wa jalla aku berlindung kepadMu dari adzab qubur, ya Allah azza wa jalla aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka, ya Allah azza wa jalla aku berlindung kepada dari segala fitnah yang Nampak maupun tersembunyi, ya Allah azza wa jalla aku berlindung kepadamu dari fitnah si mata satu yang tukang dusta (Dajjal)” (H.R. Ahmad no.2778).

Hadits Abu Bakroh:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ: ” اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ “

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika dubur (setelah) selesai shalat: (ya allah aku berlindung kepadaMu dari kekufuran, kefakiran, dan a’adzab qubur). H.R. 20409, 20447

Hadits Mush’ab bin Sa’d:

كَانَ سَعْدٌ، يُعَلِّمُ بَنِيهِ هَؤُلاَءِ الكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمُكَتِّبُ الغِلْمَانَ وَيَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ دُبُرَ الصَّلاَةِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَعَذَابِ القَبْرِ.

Sa’d bin Abi Waqqash bahwa ia mengajarkan anak-anaknya sebuah do’a sebagimana seseorang sedang mengajarkan anak kecil menulis dan beliau berkata: sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dubur (selesai) shalat beliau berdoa: (ya Allah azza wa jalla sesungguhnya aku meminta perlindungan kepadamu dari sifat pelit, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut, dan aku meminta perlindunganmu dari sifat pikun, dan aku berlindung kepadamu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepadamu dari adzab qubur” (H.R. Bukhari 2822, Attirmidzi 3567)

Hadits Mu’adz:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ يَوْمًا، ثُمَّ قَالَ: ” يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ “. فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ. قَالَ: ” أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ: اللهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “

Pernah suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tangannya seraya bersabda (wahi Mu’adz, sungguh aku mencintaimu) lalu Muadzpun menimpali: (demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh aku mencintaimu) lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (aku berwashiat agar engkau tidak pernah meninggalkan untuk membaca doa berikut setiap di dubur shalat: ya Allah azza wa jalla bantulah aku untuk senantiasa berdzikir kepadaMu, dan mensyukuriMu, dan baik dalam dalam beribadah kepadaMu” (H.R. Ahmad 22119, An-Nasai 13303, Abu Dawud 15522, Ibnu Hibban 2021)

Berkata imam As-Syaukani:

لِأَنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ بَعْدَهَا عَلَى الْأَقْرَبِ

“Karena makna “dubur” shalat maksudnya adalah “setelah” shalat, menurut pendapat yang lebih tepat” ([6]).

Diantara hadits yang menunjukan bahwa dubur maknanya adalah “setelah” hadits Mughoirah bin Sy’ubah, beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ».

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiap kali dubur  shalat, beliau membaca: (Tidak ada Tuhan selain Allah azza wa jalla semat, dan tidak ada sekutu bagiNya, milikNyalah segala kerajaan, dan bagiNyalah segala pujian, dan Allah azza wa jalla maha mampu atas segala sesuatu, ya Allah azza wa jalla, sungguh tidak ada yang mampu menahan pemberianmu, dan taka da yang mampu memberi apa yang engkau tahan, dan kekayaan seseorang tidak mampu menyelamatkannya dari siksamu di akhirat kelak)” (H.R Bukhari 844, Muslim 471).

Dan semua sepakat bahwa dzikir tahlil ini dibaca setelah salam. Maka jelas bahwa makna “dubur shalat” dalam hadits ini adalah “setelah shalat”.

Selain itu telah datang juga hadits yang dengan tegas menunjukan bahwa Nabi berdoa setelah salam. Seperti hadits Ummu Salamah, beliau berkata :

Hadits Ummu Salamah:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا»

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila ia selesai shalat subuh maka beliau berdo’a:  “Ya Allah azza wa jalla aku meminta kepadamu ilmu yang bermanfaat, dan rizqi yang Thoyyib, dan amalan yang diterima” (H.R. Ibnu Majah no.925, Ahmad no.26602).

Pendapat kedua: tidak dianjurkan berdo’a setelah shalat, dan bila terus menerus maka menjadi sesuatu yang bid’ah,

Dan ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh At-Thurthusi, Ibnu Qoyyim, dan syaikh Ibnu al-‘Utsaimin.

Berkata imam At-Thurthusi:

ومن البدع قراءة القارئ يوم الجمعة عشرا من القرآن عند خروج السلطان. وكذلك الدعاء بعد الصلاة.

“Termasuk kbid’ahan adalah membaca sepuluh ayat Al quran ketika pemimpin datang. Dan termasuk kebid’ahan juga adalah berdo’a setelah shalat” ([7]).

Ibnu Qoyyim berkata:

وَأَمَّا الدُّعَاءُ بَعْدَ السَّلَامِ مِنَ الصَّلَاةِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَوِ الْمَأْمُومِينَ، فَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ مِنْ هَدْيِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْلًا، وَلَا رُوِيَ عَنْهُ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَلَا حَسَنٍ. وَأَمَّا تَخْصِيصُ ذَلِكَ بِصَلَاتَيِ الْفَجْرِ وَالْعَصْرِ، فَلَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هُوَ وَلَا أَحَدٌ مِنْ خُلَفَائِهِ، وَلَا أَرْشَدَ إِلَيْهِ أُمَّتَهُ، وَإِنَّمَا هُوَ اسْتِحْسَانٌ رَآهُ مَنْ رَآهُ عِوَضًا مِنَ السُّنَّةِ بَعْدَهُمَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

“Adapun berdo’a setelah selesai dari shalat dengan menghadap qiblat atau menghadap makmum, maka yang demikian tidaklah termasuk sesuatu yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, dan tidak pula diriwayatkan dari beliau baik dengan periwayatan yang shahih ataupun hasan.

Adapun mengkhususkan yang demikian hanya setelah shalat subuh dan ashar, maka tidaklah beliau melakukannya sama sekali dan tidak pula salah seorangpun dari khulafa arrosyidin, dan tidak pula beliau mengajarkannya kepada ummatnya, akan tetapi dia hanya sesuatu yang dianggap baik oleh sebagian orang yang memandang bahwa hal itu lebih baik untuk dijadikan pengganti dari sunnah-sunnah setelahnya, wallahu a’lam”([8]).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata:

لا أعلم أني قلت إن الدعاء بعد الفريضة بدعة، هكذا على الإطلاق، ولكني أقول إن المحافظة على الدعاء بعد الفريضة والنافلة كلتيهما ليس بسنة بل هو بدعة؛ لأن المحافظة عليه يلحقه بالسنة الراتبة سواء كان قبل الأذكار الواردة بعد الصلاة أم بعدها.

وأما فعله أحياناً فأرجو أن لا يكون به بأس، وإن كان الأولى تركه؛ لأن الله تعالى لم يشرع بعد الصلاة سوى الذكر لقوله تعالى: (فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ). ولأن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لم يرشد إلى الدعاء بعد الصلاة، وإنما أرشد إلى الدعاء بعد التشهد قبل التسليم، وكما أن هذا هو المسموع أثراً فهو الأليق نظراً، لكون المصلي يدعو ربه حين مناجاته له في الصلاة قبل الانصراف.

“Aku tidak merasa pernah mengatakan bahwa berdoa setelah shalat wajib adalah bid’ah secara muthlaq, akan tetapi aku mengatakan: bahwa terus menerus dan selalu berdoa setiap selesai dari shalat wajib dan sunnah bukanlah termasuk sunnah, bahkan dia adalah bid’ah, karena terus menerus melakukannya, menjadikannya sunnah rotibah, baik dilakukan sebelum dzikir setelah shalat atupun setelahnya.

Akan tetapi, jika seseorang ingin melakukannya sesekali, maka semoga saja tidak mengapa, meskipun yang lebih baik adalah meninggalkannya, karena Allah azza wa jalla tidak mensyari’atkan satupun amalan setelah shalat selain berdzikir, sebagaimana firman Allah azza wa jalla (apabila kalian telah selesai dari shalat, maka berdzikirlah kepada Allah azza wa jalla), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengajarkan untuk berdoa setelah Shalat, akan tetapi beliau mengajarkan untuk berdoa setelah tasyahhud sebelum salam, dan karena inilah yang sesuai dengan atsar dan lebih pas dari segi logika, karena seseorang ketika shalat dia berdoa kepada Allah azza wa jalla tatkala ia bermunajat kepada Rabbnya di dalam shalat sebelum salam” ([9]).

Mereka berargumen dengan berikut :

  1. Tidak adanya dalil yang khushush menganjurkan untuk berdo’a setelah shalat, dan tidak pula dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Mereka memahami lafal “dubur shalat” maksudnya adalah “di penghujung shalat sebelum salam”
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak duduk setelah shalat kecuali sebatas membaca:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلَّا مِقْدَارَ مَا يَقُولُ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ» وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ «يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila sudah salam, beliau tidak duduk kecuali sebatas membaca: (Allahumma antassalam waminkassalam tabarokta ya dzaljalali walikrom” (H.R. Muslim 592 dari ‘Aisyah).

Kesimpulan.

Yang lebih kuat -wallahu a’lam- adalah pendapat pertama, bahwasanya boleh berdoa setelah shalat karena kuatnya dalil mereka.

Adapun hadits dari A’isyah dari yang diriwayatkan oleh imam Muslim, maka Ibnu Hajar berkata:

(قَوْلُهُ بَابُ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَاةِ) أَيِ الْمَكْتُوبَةِ وَفِي هَذِهِ التَّرْجَمَةِ رَدٌّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّ الدُّعَاءَ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا يُشْرَعُ مُتَمَسِّكًا بِالْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَائِشَةَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَا يَثْبُتُ إِلَّا قَدْرَ مَا يَقُولُ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكت يَاذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْجَوَابُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالنَّفْيِ الْمَذْكُورِ نَفْيُ اسْتِمْرَارِهِ جَالِسًا عَلَى هَيْئَتِهِ قَبْلَ السَّلَامِ إِلَّا بِقَدْرِ أَنْ يَقُولَ مَا ذَكَرَ فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى أَقْبَلَ عَلَى أَصْحَابِهِ فَيُحْمَلُ مَا وَرَدَ مِنَ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَاةِ عَلَى أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ بَعْدَ أَنْ يقبل بِوَجْهِهِ على اصحابه

“Perkataan imam Bukhori (bab: berdoa setelah shalat): yaitu: shalat wajib, dan pada bab ini terdapat bantahan atas anggapan sebagian orang yang mengatakan: bahwa berdoa setelah shalat tidak disyari’atkan, karena mereka berpegang dengan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim melalui jalur ‘Abdullah bin Al Harits dari ‘Aisyah beliau berkata: adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai shalat, maka beliau tidak tetap di tempatnya kecuali sebatas membaca (Allahumma antassalam waminkassalam tabarokta ya dzaljalali walikram), dan jawabannya adalah: yang dimaksud dengan penafian ini adalah: beliau tidak duduk sebagiamana keadaan duduk beliau ketika sebelum salam kecuali sebatas membaca doa tersebut, karena telah datang dalam hadits shahih yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai dari shalat, beliau menghadap para sahabatnya, maka hadits yang menyebutkan bahwa beliau berdoa setelah shalat dibawakan kepada setelah berbalik menghadap para sahabatnya”([10]).

Catatan:

  1. Mencukupi diri dengan do’a-do’a yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah shalat tentu lebih baik, karena bagaimanapun apa yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang lebih baik, dan apa yang beliau minta adalah yang terbaik. Akan tetapi, jika seseorang ingin berdo’a dengan doa selain yang di baca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak mengapa.
  2. Perlu kita bedakan antara do’a dan dzikir, adapun do’a: maka seseorang boleh berdo’a dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataupun dari dirinya sendiri. Adapun dzikir: maka seseorang harus berdzikir sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak boleh mengada-ada di dalamnya.
  3. Tidak ada periwayatan yang shahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan tatkala berdo’a setelah shalat, akan tetapi hanya berdoa sendiri tanpa mengangkat tangan dan tidak berdoa dan para sahabat yang mengmini.

Berkata imam Al Qorrofi:

وَعَنْهُ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَاةِ وَالْأَوَّلُ فِي الْمُدَوَّنَةِ

“Dan diriwayatkan dari imam Malik: tidak mengangkat tangan bagi orang yang berdo’a setelah shalat” ([11]).

Berkata imam Ibnul Hajj Al Maliki:

ثُمَّ يَنْوِي الدُّعَاءَ بَعْدَ الصَّلَاةِ أَيْضًا؛ لِأَنَّهُ مِنْ السُّنَّةِ أَعْنِي دُعَاءَ كُلِّ إنْسَانٍ فِي سِرِّهِ لِنَفْسِهِ وَلِإِخْوَانِهِ دُونَ جَهْرٍ اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا وَيُرِيدَ أَنْ يُعَلِّمَ الْمَأْمُومِينَ عَلَى مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ – فَإِذَا رَأَى أَنَّهُمْ قَدْ تَعَلَّمُوا سَكَتَ.

“Kemudian berniat untuk berdoa setelah shalat, karena yang demikian itu adalah sunnah, maksudnya: setiap orang berdo’a masing-masing secara lirih untuk kebaikannya dan kebaikan saudaranya tanpa mengeraskan suara, kecuali jika dia seorang imam dan ingin mengajarkan para makmum, menurut pendapat Assyafi’I, dan tatkala ia melihat bahwa makmum sudah mengerti, maka ia pun kembali berdoa secara lirih” ([12]).

Dan berkata imam Assyafi’i:

وَأَخْتَارُ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ مِنْ الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ مِنْهُ فَيَجْهَرَ حَتَّى يَرَى أَنَّهُ قَدْ تُعُلِّمَ مِنْهُ، ثُمَّ يُسِرُّ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: {وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا} يَعْنِي وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ الدُّعَاءَ وَلَا تَجْهَرْ تَرْفَعْ وَلَا تُخَافِتْ حَتَّى لَا تُسْمِعَ نَفْسَك، وَأَحْسَبُ مَا رَوَى ابْنُ الزُّبَيْرِ مِنْ تَهْلِيلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ مِنْ تَكْبِيرِهِ كَمَا رَوَيْنَاهُ. وَأَحْسَبُهُ إنَّمَا جَهَرَ قَلِيلًا لِيَتَعَلَّمَ النَّاسُ مِنْهُ

“Dan aku berpendapat: hendaklah bagi imam ataupun makmum agar berdzikir kepada Allah azza wa jalla setelah selesai shalat, dan mereka memelankan dzikir merea, kecuali jika dia sebagai imam dan keadaan mengharuskan dia untuk mengajarkan makmum, maka boleh baginya untuk mengeraskan suaranya sampai ia memandang bahwa para makmum sudah mengerti darinya, maka ia kembali memelankan suaranya, karena sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman: (dan janganlah kamu mengeraskan doamu dan jangan kamu pelankan sekali: Al Isra 110), maksudnya adalah, wallahu a’lam: yaitu doa, jangan sampai kamu mengeraskan dan mengangkat suaramu dan jangan sampai kamu pelankan sampai kamu juga tidak mendengarnya, dan bahwa apa yang diriwayatkan dari Ibnu Zubair dalam masalah tahlilnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan apa yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam masalah takbirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaiman yang telah kami sebutkan, aku beranggapan bahwa beliau mengeraskannya sesekali agar manusia bisa mengetahui dzikir beliau” ([13]).

Dapatkan Informasi Seputar Shalat di Daftar Isi Panduan Tata Cara Sholat Lengkap Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Shiyanatul insan ‘an waswasatissyaikh Dahlan, ‘Abdullathif, 1/532

([2])  Al Istighotsah fi arroddu ‘alal Bakri, Ibnu Taimiyyah, 1/282

([3]) Majmu’ fatawa, Ibnu Taimiyyah, 27/120, Al fatawa Al kubro, Ibnu Taimiyyah, 2/430

([4]) Fathulbari, Ibnu Hajar, 4/229

([5]) https://binbaz.org.sa/fatwas/18794/حكم-الدعاء-دبر-الصلوات-المكتوبات

([6]) Nailul Author, Assyaukani, 2/343

([7]) Al Hawadits walbida’, Atthurthusi, 1/152

([8]) Zadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim, 1/249

([9]) Majmu’ fatawa Syaikh ‘Utsaimin, 13/276

([10]) Fathulbari, Ibnu Hajar, 11/133

[11] Adz-dzakhiroh, Al-Qorrofi, 13/342

[12] Al-Madkhol, Ibnul Hajj, 1/58

([13]) Al-Umm, As-Syafi’I, 1/150