Hukum Mengeraskan Bacaan Basmalah

Hukum Mengeraskan Bacaan Basmalah

Masalah mengeraskan bacaan basmalah atau memelankannya, tidak ada kaitannya dengan masalah apakah basmalah termasuk Al Fatihah atau tidak.

An-Nawawi berkata:

(وَاعْلَمْ) أَنَّ مَسْأَلَةَ الْجَهْرِ لَيْسَتْ مَبْنِيَّةً عَلَى مَسْأَلَةِ إثْبَاتِ الْبَسْمَلَةِ لِأَنَّ جَمَاعَةً مِمَّنْ يَرَى الاسرار بها لا يعتقدونه قرآنا بل يرونها من سنته كَالتَّعَوُّذِ وَالتَّأْمِينِ وَجَمَاعَةً مِمَّنْ يَرَى الْإِسْرَارَ بِهَا يَعْتَقِدُونَهَا قُرْآنًا وَإِنَّمَا أَسَرُّوا بِهَا وَجَهَرَ أُولَئِكَ لِمَا تَرَجَّحَ عِنْدَ كُلِّ فَرِيقٍ مِنْ الْأَخْبَارِ وَالْآثَارِ

“Dan perlu diketahui bahwasanya masalah mengeraskan basmalah atau tidak, tidaklah di bangun di atas masalah apakah basmalah termasuk awal surat, karena sebagian ‘ulama yang berpendapat memelankan bacaan basmalah beranggapan bahwa basmalah tidak termasuk quran, akan tetapi mereka berpendapat bahwa hal itu termasuk sunnah-sunnah seperti ta’awwudz dan aamiin, dan sebagian ‘ulama yang mengatakan memelankan basmalah mereka meyakini bahwa basmalah termasuk bagian al quran, hanya saja mereka mengeraskan dan memelankan sesuai dalil-dali hadits dan atsar yang lebih kuat dalam masalah ini bagi setiap kalangan”. ([1])

Para ulama berselisih menjadi tiga pendapat -dalam hal apakah disunnahkan untuk menjahr kan basmallah pada shalat jahiyah-. (1) Disunnahkan([2]), (2) Tidak disunnahkan([3]), dan (3) Boleh dijaharkan sesekali demi maslahat([4]).

Pendapat yang lebih kuat adalah asalnya tidak menjahrkan basmalah, namun sesekali boleh menjahrkan basmalah jika ada mashlahatnya. Hal ini karena dalil sangat tegas menunjukan Nabi dan para khulafa rasyidin tidak menjahr-kan basmalah([5]). Bahkan ini merupakan pendapat mayoritas ulama([6]). Adapun hadits-hadits yang menunjukan bahwa Nabi membaca basmallah dengan jahr maka kurang tegas penunjukannya([7]). Adapun yang tegas penunukannya maka seluruh riwayatnya dhoíf([8]).

Dapatkan Informasi Seputar Shalat di Daftar Isi Panduan Tata Cara Sholat Lengkap Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Al Majmu’, Annawawi, 3/342-343

([2]) Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i. An-Nawawi berkata :

قَدْ ذَكَرْنَا أَنْ مَذْهَبَنَا اسْتِحْبَابُ الْجَهْرِ بِهَا حَيْثُ يَجْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ فِي الْفَاتِحَةِ وَالسُّورَةِ جَمِيعًا فَلَهَا فِي الْجَهْرِ حُكْمُ بَاقِي الْفَاتِحَةِ وَالسُّورَةِ هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ الْفُقَهَاءِ والقراء

“Telah kami sebutkan sebelumnya bahwasanya dalam madzhab kami (madzhab Syafi’i), di anjurkan mengeraskan basmalah pada sholat yang bacaan Al Fatihah dan surah lain juga di keraskan semua, maka hukum mengeraskan basmalah mengikuti hukum bacaan Al Fatihah dan surah lain. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan para shahabat, tabiín, dan para fuqoha dan para qori’ setelah mereka” (Al Majmu’, Annawawi, 3/341)

([3]) Ini adalah pendapat madzhab Hanabilah, dan Hanafiyyah. Akan tetapi dalam madzhab Hanafiyyah, makmum tidak membaca basmalah karena bacaan imam sudah mencukupi bacaan makmum.

Berkata imam An-Nasafi:

وَسُنَنُهَا رَفْعُ الْيَدَيْنِ لِلتَّحْرِيْمَةِ…وَالتَّعَوُّذُ وَالتَّسْمِيَةُ وَالتَّأْمِيْنُ سِرًّا

“Dan sunnah-sunnah shalat adalah mengangkat tangan tatkala tatkbirotul ihrom… dan ta’awwudz, dan membaca basmalah dan membaca aamiin secara lirih” (Kanzu ad-Daqoiq, 1/160)

Dan beliau juga berkata:

وسمّى سرًّا في كلّ ركعةٍ

“Dan membaca basmalah dengan lirih di setiap rakaat” (Kanzu ad-Daqoiq, 1/162)

Berkata imam Al Hajjawi:

ثُمَّ يُبَسْمِلُ سِرًّا وَلَيْسَتْ مِنَ الْفَاتِحَةِ

“Kemudian membaca basmalah dengan lirih, dan basmalah tidak termasuk Al Fatihah” (Zadul Mustaqni’, 1/45)

Dan berkata syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin tatkala menjelaskan ucapan Al Hajjawi:

قوله: «سِرًّا»، أي: يُبسمِلُ سِرًّا، يعني: إذا كانت الصَّلاةُ جهريَّة

“Uapan Al Hajjawi (secara lirih) maksudnya adalah membaca basmalah secara lirih, apabila sholat jahriyyah…”(Asy-Syarh Al Mumti’, 3/57)

([4]) Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau berkata :

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فَالصَّوَابُ أَنَّ مَا لَا يُجْهَرُ بِهِ قَدْ يُشْرَع الْجَهْرُ بِهِ لِمَصْلَحَةِ رَاجِحَةٍ فَيَشْرَعُ لِلْإِمَامِ أَحْيَانًا لِمِثْلِ تَعْلِيمِ الْمَأْمُومِينَ وَيَسُوغُ لِلْمُصَلِّينَ أَنْ يَجْهَرُوا بِالْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ أَحْيَانًا وَيَسُوغُ أَيْضًا أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ الْأَفْضَلَ لِتَأْلِيفِ الْقُلُوبِ وَاجْتِمَاعِ الْكَلِمَةِ خَوْفًا مِنْ التَّنْفِيرِ عَمَّا يَصْلُحُ كَمَا تَرَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَاءَ الْبَيْتِ عَلَى قَوَاعِدِ إبْرَاهِيمَ؛ لِكَوْنِ قُرَيْشٍ كَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ وَخَشِيَ تَنْفِيرَهُمْ بِذَلِكَ وَرَأَى أَنَّ مَصْلَحَةَ الِاجْتِمَاعِ والائتلاف مُقَدَّمَةٌ عَلَى مَصْلَحَةِ الْبِنَاءِ عَلَى قَوَاعِدِ إبْرَاهِيمَ. وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ – لَمَّا أَكْمَلَ الصَّلَاةَ خَلْفَ عُثْمَانَ وَأَنْكَرَ عَلَيْهِ فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ فَقَالَ – الْخِلَافُ شَرٌّ؛ وَلِهَذَا نَصَّ الْأَئِمَّةُ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ عَلَى ذَلِكَ بِالْبَسْمَلَةِ وَفِي وَصْلِ الْوِتْرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِيهِ الْعُدُولُ عَنْ الْأَفْضَلِ إلَى الْجَائِزِ الْمَفْضُولِ مُرَاعَاةَ ائْتِلَافِ الْمَأْمُومِينَ أَوْ لِتَعْرِيفِهِمْ السُّنَّةَ وَأَمْثَالِ ذَلِكَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“Maka yang benar adalah: sesuatu yang tidak dikeraskan (dalam shalat), terkadang disyari’atkan untuk mengeraskannya demi kemashlahatn yang lebih besar, maka disyariatkan bagi imam sesekali (mengeraskannya) untuk mengajarkan makmum, dan dibolehkan bagi orang-orang yang shalat sesekali mengeraskan bacaan yang sedikit, dan dibolehkan bagi seseorang untuk meninggalkan yang lebih afdhal demi melembutkan hati dan kesatuan kaum muslimin, khawatir membuat orang lari dari yang lebih baik, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membangun kembali ka’bah sebagaimana dahu nabi Ibrahim membangunnya karena orang-orang Quraisy kala itu masih baru-baru keluar dari kejahiliahan dan khawatir hal itu membuat mereka lari, dan beliau memandang bahwa mashlahat persatuan lebih dikedepankan dari mashlahat membangun ka’bah sesuai dengan bangunan nabi Ibrahim.

Begitu juga dengan Ibnu Mas’ud, tatkala beliau menyempurnakan shalat (shalat 4 rakaat) ketika bermakmum kepada ‘Utsman, dan ditanyakan kepadanya (sebab beliau mengikuti ‘Utsman) maka beliau menjawab: “perselisihan itu buruk”.

Oleh karenanya ‘ulama-‘ulama mengatakan yang demikian, seperti imam Ahmad dan selainnya dalam masalah basmalah, dan menyambung sholat witir, dan selain itu yang termasuk meninggalkan yang lebih afdhal dan mengerjakan yang kurang afdhal demi menjaga kekompakan makmum, atau agar mereka mengetahui yang sunnah dan selainnya” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 22/436-437)

([5]) Diantara dalil-dalil tersebut adalah :

Pertama : Hadits Anas bin Malik, dan diriwayatkan dengan beberapa redaksi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلاَةَ بِ {الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ}”

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, dan ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- mereka semua memulai shalat dengan membaca “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” (H.R. Bukhari No.743)

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}

“Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr ‘Umar ‘Utsman, dan aku tidak pernah mendengar mereka membaca “bismillahirrahmanirrahim” (H.R. Muslim No.399)

«صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يُسْمِعْنَا قِرَاءَةَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَصَلَّى بِنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُمَا»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama kami (mengimami), dan beliau tidak memperdengarkan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” kepada kami, begitu juga Abu Bakr dan ‘Umar shalat bersama kami, dan mereka tidak menperdengarkannya kepada kami” (H.R. An-Nasai No.906)

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَلْفَ أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ فَكَانُوا لَا يَجْهَرُونَ: بِـ {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} “

“Aku shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dibelakang Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman, dan mereka semua tidak ada yang mengeraskan bacaan “bismillahirrahmanirrahim”(HR. Ahmad No. 12845, 13195)

«صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهِ عَنْهُمْ، فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَجْهَرُ {بِبِسْمِ اللَّهُ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}»

“Aku shalat dibelakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman, dan aku tidak pernah mendengar satupun dari mereka yang mengeraskan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” (H.R. An-Nasai No.907)

قُمْتُ وَرَاءَ أَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وعُثْمَانَ؛ فَكُلُّهُمْ كَانَ لاَ يَقْرَأُ {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحيمِ} إِذَا افْتَتَحُوا الصَّلاَةَ

“Aku shalat di belakang Abu Bakr dan ‘Umar dan ‘Utsman, mereka semua tidak membaca “bismillahirrahmanirrahim” apabila memulai shalat”(H.R. Malik No. 265)

Kedua : Hadits Anas bin Malik:

” أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسِرُّ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memelankan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” dan begitu juga Abu Bakr dan ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma” (Mu’jam Al Kabir, At-Thabarani, No.739) ([5])

Hadits ini sebagai pendukung hadits Anas bin Malik di atas.

Ketiga : Hadits Ibnu ‘Abdillah bin Mughoffal, ia berkata:

سَمِعَنِي أَبِي وَأَنَا أَقْرَأُ، {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: ” يَا بُنَيَّ إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ فِي الْإِسْلَامِ، فَإِنِّي صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَلْفَ أَبِى بَكْرٍ، وَخَلْفَ عُمَرَ، وَعُثْمَانَ، فَكَانُوا لَا يَسْتَفْتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ”

“Ayahku pernah mendengarku membaca “bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin” dan setelah beliau selesai, ayahku berkata: “wahai anakku, janganlah kamu melakukan sesuatu yang baru dai dalam agama Islam, sesungguhnya aku shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Abu Bakr ‘Umar dan ‘Utsman, dan mereka semua tidak memulai bacaan mereka dengan “bismillahirrahmanirrahim””( H.R. Ahmad No. 20559, 20545)

Anak ‘Abdullah bin Mughoffal adalah Yazid (lihat penjelasan dari Imam Ibnu Rojab dalam kitab, Fathulbari, 6/415), maka sanad hadits ini tidak terputus sanadnya

([6]) Sebagaimana pernyataan at-Tirmidzi tatkala mengomentari hadits Abdullah bin al-Mughoffal -yang baru saja disebutkan-, beliau berkata :

حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ.

وَالعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ، وَغَيْرُهُمْ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ. وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَابْنُ الْمُبَارَكِ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ: لاَ يَرَوْنَ أَنْ يَجْهَرَ بِ {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالُوا: وَيَقُولُهَا فِي نَفْسِهِ.

“Hadits ‘Abdullah bin Mughoffal adalah hadits yang hasan. Dan mayoritas ‘ulama dari kalangan sahabat beramal dengan hadits ini, diantaranya: Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan selain mereka, begitu juga setelah mereka dari kalangan tabi’in. Dan ini adalah pendapat, Sufyan Atssauri, Ibnu Al Mubarok, Ahmad, Ishaq (bin Rohawaih), mereka semua berpendapat: tidak mengeraskan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” akan tetapi membaca secara lirih” (Sunan At-Tirmidzi, tatkala mengomentari hadits No. 244)

([7]) Seperti hadits Abu Hurairah. Hadits Nu’aim bin Mujmir, beliau:

صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ: {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} فَقَالَ: «آمِينَ» وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku pernah sholat di belakang Abu Huroroh lalu ia membaca (bismillahirrahmanirrahim) kemudian ia membaca Al Fatihah hingga pada ayat غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ  lalu ia mengucapkan aaamiiin dan setelah salam ia berkata, “Demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya aku paling mirip sholatnya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antara kalian” (H.R. An-Nasai 905, Ibnu Khuzaimah 688, Ibnu Hibban 1797.)

Segi pendalilan: jika seandainya Abu Huroiroh memelankan bacaan basmalah, maka Nu’aim bin Mujmir tidak akan mendengar bacaan basmalah beliau.

Sedangkan Abu Huroiroh pernah berkata:

(فِي كُلِّ صَلاَةٍ يُقْرَأُ فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَسْمَعْنَاكُمْ وَمَا أَخْفَى عَنَّا أَخْفَيْنَا عَنْكُمْ وَإِنْ لَمْ تَزِدْ عَلَى أُمِّ الْقُرْآنِ أَجْزَأَتْ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ)

“Pada setiap sholat harus ada bacaan, dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengarkan kepada kami maka kami dengarkan kepada kalian, dan apa yang beliau sembunyikan dari kami maka kami sembunyikan dari kalian, dan apabila engkau hanya membaca Al Fatihah saja maka sholatmu sudah sah, dan apabila menambah surat yang lain maka lebih mulia”.  (H.R. Bukhori 772 dan Muslim 909).

Berkata An-Nawawi tatkala berdalil dengan hadits ini:

وَمَعْنَاهُ يَجْهَرُ بِمَا جَهَرَ بِهِ وَيُسِرُّ بِمَا أَسَرَّ بِهِ ثُمَّ قَدْ ثَبَتَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَجْهَرُ فِي صَلَاتِهِ بِالْبَسْمَلَةِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ سَمِعَ الْجَهْرَ بِهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ الْحَافِظُ الْبَغْدَادِيُّ الْجَهْرُ بِالتَّسْمِيَةِ مَذْهَبٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ حُفِظَ عَنْهُ وَاشْتَهَرَ بِهِ رَوَاهُ عَنْهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ

“Dan maksudnya adalah: mengeraskan apa yang di keraskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memelankan apa yang dibaca pelan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di sebutkan dalam atsar shohih bahwa Abu Huroiroh mengeraskan basmalah, maka yang demikian itu menunjukkan bahwa Abu Huroiroh mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan basmalah. Al-Khothiib al-Baghdaadi berkata, “Mengeraskan basmalah merupakan madzhabnya Abu Hurairah, telah diriwayatkan dari beliau, dan beliau telah masyhur dengan madzhab ini, lebih dari seorang muridnya yang meriwayatkan darinya” (Al Majmu’, Annawawi, 3/344)

Namun bagaimanapun penunjukan hadits Abu Huroiroh tersebut tidaklah tegas. Karena bisa jadi itu adalah ijtihad Abu Huroiroh, dan bisa jadi beliau mengeraskan dalam rangka pengajaran.

([8]) Diantara hadits-hadits dho’if tersebut

Pertama : Hadits Abu Hurairoh:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” كَانَ يَجْهَرُ بِـ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaan “basmalah” (H.R. Addaroquthni No.1174, Al Baihaqi No.2397.)

Hadits ini diriwayatkan melalui jalur ‘Uqbah bin Makrom dari Yunus bin Bukair dari Abu Ma’syar dari Muhammad bin Qois dari Abu Hurairah.

Hadits ini dho’if dikarenakan pada sanadnya ada perawi yang disebut  Abu Ma’syar. Ibnu Hajar berkata :

نَجِيح بن عبد الرحمن السِّنْديُّ…المَدَنيُّ أبو مَعْشَر…، مشهورٌ بكُنْيتِه: ضعيفٌ…أسَنَّ واختَلَط

“Najih bin ‘Abdirrahman Assindi…Al Madani…Abu Ma’syar…terkenal dengan kunyahnya: dho’if…setelah tua terganggu hafalannya”  (Taqrib attahdzib No.7100)

Selain itu hadits ini mursal.

Ibnu Hajar berkata :

محمد بن قيس المَدَنيُّ القاصُّ: ثقةٌ…وحديثه عن الصحابة مرسل

“Muhammad bin Qois Al Madani Al Qosh: Tsiqoh…dan hadits-haditsnya dari sahabat adalah mursal” (Taqrib at-Tahdzib No.6245)

Adz-Dzahabi berkata :

مُحَمَّدُ بْنُ قَيْسٍ الْمَدَنِيُّ الْقَاصُّ…وَأَرْسَلَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَغَيْرِهِ.

“Muhammad bin Qois Al Madani Al Qosh…dan beliau meriwayatkan secara mursal dari Abu Hurairah dan selainnya” (Tarikh Al Islam, 3/498)

Kedua : Kisah Mu’awiyah:

«صَلَّى مُعَاوِيَةُ بِالْمَدِينَةِ صَلَاةً فَجَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ، فَقَرَأَ فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ لِأُمِّ الْقُرْآنِ وَلَمْ يَقْرَأْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ لِلسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا حَتَّى قَضَى تِلْكَ الْقِرَاءَةَ»، فَلَمَّا سَلَّمَ نَادَاهُ مَنْ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ، وَالْأَنْصَارِ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ: يَا مُعَاوِيَةُ أَسَرَقْتَ الصَّلَاةَ، أَمْ نَسِيتَ؟ «فَلَمَّا صَلَّى بَعْدَ ذَلِكَ قَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ لِلسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَ أُمِّ الْقُرْآنِ، وَكَبَّرَ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا»

(Mu’awiyah pernah shalat di Madinah, dan beliau mengeraskan bacaannya, lalu beliau mengeraskan bacaan basmalah sebelum membaca Al Fatihah dan tidak membacanya untuk surah selain Al Fatihah, setelah selesai shalat, maka orang-orang Muhajirin dan Anshar yang mendengar hal itu memanggil beliau dari seluruh penjuru: wahai Mu’awiyah: apakah engkau telah mencuri shalat (mengurangi) ataukah engkau lupa? Setelah kejadian itu, beliau membaca basamalah sebelum surah setelah Al Fatihah, dan beliau bertakbir ketika hendak sujud” (H.R. Addaroquthni No.1187, Al Baihaqi No.2408, Al Hakim No.851.)

Hadits ini berporos pada ‘Abdullah bin Khutsaim.

Akan tetapi hadits ini dho’if karena:

Pertama : Hadits ini mutthorib dari segi sanad dan matan.

Mutthorib dari segi sanad:

  • Terkadang ‘Abdullah bin Khutsaim meriwayatkan dari Abu Bakr bin Hafsh dari Anas (H.R. Al Baihaqi No. 2408)
  • Terkadang ‘Abdullah bin Khutsaim meriwayatkan melalui jalur Isma’il bin ‘Ubaid bin Rifa’ah dari ayahnya (H.R. Al Baihaqi No. 2410)
  • Terkadang ‘Abdullah bin Khutsaim meriwayatkan dari Isma’il bin ‘Ubaid bin Rifa’ah dari ayahnya dari kakeknya (H.R. Addaroquthni No. 1188)

Mutthorib dari segi matan:

  • Terkadang hadits ini diriwayatkan dengan lafazh “فَلَمْ يَقْرَأْ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}] لِأُمِّ الْقُرْآنِ وَلَمْ يَقْرَأْهَا لِلسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا: tidak membaca basmalah sebelum Al Fatihah dan sebelum surah yang lain” sebagaimana riwayatimam Addaroquthni No. 1188 (melalui jalur Isma’il bin ‘Ubaid), 1887 (melalui jalur Abu Bakr bin Hafsh).
  • Terkadang hadits ini diriwayatkan dengan lafazh “فَلَمْ يَقْرَأْ: {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}: dan tidak membaca bismillahirrahmanirrahim” sebagaimana dalam riwayat imam Abdurrazzaq No.2618

Terkadang diriwayatkan dengan lafazh “فَقَرَأَ فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ لِأُمِّ الْقُرْآنِ وَلَمْ يَقْرَأْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ لِلسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا: lalu beliau membaca basmalah sebelum Al Fatihah dan tidak membacanya sebelum surah setelah Al Fatihah” sebagaimana dalam riwayat imam Addaroquthni No.1187, Al Baihaqi No.2408, Al Hakim No.851.

Berkata imam Azzaila’i:

وَمِثْلُ هَذَا الِاضْطِرَابِ فِي السَّنَدِ وَالْمَتْنِ مِمَّا يُوجِبُ ضَعْفَ الْحَدِيثِ، لِأَنَّهُ مُشْعِرٌ بِعَدَمِ ضَبْطِهِ.

“Dan itthirob yang seperti ini dalam sanad dan matan, termasuk sesuatu yang mengharuskan dho’ifnya hadits ini, karena yang demikian memberi indikasi tidak kuatnya hadits ini” (Nashburroyah, 1/354)

Kedua : Anas bin Malik tinggal di Bashrah, bukan di Madinah dan tidak ada penukilan bahwa Anas bin Malik ada di Madinah bersama Mu’awiyah tatkala itu. (Lihat : Nashburroyah, 1/354)

Ketiga : Jika Mu’awiyah akhirnya mengeraskan bacaan basmalah beliau, maka akan masyhur di kalangan orang-orang Syam, akan tetapi madzhab penduduk Syam adalah tidak mengeraskan bacaan basmalah. (Lihat : Nashburroyah, 1/354)

Ketiga : Hadits Ibnu Abi As-Sari, beliau berkata:

صَلَّيْتُ خَلْفَ الْمُعْتَمِرِ بْنِ سُلَيْمَانَ مِنَ الصَّلَوَاتِ مَا لَا أَحْصِيهَا الصُّبْحَ الْمَغْرِبَ فَكَانَ يَجْهَرُ بِـ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} قَبْلَ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَبَعْدَهَا، وَسَمِعْتُ الْمُعْتَمِرَ يَقُولُ: مَا آلُو أَنْ أَقْتَدِيَ بِصَلَاةِ أَبِي وَقَالَ أَبِي: مَا آلُو أَنْ أَقْتَدِيَ بِصَلَاةِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَقَالَ أَنَسٌ: «مَا آلُو أَنْ أَقْتَدِيَ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“ Aku pernah shalat di belakang Mu’tamir bin Sulaiman mungkin Subuh dan mungkin Maghrib, dan beliau mengeraskan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” sebelum membaca Al Fatihah dan setelahnya, dan aku mendengar Mu’tamir berkata: aku benar-benar bersungguh-sungguh mengikuti tata cara shalat ayahku, dan ayahku berkata: aku benar-benar bersungguh-sungguh mengikuti shalat Anas bin Malik, dan Anas berkata: aku benar-benar bersungguh-sungguh mengikuti shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” (H.R. Addaroquthni No.1179.)

Akan tetapi hadits ini dho’if dikarenakan Ibnu Abi Assari perowi yang shoduq banyak wahm (keliru) dalam meriwayatkan hadits. Ibnu Hajar berkata :

محمد ابن المتوكل ابن عبد الرحمن…المعروف بابن أبي السري صدوق عارف له أوهام كثيرة

“Muhammad bin Al Mutawakkil bin ‘Abdurrahman…dikenal dengan Ibnu Abi As-Sari, perowi yang shoduq, ‘arif, akan tetapi dia memiliki banyak kesalahan dalam periwayatan” (Taqrib At-Tahdzib, no 6263)

Dan At-Thabarani meriwayatkan dari jalur Ibnu Abi As-Sari dari Al Hasan dari Anas bin Malik dengan lafazh:

” أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسِرُّ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memelankan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” dan begitu juga Abu Bakr dan ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma” (Mu’jam Al Kabir, At-Thabarani, No.739)

Dan ada kemungkinan hadits di atas termasuk kesalahan beliau dalam meriwayatkan.

Keempat : Hadits Ibnu ‘Abbas dan ‘Ali bin Abi Tholib:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” لَمْ يَزَلْ يَجْهَرُ فِي السُّورَتَيْنِ بِـ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} حَتَّى قُبِضَ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa membaca “bismillahirrahmanirrahim” sampai ia meninggal” (H.R. Ad-Daroquthni No.1163)

Akan tetapi hadits ini dho’if dikarenakan:

Pertama : Hadits Ibnu ‘Abbas:

  • Ada perowi yang bernama Ja’far bin ‘Anbasah bin ‘Amr Al Kufi, dan dia adalah perowi yang majhul. (Lihat Lisaanul Mizaan 2/461)
  • Ada perowi yang bernama ‘Umar bin Hafsh. Berkata imam Ibnu Al Qotthon:

أما حَدِيث ابْن عَبَّاس، فعلته الْجَهْل بِحَال عمر بن حَفْص الْمَكِّيّ، بل لَا أعرفهُ مَذْكُورا فِي مظان ذكره وَذكر أَمْثَاله،

“Adapun hadits Ibnu ‘Abbas, permasalahan adalah tidak diketahui keadaan ‘Umar bin Hafsh Al Makki, bahkan aku tidak mendapati penyebutan tentangnya di tempat-tempat yang sekiranya dia di sebut dan semisalnya”. (Bayan Al Wahmi Wal Iham, 3/369)

Dan imam Al Baihaqi tatkala mengomentari sebuah hadits yang terdapat ‘Umar:

تَفَرَّدَ بِهِ عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ الْمَكِّيُّ، وَهُوَ ضَعِيفٌ لَا يُحْتَجُّ بِهِ

“Umar bin Hafsh Al Makki bersendiri dalam meriwayatkan ini, dan dia adalh perowi yang dho’if dan tidak bisa dijadikan hujjah” (Sunan Al Kubro, 2/15)

Lebih tegas lagi, Ibnu ‘Abdil Hadi berkata:

يرويهما عمر بن حفص، وقد أجمعوا على ترك حديثه.

“Dua hadits tersebut (riwayat Ibnu ‘Abbas tentang jahr basmalah) di riwayatkan oleh ‘Umar bin Hafsh, dan para ahli hadits sepakat untuk meninggalkan hadits-haditsnya” (Tanqih At-Tahqiqi, 2/187)

Kedua : Hadits ‘Ali:

Terdapat perowi yang bernama ‘Isa bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali, dan dia perowi yang bermasalah. Abu Nu’aim Al-Ashabahani berkata:

روى عَن أَبِيه عَن آبَائِهِ أَحَادِيث مَنَاكِير لَا يكْتب حَدِيثه لَا شَيْء

“Dia meriwayatkan dari ayahnya dari kakek-kakeknya hadits-hadits yang munkar, tidak ditulis hadits-haditsnya” (Ad-Dhu’afa, Abu Nu’aim, 1/122)

Ibnu Hibban berkata :

يروي عَن أَبِيه عَن آبَائِهِ أَشْيَاء مَوْضُوعَة لَا يحل الِاحْتِجَاج بِهِ

“Dia meriwayatkan dari ayahnya dari kakek-kakeknya hadits-hadits yang maudhu’, tidak halal untuk berhujjah dengan hadits-haditsnya” (Al-Majruhin, 2/121)

Kelima : Hadits Al Hakam bin ‘Umair, beliau berkata

صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” فَجَهَرَ فِي الصَّلَاةِ بِـ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ وَفِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ وَصَلَاةِ الْجُمُعَةِ “

Äku pernah shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mengeraskan bacaan basamalah di dalam shalat, pada shalat di malam hari dan sahalat subuh dan shalat Jum’at”(H.R. Ad-Daroquthni No.1185.)

Akan tetapi hadits ini dho’if karena ada perowi yang bernama Musa bin Abi Habib, dan dia adalah perowi yang sangat lemah. Ibnu Abi Hatim berkata:

سمعت أبي يقول: موسى بن ابى حبيب حمصي قدم الكوفة…وهو ضعيف الحديث.

“Aku mendengar ayahku berkata: Musa bin Abi Habib, orang Himsh dan pindah ke Kufah…dia perowi yang lemah haditsnya” (Al Jarhu Watta’dil, 8/140)

Adz-Dahabi berkata:

وخبره ساقط…وله عن الحكم بن عمير – رجل قيل له صحبة…والذي أرى أنه لم يلقه، وموسى مع ضعفه متأخر عن لقى صحابي كبير.

“Dan hadits-hadits sangat lemah, dan dia meriwayatkan dari Al Hakam bin ‘Umair (seseorang yang dikatakan termasuk sahabat) …dan menurutku, dia tidak bertemu dengannya (Al Hakam), dan Musa, selain kelemahannya dalam periwayatan (dho’if) dia hidup belakangan (tidak sempat) bertemu dengan kibar sahabat” (Mizan Al I’tidal, 4/202)

Dan imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa hadits ini munkar. (lihat Mizan Al I’tidal  4/202))

Dan masih ada beberapa lagi hadits yang diajadikan sandaran oleh para ‘ulama yang memilih pendapat pertama “disunnahkan mengeraskan basamalah pada shalat-shalat jahriyyah.

Akan tetapi semua tidak lepas dari permasalahan tentang keshohihan hadits-hadits tersebut.

Dan kalaupun hadits-haditsnya shohih, tidak lepas dari keritikan segi pengambilan dalil. (Untuk menambah faedah, bisa di lihat kitab-kitab berikut: 1. Fathul Bari, Ibnu Rojab, 6/388-427, Tanqih At-Tahqiq, Ibnu ‘Abdil Hadi, 2/174-199, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzzab, An-Nawawi, 3/341-356)