Pokok Kedua – Mengenal Agama Islam – Syarh al-Ushul Ats-Tsalatsah

الأَصْلُ الثَّانِي : مَعْرِفَةُ دِيْنِ الإِسْلاَمِ

(Pokok Kedua : Mengenal Agama Islam)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata :

الأَصْلُ الثَّانِي : مَعْرِفَةُ دِينِ الإِسْلامِ بِالأَدِلَّةِ وَهُوَ: الاسْتِسْلامُ للهِ بِالتَّوْحِيدِ، وَالانْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ، وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ، وَهُوَ ثَلاثُ مَرَاتِبَ: الإسْلامُ، وَالإِيمَانُ، وَالإِحْسَانُ. وَكُلُّ مَرْتَبَةٍ لَهَا أَرْكَانٌ.

“Pokok kedua: mengenal agama Islam disertai dalil-dalilnya. Islam adalah: ‘Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk patuh dengan menaatinya, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.”

Syarah:

            Pokok kedua yang hendak disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah mengenal Agama Islam.

Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

بَدَأَ الإسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كما بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”([1])

            Hadis ini menunjukkan bahwa mengenal agama Islam merupakan suatu perkara yang sangat urgen, sebab akan ada nanti suatu zaman orang-orang yang mengeklaim bahwa mereka beragama Islam, namun ternyata mereka tidak mengenal hakikat agama Islam itu sendiri. Bisa jadi mereka hanya mengenal Islam melalui keturunan, dengar-dengar, ikut-ikutan, atau yang lainnya, sehingga akhirnya mereka pun tidak memahami Islam dengan baik, bahkan bisa jadi mereka akan mengingkari ajaran-ajaran Islam.

Nabi Muhammad ﷺ menyatakan bahwa beruntunglah orang-orang yang asing, maksudnya adalah beruntunglah orang-orang yang menjalankan syariat Islam namun dianggap asing. Mereka dianggap asing karena pada saat itu kebanyakan orang tidak mengenal hakikat agama Islam dengan baik.

Karenanya, di antara pokok penting yang harus kita jadikan sebagai landasan kehidupan kita adalah mengenal agama Islam dengan baik.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa cara mengenal hakikat agama Islam dengan baik bukan dengan taklid, ikut-ikutan, tradisi, atau yang lainnya, melainkan dengan dalil.

Apa itu hakikat Islam?

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan Islam adalah “Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk patuh dengan menaati-Nya, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya”.

Dari penjelasan di atas, maka ada 3 poin penting yang harus dipenuhi oleh setiap muslim:

Pertama : Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya

Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangat banyak, di antaranya adalah firman Allah ﷻ,

﴿وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ﴾

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman: 22)

Juga firman Allah ﷻ,

﴿أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ﴾

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 133)

Juga firman Allah ﷻ,

﴿فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُواۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ﴾

“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al-Hajj: 34)

Dari sini, maka seseorang yang mengeklaim bahwa dirinya adalah seorang muslim namun ternyata ia tidak berserah diri sepenuhnya kepada Allah ﷻ (bertauhid), ia menyerahkan dirinya kepada langit, pohon, jin, dan yang lainnya, maka sesungguhnya ia tidak Islam.

Kedua : Tunduk patuh dengan menaati-Nya

Dalil akan hal ini adalah firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَاۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An Nur: 51)

Inilah sifat orang-orang Islam, apa pun yang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya maka mereka pun dengar dan patuh. Tidak seperti orang-orang munafik yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,

﴿وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ﴾

“Dan mereka berkata: ‘Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya)’. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 47)

Yaitu, mereka mengatakan bahwa mereka dengar dan patuh kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya, akan tetapi setelah itu mereka lantas berpaling.

Ketiga : Berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.

Harus kufur kepada kesyirikan serta meyakini bahwa hanya Islamlah yang benar, adapun selain Islam adalah kesyirikan. Jadi, ada 2 syarat, yaitu harus bertauhid dan menafikan kesyirikan. Allah ﷻ berfirman,

﴿ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَاۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ﴾

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Jangan sampai muncul keyakinan bahwa agama-agama selain Islam benar, seperti meyakini bahwa penganut agama Buddha, Hindu, Nasrani, Yahudi, penyembah kuburan, pohon, dan yang lainnya akan masuk surga. Allah ﷻ berfirman,

﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُۙ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ﴾

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 40)

Jadi, konsekuensi dari tauhid adalah mengingkari syirik beserta pelakunya. Seseorang yang mengeklaim dirinya bertauhid namun di sisi lain ia membiarkan bahkan membolehkan dan membenarkan kesyirikan, maka apalah arti tauhid jika demikian? Pernyataan-pernyataan semisal yang mengarah kepada bolehnya melakukan kesyirikan merupakan pernyataan kufur kepada Allah ﷻ yang membatalkan keimanan. Allah ﷻ berfirman,

﴿لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَۚ﴾

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam’.” (QS. Al-Ma’idah: 17).

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌۚ﴾

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa.” (QS. Al-Ma[idah: 73)

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَاۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Jelas, ayat-ayat di atas menegaskan bahwa pelaku syirik adalah kafir dan tempat mereka di akhirat adalah neraka. Sehingga tidak boleh kita membolehkan apalagi membenarkan perilaku-perilaku kesyirikan. Dengan yakin dan tegas kita harus mengatakan bahwa syirik adalah perbuatan kufur.

Adapun permasalahan tidak mengganggu atau toleransi ritual-ritual atau perbuatan-perbuatan kesyirikan, maka hal tersebut berbeda. Kita sebagai warga negara yang baik bertoleransi dalam artian membiarkan non muslim baik kafir atau musyrik untuk menjalankan ibadah sesuai agama mereka masing-masing. Namun, jika kita ditanyakan tentang peribadatan dan keyakinan mereka, maka wajib bagi kita mengatakan bahwa hal tersebut adalah syirik.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata :

وَهُوَ ثَلاثُ مَرَاتِبَ: الإسْلامُ، وَالإِيمَانُ، وَالإِحْسَانُ. وَكُلُّ مَرْتَبَةٍ لَهَا أَرْكَانٌ.

Agama Islam memiliki tiga tingkatan: Islam, iman, dan ihsan. Masing-masing tingkatan memiliki rukun tersendiri.

            Syarah:

Dalam sebuah hadis yang sangat populer, yaitu hadis yang dikenal dengan hadis Jibril ‘alaihissalam, disebutkan bahwa Jibril ‘alaihissalam berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ, “Kabarkanlah kepadaku tentang Islam.” Nabi Muhammad ﷺ menjawab,

اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

“Islam adalah engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah , menegakkan salat; menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya.”

Jibril ‘alaihissalam kemudian berkata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang Iman”. Nabi Muhammad ﷺ menjawab,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Iman adalah, engkau beriman kepada Allah , malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.”

Jibril ‘alaihissalam kemudian berkata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang Ihsan”. Nabi Muhammad ﷺ menjawab,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Di akhir hadis, Nabi Muhammad ﷺ pun menyebutkan,

فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ

“Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”([2])

Berdasarkan hadis inilah para ulama membagi agama Islam menjadi tiga tingkatan, dan di setiap tingkatan terdapat rukun-rukun.

Tingkatan pertama adalah Islam, dan ia memiliki 5 rukun, yaitu: syahadatain, salat, zakat, puasa, dan haji.

Tingkatan kedua adalah Iman, dan ia memiliki 6 rukun, yaitu: iman kepada Allah ﷻ, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.

Tingkatan ketiga adalah Ihsan, dan ia hanya memiliki 1 rukun, yaitu: beribadah seakan-akan melihat Allah ﷻ, jika tidak mampu maka yakinlah bahwa Allah ﷻ sedang melihat (muraqabatullah).

Jika melihat pada tingkatan-tingkatan tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa rukun Islam berkaitan dengan amalan-amalan zahir, rukun iman berkaitan dengan amalan-amalan hati, adapun ihsan berkaitan dengan kondisi tatkala beribadah.

Berikut gambaran sederhana tentang Islam jika digambarkan layaknya sebuah pohon.

الْمَرْتَبَةُ الأُوْلَى: الإِسْلاَمُ

فَأَرْكَانُ الإِسْلامِ خَمْسَةٌ: شَهَادَةُ أَن لا اله إِلا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامُ الصَّلاةِ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ، وَحَجُّ بَيْتِ اللهِ الْحَرَامِ.

فَدَلِيلُ الشَّهَادَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ اله إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لاَ اله إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

وَمَعْنَاهَا: لا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إلا اللهُ، و(لا إله) نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللهِ، (إِلا اللهُ) مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ، كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ.

وَتَفْسِيرُهَا: الَّذِي يُوَضِّحُهَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَآء مِّمَّا تَعْبُدُونَ * إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ * وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ. وقَوْلُهُ تَعَالَى:  قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ. وَدِليلُ شَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: لَقَدْ جَآءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

وَمَعْنَى شَهَادَة أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ: طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، واجْتِنَابُ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ وأَلا يُعْبَدَ اللهُ إِلا بِمَا شَرَعَ.

وَدَلِيلُ الصَّلاةِ، وَالزَّكَاةِ، وَتَفْسِيرُ التَّوْحِيدِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ.

ودَلِيلُ الصِّيَامِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

ودَلِيلُ الْحَجِّ: قَوْلُهُ تَعَالَى: وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ.

Tingkatan pertama : Islam.

Rukun Islam ada lima: syahadatain, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah al-Haram.”

Dalil syahadat adalah firman Allah (yang artinya), ‘Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (QS. Ali ‘Imran :18)

Maknanya adalah (لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ اللَّهُ) “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”. Lafal (لَا إِلَهَ) menafikan seluruh yang disembah selain Allah dan lafal (إِلاَّ اللَّهُ) menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah kepada-Nya, begitu juga tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.

Makna syahadat (مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ) adalah:

[1] Menaati Nabi terhadap apa yang diperintahkannya.

[2] Membenarkan Nabi terhadap apa yang dikabarkannya.

[3] Menjauhi apa yang Nabi larang dan peringatkan.

[4] Allah tidak disembah kecuali dengan apa yang Nabi syariatkan.

Dalil salat, zakat, dan tafsir tauhid adalah firman Allah (yang artinya):

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dalil puasa adalah firman Allah (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Dalil haji adalah firman Allah (yang artinya):

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

Syarah:

Di sini, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan tentang rukun-rukun Islam dengan membawakan dalil-dalil pada setiap rukun.

Rukun pertama adalah syahadatain.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menafsirkan kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا الله  “Lailaha ilallah” dengan لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ اللَّهُ yang maknanya adalah “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”. Inilah tafsir yang benar berkaitan dengan kalimat “Lailaha ilallah”, sebab        إِلَهَ maksudnya adalah مَأْلُوْهَ yang artinya adalah مَعْبُوْدَ (yang disembah).

Tafsiran ini penting untuk dipahami oleh setiap muslim, sebab sebagian orang seperti halnya sebagian ulama Asya’irah menafsirkan لَا إِلَهَ إِلَّا الله  “Lailaha ilallah” dengan لَا قَادِرَ عَلَى الاِخْتِرَاعِ إِلَّا الله “Tidak ada yang mampu mencipta kecuali Allah ”.([3])

Makna dari tafsiran tersebut sebenarnya benar, namun bukan hakikat dari tafsir لَا إِلَهَ إِلَّا الله  “Lailaha ilallah”, sebab tafsiran tersebut hanya kembali pada sifat rububiyah Allah ﷻ semata, sedang لَا إِلَهَ إِلَّا الله  “Lailaha ilallah” berkaitan dengan ibadah yang berarti mengarah kepada sifat uluhiyah Allah ﷻ, yaitu tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah ﷻ.

Akibat kesalahan tafsiran tersebut, sebagian orang akhirnya menyangka bahwa selama seseorang tidak meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah ﷻ maka ia tidak berbuat syirik. Akhirnya, mereka pun membolehkan untuk mendatangi para dukun selama meyakini bahwa dukun tersebut hanya sebagai sebab. Begitu juga dengan memakai jimat, selama meyakini jimat tersebut hanya sebagai sebab dan Allah ﷻ lah mendatangkan keberkahan, maka tidak mengapa. Begitu juga dengan meminta kepada para penghuni kubur, menyembelih kepada selain Allah ﷻ, atau yang lainnya, maka hal tersebut tidak mengapa dan bukanlah syirik, sebab syirik adalah meyakini adanya 2 tuhan, atau syirik itu adalah murtad dengan masuk Nasrani, Yahudi, atau agama lainnya.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa tafsir لَا إِلَهَ إِلَّا الله “Lailaha ilallah” yang benar sebagaimana disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah firman Allah ﷻ,

﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ  (٢٦) إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ  (٢٧) وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’. Dan (lbrahim ‘alaihissalam) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Az-Zukhruf: 26-28)

Berdasarkan ayat ini, maka seakan-akan ayah dan kaum Nabi Ibrahim alaihissalam selain menyembah berhala-berhala, mereka pun juga menyembah Allah ﷻ. Karenanya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyatakan bahwasanya dirinya berlepas diri dari seluruh sesembahan-sesembahan yang disembah oleh ayah dan kaumnya kecuali Allah ﷻ.

Jadi, pernyataan Nabi Ibrahim alaihissalam pada ayat semakna dengan  لَا إِلَهَ إِلَّا الله yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah ﷻ.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga mendatangkan dalil yang lain yaitu firman Allah ﷻ,

﴿قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (QS. Ali ‘Imran: 64)

Sungguh hal yang menakjubkan, orang-orang liberal di dalam buku-buku mereka menyalahgunakan firman Allah ﷻ di atas mendukung pemikiran mereka yaitu seluruh agama adalah benar.

Mereka memotong ayat di atas, hanya menyebutkan firman Allah ﷻ,

﴿قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ﴾

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu’.” (QS. Ali ‘Imran: 64)

Tanpa menyempurnakan ayat secara lengkap.

Dengan ini, mereka pun akhirnya menyatakan bahwa kalimat yang sama di antara kita dengan agama-agama yang lain adalah keadilan, kebersamaan, kemanusiaan, akhlak karimah dan yang lainnya. Ini menunjukkan agama kita dengan agama-agama yang lain adalah sama, sebab ada titik temu di antara agama kita dengan agama-agama yang ada, lantas mengapa kita harus fokus pada titik perbedaan?([4])

Padahal jika mereka mau menyempurnakan ayat di atas tentu pemikiran dan keyakinan mereka akan runtuh berkeping-keping. Bagaimana tidak, kalimat sama di antara umat Islam dan para ahli kitab yang dimaksud pada ayat adalah tidak berbuat  kesyirikan,

﴿أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾

“Bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.”(QS. Ali ‘Imran: 64)

Tentu ini sangat berlawanan dengan apa yang diklaim oleh orang-orang liberal.

Sungguh menakjubkan, ayat yang pada asalnya untuk membantah kesyirikan, namun dibalik oleh orang-orang liberal untuk membenarkan kesyirikan.

Setelah menjelaskan syahadat yang pertama yaitu لَا إِلَهَ إِلَّا الله, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kemudian menjelaskan tentang syahadat yang kedua yaitu أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ “Sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah ”.

Sebelum menjelaskan, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendatangkan dalil dari Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pengutusan Nabi Muhammad ﷺ, yaitu firman Allah ﷻ,

﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ﴾

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasiha-n lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Adapun makna syahadat مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ, maka Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan 4 syarat yang barang siapa mewujudkan 4 syarat tersebut maka ia telah mewujudkan persaksian bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allah ﷻ. 4 syarat tersebut adalah:

  1. Menaati Nabi ﷺ terhadap apa yang diperintahkannya.

Jika datang perintah Nabi Muhammad ﷺ, maka hendaknya jangan meragukan perintah tersebut, atau bahkan sampai mengkritik dengan menyalah-nyalahkannya, sebab hal tersebut merupakan bentuk tidak bersaksi atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Konsekuensi dari persaksian bahwa Nabi Muhammad ﷺ utusan Allah adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ benar dan tidak akan salah, sebab apa yang Nabi Muhammad ﷺ sampaikan merupakan perintah dari Allah ﷻ. Allah ﷺ berfirman,

﴿وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ  (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ﴾

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4)

Jika perkaranya demikian, maka seharusnya kita taat serta menjalani apa yang diperintahkannya.

  1. Membenarkan Nabi ﷺ terhadap apa yang dikabarkannya.

Apa pun itu, baik berkaitan dengan hal-hal di dunia ataupun hal-hal di akhirat kelak. Baik itu tentang hal-hal yang telah lalu, saat ini, ataupun di masa depan.

  1. Menjauhi apa yang Nabi ﷺ larang dan peringatkan.

Apa pun yang dilarang oleh Nabi Muhammad ﷺ, hendaknya kita menjauhinya, walaupun itu bertentangan dengan hawa nafsu kita.

  1. Allah ﷻ tidak disembah kecuali dengan apa yang Nabi ﷺ

Jika saja kita boleh untuk beribadah dengan cara kita sendiri, lalu apa gunanya diutus Nabi Muhammad ﷺ kepada umat manusia? Allah ﷻ mengutus Nabi Muhammad ﷺ tentunya untuk mengajarkan manusia bagaimana cara beribadah kepada Allah ﷻ yang benar.

Rukun Islam yang berikutnya, kedua dan ketiga adalah mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dalil tentang dua rukun ini adalah firman Allah ﷻ,

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dalam ayat di atas, Allah menggandengkan tiga perkara penting sekaligus, yaitu tauhid, salat, dan zakat.

Selanjutnya rukun yang keempat adalah puasa. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ,

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”  (QS. Al-Baqarah: 183)

Selanjutnya rukun yang kelima adalah melaksanakan haji bagi yang mampu. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ,

﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ﴾

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata :

الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الإِيمَانُ

وَهُوَ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعْلاهَا قَوْلُ لا اله إِلا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الإِيمَانِ.

وَأَرْكَانُهُ سِتَّةٌ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، وَالدَّلِيلُ عَلَى هَذِهِ الأَرْكَانِ السِّتَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

ودليل القدر: قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Tingkatan kedua: iman

Iman memiliki 70 cabang lebih. Yang paling tinggi adalah ucapan ‘Lailaha ilallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah cabang dari iman.

Rukun iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman terhadap takdir yang baik maupun yang buruk.

Dalil mengenai rukun yang enam ini adalah firman Allah (yang artinya):

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah: 177]

Adapun dalil takdir adalah firman Allah (yang artinya),

“Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan takdir-takdir.” (QS. Al-Qamar: 49)”

            Syarah:

            Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah bahwasanya iman memiliki 6 rukun yaitu beriman kepada Allah ﷻ, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik maupun yang buruk.

Adapun dalil-dalil dari rukun iman tersebut, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendatangkan 2 dalil dari Al-Qur’an. Satu ayat mengandung 5 rukun, dan satu ayat yang lainnya mengandung 1 rukun. Dalil tersebut adalah firman Allah ﷻ,

﴿لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ﴾

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi,” (QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat ini mengandung 5 rukun iman yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul dan hari akhir.

Dalil berikutnya berkaitan dengan beriman kepada takdir, yaitu firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49)

Sebelumnya, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan bahwa iman memiliki 70 sekian cabang. Namun yang disebutkan hanya 3 macam saja. Pertama, cabang tertinggi yaitu kalimat “Lailaha illallah”. Kedua, cabang terendah yaitu menghilangkan gangguan dari jalan. Di sela-sela kedua cabang tersebut disebutkan bahwa malu merupakan bagian dari iman.

Kaidah yang dibuat oleh para ulama berkaitan dengan iman dan Islam, yaitu:

Iman jika disebutkan bersendirian secara khusus, maka makna dari iman tersebut mencakup makna Islam. Begitu pun jika Islam disebutkan bersendirian secara khusus, maka makna dari Islam tersebut mencakup makna iman. Adapun jika digabungkan antara iman dan Islam dalam satu konteks pembicaraan, maka makna dari keduanya berbeda yang mana iman lebih tinggi dari Islam, sebab iman berkaitan dengan amalan hati sedang Islam berkaitan dengan amalan zahir.

Berdasarkan kaidah di ini, maka seluruh isi dari pohon Islam yang telah kami gambarkan sebelumnya yang terdiri dari rukun iman, rukun Islam, dan yang lainnya, adalah bagian dari iman yang memiliki 70 sekian cabang.

Penyebutan bahwa iman memiliki 70 sekian cabang, bukan berarti maknanya adalah cabang iman hanya terbatas pada jumlah tersebut, sebab cabang iman atau amalan Islam lebih dari 70. Namun yang dimaksud dengan 70 sekian tersebut adalah iman atau amalan-amalan yang istimewa yang harus kita perhatikan, sehingga kita memiliki pohon keimanan yang sempurna.

 

الْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الإِحْسَانُ

رُكْنٌ وَاحِدٌ ، وهو :  أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِن لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:  إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. وقَوْلُهُ تَعَالَى:  وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ * الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ * إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وقَوْلُهُ تَعَالَى:  وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ.

وَالدَّلِيلُ مِنَ السُّنَّةِ: حَدِيثُ جِبْرِيلَ الْمَشْهُورُ: عَنْ عُمَرَ بنِ الْخَطَّابِ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ، شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، فَجَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلامِ فَقَالَ:  أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لا اله إِلا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَتُقِيمَ الصَّلاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ: أَخْبِرْنِي عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ:أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ: أَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: أَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ: مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا. قَالَ:  أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ. قَالَ: فَمَضَى، فَلَبِثْنَا مَلِيَّا، فَقَالَ:  يَا عُمَرُ أَتَدْرُونَ مَنِ السَّائِلِ؟. قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذَا جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ أَمْرَ دِينِكُم.

Tingkatan ketiga: ihsan.

Ihsan hanya memiliki satu rukun, yaitu: “Engkau menyembah Allah dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya): “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang muhsin.” (QS. An-Nahl: 128)

Dan juga firman Allah (yang artinya):

“Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-Syu’ara: 217-220)

Dan firman-Nya pula (yang artinya):

“Tidaklah kamu berada dalam suatu keadaan dan tidak pula membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan tidak pula kamu mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami melihatmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus: 61)

Dalil dari as-Sunnah adalah hadis Jibril yang terkenal dari Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah, tiba-tiba tampak di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Lalu dia duduk di hadapan Nabi dan menyandarkan lututnya pada lutut beliau serta meletakkan tangannya di atas paha beliau, selanjutnya dia berkata, ‘Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’ Beliau menjawab, ‘Islam itu Anda bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, Anda mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika Anda mampu melakukannya.’ Orang itu berkata, ‘Engkau benar.’ Kami pun heran, dia yang bertanya tetapi dia pula yang membenarkan. Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang Iman.’ Beliau menjawab, ‘Anda beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’ Dia berkata, ‘Engkau benar.’ Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan.’ Beliau menjawab, ‘Anda beribadah kepada Allah seakan-akan Anda melihat-Nya, jika Anda tidak melihatnya, sesungguhnya Dia melihat Anda.’ Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang Kiamat.’ Beliau menjawab, ‘Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.’ Selanjutnya orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.’ Beliau menjawab, ‘Jika budak perempuan telah melahirkan anak majikannya, jika Anda melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.’ Kemudian pergilah ia, aku diam beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?’ Saya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Ia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian.”

            Syarah:

Tingkatan yang ketiga adalah Ihsan. Makna ihsan adalah “Engkau menyembah Allah dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

            Mengapa disebutkan seolah-olah melihat Allah ﷻ? Karena Allah tidak akan bisa dilihat di dunia ini. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وأنَّكم لنْ تَرَوا ربَّكم حتى تَموتوا

“Dan sesungguhnya kalian tidak akan melihat Tuhan kalian sampai kalian mati.”([5])

Maksud dari seolah-olah melihat Allah ﷻ adalah menghadirkan keagungan Allah ﷻ, sehingga seakan-akan Allah ﷻ berada di hadapanmu dan seakan-akan engkau pun melihat-Nya.

Jika hal tersebut tidak bisa dilakukan, yaitu menghadirkan keagungan di hadapanmu, maka yakinlah bahwa Allah ﷻ sedang melihatmu.

Dalil tentang ihsan ini adalah firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl: 128)

Begitu juga firman Allah ﷻ,

﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ  (٢١٧) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ  (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ  (٢١٩) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Asy-Syu’ara: 220)

Begitu juga firman Allah ﷻ,

﴿وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِۚ﴾

“Tidaklah kamu berada dalam suatu keadaan dan tidak pula membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan tidak pula kamu mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami melihatmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus: 61)

            Dalil  terakhir yang disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah tentang ihsan adalah hadis Jibril ‘alaihissalam yang sangat populer.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Al Ushul Ats-Tsalatsah Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________
([1]) HR. Muslim No. 145.

([2]) HR. Muslim No. 8.

([3]) Lihat: Ushul ad-Din Li al-Baghdadi hal. 123

([4]) Lihat: Al-Qur’an Kitab Toleransi, Inklusivisme, Pluralisme, dan multikulturalisme hal. 14-15

([5]) HR. Abu Dawud No. 4320, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.