Mukadimah Al-Utsul Ats-Tsalatsah

الْمُقَدِّمَةُ

(MUKADIMAH)

Oleh DR. Firanda Andirha, Lc. MA.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ اعْلمْ رَحِمَكَ اللهُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا تَعَلُّمُ أَرْبَعِ مَسَائِلَ

(الأُولَى) الْعِلْمُ وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ، وَمَعْرِفَةُ نَبِيِّهِ، وَمَعْرِفَةُ دِيْنِ الْإِسْلَامِ بِالْأَدِلَّة.

(الثَّانِيَة) الْعَمَلُ بِهِ.

(الثَّالِثَة) الدَّعْوَةُ إِلَيْهِ.

(الرَّابِعَةُ) الصَّبْرُ عَلَى الأَذَى فِيهِ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ – إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ – إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

قال الشافعي رحمه اله تَعَالَى: لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السُّورَةَ لَكَفَتْهُمْ.

وَقَالَ البُخَارِيُّ رحمه الله تعالى (بَابُ) ” العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}

فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ القَوْلِ وَالعَمَلِ.

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ketahuilah semoga Allah merahmatimu sesungguhnya wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara:

Pertama adalah ilmu, yaitu mengenal Allah , mengenal nabi-Nya dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalinya.

Kedua adalah beramal dengan ilmu tersebut.

Ketiga adalah berdakwah kepada apa yang telah diilmuinya.

Keempat adalah bersabar dalam gangguan yang menimpa tatkala berdakwah di jalan Allah .

Adapun dalilnya adalah firman Allah ,

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, ‘Seandainya Allah tidak menurunkan bagi manusia satu argumentasi pun selain ayat ini, maka sudah cukup bagi mereka’.

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata, ‘Bab tentang ilmu sebelum berkata dan beramal’ dan dalilnya adalah firman Allah ,

“Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang patut untuk disembah kecuali Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Maka, Allah memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.”

Syarah

Buku yang ringkas ini mengajarkan kita untuk terbiasa dalam berdalil untuk membicarakan tentang permasalahan agama. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memulai perkataannya dengan mengucapkan,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Disunahkan bagi kita untuk mengucapkan basmalah pada saat membuat tulisan maupun bekerja. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ,

كُلُّ كَلَامٍ، أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ، فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap ucapan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan zikir, maka dia terputus.” ([1])

Dalam hal-hal yang penting Nabi Muhammad ﷺ selalu mengawali dengan ucapan basmalah. Sebagaimana juga Nabi Sulaiman ‘alaihissalam ketika menulis surat kepada ratu Bilqis,

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 30)

Begitu juga dengan Nabi Muhammad ﷺ setiap kali menulis surat yang ditujukan kepada para raja supaya masuk Islam, maka beliau selalu membuka dengan basmalah. Di antaranya beliau menulis surat kepada raja romawi. Ketika seorang utusan membawa surat tersebut kepada Heraklius, raja Romawi, maka dia mengambilnya dan membacanya,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ

“Dengan menyebut nama Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraklius raja Romawi.” ([2])

Selain itu, banyak dari para ulama yang membuka tulisan dan buku-buku dengan ucapan basmalah.

Ketika seseorang mengucapkan basmalah, maksudnya dia sedang mencari keberkahan dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sekaligus meminta pertolongan kepada Allah agar memudahkan urusannya.

Setelah itu Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata,

اعْلمْ رَحِمَكَ اللهُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا تَعَلُّمُ أَرْبَعِ مَسَائِلَ

“Ketahuilah semoga Allah merahmatimu sesungguhnya wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara.”

Sebelum menyampaikan apa yang hendak disampaikan, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendoakan kepada setiap orang yang membaca buku ini, ‘Semoga Allah merahmatimu’ bahwa sesungguhnya Allah ﷻ mewajibkan bagi kita untuk memperlajari empat perkara.

Empat perkara tersebut adalah: ilmu, amal, berdakwah dan sabar. Dalil dari semua perkara ini adalah firman Allah ﷻ,

وَالْعَصْرِ – إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ – إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Artinya semua orang mengalami kerugian, kecuali orang-orang beriman atau sama dengan orang-orang yang berilmu, yang beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran atau berdakwah, dan sabar. Inilah perkara-perkara yang sejatinya menjadi landasan bagi setiap muslim yang wajib untuk dipelajari.

1. (الْعِلْمُ) ‘Ilmu’.

Beliau menyebutkan bahwa ilmu mencakup tiga perkara, di antaranya adalah:

  1. (مَعْرِفَةُ اللهِ) mengenal Allah ﷻ
  2. (وَمَعْرِفَةُ نَبِيِّهِ) mengenal Nabi Muhammad ﷺ
  3. (وَمَعْرِفَةُ دِيْنِ الْإِسْلَامِ) mengenal agama Islam

(بِالْأَدِلَّة) ‘dengan dalil’, artinya untuk mengetahui segala ilmu tersebut harus dengan dalil.

Ilmu adalah ibadah yang sangat agung. Terlalu banyak dalil yang menjelaskan tentang agungnya ilmu, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana telah banyak dibahas oleh penulis dalam bab keutamaan ilmu.

Tatkala kita belajar, kita harus sadar bahwasanya menuntut ilmu itu ibadah. Sebagaimana ketika kita mengerjakan salat, maka hendaknya kita serius mengerjakannya, ketika kita membaca Al-Qur’an, maka hendaknya kita serius membacanya, ketika kita bersedekah, maka hendaknya kita serius dalam bersedekah dan juga ketika menuntut ilmu. Menuntut ilmu adalah ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”([3])

Setiap orang yang menuntut ilmu, sejatinya dia mencari sesuatu yang dicintai oleh Allah ﷻ, karena Allah ﷻ cinta dengan ilmu tersebut. Oleh karenanya, Allah ﷻ menggandengkan persaksian orang yang berilmu dengan persaksian Allah ﷻ, sebagaimana firman Allah ﷻ,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS. Ali ‘Imran: 18)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ menggandengkan persaksian ke-Esa-annya dengan malaikat dan para ulama. Allah ﷻ menjadikan persaksian para ulama sebagai hujah bagi Allah ﷻ untuk menyatakan bahwa Allah ﷻ Maha Esa. Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah diperintahkan untuk meminta tambahan, melainkan hanya tambahan ilmu. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Taha: 114)

Hal ini yang tercantum di dalam Al-Qur’an bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah diperintahkan untuk meminta tambahan, kecuali tambahan ilmu. Oleh karenanya, Ibnul Mubarak rahimahullah mengatakan,

وَلَا أَعْلَمُ بَعْدَ النُّبُوَّةِ دَرَجَةً أَفْضَل مِنْ بَثِّ الْعِلْمِ

“Aku tidak mengetahui ada satu perkara yang lebih baik kedudukannya setelah kenabian daripada menyebarkan ilmu.” ([4])

Ilmu apa yang dimaksud?

Ilmu dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Ilmu dunia. Ilmu ini dibagi menjadi tiga:
  • Fardu ‘ain dan kifayah.

Ilmu dunia termasuk hal yang penting. Karena kita tahu bahwa agama Islam bukan hanya berbicara tentang masalah syariat saja dan setiap orang butuh tentang ilmu kedokteran, politik, peperangan, persenjataan, teknologi, dan ilmu keduniaan lainnya, maka umat Islam juga butuh terhadap ilmu ini.

Jika ada orang yang ditunjuk oleh penguasa untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berat tersebut, maka hukumnya adalah fardu ‘ain. Jika telah cukup orang-orang yang mempelajarinya dan banyak orang yang mempelajarinya, maka hukumnya menjadi fardu kifayah.

  • Mubah, yaitu berupa ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat.
  • Haram, yaitu berupa ilmu-ilmu dunia yang diharamkan untuk mempelajarinya, seperti: ilmu judi, meramal dan yang semisalnya. Hukum mempelajari ilmu-ilmu ini adalah haram.
  1. Ilmu syariat (agama). Ilmu ini dibagi menjadi tiga:
  • Fardu ‘ain.

Ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah semua ilmu yang harus diketahui oleh seorang hamba dalam menjalankan aktivitas keagamaannya.

Al-Imam Ahmad berkata, وَيَجِبُ أَنْ يَطْلُبَ مِنْ الْعِلْمِ مَا يَقُومُ بِهِ دِينُهُ “Wajib baginya untuk menuntut ilmu yang dengannya ia bisa menjalankan agamanya”.

Maka dikatakan kepada beliau, فَكُلُّ الْعِلْمِ يَقُومُ بِهِ دِينُهُ “Semua ilmu tentu menegakkan agamanya ?”. Beliau berkata,  الْفَرْضُ الَّذِي يَجِبُ عَلَيْهِ فِي نَفْسِهِ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ طَلَبِهِ“Kewajiban yang wajib dirinya untuk melakukannya maka ia harus menuntut ilmunya”. Dikatakan kepada beliau, مِثْلُ أَيِّ شَيْءٍ “Seperti apa?”. Beliau berkata, الَّذِي لَا يَسَعُهُ جَهْلُهُ: صَلَاتُهُ، وَصِيَامُهُ “Yang tidak boleh ia tidak tahu, ilmu tentang sholatnya dan puasanya” ([5])

Contoh ilmu yang fardu áin adalah ilmu-ilmu dasar akidah, rukun-rukun Islam, dan lain sebagainya. Hukum mempelajari ilmu ini adalah fardu ‘ain. Kita harus mengetahui siapa Rabb kita yang harus kita ibadahi, kita harus tahu secara dasar siapa nabi yang kita teladani, kita harus tahu bagaimana ilmu salat, ilmu wudu ataupun ilmu berhaji. Secara umum, semua hal yang hendak kita lakukan, maka kita harus tahu ilmunya.

Sebagai contohnya adalah tentang seseorang yang hendak berdagang, maka dia harus mengetahui ilmu perdagangan terlebih dahulu. Manakah hal-halal yang dihalalkan di dalam perdagangan atau apa saja hal-hal yang diharamkan? Agar tidak terjerumus ke dalam riba atau larangan Allah ﷻ. Begitu juga dengan seseorang yang hendak menikah, maka dia harus mengetahui fikih nikah secara dasar. Seseorang yang hendak menjatuhkan cerai kepada istrinya, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu ilmu tentang perceraian.

Yang sangat menyedihkan bagi sebagian kaum muslimin tidak mengetahui sama sekali fikih cerai, bagaimana cara menjatuhkan cerai, kapan boleh menjatuhkan cerai, bagaimana hukum kelanjutan setelah perceraian dan bagaimana cara ruju’ dari perceraian. Padahal, dengan mudah mereka mengatakan kepada istri mereka, ‘Kamu saya cerai’.

Oleh karenanya, semua hal yang hendak kita kerjakan, maka kita harus mengetahui ilmunya. Inilah yang dimaksud dengan fardu ‘ain.

  • Fardu kifayah.

Ilmu-ilmu tertentu yang harus diketahui oleh sebagian orang. Contohnya adalah ilmu usul fikih, usul hadis, musthalah hadis, tafsir, dan di antaranya adalah bahasa Arab dan ilmu yang lainnya. Tidak semua orang mempelajari ilmu ini.

Ada juga sebagian orang yang wajib baginya untuk mempelajarinya, seperti contohnya adalah para ulama yang berfatwa dan wajib bagi mereka mempelajari ilmu-ilmu yang sifatnya fardu kifayah. Karena jika tidak mempelajarinya, maka mereka akan berfatwa tanpa ilmu dan menyesatkan. Karena mereka memiliki kebiasaan menjawab pertanyaan, maka wajib bagi mereka untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berat untuk memahaminya. Jika mereka tidak mempelajari ilmu-ilmu tersebut, maka tidak diperbolehkan bagi mereka memasuki ranah ini.

  • Sunah/Mustahab.

Ilmu-ilmu yang tidak wajib bagi seseorang, maka boleh untuk mempelajarinya. Contohnya adalah seseorang yang bukan mufti/ahli berfatwa tetapi hendak mempelajari ilmu usul fikih, maka dibolehkan baginya untuk mempelajarinya. Jika dia adalah seorang dokter dan hendak mempelajari bahasa Arab atau usul fikih atau usul hadis, maka diperbolehkan baginya untuk mempelajarinya. Adapun jika dia adalah seorang mufti, maka hukumnya adalah wajib.

Perihal dalil-dalil yang menjelaskan tentang pentingnya ilmu tersebut berkaitan dengan ilmu-ilmu syar’i, karena ilmu-ilmu itulah yang merupakan warisan para nabi. Para nabi tidak mewariskan ilmu teknologi, kedokteran atau ilmu dunia lainnya, tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu syar’i. Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, akan tetapi mewariskan ilmu.” ([6])

Ilmu inilah yang menjadikan seseorang bertakwa dan semakin mendekatkan kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir: 28)

Dengan demikian, tidak berarti setelah itu kita mengesampingkan ilmu dunia. Tidak, justru ilmu dunia menjadi bernilai jika diniatkan untuk Islam dan kaum muslimin. Tergantung niat dari orang yang mempelajarinya. Barangkali ilmu dunia terlihat sepele, akan tetapi jika seseorang mempelajari ilmu kedokteran atau pemerintahan untuk menerapkan kepentingan kaum muslimin, maka dia akan mendapatkan pahala. Hal ini karena Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” ([7])

Di antara contoh nyata yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah ﷻ pada hari kiamat kelak, di mana salah satu dari golongan tersebut adalah pemimpin yang adil. Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan tentang dunia berupa pemimpin yang adil. Seorang pemimpin yang adil, jika mampu masuk ke dalam pemerintahan dan memimpin dengan keadilan dan memberikan manfaat kepada orang banyak, maka dia akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah ﷻ.

Dari sini kita tahu bahwasanya di antara ilmu yang wajib adalah mengenal Allah , mengenal nabi dan mengenal agama Islam.

Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan (بَابُ العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ) ‘Bab ilmu itu sebelum berkata dan bertindak’. Perkataan ini terlihat sepele, tetapi sejatinya hal ini menjadi poin yang sangat penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kita harus belajar, jangan hanya memiliki hobi berkomentar atau memberikan kritikan kepada orang lain dan bertindak semaunya, jika kita tidak mempunyai ilmu. Allah ﷻ berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Isra’: 36)

Pada zaman sekarang, sebagian orang tidak hanya memiliki hobi berbicara pada masalah dunia atau politik saja, tetapi banyak dari mereka yang berbicara masalah agama sesuai dengan hawa nafsunya. Hendaknya setiap muslim memperhatikan ucapan dan tindakannya. Yang lebih penting dari itu adalah dia harus berilmu terlebih dahulu sebelum berucap dan berbuat.

  1. (الْعَمَلُ بِهِ) ‘mengamalkannya’.

Setelah seseorang memiliki ilmu, maka hendaknya dia mengamalkannya. Sejatinya ada dua kelompok yang tercela, yaitu:

  • (الضَّالَّيْن) ‘orang-orang yang tersesat’ yaitu orang-orang Nasrani, di mana mereka beramal tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi orang-orang yang tersesat.
  • (الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِم) ‘orang-orang yang dimurkai’ yaitu orang-orang Yahudi, di mana mereka berilmu tapi tidak beramal, sehingga mereka menjadi golongan yang dimurkai oleh Allah ﷻ.

Kedua kelompok ini adalah kelompok tercela. Oleh karenanya, barang siapa yang semangat beribadah tanpa ilmu, maka dia tidak jauh berbeda dengan orang-orang Nasrani. Saking semangatnya mereka beribadah, mereka menjanjikan diri mereka untuk tidak boleh menikah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

Barang siapa yang berilmu tanpa amal, maka dia tidak ada bedanya dengan orang-orang Yahudi. Karena jika seseorang mempunyai ilmu, kemudian tidak menerapkan dengan amalannya, maka sesungguhnya ilmu tersebut menjadi bumerang baginya. Rasulullah ﷺ bersabda,

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Al-Qur’an itu menjadi pembela bagimu atau akan memusuhimu. ” ([8])

Di dalam pandangan syariat Islam, barang siapa yang memiliki ilmu, maka dia harus mengamalkannya. Tidak boleh hanya sekedar memiliki ilmu, menambah wawasan, menambah catatan, pandai menulis ataupun pandai berbicara, tetapi tidak mengamalkan apa yang telah dia ilmui. Oleh karenanya, orang yang berilmu tanpa amal, sejatinya dia seperti orang-orang Yahudi, di mana mereka berilmu tanpa mengamalkannya.

  1. (الدَّعْوَةُ إِلَيْهِ) ‘mendakwahkannya’

Barang siapa yang telah mengamalkan ilmunya, maka hendaknya dia mendakwahkannya. Karena konsekuensi dari ilmu dan amal adalah mendakwahkan, agar orang lain pun tahu akan indahnya ilmu dan amal yang merupakan sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.” ([9])

Apakah semua orang harus menjadi ustaz agar bisa berdakwah? Jawabannya adalah tidak. Dakwah ada dua bentuk, yaitu:

  • Mengajak orang lain berbuat baik pada perkara-perkara dasar. Metode ini berlaku untuk semua orang.
  • Mengajar secara khusus layaknya seorang guru atau ustaz atau menjawab pertanyaan. Metode ini hanya berlaku khusus untuk orang yang berilmu.

Jangan sampai seseorang salah ranah dalam berdakwah. Sebagian orang baru mengetahui sedikit ilmu, lalu berdakwah, berdebat, berbicara secara detail mengenai suatu permasalahan, padahal dia tidak memiliki ilmu tentang hal itu. Hendaknya setiap orang mengetahui kapasitas dirinya, karena apa yang dia ucapkan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah ﷻ.

Yang menjadi masalah adalah banyaknya orang-orang awam yang berbicara layaknya ustaz. Contoh sederhananya ada seorang artis yang baru bertobat, boleh baginya berdakwah kepada orag lain pada perkara-perkara dasar, sebagai motivator misalnya. Seperti kita sebagai orang awam, boleh bagi kita mendakwahi teman-teman di kantor, keluarga kita di rumah ataupun tetangga dengan mengajak salat, menghadiri majelis ilmu, berbicara tentang tauhid atau keimanan, selama tidak memasuki ranah metode berdakwah yang khusus bagi orang yang berilmu.

Namun, sekarang banyak orang di dalam media sosial memasuki ranah berdakwah yang sejatinya khusus bagi orang yang berilmu saja. Banyak orang awam sudah berani berbicara masalah agama, mengomentarinya, membantah sana dan sini hingga tak berujung. Bahkan sebagian orang baru taubat sudah langsung berbicara layaknya seorang ustaz. Seharusnya ia belajar agama terlebih dahulu, mengkokohkan imannya, tidak tampil terlebih dahulu dan fokus untuk membenahi dirinya. Sebagian orang yang di masa jahilnya tenar maka tidak mesti ketika sadar dan bertaubat harus tenar pula. Dikawatirkan ia akan tersibukan dengan ketenarannya sehingga lupa untuk membenahi diri dan hatinya.

Intinya hendaknya setiap orang harus tahu diri bahwa kita boleh berdakwah berdasarkan ranah masing-masing.

  1. (الصَّبْرُ عَلَى الأَذَى فِيهِ) ‘bersabar’ atas gangguan ketika mendakwahkannya.

Hendaknya orang yang mendakwahkan ilmunya selalu bersabar dalam banyak hal, di antaranya:

  1. Sabar dalam menuntut ilmu

Tidak sembarang orang mampu menuntut ilmu, karena kebanyakan dari mereka tidak bersabar. Az-Zuhri rahimahullah berkata,

مَنْ رَامَ الْعِلْمَ جُمْلَةً، ذَهَبَ عَنْهُ جُمْلَةً فَإِنَّمَا يُؤْخَذُ الْعِلْمُ عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي

“Barang siapa yang berkeinginan memiliki ilmu sekaligus, maka ilmunya akan hilang sekaligus. Akan tetapi ilmu itu dicari dengan perjalanan berhari-hari dan bermalam-malam.”([10])

Tidak mungkin seseorang belajar semua ilmu dalam waktu singkat menguasai segala ilmu. Akan tetapi, dia harus mempelajarinya dengan sabar setiap hari dan setiap malam, sedikit demi sedikit. Seperti seseorang yang hendak berbicara masalah nikah, maka dia harus mulai mempelajarinya dari ilmu fikih pada bab pernikahan, lalu mempelajari syarat nikah, rukun nikah, mukadimah nikah dan tahap selanjutnya. Akan tetapi, kebanyakan orang terburu-buru berbicara membahas poligami dengan melewatkan bab pernikahan. Tentu saja, dalam hal ini mereka tidak memulai dengan tahapan yang benar. Allah ﷻ berfirman,

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tetapi, “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!.” (QS. Ali ‘Imran: 79)

رَبَّانِيِّينَ bermakna para yang  ulama yang mengajarkan ilmu-ilmu secara bertahap, mulai dari ilmu yang ringan hingga yang berat. Al-Bukhari berkata :

وَيُقَالُ: الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ العِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

“Dan dikatakan bahwa Ar-Robbani adalah yang mentarbiah masyarakat dengan ilmu-ilmu kecil sebelum ilmu-ilmu yang besar” ([11])

Yaitu yang mengajarkan ilmu kepada masyarakat بِالتَّدَرُّجِ “dengan bertahap” ([12])

Demikianlah cera menuntut ilmu yang benar, dengan bertahap. Oleh karenanya, ketika seseorang memiliki keingingan untuk menguasai ilmu secara keseluruhan dalam sekejap, maka ilmu yang dikuasainya juga akan hilang dalam sekejap pula. Jadi, menuntut ilmu itu membutuhkan kepada kesabaran. Jika ilmu bisa diraih tanpa kesabaran dan tanpa tahapan maka semua orang akan menjadi ulama. Namun, kita lihat ternyata jumlah para ulama tidaklah banyak. Kenapa? Karena tidak semua orang mampu untuk bersabar dalam menuntut ilmu.

Menuntut ilmu butuh kepada kesabaran, sabar dalam memahami pelajaran maupun sabar dalam bertanya terkait ilmu yang dipelajarinya. Semua ini merupakan ibadah. Setiap orang yang duduk selama satu atau dua jam untuk menuntut ilmu, maka sejatinya dia telah beribadah kepada Allah ﷻ. Dalil yang menjelaskan akan hal ini sangat banyak. Oleh karenanya, hendaknya setiap dari kita tahu dan menanamkan di dalam dirinya bahwa menuntut ilmu adalah ibadah.

Al-Imam Ahmad berkata :

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ

“Menuntut ilmu adalah amal ibadah terbaik bagi orang yang niatnya benar”.

Lalu ditanyakan kepada beliau, فَأَيُّ شَيْءٍ تَصْحِيحُ النِّيَّةِ “Bagaimana caranya membenarkan niat?”. Beliau berkata, يَنْوِي: يَتَوَاضَعُ فِيهِ، وَيَنْفِي عَنْهُ الْجَهْلَ “Ia meniatkan untuk tawadhu dalam ilmu dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya” ([13])

Menuntut ilmu tidak hanya untuk sekedar ketawa-ketiwi atau menghibur diri. Akan tetapi, menuntut ilmu adalah belajar. Untuk bertemu kepada Allah ﷻ, kita membutuhkan untuk mempelajari ilmu akidah. Hendaknya kita memiliki iman yang kokoh. Jika kita tidak belajar, maka iman kita tidak kokoh, sedangkan kita akan masuk surga berdasarkan iman yang kita miliki.

  • Sabar dalam beramal.

Barang siapa yang telah bersabar dalam menuntut ilmu, maka hendaknya dia bersabar dalam mengamalkan ilmunya. Perkara ini juga tidaklah mudah. Beramal saleh juga membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Sabar dalam menjalan salat, mengamalkan perkara yang sunah, membayar zakat, berbakti kepada kedua orang tua maupun meninggalkan maksiat. Secara teori, seseorang sangat mudah berbicara tentang sabar, tetapi ketika dihadapkan dalam suatu kondisi yang membuatnya emosi ternyata dia tidak mampu bersabar. Secara teori bisa mengetahuinya, tetapi tidak mampu mengamalkannya.

  • Sabar dalam berdakwah

Perkara ini juga tidak kalah pentingnya, karena jika seseorang telah menuntut ilmu dan mengamalkannya, lalu mendakwahkannya, maka sudah pasti dia akan menemui gangguan-gangguan dan rintangan. Orang yang berdakwah pasti akan diuji. Oleh karenanya, di antara nasihat Lukman al-Hakim kepada anaknya adalah sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman: 17)

Setelah Luqman menasehati anaknya untuk beramar makruf dan bernahi mungkar, yaitu berdakwah, maka setelah itu ia menasehati anaknya untuk bersabar. Hal ini karena sudah merupakan kelaziman bagi orang yang berdakwah maka ia akan diganggu.

Keempat perkara di atas (berilmu, mengamalkan, berdakwah, dan bersabdar) terkumpul di dalam surah Al-‘Ashr. Allah ﷻ berfirman,

وَالْعَصْرِ – إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ – إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Sesungguhnya seluruh manusia dalam kerugian. Para ulama menjelaskan bahwa kerugian meliputinya dari segala arah. Allah ﷻ tidak berkata “manusia rugi”, tetapi menyebutkan bahwa “manusia dalam kerugian”, yaitu seakan-akan manusia tenggelam dalam kerugian sehingga kerugian menerpanya dari segala arah dan sisi, baik dari depan, belakang, atas maupun bawah, manusia terhimpit dalam kerugian([14]).

Siapakah yang selamat dari kerugian yang meliputi dari segala sisi? Mereka adalah:

  • Orang-orang yang beriman. Beriman melazimkan ilmu. Tidak mungkin seseorang beriman tanpa ilmu.
  • Beramal saleh.
  • Saling berwasiat dalam kebenaran/berdakwah dan mengingatkan kepada sesama
  • Bersabar

Oleh karenanya, Abu Madinah ad-Darimi berkata,

كَانَ الرَّجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا التَقَيَا، ثُمَّ أَرَادَا أَنْ يَفْتَرِقَا، قَرَأَ أَحَدُهُمَا: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ حَتَّى يَخْتِمَهَا، ثُمَّ يُسَلِّمُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ

“Dahulu jika dua orang sahabat Nabi Muhammad saling bertemu, kemudian hendak berpisah, maka salah saru dari keduanya membaca surah Al-‘Ashr hingga akhir surah, kemudian salah satu dari keduanya saling mengucapkan salam kepada yang lainnya.” ([15])

Inilah surah yang sangat agung, di mana iman Asy-Syafi’i berkata,

لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السُّورَةَ لَكَفَتْهُمْ

“Seandainya Allah tidak menurunkan bagi manusia satu argumentasi pun selain ayat ini, maka sudah cukup bagi mereka.”

Ayat ini sebagai peringatan bagi kita dalam menjalani kehidupan bahwa kita akan menghadapi hari akhirat. Allah ﷻ memberikan peringatan bahwa semua manusia akan menuai kerugian kecuali orang yang beriman yang didapatkan dengan ilmu, beramal, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

اعْلَمْ رَحِمَكَ اللهُ أَنَّه يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ، تَعَلُّمُ هَذِهِ المَسَائِل الثَّلاثِ، والْعَمَلُ بِهِنَّ

“Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu– bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah mempelajari pula tiga hal berikut ini dan mengamalkannya.

الأُولَى: أَنَّ اللهَ خَلَقَنَا، وَرَزَقَنَا، وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلًا، بَلْ أَرْسَلَ إِلَيْنَا رَسُولًا، فَمَنْ أَطَاعَهُ دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَاهُ دَخَلَ النَّارَ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: (إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا، فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا)

“Pertama: Allah-lah yang menciptakan dan memberi rezki kepada kita dan tidak membiarkan kita terlantar, tetapi mengutus seorang rasul kepada kita. Barang siapa yang menaatinya, akan masuk surga, dan barang siapa yang menentangnya, akan masuk neraka. Dalilnya adalah firman Allah :

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu seorang rasul sebagai saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Firaun, lalu Firaun menentangnya, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat.”  (QS. Al-Muzammil : 15-16)

الثَّانِيَةُ: أَنَّ الله لا يَرْضَى أَنْ يُشْرَكَ مَعَهُ أَحَدٌ فِي عِبَادَتِهِ، لا مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾

“kedua: Sesungguhnya Allah tidak rida disekutukan dengan siapa pun dalam beribadah kepada-Nya, tidak dengan malaikat yang didekatkan dan tidak pula dengan Nabi yang diutus. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ,

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jinn: 18)

الثَّالِثَةُ: أَنَّ مَنْ أَطَاعَ الرَّسُولَ، وَوَحَّدَ اللهَ لا يَجُوزُ لَهُ مُوَالاةُ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانَ أَقْرَبَ قَرِيبٍ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ [المجادلة: 22].

Ketiga: Barang siapa yang menaati Rasul dan mentauhidkan Allah, maka tidak boleh baginya untuk berwala’ (loyal) kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah kerabat dekatnya. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ:

 “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.”  (QS. Al-Mujadilah: 22)

Syarah

Penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah) menyatakan bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari 3 permasalahan dan wajib untuk mengamalkannya.

Pertama : Tuhan itu ada, menciptakan kita, dan tidak membiarkan kita begitu saja, akan tetapi mengutus Rasulullah g, sehingga wajib bagi kita untuk taat kepada Rasulullah g

Kedua : Bahwasanya Allah tidak rido dengan kesyirikan.

Ketiga : Wajibnya tidak boleh bermuawalat (loyal) kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan RasulNya.

Kita hidup di zaman di mana banyak pemikiran sesat terkait eksistensi Tuhan semakin bermunculan dan menyebar. Padahal adanya sang pencipta merupakan fitrah yang ada pada setiap manusia. Banyak dalil yang menunjukkan akan keberadaan sang pencipta bagi seseorang yang masih lurus fitrahnya.

Jika ada seorang anak kecil terdorong lantas kita sampaikan kepadanya bahwa dia terdorong tiba-tiba tanpa sebab, tentu anak kecil itu tidak akan terima. Demikian juga jika kita katakan bahwa seluruh baju terjadi dengan tiba-tiba terjahit tanpa ada yang menjahitnya tentu adalah perkara yang mustahil. Apalagi dengan alam semesta ini yang berjalan dengan teratur, apakah tidak ada yang menciptakannya?

Abu Hanifah pernah berdebat dengan para Ateis yang mengingkari eksistensi Sang Pencipta. Beliau berkata kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian, jika ada sebuah kapal diberi muatan barang-barang, penuh dengan barang-barang dan beban. Kapal tersebut mengarungi samudera. Gelombangnya kecil, anginnya tenang. Akan tetapi setelah kapal sampai di tengah tiba-tiba terjadi badai besar. Anehnya kapal terus berlayar dengan tenang sehingga tiba di tujuan sesuai rencana tanpa guncangan dan berbelok arah, padahal tak ada nakhoda yang mengemudikan dan mengendalikan jalannya kapal. Masuk akalkah cerita ini?” Mereka berkata, “Tidak mungkin. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal, bahkan oleh khayal sekalipun, wahai Syekh.” Lalu Abu Hanifah berkata, “Subhanallah, kalian mengingkari adanya kapal yang berlayar sendiri tanpa pengemudi, namun kalian mengakui bahwa alam semesta yang terdiri dari lautan yang membentang, langit yang penuh bintang, dan benda-benda langit serta burung yang beterbangan tanpa adanya Pencipta yang sempurna penciptaan-Nya dan mengaturnya dengan cermat?! Celakalah kalian, lantas apa yang membuat kalian ingkar kepada Allah?”([16])

Mengatakan bahwa semuanya terjadi dengan sendirinya adalah jawaban yang tidak masuk akal. Tidak mungkin segala sesuatu tersusun dengan rapi melainkan telah ada yang mengaturnya. Orang ateis sendiri  terkadang fitrahnya masih menyadari akan keberadaan Tuhan yang menciptakan alam semesta. Dalam kondisi terdesak dan genting maka fitrah orang ateis akan mencari Tuhan untuk menyelamatkannya, ia membutuhkan sandaran yang kuat untuk menyelamatkannya. Suatu pepatah asing mengatakan “No atheists in foxholes” yang artinya “Tidak ada atheis di dalam lobang perlindungan perang”([17]). Yaitu jika dalam kondisi genting sedang berlindung di dalam lobang perlindungan maka semua prajurit perang akan ingat dan meminta pertolongan kepada Tuhan.

Penulis pernah diceritakan oleh salah seorang teman yang ia juga berteman dengan orang-orang ateis, tatkala mereka pergi bersama-sama untuk memancing di salah satu tempat yang ada di pulau Bali, tiba-tiba datang ombak yang besar, seketika itu pula orang ateis tersebut berdoa kepada Tuhan seolah-olah fitrahnya muncul untuk mencari kekuatan terbesar yang mampu mengatur jalannya ombak tersebut. Ternyata pada saat kondisi genting fitrahnya mengalahkan keateisannya.

Selain menciptakan, Allah ﷻ juga yang senantiasa memberikan rezeki kepada para makhluk-Nya. Allah ﷻ tidak membiarkan kita begitu saja. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pemahaman orang-orang ateis yang sebagian mereka mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Mereka meyakini bahwa Tuhan ada namun Tuhan sudah mati. Sebagian yang lain mengatakan bahwa Tuhan masih ada namun setelah selesai menciptakan Dia tinggalkan ciptaan-Nya begitu saja. seperti orang yang menciptakan sebuah jam kemudian setelah selesai dan jam tersebut sudah aktif maka ia tinggalkan jam tersebut.

Tentu saja paham seperti ini adalah paham yang sangat keliru karena Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan tujuan. Allah ﷻ berfirman tentang orang-orang yang cerdas serta menggunakan akalnya untuk merenungkan kebesaran Allah ﷻ ,

﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ﴾

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah:164)

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا 6لَا تُرْجَعُونَ، فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ﴾

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al Mu’minun: 115-116)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ menyebutkan,

﴿أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى، أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَىٰ، ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ، فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰ، أَلَيْسَ ذَٰلِكَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ﴾

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (QS. Al Qiyamah: 36-40)

Tentu saja tidak mungkin tahapan-tahapan yang sangat detail ini tercipta begitu saja tanpa adanya sang pencipta. Tidak mungkin pula ciptaan yang sangat sempurna ini dibiarkan begitu saja oleh sang pencipta tanpa adanya aturan yang mengatur mereka. Oleh karenanya, sebagaimana yang dikatakan oleh syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah,

وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلًا، بَلْ أَرْسَلَ إِلَيْنَا رَسُولًا

“Dan Allah tidak membiarkan kita terlantar, tetapi mengutus seorang rasul kepada kita”

Dalam hal ini Allah ﷻ pernah berfirman dalam hadis Qudsi,

إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لِأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ بِكَ

“Sesungguhnya aku mengutusmu untuk mengujimu dan menjadikanmu bahan ujian bagi manusia”([18])

Allah ﷻ mengutus seorang rasul dengan beberapa tugas, di antaranya:

  • Mengenalkan sifat-sifat Allah ﷻ
  • Menjelaskan apa yang dicintai Allah ﷻ agar dijalankan dan menjelaskan yang dibenci agar ditinggalkan
  • Mengingatkan akan adanya hari pembalasan

Sesungguhnya kebutuhan kita terhadap seorang rasul merupakan kebutuhan primer untuk menjalani kehidupan ini. Hal ini dikarenakan para makhluk tidak mengetahui mana aturan yang baik bagi mereka. Lihatlah sekarang ketika manusia saling berlomba-lomba untuk membuat aturan-aturan yang dinilai baik namun tetap saja banyak yang tidak setuju kemudian di demo dan diganti, dan yang demikian ini terus berlanjut tanpa ada standar yang pasti. Maka adanya seorang rasul yang membawa aturan yang datang dari sang pencipta (yang tahu mana yang baik dan mana yang  buruk bagi ciptaan-Nya) dan merupakan aturan yang terus berlaku hingga hari kiamat kelak merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata,

فَمَنْ أَطَاعَهُ دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَاهُ دَخَلَ النَّارَ

“Barang siapa yang menaatinya, akan masuk surga, dan barang siapa yang menentangnya, akan masuk neraka”

Di sini beliau menjelaskan bahwa mereka diuji dengan datangnya rasul tersebut. Barang siapa yang taat kepadanya maka akan selamat dan dimasukkan ke dalam surga dan barang siapa yang membangkang maka akan dimasukkan ke dalam neraka.

Kemudian beliau membawakan dalil atas pernyataan tersebut,

﴿إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا، فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا﴾

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu seorang rasul sebagai saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Firaun, lalu Firaun menentangnya, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat.”  (QS. Al-Muzammil : 15-16)

Melalui ayat ini beliau ingin menjelaskan bahwasanya Allah ﷻ pernah mengingatkan orang-orang musyrikin Arab bahwa diutusnya Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sesuatu yang baru karena Allah ﷻ dahulu juga pernah mengutus Nabi Musa kepada Firaun.  Barang siapa yang membangkang kepada Nabi yang telah di utus oleh Allah ﷻ maka akan berakhir seperti Firaun yang dahulu membangkang kepada Nabi Musa alaihissalam. Dalam hal ini Allah ﷻ menyebutkan bahwa Firaun akan mendapatkan “siksaan yang berat” sebagaimana penjelasan para ulama bahwa Firaun mendapatkan siksaan di segala alam di dunia, di barzakh dan di akhirat. Di dunia ia di tenggelamkan di laut merah, di alam barzakh sebagaimana di jelaskan oleh Allah ﷻ dalam surah Ghafir bahwa Firaun dan bala tentaranya dipaparkan kepada mereka panasnya api neraka.

﴿النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا﴾

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”. (QS. Ghafir: 46)

Adapun di alam akhirat maka ia akan mendapatkan azab yang sangat keras. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ﴾

“Dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. (QS. Ghafir: 46)

Oleh karenanya hendaknya seseorang tidak berspekulasi dalam hidupnya kemudian memilih untuk tidak taat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kehidupan hanya sekali dengan tidak taat kepada beliau bisa jadi seseorang akan sengsara kehidupan di dunia, alam barzakh dan kehidupannya kelak di akhirat seperti yang di alami oleh Firaun dan bala tentaranya yang membangkang kepada Nabi Musa alaihissalam.

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab berkata :

الثَّانِيَةُ: أَنَّ الله لا يَرْضَى أَنْ يُشْرَكَ مَعَهُ أَحَدٌ فِي عِبَادَتِهِ، لا مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾

“kedua: Sesungguhnya Allah tidak rida disekutukan dengan siapa pun dalam beribadah kepada-Nya, tidak dengan malaikat yang didekatkan dan tidak pula dengan Nabi yang diutus. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ,

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jinn: 18)

Syarah

Pada poin yang kedua ini beliau ingin menjelaskan tentang bahaya syirik. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad ﷺ selain datang dengan menjelaskan tentang sifat-sifat Allah, menjelaskan apa yang dicintai Allah ﷻ agar dijalankan dan menjelaskan yang dibenci agar ditinggalkan serta mengingatkan akan adanya hari pembalasan, beliau juga memerintahkan kita untuk mentauhidkan Allah ﷻ. Karena Allah ﷻ lah yang semata-mata menciptakan kita dan memberikan rezeki kepada kita maka Dia adalah satu-satunya Dzat yang wajib untuk diibadahi.

Dari sini kita tahu bahwasanya di antara bahaya perbuatan syirik adalah :

Pertama: Syirik merupakan dosa besar, bahkan dosa yang paling besar. Karena dengan syirik seseorang telah menjatuhkan hak utama Allah ﷻ yaitu bertauhid kepada-Nya. Belum tentu seorang yang berzina, merampok ataupun durhaka dengan kedua orang tuanya serta merta akan disiksa oleh Allah ﷻ, bisa jadi Allah ampuni mereka karena status mereka sebagai seorang muslim atau bisa jadi mereka akan di azab di neraka karena perbuatan mereka, namun azab tersebut tidaklah kekal. Bisa jadi di azab dalam waktu yang sangat lama namun azab tersebut tidaklah kekal. Berbeda dengan orang yang berbuat syirik kepada Allah ﷻ maka jika dia wafat dalam kondisi tidak bertobat atas kesyirikan tersebut maka dia adalah orang yang akan kekal disiksa di dalam neraka. Hal ini dikarenakan dosa-dosa selain syirik semuanya masih berkaitan dengan hak manusia, adapun syirik maka berkaitan dengan hak Allah ﷻ. Dia yang telah menciptakan seseorang dari tidak ada menjadi ada, menghidupkannya serta memberikan rezeki kepadanya lantas ia beribadah kepada makhluk yang sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ maka tentu ini perbuatan merupakan dosa dan kezaliman yang paling besar. Oleh karenanya Rasulullah ﷺ  ketika ditanya,

أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ؟

“Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?”

قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

Rasulullah ﷺ menjawab, “Kamu membuat tandingan bagi Allah (syirik), sedangkan Dialah yang menciptakanmu.”([19])

Jika seandainya seseorang diciptakan oleh Allah dan seorang Nabi maka dipersilahkan baginya untuk menyembah Nabi tersebut. Namun, perkaranya tidaklah demikian. Faktanya Allah ﷻ sendirianlah yang telah menciptakannya dan memberikan rezeki kepadanya, maka beribadah kepada selain-Nya adalah kezaliman yang paling besar.

Hendaknya seseorang melihat besarnya dosa dari kacamata syariat. Saat ini kita banyak dapati orang-orang yang meminta kepada kuburan, namun banyak dari kita yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Berbeda ketika kita mendapati orang yang sedang berzina atau merampok maka kita akan langsung naik pitam. Ini merupakan perkara yang harus diluruskan, seseorang yang marah ketika melihat orang lain berzina atau merampok seharusnya ia lebih marah lagi ketika mendapati orang-orang berbuat kesyirikan dengan meminta-minta kepada kuburan atau pergi ke dukun misalnya.

Contoh sederhananya, ketika seorang anak kecil dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Sejak berada di dalam kandungan selalu diperhatikan. Kemudian lahir terus menerus diperhatikan dan dirawat dengan baik. Diberikan pendidikan yang layak dan dibiayai hingga tumbuh menjadi seorang yang sudah dewasa. Akan tetapi ketika telah dewasa ia justru memberikan baktinya kepada orang lain yang tak pernah memberikan kepadanya apa pun, atau berbakti kepada kedua orang tuanya dan juga berbakti kepada orang lain, maka tentu hal ini  akan membuat kedua orang tuanya marah. Lantas bagaimana dengan Allah ﷻ yang telah menciptakannya dari tidak ada menjadi ada, menghidupkannya serta memberikan rezeki kepadanya namun ia justru menyekutukan-Nya atau beribadah kepada selain-Nya maka ini merupakan perkara yang tentunya menjadikan Allah murka kepadanya dan menilainya sebagai dosa yang paling besar disisi-Nya.

Kedua: Seorang yang meninggal dalam keadaan syirik tidak akan diampuni selama-lamanya. Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisa”:48)

Rasulullah ﷺ  juga bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ وَهْوَ لَا يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang mati, sedangkan dia menyeru selain Allah sebagai tandingannya maka dia masuk neraka. Sedangkan aku berkata; ‘Barang siapa yang mati dan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia masuk surga.”([20])

Adapun orang-orang yang berbuat dosa-dosa selain syirik maka bisa jadi mendapatkan ampunan dari sisi Allah ﷻ atau disiksa di neraka namun tidak akan kekal selama-lamanya di dalamnya. Ada saatnya mereka akan dikeluarkan dari neraka. Oleh karenanya ada orang-orang yang dikenal sebagai ‘Jahannamiyun’ yaitu orang-orang yang pernah di azab di neraka Jahanam, di leher-leher neraka terdapat tanda yang dikenali oleh penduduk surga bahwasanya mereka adalah alumni neraka Jahanam.([21])  Adapun orang-orang yang berbuat kesyirikan dan mati di atas kesyirikan maka ia akan kekal di neraka Jahanam selama-lamanya.

Ketiga: Seseorang yang melakukan kesyirikan maka akan gugur seluruh amalannya. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az Zumar: 65)

Secara umum orang yang berbuat dosa-dosa selain syirik, maka tentu ia telah berdosa, namun dosa-dosa tersebut tidaklah menggugurkan amalan-amalan kebajikan yang pernah ia lakukan. Dosa-dosa tersebut masuk dalam timbangan amal keburukan namun tidak mempengaruhi amalan-amalan kebaikan yang pernah ia lakukan. Berbeda dengan perbuatan syirik akbar, seseorang yang telah beribadah selama 60 tahun akan gugur seluruh amalannya ketika di penghujung hayatnya dia berdoa kepada selain Allah ﷻ . seluruh amalannya selama 60 tahun tersebut gugur semua dalam waktu kurang dari 5 menit.

Oleh karenanya Allah tidak rida untuk disekutukan dengan sesuatu apapun dalam peribadatan kepada-Nya. Tidak dengan malaikat yang didekatkan dan tidak pula dengan Nabi yang diutus. Tidak boleh bagi seseorang untuk berdoa kepada malaikat, misalnya, seseorang ingin agar hujan turun lantas ia berdoa kepada malaikat Mikail agar menurunkan hujan. Malaikat yang jelas-jelas diperintahkan oleh Allah untuk menurunkan hujan saja tidak boleh kita berdoa kepadanya lantas bagaimana dengan yang meminta turunnya hujan kepada makhluk-makhluk yang derajatnya tidak seperti malaikat atau meminta kepada para penghuni kubur agar memberikan pertolongan dan menurunkan hujan. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sufi dan disebutkan dalam kitab mereka Jawahir al-Ma’ani, di mana mereka berkeyakinan bahwa Abdul Qadir Jaelani diberikan “Kun” oleh Allah ﷻ . Apa saja yang beliau kehendaki maka bisa terwujud hanya dengan mengatakan ‘kun’ saja([22]). Tentu saja keyakinan ini merupakan syirik akbar yang dapat menggugurkan seluruh amalan orang yang melakukannya.

Hal ini hendaknya semakin menjadikan kita bersyukur, bahwa di luar sana banyak orang-orang yang siang dan malam berdoa kepada Nabi Isa alaihissalam. Padahal beliau adalah seorang manusia dan beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴾

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali Imran:59)

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَۗ انظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ﴾

Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (QS. Al Ma’idah: 75)

Intinya Allah tidak rida siapa pun disekutukan dengan Allah ﷻ. Jika para malaikat yang dekat dengan Allah ﷻ dan para Nabi tidak diperkenankan bagi seseorang untuk menjadikan mereka sekutu dengan Allah ﷻ maka bagaimana dengan para wali-wali atau mayat-mayat yang ada di dalam kuburan yang mungkin tidak jelas asal-usul dan status mayat tersebut?

Dalam hal ini Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berdalil dengan firman Allah ﷻ,

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jinn: 18)

Dari ayat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwasanya hakikat syirik adalah ‘menyekutukan’ berarti beribadah kepada Allah ﷻ dan beribadah juga kepada selain Allah ﷻ. Jangan sampai kita berpikir bahwa orang muysrik tidak beribadah kepada Allah, justru dinamakan musyrik karena dia telah menjadikan selain Allah sebagai syarikat/sekutu dalam peribadatan kepada Allah ﷻ.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

الثَّالِثَةُ: أَنَّ مَنْ أَطَاعَ الرَّسُولَ، وَوَحَّدَ اللهَ لا يَجُوزُ لَهُ مُوَالاةُ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانَ أَقْرَبَ قَرِيبٍ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴾ [المجادلة: 22].

Ketiga: Barang siapa yang menaati Rasul dan mentauhidkan Allah, maka tidak boleh baginya untuk berwala’ (loyal) kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah kerabat dekatnya. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ:

 “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.”  (QS. Al-Mujadilah: 22)

Syarah

Di sini syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan tentang konsekuensi dari tauhid (tidak syirik), di antaranya bahwa orang-orang yang beriman dan bertauhid maka ia tidak akan mencintai musuh-musuh Allah ﷻ. Penjelasan tentang ini terdapat pada beberapa tempat dalam Al-Qur’an di antaranya firman Allah ﷻ,

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَن تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِيۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Mumtahanah: 1)

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿۞يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ma’idah: 51)

Dalam ayat yang lain Allah mengisahkan sikap Nabi Ibrahim yang berlepas diri dari ayahnya dan kaumnya yang senantiasa berbuat syirik kepada Allah. Allah ﷻ berfirman,

﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُۙ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ﴾

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (QS. Al Mumtahanah: 4)

Tidak mungkin seorang yang bertauhid bercinta kasih dengan orang musyrik yang mana mereka merupakan musuh Allah ﷻ dan Rasulnya. Secara akidah (keyakinan hati) hal ini di larang dalam agama. Adapun secara muamalah maka kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka selama mereka tidak memusuhi agama kita. Allah ﷻ berfirman,

﴿لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah:8)

Secara keyakinan hati kita tahu bahwa mereka adalah musuh Allah ﷻ dan Rasul-Nya dengan kesyirikan dan kekufuran yang mereka lakukan. Ini merupakan konsekuensi tauhid seseorang bahwa tidak boleh baginya untuk loyal terhadap musuh-musuh Allah ﷻ. Adapun selama mereka bukan orang yang memerangi kita karena agama, maka syariat memerintahkan kita untuk berbuat baik dan adil kepada mereka.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

اعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ

“Ketahuilah semoga Allah membimbingmu untuk menaati-Nya.”

أَنَّ الْحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ، مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

 “Bahwa agama Ibrahim yang hanif adalah engkau menyembah Allah semata dan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”

وَبِذَلِكَ أَمَرَ اللهُ جَمِيْعَ النَّاسِ وَخَلَقَهُمْ لَهَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾، وَمَعْنَى يَعْبُدُوْنَ : يُوَحِّدُوْنِ

Dan dengan itulah Allah memerintahkan seluruh manusia, dan Allah menciptakan mereka untuk itu, sebagaimana firmanNya “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (QS Adz-Dzariyaat : 56).

Dan makna “untuk beribadah kepadaku” adalah “untuk mentauhidkanKu”

وَأَعْظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوْحيِدُ وَهُوَ: إِفْرَادُ اللهِ بِالْعِبَادَةِ.

“Hal teragung yang diperintahkan Allah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah”

وَأَعْظَمُ مَا نَهَى عَنْه الشِّركُ، وَهُوَ: دَعْوَةُ غَيْرِهِ مَعَهُ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا﴾

“Sementara hal yang sangat dilarang-Nya adalah kesyirikan, yaitu beribadah kepada selain Allah bersama Allah. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), ‘Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun’. (QS. An-Nisa: 35)”

فَإِذَا قِيلَ لَكَ: مَا الأُصُولُ الثَّلاثَةُ التِي يَجِبُ عَلَى الإِنْسَانِ مَعْرِفَتُهَا؟ فَقُلْ: مَعْرِفَةُ الْعَبْدِ رَبَّهُ، وَدِينَهُ، وَنَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Apabila ditanyakan kepadamu, ‘Apa al-ushul as-tsalatsah (tiga hal mendasar) yang wajib diketahui oleh tiap-tiap muslim?’ Maka, jawablah, ‘Seorang hamba mengenal Tuhannya, agamanya, dan Nabinya Muhammad ’.”

Syarah:

اعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ

“Ketahuilah semoga Allah membimbingmu untuk menaati-Nya.”

Sebagaimana penjelasan yang telah berlalu, hal ini merupakan bentuk doa syekh Muhammad bin Abdul Wahab kepada para pembaca risalah ini.

Hal yang seperti ini merupakan suatu hal yang biasa bagi orang-orang Arab, bahkan hingga saat ini kebiasaan ini pun masih terus berlangsung. Ucapan doa dari orang tua kepada anak, atau sebaliknya anak kepada orang tua, atau kepada siapa saja baik kerabat ataupun kawan, doa-doa begitu deras mengalir di lisan-lisan mereka saat berjumpa. Begitu pun juga saat menulis surat atau pun pesan-pesan singkat, mereka selalu menyertakan doa-doa.

Kebiasaan seperti ini tidak terjadi di negara kita ini, di mana kebanyakan dari kita merasa canggung untuk mendoakan orang-orang di sekitar kita saat bertemu. Karenanya, kebiasaan orang-orang Arab ini merupakan kebiasaan islami yang sangat baik, sepatutnya kita mencontohi kebiasaan baik tersebut.

أَنَّ الْحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ، مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

 “Bahwa agama Ibrahim yang hanif adalah engkau menyembah Allah semata dan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”  

Syarah:

Di sini, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan tentang hakikat millah (agama) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, di mana beliau menyebutkannya sebagai agama الْحَنِيفِيَّةَ  (al-hanifiyyah).

Al-Hanafiyaah secara bahasa berasal dari kata أَحْنَفُ (ahnaf) yang maknanya adalah condong. Orang-orang Arab dahulu menyebut orang yang mengalami kaki O (dimana kedua lutut saling menjauh sementara kedua kaki miring condong ke dalam) dengan ahnaf karena kedua kaki orang tersebut miring ke dalam. Sehingga, maksud dari agama الْحَنِيفِيَّةَ (al-hanifiyyah) adalah agama yang condong kepada tauhid dan jauh kepada kesyirikan, tidak bermakna hanya sekadar lurus saja sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan Nabi yang spesial.  Di antara hal yang menunjukkan hal itu adalah:

  1. Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah ﷻ berfirman,

﴿ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًاۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif’ dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An-Nahl: 123)

Jika ada yang mempertanyakan, bukankah Nabi Muhammad ﷺ lebih afdal dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam? Kita katakan, benar Nabi Muhammad ﷺ lebih afdal dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun, secara sejarah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lebih dahulu dari Nabi Muhammad ﷺ. Bahkan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kakek Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Allah ﷻ juga memerintahkan kita untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah ﷻ berfirman,

﴿ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًاۖ ﴾

“Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran: 95)

  1. Nabi yang pertama kali diberi gelar “Khalilurrahman” (kekasih Allah). Allah ﷻ berfirman,

﴿وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا﴾

“Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa: 125)

Setelah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, selanjutnya yang mendapatkan gelar ini adalah Nabi Muhammad ﷺ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إنَّ اللَّهَ اتَّخذَني خليلًا كما اتَّخذَ إبراهيمَ خليلًا

“Allah telah memilihku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim juga kekasih-Nya.”([23])

  1. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah satu-satunya manusia yang bertauhid tatkala itu.

Tatkala seluruh manusia di negerinya kufur kepada Allah ﷺ, Nabi Ibrahim adalah satu-satunya orang yang bertauhid kepada Allah ﷻ. Walaupun seluruh penduduk negerinya, bahkan ayahnya pun menentang dirinya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak peduli dan senantiasa  terus mendakwahkan tauhid kepada manusia.

Di antara hal-hal yang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lakukan saat mendakwahkan tauhid kepada penduduk negerinya adalah Beliau ‘alaihissalam berdebat dengan para penyembah berhala. Lebih dari itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bahkan menghancurkan berhala-berhala tersebut. Selain itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mendebati para penyembah benda-benda langit([24]).

  1. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diakui oleh orang-orang dari kaum Yahudi, Nasrani, Musyrik Arab, dan juga tentunya kaum Muslimin.

Hal ini karena Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah nenek moyang dari kaum Yahudi dam Nasrani, sehingga tidak heran jika mereka mengenal sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bahkan mereka pun mengeklaim bahwa mereka adalah pengikut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Hal yang sama pun terjadi pada kaum Musyrik Arab yang berasal dari suku Quraisy, mereka seluruhnya adalah keturunan dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sehingga mereka pun juga mengeklaim sebagai pengikut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Di dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ pun bantah klaim mereka tersebut dalam firman-Nya,

﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali ‘Imran: 67)

Masih banyak keutamaan-keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang lainnya.([25])

Inilah beberapa poin yang menjadikan perlu adanya penjelasan tentang agama hanif yang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdiri di atasnya.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa hakikat agama Nabi Ibrahmi ‘alaihissalam adalah “menyembah Allah semata dan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. Artinya, mentauhidkan (pengesaan) Allah dengan tidak beribadah kepada selain Allah ﷻ, tidak kepada berhala-berhala, benda-benda langit, tidak kepada siapa pun.

Atas hal ini, Allah ﷻ perintahkan kepada seluruh manusia. Banyak dalil tentang hal ini, di antaranya adalah firman Allah ﷻ,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Makna يَعْبُدُونِ (menyembah Allah) pada ayat di atas dikatakan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah يُوَحِّدُونِ (mentauhidkan Allah ﷻ).

Inilah hakikat dari agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang mana seluruh manusia, bahkan jin diperintahkan oleh Allah ﷻ untuk mengikutinya.

وَأَعْظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوْحيِدُ وَهُوَ: إِفْرَادُ اللهِ بِالْعِبَادَةِ.

“Hal teragung yang diperintahkan Allah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah”

Syarah:

Benar, tauhid adalah perkara terbesar yang Allah ﷻ perintahkan. Terbukti, seluruh para nabi menyerukan hal ini. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَۖ﴾

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut itu’.” (QS. An-Nahl: 36)

Allah ﷻ juga berfirman tentang Nabi Hud alaihissalam,

﴿وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًاۗ قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Al A’raf: 650).

Allah ﷻ juga berfirman tentang kaum Nabi Nuh alaihissalam,

﴿وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr’.” (QS. Nuh: 23)

Ini menunjukan bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam memerintahkan kaumnya untuk meninggalkan sesembahan-sesembahan selain Allah, sehingga kaumnya bersikeras untuk tetap menyambah sesembahan-sesembahan tersebut.

Allah ﷻ juga berfirman tentang Nabi Shalih alaihissalam,

﴿وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۗ قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۖ﴾

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya’.” (QS. Al-A’raf: 73)

Begitu juga dengan nabi-nabi lainnya, mereka seluruhnya diperintahkan oleh Allah ﷻ untuk menyerukan tauhid kepada umat mereka masing-masing. Hal ini karena tauhid merupakan tujuan dari penciptaan seluruh makhluk.

Seseorang yang mengerti akan hal ini (tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia), maka tauhid akan senantiasa berada di benaknya. Dalam aktivitas kesehariannya, ia akan selalu mengaplikasikannya dengan tauhid, seperti ketika hendak membantu orang lain, ia akan berpikir apakah yang ia lakukan ini karena Allah ﷻ ataukah tidak? Begitu juga saat mengunjungi orang tua, saudara, ataupun kerabat, ia akan berpikir apakah yang ia lakukan tersebut karena Allah ﷻ ataukah tidak? Dan begitu seterusnya pada aktivitas-aktivitas yang lain, sehingga jadilah aktivitas-aktivitas tersebut bernilai ibadah di sisi Allah ﷻ. Namun sangat disayangkan, banyak di antara kita yang lalai akan hal ini.

Ini menyadarkan bahwa seharusnya konsentrasi dakwah para dai dalam berdakwah adalah tauhid. Namun, bukan berarti para dai tidak boleh untuk berdakwah tentang permasalahan-permasalahan agama yang lain seperti, akhlak, ekonomi, sirah dan lainnya. Yang dimaksud adalah apa pun yang pembahasan/materi yang didakwahkan, para dai harus terfokus bahwa substansi dari dakwahnya tersebut adalah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah ﷻ, sebab sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa tauhid merupakan tujuan utama diciptakannya manusia dan juga tujuan utama Allah ﷻ mengutus para rasul.

Apa itu tauhid?

Di sini, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendefinisikan tauhid dengan “mengesakan Allah ﷻ dalam Ibadah”. Artinya adalah semua ibadah hanya untuk Allah ﷻ.

وَأَعْظَمُ مَا نَهَى عَنْه الشِّركُ، وَهُوَ: دَعْوَةُ غَيْرِهِ مَعَهُ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا

“Sementara hal yang sangat dilarang-Nya adalah kesyirikan, yaitu beribadah kepada selain Allah bersama Allah. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), ‘Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun’. (QS. An-Nisa: 35)”

Syarah:

Setelah menjelaskan perkara terbesar yang Allah perintahkan, selanjutnya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kemudian menjelaskan tentang perkara terbesar yang Allah ﷻ larang, yaitu syirik.

Apa itu syirik?

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendefinisikan syirik dengan “beribadah kepada selain Allah ﷻ bersama Allah”.

Syirik dalam bahasa Indonesia artinya adalah menyekutukan, yang berarti menduakan, mentigakan, mengempatkan, dan seterusnya. Karenanya, orang-orang yang melakukan kerja sama di antara beberapa orang disebut dengan syarikat.

Nabi Muhammad ﷺ pernah ditanya, apakah dosa yang paling besar? Nabi Muhammad ﷺ pun menjawab,

أن تَجعلَ للهِ ندًّا وهوَ خلقَك

“Engkau mengambil tandingan bagi Allah padahal Allah lah yang menciptakan engkau.”([26])

Dari sini dapat dipahami bahwa syirik bukan berarti tidak beribadah kepada Allah ﷻ seperti halnya ateis, namun syirik yaitu beribadah kepada Allah ﷻ dan juga beribadah kepada selain Allah ﷻ. Artinya, seseorang mengambil sekutu untuk digandengkan dengan Allah ﷻ dalam peribadatan.

Inilah yang terjadi pada kaum musyrikin Arab. Jika kita kembali membaca sejarah-sejarah mereka, akan kita dapati bahwa mereka pun beribadah kepada Allah ﷻ, mereka melakukan umrah dan haji.

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa ketika melakukan tawaf mereka mengucapkan,

لَبَّيْكَ لا شَرِيكَ لَكَ

“Kami menyambut panggilanmu Ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Mendengar itu, Nabi Muhammad ﷺ pun menegur mereka agar mencukupkan perkataan mereka di situ. Namun ternyata mereka meneruskan ucapan mereka dengan berkata,

إلَّا شَرِيكًا هو لَكَ، تَمْلِكُهُ وَما مَلَكَ

“Kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai.”([27])

Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ sebelum berhijrah, di setiap tahunnya Beliau ﷺ pergi ke mina untuk berdakwah di sana, sebab saat itu di Mina sedang ramai dikunjungi oleh manusia untuk melaksanakan haji. Salah satu perkataan yang Nabi Muhammad ﷺ ucapkan kepada mereka saat berdakwah ketika itu,

يا أيُّها الناسُ: قولوا: لا إلهَ إلَّا اللهُ، تُفْلِحوا

“Wahai sekalian manusia, Katakanlah ‘Lailaha ilallah’ kalian akan beruntung.”([28])

Mereka pun menjawab seruan Nabi Muhammad ﷺ tersebut dengan berkata,

﴿أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ﴾

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)

Intinya, penulis ingin menyampaikan poin bahwasanya syirik bukan berarti tidak beribadah kepada Allah ﷻ seperti halnya orang-orang ateis, namun syirik adalah beribadah kepada Allah ﷻ dan juga kepada selain Allah ﷻ, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Arab terdahulu.

Apakah mungkin seseorang yang melakukan salat berbuat syirik? Sangat mungkin, jika ia salat, namun ternyata ia meminta (berdoa) kepada penghuni kubur.

Apakah mungkin seseorang yang menyembelih untuk Allah ﷻ berbuat syirik? Sangat mungkin, bisa jadi saat ‘idul adha ia menyembelih untuk Allah ﷻ sedang di hari lain ia menyembelih untuk jin atau setan.

Kesimpulannya, syirik merupakan lawan dari tauhid. Tauhid yaitu menyerahkan segala peribadatan hanya semata-mata kepada Allah ﷻ. Adapun syirik yaitu kepada Allah ﷻ dan juga kepada selain Allah ﷻ.

وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى  :وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا

“Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), ‘Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun’. (QS. An-Nisa: 36)”

Syarah:

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kemudian mendatangkan dalil bahwasanya Allah ﷻ memerintahkan tauhid dan melarang kesyirikan, yaitu firman Allah ﷻ,

﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًاۖ﴾

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’: 36)

Berdasarkan ilmu usul fikih, kata شَيْئًا di atas memberi faedah keumuman, sebab ia adalah isim nakirah yang datang dalam konteks larangan. Begitu juga dengan kalimat لَا تُشْرِكُوا pun juga memberi faedah keumuman, sebab ia adalah fi’il yang mengandung masdar nakirah.

Dari sini, arti ﴿وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًاۖ﴾ dalam bahas Indonesia secara lengkap adalah “Dan janganlah kalian menyekutukan Allah ﷻ dengan apa pun dalam bentuk syirik apa pun”.

Di sini terdapat dua keumuman:

  1. Jangan kalian menyekutukan Allah ﷻ dengan apa pun ﴿شَيْئًاۖ﴾.

Dalam hal ini termasuk nabi, malaikat, wali, pohon, jin, mayat, dan yang lainnya.

  1. Bentuk syirik apa pun ﴿وَلَا تُشْرِكُوا﴾.

Baik itu syirik akbar, syirik kecil, syirik khafi, syirik Jali, dan segala bentuk syirik lainnya.

Inilah hakikat dari milah (agama) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang kita diperintahkan untuk mengikutinya, yaitu bertauhid dan tidak berbuat syirik sama sekali dengan apa pun dan dalam bentuk apa pun.

فَإِذَا قِيلَ لَكَ: مَا الأُصُولُ الثَّلاثَةُ التِي يَجِبُ عَلَى الإِنْسَانِ مَعْرِفَتُهَا؟ فَقُلْ: مَعْرِفَةُ الْعَبْدِ رَبَّهُ، وَدِينَهُ، وَنَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Apabila ditanyakan kepadamu, ‘Apa al-ushul as-tsalatsah (tiga hal mendasar) yang wajib diketahui oleh tiap-tiap muslim?’ Maka, jawablah, ‘Seorang hamba mengenal Tuhannya, agamanya, dan Nabinya Muhammad ’.”

Syarah:

Sebelum masuk pada pembahasan, penulis ingin mengisyaratkan bahwa risalah ini ditulis oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai risalah termudah yang dapat dipahami oleh kalangan manusia secara umum. Karenanya, beliau rahimahullah menuliskan dalam bentuk global tidak secara rinci.

Penulis pun dalam menjelaskan perkataan-perkataan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah akan menggunakan metode penjelasan secara global, tidak secara rinci, karena ketika ingin penjelasan yang lebih rinci harus menggunakan buku-buku lain lagi yang ditulis oleh beliau rahimahullah.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan bahwa ada 3 perkara yang wajib diketahui oleh setiap muslim, yaitu:

  1. Mengenal Tuhannya.
  2. Mengenal agamanya.
  3. Mengenal nabinya.

Dalam istilah syariat 3 perkara ini disebut dengan fitnah kubur, yaitu ujian (fitnah) pertama yang akan manusia alami setelah meninggal. Inilah 3 pertanyaan pertama yang ditanyakan oleh malaikat Munkar dan Nakir kepada setiap mayat, siapa Tuhanmu? apa agamamu? Siapa nabimu? Siapa yang mampu menjawab 3 pertanyaan ini, maka setelahnya akan mudah baginya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

القبرُ أوَّلُ منزِلٍ من منازِلِ الآخرَةِ فإن نجا منهُ فما بعدَهُ أيسرُ منهُ

“Kubur adalah tempat persinggahan akhirat yang pertama. Barangsiapa yang selamat darinya, maka jenjang berikutnya akan lebih mudah.”([29])

Perlu dipahami bahwa ketiga pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan iman, bukan dengan ilmu dan wawasan semata. Barangsiapa yang Allah ﷻ, agama Islam, dan Nabi Muhammad ﷺ selalu di benaknya dalam sehari-harinya, maka tentu ia akan bisa menjawab.

Mengapa dikatakan bahwa pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab dengan ilmu dan wawasan semata? Jawabannya adalah karena orang-orang munafik apalagi kafir, mereka tidak akan bisa menjawab pertanyaan tersebut tatkala di alam kubur, padahal kita tahu bahwa orang-orang munafik sangat mengenal sosok Nabi Muhammad ﷺ. Bagaimana tidak, mereka mengerti nasab Nabi ﷺ, mereka hidup bersama Nabi ﷺ, mereka salat bersama Nabi ﷺ, bahkan pada beberapa peperangan mereka ikut bersama Nabi ﷺ, namun ketika di alam kubur di mana kondisi pada saat itu sangat mengerikan Allah ﷻ pun cabut ilmu dan wawasan mereka tentang Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan saat orang-orang munafik ditanyakan tentang Nabi Muhammad ﷺ di alam kubur mereka pun menjawab,

هاه هاه لا أدرِي، سمِعْتُ النَّاسَ يقولونَ شيئًا فقُلْتُه

“Hah…hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.”([30])

Sama juga halnya dengan orang-orang kafir di zaman ini. Jika kita bertanya kepada mereka, siapakah Tuhan orang Islam? Tentu mereka akan menjawab dengan lantang “Allah”. Lebih dari itu, kita dapati sebagian mereka bahkan telah pandai mengucapkan zikir-zikir yang di ajarkan oleh syariat Islam seperti, “Alhamdulillah”, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, “Subhanallah”, dan yang lainnya. Begitu juga jika kita bertanya kepada mereka tentang 2 pertanyaan selanjutnya, tentu mereka mampu menjawabnya. Namun, ketika di alam kubur kelak mereka tidak akan bisa menjawab 3 pertanyaan tersebut.

Dari sini dapat dipahami bahwa mempelajari 3 pertanyaan ini sangat penting bagi setiap muslim. Dengan mempelajarinya kita akan mengenal siapa Tuhan yang akan kita sembah, apa agama Islam yang dimaksud untuk kita jalankan, dan siapa itu Nabi Muhammad ﷺ untuk kita jalankan wasiat-wasiatnya. Dengan itu, hal-hal tersebut akan mendarah daging di tubuh kita menjadi keimanan yang benar dan akhirnya kita akan mampu menjawab pertanyaan di alam kubur dengan keimanan yang kita miliki.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) HR. Ahmad No. 8712.

([2]) HR. Bukhari No. 7.

([3]) HR. Ibnu Majah No. 224, al-Albani mengatakan hadits ini sahih tanpa lafal “وواضع العلم”

([4]) Tahdzib al-Kamal fi asma’ ar-Rijal, (16/20).

([5]) Kasyyaaf al-Qina’, al-Buhuti 1/412

([6]) HR. Ibnu Majah No. 223 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([7]) HR. Ath-Thabrani No. 5787.

([8]) HR. Muslim No. 223.

([9]) HR. Bukhari no. 3461.

([10]) Hilyah Thalibul Ilmi, (hlm. 154).

([11]) Shahih al-Bukhari 1/24

([12]) Lihat Fathul Baari 1/121

([13]) al-Furu’, Ibnu Muflih 2/339, al-Inshoof, al-Mardawi 2/162, dan Kasyyaaf al-Qinaa’, al-Buhuti 1/411

([14]) Lihat: Tafsir as-Sa’di, (hlm. 934).

([15]) HR. Abu Dawud No. 402 di dalam Az-Zuhd.

([16]) Kisah seperti ini diriwayatkan dari Abu Hanifah dan juga ulama yang lainnya [Lihat syarh al-Áqidah at-Thahawiyah  (1/35) dan Tafsir Ibnu Katsir (1/197)]

([17]) Lihat: “Atheists call for church head to retract slur”. 1996-09-03. Diakses tanggal 2008-07-02. [https://id.wikipedia.org/wiki/Ateisme#cite_note-25]

([18]) HR.  Muslim No. 2865

([19]) HR.  Bukhari No. 4761

([20]) HR.  Bukhari 4497

([21]) Sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ , HR.  Bukhari No. 6566.

([22])  Berkata penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani (Ali Al-Faasi) :

Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, jika aku berkata kun (jadi) makan  (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah terhadap mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum yang semisal ini, maka berkata (At-Tijaani) radhiallahu ‘anhu : “Maknanya adalah Allah memberikan kepada mereka Khilaafah Al-‘Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan penyerahan kekuasaan secara umum, agar mereka bisa melakukan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” (Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62)

Hal terkait juga disebutkan dalam kitab  al-Fuyudhaat ar-Rabbaniyah Li at-Thariqah al-Qadiriyah yang ditulis oleh Ismail al-Qadiri bahwasanya Syekh Abdul Qadir al-Jaelani  di berikan wahyu oleh Allah ﷻ, dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Syekh Abdul Qadir berkata,

“ثُمَّ قَالَ لِي (أي الله) يَاغَوثَ الأَعظَم: الفَقِيرُ (أي الصوفي) لَهُ أَمرٌ في كُلِّ شَيءٍ إِذَا قَالَ لِشَيءٍ كُنْ فَيَكُونُ”

“Kemudian Allah berfirman kepadaku, ‘Wahai Ghauts al-A’zham, al-Faqir (seorang sufi sejati) memiliki kemampuan untuk mengatur segala sesuatu, jika dia berkata kepada sesuatu ‘Jadilah!’ maka akan terjadi”  

[lihat: al-Fuyudhaat ar-Rabbaniyah Li at-Thariqah al-Qadiriyah, hlm. 7 dinukil dari Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah Ila al-Islam (8/343)]

([23]) HR. Ibnu Hibban No. 6425, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([24]) Sebagaimana yang Allah kisahkan dalam QS al-An’am : 75-81

([25]) Lihat: Buku penulis yang berjudul “Mendulang Mutiara Faedah Kisah Para Nabi”.

([26]) HR. Bukhari No. 4477 dan Muslim No. 86.

([27]) HR. Muslim No. 1185.

([28]) HR. Ibnu Hibban No. 6562, dan dinyatakan sahih oleh al-Arnauth.

([29]) HR. Tirmidzi No. 2308, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([30]) HR. Bukhari No. 26 dan Muslim No. 905.