Syarh al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Pokok Agama) – Prolog

شَرْحُ الأُصُوْلِ الثَّلاَثَةِ
Syarh al-Ushul Ats-Tsalatsah
(Tiga Landasan Pokok Agama)

PROLOG

Kita akan membahas suatu risalah yang berjudul Tsalatsah al-Utsul atau al-Ushul ats-Tsalatsah ‘Tiga landasan pokok’, yang ditulis oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, di mana ini merupakan pelajaran dasar dalam bidang akidah. Yang dimaksud al-Ushul ats-Tsalatsah ‘Tiga landasan pokok’ tersebut adalah:

  • مَعْرِفَةُ اللَّه ‘mengenal Allah ﷻ’
  • مَعْرِفَةُ نَبِيِّهِ ‘mengenal Nabi Muhammad ﷺ ’
  • مَعْرِفَةُ الدِّيْن ‘mengenal agama Islam’

Inilah tiga pertanyaan yang akan ditanyakan oleh malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh. Pertanyaan malaikat inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis-hadis sahih yang di antaranya diriwayatkan oleh al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang perjalanaan seseorang yang meninggal dunia di alam barzakh,

فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ

“Lantas rohnya di kembalikan ke jasadnya,([1]) kemudian dua malaikat mendatanginya.” ([2])

Di dalam riwayat yang lain disebutkan,

أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ: النَّكِيرُ

“Ada dua malaikat yang hitam lagi biru, salah satunya disebut Munkar dan yang lain disebut Nakir.”([3])

Di dalam hadis tersebut, Munkar dan Nakir memiliki arti sesuatu yang menakutkan, mengerikan dan tidak dikenal, maka disebutkan sifat-sifatnya yang hitam dan biru.([4])

Setelah itu, kedua malaikat tersebut mendudukkannya dan bertanya kepadanya tentang tiga hal, yaitu مَنْ رَبُّكَ؟ ‘Siapa Tuhanmu?’, مَنْ نَبِيُّكَ؟ ‘Siapa nabimu?’ dan مَا دِينُكَ؟ ‘Apa agamamu?’.

Bagi orang yang beriman, maka dia akan menjawabnya dengan mudah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kedua malaikat itu mendudukkannya dan bertanya ‘Siapa Tuhanmu’, dia menjawab ‘Tuhanku Allah’, keduanya bertanya, ‘Apa agamamu?’, dia menjawab, ‘Agamaku Islam’, keduanya bertanya, ‘Siapakah laki-laki yang diutus kepadamu ini?’, dia menjawab, ‘Dia adalah Rasulullah e.”([5])

Adapun orang kafir atau munafik tidak mampu menjawab pertanyaan kedua malaikat tersebut. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ,

فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي

Lalu kedua malaikat mendudukkannya dan bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’, dia menjawab, ‘Ha, ha (ketakutan) saya tidak tahu?’, kedua malaikat itu bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’, dia menjawab, ‘Ha, ha (ketakutan) saya tidak tahu?’, mereka bertanya lagi, ‘Siapa laki-laki yang diutus untukmu?’, dia menjawab, ‘Ha, ha (ketakutan) saya tidak tahu?.”([6])

Orang-orang kafir atau munafik tidak mampu memberikan jawaban dari pertanyaan kedua malaikat tersebut. Kenapa? Karena menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur itu bukan berkaitan dengan hafalan, akan tetapi berkaitan dengan keimanan dan amal saleh . Jika seseorang memiliki keimanan, maka dia bisa menjawab pertanyaan tersebut. Oleh karenanya, Allah ﷻ berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Allah mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)

Allah ﷻ mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh, baik ketika di dunia pada saat sakaratul maut mereka bisa mengucapkan kalimat tauhid, mereka mengucapkan kata-kata yang baik sebelum meninggal dunia, maupun di akhirat, di antaranya ketika mereka ditanya di alam barzakh. Maka, dengan mudah mereka menjawab bahwa Tuhanku adalah Allah ﷻ, nabiku adalah Muhammad ﷺ dan agamaku adalah Islam.

Orang-orang kafir atau munafik yang masih hidup sampai sekarang, jika ditanyakan kepada mereka, ‘Siapakah Tuhan orang Islam?’, mereka tahu dan akan menjawab, ‘Allah . Jika ditanyakan kepada mereka, ‘Siapakah nabi orang Islam?, mereka tahu dan akan menjawab, ‘Muhammad’. Jika ditanyakan kepada mereka, ‘Apakah agama mereka?’, maka dengan mudah mereka akan menjawab, ‘Islam’. Akan tetapi, jika sudah berada di dalam alam barzakh, maka mereka dibuat lupa oleh Allah ﷻ. Ada sesuatu yang sepertinya mereka pernah ingat tetapi mereka dibuat lupa.

Ini adalah suatu perkara yang sangat mengenaskan bagi mereka. ketika mereka ditanya, mereka merasa pernah tahu, mereka mencoba untuk mengingat, tetapi tidak ingat dan tidak mampu untuk menjawab. Ketika mereka tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, maka mereka langsung dipukul dengan palu atau sesuatu yang terbuat dari besi oleh malaikat, sehingga berteriak dengan teriakan yang didengar oleh para makhluk sekitarnya, kecuali manusia dan jin.

Jadi, inti pembahasan kita adalah tentang tiga landasan pokok utama, di mana itulah pertanyaan yang akan ditanyakan pertama kali ketika manusia berada di dalam alam barzakh dengan melalui ujian pertama. Oleh karenanya, di dalam istilah syariat tiga pertanyaan itu disebut dengan فِتْنَة الْقَبر ‘ujian di dalam kubur’.

Di alam barzakh terdapat dua hal; Pertama adalah فِتْنَة الْقَبْر ‘ujian di dalam kubur’ dan yang kedua عَذَاب\نَعِيْم القَبْر ‘azab/nikmat kubur’. Barang siapa yang bisa menjawab tiga pertanyaan tersebut, maka dia akan mendapatkan nikmat kubur. Barang siapa yang tidak mampu menjawabnya, maka dia akan mendapatkan azab kubur.

Masing-masing dari kita tidak akan bisa lari, karena akan ditanya dengan tiga pertanyaan tersebut pada saat permulaan berada di alam barzakh. Ada beberapa orang yang tidak ditanya oleh malaikat -sebagaimana disebutkan oleh para ulama- seperti para nabi, shiddiqqin, orang yang mati syahid atau orang yang bekerja di daerah perbatasan atau peperangan. Namun, hukum asal secara umum semua manusia akan ditanya tentang tiga perkara ini.

Inilah sekilas tujuan atau maksud dari pembahasan Ushul ats-Tsalatsah yang ditulis oleh Syekh Abdul Wahhab rahimahullah. Buku ini merupakan ilmu dasar yang dipelajari oleh kaum muslimin. Selain itu, ilmu ini juga sebagai landasan utama untuk memahami ilmu tauhid lebih dalam, di mana seseorang memahami dasar tentang Rabb, rasul dan agama.

Penulis buku ini adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang hidup pada tahun 1115-1206 H.

Beliau membuka bukunya dengan mukadimah, kemudian masuk kepada inti pembahasan.

Banyak anak-anak kecil dari kaum muslimin telah menghafal matan dari al-Ushul ats-Tsalatsah ini. Terutama bagi mereka yang sejak kecil telah menuntut ilmu di beberapa pondok pesantren. Karena kitab ini berisi banyak dalil tentang akidah, sehingga orang yang mempelajarinya pun akan terbiasa mempelajari agama dengan dalil.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Disebutkan di dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri t, bahwa Rasulullah e bersabda,

إِذَا وُضِعَتِ الجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً، قَالَتْ: قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ، قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الإِنْسَانَ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ

“Apabila jenazah telah diletakkan dan dibawa oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika dia jenazah yang saleh, maka dia akan berkata, ‘segerakanlah aku’. Namun, jika dia jenazah selain orang saleh, maka dia akan berkata, ‘Celakanya, kemana mereka akan membawa jenazah ini?’, semua makhluk mendengarnya, kecuali manusia, jika mereka mendengarnya, niscaya bisa pingsan’.” (HR. Bukhari no. 1314)

Karena, sejatinya ruh yang saleh ingin cepat kembali ke jasadnya, untuk mendapatkan kenikmatan di alam barzakh. Oleh karenanya, di antara sunahnya adalah seseorang segera dikuburkan.

([2]) HR. Ahmad, No. 18534 dengan sanad sahih.

([3]) HR. Tirmidzi, No. 1071 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([4]) Lihat: Fath al-Bari (3/237) dan Mirqah al-Mafatih (1/209-210).

([5]) HR. Ahmad, no. 18534 dengan sanad sahih.

([6]) HR. Ahmad, no. 18534 dengan sanad sahih.