Kaidah-kaidah Penting Dalam Takdir Allah – Iman Kepada Takdir Bag. 2

Kaidah-kaidah penting dalam takdir Allah ﷻ

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc.MA.

  1. Takdir yang tercatat di Lauhul mahfuz tidak akan berubah, sebab rencana Allah sempurna dan tidak ada eksekusi yang keluar dari perencanaan. Jika sudah sempurna maka tidak ada revisi.
  2. Takdir yang tercatat di Lauhul mahfuz tidak satu pun yang mengetahuinya kecuali Allah ﷻ. Bahkan nabi dan malaikat pun tidak tahu. Hikmah dari kerahasiaan takdir:

Pertama : Seseorang jika diberi kekayaan oleh Allah ﷻ hendaknya tidak sombong, sebab kekayaan tersebut adalah takdir Allah ﷻ. Ketika seseorang berusaha dalam suatu urusan kemudian berhasil, maka jika dia orang yang beriman dengan takdir maka dia akan merasa bahwa keberhasilannya tersebut adalah karena takdir Allah ﷻ, adapun dirinya hanya menjalankan apa yang Allah ﷻ takdirkan. Sesungguhnya di luar sana masih banyak orang yang lebih pandai dan cerdas, dan juga lebih giat dari pada dirinya. Namun ternyata orang-orang tersebut tidak diberi keberhasilan seperti dirinya. Ini menandakan bahwa keberhasilan yang dia dapatkan adalah karena takdir Allah ﷻ.

Kedua : Seseorang jika ditimpa musibah maka janganlah dia terlalu larut dalam bersedih, sebab musibah tersebut adalah takdir Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23)

Hendaknya dia mengucapkan,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، قَدَّرَ اللَّهُ، وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Telah menjadi ketentuan Allah, Ia melakukan sesuatu yang dikehendaki-Nya.”

Lihatlah ‘Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, ketika dia ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam dia berkata,

وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.”([1])

Demikian pula Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhu ketika ditikam saat perang Jamal, dia juga berkata,

وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.”([2])

Artinya ‘Umar dan Thalhah radhiallahu ‘anhuma yakin bahwasanya mereka telah ditakdirkan meninggal tatkala itu, dan mereka paham bahwa tidak satu pun yang dapat keluar dari takdir Allah ﷻ termasuk mereka. Oleh karena itu, ketika kita tertimpa suatu musibah maka hendaknya kita meyakini bahwasanya hal tersebut telah Allah ﷻ tetapkan, Allah ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki. Hal ini akan menjadikan diri kita sabar ketika tertimpa musibah, terlebih lagi jika meyakini bahwa Allah memiliki hikmah yang sempurna.

Di antara cara agar seseorang bisa sabar ketika ditimpa musibah adalah dia yakin bahwasanya apa yang menimpanya telah ditetapkan 50.000 tahun sebelum Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi([3]). Jika kita ditimpa musibah, kita boleh bersedih akan tetapi tidak perlu berlebihan, karena semuanya terjadi karena telah ditakdirkan. Ketahuilah bahwa seringnya kita tidak bahagia karena tidak beriman dengan takdir. Betapa sering kita dapati orang yang sangat gelisah berlebihan, akhirnya dia suuzan kepada Allah ﷻ tentang masa depannya.

Ketiga : Seseorang jika melakukan aktivitas hendaknya ia bertawakal kepada Allah ﷻ, sebab segala yang akan terjadi sudah ditakdirkan oleh Allah ﷻ.

Orang yang beriman dengan takdir dia pasti memiliki tawakal yang tinggi kepada Allah ﷻ, karena dalam hadits disebutkan,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Berusahalah (semangat) dengan sungguh-sungguh terhadap apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu’. Tetapi Katakanlah: ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya’. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘law’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan setan.”([4])

Berbicara tentang para sahabat radhiallahu ‘anhum, mengapa mereka sangat berani untuk berjihad? Jawabannya tidak lain karena mereka sudah tahu bahwa ajal mereka telah ditentukan oleh Allah ﷻ. Jika belum waktunya ajal mereka, maka mereka pasti tidak akan mati di medan pertempuran. Lihatlah Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu, betapa banyak peperangan yang dia jalani. Namun ternyata beliau tidak meninggal di dalam peperangan, melainkan meninggal di atas tempat tidurnya karena sakit. Oleh karena itu, tugas kita hanyalah berusaha dan menunggu bagaimana takdir Allah ﷻ, karena takdir tidak mengajarkan kita untuk bersikap diam dan pasrah.

Keempat : Qonaah dengan rezeki yang Allah ﷻ berikan. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga terpenuhi rezekinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah, carilah yang baik dalam mencari dunia, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”([5])

Karena rezeki telah ditentukan, maka carilah rezeki dengan cara yang halal. Sesungguhnya setiap orang tidak tahu bagaimana sikap dia jika diberikan banyak harta oleh Allah ﷻ, apakah ia bersyukur, atau bisa jadi harta tersebut menjadikan dirinya sombong sehingga lupa beribadah. Oleh karena itu, terhadap rezeki Allah ﷻ hendaknya kita berusaha mencarinya, dan kita kanaah (merasa cukup) dengan apa yang Allah berikan kepada kita. Rezeki kita tidak akan tertukar, dan pasti Allah ﷻ berikan kepada kita. Ingatlah bahwa kehidupan kita ini telah ditetapkan oleh Allah ﷻ, dan biarkan Allah ﷻ menjalankan urusannya, tugas kita hanyalah bertakwa dan beribadah kepada Allah ﷻ. Urusan rezeki adalah urusan Allah ﷻ.

Kelima : Seseorang ketika beramal hendaknya dia tidak bersikap ujub, sebab dia tidak tahu bagaimana akhir dari amalnya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِمِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung akhirnya.”([6])

  1. Semua sudah ditakdirkan dan dikehendaki Allah ﷻ termasuk penghuni surga dan neraka. Namun tidak ada satu orang pun yang tahu di manakah dia akan berada. Tetapi Allah ﷻ memiliki sunnatullah (aturan). Barang siapa yang melakukan amal saleh maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang melakukan maksiat maka ia akan masuk neraka.
  2. Akal adalah indra yang memiliki keterbatasan sebagaimana indra-indra yang lain.

Mata tidak mampu melihat matahari, telinga tidak mampu mendengar suara yang sangat kecil atau suara yang sangat keras. Sama akal pun demikian, ada hal-hal yang bisa kita pikirkan dan banyak juga hal-hal yang tidak bisa kita pikirkan. Hal itu karena akal memiliki keterbatasan.

Contoh keterbatasan akal, kita tidak bisa membuktikan atau mengilmiahkan bagaimana jin bisa menjelma sebagai hewan atau manusia. Kita juga tidak bisa memikirkan bagaimana zat dan sifat-sifat Allah ﷻ. Kita juga tidak bisa memikirkan tentang malaikat yang merupakan makhluk yang tidak makan dan minum, bagaimana ia bisa bergerak dengan cepat naik ke langit dan turun ke bumi. Jangankan itu semua, bahkan memikirkan tentang ruh saja yang ada pada diri manusia, akal kita tidak bisa mengilmiahkan hakikat dari hal tersebut.

Tatkala kita telah mengetahui bahwa akal kita terbatas, tidak bisa memikirkan banyak hal, maka begitu pun dengan takdir. Otak manusia tidak mampu untuk memikirkan tentang takdir Allah ﷻ. Karena sebab inilah kita diperintahkan untuk beriman kepada takdir.

Kenapa orang musyrik dahulu tidak mau beriman kepada takdir? Jawabannya adalah karena takdir tidak masuk ke dalam logika mereka. Lihatlah perkataan mereka untuk mengingkari takdir yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an,

قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

“Ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?.” (QS. Yasin: 78).

Jika seseorang  menjadikan tidak masuk logika alasan untuk tidak beriman, maka tentunya dia tidak akan beriman untuk selamanya. Hal ini karena terlalu banyak perkara-perkara dalam agama ini yang tidak bisa dilogikakan, dan juga jika dipertanyakan maka tidak ditemukan jawabannya. Contoh mengapa Allah ﷻ membuat Iblis yang menjadi korban? Kenapa Muhammad ﷺ yang dipilih menjadi seorang rasul? Kenapa harus yang menjadi rasul adalah orang Arab? Dan seterusnya.

Intinya penulis di sini ingin menyampaikan bahwa banyak perkara-perkara yang tidak bisa dijangkau oleh akal kita, dan juga banyak pertanyaan-pertanyaan atau teka-teki yang tidak bisa dijawab. Sikap yang benar dalam menghadapi hal-hal seperti ini adalah menundukkan akal dan beriman kepada takdir Allah ﷻ.

Takdir adalah rahasia Allah (الْقَدَرُ سِرُّ اللهِ), tidak ada yang mengetahui hakikatnya baik nabi maupun malaikat, bahkan tidak ada yang mengetahui isi Lauhul mahfuz kecuali Allah ﷻ. Suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Wahai Abu Hasan, apa pendapatmu tentang takdir?” Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjawab,

طَرِيقٌ مُظْلِمٌ فَلَا تَسْلُكْهُ

“Takdir itu jalan yang gelap, jangan engkau lewati’.

Kemudian dia bertanya, “Wahai Abu Hasan, apa pendapatmu tentang takdir?” Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjawab,

بَحْرٌ عَظِيمٌ فَلَا تَلِجْهُ

“Takdir itu lautan yang sangat dalam, jangan engkau masuk ke dalamnya.”

Kemudian dia bertanya lagi, “Wahai Abu Hasan, apa pendapatmu tentang takdir?”. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjawab,

سِرُّ اللَّهِ فَلَا تَكَلَّفْهُ

 “Takdir adalah rahasia Allah, jangan engkau cari-cari.”([7])

Sebab takdir adalah rahasia Allah, maka Allah mengingatkan dalam firman-Nya,

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah (manusia) yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya’: 23)

Nabi Muhammad ﷺ juga telah mengingatkan,

وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا

Dan apabila disebutkan tentang takdir maka tahanlah diri kalian (untuk berbicara).” ([8])

Sesungguhnya manusia tidak ditugaskan untuk menghisab Allah ﷻ, akan tetapi manusialah yang akan dihisab oleh Allah ﷻ.

 

  1. Takdir tidak menghilangkan hukum sebab akibat.

Seluruh kita sepakat bahwasanya kenyang (rezeki) telah ditentukan. Walau begitu, untuk mencapai kenyang kita harus melakukan sebab kenyang yaitu makan. Anak keturunan telah ditakdirkan oleh Allah ﷻ. Akan tetapi jika ingin memiliki keturunan, maka kita harus melakukan sebabnya yaitu menikah. Seperti itulah surga dan neraka, keduanya telah ditentukan bagi setiap kita. Akan tetapi jika kita ingin masuk surga, maka kita harus menempuh sebab-sebabnya yaitu melakukan amal saleh. Karenanya taqdir tidaklah merubah hukum-hukum syariát.

Ibnu Hajar berkata :

فَلَمَّا عَانَدَ الْمُشْرِكُونَ … تَمَسَّكُوا بِالْمَشِيئَةِ وَالْقَدَرِ السَّابِقِ وَهِيَ حُجَّةٌ مَرْدُودَةٌ لِأَنَّ الْقَدَرَ لَا تَبْطُلُ بِهِ الشَّرِيعَةُ وَجَرَيَانُ الْأَحْكَامِ عَلَى الْعِبَادِ بِأَكْسَابِهِمْ فَمَنْ قَدَّرَ عَلَيْهِ بِالْمَعْصِيَةِ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى أَنَّهُ قَدَّرَ عَلَيْهِ الْعِقَابَ … وَمَنْ قَدَّرَ عَلَيْهِ بِالطَّاعَةِ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى أَنَّهُ قَدَّرَ عَلَيْهِ بِالثَّوَابِ

“Tatkalau kaum musyrikin menentang (untuk melegalkan kesyirikan mereka)…mereka berdalil dengan kehendak Allah dan takdir yang mendahului. Ini adalah argumentasi yang terbantahkan, karena takdir tidaklah membatalkan syariát dan berlakunya hukum-hukum kepada para hamba dengan perbuatan mereka. Barangsiapa yang Allah takdirkan melakukan kemaksiatan maka itu pertanda bahwa Allah mentakdirkan atasnya hukuman…dan barangsiapa yang Allah takdirkan melakukan ketaatan maka ini tanda bahwa mentakdirkan baginya pahala” ([9])

  1. Tidak boleh berdalil dengan takdir untuk melegalkan kesalahan, sebab hal tersebut adalah bentuk berdalil dengan sesuatu yang tidak diketahui.

Contohnya seperti perkataan, “saya melakukan maksiat ini karena telah ditakdirkan oleh Allah ﷻ”. Atau seseorang melakukan maksiat, kemudian masuk ke dalam neraka, lalu berkata kepada Allah ﷻ, “Ya Allah hal ini telah kau takdirkan”.

Berdalil dengan takdir adalah pendalilan yang salah, sebab bagaimana mungkin seseorang berdalil dengan sesuatu yang ia tidak tahu tentangnya. Memang benar sudah ditakdirkan, akan tetapi takdir tersebut tidak diketahui, dan Allah ﷻ pun memberikan pilihan kepada setiap manusia untuk menjalankan takdirnya. Perkara inilah disebut dengan Sirrullah Al-Makhtum (rahasia Allah yang tersembunyi).

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1])  Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 37068.

([2])  Al-Ibanah Ibnu Bathah No. 1585.

([3]) ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwasanya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

” كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ “

“Sesungguhnya Allah telah mencatat takdir setiap hamba sebelum Allah menciptakan langit dan bumi selama 50.000 tahun lamanya, sementara ‘Arsy Allah ada di atas air” (HR. Muslim No. 2653)

([4])  HR. Muslim No. 2664.

([5])  HR. Ibnu Majah No. 2144.

([6]) HR. Bukhari No. 6607.

([7])  Syarah Ushulul I’tiqad No. 1123 (4/695).

([8]) HR. ‘Abdurrazzaq, Al-Amali Fi Atsari As-Shahabah No. 51, At-Thabarani, Al-Mu’jamu Al-Kabir, No. 1427. Berkata Syaikh Al-Albani: “diriwayatkan dari jalur Ibnu Mas’ud, Tsauban, Ibnu ‘Umar, Thawus, radhiallahu ‘anhum ajma’in secara mursal, dan semuanya diriwayatkan dengan sanad yang daif. Akan tetapi, satu dengan yang lainnya saling menguatkan”. (Lihat: Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah No.34)

([9]) Fathul Baari 13/449