Rukun Ketiga Iman Kepada Kitab-kitab Allah – Pendahuluan (1)

BAB 3 : (RUKUN KETIGA) IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH ﷻ

Oleh DR. firanda Andirja, Lc. MA. 

Pendahuluan.

A. Urgensi mempelajari iman kepada kitab-kitab Allah .

Diantara urgensinya mempelajari iman kepada kitab-kitab Allah ﷻ adalah:

  1. Iman kepada kitab-kitab Allah ﷻ termasuk rukun iman yang merupakan akar/pokok keimanan.

Sebagaimana telah lalu pada penjelasan-penjelasan sebelumnya bahwa berbeda antara mempelajari cabang atau batang keimanan dengan akar keimanan. Seseorang jika telah kokoh pada akar atau pokok keimanan, maka imannya akan semakin kokoh pula pada hal-hal di atasnya baik batang, cabang, ranting, maupun buah keimanan

  1. Allah ﷻ memerintahkan kita untuk beriman kepada kitab-kitab-Nya.

Allah ﷻ berfirman,

وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ

“Dan katakanlah (Hai Muhammad) aku beriman kepada apa-apa yang Allah turunkan dari kitab-Nya.” (QS. Asy-Syura: 15)

Allah ﷻ juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya (Muhammad) -yaitu Al-Qur’an- dan juga kepada kitab-kitab yang telah Dia turunkan sebelumnya.” (Q.S. An-Nisa:136)

Perlu diperhatikan, bahwa di dalam ayat ini Allah ﷻ memerintahkan orang yang sudah beriman untuk beriman. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini dan ayat-ayat yang semisal adalah terus melakukan (istikamah) dan menambah atau menyempurnakan hal yang diperintahkan (keimanan). Jadi, seakan ayat di atas berisikan “Teruslah beriman dan tambahlah keimanan kalian kepada Allah , Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan yang lainnya”. Begitu juga dengan ayat-ayat yang semisal seperti perintah kepada orang yang beriman untuk bertakwa kepada Allah ﷻ, maka penafsirannya sama seperti di atas yaitu terus melakukan (istikamah) dan menambah atau menyempurnakan hal yang diperintahkan (ketakwaan). ([1])

  1. Konsekuensi dari tidak beriman dengan kitab-kitab suci adalah kafir.

Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Barang siapa yang kufur kepada Allah ﷻ, Rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari kebangkitan, maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. An-Nisa’: 136)

  1. Ancaman berupa siksaan yang pedih bagi orang-orang yang tidak beriman kepada kitab-kitab suci.

Allah ﷻ berfirman:

الَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْكِتَابِ وَبِمَا أَرْسَلْنَا بِهِ رُسُلَنَا فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ، إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ، فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan Al-Qur’an dan mendustakan kitab-kitab yang kami turunkan kepada rasul-rasul kami, maka dia akan melihat akibatnya kelak, tatkala belenggu berada di leher mereka dan rantai-rantai diikatkan kepada mereka, kemudian mereka ditarik ke dalam air yang sangat panas kemudian mereka dibakar dengan api jahanam.” (QS. Ghafir: 70-72)

B. Hikmah-hikmah diturunkannya Kitab-kitab Allah.

Di antara hikmah-hikmah Allah ﷻ menurunkan kitab-kitab-Nya adalah:

  1. Diturunkannya kitab adalah bentuk kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya. Allah ﷻ yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk -hamba-hamba-Nya, karenanya Allah ﷻ turunkan kitab-kitab suci yang menjelaskan hukum-hukum yang terbaik untuk mereka.

Jika kita melihat perihal keadaan manusia di zaman ini ketika membuat peraturan, maka akan kita dapati mereka sangat sibuk bermusyawarah dan bersusah payah untuk bertukar pikiran dalam membuatnya. Lihatlah peraturan-peraturan yang dibuat, peraturan-peraturan tersebut tidak lepas dari kritikan bahkan cemooh, sehingga peraturan tersebut harus diubah. Oleh karenanya setelah suatu peraturan telah disepakati, maka di waktu yang lain peraturan tersebut akan diubah kembali, kemudian disepakati lagi, kemudian diubah lagi, dan begitu seterusnya. Mengapa bisa demikian? Jawabannya karena peraturan-peraturan tersebut adalah buatan manusia.([2]) Berbeda halnya dengan peraturan yang dibuat oleh Allah ﷻ, peraturan tersebut jelas benar dan sempurna, tidak terdapat celah kesalahan sedikit pun. Namun yang mengherankan, peraturan Allah ﷻ yang telah jelas kebenarannya malah ditinggalkan oleh mereka, kemudian memilih membuat peraturan sendiri yang sangat penuh dengan kekurangan. Allah ﷻ berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kalian mengira bahwa kami menciptakan kalian dengan sia-sia hanya untuk bermain-main (tidak diberi aturan) dan kalian tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Tidak hanya mengutus rasul untuk menjelaskan aturan-aturan Allah ﷻ kepada manusia, Allah ﷻ juga menurunkan kitab-kitab yang menyertai para rasul sebagai sumber aturan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدى

“Apakah menusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja?” (QS. Al-Qiyamah: 36).

Yaitu dibiarkan begitu saja tidak diperintah dan tidak dilarang? ([3]) Tentu mereka akan diperintah dan dilarang dengan diturunkannya Al-Kitab.

  1. Kitab suci adalah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tidak bisa dipungkiri, semua orang pasti mencari kebahagiaan dunia dan akhirat (jika ia percaya kepada hari akhir). Untuk mencapai tujuan ini tidak perlu seseorang berspekulasi dengan menjalankan teori-teori kebahagiaan yang dibuat oleh manusia. Cukup dengan kembali mengikuti aturan Allah ﷻ di dalam kitab suci, maka pasti ia akan bahagia. Hal ini karena Allah ﷻ lah yang menciptakan manusia maka Allah ﷻ lah yang paling tahu tentang maslahat dan mafsadah untuk manusia. Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatanku, maka baginya adalah hidup yang sangat menyesakkan.” (QS. Thaha: 124)

Allah ﷻ juga berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan telah kami turunkan Al-Qur’an yang merupakan obat dan rahmat bagi orang yang beriman, dan tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim melainkan kesengsaraan.” (QS. Al-Isra : 82)

Allah ﷻ juga berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian nasihat/peringatan dari Rabb kalian dan dia sebagai obat bagi hati, dan hidayah serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Wahai saudaraku! Sesungguhnya Al-Qur’an yang kita baca ini adalah firman Allah ﷻ, perkataan Allah ﷻ, surat dari Allah ﷻ, bukan novel atau perkataan manusia. Oleh karenanya, jika dikatakan Al-Qur’an adalah obat hati bagi pembacanya maka hal tersebut adalah jelas dan benar adanya. Kenyataannya, Al-Qur’an jika dibaca oleh orang yang tidak mengetahui maknanya ia akan mendapatkan ketenteraman pada hatinya. Lalu bagaimana lagi jika yang membacanya adalah orang yang memahami maknanya, apalagi memahami tafsirnya? Tentu ia akan merasakan hal yang lebih dari orang yang tidak paham tadi.

Allah ﷻ juga berfirman,

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

“Tidaklah kami menurunkan kepadamu Al-Qur’an agar membuatmu sengsara.” (QS. Thaha: 2)

Pemahaman kebalikan dari ayat ini adalah, “Akan tetapi kami turunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau bahagia”.

  1. Al-Qur’an sebagai hujah dan pemutus argumentasi manusia di hadapan Allah ﷻ Allah ﷻ berfirman,

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

“Rasul-rasul yang menyampaikan kabar gembira dan peringatan, agar tidak ada lagi hujjah (alasan) bagi manusia di hadapan Allah setelah diutusnya rasul-rasul.” (QS. An-Nisa’: 165)

C. Definisi Al-Kitab.

  1. Secara etimologi (bahasa)

Al-Kitab berasal dari akar kata ك-ت-ب “كتب” yang bermakna “الضَّمُّ وَالْجَمْعُ” (mengumpulkan).

Setiap kata yang tersusun dari kata asal ك-ت-ب maka kata tersebut juga mengandung makna “mengumpulkan”.([4]) Contoh:

الكَتِيْبَةُ artinya “Pasukan” yang merupakan kumpulan dari prajurit-prajurit.

الكُتَّابُ artinya “Madrasah” yang merupakan tempat berkumpulnya murid-murid.

الْكِتَابُ artinya “Buku” yang merupakan kumpulan dari bab-bab, pasal-pasal, dll.

  1. Secara terminologi (istilah).

Al-Kitab adalah Kitab atau suhuf (lembaran-lembaran) yang mengumpulkan firman Allah ﷻ yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, baik melalui perantara malaikat Jibril ‘alaihissalam (seperti Al-Qur’an) atau Allah ﷻ tuliskan langsung dalam lembaran-lembaran (seperti Taurat).  Allah ﷻ berfirman,

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ

“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.” (QS. Al-A’raf : 145)

Dalam hadits yang shahih Adam berkata kepada Musa :

يَا مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلاَمِهِ، وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ

“Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan firmanNya, dan menuliskan bagimu (yaitu Taurot) dengan tanganNya” ([5])

Dalam riwayat yang lain dengan penyebutan lafal Taurat dengan tegas : وَخَطَّ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ “Allah menuliskan Taurat bagimu dengan tanganNya” ([6])

D. Nama-nama Al-kitab

  1. الكِتَابُ (Al-Kitab), Allah ﷻ berfirman,

وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ

“Dan kitab yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya (Muhammad) -yaitu Al-Qur’an-“ (Q.S. An-Nisa: 136)

  1. الكُتُبُ (Jamak dari kitab). Allah ﷻ berfirman,

فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ

“Di dalamnya terdapat kitab-kitab yang berharga.” (Q.S. Al-Bayyinah: 3)

  1. الصُّحُفُ (Suhuf). Allah ﷻ berfirman,

صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى

“Lembaran-lembaran yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa.” (Q.S. Al-A’la: 19)

  1. الزُّبُرُ (Az-Zubur). Allah ﷻ berfirman:

وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ

“Sesungguhnya yang demikian itu terdapat pada kitab-kitab orang terdahulu.” (Q.S. As-Syu’ara: 196)

Peringatan : Lafal al-Qurán dan Az-Zabur terkadang datang dalam lafal singular (mufrod) dan maksudnya adalah kitab tertentu (Al-Qurán kitab suci Nabi Muhammad dan Az-Zabur kitab suci Nabi Daud), akan tetapi terkadang maksudnya adalah menunjukan jenis kitab, atau mengungkapkan kitab suci yang lain.

Contoh Allah berfirman :

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh” (QS Al-Anbiya : 105)

Maksud dari Az-Zabur pada ayat ini bukanlah terkhususkan kepada kitab suci Nabi Daud álaihis salam, akan tetapi mencakup seluruh kitab suci. Al-Baghowi berkata :

قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَمُجَاهِدٌ: الزَّبُورُ جَمِيعُ الْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ

“Saíd bin Jubair dan Mujahid berkata : Az-Zabur maksudnya seluruh kitab suci yang diturunkan” ([7])

Adapun Ibnu Abbas dan Ad-Dhohhak berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Az-Zabur dalam ayat ini adalah At-Taurot([8]).

Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :

خُفِّفَ عَلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ القُرْآنُ، فَكَانَ يَأْمُرُ بِدَوَابِّهِ فَتُسْرَجُ، فَيَقْرَأُ القُرْآنَ قَبْلَ أَنْ تُسْرَجَ دَوَابُّهُ

“Diringankan bagi Daud ‘alaihis salam membaca al-Qur’an, maka beliau memerintahkan untuk disiapkan tunggangannya lalu diletakan pelana di atasnya, maka iapun selelai membaca al-Qurán sebelum diletakan pelana di atas tunggangannya” ([9])

Yang dimaksud dengan al-Qurán pada hadits ini adalah kitab suci yang diturunkan kepada Daud atau yang Daud diperintahkan untuk membacanya (apakah itu Az-Zabur ataukah yang lainnya). Yang jelas yang dimaksud bukanlah al-Qurán yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu álaihi wasallam.

Ibnul Qoyyim berkata :

فَإِنَّ لَفْظَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالزَّبُورِ وَالْقُرْآنِ يُرَادُ بِهِ الْكُتُبُ الْمَعْنِيَّةُ تَارَةً، وَيُرَادُ بِهِ الْجِنْسُ تَارَةً، فَيُعَبِّرُ بِلَفْظِ الْقُرْآنِ عَنِ الزَّبُورِ، وَبِلَفْظِ التَّوْرَاةِ عَنِ الْإِنْجِيلِ وَعَنِ الْقُرْآنِ أَيْضًا

“Sesungguhnya lafal at-Taurot, al-Injil, Az-Zabur, dan al-Qurán terkadang maksudnya adalah kitab-kitab suci tertentu, namun terkadang maksudnya adalah jenis kitab suci. Maka terkadang lafal al-Qurán digunakan untuk mengungkapkan az-Zabur (yaitu disebut az-Zabur tapi maksudnya adalah al-Qurán), dan digunakan lafal at-Taurot tapi maksudnya untuk mengungkapkan injil dan terkadang untuk mengungkapkan al-Qurán” ([10])

E. Proses turunnya kitab suci

  1. Firman Allah ﷻ tidak terbatas. Allah ﷻ berfirman,

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan kalaulah di bumi ini seluruh pohon-pohon dijadikan pena dan lautan dijadikan tintanya dan ditambah lagi tujuh lautan, maka sungguh tidak akan bisa menulis seluruh firman-firman Allah , sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana” (QS. Luqman: 27).

Allah ﷻ juga berfirman,

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

“Katakanlah! Kalaulah lautan ini dijadikan tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allah maka sungguh lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Allah itu habis, demikian juga seandainya kami datangkan laut-laut yang semisal (maka sungguh habis juga sebelum kalimat Allah habis” (QS. Al-Kahfi: 109)

  1. Kitab-kitab suci bukanlah semua firman Allah ﷻ, melainkan hanya sebagian firman Allah ﷻ saja yang diwahyukan melalui Jibril ‘alaihissalam kepada rasul-rasul-Nya atau tanpa perantara, yaitu langsung kepada sang rasul -seperti Nabi Musa ‘alaihissalam-.

Kitab suci yang Allah ﷻ turunkan kepada para rasul-Nya jumlahnya banyak, namun kabar yang sampai kepada kita hanya 5, yaitu:

  • Kitab yang Allah ﷻ turunkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang disebut dengan Suhuf Ibrahim
  • Kitab yang Allah ﷻ turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam namanya Taurat.
  • Kitab yang Allah ﷻ turunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam namanya Zabur.
  • Kitab yang Allah ﷻ turunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam namanya Injil.
  • Kitab yang Allah ﷻ turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ namanya Al-Qur’an.
  1. Proses turunnya wahyu.

Telah disebutkan bahwa firman Allah sampai kepada para nabi melalui dua hal. Pertama melalui perantara Jibril, kedua tanpa perantara yaitu Allah langsung sampaikan kepada rasul-Nya. Allah ﷻ berfirman,

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu([11]) atau di belakang tabir([12]) atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) ([13]) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syura : 51)

Jika melalui perantara Jibril ‘alaihissalam, maka Allah ﷻ berfirman dengan:

  • Suara (Allah ﷻ) yang didengar oleh Jibril ‘alaihissalam.
  • Bahasa yang Allah ﷻ kehendaki (apakah bahasa Ibrani, atau bahasa Suryani, atau bahasa Arab, atau bahasa yang lainnya)
  • Topik yang Allah ﷻ kehendaki, lalu di waktu yang lain Allah ﷻ menyampaikan topik yang lain pula.
  • Kapan saja, di waktu yang Allah ﷻ

Selanjutnya, Jibril ‘alaihissalam kemudian menukilkan kepada para rasul.

Jika Allah ﷻ berbicara langsung kepada nabi-Nya maka sang Nabi akan mendengar langsung dari Allah ﷻ -sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa ‘’alaihissalam-. Allah ﷻ berfirman,

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung dengan pembicaraan yang sesungguhnya.” (QS. An-Nisa’: 164)

وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى، إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu), Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha : 13-14)

Adapun ahli bid’ah mereka mengatakan:

  • Allah ﷻ berbicara tanpa suara, tanpa bahasa, dan tanpa dari huruf dan kata.
  • Allah ﷻ berbicara secara azali dengan bahasa jiwa yang pembicaraan Allah ﷻ merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terbagi-bagi topiknya, dan juga tidak berkaitan dengan waktu. Mereka tidak meyakini bahwa Allah ﷻ dahulu berbicara kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, kemudian bertahun-tahun setelah itu barulah Allah ﷻ berbicara kepada Musa ‘alaihissalam. Mereka juga tidak meyakini bahwa firman Allah ﷻ yang Allah ﷻ wahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebelumnya tidak pernah Allah ﷻ firmankan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Mereka juga tidak meyakini bahwa firman Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah firman Allah ﷻ kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Mereka juga tidak meyakini bahwa firman Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah sebagian dari firman Allah ﷻ

Oleh karenanya, ahli bid’ah meyakini bahwa lafal Al-Qur’an bukan berasal dari Allah ﷻ, yang berasal dari Allah ﷻ hanya kandungan maknanya saja. Menjadi pertanyaan, lalu dari mana datangnya isi lafal Al-Qur’an? Sebagian ahli bid’ah menjawab bahwa lafal tersebut dari Jibril ‘alaihissalam dan sebagian yang lain menjawab dari Rasulullah ﷺ.

Dari keyakinan inilah orang-orang Liberal mengatakan bahwa kita tidak boleh percaya kepada Al-Qur’an secara tekstual, dan kita harus memiliki tafsir kontekstual. Karena tekstual Al-Qur’an ini adalah terjemahan dari ide pokok Allah ﷻ yang Allah ﷻ pahamkan kepada Muhammad ﷺ, sedangkan tekstual ini (yang merupakan ungkapan/terjemahan Muhammad) sangat terikat dengan kondisi Muhammad ﷺ sebagai orang arab, sangat terikat dengan kondisi beliau yang hidup 1400 tahun yang lalu, sangat terikat dengan kehidupan beliau yang berada di sekitar orang-orang arab kuno, dan yang lainnya. Dari sini, maka tidak bisa Al-Qur’an dipahami secara leterlek (secara harfiah atau teks), sebab dia tidak relevan dengan zaman sekarang. Oleh karenanya, mereka berkeyakinan bahwa yang harus dipahami dari Al-Qur’an adalah isi maknanya (ide-ide pokok Al-Qur’an), tidak sekadar teksnya saja. Jika isi makna Al-Qur’an telah dipahami (ide-ide pokok Al-Qur’an), maka selanjutnya adalah menerjemahkannya dengan bahasa di zaman ini dan tidak boleh tekstual. ([14])

Berbeda halnya dengan Ahlusunah, mereka meyakini poin-poin yang telah penulis sebutkan di atas, yaitu meyakini bahwa semua yang ada di dalam Al-Qur’an adalah firman Allah ﷻ. Oleh karenanya, Al-Qur’an diyakini sebagai kitab suci, bukan karya Nabi Muhammad ﷺ dan juga bukan karya Jibril ‘alaihissalam, akan tetapi Allah ﷻ yang berbicara, hanya saja firman-firman tersebut dibukukan.

Dari sini para ulama membahas tentang perbedaan antara Al-Qur’an, hadits qudsi, dan hadits biasa.

Al-Qur’an, lafal dan maknanya datang dari Allah ﷻ sebagai mukjizat. Adapun Jibril ‘alaihissalam fungsinya hanya sebagai penukil. Oleh karenanya, Jibril disebut sebagai utusan Allah, sebab tugasnya adalah hanya menyampaikan firman Allah ﷻ tanpa mengubahnya sedikit pun.

Hadits qudsi, maknanya datang dari Allah ﷻ, dan lafalnya dari Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karenanya, boleh bagi seseorang yang mengerti bahasa arab dengan baik dan kuat meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya. Adapun Al-Qur’an, harus sesuai dengan lafal yang ada di dalam Al-Qur’an, dan tidak boleh dengan makna. Walaupun berbeda cara periwayatannya, namun keduanya (Al-Qur’an dan hadits Qudsi) sama-sama disandarkan kepada Allah ﷻ.

Hadits biasa, lafalnya dari Rasulullah ﷺ dan maknanya dari Allah ﷻ, karena tidak ada satu pun yang keluar dari Rasulullah ﷺ melainkan wahyu dari Allah ﷻ. Namun yang membedakan dengan hadits qudsi, pada hadits biasa ini Rasulullah ﷺ tidak pernah menyandarkannya kepada Allah c.

At-Thibi rahimahullah berkata,

الْقُرْآن هُوَ اللَّفْظُ الْمُنَزّل بِهِ جِبْرِيل، عَلَيْهِ السَّلَامُ، عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْإِعْجَازِ، وَالْقُدْسِيُّ إِخْبَارُ اللهِ رَسُوْلَهُ مَعْنَاهُ باِلإِلْهَامِ أَوْ بِالْمَنَامِ، فَأخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ بِعِبَارَةِ نَفْسِهِ، وَسَائِرُ الْأَحَادِيثِ لَمْ يُضِفْهُ إِلَى اللهِ وَلَمْ يَرْوِهِ عَنْهُ.

“Al-Qur’an adalah lafal Allah yang diturunkan melalui Jibril ‘alaihissalam kepada Rasulullah untuk i’jaz (sebagai mukjizat). Adapun hadits qudsi adalah Pengabaran Allah kepada Rasul-Nya dengan ilham atau dengan mimpi, lalu Rasulullah mengabarkan kepada umatnya dengan ungkapan dari diri beliau . Adapun semua hadits (selain hadits qudsi) maka beliau tidak menyandarkannya kepada Allah dan tidak pula beliau meriwayatkan dari Allah .” ([15])

Apa Isi kitab-kitab suci itu?

Secara umum semua kitab-kitab suci sepakat dalam masalah tauhid, akhlak, dan hari kiamat([16]). Adapun tentang syariat (perincian hukum-hukum) maka berbeda-beda. Rasulullah ﷺ bersabda,

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Aku adalah orang yang paling berhak dengan ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam di dunia maupun di akhirat, dan para nabi adalah saudara satu ayah, ibu mereka berbeda-beda, dan agama mereka satu (fondasi agama -tauhid-)“ ([17])

Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah berkata,

وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ أَصْلَ دِينِهِمْ وَاحِدٌ وَهُوَ التَّوْحِيدُ وَإِنِ اخْتَلَفَتْ فُرُوعُ الشَّرَائِعِ

“Makna hadits ini adalah sesungguhnya pokok agama kami satu yaitu tauhid, meskipun perincian syariat kami berbeda-beda.” ([18])

Kita tidak mengetahui seluruh isi dari kitab-kitab suci, namun sebagian isi kitab-kitab tersebut ada yang sampai kepada kita melalui jalur yang sahih (baik dikabarkan oleh Al-Qur’an atau hadits Nabi Muhammad ﷺ).

Kitab suci tentunya banyak. Hal ini bisa diketahui dengan melihat jumlah para rasul yang di utus oleh Allah ﷻ yaitu sekitar 315, yang tentu banyak dari mereka diberikan kitab oleh Allah ﷻ. Walaupun begitu, ternyata tidak semua kabar tentang kitab-kitab tersebut sampai kepada kita. Selain Al-Qur’an hanya 4 kitab yang sampai kabarnya kepada kita.

  1. Suhuf Ibrahim ‘alaihissalam. Ada sebagian isi Suhuf Ibrahim ‘alaihissalam yang sampai kepada kita sebagaimana dikabarkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya,

إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى، صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى

“Sesungguhnya yang demikian itu sudah ada di dalam kitab-kitab terdahulu, pada lembaran-lembaran yang diturunkan kepada Ibrahim ‘alaihissalam dan Musa ‘alaihissalam.” (QS. Al-A’la : 17-18)

Di sini, Allah ﷻ menyebutkan bahwa firman Allah ﷻ tentang keberuntungan orang-orang yang mensucikan diri mereka, dan firman Allah ﷻ bahwa akhirat itu lebih utama daripada dunia, sudah ada di dalam kitab terdahulu.

Allah ﷻ juga berfirman,

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى، وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى، أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى، وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Bukankah sudah pernah dikabarkan di dalam Suhuf Musa ‘alaihissalam, dan begitu juga pada Suhuf Ibrahim ‘alaihissalam yang telah menyampaikan apa isinya, bahwa sesorang itu tidaklah menanggung dosa yang diperbuat oleh orang lain, dan bahwa manusia tidak akan mendapatkan balasan kecuali dari apa yang dia perbuat.” (QS. An-Najm: 36-39)

  1. Taurat. Sebenarnya, Taurat juga Suhuf (Suhuf Musa ‘alaihissalam), dan Taurat juga disebut Al-Alwah (lembaran-lembaran). Allah ﷻ berfirman,

صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى

“Lembaran-lembran Ibrahim dan Musa ‘alaihissalam.” (QS. Al-A’la: 18)

Allah ﷻ juga berfirman,

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ

“Dan kami telah tulis untuknya dai dalam Alwah (lembaran-lembaran) segala nasihat dan segala perincian.” (QS. Al-A’raf : 145)

Di antara isi Taurat yang sampai kepada kita adalah:

  • Hukum Qishosh. Allah ﷻ berfirman:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ

“Dan kami tetapkan bagi mereka bahwa siapa saja yang membunuh maka dibalas bunuh, dan mata dibalas dengan mata, dan hidung dibalas dengan hidung, dan telinga dibalas dengan telinga, dan gigi dibalas dengan gigi, dan setiap luka maka ada qishoshnya.” (QS. Al-Maidah: 45)

  • Yang telah kita sebutkan di dalam Suhuf Ibrahim ‘alaihissalam.
  • Penyebutan nama Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

“Dan orang-orang yang mengikuti rasul yang ummy (tidak bisa membaca dan menulis) yang mereka dapati tertulis di sisi mereka di dalam Taurat dan Injil.” (QS. Al-A’raf: 157)

  • Penyebutan sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ

“Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya mereka itu keras kepada orang-orang kafir dan sangat menyayangi sesama mereka, engkau melihat mereka selalu ruku dan sujud, mereka mengharap keutamaan dari Allah dan keridaannya, ciri khas mereka ada pada wajah-wajah mereka dari atsar (bekas) sujud. Demikianlah permisalan mereka di dalam Taurat.” (QS. Al-Fath: 29)

  • Hukum rajam bagi yang berzina. Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma menuturkan,

أَنَّ اليَهُودَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرُوا لَهُ أَنَّ رَجُلًا مِنْهُمْ وَامْرَأَةً زَنَيَا، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا تَجِدُونَ فِي التَّوْرَاةِ فِي شَأْنِ الرَّجْمِ». فَقَالُوا: نَفْضَحُهُمْ وَيُجْلَدُونَ، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ: كَذَبْتُمْ إِنَّ فِيهَا الرَّجْمَ فَأَتَوْا بِالتَّوْرَاةِ فَنَشَرُوهَا، فَوَضَعَ أَحَدُهُمْ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرَّجْمِ، فَقَرَأَ مَا قَبْلَهَا وَمَا بَعْدَهَا، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ: ارْفَعْ يَدَكَ، فَرَفَعَ يَدَهُ فَإِذَا فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ، فَقَالُوا: صَدَقَ يَا مُحَمَّدُ، فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ، فَأَمَرَ بِهِمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَا، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَجْنَأُ عَلَى المَرْأَةِ يَقِيهَا الحِجَارَةَ “

“Suatu kali orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah lalu mereka menyampaikan bahwa ada seorang laki-laki dari kalangan mereka dan seorang wanita berzina. Lalu Rasulullah bertanya kepada mereka, ‘Apa yang kalian dapatkan dalam Kitab Taurat tentang permasalahan hukum rajam?’. Mereka menjawab, ‘Kami mempermalukan (membeberkan aib) mereka dan mencambuk mereka’. Maka Abdullah bin Salam berkata, ‘Kalian berdusta. Sesungguhnya di dalam Kitab Taurat ada hukuman rajam. Maka mereka pun menghadirkan kitab Taurat dan mereka membacanya, lalu salah seorang di  antara mereka meletakkan tangannya di atas ayat rajam. Kemudian Abdullah bin Salam berkata, ‘Angkatlah tanganmu!’. Maka orang itu mengangkat tangannya, dan ternyata ada ayat tentang rajam di sana, hingga akhirnya mereka berkata, ‘Dia benar, wahai Muhammad. Di dalam Taurat ada ayat tentang rajam’. Maka Rasulullah memerintahkan kedua orang yang berzina itu agar dirajam. Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, ‘Dan kulihat laki-laki itu melindungi wanita tersebut agar tidak terkena lemparan batu’.”([19])

  1. Zabur. Kaidah: “Nabi-nabi yang datang setelah Musa ‘alaihissalam semuanya berhukum dengan Taurat”. Lalu apa isi Zabur? Para ulama menjelaskan bahwa Zabur berisi pujian-pujian kepada Allah ﷻ. Qatadah rahimahullah berkata,

وآتَى دَاوُدَ زَبُوْرًا، كُنَّا نُحَدَّثُ دُعَاءٌ عُلِّمَهُ دَاوُدُ، تَحْمِيْدٌ وَتَمْجِيْدٌ، لَيْسَ فِيْهِ حَلاَلٌ وَلاَ حَرَامٌ، وَلاَ فَرَائِضُ وَلاَ حُدُوْدٌ

“Allah memberikan Zabur kepada Dawud ‘alaihissalam. Kami dikabarkan bahwa Zabur adalah doa-doa yang diajarkan kepada Dawud ‘alaihissalam, berupa pujian dan pengagungan, tidak ada pada Zabur halal dan haram, tidak juga kewajiban-kewajiban dan hukum-hukum had.” ([20])

  1. Injil. Injil diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, dan Injil adalah kitab yang memansukhkan (menghapus) sebagian isi Taurat. Namun tidak semua isi Taurat dimansukhkan, hanya sedikit dari hukum Taurat. Oleh karenanya orang-orang Yahudi tidak mau beriman dengan Injil karena bagi mereka Taurat adalah harga mati, Taurat tidak boleh dimansukhkan. Allah ﷻ berfirman tentang ucapan ‘Isa ‘alaihissalam,

وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

“Dan sebagai Pembenar terhadap Taurat yang ada pada kalian, dan agar aku menghalalkan sebagian yang telah diharamkan kepada kalian sebelumnya, dan ku datang kepada kalian dengan ayat dari Rabb kalian, maka bertakwalah kalian dan taatilah aku” (Q.S. Ali ‘Imran:50)

Di antara isi Injil yang sampai kepada kita:

  • Penyebutan sahabat Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

“Dan permisalan mereka di dalam Injil adalah seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan penanamnya, karena Allah ingin membuat jengkel orang-orang kafir dengan mereka.”(QS Al-Fath: 29)

  • Terdapat penyebutan nama Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

“Dan tatkala ‘Isa bin Maryam berkata: “Wahai bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian sebagai pembenar terhadap Taurat yang berada di sisi kalian, dan pemberi kabar gembira dengan nabi yang akan datang nantinya yang bernama Ahmad (nama lain nabi Muhammad ).” (QS Ash-Shaff: 6)

Allah ﷻ juga berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

“Dan orang-orang yang mengikuti rasul yang ummy (tidak bisa membaca dan menulis) yang mereka dapati tertulis di sisi mereka di dalam Taurat dan Injil.” (QS Al-A’raf: 157)

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَأَمَّا وُرُوْدُهُ لِمَنْ هُوَ مُلْتَبِسٌ بِالْفِعْلِ فَلَا يَكُوْنُ الْمَطْلُوْبُ مِنْهُ إِلَّا أَمْرًا مُتَجَدِّدًا وَهُوَ إِمَّا الاسْتِدَامَةُ وَإِمَّا تَكْمِيْلُ الْمَأْمُوْرِ بِهِ نَحْوُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ}

“Adapun datangnya fiíl amr (perintah) kepada orang yang sudah melakukannya (melakukan apa yang diperintahkan tersebut), maka tidaklah dituntut darinya melainkan untuk melakukan sesuatu yang baru, mungkin untuk terus istikamah dalam menjalankannya, atau mungkin untuk menyempurnakan hal yang dia diperintahkan dengannya. Seperti firman Allah ﷻ “Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kalian kepada Allah ﷻ dan rasul-Nya”. [Badai’u Al-Fawaid, Ibnul Qayyim (4/187)].

Berkata imam Ibnu Katsir rahimahullah,

يَأْمُرُ اللَّهُ تَعَالَى عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ بِالدُّخُولِ فِي جَمِيعِ شَرَائِعِ الْإِيمَانِ وَشُعَبِهِ وَأَرْكَانِهِ وَدَعَائِمِهِ، وَلَيْسَ هَذَا مِنْ بَابِ تَحْصِيلِ الْحَاصِلِ، بَلْ مِنْ بَابِ تَكْمِيلِ الْكَامِلِ وَتَقْرِيرِهِ وَتَثْبِيتِهِ وَالِاسْتِمْرَارِ عَلَيْهِ. كَمَا يَقُولُ الْمُؤْمِنُ فِي كُلِّ صَلَاةٍ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} أَيْ: بَصِّرنا فِيهِ، وَزِدْنَا هُدَى، وَثَبِّتْنَا عَلَيْهِ. فَأَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَبِرَسُولِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ}

“Allah ﷻ memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk masuk dalam seluruh syariat iman, baik cabang-cabang, rukun-rukun, dan tiang-tiang iman. Dan yang demikian bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang sudah ada, akan tetapi dia termasuk dalam bab menyempurnakan yang sempurna, menetapkannya, mengokohkannya, dan istikamah di atasnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang beriman di dalam salat mereka, “Berilah kami petunjuk jalan yang lurus”. Yaitu, berilah kami petunjuk di dalamnya dan tambahlah hidayah untuk kami, dan kokohkanlah kami di atasnya. Maka Allah memerintahkan mereka untuk beriman kepada-Nya c dan rasul-Nya. Begitu juga firman Allah ﷻ (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah ﷻ dan berimanlah kalian kepada rasul-Nya” [Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, (2/434)]

([2]) Allah ﷻ berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Tidakkah mereka mentadaburi dan merenungi Al-Qur’an? Kalaulah Al-Qur’an itu bukan dari Allah ﷻ maka sungguh pasti mereka akan menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa’: 82)

Di dalam ayat ini, Allah ﷻ telah memberikan ciri khas buatan manusia, yaitu “Banyaknya pertentangan manusia di dalamnya”.

([3]) Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَالسُّدَى: الَّذِيْ لَا يُؤْمَرُ وَلَا يُنهَى

As-Suda adalah: Tidak diperintah dan tidak dilarang” [Ar-Risalah, As-Syafi’i (21)].

([4]) Lihat: Mu’jam Maqayis Al-Lughah, Ibnu Faris, (5/158).

([5]) HR Al-Bukhari no 6614 dan Muslim no 2652

([6]) HR Abu Daud no 4710, Ibnu Majah no 80, Al-Firyabi di al-Qodr no 116, Ibnu Khuzaimah di At-Tauhid 1/120, Ibnu Mandah di at-Tauhid 2/77 no 213, Al-Baihaqi di al-Asmaa’ wa as-Shifaat no 415, Abu ‘Awanah di al-Mustakhroj 10/229 no 11613

([7]) Tafsir al-Baghowi 5/358

([8]) Lihat : Tafsir al-Baghowi 5/358

([9]) HR Al-Bukhari no 3417

([10]) Hidayatul Hayaro fi Ajwibat al-Yahud wa an-Nashoro, Ibnul Qoyyim 2/369

([11]) Yaitu seperti Allah langsung mewahyukan kepada qolbu Rasulullah tanpa mengirim malaikat.

([12]) Di balik tabir seperti ketika Allah berbicara langsung kepada nabi Musa álaihis salam

([13]) Seperti Allah mengirim malaikat Jibril untuk menyampaikan firman Allah.

([14]) Pernyataan mereka ini telah penulis sanggah -dengan lebih mendalam- di Disertasi penulis yang berjudul نَقْضُ اِسْتِدْلاَلاَتِ دُعَاةِ التَّعَدُّدِيَّةِ الدِّيْنِيَّةِ بِالنُّصُوْصِ الشَّرْعِيَّةِ “Membantah argumentasi para dai pluralisme yang berdalil dengan nas-nas syar’i.”

([15]) Sebagaimana dinukil di ‘Umdah Al-Qari, Al-‘Aini, (10/259).

([16]) Ibnul Qoyyim berkata :

الأُصُوْلُ الثَّلاَثَةُ الَّتَي اتَّفَقَ عَلَيْهَا جَمِيْعُ الْمِلَلِ وَجَاءَتْ بِهَا جَمِيْعُ الرُّسُلِ وَهِيَ الِإيْمَانُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، قال الله تعالى: {إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}

“Tiga pokok yang disepakati oleh seluruh agama dan dibawa oleh seluruh Rasul adalah beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, dan beramal shalih. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS Al-Baqoroh : 62)” (As-Shawaiq al-Mursalah, Ibnul Qoyyim 3/1096)

([17]) HR. Bukhari, No. 3443.

([18]) Fath Al-Bari (6/489).

([19]) HR. Bukhari No. 3635 dan Muslim No.1699.

([20]) Tafsir At-Thabari (17/470).