Sempurnanya Sifat Allah Dan Syubhatnya – Al-Asma’ wa Ash-Shifat (4)

Sempurnanya Sifat Allah ﷻ Dan Syubhatnya

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Sebagaimana yang kita ketahui  bahwa Allah ﷻ memperkenalkan diri-Nya dalam Al-Qur’an hampir dalam setiap lembarannya. Di dalamnya Allah ﷻ menyebutkan nama-nama-Nya. Setiap nama Allah ﷻ mengandung sifat-sifat-Nya. Dengan semakin seseorang  mengenal nama-nama Allah ﷻ dan sifat-sifat-Nya maka dia akan semakin bertakwa kepada Allah ﷻ, sebagaimana yang diungkapkan oleh para salaf,

وَمَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفَ؛ كَانَ مِنْهُ أَخْوَفَ

“barang siapa yang semakin mengenal Allah maka dia akan semakin takut kepada Allah .” ([1])

Syaikh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahumallah berkata,

وَكُلَّمَا كَانَ العَبْدُ بِاللهِ أَعْرَف كَانَ لِعِبَادَتِهِ أَطْلَب، وَعَن مَعصِيَتِهِ أَبْعَد

“ketika seorang hamba lebih mengenal Allah maka dia juga akan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah dan semakin jauh dari berbuat maksiat kepada-Nya.” ([2])

Barang siapa yang lebih mengenal Allah ﷻ maka akan semakin mudah baginya untuk khusyuk di dalam salat. Semakin mudah baginya untuk merasakan kelezatan manisnya iman ketika beribadah kepada Allah ﷻ. Hal ini dikarenakan dia tahu siapa yang dia sembah. Sungguh benar pepatah orang Indonesia “tak kenal maka tak sayang”. Oleh karena itu hendaknya seseorang berusaha untuk mengenal sifat-sifat Allah ﷻ. Semakin banyak sifat-sifat Allah ﷻ yang dia pelajari, yang dia yakini, dan yang dia pahami maka dia akan semakin mengagungkan Allah ﷻ.

Kita tahu bahwasanya sifat-sifat Allah ﷻ semuanya adalah maha sempurna. Oleh karenanya ketika orang-orang musyrikin mendatangi Nabi Muhammad ﷺ kemudian berkata,

صِفْ لَنَا رَبّكَ

“berikanlah kepada kami sifat-sifat tuhanmu.” ([3])

Turunlah surat Al-Ikhlas kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Surat ini disebut dengan Al-Ikhlas (murni) karena kandungan dari surat ini adalah murni untuk menjelaskan sifat-sifat Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ،  لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah , Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah ) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Maksud dari Allah الصَّمَدُ adalah Allah ﷻ maha sempurna dari segala sisi. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu menjelaskan tentang الصَّمَدُ dengan perkataan beliau,

السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدَدِهِ، وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ، وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ عَظُمَ فِي عَظَمَتِهِ، وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ، وَالْغَنِيُّ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي غِنَاهُ، وَالْجَبَّارُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي جَبَرُوتِهِ، وَالْعَالِمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ، وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ، وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدَدِ، وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ

“Dialah pemimpin yang sempurna dalam kepemimpinan-Nya, Dialah yang mulia yang sempurna dalam kemulian-Nya, Dialah yang agung yang sempurna keagungan-Nya, Dialah yang lembut yang sempurna kelembutan-Nya, Dialah yang kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Dialah yang Maha Kuasa yang sempurna kekuasaan-Nya, Dialah maha mengetahui yang sempurna dalam ilmu-Nya, Dialah yang maha bijak yang sempurna dalam kebijakan-Nya, Dialah yang telah sempurna di segala macam kemuliaan dan kepemimpinan-Nya, Dialah Allah , inilah sifat-Nya yang tidak pantas kecuali hanya untuk Dia.” ([4])

Inilah surat yang turun khusus untuk menjelaskan  kesempurnaan sifat-sifat Allah ﷻ. Karena begitu agungnya surat Al-Ikhlas sampai Rasulullah ﷺ  menyatakan  siapa yang membaca  surat Al-Ikhlas maka dia seakan-akan telah membaca sepertiga Al-Qur’an. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka mengatakan, ”Bagaimana kami bisa membaca seperti Al-Qur’an?” Lalu Nabi Muhammad  bersabda, ”Qul huallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” ([5])

Mengapa disebut sepertiga Al-Qur’an? Karena dia spesifik membahas sifat-sifat Allah ﷻ, sehingga surat tersebut menjadi agung. Sama seperti ayat kursi, Nabi Muhammad ﷺ bersabda ketika bertanya kepada seorang sahabat,

«يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟» قَالَ: قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟» قَالَ: قُلْتُ: {اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} قَالَ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ: «وَاللهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ»

“Hai Abu Mundzir! tahukah kamu, ayat manakah di antara ayat-ayat Al-Qur`an yang ada padamu yang paling utama?” Abu Mundzir berkata; saya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bertanya lagi: “Hai Abu Mundzir, tahukah kamu, ayat manakah di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang ada padamu yang paling utama?” Abu Mundzir berkata, Saya menjawab, “ALLAHU LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUM.” Abu Mundzir berkata, lalu beliau menepuk dadaku seraya bersabda: “Demi Allah , semoga dadamu dipenuhi dengan ilmu, wahai Abu Mundzir.” ([6])

Ayat kursi dikatakan ayat yang paling agung dikarenakan semuanya berisi tentang pengagungan kepada Allah ﷻ dari sifat-sifat-Nya dan kemahaan-Nya. Allah ﷻ berfirman,

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah , tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Surat Al-Ikhlas menjadi sepertiga Al-Qur’an dan ayat Al-Kursi menjadi ayat teragung di dalam Al-Qur’an karena keduanya bercerita tentang keagungan Allah ﷻ. Oleh karenanya, seseorang jika merenungkan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ maka dia akan mendapatkan pahala yang tinggi. Jangan sampai kita hanya sekedar membaca dengan melewatinya begitu saja. Hendaknya kita merenungkan ketika membaca tentang ayat-ayat di mana Allah ﷻ menceritakan dan mengenalkan tentang diri-Nya. Kita harus berusaha untuk mengenal diri-Nya, karena Allah ﷻ menciptakan alam semesta ini agar kita tahu keagungan-Nya. Allah ﷻ berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Talaq: 12)

Hendaknya kita mempelajari tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ karena ini adalah ilmu yang agung. Kita tahu bahwasanya sifat Allah ﷻ adalah sifat yang sempurna, sehingga kita selalu menggunakan kata “maha”. Ketika manusia memiliki sifat mendengar dan melihat maka Allah ﷻ memiliki sifat maha mendengar dan maha melihat. Antara Allah ﷻ dan manusia sama-sama memiliki sifat melihat dan mendengar dari segi makna, akan tetapi untuk Allah ﷻ kita tambahkan dengan memberikan kata “maha” karena sifat Allah ﷻ maha agung.

Jika kita kembali kepada makna الصَّمَدُ, maka Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan maknanya,

السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدَدِهِ، وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ، وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ عَظُمَ فِي عَظَمَتِهِ، وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ، وَالْغَنِيُّ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي غِنَاهُ، وَالْجَبَّارُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي جَبَرُوتِهِ، وَالْعَالِمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ، وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ، وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدَدِ، وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ

“Dialah pemimpin yang sempurna dalam kepemimpinan-Nya, Dialah yang mulia yang sempurna dalam kemuliaan-Nya, Dialah yang agung yang sempurna keagungan-Nya, Dialah yang lembut yang sempurna kelembutan-Nya, Dialah yang kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Dialah yang Maha Kuasa yang sempurna kekuasaan-Nya, Dialah maha mengetahui yang sempurna dalam ilmu-Nya, Dialah yang maha bijak yang sempurna dalam kebijakan-Nya, Dialah yang telah sempurna di segala macam kemuliaan dan kepemimpinan-Nya, Dialah Allah subhanahu, inilah sifat-Nya yang tidak pantas kecuali hanya untuk Dia.” ([7])

Tafsir Ibnu Abbas ini menjelaskan bahwasanya antara Allah ﷻ dan manusia memiliki sifat-sifat yang sama akan tetapi Allah ﷻ memiliki sifat yang paling sempurna. Seperti yang disebutkan di atas tentang sifat-sifat Allah ﷻ seperti sifat ilmu, keagungan, dan kemuliaan. Maka kita katakan bahwasanya manusia juga memiliki sifat-sifat tersebut. Contohnya sifat agung manusia, di mana Nabi rahimahullah ketika menulis surat kepada Heraklius beliau menulis,

مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ

“dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraklius pembesar Romawi.” ([8])

Dari sini kita dapati manusia disifati dengan agung dan Allah ﷻ juga disifati dengan agung. Akan tetapi keagungan Allah ﷻ maha sempurna. Kita tahu bahwa sifat-sifat Allah ﷻ seluruhnya maha sempurna. Kita ambil contoh “sifat mendengar”. Pendengaran kita terbatas, kita hanya bisa mendengar pada frekuensi tertentu adapun pada frekuensi yang lebih tinggi maka kita tidak mampu untuk mendengar. Ada suara-suara yang tidak mampu untuk kita dengar namun bagi sebagian hewan-hewan bisa didengar. Kita tidak mampu  untuk mendengar suara yang sangat jauh. Kita tidak kuat mendengar suara yang melengking. Oleh karenanya di antara yang menyebabkan manusia meninggal pada hari kiamat adalah tiupan sangkakala yang sangat besar. Hal ini dikarenakan pendengaran manusia tidak mampu untuk mendengarnya. Allah ﷻ berfirman,

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia pada hari kiamat akan mati dikarenakan suara yang sangat keras. Termasuk contoh yang menjelaskan tentang terbatasnya pendengaran manusia adalah jika ada 10 orang yang bersuara secara bersamaan maka kita tidak bisa menangkap isi semua pembicaraan, karena suara tersebut tercampur baur. Walaupun kita memang mendengar suara-suara tersebut akan tetapi kita tidak mampu untuk menguasainya. Kita mampu mendengar karena pada asalnya kita diciptakan bisa mendengar, Allah ﷻ berfirman,

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا. إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan:1-2)

Inilah pendengaran manusia, Allah ﷻ menjadikan manusia mendengar dan melihat akan tetapi pendengaran dan penglihatannya terbatas. Berbeda dengan pendengaran dan penglihatan Allah ﷻ yang tanpa batas.

Bayangkan ketika di musim Arafah yaitu di musim haji, di mana manusia yang berjumlah mungkin sekitar 3 sampai 4 juta orang dan semuanya menengadahkan tangan ke langit berdoa kepada Allah ﷻ dengan berbagai macam permintaan, dengan berbagai macam permohonan, dan dengan berbagai macam bahasa, akan tetapi semuanya bisa di dengar oleh Allah ﷻ dalam satu waktu. Allah ﷻ maha mendengar suara makhluk-makhluk-Nya di mana pun. Bahkan suara hati pun Allah ﷻ dapat mendengarnya.

Ini semua menjadi contoh di mana Allah ﷻ dan makhluk-Nya sama-sama memiliki sifat yang sama. Akan tetapi sifat Allah ﷻ maha agung sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas radhillahu ‘anhuma pada kata Ash-Shamad. Manusia memiliki sifat agung maka Allah ﷻ memiliki sifat yang lebih agung. Manusia memiliki sifat ilmu maka Allah ﷻ maha berilmu. Manusia memiliki sifat mulia maka Allah ﷻ memiliki sifat lebih mulia. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ berusaha untuk mendekatkan pemahaman ini. Contohnya ketika Nabi membacakan ayat,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا، وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالعَدْلِ، إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Nabi Muhammad ﷺ memberikan isyarat dengan kedua jarinya kepada mata dan telinganya([9]). Ini menunjukkan bahwasanya Allah ﷻ benar-benar melihat dan mendengar. Akan tetapi dibandingkan dengan pendengaran dan penglihatan manusia maka pendengaran dan penglihatan Allah ﷻ maha sempurna. Berbeda dengan pendengaran dan penglihatan kita yang terbatas.

Demikian juga ketika Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan sifat rahmat, di mana Allah ﷻ dan manusia sama-sama memiliki sifat kasih sayang. Akan tetapi kasih sayang Allah ﷻ jika dibandingkan dengan kasih sayang manusia maka sungguh jauh berbeda. Suatu hari Nabi Muhammad ﷺ melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya, kemudian mencari-carinya. Ketika ia mendapatkan anaknya maka ia memeluk dan menyusuinya. Ini adalah bentuk kasih sayang tertinggi di alam semesta, yaitu kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi terhadap anak yang baru ditemukan yang sebelumnya hilang, maka itulah puncak dari kasih sayang.  Ketika Nabi Muhammad ﷺ melihat suasana seperti ini maka beliau ﷺ berkata kepada para sahabat,

أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟ قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah , tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah rahimahullah berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” ([10])

Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwasanya rahmat Allah ﷻ lebih agung dari manusia. Manusia memiliki sifat rahmat begitu juga Allah ﷻ, akan tetapi rahmat Allah ﷻ lebih agung dari rahmat manusia. Ini semua berlaku pada setiap sifat-sifat Allah ﷻ. Contoh lainnya ketika Nabi menggambarkan tentang kegembiraan Allah ﷻ, yaitu ketika seseorang  yang berjalan di tengah padang pasir dengan untanya,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً، فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا، قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ “

“Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat salah seorang dari kalian tatkala ia bertobat kepada-Nya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada di atas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut  lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. Ia pun putus asa untuk mendapatkan untanya. Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring di bawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa. Di tengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri di dekatnya. Segera ia pun mengambil tali ontanya seraya berkata lantaran sangat gembira: “wahai Allah kamu adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu” keliru berucap karena terlalu gembira” ([11])

Hamba ini gembira dengan kegembiraan yang sangat luar biasa, dia merasa akan segera mati namun tiba-tiba diberikan kesempatan untuk hidup. Maka kegembiraan Allah ﷻ lebih dari kegembiraan hamba ini

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ

“Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat salah seorang dari kalian tatkala ia bertobat kepada-Nya”

Jadi Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat gembira, sayang, melihat, dan mendengar. Semua ini Rasulullah ﷺ jelaskan agar kaum muslimin bisa menerima dan memahaminya. Akan tetapi perbedaan antara sifat makhluk dengan sifat Allah ﷻ adalah semua sifat Allah ﷻ itu “maha”. Para sahabat juga dahulu memahami ini semua, ketika dijelaskan tentang sifat Allah ﷻ maka  tidak kemudian timbul pertanyaan dari benak mereka. Mereka tidak mengatakan “jika Allah ﷻ bisa melihat, lalu bagaimana cara melihat-Nya?”. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan demikian. Mereka juga tidak ada yang mengatakan “jika Allah ﷻ mendengar berarti Allah ﷻ memiliki telinga dan lainnya”. Mereka juga tidak mengatakan “jika Allah ﷻ berbicara apakah Allah ﷻ memiliki pita suara dan lainnya?”. Para sahabat tidak pernah bertanya tentang kaifiah sifat Allah ﷻ, karena mereka tahu itu bukanlah urusan mereka. Namun mereka semua tahu bahwasanya Allah ﷻ berbicara, melihat, mendengar, menyayangi, gembira, dan yang lainnya. Ini semua dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ untuk menekankan kepada kita bahwasanya Allah ﷻ memiliki sifat-sifat yang sifat-sifat tersebut menunjukkan keagungan Allah ﷻ. Semakin banyak sifat yang kita ketahui maka semakin kita mengerti tentang Allah ﷻ, seperti Allah ﷻ memiliki sifat marah, magfirah, dan memaafkan yang ini semua adalah sifat-sifat Allah ﷻ.

Lalu datanglah Ahli Bidah yang mereka tidak bisa menerima sifat-sifat Allah ﷻ. Logika mereka tidak sampai  untuk menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ. Mereka memiliki syarat Tuhan yang ini memiliki pembahasan yang sangat panjang. Inti dari kesimpulannya adalah karena mereka tenggelam pada ilmu filsafat, mereka mempelajari buku Aristoteles, Plato, dan buku-buku filsafat lainya yang kemudian membuat mereka terjebak dalam syubhat ahli filsafat. Akhirnya mereka mengatakan bahwasanya Tuhan memiliki syarat, syarat Tuhan harus statis dan tidak boleh mengalami perubahan sama sekali. Ini disampaikan oleh Plato dalam bukunya The Laws Of Plato yang kemudian juga disampaikan oleh Aristoteles. Dengan syubhat logika mereka, mereka mengatakan bahwa Tuhan harus statis tidak boleh ada gerakan atau perubahan sama sekali.

Lalu bagaimana sikap mereka terhadap sifat-sifat yang telah disebutkan di atas? Mereka bingung dalam menghadapi sifat-sifat tersebut. Seperti sifat melihat, maka sifat melihat butuh kepada objek yang dilihat, sedangkan objek yang dilihat berubah-ubah. Contohnya Allah ﷻ meliat kita dan kita bergerak-gerak, maka ini menunjukkan bahwa objek yang dilihat Allah ﷻ berubah-ubah sehingga penglihatan Allah ﷻ mengalami perubahan. Mereka menolak hal yang seperti ini dan mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan penglihatan Allah ﷻ adalah ilmu Allah ﷻ, yaitu Allah ﷻ mengetahui tentang yang terlihat. Jadi mereka terjebak dengan logika bahwasanya Tuhan harus statis, tidak boleh dinamis, tidak boleh mengalami perubahan, dan tidak boleh ada heterogen pada zat Allah ﷻ. Mereka terjebak pada syubhat mereka yang syubhat tersebut dijadikan sebagai syarat Tuhan. Entah dari mana mereka mendatangkan syarat tersebut? Mengapa juga Tuhan harus mengikuti syarat mereka?

Begitu juga pada sifat mendengar, Ahlusunah mengimani bahwasanya Allah ﷻ maha mendengar. Allah ﷻ berfirman,

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1)

Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan  وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا “dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua” antara Nabi Muhammad ﷺ dengan wanita yang sedang mengadukan suaminya. Ketika mereka sedang berbicara maka Allah ﷻ sedang mendengarnya. Akhirnya ayat ini membuat mereka kembali bingung, jika Allah ﷻ mendengar maka ada objek yang didengar sedangkan suara berubah-ubah. Lalu bagaimana cara mereka menggabungkan hal ini dengan sifat Allah ﷻ sedangkan sifat Allah ﷻ menurut mereka harus statis dan tidak boleh mengalami perubahan. Mereka pun mengatakan bahwa tidak ada sifat mendengar bagi Allah ﷻ dan yang ada hanya sifat mengetahui sesuatu yang terdengar. Mereka menakwil sifat mendengar dan melihat kepada ilmu. Hal inilah yang menyebabkan kebingungan, karena hal ini tidak bisa dipahami oleh masyarakat umum. Ini hanya dilakukan oleh orang Asya’irah yang terjebak di dalam filsafat yang mereka sendiri tidak paham akan akidah mereka. Jika mereka ingin mengabarkan  kepada masyarakat maka masyarakat hanya bertambah bingung.

Akidah Islam yang sesungguhnya sangat mudah dan logis tidak sesulit akidah mereka yang aneh. Allah ﷻ menyebutkan diri-Nya melihat dan mendengar maka ini berbeda dengan ilmu. Ilmu mewakili sifat tertentu, mendengar sifat tertentu, dan mendengar mewakili sifat tertentu. Bagaimana mungkin kemudian mendengar dan melihat ditakwil menjadi sifat ilmu? Ini semua dikarenakan otak mereka yang tidak bisa memahami hal ini dengan membuat Tuhan harus memiliki syarat statis.

Contoh lainnya adalah sifat rahmat (kasih sayang), mereka tidak bisa menerima Allah ﷻ memiliki sifat rahmat, karena menurut mereka sifat rahmat adalah kecenderungan hati dan lainnya sehingga mereka menolak sifat rahmat. Mereka menakwil sifat rahmat dengan iradah (berkehendak) untuk berbuat baik kepada makhluk-Nya. Hal ini dikarenakan mereka hanya menetapkan 7 sifat saja, adapun sifat-sifat lainnya mereka takwilkan kepada 7 sifat tersebut karena menurut mereka hanya 7 sifat ini yang masuk  logika mereka. Intinya mereka membuat syarat untuk Tuhan dan syarat tersebut mereka pertahankan. Sifat-sifat yang tidak sesuai dengan syarat tersebut mereka takwilkan. Adapun kita tidak seperti itu dan kita semua mengetahui makna kasih sayang. Juga Rasulullah ﷺ telah menjelaskan ketika seorang ibu yang menyayangi anaknya maka kasih sayang Allah ﷻ lebih besar dari pada kasih sayang ibu kepada anaknya. Itu semua benar, karena terkadang kita dapati sebagian ibu tidak memaafkan anaknya yang meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Adapun Allah ﷻ maka sebesar apa pun seorang hamba melakukan kemaksiatan jika dia memohon maaf kepada Allah ﷻ maka Allah ﷻ akan memaafkannya. Allah ﷻ lebih rahmat dari seorang ibu kepada anaknya. Akan tetapi ketika kita memasuki koridor ahli bidah kita dapati mereka tidak bisa menerima Allah ﷻ memiliki sifat kasih sayang disebabkan syubhat-syubhat yang mereka miliki.

Contoh berikutnya adalah sifat ketinggian Allah ﷻ, Allah ﷻ berfirman,

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Tinggi berbeda dengan agung. Tinggi mewakili atribut tersendiri dan agung mewakili atribut tersendiri. Ketika seorang dari ahli bidah mengatakan bahwa tinggi sama dengan agung maka tidak ada bedanya antara tinggi dan agung, padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Allah ﷻ membedakan kedua hal tersebut dalam firman-Nya,

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Ini menunjukkan bahwa antara tinggi dan agung ada perbedaan. Kemudian mereka dengan logika mereka mengatakan bahwa Allah ﷻ tidak di atas, tidak di bawah, tidak bisa ditunjuk, tidak di mana-mana, dan lainnya. Semua hadis-hadis dan ayat-ayat mereka takwil. Ini semua dikarenakan mereka terjebak di dalam  syubhat filsafat yang mengatakan Allah ﷻ statis dan tidak boleh mengalami perubahan. Dari syubhat ini muncul syubhat-syubhat berikutnya yang tentunya tidak lebih logis lagi.

Jadi intinya kita sebagai Ahlusunah meyakini bahwasanya Allah ﷻ memiliki sifat yang banyak. Semakin kita mengenal sifat-sifat Allah ﷻ maka kita semakin sayang dan semakin cinta kepada Allah ﷻ dan juga semakin membuat kita mengagungkan Allah ﷻ. Sifat-sifat Allah ﷻ masing-masing memiliki makna tersendiri. Para ulama menjelaskan secara detail tentang sifat-sifat tersebut, seperti membedakan antara sifat al-maghfiah dan al-‘afwu, antara sifat al-qawi dan al-matin. Karena sangat detailnya sifat-sifat Allah ﷻ maka para ulama pun membahasnya. Sementara ahli bidah hanya mengakui 7 sifat saja yaitu al-‘ilmu, al-iradah, as-sama’, al-basar, al-hayat, al-kalam, dan qudrah. Hanya 7 sifat ini saja yang mereka yakini. Di luar dari 7 sifat ini di mana selain dari 7 sifat ini sangat banyak maka mereka takwil kepada 7 sifat ini. Seperti hal-hal yang mereka tidak pahami maka mereka kembalikan kepada sifat ilmu atau sifat iradah misalnya.

Syubhat-Syubhat Ahli Bidah

Syubhat pertama: Allah ﷻ harus statis dan tidak boleh dinamis, jika Allah ﷻ tidak statis dan mengalami sesuatu yang baru pada zat Allah ﷻ berarti Allah ﷻ makhluk.

Jawaban:

Pertama: Justru ketika mengatakan Allah ﷻ harus statis maka ini menghilangkan maha kekuasaan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj: 16)

Ahlusunah meyakini sifat-sifat Allah ﷻ semuanya sudah ada sejak azali. Berbeda dengan manusia yang belum bisa melihat, mendengar, dan berbicara ketika dilahirkan. Manusia baru bisa melihat, mendengar, dan berbicara setelah beberapa waktu kemudian. Ini menunjukkan sifat berbicara manusia datang belakangan. Allah ﷻ sejak zaman azali sudah sempurna zat dan sifat-sifat-Nya. Adapun kapan Allah ﷻ ingin mendengar dan bicara maka ini bukanlah suatu kekurangan. Justru ini menunjukkan kesempurnaan Allah ﷻ. Sebagaimana manusia dikatakan pandai berbicara ketika ia bisa berbicara kapan pun dengan siapa pun. Begitu juga kita katakan Allah ﷻ Maha berbicara, sifat berbicara Allah ﷻ sudah ada sejak azali bersama dzat-Nya. Adapun permasalahan kapan Allah ﷻ berbicara, dengan siapa, dan dengan bahasa apa maka ini terserah Allah ﷻ.

Permasalahan ini tidak logis menurut mereka, mereka mengatakan jika Allah ﷻ berbicara berkonsekuensi ada huruf-huruf yang baru, bahasa baru, dan lainnya. Semua ini menurut mereka dinafikan dari Allah ﷻ. Lalu bagaimana pendapat mereka tentang Al-Qur’an? Menurut mereka Al-Qur’an bukan firman Allah ﷻ, sejak azali Allah ﷻ hanya memiliki kalam an-nafsi yaitu suatu kalam yang tidak akan pernah berubah dan selalu statis. Kalam an-nafsi ini selanjutnya dipahami oleh Jibril yang kemudian diterjemahkan dengan bahasa Jibril atau bahasa Nabi Muhammad ﷺ, sehingga menjadi Al-Qur’an. Menurut mereka Al-Qur’an bukanlah firman Allah ﷻ karena dia dinamis, contohnya ketika kita membaca sebuah ayat,

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ

“Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki).” (QS. An-Nahl: 57)

Maka terdapat banyak perubahan perbuatan (dalam pengucapan), yaitu pertama mengucapkan وَيَجْعَلُونَ baru kemudian لِلَّهِ, dan kata الْبَنَاتِ muncul belakangan setelah pengucapan لِلَّهِ. Semua perubahan ini ditolak oleh mereka, ini dikarenakan mereka terkena syubhat Aristoteles dan Plato yang mengatakan bahwasanya Allah ﷻ harus statis. Lalu menurut mereka Al-Qur’an perkataan siapa? Maka mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Nabi Muhammad ﷺ.

Ahlusunah sangat mudah dalam memahami masalah ini, Ahlusunah mengatakan Al-Qur’an adalah firman Allah ﷻ. Ahli bidah sulit untuk menerima ini, mereka mengafirkan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah firman Allah ﷻ. Bahkan penulis pernah mendapatkan fatwa dari sebagian mereka, seorang tokoh majelis ulama dari kota tertentu yang mengatakan dilarang belajar kepada Wahabi atau salat di belakang Wahabi. Fatwa ini muncul karena Wahabi mengatakan Allah ﷻ di atas dan Allah ﷻ berbicara dengan suara. Karena sebab Wahabi mengatakan Allah ﷻ berbicara dengan suara yang di dengar oleh Nabi Musa ‘alaihissalam dan berdialog dengan Nabi Muhammad ﷺ membuat mereka mengkafirkan Wahabi.

Kita katakan bahwa Allah ﷻ tidak statis, akan tetapi bukan berarti Allah ﷻ berasal dari sesuatu yang tidak ada kemudian menjadi ada. Allah ﷻ sudah ada sejak azali dengan sifat-sifat-Nya. Ketika Allah ﷻ memiliki sifat berbicara maka Allah ﷻ akan berbicara kapan saja, dengan topik apa saja, dan dengan siapa saja. Ini semua terserah Allah ﷻ.

Kedua: Ini adalah bantahan ahli filsafat kepada orang-orang Asya’irah. Ahli filsafat berkata, dahulu Allah ﷻ sendiri tanpa makhluk, jika Allah ﷻ statis maka jelaskan bagaimana proses penciptaan makhluk. Logikanya jika Allah ﷻ statis yaitu tidak ada sesuatu sebab yang baru sama sekali maka seharusnya tidak ada makhluk.

Adapun akidah Ahlusunah sangat mudah, Allah ﷻ sejak azali maha sempurna, dan ketika Allah ﷻ ingin menciptakan maka Allah ﷻ memiliki kehendak baru. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

Dalam ayat ini disebutkan “jika Allah ﷻ berkehendak” yang menunjukkan ada kehendak Allah ﷻ yang baru. Sifat kehendak Allah ﷻ azali, namun kehendak Allah ﷻ untuk melakukan sesuatu adalah sesuatu yang baru. Hal ini bukanlah suatu masalah, lalu mengapa mereka mempermasalahkan hal ini? Mengapa mereka mensyaratkan Tuhan harus tidak memiliki kehendak baru? Ini semua dikarenakan mereka terjebak oleh suatu pemikiran yang mereka anggap absolut dan tidak boleh diotak-atik, padahal pemikiran ini tidaklah absolut. Karena disebabkan mereka mengikuti pemikiran Aristoteles dan Plato akhirnya mereka menakwil kebanyakan ayat-ayat sifat.

Syubhat kedua: ketika kita menetapkan sifat wajah -misalnya- untuk Allah ﷻ maka kita telah menyerupakan Allah ﷻ dengan makhluk.

Jawabannya:

Pertama: Lafaz yang sama tidak mengharuskan hakikat yang sama. Kita katakan kepada mereka, “Allah ﷻ memiliki zat sama seperti kita. Apakah zat Allah ﷻ sama dengan zat kita? Tentu jawabannya berbeda. Jika zat Allah ﷻ berbeda dengan zat kita maka begitu juga wajah Allah ﷻ berbeda dengan wajah kita.

Kedua: jika mereka mengartikan wajah dengan zat. Maksudnya berupa majas yang menyebutkan sesuatu sebagai perwakilan dari seluruhnya. Seperti seseorang mengatakan, “saya belum melihat batang hidungnya’, maksudnya belum melihat seluruh jasadnya. Kita katakan kepada mereka bahwasanya jika kalian menganggap batang hidung mewakili zat tubuh seluruhnya maka kita sepakat dengan mereka. Namun majas ini tidak mungkin  terjadi kecuali kepada zat yang benar-benar memiliki wajah. Tidak boleh bagi kita menjadikan wajah sebagai perwakilan dari zat kecuali zat tersebut benar-benar memiliki wajah. Jika zat tersebut tidak memiliki wajah maka tidak bisa kita menjadikan wajah sebagai perwakilan dari zat. Contohnya kita mengatakan, “saya belum melihat batang hidung meja.” Maka ini tidak cocok karena meja tidak memiliki batang hidung. Ketika seseorang mengatakan wajah Allah ﷻ sebagai perwakilan dari zat Allah ﷻ maka ini menunjukkan Allah ﷻ memiliki wajah.

Contoh lainnya yang menunjukkan sebagian anggota tubuh sebagai majas adalah ungkapan ‘ringan tangan’ yang artinya mudah membantu. Tidaklah kita mengatakan seseorang ringan tangan kecuali memang dia memiliki tangan. Seandainya ada zat yang tidak memiliki tangan maka tidak mungkin kita menggunakan istilah tersebut untuknya. Contohnya kita  tidak mungkin mengatakan, “anjing itu ringan tangan.” Hal ini karena anjing tidak memiliki tangan walaupun anjing tersebut sering membantu majikannya.

Jika kita mengikuti takwil mereka yang mengatakan wajah adalah ibarat dari zat dan tangan adalah ibarat dari kedermawanan maka kita katakan ini semakin menunjukkan bahwa Allah ﷻ memiliki wajah dan tangan.

Syubhat ketiga: Allah tidak memiliki sifat marah, karena jika Allah marah tentu akan seperti manusia, hal ini karena marah adalah bentuk bergjolaknya darah pada jantung, padahal Allah tidak memiliki darah dan jantung. Karenanya mau tidak mau kita harus mentakwil sifat “marah” Allah dengan “kehendak untuk membalas/mengadzab”.

Jawabannya : Berkaitan dengan sifat murka Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ رَبِّي غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ

“sesungguhnya Rabbku saat ini benar-benar marah, Ia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya.” ([12])

Dalam hadis ini disebutkan Allah ﷻ memiliki murka yang baru yang belum pernah ada sebelumnya dan juga belum pernah ada setelahnya. Mereka menolak Allah ﷻ memiliki sifat murka terlebih lagi murka tersebut sesuatu yang baru. Hal ini dikarenakan mereka meyakini Allah ﷻ statis. Akhirnya mereka menakwil sifat murka Allah ﷻ dengan kehendak untuk menghukum.

Mengapa mereka menolak sifat murka Allah ﷻ? Karena menurut mereka murka adalah gejolak darah yang ada di jantung. Kita katakan bahwa itu adalah murkanya manusia adapun Allah ﷻ maka berbeda. Contohnya malaikat yang tidak memiliki darah dan tercipta dari cahaya, apakah ketika malaikat marah menunjukkan ada darah yang bergejolak di tubuh malaikat? Tentu tidak. Malaikat yang ketika marah tidak mengharuskan ada darah yang bergejolak maka terlebih lagi Allah ﷻ. Mengapa harus melazimkan jika Allah ﷻ murka harus ada jantung yang bergejolak?

Bukankah gejolak jantung efek dari marah? Adapun kemarahan sendiri bukan harus ada jantung yang darhnya bergejolak. Sehingga dari sini kita ketahui bahwa marah Allah ﷻ tidak sama dengan marah manusia.

Asya’irah mengartikan marah Allah ﷻ dengan kehendak memberikan hukuman. kita katakan kepada mereka, “bukankah manusia juga memiliki kehendak?”. Jika menakwilkannya dengan mengatakan Allah ﷻ memiliki kehendak sedangkan manusia juga memiliki kehendak, bukankah ini juga tasybih?. Jika mereka mengatakan bahwa kehendak Allah ﷻ tidak sama dengan kehendak makhluk maka begitu juga kita katakan bahwa marah Allah ﷻ tidak sama dengan marah makhluk.

Mereka juga menakwil sifat rahmat karena menurut mereka rahmat adalah rasa perhatian, sayang, dan butuh kepada yang lain. Menurut mereka Allah ﷻ dinafikan dari semua ini. Rahmat menurut mereka artinya kehendak untuk memberikan kebaikan atau pahala. Kita katakan, bukankah manusia juga memiliki sifat kehendak? Tentu mereka akan menjawab iya. Lalu kita katakan kembali kepada mereka, “jika begitu berarti kalian telah menyerupai Allah ﷻ dengan makhluk-Nya.” Mereka akan menjawab, “kami tidak menyerupai Allah ﷻ dengan manusia karena kehendak Allah ﷻ tidak sama dengan kehendak manusia.” Kita katakan, “maka begitu juga kasih sayang Allah ﷻ tidak sama dengan kasih sayang manusia karena kasih sayang Allah ﷻ maha sempurna berbeda dengan kasih sayang manusia.”

Intinya ahli bidah telah terjebak dengan pemikiran-pemikiran filsafat yang mereka sebut dengan qath’iyat. Qath’iyat adalah suatu logika yang tidak perlu diragukan atau disebut juga dengan perkara absolut. Sehingga seluruh ayat-ayat dan hadis-hadis yang bertentangan dengan sesuatu yang mereka anggap dengan absolut perlu ditakwil. Ar-Razi memiliki qanun yang dinamakan dengan qanun kulli (undang-undang komprehensif) “taqdiim al-‘aql ‘ala an-naql”. Dia mengatakan jika akal bertentangan dengan dalil maka akal lebih didahulukan dari pada dalil. Semua ini disebabkan dia menganggap apa yang telah ditetapkan oleh ahli filsafat adalah sebuah qath’iyat yang tidak bisa diselisihi.

Syubhat keempat: berkaitan dengan sifat ‘uluw (sifat tinggi Allah ﷻ). Mereka mengatakan jika Allah ﷻ di atas maka Allah ﷻ butuh kepada yang di bawah. Mereka juga mengatakan jika Allah ﷻ di atas maka yang ada di bawah lebih lebar dari Allah ﷻ. Karena sebab semua ini mereka menafikan sifat Allah ﷻ di atas.

Jawaban:

Ini adalah logika yang salah, tidak semua yang di atas membutuhkan yang di bawah dan tidak semua yang di bawah lebih lebar dari yang di atas. Contohnya adalah langit, langit berada di atas dan bumi berada di bawah namun langit lebih luas dari bumi dan tidak membutuhkan bumi. Begitu juga Allah ﷻ, Allah ﷻ di atas tidak melazimkan Allah ﷻ lebih kecil dari alam semesta atau arasy. Allah ﷻ lebih besar dari arasy dan Allah ﷻ tidak membutuhkan arasy.

Ar-Razi mengatakan, “apabila Allah ﷻ di atas arasy maka jika arasy jatuh maka Allah ﷻ akan ikut terjatuh.” Kita jawab bahwa perkaranya tidak seperti itu, justru langit dan alam semesta ini Allah ﷻ yang jaga. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah . Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 41)

Di antara rahmat Allah ﷻ meskipun mereka tenggelam dengan logika mereka namun fitrah mereka tetap lurus. Oleh karenanya ketika mereka berbicara tentang Allah ﷻ mereka selalu menunjuk ke atas.

Ada juga di antara mereka ketika ditanya mengapa dalam berdoa tangan di angkat ke atas? Mereka menjawab: karena kiblat doa adalah di atas. Maka jawabannya dari beberapa sisi:

  1. Jika kita kembali kepada perkataan salaf maka tidak ada yang mengatakan bahwa kiblat doa adalah di langit. Para salaf mengatakan bahwa kiblat dalam berdoa sama dengan kiblat ketika salat yaitu ke Kakbah.
  2. Kiblat dalam bahasa Arab artinya sesuatu yang dihadapkan. Sehingga kita menghadapkan wajah dan tubuh kita ke arah kiblat. Seandainya kita menjadikan langit sebagai kiblat maka seharusnya ketika berdoa kita tidurkan badan kita agar bisa menghadap ke langit.
  3. Kiblat bisa berubah arahnya, bukankah dahulu Rasulullah ﷺ ketika salat menghadap Baitulmaqdis kemudian diubah ke arah Kakbah? Sementara ketika kita berdoa tangan kita selalu ke arah atas dan tidak pernah berubah.
  4. Ketika seseorang berdoa menghadap kiblat, dia tidak sedang mencari Allah ﷻ di Kakbah, hatinya tetap menuju ke atas. Tidak ada seorang muslim pun yang mengatakan Allah ﷻ di Kakbah. Seseorang ketika berdoa maka hatinya mencari Allah ﷻ. Begitu juga ketika sujud tidak ada seorang muslim yang meyakini Allah ﷻ di tanah. Bukankah para penyembah matahari ketika sujud tidak meyakini bahwa matahari di dalam tanah? Mereka tetap meyakini matahari di langit, adapun sujud mereka sebagai bentuk pengagungan terhadap matahari. Sama seperti ketika kita sujud maka kita akan mengucapkan سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى “maha suci Allah ﷻ yang maha tinggi”. Kepala kita di tanah namun hati kita meyakini Allah ﷻ di atas.

Intinya, lebih selamat bagi kita untuk mengikuti dalil dan manhaj salaf. Alhamdulillah akidah yang kita perjuangkan adalah akidah as-salaf ash-saleh. Mereka ahli bidah tidak berani mengatakan bahwa akidah mereka adalah akidah salaf, berbeda dengan kita. Kita memiliki pertanggungjawaban bahwa kitab-kitab akidah yang kita baca adalah kitab-kitab salaf.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) At-Taudiih Ar-Rasyiid Fii Syarh At-Tauhiid (1/120)

([2]) Lihat: https://khutabaa.com/khutabaa-section/corncr-speeches/173187

([3]) Tafsir al-Qurthubi (20/246)

([4]) Tafsir ath-Thabari (24/736)

([5]) HR. Bukhari No. 5015 dan Muslim No. 811.

([6]) HR. Muslim No. 810.

([7]) Tafsir ath-Thabari (24/736).

([8]) HR. Ahmad No. 2370 dan dikatakan oleh Syuaib Al-Arnauth Hadis ini sahih.

([9]) HR. Abu Dawud No. 4728

([10]) HR. Bukhari No. 5999 dan Muslim No.  2754.

([11]) HR Muslim No. 2747.

([12]) HR. Bukhari No. 3340 dan Muslim No. 194.