Kaidah-kaidah Tentang Sifat-sifat Allah ﷻ – Al-Asma’ wa Ash-Shifat (2)

قَوَاعِدُ فِي صِفَاتِ اللهِ

Kaidah-kaidah Tentang Sifat-sifat Allah ﷻ

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Selanjutnya penulis akan menyebutkan kaidah-kaidah yang urgen yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Kaidah-kaidah tersebut adalah :

Kaidah Pertama

صِفَاتُ اللهِ كُلُّهَا كَامِلَةٌ لاَ نَقْصَ فِيْهَا بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوْهِ

Semua sifat-sifat Allah sempurna, tidak ada kekurangan sedikit pun dari sisi mana pun

Contoh, sifat الْحَيَاةُ (Maha Hidup) adalah sifat Allah ﷻ yang bermakna kehidupan sempurna yang azali dan abadi, tidak didahului dengan ketiadaan dan juga tidak diakhiri dengan kematian. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيءٌ غَيْرُهُ

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan, tidak suatu apa pun selain Dia.” ([1])

Berbeda dengan manusia yang bermula dengan ketiadaan dan diakhiri dengan kematian. Allah ﷻ berfirman,

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?.” (QS. Al-Insan: 1)

Begitu juga perkataan Allah ﷻ kepada Nabi Zakariya ‘alaihissalam,

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“(Allah ) berfirman, ‘Demikianlah.’ Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (QS. Maryam: 9)

Demikian juga ketika manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat lalu diberikan kehidupan abadi -apakah di surga atau di neraka- maka keabadian mereka bukan independent (لِذَاتِهِ) akan tetapi karena diabadikan oleh Allah. Lain halnya dengan Allah yang hidupNya dan keabadianNya adalah secara dzatNya sendiri.

Kaidah Kedua

ظَوَاهِرُ نُصُوْصِ الصِّفَاتِ تُفْهَمُ مَعَانِيْهَا لاَ كَيْفِيَّتُهَا

Dzahir dari nas-nas sifat dari sisi maknanya bisa dipahami tapi dari sisi kaifiahnya tidak bisa dipahami

Contoh : sifat السَّمْعُ (mendengar) Allah ﷻ bisa dipahami maknanya yaitu mendengar sesuatu yang didengar, namun kaifiah mendengar-Nya Allah ﷻ tidak bisa dipahami.

Dalam menyikapi dzahir nas-nas berkaitan dengan sifat Allah ﷻ maka manusia terbagi ke dalam tiga golongan:

  • Muawwilah (para penakwil), mereka mengatakan bahwa yang diinginkan oleh Allah ﷻ bukan dzahirnya, sehingga ayat-ayat tersebut harus ditakwil. Seperti sifat istiwa’ dimaknai dengan istaula (menguasai)
  • Mufawwidhah, mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan oleh Allah ﷻ bukan dzahirnya dan juga maknanya tidak mungkin untuk diketahui, sehingga semuanya diserahkan kepada Allah ﷻ. Seperti sifat istiwa’ tidak mereka maknai dengan sesuatu apa pun.
  • Ahlusunah, mereka membiarkan makna ayat sesuai dzahirnya tanpa membagaimanakan, atau dengan kata lain bahwa yang Allah ﷻ maksud adalah sesuai dzahir ayat, hanya saja kita serahkan kepada Allah ﷻ bagaimana kaifiahnya. Seperti sifat istiwa’ mereka maknai dengan “di atas” dan beberapa makna lainnya sesuai konsekuensi bahasa Arab, akan tetapi “di atas”nya Allah ﷻ tidak diketahui bagaimana kaifiahnya.

Kesimpulan manhaj Akidah Ahlusunah dalam menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ adalah “Menetapkannya secara hakikatnya dan meyakini bahwa hakikatnya tidak mungkin diketahui, namun pasti menyelisihi hakikat sifat-sifat makhluk”. Hal ini terangkum dalam penjelasan Abu Ísa At-Tirmidzi rahimahullah dalam sunannya. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَال سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ حَتَّى إِنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ((أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ))  وَ((يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ))

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا وَقَدْ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَمَا يُشْبِهُ هَذَا مِنْ الرِّوَايَاتِ مِنْ الصِّفَاتِ وَنُزُولِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالُوا قَدْ تَثْبُتُ الرِّوَايَاتُ فِي هَذَا وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلَا يُتَوَهَّمُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُمْ قَالُوا فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَمِرُّوهَا بِلَا كَيْفٍ وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابهِ الْيَدَ وَالسَّمْعَ وَالْبَصَرَ فَتَأَوَّلَتْ الْجَهْمِيَّةُ هَذِهِ الْآيَاتِ فَفَسَّرُوهَا عَلَى غَيْرِ مَا فَسَّرَ أَهْلُ الْعِلْمِ وَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ آدَمَ بِيَدِهِ وَقَالُوا إِنَّ مَعْنَى الْيَدِ هَاهُنَا الْقُوَّةُ، وقَالَ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابهِ ((لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ))

“Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin ‘Ala’ telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Manshur telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin Muhammad dia berkata, saya mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah menerima sedekah dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk kalian sebagaimana kalian membesarkan anak kuda kalian, sampai-sampai sesuap makanan akan menjadi sebesar gunung Uhud’. Dan Hal ini dibenarkan di dalam Al-Qur’an pada firman Allah (yang artinya), ‘Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat’ (At-Taubah: 104) dan firman Allah , ‘Allah memusnahkan riba dan menyuburkan (mengembangkan) sedekah.’ (QS. Al-Baqarah: 276)

Abu ‘Isa berkata, ‘ini adalah hadis hasan sahih’. Dan telah diriwayatkan dari ‘Aisyah dari Nabi Muhammad seperti hadis di atas. Para ulama telah memberi penjelasan tentang hadis di atas dan hadis-hadis lain yang memuat sifat-sifat Rabb dan tentang turun-Nya Allah setiap malam ke langit dunia, mereka berkata, riwayat-riwayat tersebut semuanya sahih dan wajib untuk diimani serta tidak boleh dikhayalkan dan tidak dipertanyakan bagaimana hakikat sifat tersebut. Demikian diriwayatkan dari Malik bin Anas, Sufyan bin ‘Uyainah, Abdullah bin Al-Mubarak mereka semuanya berkata tentang sifat-sifat Allah , أَمِرُّوهَا بِلَا كَيْفٍ ‘Tetapkanlah/Imanilah sifat-sifat tersebut sebagaimana telah diriwayatkan tanpa mengatakan bagaimana hakikatnya’, demikianlah perkataan para ulama Ahlusunah wal Jamaah.

Adapun golongan Jahmiyah, mereka mengingkari riwayat-riwayat tersebut bahkan mengatakan bahwa menetapkan sifat untuk Allah merupakan tasybih (menyerupakan Allah dengan hamba-Nya). Padahal Allah telah menyebutkan dalam banyak ayat sifat tangan, pendengaran, dan penglihatan, maka Jahmiyah pun menakwil sifat-sifat tersebut dan menafsirkannya tidak seperti penafsiran para ulama. Jahmiyah berkata, ‘Sesungguhnya Allah tidak menciptakan Adam dengan tangan-Nya’, dan mereka mengatakan makna tangan ialah kekuatan. Ishaq bin Ibrahim berkata, ‘Yang dinamakan dengan tasybih ialah jika dia mengatakan tangan Allah seperti tangan makhluk, pendengaran Allah seperti pendengaran makhluk. Jika ternyata dia mengatakannya maka itu merupakan tasybih. Adapun jika dia mengatakan sebagaimana Allah berfirman, bahwa Allah memiliki tangan, pendengaran, dan penglihatan tanpa menyatakan bagaimana hakikatnya serta tidak menyamakannya dengan sifat makhluk, maka hal ini tidak termasuk tasybih dan ini sesuai dengan firman Allah , ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS Asy-Syuraa : 11) ([2])

Kesimpulan dari pernyataan At-Tirmidzi di atas :

Pertama : Manhaj Ahlusunah, yaitu manhaj para ulama adalah mengimani ayat-ayat sifat dan juga hadis-hadis sifat tanpa menanyakan bagaimananya.

Kedua : Manhaj Jahmiyah adalah menafsirkan ayat-ayat sifat tersebut tidak sebagaimana penafsiran para ulama, seperti menyatakan bahwa Allah ﷻ tidak punya tangan, Allah ﷻ tidak pernah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalam dengan tangan-Nya, namun makna tangan adalah kekuatan atau kenikmatan.

Ketiga : Jahmiyah menakwil ayat-ayat sifat tersebut karena takut terjerumus dalam tasybih, akan tetapi para ulama menjelaskan bahwa yang dinyatakan tasybih adalah jika menyatakan bahwa sifat Allah ﷻ seperti sifat makhluk.

Oleh karena itu, Ahlusunah menetapkan seluruh sifat-sifat Allah ﷻ yang ditetapkan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah sesuai dengan keagungan-Nya. Dimana hal ini dibangun di atas dua hal :

Pertama : Tidak berharap mengetahui sifatnya secara hakiki

Ketika bertemu dengan ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah ﷻ maka hal yang paling pertama dilakukan oleh seorang Ahlusunah adalah memutuskan segala harapannya untuk mengetahui bagaimana hakikat dari sifat-sifat Allah ﷻ tersebut. Hal ini karena,

  1. Pembicaraan tentang sifat adalah cabang dari pembicaraan tentang dzat

Berdasarkan kaidah ini, maka sebagaimana Dzat Allah ﷻ tidak diketahui maka tentu kaifiah sifat Allah ﷻ lebih tidak diketahui, karena pembicaraan tentang sifat adalah cabang dari pembicaraan tentang dzat.

Contoh lainnya, ruh. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana dzat ruh dan dia terbuat dari apa. Andai didatangkan seribu ahli dan mencoba berbicara tentang ruh, niscaya akan muncul pula seribu pendapat tentang ruh tersebut. Sebagaimana dzat ruh tidak diketahui, demikian pula sifat-sifat tersebut tidak akan diketahui kecuali hanya beberapa saja yang dikabarkan oleh Nabi di dalam hadis.

Sehingga jika ruh saja yang diyakini adanya dan dekat dengan kita tetapi kaifiahnya tidak diketahui maka bagaimana lagi dengan Dzat Al-Khaliq (Sang Pencipta). Lebih dari itu, apabila Dzat Khaliq saja tidak diketahui maka bagaimana lagi dengan sifat-sifat-Nya. Dari sini, maka seseorang tidak mungkin mengetahui bagaimana istiwa’ Allah ﷻ, bagaimana turunnya Allah ﷻ, dan sifat-sifat lainnya.

  1. Persamaan dalam nama dan sifat tidak mengharuskan kesamaan pada hakikat pemilik nama dan sifat tersebut

Kaidah ini berlaku dalam segala hal. Kita melihat gajah memiliki tangan, kaki, dan mulut, demikian pula kucing juga memiliki hal yang sama, tetapi kita saksikan kedua makhluk tersebut benar-benar berbeda. Apabila persamaan pada nama dan sifat untuk kedua makhluk tidak mengharuskan kesamaan pada hakikatnya (padahal keduanya sama-sama makhluk), maka bagaimana lagi dengan perbandingan antara makhluk dan Sang Khaliq yaitu Allah ﷻ, tentu lebih mustahil untuk memiliki kesamaan. Ditambah lagi Allah ﷻ juga menafikan hal tersebut di dalam Al-Qur’an.

Misalnya di dalam masalah penglihatan dan pendengaran,  Allah ﷻ berfirman tentang Diri-Nya,

إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An-Nisa: 58)

Allah ﷻ kemudian berfirman tentang manusia,

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan: 2)

Lalu Allah ﷻ menafikan kesamaan antara diri-Nya Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dengan makhluk yang mendengar dan yang melihat. Allah ﷻ berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah ﷻ adalah Yang Maha Mendengar, adapun manusia pendengarannya terbatas. Manusia tidak bisa mendengar dari jarak jauh, adapun Allah ﷻ mendengar segalanya, bahkan pembicaraan dalam hati Allah ﷻ juga mendengarnya. Seseorang apabila dihadapkan dengan tiga orang saja lalu mereka bertiga berbicara secara bersamaan kepadanya, maka dia tidak akan bisa menangkap pembicaraan mereka semua secara sekaligus. Adapun Allah ﷻ, jutaan manusia di Padang ‘Arafah yang berdoa dalam satu waktu, semuanya bisa didengar oleh Allah ﷻ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitabnya Risalah Tadmuriyyah memberikan contoh tentang na’imul jannah (kenikmatan surga), yaitu tentang perbandingan antara makhluk-makhluk Allah ﷻ di surga dengan makhluk-makhluk Allah ﷻ di dunia. Allah ﷻ mengabarkan bahwa di surga ada makanan, minuman, pakaian, para istri, buah-buahan, daging, khamar, susu, madu, air, perhiasan dari emas, perak, mutiara dan lainnya. Nama-nama tersebut juga ada wujudnya di dunia dari sisi makna, akan tetapi berbeda dengan yang ada di akhirat dari sisi hakikatnya.

Tentang kesamaannya dari sisi makna adalah karena Allah ﷻ berfirman,

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 3)

Penamaan yang diberikan oleh Allah ﷻ untuk nama benda-benda tersebut baik yang ada di dunia ataupun yang ada di surga adalah sama, sebab sama-sama menggunakan bahasa Arab, sehingga semuanya bisa dimaknai dalam satu makna.

Akan tetapi dari sisi hakikat benda-benda yang memiliki kesamaan nama tersebut berbeda, dimana Allah ﷻ berfirman,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajadah: 17)

Juga firman Allah ﷻ dalam hadis qudsi,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia.” ([3])

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

لا يُشْبِهُ شَيءٌ مِمَّا فِي الْجَنَّةِ مَا فِي الدُنْيَا إِلَّا فِي الأَسْمَاءِ

“Tidak ada yang serupa antara apa yang ada di surga dengan apa yang ada di dunia, selain nama.” ([4])

Jika saja sesama makhluk memiliki suatu sifat yang sama namanya namun ternyata hakikatnya berbeda, maka perbedaan hakikat antara makhluk dan Khaliq tentu lebih nyata.

Mengapa Tidak Bisa Mengetahui Hakikat Allah ?

Untuk mengetahui hakikat sesuatu, harus dengan salah satu dari 3 cara:

  1. Melihat langsung

Mengetahui hakikat Allah ﷻ dengan cara pertama ini tidak mungkin terwujud di dunia, karena Allah ﷻ tidak mungkin dilihat melainkan di akhirat kelak.

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ

“Ketahuilah bahwasanya tidak ada seorang pun di antara kamu yang bisa melihat Tuhannya sampai dia mati.”([5])

Hal ini dikarenakan kemampuan mata kita terbatas. Mata kita tidak kuat untuk melihat cahaya Allah ﷻ, bagaimana lagi dengan melihat Allah ﷻ. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam meminta untuk melihat Allah ﷻ di dunia beliau pun pingsan. Allah ﷻ berfirman,

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: ‘Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau’. Tuhan berfirman, ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku’. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman’.” (QS. Al-A’raf: 143)

Demikian juga Nabi Muhammad ﷺ  tatkala mikraj yang mana pada saat itu Nabi Muhammad ﷺ  sudah sangat dekat dengan Allah ﷻ, namun beliau tidak bisa melihat Allah ﷻ. Ketika beliau ditanya “Apakah engkau melihat Rabb-mu?”. Beliau berkata نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ “Ada cahaya bagaimana aku bisa melihat-Nya.” ([6])

Namun pada hari kiamat kelak tatkala kaum mukminin dibangkitkan maka mereka bisa melihat Rabb mereka di surga. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا

“Kalian akan melihat Rabb kalian secara langsung (dengan mata kepala).” ([7])

Sehingga cara pertama tidak mungkin untuk dilakukan.

  • Melihat yang semisalnya

Mengetahui hakikat Allah ﷻ dengan cara kedua ini juga tidak mungkin terwujud karena Allah ﷻ tidak punya yang semisal dengan-Nya untuk diperbandingkan. Allah ﷻ berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

  • Dikabarkan oleh sumber berita yang terpercaya

Cara ini adalah satu-satunya cara yang memungkinkan, dan akan berhenti sejauh kabar tersebut. Jika Allah ﷻ dan Nabi-Nya mengabarkan bahwa Allah ﷻ punya tangan, punya kaki, dua mata, dan seterusnya dari sifat-sifat yang dikabarkan oleh Allah ﷻ dan Nabi-Nya di dalam Al-Qur’an dan hadis maka kita tetapkan sampai kadar tersebut tanpa mengurangi dan menambah. Jika Allah ﷻ dan Nabi Muhammad ﷺ  mengabarkan bahwa Allah ﷻ punya sifat-sifat tersebut maka kita tetapkan nama beserta maknanya sesuai konsekuensi bahasa Arab, tetapi karena Allah ﷻ dan Nabi Muhammad ﷺ tidak mengabarkan kaifiah sifat Allah ﷻ tersebut maka membagaimanakannya adalah terlarang.

Kesimpulannya, mengetahui hakikat kaifiah Allah ﷻ adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan, begitu pula membayangkannya. Khayalan tidak mungkin sampai pada kadar tersebut. Hal ini karena pengkhayalan terhadap sesuatu dibangun di atas kias/analogi atas data yang sudah ada di dalam memori kita. Sementara data yang masuk ke memori kita di antaranya melalui indra penglihatan dan pendengaran, dan yang masuk ke memori kita semuanya adalah data tentang makhluk yang kita lihat dan kita dengar. Dengan demikian daya khayal kita tentang kaifiah dzat Allah ﷻ dan sifat-sifat-Nya pasti keliru karena data yang kita miliki dalam memori kita yang akan kita gunakan sebagai sandaran beranalogi hanyalah data tentang makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Selain itu juga, Allah ﷻ telah menafikan kemungkinan untuk melihatnya langsung dan juga menafikan adanya Dzat yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian, harapan untuk mengetahui hakikat Allah ﷻ lebih baik diputuskan dari awal, karena itu tidak mungkin terwujud.

Kedua : Tidak melakukan Ta’thil, Tahrif, Tamtsil, dan Takyif

  1. Ta’thil (penolakan)

Yaitu menolak sifat-sifat itu pada Allah ﷻ. Seperti yang dilakukan oleh sekte al-Jahmiyah dan Muktazilah, mereka menolak seluruh sifat yang ada pada Allah ﷻ, dengan dalih bahwa menetapkannya bisa menjerumuskan ke dalam kesyirikan. Demikian juga Asya’iroh yang menolak seluruh sifat kecuali hanya tujuh sifat karena selian tujuh sifat jika ditetapkan maka akan menyebabkan tasybih Allah kepada makhluk atau menyebabkan tajsiim (Allah merupakan jism).

  1. Tahrif (menyimpangkan)

Tahrif ada dua:

  • Tahrif pada lafaz

Seperti sebagian ahli bid’ah yang mengubah lafaz Al-Qur’an,

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Allah benar-benar berbicara dengan Musa.” (QS. An-Nisa: 164)

Diubah menjadi وكلم اللهَ موسى تكليما yang artinya, “Dan sungguh benar-benar Musa ‘alaihissalam berbicara kepada Allah ﷻ”. Mereka merubah lafaz tersebut karena mereka mengingkari sifat “berbicara” Allah ﷻ. Akhirnya mereka merubah lafaz tersebut agar yang berbicara bukanlah Allah ﷻ akan tetapi Musa ‘alaihissalam.

Akan tetapi Tahrif pada lafaz saat ini sudah tidak ditemukan lagi.

  • Tahrif pada makna (disebut juga takwil)

Seperti sebagian ahli bid’ah yang men-tahrif makna اِسْتَوَى istawa (di atas) dengan اِسْتَوْلَى istaula (menguasai), الْيَدُ al-yad (tangan) dengan الْقُوَّةُ al-quwwah (kekuatan).

  1. Tamtsil (menyamakan)

Yaitu menyamakan sifat yang ada pada Allah ﷻ dengan sifat yang ada pada makhluk-Nya. Seperti perkataan sebagian ahli bid’ah, “Tangan Allah ﷻ seperti tangan si fulan”. Penyimpangan jenis ini juga jarang terjadi di zaman ini.

  1. Takyif (membagaimanakan)

Yaitu menggambarkan sifat Allah ﷻ dengan suatu sifat yang dimaklumi. Perbedaan antara tamtsil dengan takyif, perbuatan tamtsil berarti membandingkannya dengan makhluk yang lain (al-mumaatsal bihi), adapun takyif tidak dilakukan perbandingan dengan yang lain.

Diagram hubungan antara penyimpangan-penyimpangan tersebut :

Hubungan antara ke empat jenis penyimpangan ini yaitu: Apabila seseorang men-tamtsil maka dia telah men-takyif, namun tidak sebaliknya. Apabila seseorang men-takyif maka dia telah men-tahrif, namun tidak sebaliknya. Apabila seseorang men-tahrif maka dia telah men-ta’thil, namun tidak sebaliknya.

Kaidah Kelaziman (Konsekuensi)

  1. كُلُّ مُعَطِّلٍ مُشَبِّهٌ (seluruh penolak sifat berarti dia telah menyerupakan)

Hal ini karena sebelum dia menolak dia pasti menyerupakan Allah ﷻ terlebih dahulu dengan selain-Nya. Seperti ahli bid’ah yang menolak istiwa’ Allah ﷻ di atas Arasy lalu men-tahrif ke makna istaula (menguasai). Hal itu mereka lakukan karena sebelum mereka men-tahrif hakikatnya mereka telah menyerupakan Allah ﷻ dengan selain-Nya. Mereka  menganggap bahwa jika Allah ﷻ ber-istiwa’ di atas sebuah tempat maka Allah ﷻ butuh kepada tempat tersebut, atau jika tempat tersebut jatuh maka Allah ﷻ juga akan jatuh sebagaimana jika seorang manusia duduk di atas sebuah kursi. Tentu ini adalah bentuk menyerupakan Allah ﷻ dengan makhluk, sehingga dia kemudian menolak makna istiwa’ lalu men-tahrif ke istaula (menguasai).

Anggapan seperti ini mudah untuk dibantah dengan mengatakan bahwa tidak semua yang di atas itu butuh dengan yang di bawah. Sebagaimana tidak butuhnya langit terhadap bumi yang ada di bawahnya, tentu Allah ﷻ lebih tidak butuh kepada yang di bawahnya. Allah ﷻ berfirman,

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya.” (QS. Luqman: 10)

Bagaimana Allah membutuhkan langit sementara langit yang membutuhkan langit agar tidak bergeser. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Fathir : 41)

Bagaimana mau dibayangkan bahwa langit meliputi dan menaungi Allah sementara langit begitu sangat kecil dibandingkan dengan kebesaran Allah. Allah berfirman :

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan (QS Az-Zumar : 67)

  1. كُلُّ مُشَبِّهٍ مُعَطِّلٌ (setiap orang yang menyerupakan Allah ﷻ dengan selain-Nya berarti dia telah menolak sifat Allah ﷻ)

Hal ini karena ketika ia menyamakan Allah ﷻ dengan makhluk maka berarti ia telah menolak makna dan sifat yang benar yang seharusnya ditetapkan bagi Allah ﷻ. Karenanya, semua yang menyimpang dalam sifat Allah ﷻ pasti Mu’atthil, yaitu pasti menolak makna yang benar terhadap sifat Allah ﷻ -sebagaimana bisa kita lihat pada diagram di atas-.

Kaidah Ketiga :

Manhaj Ahlusunah terhadap ayat-ayat sifat  : (1) Menetapkan sifat yang ditetapkan dalil,  (2) menolak sifat yang dinafikan dalil, dan (3) abstain terhadap sifat-sifat yang tidak ditetapkan dan juga tidak ditolak dalil hingga jelas maksudnya

Secara umum, berkaitan dengan ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah ﷻ maka dalam hal ini ada tiga bentuk :

A. Sifat-sifat yang Ditetapkan Oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah

Yaitu ditetapkan maknanya, tanpa diketahui kaifiahnya (bagaimananya), yaitu dengan tanpa ta’thil, tahrif, tamtsil, dan takyif (sebagaimana telah lalu penjelasannya di atas).

B. Sifat-sifat yang Dinafikan Oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah

Sikap seorang muslim adalah menafikan apa yang dinafikan oleh dalil disertai dengan menetapkan lawannya secara sempurna. Karena tujuan nas yang datang dengan bentuk menafikan suatu sifat bukanlah sekedar untuk menafikannya, tetapi sekaligus mengandung kesempurnaan dari sifat lawannya.

Contoh:

لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ

“(Dia) tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Allah ﷻ tidak mengantuk dan tidak tidur, maka tujuan Allah ﷻ dari menafikan sifat mengantuk dan tidur tersebut bukan semata hanya sekedar menafikan kedua sifat kekurangan tersebut, akan tetapi maksudnya adalah menjelaskan kesempurnaan Allah ﷻ yang memiliki sifat sempurna yang berlawanan terhadap kantuk dan tidur, yaitu Allah ﷻ Maha terjaga.

Misalnya juga firman Allah ﷻ,

وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

“Dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qaf: 38)

Allah ﷻ tidak letih, maka tujuan dari penafian sifat lelah adalah untuk menetapkan sifat lawannya yang sempurna, yaitu Allah ﷻ Maha kuat.

Demikian pula firman Allah ﷻ,

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46)

Allah ﷻ tidak zalim, maka tujuan dari penafian sifat zalim tersebut adalah untuk menetapkan sifat lawannya secara sempurna, yaitu Allah ﷻ Maha adil.

Penafian Sifat Mengandung Penetapan Sifat Sebaliknya

Mengapa penafian pada sifat-sifat Allah ﷻ pada ayat-ayat dan hadis-hadis tidaklah bermakna penafian murni semata tetapi sekaligus mengandung penetapan kesempurnaan? Hal itu karena beberapa pertimbangan berikut:

Pertama, karena kalimat penafian semata tidak mesti berkonsekuensi bahwa itu adalah pujian, yang dipuji adalah sesuatu yang ditetapkan. Seperti perkataan kita kepada orang lain, “Anda tidak zalim.” Perkataan ini bukanlah pujian, tetapi akan menjadi pujian jika yang dimaksud adalah menetapkan kebalikan dari zalim untuknya, yaitu ia adalah seorang yang adil.

Kedua, penafian dilakukan bisa jadi karena memang tidak layak apabila sifat tersebut ditetapkan untuknya (عَدَمُ الْقَابِلِيَّةِ). Seperti perkataan, “Dinding ini tidak zalim”, perkataan itu muncul karena memang dinding tidak bisa berlaku zalim, bahkan dia pun tidak bisa berlaku adil. Maka pernyataan “Dinding tidak zalim” bukanlah pujian kepada dinding.

Ketiga, penafian dilakukan bisa jadi karena memang dia tidak mampu untuk bersifat dengan sifat tersebut. Seperti perkataan seorang penyair:

قُبَيِّلَةُ لَا يَغْدِرُوْنَ بِذِمَّةٍ  … وَلَا يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ حَبَّةَ خَرْدَلٍ

Kabilah kecil tidak berkhianat sama sekali

Dan tidak menzalimi manusia sedikit pun

Tentu ini bukan merupakan pujian karena mereka memang tidak mampu berbuat zalim sebab mereka hanyalah kaum yang kecil. Berbeda dengan kalimat, “Penguasa tersebut tidak berbuat zalim”, maka ini adalah pujian karena pada dasarnya penguasa mampu berbuat zalim tetapi dia tidak melakukannya.

C. Sifat-sifat yang Didiamkan Oleh Dalil

Apabila terdapat sifat-sifat yang tidak datang dalam dalil atau dalil tidak menetapkannya dan tidak pula menafikannya, maka dilakukan beberapa langkah berikut:

  1. Tidak menetapkan sifat-sifat tersebut secara asalnya. Namun perlu adanya sikap menghadapi para penyelisih yang menggunakan lafaz-lafaz sifat-sifat tersebut.
  2. Ditanyakan apa maksudnya (istifsaar)
  3. Jika maknanya sesuai dengan dalil maka maknanya ditetapkan, jika tidak sesuai maka tidak ditetapkan

Contoh:

Pertama : Sifat الْجِهَّةُ (arah) yang dinafikan oleh sebagian kelompok, sifat ini tidak ditetapkan dan tidak pula dinafikan oleh dalil, maka hendaknya Ahlusunah tidak menggunakan lafaz ini dalam menjelaskan sifat-sifat Allah ﷻ, akan tetapi Ahlusunah hendaknya menggunakan lafaz-lafaz yang syarí yang datang dalam dalil, seperti عَلَى atau فَوْقُ “di atas”. Namun karena lafaz الْجِهَّةُ digunakan oleh para penolak sifat maka terpaksa Ahlusunah menyikapi mereka dengan memperinci apa maksud dari lafaz الْجِهَّةُ tersebut?:

  • Jika maksudnya adalah Allah ﷻ tidak ber-jihah (berarah) yaitu جَهَةٌ عَدَمِيَّةٌ hanya sekedar arah, bukan suatu ruang yang menaungi Allah ﷻ, bahwasanya Allah ﷻ di luar alam, jika maksudnya demikian maka kita katakan bahwa Allah ﷻ di jihah.
  • Jika maksudnya jihah جِهَةٌ وُجُوْدِيَّةٌ yaitu arah yang di situ ada ruangan atau tempat yang meliputi Allah ﷻ maka kita katakan Allah ﷻ tidak di jihah.

Kedua : Sifat الْجِسْمُ (al-Jism) yang dinafikan oleh sebagian kelompok, sifat ini tidak ditetapkan dan tidak pula dinafikan oleh dalil, maka hendaknya diperinci apa maksudnya ?:

  • Jika maksudnya adalah tubuh yang berdaging maka ditolak.
  • Jika maksudnya adalah Dzat maka diterima karena Allah ﷻ ber-Dzat.

Kaidah Keempat

بَابُ الإِخْبَارِ أَوْسَعُ مِنْ بَابِ الصِّفَاتِ، وَبَابُ الصِّفَاتِ أَوْسَعُ مِنْ بَابِ الأَسْمَاءِ

Pembahasan tentang ikhbar (pengabaran) lebih luas dari pada pembahasan tentang sifat Allah dan pembahasan tentang sifat Allah lebih luas dari pada pembahasan tentang nama Allah

Setiap nama mengandung sifat, tetapi tidak semua sifat bisa dijadikan nama, karena ada sifat-sifat Allah ﷻ yang tidak bisa menjadi nama. Demikian pula ikhbar (pengabaran) terhadap Allah ﷻ baik yang ada dalilnya maupun tidak, selama tidak melanggar syariat. Sehingga kesimpulannya, ikhbar (pengabaran) lebih luas karena tidak harus berasal dari dalil sedangkan nama dan sifat lebih sempit karena harus berasal dari dalil. Dan ikhbar tentang Allah ﷻ tidak mesti tentang nama Allah ﷻ dan juga tidak mesti tentang sifat Allah ﷻ.

Telah berlalu contoh-contoh dari nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ, adapun di antara contoh pengabaran yaitu seperti perkataan seseorang ketika berdoa “Ya Mufahhima Sulaiman” (Wahai Yang memahamkan Nabi Sulaiman!), atau dalam ayat,

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah ’.” (QS. Al-An’am: 19)

Allah ﷻ menyebut diri-Nya dengan شَيْءٍ  yang makna asalnya adalah “sesuatu”.

Adapun jika tidak benar dalam pengabaran atau bertentangan dengan dalil maka tidak boleh mengabarkan Allah ﷻ dengan kabar tersebut. Contoh pengabaran yang salah seperti perkataan “Allah bermesraan dengan fulan”, karena kata bermesraan mengandung makna konotasi yang buruk.

Kaidah Kelima

الصِّفَاتُ -مِنْ حَيْثُ الثُّبُوْتُ وَالنَّفْيُ- تَنْقَسِمُ إِلَى صِفَاتٍ مَنْفِيَّةٍ وَصِفَاتٍ ثُبُوْتِيَّةٍ

وَالصِّفَاتُ الثُّبُوْتِيَّةُ مِنْ حَيْثُ تَعَلُّقُهَا بِمَشِيْئَةِ اللهِ تَنْقَسِمُ إِلَى صِفَاتٍ ذَاتِيَّةٍ وَصِفَاتٍ فِعْلِيَّةٍ وَصِفَاتٍ ذَاتِيَّةٍ فِعْلِيَّةٍ

Sifat-sifat Allah terbagi menjadi sifat manfiyyah dan sifat tsubutiyyah

Dan sifat-sifat tsubutiyah -ditinjau dari keterkaitannya dengan kehendak Allah – terbagi menjadi (1) sifat dzatiyyah, (2) sifat fi’liyyah, dan (3) sifat dzatiyyah fi’liyyah.

  • Sifat-sifat manfiyyah yaitu sifat yang dinafikan dari Allah ﷻ seperti sifat mengantuk, tidur, zalim, dan lain-lain
  • Sifat-sifat tsubutiyyah yaitu sifat yang ditetapkan untuk Allah ﷻ. Sifat ini terbagi menjadi dua:
  • Sifat dzatiyyah, yaitu sifat-sifat yang tidak berkaitan dengan kehendak-Nya artinya Allah ﷻ senantiasa dan selamanya bersifat dengan sifat tersebut. Contoh : tangan, wajah, dua mata, al-‘uluww (ketinggian), dan lain-lain.
  • Sifat fi’liyyah, yaitu sifat-sifat yang berkaitan dengan kehendak-Nya, jika Allah ﷻ berkehendak maka Allah ﷻ lakukan dan jika Allah ﷻ tidak berkehendak maka Allah ﷻ tidak lakukan. Contoh : al-Gadhab (murka), rahmat, nuzul (turun), istiwa’, ad-Dhahik (tertawa), dan lain-lain.
  • Sifat dzatiyyah fi’liyyah, yaitu sifat-sifat yang tidak berkaitan dengan kehendak-Nya tetapi sekaligus bisa berkaitan dengan kehendak-Nya. Contoh : sifat al-Kalam (berbicara), jika ditinjau dari asalnya maka al-Kalam itu qadim (sejak azali) sehingga saat itu sifat al-Kalam menjadi sifat dzatiyyah, namun jika ditinjau dari satuan pembicaraannya maka al-Kalam adalah sifat fi’liyyah, kapan Allah ﷻ ingin berbicara maka Allah ﷻ akan berbicara. Demikian juga sifat as-Sama’ (mendengar) dan al-Bashar (melihat) ([8]).

Kaidah Keenam

القَوْلُ فِي الصِّفَاتِ فَرْعٌ عَنِ الْقَوْلِ فِي الذَّاتِ

Pembahasan tentang sifat merupakan turunan dari pembahasan dzat

Sebagaimana kita tidak mengetahui kaifiah Dzat Allah ﷻ maka demikian pula kita tidak akan mengetahui kaifiah sifat. Kaifiah sifat tangan Allah ﷻ tidak mungkin diketahui karena Dzat Allah ﷻ tidak diketahui, kaifiah sifat istiwa’ Allah ﷻ tidak mungkin diketahui karena Dzat Allah ﷻ tidak diketahui. (sebagaimana telah disinggung pada kaidah kedua)

Kaidah Ketujuh

الْقَوْلُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ كَالْقَوْلِ فِي الْبَعْضِ الآخَرِ

Pembahasan tentang sebagian sifat sama dengan pembahasan tentang sifat lainnya

Kaidah ini untuk membantah sebagian ahli bid’ah yang menetapkan sebagian sifat namun menolak sebagiannya.

Contoh: mereka menolak sifat mahabbah (cinta) karena sifat mahabbah adalah sifat manusia, namun mereka menetapkan sifat iradah (berkehendak).

Bantahannya : Manusia juga bisa bersifat dengan iradah, tetapi sebagaimana iradah manusia tidak sama dengan iradah Allah ﷻ, maka demikian pula mahabbah manusia berbeda dengan mahabbah Allah ﷻ.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) HR. Bukhari No. 3191.

([2]) HR. Tirmidzi No. 662.

([3]) HR. Bukhari No. 3244 dan Muslim No. 2824.

([4]) Tafsir Ibn Katsir (1/205).

([5]) HR. Muslim No. 169.

([6]) HR. Muslim No. 178.

([7]) HR. Bukhari No. 7435.

([8]) Catatan : Namun bedanya jika sifat kalam, maka bisa kita katakan Allah ﷻ jika berkehendak maka Allah ﷻ berbicara, dan jika tidak berkehendak maka Allah ﷻ  tidak berbicara. Seperti ketika di zaman Azali, ketika Allah ﷻ belum menciptakan makhluk Allah ﷻ tidak berbicara dengan siapa pun. Setelah menciptakan makhluk maka Allah ﷻ berbicara dengan siapa saja dari makhluk-Nya yang Allah ﷻ  kehendaki, apakah berbicara dengan malaikat, atau para nabi dan rasul. Begitu juga, jika Allah ﷻ tidak berkehendak maka Allah ﷻ tidak berbicara dengan makhluk-Nya

Adapun sifat mendengar dan melihat maka Allah ﷻ senantiasa selalu melihat dan mendengar jika ada yang didengar atau dilihat. Maka tidak dikatakan jika Allah ﷻ berkehendak Allah ﷻ melihat, jika tidak maka Allah ﷻ tidak melihat, atau jika Allah ﷻ berkehendak Allah ﷻ mendengar dan jika Allah ﷻ berkehendak maka Allah ﷻ tidak mendengar. Akan tetapi hawadits (sesuatu yang baru) berkaitan dengan objek yang Allah ﷻ dengar dan yang Allah ﷻ lihat, yang objek tersebut berkaitan dengan pendengaran dan penglihatan Allah ﷻ. Maka dari sini terjadi hawadits pula pada pendengaran dan penglihatan Allah ﷻ ditinjau dari berubahnya apa yang didengar dan dilihat Allah ﷻ.