Mukadimah Syarah Rukun Iman

Mukadimah Syarah Rukun Iman

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Allah mengabarkan bahwa surga yang merupakan dambaan tiap insan itu hanyalah diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

Berlomba-lombalah kamu terhadap ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. (QS Al-Hadid: 21)

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. (QS Al-Baqarah : 25)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar (QS Al-Buruuj : 11)

Dengan demikian, merupakan hal krusial bagi tiap orang untuk menguatkan dan menambah keimanannya. Untuk itu, masing-masing individu harus mengenal pokok-pokok keimanan yang disebut dengan Rukun Iman. Semakin kuat landasan keimanan berimplikasi dan berbanding lurus terhadap semakin kuatnya cabang-cabang keimanan yang ada pada diri seseorang.

A. مَرَاتِبُ الدِّيْن (Tingkatan Agama)

Agama Islam memiliki tingkatan-tingkatan, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jibril ‘alaihis salam yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin al-Khatthab Radhiallahu ‘anhu. Beliau bertutur,

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا»، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ، وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: «مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا، قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ»، قَالَ: ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ»

“Suatu ketika, kami (para Sahabat) duduk di dekat Rasulullah . Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki yang sangat putih bajunya dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan. Tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah menjawab, ‘Islam adalah, engkau bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan salat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah apabila engkau mampu.Lelaki itu berkata, ‘Engkau benar.Kami heran, ia yang bertanya namun ia pula yang membenarkan. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang Iman.’ Nabi menjawab, ‘Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.’ Ia berkata, Engkau benar.’ Lalu ia bertanya lagi, Beritahukan kepadaku tentang ihsan. Nabi menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Lelaki itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang terjadinya Kiamat?’ Nabi menjawab, ‘Yang ditanya tidak lebih tahu dibandingkan yang bertanya.’ Maka ia berkata, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.’ Nabi menjawab, ‘Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian dan penggembala kambing telah saling berlomba dalam meninggikan bangunan.’ Kemudian lelaki tersebut pergi, dan aku pun termenung. Lalu Nabi bertanya kepadaku, Wahai Umar, tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi? Aku menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, Dia adalah Jibril, yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.([1])

Hadis ini menjelaskan tentang maraatib ad-diin (tingkatan-tingkatan agama) yaitu Islam, lalu Iman, kemudian Ihsan. Hal ini karena di akhir kisah hadis di atas Nabi berkata kepada para sahabat, “Dia adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.

Berdasarkan hadis ini maka para ulama membagi مَرَاتِبُ الدِّيْن (Tingkatan Agama) menjadi:

Pertama: Islam

Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang Islam maka beliau menjawab dengan Rukun-rukun Islam, yaitu:

  1. Syahadatain
  2. Menegakkan salat
  3. Membayar zakat
  4. Puasa Ramadhan
  5. Haji bagi yang mampu

Kedua: Iman

Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang Iman maka beliau menjawab dengan rukun-rukun Iman, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah (الإِيْمَانُ بِاللهِ),
  2. Beriman kepada malaikat (الإِيْمَانُ بِالْمَلاَئِكَةِ)
  3. Beriman kepada kitab-kitab suci (الإِيْمَانُ بِالْكُتُبِ)
  4. Beriman kepada para rasul (الإِيْمَانُ بِالرُّسُلِ)
  5. Beriman kepada hari akhir (الِإيْمَانُ بِالْيَوْمِ الآخِرِ)
  6. Beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk (الإِيْمَانُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ).

Keenam perkara inilah yang oleh para ulama dinamakan dengan أَرْكَانُ الْإِيْمَانِ (Rukun-rukun Iman) yang insya Allah akan kita bahas secara detail

Ketiga: Ihsan

Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang Ihsan maka beliau menjawab bahwa Ihsan ada 2 tingkatan, yaitu:

  1. أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya
  2. فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ “Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”.

B. Korelasi antara Islam, Iman dan Ihsan (العَلاَقَةُ بَيْنَ الإِسْلاَمِ وَالإِيْمَانِ وَالإِحْسَانِ)

Dari hadis Jibril ‘alaihis salam di atas maka tampak bahwa Rukun Islam adalah amal-amal zahir. Adapun rukun-rukun iman semuanya adalah amal batin. Apa kaitan antara Islam, Iman, dan Ihsan? Para ulama menjelaskan bahwa Islam adalah derajat pertama, iman adalah derajat kedua, dan Ihsan adalah derajat ketiga. Artinya orang yang mencapai tingkatan Islam belum tentu mencapai tingkatan beriman. Jadi, di antara orang-orang Islam ada yang telah mencapai derajat beriman dan ada yang belum mencapainya. Lalu di antara orang yang beriman ada yang mencapai derajat Ihsan dan ada pula yang belum. Dengan demikian, yang mencapai derajat Ihsan jumlahnya lebih sedikit. Seseorang tidak mungkin mencapai derajat Iman kecuali setelah dia masuk Islam, dan seseorang tidak mungkin bisa mencapai derajat Ihsan kecuali dia telah mencapai derajat Iman.

Oleh karena itu, Allah menjelaskan dalam al-Quran bahwa Iman lebih tinggi derajatnya dibandingkan Islam jika keduanya disebutkan dalam satu konteks.

Keterkaitan Iman dan Islam

Dalam hal ini, terdapat 2 kondisi:

Kondisi Pertama : Keduanya (Islam dan Iman) disebutkan dalam satu konteks.

Dalam kondisi ini, Islam tidak sama dengan Iman, dimana Islam artinya amal zahir, sedangkan Iman maknanya adalah amal batin([2]). Adapun contohnya:

  • Hadis Jibril di atas, yang menyebutkan Islam dan Iman dalam satu konteks, sehingga terdapat perbedaan makna antara Islam dan Iman. Islam berkaitan dengan amal zahir, sementara Iman berkaitan dengan amal batin.
  • Firman Allah ﷻ dalam surah al-Hujurat:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah: ‘Kalian belum beriman, tapi katakanlah kami telah berislam (telah tunduk).’ Sebab Iman itu belum masuk ke dalam hati kalian. Jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hujurat: 14) 

Dalam ayat ini Allah menyebutkan Iman dan Islam dalam satu konteks dan Allah ﷻ menyebutkan bahwa Iman lebih tinggi dari Islam. Ketika orang Badui mengatakan “kami beriman” maka Allah ﷻ mengatakan “belum beriman, tapi katakanlah kami telah berislam”.

  • Firman Allah :

فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu, dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (berislam).” (QS al-Dzariyat: 35-36)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Luth álaihis salam dan kedua putrinya yang beriman. Allah mengeluarkan mereka dari rumah mereka, juga dari negeri mereka. Namun ketika Allah berbicara tentang rumah mereka, maka Allah menisbatkan kepada Islam bukan kepada Iman, hal ini karena di rumah tersebut ada istri Nabi Luth yang zahirnya Islam namun batinnya mengikuti kaumnya([3]).

  • Firman Allah :

إنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin.” (QS al-Ahzab: 35)

Dalam ayat ini Allah juga membedakan antara Islam dan Iman.

  • Hadis Saád bin Abi Waqqash, beliau berkata,

قَسَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْمًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَعْطِ فُلَانًا فَإِنَّهُ مُؤْمِنٌ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوْ مُسْلِمٌ» أَقُولُهَا ثَلَاثًا، وَيُرَدِّدُهَا عَلَيَّ ثَلَاثًا «أَوْ مُسْلِمٌ»، ثُمَّ قَالَ: «إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، مَخَافَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ فِي النَّارِ»

“Rasulullah shallallahu álaihi wasallam melakukan pembagian harta, maka aku berkata, ‘Ya Rasulullah, bagilah kepada Fulan karena ia mukmin (beriman).’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Atau muslim (berislam)?’ Aku mengucapkan itu tiga kali dan Nabi pun menjawabku tiga kali: ‘Atau muslim?’ Lalu Nabi berkata, ‘Sesungguhnya aku memberi kepada seseorang meskipun aku lebih mencintai selainnya, karena aku khawatir Allah melempar orang tersebut ke neraka.’” ([4])

Nabi mengingkari pengabaran Sáad bahwa Fulan mukmin, sementara yang bisa dinilai oleh Saád hanyalah zahir orang tersebut dan bukan batinnya, sehingga yang seharusnya dikabarkan adalah tentang zahirnya. Karena itulah Nabi berkata, “Atau muslim?” Sebab kaitannya dengan zahir.([5])

  • Doa salat jenazah:

اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ

“Ya Allah, siapa saja yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah di atas Islam, dan siapa saja yang Engkau wafatkan dari kami, maka wafatkanlah di atas iman.”([6])

Karena jika seseorang masih hidup maka ia bisa melakukan amal-amal zahir. Beda halnya dengan ketika ia wafat, maka amal-amal zahir itu tidak lagi bisa dilakukan.

Kondisi Kedua : Hanya disebutkan salah satunya (Iman saja atau Islam saja).

Dalam kondisi ini, maka Islam sama dengan Iman.([7]) Masing-masing dari Iman atau Islam maknanya mencakup amal zahir dan batin. Di antara contohnya:

  • Hadis Nabi ﷺ,

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” ([8])

Nabi ﷺ hanya menyebutkan muslim tanpa menyebutkan mukmin maka muslim dalam hadis ini sama dengan mukmin. Keduanya tidak berbeda karena yang disebutkan hanya satu, yaitu muslim saja.

  • Sabda Nabi ﷺ,

«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»

“Iman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘La ilaha illallah’, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan ganguan dari jalan. Malu itu salah satu cabang keimanan.([9])

Kata Iman di sini sama dengan Islam, karena disebutkan secara sendiri.

Ulama merumuskan permasalahan ini dengan kaidah:

إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا

“Jika ada dua kata berkumpul (penyebutannya) maka kedua kata itu memiliki makna yang terpisah (masing-masing memiliki makna sendiri-sendiri). Namun jika kedua kata itu berpisah (hanya disebutkan salah satunya saja) maka kedua kata tersebut berkumpul (sama) maknanya.”

Kaidah ini berlaku dalam banyak kata seperti “fusuq dan íshyan”, “munkar dan fahisyah”, “faqir dan miskin”, dan “birr dan taqwa”. ([10])

Adapun tentang Ihsan (الإِحْسَانُ), Ibnu Rajab al-Hanbali berkata:

وَأَمَّا الْإِحْسَانُ، فَقَدْ جَاءَ ذِكْرُهُ فِي الْقُرْآنِ فِي مَوَاضِعَ، تَارَةً مَقْرُونًا بِالْإِيمَانِ، وَتَارَةً مَقْرُونًا بِالْإِسْلَامِ

“Adapun Ihsan maka disebutkan al-Quran terkadang bergandengan dengan Iman, dan terkadang dengan Islam. ([11])

Dengan demikian, Ihsan adalah kondisi seseorang ketika menjalankan Islam dan/atau Iman.

Dalam hadis Jibril yang telah disebutkan, Islam artinya adalah amal zahir, sedangkan Iman adalah amal batin yang kedudukannya lebih tinggi dibandingkan Islam. Bagaimana relevansinya dengan Ihsan? Ihsan adalah kualitas keadaan seseorang ketika menjalankan Islam dan Iman. Bisa jadi ada orang yang belum mencapai derajat Ihsan, dimana ia menjalankan Islam dan Iman tanpa disertai Ihsan. Seorang bisa menggapai derajat Ihsan apabila ia menjalankan Islam dengan baik, lalu naik ke derajat Iman, lalu ke derajat Ihsan.

Contoh Ihsan dalam Islam adalah seorang yang salat dengan seolah-olah dia melihat Allah dengan hatinya. Adapun contoh Ihsan dalam Iman adalah ketika seorang beriman dengan kitab suci seolah-olah dia melihat Allah dan Allah mengawasinya.

Dengan demikian, Ihsan ini adalah suatu kondisi yang bisa digapai oleh seorang ketika ia telah berislam dan beriman dengan baik.

Ihsan terdiri dari dua tingkatan:

Pertama : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”. Maksudnya adalah melihat dengan hati. Sebab seseorang tidak mungkin melihat Allah selama di dunia.([12])

Ibnu Daqiq al-Íed berkata,

حَاصِلُهُ رَاجِعٌ إِلَى إِتْقَانِ الْعِبَادَاِت وَمُرَاعَاةِ حُقُوْقِ اللهِ وَمُرَاقَبِتِهِ وَاسْتِحْضَارِ عَظَمَتِهِ وَجَلاَلَتِهِ حَالَ الْعِبَادَاتِ

“Intinya, Ihsan merujuk pada ibadah yang mumpuni, memperhatikan hak-hak Allah, merasa diawasi oleh-Nya, serta menghadirkan keagungan dan kemuliaan-Nya ketika beribadah.” ([13])

Jika kita tidak mampu pada level tersebut, maka kita berusaha untuk melakukan tingkatan Ihsan berikutnya,

Kedua : فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ “Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Inilah yang disebut muraqabah, selalu meyakini Allah ﷻ melihat kita. Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَفْضَلَ الْإِيمَانِ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ مَعَكَ حَيْثُمَا كُنْتَ»

“Sesungguhnya Iman yang paling utama adalah engkau yakin Allah bersamamu di mana pun engkau berada.” ([14])

Ketika kita sedang sendirian, sedang di kantor, di luar negeri, bersama keluarga, bersama kolega, membaca al-Quran, mengerjakan salat, membayar zakat, menjalankan tugas, dan apapun aktivitas kita  lainnya, maka hendaklah kita senantiasa merasa Allah melihat kita. Ini adalah sesuatu yang sering luput dari perasaan kita.

Seseorang bisa mengestimasi kadar Ihsan dirinya. Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan: “Siapa yang berbuat ihsan maka dia akan mendapatkan tambahan dari Allah.” Allah ﷻ berfirman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat Ihsan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS Yunus: 26)

Ibnu Rajab menjelaskan ayat di atas:

وَقَدْ ثَبَتَ فِي “صَحِيحِ مُسْلِمٍ” عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَفْسِيرُ الزِّيَادَةِ بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْجَنَّةِ، وَهَذَا مُنَاسِبٌ لِجَعْلِهِ جَزَاءً لِأَهْلِ الْإِحْسَانِ، لِأَنَّ الْإِحْسَانَ هُوَ أَنْ يَعْبُدَ الْمُؤْمِنُ رَبَّهُ فِي الدُّنْيَا عَلَى وَجْهِ الْحُضُورِ وَالْمُرَاقَبَةِ، كَأَنَّهُ يَرَاهُ بِقَلْبِهِ وَيَنْظُرُ إِلَيْهِ فِي حَالِ عِبَادَتِهِ، فَكَانَ جَزَاءُ ذَلِكَ النَّظَرَ إِلَى اللَّهِ عِيَانًا فِي الْآخِرَةِ

“Telah valid dalam Shahih Muslim dari Nabi shallallahu álaihi wasallam bahwa beliau menafsirkan “tambahan” (dalam ayat ini) dengan memandang Wajah Allah ‘Azza wa Jalla di surga. Sangatlah serasi untuk menjadikan ‘memandang Wajah Allah’ sebagai ganjaran bagi orang-orang yang berbuat Ihsan. Karena Ihsan adalah seorang mukmin beribadah kepada Rabbnya dalam kondisi menghadirkan (keagungan Allah) dan muraqabah (merasa diawasi Allah), seolah-olah ia melihat Allah dengan hatinya. Ia melihat Allah ketika beribadah. Karena itulah ganjarannya ia memandang Allah dengan matanya di akhirat.” ([15])

Artinya, karena selama di dunia dia selalu melatih dirinya untuk melihat Allah ﷻ dengan hatinya, juga selalu merasakan Allah melihatnya, maka balasannya pada hari kiamat dia akan memandang indahnya Wajah Allah.

Jika seseorang telah mencapai derajat Ihsan maka lebih mudah baginya untuk khusyuk dan ikhlas, dalam melakukan ibadah apapun. Sebab dia yakin Allah sedang melihatnya. Dia pun ikhlas, tidak peduli dengan komentar dan penilaian orang lain.

Demikianlah korelasi Islam, Iman dan Ihsan.

C. Agama ibarat sebuah pohon

Tingkatan-tingkatan agama Islam dapat digambarkan dengan ibarat pohon. Allah telah memberikan perumpamaan tentang iman dalam firman-Nya,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS Ibrahim: 24)

Yang dimaksud dengan طَيِّبَةً “yang baik”  adalah الإِيْمَانُ (iman).([16]) Keimanan diumpamakan dengan pohon yang baik.

Jika agama diibaratkan pohon maka batang dan dahan-dahannya adalah sebagai Rukun-rukun Islam. Akarnya adalah Rukun-rukun Iman. Adapun Ihsan, maka seorang menjalani Islam dan Iman tersebut dengan Ihsan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Rukun-rukun Islam adalah pokok-pokok Islam. Adapun cabang-cabang dan ranting-rantingnya tentu sangat banyak. Islam mencakup semua amal zahir.

Termasuk di antara contohnya adalah sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Termasuk baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan yang bukan urusannya.” ([17])

Seorang muslim meninggalkan yang bukan urusannya dan dia tidak ingin tahu urusan orang lain. Ini adalah contoh amal zahir. Banyak sekali contoh-contoh lainnya.

Pada intinya, semakin besar dan kukuh pohon tersebut, maka cabang dan rantingnya pun juga semakin banyak.

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ juga bersabda,

أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ: «تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ»

“Islam apakah yang paling baik? Beliau menjawab, “Engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” ([18])

Contoh lainnya adalah menjaga lisan. Nabi ﷺ bersabda,

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” ([19])

Yang paling krusial adalah kita memiliki 5 pokok rukun Islam ini. Selanjutnya kita memperbagus serta memperbanyak cabang-cabang dan ranting-rantingnya. Caranya dengan memperbanyak pelaksanaan sunah dan ibadah lainnya. Semakin banyak seseorang melakukan itu maka pohonnya akan semakin rimbun. Sebaliknya, jika dia bermaksiat maka berguguranlah cabang dan ranting pohon tersebut. Demikian pula halnya dengan keimanannya pun mulai rontok sebagian demi sebagian.

D. Kaidah-Kaidah Dasar Rukun Iman

Selanjutnya, jika kita telah memiliki keenam rukun iman maka tinggal kita kuatkan. Ketika kita beriman kepada Allah, maka kita telah mempunyai dasar. Jika mendalami iman kepada Allah maka semakin kukuh akar keimanan kita dan semakin tebal akarnya. Begitu pula halnya dengan iman kepada para malaikat, kitab-kitab, para Nabi, hari akhirat dan takdir. Kita pelajari semakin dalam agar semakin kuat akar-akar keimanan kita.

Di dalam Rukun Iman berlaku kaidah-kaidah berikut:

Kaidah Pertama: Keimanan kepada keseluruhan rukun iman tersebut merupakan keharusan. Siapa yang mengingkari satu saja dari keenam rukun iman tersebut maka ia kafir dan tidak bermanfaat keimanannya kepada rukun-rukun iman yang lain.

Allah telah menyebutkan rukun-rukun iman tersebut sebagai suatu keseluruhan yang tak terpisahkan:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada (1) Allah, (2) malaikat-malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya dan (4) rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya, dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa): Ampunilah kami ya Tuhan kami dan (5) kepada Engkaulah tempat kembali.’” (QS al-Baqarah: 285)

وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

“Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada (1) Allah, (2) hari kemudian, (3) malaikat-malaikat, (4) kitab-kitab, (5) nabi-nabi.” (QS al-Baqarah : 177)

Dalam kedua ayat di atas disebutkan lima rukun iman, dari pertama hingga kelima. Adapun rukun iman yang keenam, yaitu beriman kepada takdir maka include (termasuk) dalam rukun iman yang pertama, yaitu beriman kepada Allah. Hal ini karena iman kepada takdir pada hakikatnya adalah beriman dengan ilmu dan qudrah Allah, dan itu termasuk iman kepada Allah. (Pembahasannya secara lebih detail akan disampaikan kemudian.)

Selain itu, iman kepada takdir juga disebutkan secara khusus dalam banyak ayat, di antaranya:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (taqdir).” (QS al-Qamar: 49)

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid: 22)

Intinya, siapa yang kufur terhadap salah satu rukun iman saja maka sama saja dengan dia telah kufur kepada seluruhnya.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS al-Nisa: 136)

Allah berfirman:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Siapa yang kafir kepada iman maka terhapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi” (QS al-Maidah: 5)

Di antara yang menunjukkan hal tersebut:

Pertama: Ketika Ibnu ‘Umar RA diberitahu tentang adanya sekelompok orang yang beriman dengan lima rukun iman namun mereka kufur terhadap takdir, yaitu rukun iman yang keenam, maka Ibnu ‘Umar mengkafirkan mereka. Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan:

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، قَالَ: كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ – أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ – فَقُلْنَا: لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مَنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ، فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ، فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ، وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ، فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ، فَقُلْتُ: أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ، وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ، وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ، قَالَ: «فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»

“Dari Yahya bin Ya’mar berkata, Yang pertama kali mengingkari takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani. Lalu aku bersama Humaid bin Abdurrahman al-Himyari berangkat untuk haji -atau umrah- kemudian kami berkata: Semoga kami bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah SAW untuk kami bertanya kepadanya tentang apa opini mereka seputar takdir. Kami diberi kemudahan bertemu dengan Abdullah bin Umar bin al-Khatthab yang berjalan memasuki masjid. Kami pun mengiringi beliau. Satu dari kami di kanan beliau dan yang lainnya di kiri beliau. Kukira kawanku itu menyerahkan masalahnya kepadaku, maka aku berkata, ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman (yaitu sebutan ‘Abdullah bin ‘Umar), sesungguhnya telah muncul dari negeri kami sekelompok orang yang membaca al-Quran dan mendalami ilmu -lalu Yahya bin Ya’mar menyebutkan tentang kondisi mereka- dan bahwa mereka mengingkari takdir, dan bahwa segala perkara itu baharu (tanpa ditakdirkan sebelumnya).’ Ibnu ‘Umar lalu berkata: ‘Jika engkau bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dariku. Demi Allah yang ‘Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu ia berinfak dengannya, niscaya Allah tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada takdir. ([20])

Pada kisah tersebut, Ibnu ‘Umar mengkafirkan mereka, dengan menyatakan bahwa infak mereka tidak akan diterima oleh Allah, karena mereka mengingkari takdir. Lalu Ibnu ‘Umar berdalil atas pernyataannya tersebut dengan hadis Jibril yang Ibnu ‘Umar riwayatkan dari ayahnya, ‘Umar bin al-Khatthab (yang telah kita sebutkan di awal pembahasan tentang tingkatan-tingkatan agama).

Kedua: Kaum musyrik Arab, mereka beriman kepada rububiyyah Allah namun mereka tidak mengimani hari kebangkitan, dimana mereka dinyatakan oleh Allah sebagai orang-orang kafir.

Kaidah Kedua: Demikian pula halnya untuk masing-masing rukun harus diimani secara sempurna dan utuh, bukan hanya secara parsial. Jika tidak, maka iman terhadap rukun tersebut menjadi tidak sah.

Contoh :

  • Beriman kepada Allah mencakup tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat. Ketika kaum musyrik Arab hanya beriman kepada tauhid Rububiyyah dan tidak merealisasikan tauhid Uluhiyyah maka tidak sah iman mereka kepada Allah.
  • Beriman kepada kitab-kitab Allah harus mencakup seluruh kitab-kitab suci yang Allah turunkan. Ketika kaum Yahudi hanya beriman kepada Taurat saja dan mengingkari Injil dan al-Quran maka mereka Demikian pula Nasrani yang hanya mengimani Taurat dan Injil namun mengingkari al-Quran maka mereka kafir.
  • Beriman kepada para Rasul harus mengimani seluruhnya. Ketika kaum Yahudi dan Nasrani tidak beriman kepada Nabi Muhammad maka mereka kafir.

Kaidah Ketiga: Beriman kepada rukun-rukun iman tersebut harus sesuai dengan dalil dan aturan syariat, bukan dengan hawa nafsu dan mengada-adakan interpretasi sendiri.

Sebagai contoh:

  • Beriman kepada Allah sebagai Sang Pencipta, dan bahwa semua makhluk berasal dari ketiadaan, kemudian diciptakan oleh Allah menjadi ada. Bukan sebagaimana diyakini oleh sebagian kaum filsafat yang menyatakan bahwa alam semesta itu bersifat qadim (azali) bersama dengan keazalian Allah.
  • Beriman kepada malaikat harus dengan sifat-sifat malaikat yang dijelaskan oleh dalil, seperti tercipta dari cahaya dan memiliki sayap. Bukan seperti keyakinan sebagian filsuf yang meyakini bahwa malaikat hanyalah bisikan-bisikan dalam jiwa yang mengajak kepada kebaikan. Atau keyakinan sebagian orang yang menyatakan bahwa malaikat tidak memiliki sayap secara hakiki.
  • Meyakini kitab suci al-Quran terjaga keautentikannya oleh Allah, bukan sebagaimana keyakinan sebagian kaum Syiáh-Rafidhah yang meyakini al-Quran yang ada sekarang mengalami distorsi.
  • Beriman kepada para Nabi harus sesuai dengan sifat mereka sebagai hamba, bukan dengan mengultuskan mereka hingga derajat ketuhanan, seperti halnya kalangan Nasrani yang mengangkat Nabi Isa hingga derajat tuhan.
  • Beriman bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir dan penutup. Bukan seperti kalangan Ahmadiyah yang meyakini adanya nabi setelah beliau, yaitu Mirza Gulam Ahmad al-Qadiyani.
  • Beriman kepada hari kebangkitan dengan meyakini bahwa yang dibangkitkan adalah ruh dan jasad. Bukan sebagaimana keyakinan semisal Ibnu Sina yang menyatakan bahwa yang dibangkitkan hanyalah ruh, sedangkan jasad tidak dibangkitkan.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) HR Muslim dalam Shahih-nya no. 8.

([2]) Lihat: Majmu’ al-Fatawa, jilid VII, hlm. 14 dan jilid VII, hlm. 359.

([3]) Lihat: Majmu’ al-Fatawa, jilid VII, hlm. 473-474.

([4]) HR Muslim dalam Shahih-nya no 150.

Yakni, Nabi khawatir orang yang kurang imannya tersebut apabila tidak diberikan harta maka akan murtad dan akhirnya terjerumus ke neraka. Lihat: Majmu al-Fatawa, vol. VII, hlm. 474.

([5]) Lihat: Majmu’ al-Fatawa, jilid VIII, hlm. 429.

([6]) HR Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1498 dan disahihkan oleh al-Albani.

([7]) Lihat: Syarh Kitab at-Tauhid, jilid II, hlm. 10.

([8]) HR Bukhari dalam Shahih-nya no. 10, dan Muslim dalam Shahih-nya no. 41.

([9]) HR Muslim dalam Shahih-nya no. 35.

([10]) Terdapat penjelasan apik dari Ibnul-Qayyim seputar masalah ini dalam al-Risalah al-Tabukiyyah.

Kata fakir dan miskin jika disebutkan secara sendiri-sendiri maka keduanya memiliki makna yang sama. Namun jika keduanya disebutkan secara bersamaan maka fakir keadaannya lebih menderita. Contohnya sebagaimana firman Allah I:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk fi sabilillah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Taubah: 60)

Fakir adalah orang yang penghasilannya kurang dari setengah kebutuhannya. Misalnya seseorang berkebutuhan Rp4 juta, namun dia hanya memiliki penghasilan Rp1 juta, maka dia disebut fakir. Adapun miskin adalah orang yang penghasilannya lebih dari setengah kebutuhannya namun tidak mencukupi seluruh kebutuhannya. Misalnya seseorang yang berkebutuhan Rp4 juta namun penghasilannya hanya Rp3 juta. Ini adalah keterpisahan makna fakir dan miskin jika keduanya disebutkan secara bersama. Namun jika keduanya disebutkan secara terpisah (hanya disebutkan salah satunya saja) maka fakir dan miskin memiliki makna yang sama.

Contoh selanjutnya adalah kata birr dan taqwa. Jika masing-masing disebutkan secara sendirian maka kata birr mencakup makna taqwa dan demikian pula sebaliknya. Namun jika keduanya disebutkan secara bersamaan, seperti firman Allah I,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS al-Maidah: 2)

Maka birr maksudnya adalah kebajikan, sedangkan taqwa maksudnya meninggalkan maksiat.

([11]) Lihat: Jami’ alÚlum walHikam, hlm. 125.

Ihsan bergandengan dengan Iman seperti pada firman Allah:

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS al-Maidah: 93)

Demikian juga firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.” (QS al-Kahf: 30)

Adapun Ihsan bergandengan dengan Islam seperti pada firman Allah :

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ

“(Tidak demikian) bahkan siapa yang menyerahkan diri (berislam) kepada Allah, sedangkan ia berbuat Ihsan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya” (QS al-Baqarah: 112)

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Dan siapa yang menyerahkan dirinya (berislam) kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat Ihsan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS Luqman: 22)

([12]) Karena Nabi ﷺ bersabda,

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ

“Ketahuilah bahwasanya seorang dari kalian tidak akan melihat Rabbnya ‘Azza wa jalla hingga ia meninggal.(HR Muslim dalam Shahih-nya no. 169)

Ketika Nabi Musa ingin melihat Allah I maka Nabi Musa tidak mampu, sebagaimana yang Allah firmankan,

فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.(QS al-A’raf: 143)

Ulama menjelaskan, hal tersebut karena ketidakmampuan kita untuk melihat Allah I. Jangankan melihat Allah I, melihat cahaya matahari saja kita tidak mampu. Nabi pernah ditanya oleh Sahabat tentang perjalanannya mencapai Sidratul-Muntaha,

هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟ قَالَ: «نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ»

“Apakah engkau melihat Allah? Beliau menjawab: Ada cahaya, bagaimana aku bisa melihatnya.” (HR Muslim dalam Shahih-nya no. 291)

Dalil-dalil ini menunjukkan kita tidak bisa melihat Allah. Karena itu, dalam hadis disebutkan كَأَنَّكَ “seolah-olah”. Maksud seolah-olah tersebut adalah engkau menghadirkan pengagungan Allah dalam hati, bahwa Allah di hadapanmu.

([13]) Lihat: Syarh al-Arba’in al-Nawawiyyah, hlm. 31.

Renungkanlah keagungan Allah. Bagaimana Allah menciptakan langit pertama, kedua, ketiga hingga langit ketujuh. Kemudian di atas langit tersebut ada Kursi, di atasnya ada ’Arsy, dan Allah Maha Agung lagi Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (QS al-Zumar: 67)

Allah I berfirman,

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS al-Anbiya`: 104)

Ibnu Mas’ud berkata,

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرَضُونَ السَّبْعُ فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ إِلاَّ كَخَرْدَلَةٍ فِي يَدِ أَحَدِكُمْ

“Tidaklah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dalam genggaman Allah kecuali seperti biji yang ada di tangan salah satu dari kalian.”

Allah di atas, Allah Maha Besar dan Allah Maha Mengetahui seluruh yang kita kerjakan. Allah berfirman,

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS al-Mulk: 16)

Inilah yang pertama kita hadirkan, yaitu seolah-olah Allah berada di hadapan kita dan kita seolah-olah melihat-Nya.

([14]) HR Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath no. 8796.

([15]) Lihat: Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam, hlm. 125-126; dan Majmu’ Rasail Ibn Rajab, jilid IV, hlm. 431-432.

([16]) Lihat: Tafsir al-Thabari, vol. XIII, hlm. 634.

Mujahid dan Ibnu Juraij berkata, الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ الْإِيمَانُ “Kalimat yang baik adalah Iman.” Lihat: Tafsir al-Qurthubi, vol. IX, hlm. 359.

Pendapat kedua, yang dimaksud dengan طَيِّبَةً adalah الْمُؤْمِنُ “seorang mukmin”. Lihat: Tafsir al-Thabari, vol. XIII, hlm. 635-636.

Adapun pohon yang dimaksud dalam firman-Nya, maka ada dua pendapat di kalangan Salaf. Pertama: pohon kurma. Kedua: pohon di surga. Lihat: Tafsir al-Thabari, vol. XIII, hlm. 637-641. Imam al-Thabari lebih condong memilih pendapat pertama, bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Hal ini karena banyak dalil yang menjelaskan bahwa pohon yang baik adalah kurma. Di antaranya dari Ibnu Umar h Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ المُسْلِمِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي النَّخْلَةَ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ: هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، ثُمَّ التَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ فَسَكَتُّ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

Sesungguhnya di antara pepohonan ada pohon yang keberkahannya seperti keberkahan seorang muslim.”

Lalu Nabi ﷺ menjelaskan tentang pohon tersebut,

«هِيَ النَّخْلَةُ»

“dia adalah pohon kurma.”  (HR Bukhari dalam Shahih-nya no. 5444)

([17]) HR Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 3976 dan disahihkan oleh al-Albani.

([18]) HR al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 12 dan Muslim dalam Shahih-nya no. 39.

([19]) HR Bukhari dalam Shahih-nya no. 10, dan Muslim dalam Shahih-nya, no. 41.

([20]) HR Muslim dalam Shahih-nya, no. 1.