Jangan Menjadikan Bagi Allah Tandingan-tandingan (BAB-41)

 قول الله تعالى: فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jangan Menjadikan Bagi Allah Tandingan-tandingan

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Bab ini adalah penyempurna dari bab sebelumnya, dimana bab sebelumnya membahas tentang orang-orang yang menyandarkan suatu nikmat kepada sebab dan bukan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, yang itu merupakan syirik yang berkaitan dengan lafal. Maka pembahasan pada bab  ini juga berkaitan hal tersebut, yaitu perkara yang termasuk syirik lafal.

Matan

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 22)

Syarah

Ayat yang dibawa oleh penulis rahimahullahu ini terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat ke-22. Kita sama-sama ketahui bahwasanya perintah yang pertama dalam Al-Quran ada pada surah Al-Baqarah ayat ke-21, dimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 21)

Adapun ayat setelahnya berbunyi,

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 22)

Banyak faedah yang bisa kita ambil dari kedua ayat ini, yang di antaranya:

Pertama, perintah pertama dalam mushaf (Al-Quran) adalah tentang bertauhid (beribadah) kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kedua, perintah bertauhid tidak menjadi sempurna jika tanpa ada larangan berbuat syirik, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang lain,

اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dengan ayat ini untuk menyempurnakan perintah bertauhid.

Ketiga, dari kedua ayat ini, ada beberapa hal yang Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan sebagai nikmat bagi orang-orang musyrikin. Di antaranya adalah: (1) Allah yang menciptakan mereka dan nenek moyang mereka, (2) Allah menjadikan bumi sebagai hamparan, (3) Allah menjadikan langit sebagai bangunan (atap) yang kokoh, (4) Allah menurunkan hujan, (5) Allah menumbuhkan tetumbuhan sebagai rezeki bagi mereka. Kelima poin ini merupakan perkara Rububiyah Allah, dan orang-orang musyrikin Arab dahulu mengakui akan Rububiyah Allah Subhanahu wa ta’ala, hanya saja mereka terjerumus kepada kesyirikan dalam tauhid Al-Uluhiyah.

Keempat, Al-Quran sering berdalil dengan tauhid Ar-Rububiyah untuk menegaskan tauhid Al-Uluhiyah. Sebagaimana dalam kedua ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala berdalil dengan Rububiyah-Nya bahwa tidak ada yang menciprakan mereka dan nenek moyang mereka kecuali Allah, tidak ada yang menjadikan bumi sebagai hamparan kecuali Allah, tidak ada yang menjadi langit sebagai bangunan yang kokoh kecuali Allah, tidak ada yang menurunkan hujan kecuali Allah, dan tidak ada yang menumbuhkan tetumbuhan kecuali Allah, untuk menegaskan bahwa konsekuensi dari Rububiyah Allah adalah tidak ada yang boleh disembah kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala.

Perlu untuk kita perhatikan bahwa ayat ini turun kepada kaum musyrikin Arab, dan kita tahu bahwa kaum musyrikin Arab melakukan syirik akbar. Oleh karena itu, kata أَنْدَاداً (tandingan-tandingan) dalam ayat ini maksudnya adalah berhala-berhala. Artinya, asalnya ayat ini merupakan ayat yang berkaitan dengan syirik akbar, akan tetapi para salaf seperti Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berhujjah dengan ayat ini untuk sekaligus mengingkari syirik ashghar, karena sama-sama menjadikan Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai tandingan. Mungkin timbul pertanyaan di antara kita bahwa mengapa ayat yang berkaitan dengan syirik akbar digunakan untuk syrik Ashghar (kecil)? Maka jawabannya adalah karena dua sebab: ([1])

Sebab pertama, yaitu karena syirik akbar maupun syirik ashghar sama-sama merupakan bentuk menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah Subhanahu wa ta’ala, meskipun tingkatannya berbeda.

Sebab kedua, lafal أَنْدَاداً dalam ayat ini merupakan isim nakiroh yang datang dalam konteks larangan yang memberikan faedah keumuman. Artinya, أَنْدَاداً (tandingan-tandingan) dalam ayat ini mencakup semua jenis tandingan bagi Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan terbatas pada berhala-berhala semata.

Matan

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata dalam menafsirkan ayat tersebut,

الأَنْدَاد: هُوَ الشِّرْك، أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءِ فِيْ ظُلْمَةِ اللَّيْل. وَهُوَ أَنْ تَقُوْل: والله وَحَيَاتِكَ يَا فُلَان، وَحَيَاتِي، وَتَقُوْل: لَوْلَا كُلَيْبَةُ هَذَا لَأَتَانَا اللُّصُوْص. وَلَوْلَا البَطُّ فِي الدَّارِ لَأَتَانَا اللُّصُوْص. وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِه: مَا شَاءَ الله وَشِئْتَ. وَقَوْلُ الرَّجُلِ: لَوْلَا الله وَفُلَان. لَا تَجْعَل فِيْهَا فٌلَانًا ; هَذَا كُلَّهُ بِهِ شِرْكٌ

Al-Andaad (membuat tandingan bagi Allah) adalah syirik, yang dimana itu lebih samar (untuk diketahui) daripada rayapan (langkah kaki) semut kecil di atas batu hitam di kegelapan malam. Yaitu seperti engkau berkata, ‘Demi Allah dan demi kehidupanmu wahai fulan’, atau engkau berkata, ‘Demi hidupku’. Dan seperti engkau berkata, ‘Kalau bukan karena anjing ini tentu kita telah didatangi pencuri-pencuri itu’, atau ‘Kalau bukan karena angsa di rumah ini tentu kita akan didatangi pencuri-pencuri tersebut’. Atau seperti ucapan seseorang kepada kawannya, ‘Ini terjadi atas kehendak Allah dan kehendakmu’, atau seperti ucapan seseorang, ‘Kalau bukan karena Allah dan si fulan’. Oleh karena itu janganlah menyertakan ‘si fulan’ dalam ucapan-ucapan seperti itu, karena itu seluruhnya adalah kesyirikan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya)

Syarah

Untuk menafsirkan ayat sebelumnya, penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan perkataan salaf yaitu Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, dimana penafsiran model seperti ini merupakan metode tafsir yang terbaik.([2]) Sebelumnya, perlu untuk kita ketahui bahwa ada beberapa metode untuk menafsirkan Al-Quran:

Pertama, metode menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran yang lainnya, atau dengan kata lain menafsirkan suatu ayat dengan ayat yang lainnya. Contoh tafsir yang menggunakan metode ini adalah tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, adapun ulama-ulama kontemporer yang menggunakan metode ini di antaranya adalah Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah dalam kitabnya Adhwaul Bayan. Metode tafsiran ini adalah metode tafsiran yang terbaik.

Kedua, tingkatan selanjutnya adalah menafsirkan ayat-ayat dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. ([3])

Ketiga, metode menafsirkan ayat dengan perkataan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. ([4]) Di antara ulama yang menafsirkan dengan metode ini adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari. Ketika beliau telah menafsirkan ayat, maka beliau akan menyebutkan beberapa pendapat terkait suatu ayat, dimana masing-masing pendapat tersebut beliau sebutkan siapa saja dari kalangan para sahabat dan tabi’in yang berpendapat dengan pendapat tersebut, dan bahkan beliau menyebutkan sanad perkataan salaf tersebut.

Keempat, metode menafsirkan ayat dengan tafsiran tabi’in. ([5])

Kelima, metode menafsirkan ayat dengan konsekuensi bahasa.

Adapun penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menafsirkan ayat yang sebelumnya beliau bawa dengan metode kedua, yaitu menafsirkan ayat dengan perkataan para salaf (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), yang diman salaf tersebut adalah Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhu.

Pada perkataan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu ini, dia menafsirkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala sebelumnya dengan mengatakan bahwa الأَنْدَاد adalah syirik, dan kesyirikannya itu lebih samar daripada bekas langkah kaki semut di atas batu hitam pada malam hari. Dari sini kemudian kita bisa membagi syirik dengan dua kategori:

  1. Ditinjau dari besar dan kecilnya

Kita telah sama-sama ketahui bahwa syirik jika ditinjau dari besar dan kecilnya, maka akan terbagi menjadi dua yaitu syirik akbar dan syirik ashghar, dan hal ini telah kita jelaskan dibanyak bab sebelumnya.

  1. Ditinjau dari tampak dan tidaknya

Jika ditinjau dari sisi tampak dan tidaknya, maka kita bisa menjabarkannya sebagai berikut,

  • الشِّرْكُ الْجَلِيُّ Syirik Jaliy (syirik yang jelas)

Syirik yang jelas atau tampak itu sendiri bisa berkaitan dengan syirik akbar maupun syirik ashghar. Adapun contoh syirik akbar yang jelas (tampak) adalah menyembelih hewan untuk selain Allah Subhanahu wa ta’ala yang dalam hal ini di antaranya adalah untuk Jin. Adapun contoh syirik kecil yang tampak adalah memakai jimat.

  • الشِّرْكُ الْخَفِيُّ Syirik khafiy (syirik yang samar)

Syirik khafiy (samar) terbagi menjadi dua, yaitu syirik yang berkaitan dengan niat dan tujuan, dan syirik yang berkaitan dengan lafal.

Pertama, syirik khafiy yang berkaitan dengan niat dan tujuan juga terbagi pada syirik akbar dan syirik ashghar. Contoh syirik khafy yang syirik akbar adalah al-Khauf As-Sirri (ketakutan tanpa sebab dzahir). Adapun yang yang termasuk dalam syirik ashghar adalah riya’, ujub, dan yang lainnya. Syirik jenis ini disebut dengan syirik khafiy karena letaknya di dalam hati dan tidak ada orang yang mengatahuinya.

Kedua, syirik khafiy yang berkaitan dengan lafal contohnya adalah seperti contoh-contoh perkataan yang disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu. Syirik khafiy berkaitan dengan lafal pada asalnya adalah sebuah kesyrikian yang tampak, akan tetapi dia masuk pada kategori syirik khafi karena banyak orang yang tidak sadar kalau perkataan tersebut bisa menjerumuskan dalam kesyirikan.

Dari beberapa penjelasan mengenai kategori kesyirikan di atas, contoh-contoh perkataan yang dibawakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu ini masuk pada syirik khafiy (syirik yang samar) yang derajatnya adalah syirik ashghar. Dari contoh-contoh perkataan yang dibawakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu ini pula, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ada empat jenis kalimat syirik ashghar yang termasuk kategori الأَنْدَاد (menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah Subhanahu wa ta’ala). Di antara bentuk kalimat tersebut antara lain:

  1. Bersumpah dengan selain nama Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana yang disebutkan bahwa contohnya adalah orang yang bersumpah dengan berkata “Demi hidupku”.
  2. Menggadengkan sumpah terhadap Allah dengan makhluk. Contohnya adalah perkataan “Demi Allah dan demi hidup si fulan”.
  3. Menyandarkan nikmat kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Contohnya adalah perkataan “Kalau bukan karena anjing ini tentu kita telah didatangi pencuri-pencuri itu”.
  4. Menyandarkan kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kehendak selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Contohnya adalah perkataan “Ini terjadi atas kehendak Allah dan kehendakmu”.

Semua syirik khafiy yang berkaitan dengan lafal, sebagiamana telah kita sebutkan bahwa hukum asalnya adalah syirik ashghar (kecil). Akan tetapi hukum asal tersebut bisa berubah menjadi syirik akbar, dengan syarat jika lafal yang diucapkan tersebut diyakini. Adapun kebanyakan kaum muslimin yang mengucapkan kalimat yang mengandung syirik khafiy tidak dengan meyakini. Contoh seperti perkataan seorang: “Kalau bukan karena angsa, pencuri itu telah masuk ke rumah kita”. Tentu orang yang mengatakan hal tersebut tidak meyakini bahwa angsa tersebut yang mengatur alam semesta sehingga berhasil mencegah pencuri masuk ke dalam rumah, akan tetapi dia hanya meyakini bahwa angsa tersebut hanya sebab, dia tetap yakin bahwa Allah yang mengatur alam semesta ini, namun perkataannya tersebut termasuk syirik kecil. Adapun ketika dia meyakini bahwa angsa tersebut yang menyelamatkan dia dengan independent tanpa kekuasaan Allah, maka dia telah terjatuh pada syirik akbar. Oleh karena itu, keyakinan yang benar adalah kita meyakini bahwasanya yang menyelamatkan kita dan mengatur segalanya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, hanya saja Allah menolong kita melalui sebab angsa.

Matan

Dari ‘Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu([6]), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka ia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan, dan Al-Hakim menilainya sahih)

Dan berkata Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

لَأَن أَحْلِفَ بِالله كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ صَادِقًا

Sungguh bersumpah dusta dengan menyabut nama Allah lebih aku sukai daripada bersumpah jujur namun menyebut nama selain-Nya.”

Syarah

Ini menunjukkan bahwasanya bersumpah dengan selain nama Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dosa besar. Meskipun kita ketahui bahwa bersumpah dengan selain nama Allah adalah syirik kecil, akan tetapi hakikatnya perkara tersebut merupakan dosa besar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa orang yang bersumpah selain nama Allah maka dia telah kufur atau telah melakukan kesyirikan.

Saking buruknya bersumpah dengan selain nama Allah, Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu lebih memilih bersumpah dengan nama Allah namun bohong daripada bersumpah dengan selain nama Allah meskipun jujur. Kita sama-sama tahu bahwa keduanya adalah bukanlah perkara yang baik, akan tetapi kenapa Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu lebih memilih bersumpah dengan nama Allah meskipun dusta? Tentu jawabannya adalah karena dosa syirik lebih besar daripada dosa dusta. Tentu kita yakin kalau Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu tahu bahwa hukum bersumpah palsu (bohong) dengan nama Allah adalah dosa besar, karena dia pula yang pernah meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ كَاذِبَةٍ، يَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ رَجُلٍ مُسْلِمٍ – أَوْ قَالَ: أَخِيهِ – لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

Barangsiapa bersumpah dengan sumpah dusta untuk menguasai harta seorang muslim -atau dengan redaksi untuk menguasai harta saudaranya- ia akan bertemu Allah sedang Allah dalam keadaan murka kepadanya.”([7])

Akan tetapi ada perbuatan sumpah yang jauh lebih besar dosanya daripada itu, yaitu bersumpah dengan selain nama Allah meskipun jujur, karena bersumpah dengan selain nama Allah adalah perbuatan syirik.

Matan

Dan dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَقُوْلُوا: مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا: مَا شَاءِ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فَلاَنٌ

Janganlah kalian mengatakan: ‘Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan’, akan tetapi katakanlah: ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak fulan’.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang sahih)

Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i([8]),

أَنَّهُ يَكْرَهُ أَنْ يَقُوْلَ أَعُوْذُ بِاللهِ وَبِكَ. وَيَجُوْزُ أَنْ يَقُوْل: بِاللهِ ثُمَّ بِكَ. قَالَ: وَيَقُوْل: لَوْلَا الله ثُمَّ فُلَان؛ وَلَا تَقُوْلُوْا وَلَوْلُا اللهُ وَفُلَان

Bahwa dia melarang ucapan: ‘Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu’, tetapi ia memperbolehkan ucapan: ‘Aku berlindung kepada Allah, kemudian kepadamu’. Dan (boleh) ucapan: ‘Kalau bukan karena Allah kemudian karena fulan’, dan dia tidak memperbolehkan ucapan: Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.”

Syarah

Dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa tidak boleh mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendak fulan”, akan tetapi boleh mengatakan “Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak fulan”. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan perkataan yang menggunakan kata sambung ثُمَّ (kemudian)? Alasannya adalah karena jika menggunakan kata sambung وَ (dan), maka akan menunjukkan kesetaraan antara Allah Subhanahu wa ta’ala dan makhluk, sedangkan menyetarakan antara Allah dan makhluk adalah termasuk dalam kesyirikan. ([9])

Demikian pula contoh perkataan yang diriwayatkan oleh Ibrahim An-Nakha’i bahwa tidak boleh seseorang menggunakan kata sambung و (dan) dalam seperti ucapan: “Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu”, akan tetapi hendaknya menggunakan kata sambung ثم (kemudian) seperti ucapan: “Aku berlindung kepada Allah, kemudian kepadamu”. Karena sekali lagi bahwa kata sambung و (dan) dalam ucapan-ucapan seperti ini merupakan bentuk penyetaraan antara Allah dengan makhluk-Nya, yang itu merupakan bentuk kesyirikan.

Adapun jika perkaranya adalah sumpah, seperti contoh ucapan: “Demi Allah kemudian demi engkau”, maka yang seperti ini tetap tidak boleh meskipun menggunakan kata sambung ثم (kemudian), karena yang namanya bersumpah dengan selain nama Allah adalah kesyirikan.

Penulis kitab Fathul Majid, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya mengajak kita membandingkan ucapan-ucapan terkait pembahasan kita pada bab ini. Beliau mengajajak kita membandingkan bahwa kalau ucapan-ucapan seperti: “Demi Allah dan demi Nabi” atau “Kalau bukan karena fulan” merupakan ucapan kesyirikan, maka bagaimana lagi dengan ucapan seseorang dalam qasidah burdah pada acara maulid  yang di antara liriknya berbunyi,

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِيَ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ … سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمَمِ

Wahai makhluk termulia (Muhammad) kepada siapakah aku berlindung selain engkau ketika terjadi musibah yang meliputi segalanya

إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي … فَضْلًا وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ

Jika engkau tidak memegang tanganku (pada hari kemudian) maka katakanlah : Wahai orang yang tergelincir kakinya

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا … وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

Karena di antara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat-Nya, dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhil Mahfudzh dan pena

Apakah syair qasidah burdah ini adalah lafal yang merupakan kesyirikan atau bukan? Tentu jelas kesyirikan, karena dalam syairnya disebutkan bahwa mereka menjadikan tempat berlindung hanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak ada tempat berlindung selain beliau. Subhanallah, dalam syair-syair mereka yang seperti ini bukan lagi karena menggunakan tambahan kata sambung و (dan), akan tetapi mereka langsung menyandarkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang seharusnya itu disandarkan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Seandainya syair-syair diatas ditujukan kepada Allah (bukan kepada Nabi) tentu sangat indah dan itulah kermunian tauhid. Kalimat-kalimat dalam syair ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Memang benar bahwa kita harus mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melebih orang tua dan diri kita, akan tetapi kita tidak boleh mengkultuskan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam daripada tempatnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah bersabda,

لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ

Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskanku) sebagaimana orang Nasrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah Abdullah wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya).”([10])

Matan

Kandungan bab ini:

  1. Tafsir tentang ayat dalam surah Al-Baqarah tentang kata أَنْدَاداً
  2. Penjelasan para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah yang berkaitan dengan syirik akbar itu mencakup tentang syirik ashghar (kecil)
  3. Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah adalah syirik
  4. Bersumpah menggunakan nama selain Allah meskipun jujur, itu lebih besar dosanya daripada sumpah palsu dengan menggunakan nama Allah
  5. Perbedaan antara huruf و (dan) dan ثم (kemudian) dalam sebuah lafal

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab At-Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Lihat At-Tamhid Lisyarh Kitab At-Tauhid, Shalih Alu Syaikh, 454

([2]) Lihat Muqoddimah Fi Ushul At-Tafsir, Ibnu Taimiyyah, 39, Al-Burhan Fi ‘Ulum Al-Quran, Badruddin Az-Zarkasyi, 2/175

([3]) Lihat Muqoddimah Fi Ushul At-Tafsir, Ibnu Taimiyyah, 39. Dan beliau menukilkan ucapan imam As-Syafi’i:

كُلُّ مَا حَكَمَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ مِمَّا فَهِمَهُ مِن القُرْآنِ

“Semua yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapkan hukumnya, adalah berdasarkan apa yang beliau pahami dari Al-quran”

([4]) Lihat Muqoddimah Fi Ushul At-Tafsir, Ibnu Taimiyyah, 39. Karena kebenaran pada mereka itu lebih dekat. Yang demikian dikarenakan mereka hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mereka menyaksikan dan mengetahui turunnya Al-quran, dan dikarenakan mereka memiliki pemahaman yang sempurna terhadap Al-quran, dan mereka adalah orang yang kuat dalam amal shalih dan taqwa.

([5]) Lihat Muqoddimah Fi Ushul At-Tafsir, Ibnu Taimiyyah, 44.

([6])  Penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam hal ini keliru dalam menyebutkan perawi hadits ini. Yang benar adalah hadits ini diriwayatkan oleh anaknya yaitu Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma.

([7])  HR. Bukhari no. 6659

([8])  Dia adalah seorang tabi’in

([9]) Lihat Kalimat Al-Ikhlash Wa Tahqiq Ma’naha, Ibnu Rojab Al-Hanbali, 24.

([10])  HR. Bukhari no. 3445