Takut Kepada Allah (BAB-31)

قول الله تعالى: إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Takut Kepada Allah

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA

Syarah

Takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala masih berkaitan dengan ibadah hati. Oleh karenanya sebagian rasa takut adalah ibadah dan tidak boleh diserahkan kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Macam-macam Model Takut

  1. الخوف المشروع (Takut yang disyariatkan)

Takut yang disyariatkan adalah takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:

حَدُّ الْخَوْفِ مَا حَجَزَكَ عَنْ مَعَاصِي اللَّهِ. فَمَا زَادَ عَلَى ذَلِكَ: فَهُوَ غَيْرُ مُحْتَاجٍ إِلَيْهِ.

“Batasan takut adalah: Takut yang menghalangimu dari bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun yang lebih dari itu, maka ia tidak dibutuhkan sama sekali”. ([1])

Akan tetapi syarat agar seseorang bisa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan benar adalah harus disertai dengan raja’ (berharap kepada Allah). Karena jika seseorang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tanpa ada rasa harap kepada Allah, maka hal tersebut akan menjadikan seseorang putus asa terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala, sedangkan putus asa terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dosa besar. Abu ‘Ali Ar-Rudzbari mengatakan:

الْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ كَجَنَاحَيِ الطَّائِرِ إِذَا اسْتَوَيَا اسْتَوَى الطَّيْرُ وَتَمَّ طَيَرَانُهُ. وَإِذَا نَقَصَ أَحَدَهُمَا وَقَعَ فِيهِ النَّقْصُ. وَإِذَا ذَهَبَا صَارَ الطَّائِرُ فِي حَدِّ الْمَوْتِ.

“Takut dan harap itu seperti dua sayap burung, jika ia seimbang maka sempurnalah burung itu dan sempurna terbangnya. Dan jika salah satunya kurang maka akan kurang juga. Dan jika keduanya tidak ada, maka burung itu sama seperti mati”. ([2])

Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala harus kita bina dan hadirkan di dalam diri kita, karena hal itu adalah ibadah yang sangat dituntut oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Terdapat beberapa sebab-sebab yang bisa menumbuhkan rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala antara lain.

  • Mempelajari nama-nama dan sifat Allah

Mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala akan membuat kita semakin takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Di antara sifat-sifat Allah yang harus kita pelajari di antaranya adalah tentang bagaimana hukumannya yang sangat keras, dan tentang bagaimana ketika Allah Subhanahu wa ta’ala murka bagi orang yang melanggar larangan-larangan-Nya. Di antaranya pula adalah tentang bagaimana dahsyatnya siksaan Allah Subhanahu wa ta’ala jika telah menyiksa suatu kaum, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ

Dan tidak ada seorang pun yang bisa membelenggu (menyiksa) seperti belengguan-Nya.” (QS. Al-Fajr : 26)

Maka dengan mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Memberi Hukuman, bisa membuat kita takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan dalam sebuah riwayat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata tentang takut kepada Allah,

كَفَى بِخَشْيَةِ اللهِ عِلْمًا

Cukuplah rasa takut kepada Allah dikatakan sebagai ilmu.”[3]

Dan dalam riwayat yang lain Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata dengan lafal,

الْعِلْمُ خَشْيَةُ اللَّهِ

Ilmu itu takut kepada Allah.” ([4])

Artinya adalah jika ilmu tidak menghantarkan seseorang takut kepada Allah, maka ilmu tersebut bermasalah. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fathir : 28)

Kalau seorang penuntut ilmu semakin menumbuhkan rasa takutnya kepada Allah maka telah benar dia dalam menuntut ilmu. Akan tetapi seseorang yang ilmu bertambah namun tidak menambah rasa takutnya kepada Allah, maka ada yang salah dalam prosesnya dalam menuntut ilmu, baik itu karena niatnya atau karena proses belajarnya. Oleh karenanya Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwasanya ilmu yang tidak menghantarkan seseorang takut kepada Allah maka pasti niatnya terkontaminasi dengan niat yang keliru. Maka jika terjadi demikian hendaknya seseorang introspeksi diri, karena sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ilmu itu adalah rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَاللَّهِ، إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَخْشَاكُمْ لَهُ

Demi Allah, aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan yang paling takut di antara kalian terhadap Allah.”[5]

Ilmu itu pada dasarnya berbanding lurus dengan rasa takut seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena semakin seseorang mengenal syariat Allah, semakin mengenal sifat-sifat Allah, maka akan semakin membuat seseorang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya untuk menimbulkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala kita harus mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ibnu Al-Qoyyim rahimahullahu berkata:

خَوْفُ اللهِ وَخَشْيَةُ عِقَابِهُ. وَهَذَا إِنَّمَا يَثْبُتُ بِتَصْدِيْقِهِ فِى وَعْدِهِ وَوَعِيْدِهِ وَالْإِيْمَانِ بِهِ وَبِكِتَابِهِ وَبِرَسُوْلِهِ. وَهَذَا السَّبَبُ يَقْوَى بِالْعِلْمِ وَالْيَقِيْنِ وَيَضْعُفُ بِضَعْفِهِمَا.

“Takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan hukumannya. Dan yang demikian bisa ada dengan mempercayai dan mengimani janji-janji dan ancaman-ancaman Allah ‘Azza wa Jalla, dan mengimaniNya, kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya. Dan sebab ini bisa menjadi kuat dengan ilmu dan yakin, dan akan melemah dengan melemahnya ilmu dan keyakinan”([6])

  • Mengetahui bagaimana azab Allah

Mengetahui ancaman-ancaman dan azab yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala disebutkan dalam Alquran dan hadits-hadits, tentang bagaimana sengsaranya keadaan penghuni neraka Jahannam, akan membuat kita takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

Di atas mereka (penduduk neraka) ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka. Demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya (dengan azab itu). “Wahai hamba-hamba-Ku, maka takutlah kepada-Ku.” (QS. Az-Zumar : 16)

Dan masih banyak ayat-ayat yang lain yang menerangkan siksaan-siksaan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada penghuni neraka kelak. Dengan membaca ancaman-ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala tersebut akan membuat kita takut dan berharap untuk tidak masuk ke dalamnya. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengatakan,

فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 24)

Dan maksud dari “takutlah kamu dari api neraka” adalah seseorang mengambil penghalang bagi dirinya agar jangan sampai dia terjerumus ke dalam neraka Jahannam.

Kisah tentang seorang pemuda penuntut ilmu yang tinggal di daerah Faas. Suatu hari ada seorang ibu keluar bersama putrinya yang cantik jelita. Maka ternyata sang putri ketinggalan dari ibunya sehingga akhirnya tertahan hingga malam hari. Maka ia pun melihat dari kejauhan sebuah pintu yang tampak ada lampu nyala dibalik lampu tersebut. Lalu ia mengintip di balik pintu tersebut ternyata ada seorang penuntut ilmu yang sedang membaca buku. Maka dalam hati wanita cantik ini ia berkata, “Jika tidak ada kebaikan pada pemuda ini maka tidak ada kebaikan pada seorang pun”. Maka iapun memberanikan diri untuk mengetuk pintu, lalu dijawab oleh sang pemuda. Lalu sang wanita tersebut menceritakan tentang kondisinya yang ketinggalan ibunya, dan ia khawatir jika ia berjalan di malam hari akan ada orang yang mengganggunya. Maka akhirnya sang pemuda merasa wajib baginya untuk menjaga wanita tersebut. Lalu iapun memasukkan wanita tersebut dalam rumahnya, lalu ia menjadikan penghalang berupa tikar antara ia dan sang wanita, lalu iapun melanjutkan membaca buku. Lalu datanglah syaithan menggodanya. Akan tetapi karena keberkahan ilmu maka Allah menjaga pemuda ini. Ia segera mengambil api lampu lalu iapun menggerakkan jarinya ke lampu tersebut, satu demi satu jari-jarinya ia letakkan di api lampu tersebut hingga membakar jari-jarinya. Sang wanita melihat sikap pemuda tersebut dan ia takjub dengan sikapnya. Sementara sang pemuda terus memanasi jarinya. Lalu sang pemuda memanaskan jari-jarinya dari tangannya yang satunya lagi, hingga akhirnya tiba pagi hari dan tampak cahaya terang, maka ia mempersilahkan sang putri untuk keluar dari rumahnya dan segera pulang. Akhirnya sang wanita pulang ke rumahnya dan menceritakan tentang kisah sang pemuda tersebut kepada ayahnya. Maka segeralah ayah sang wanita mendatangi majelis ilmu dan mengabarkan tentang kisah sang pemuda kepada Syaikh (guru) di majelis tersebut. Maka sang guru  meminta agar seluruh para penuntut ilmu mengeluarkan kedua tangan mereka. Seluruh murid kemudian mengeluarkan kedua tangan mereka kecuali sang pemuda tersebut. Maka syaikh pun tahu siapa pemuda tersebut, lalu akhirnya sang ayah menikahkan sang pemuda dengan putrinya tersebut.([7])

Oleh karenanya di antara hal yang dapat membuat kita takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah ingat akan azab neraka Jahannam. Sebagaimana kisah pemuda di atas, kalau api lampu (lilin) saja kita sudah tidak sanggup, maka bagaimana lagi dengan api di neraka Jahannam? Maka jika sekiranya kita terjerumus pada kemaksiatan, segeralah bertaubat dan jangan pernah tunda. Karena kita tidak pernah tahu kapan ruh kita dicabut oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

  • Seseorang sadar dan mengakui kekurangannya dalam beribadah

Ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya masih kurang dalam menjalankan ibadah kepada Allah, maka itu akan membuat dia takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak perlu kita berbicara tentang ibadah-ibadah sunnah, ibadah-ibadah wajib yang kita lakukan saja masih seperti shalat masih banyak kekurangannya, bahkan kita tidak tahu apakah kita melakukannya ikhlas atau tidak. Belum lagi kalau kita menyadari bahwa kita masih kurang khusyuk dalam shalat, atau shalat tidak tepat pada waktunya, atau bahkan tidak berjamaah.

Demikian pula ketika kita menyadari bahwa puasa kita belum bisa dijalankan dengan sempurna. Juga menyadari kekurangan dalam hal berbakti kepada orang tua, kurangnya bersilaturahmi kepada kerabat, dan belum bisa berbuat baik kepada istri dan anak-anak. Ini semua adalah di antara bentuk kekurangan-kekurangan dalam ibadah-ibadah kita. Intinya masih banyak kekurangan yang kita miliki, sedangkan kita sadar bahwa itu semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula dalam berdakwah, kita tidak tahu apakah niat kita berdakwah ini ikhlas karena Allah atau karena dunia. Sedangkan pujian seseorang dan jauhnya orang-orang bukanlah ukuran yang menunjukkan kita ikhlas atau tidak. Maka tatkala kita sadar bahwa kita tidak bisa memastikan diri kita ikhlas atau tidak, maka kita akan takut kepada Allah bahwa jangan sampai selama ini perjuangan dan usaha kita belum tentu diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Terlebih lagi jika kita menyadari bahwa selama ini kita kurang muraqabah (merasa diawasi) terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala, ditambah lagi kita kurang bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga masih malas beribadah.

Oleh karenanya dengan kesadaran akan kekurangan dalam ibadah-ibadah, maka akan timbul pada diri kita rasa takut kepada Allah serta rasa selalu ingin meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, karena belum bisa beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Nya.

  • Menyadari bahwa musibah, bencana, dan hukuman diberikan agar kita takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra’ : 59)

Tentang bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala bisa membinasakan suatu kampung dengan mudah, tentang bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala bisa mematikan seseorang dengan mudah, tentang kemampuan Allah membuat gunung meletus, tentang bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala mendatangkan tsunami dengan mudah, dengan menyadari itu semua akan membuat kita takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kita akan menyadari jika musibah-musibah di dunia saja telah mengerikan, maka bagaimana lagi dengan musibah dan hukuman di akhirat kelak.

  • Takut terhadap maksiat yang telah dilakukan

Maksiat yang dilakukan seseorang terkadang dampaknya tidak hanya di akhirat saja, akan tetapi seseorang bisa merasakan dampak dari maksiatnya di dunia. Ketika seseorang kurang menjaga lisannya, masih menzalimi orang lain, kurang berbakti terhadap orang tuanya, belum menundukkan pandangannya, maka pasti akan ada dampak dari maksiat-maksiat tersebut di dunia. Baik itu dampakannya berupa hati yang menjadi gelap, khusyuk dalam shalat yang dicabut oleh Allah, hilangnya rasa lezat dalam membaca Alquran, dan masih banyak dampak-dampak lain yang berupa hukuman dunia dan agama atas maksiat yang dilakukan oleh seseorang. Maka dengan dampak-dampak yang akan menimpa seseorang yang bermaksiat, akan membuat kita semakin takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

  • Takut terjerumus kembali dalam maksiat saat ini dan dikemudian hari

Sesungguhnya tidak ada di antara kita yang merasa aman bahwa dirinya tidak akan terjerumus dalam maksiat. Mungkin pada saat Ramadhan kita telah menjaga lisan kita, menjaga pandangan kita, kita menjaga komentar-komentar kita, akan tetapi kita tidak pernah tahu kapan kita tergoda oleh syaithan di luar Ramadhan untuk kembali kepada kemaksiatan yang telah kita menghindar darinya.

Bahkan di zaman ini, selama kita masih bergaul dengan internet dan media sosial maka akan sangat mudah bagi kita untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan. Ketahuilah bahwa dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ، قَالُوا: وَمَا حَقُّهُ؟، قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الْأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Hindarilah oleh kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah bagaimana kalau kami butuh untuk duduk-duduk di situ memperbincangkan hal yang memang perlu?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jika memang perlu kalian duduk-duduk di situ, berikanlah hak jalanan’. Mereka bertanya, ‘Apa haknya ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tundukkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam (orang lewat), menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar’.”([8])

Sungguh benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Selama seseorang senang berada di jalan, maka akan banyak hal yang dia bisa lihat, sementara banyak kewajiban yang harus dia tunaikan untuk memenuhi hak-hak ketika da berada di pinggir jalan. Jika di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemungkaran belum tersebar banyak namun sudah diingatkan akan hal ini, maka bagaimana lagi dengan kita di zaman ini yang mungkin seseorang duduk di depan gawainya bisa jadi lebih parah kemungkaran yang dia lakukan daripada duduk di pinggir jalan? Bukankah segala bentuk kemungkaran bisa kita lihat dengan gadget (HP) yang ada di genggaman kita? Bahkan untuk melihat pengajian melalui video yang ada di internet saja tidak jarang kita disuguhkan iklan wanita yang mengumbar aurat terlebih dahulu.

Selain daripada itu, di zaman sekarang ini kita juga sangat mudah bermaksiat dengan telinga dan lisan kita, di antaranya adalah dengan mendengar dan mengumbar aib saudara kita. Padahal dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ

Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”([9])

Bahkan dengan telinga dan lisan kita terkadang secara sengaja digunakan untuk berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”([10])

Terkadang di antara kita tidak bisa menahan lisan dan pendengaran untuk berusaha mencari-cari kesalahan saudara kita. Tentu yang demikian akan menambah aset maksiat kita, terlebih lagi jika kita melakukan hal tersebut setiap harinya. Akan tetapi kita berharap semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Oleh karena itu, merasa khawatir dan takut bahwasanya jangan sampai dikemudian hari kita terjerumus lagi dalam kemaksiatan akan membuat kita semakin takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu doa agar terhindar dari kesyirikan.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.([11])

Hal ini tidak lain karena Abu Bakar radhiallahu ‘anhu takut terjerumus ke dalam kesyirikan. Siapa yang merasa aman dari riya’ dan sum’ah? Padahal rasa ingin dipuji adalah salah satu rasa yang paling selalu ada di dalam hati seseorang, sementara hal itu adalah maksiat dan dosa besar. Maka seseorang hendaknya takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala jika kembali terjerumus kepada kemaksiatan yang dibenci oleh-Nya, karena kesadaran bahwa maksiat tersebut akan membawa mala petaka bagi kita di dunia dan di akhirat. Maka dari itu tidak ada jalan lain kecuali kita harus sering beristighfar dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

  • Khawatir meninggal dalam su’ul khatimah (kesudahan yang buruk)

Di antara perkara yang menyibukkan orang-orang saleh adalah mereka tidak percaya diri bahwa dirinya bisa mendapatkan husnul khatimah. Ingatlah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan dalam sabdanya,

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلُهَا

Sungguh ada seseorang dari kalian yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun takdir telah ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun memasukinya. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun takdir telah ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.”([12])

Cukuplah hadits ini menjadikan kita khawatir tentang bagaimana kesudahan kita kelak. Dan kekhawatiran ini merupakan sifat orang-orang saleh yang tidak percaya diri bisa masuk surga. Bagaimana mereka mau percaya diri bisa masuk surga sementara mereka tidak tahu bagaimana kesudahan mereka? Lihatlah kisah Imam Ahmad bin Hanbal, tatkala dia hendak meninggal dunia, dia mengatakan, “Belum, belum”. Maka anaknya melihat itu, maka anaknya mempertanyakan hal itu ketika Imam Ahmad bin Hanbal sadar. Maka ketika sadar beliau menceritakan,

يَا بُنَيَّ، إِنَّ إِبْلِيسَ وَاقِفٌ فِي زَاوِيَةِ الْبَيْتِ، وَهُوَ عَاضٌّ عَلَى أُصْبُعِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: فُتَّنِي يَا أَحْمَدُ؟ فَأَقُولُ: لَا بَعْدُ لَا بَعْدُ

Wahai anakku, sesungguhnya Iblis sedang berdiri di sudut rumah, dan dia sedang menggigit jari-jarinya, dan dia berkata, ‘Engkau telah lolos dariku ya Ahmad’. Maka aku mengatakan, ‘Belum, belum’.”([13])

Lihatlah bagaimana Iblis berusaha menggoda imam Ahmad agar ujub atas keimanan dan ketakwaannya selama dia hidup. Akan tetapi Imam Ahmad mengatakan perkataan yang menunjukkan bahwa selama beliau belum meninggal, maka beliau belum bisa lepas dari godaan Iblis dan memastikan bahwa beliau husnul khatimah atau tidak.

Oleh karenanya jangan kita teperdaya dengan amal kita dan ibadah kita saat ini, Sesungguhnya kita tidak tahu bagaimana penghujung hidup kita. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan penghujung hidup kita sebagai hal yang gaib, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala. Betapa banyak orang yang dahulunya saleh kemudian menjadi rusak dipenghujung hidupnya. Betapa banyak orang yang dahulunya rajin shalat kemudian menjadi Ateis. Betapa banyak orang yang sebelumnya berpegang teguh pada sunnah, namun kemudian menjadi orang yang menyabarkan bid’ah dan kesyirikan. Betapa banyak orang yang dahulunya sering ikut pengajian, kemudian berhenti karena mulai merasa ragu dan berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ini semua menunjukkan bahwa yang bisa memberikan keistiqamahan adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

Dan sekiranya Kami tidak memperteguh hatimu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka.” (QS. Al-Isra’ : 74)

Oleh karenanya doa yang paling banyak dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sujud-sujudnya adalah doa:

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai yang membolak-balikkan hati manusia, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”([14])

Oleh karenanya hendaknya seseorang jangan merasa percaya diri dengan dirinya bahwa dia termasuk dalam penghuni surga. Karena yang bisa menjamin surga bagi seseorang adalah Allah Subhanahu wa ta’ala atau melalui lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas wahyu dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka ketika seseorang tidak percaya diri terhadap dirinya, dia akan merasa khawatir dan takut kepada Allah, agar jangan sampai dia mati dalam keadaan su’ul khatimah.

  • Takut akan tidak diterimanya amal

Di antara hal yang bisa menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah takut jika amalan-amalan kita tidak diterima oleh-Nya. Ketahuilah bahwa takut akan tidak diterimanya amalan adalah di antara ciri orang yang beriman. Oleh karenanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala membangun rumah Allah Subhanahu wa ta’ala atas dasar perintah-Nya, setiap kali meletakkan batu bersama anaknya Ismail ‘alaihissalam, mereka senantiasa berdoa dengan mengucapkan,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 127)

Namun yang perlu kita perhatikan dalam hal ini adalah kita tidak sedang suuzan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, akan tetapi kita suuzan kepada diri kita sendiri. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha menerima amalan dan taubat seorang hamba. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya dan menerima zakatnya, dan bahwa Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang?” (QS. At-Taubah : 104)

Maka tidak boleh kita suuzan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Yang boleh adalah kita suuzan kepada diri kita sendiri, yaitu di antaranya kita menanyakan apakah diri kita telah ikhlas dalam beramal? Apakah dakwah kita selama ini ikhlas karena Allah? Apakah selama ini kita membantu orang dengan ikhlas atau karena ingin dipuji? Karena jika semua karena selain Allah, maka amal tersebut akan tertolak. Akan tetapi tentunya hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yang lebih mengetahui niat kita. Maka dari itu hal ini menjadikan kita semakin takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena kita tidak tahu apakah amalan kita diterima atau tidak.

Inilah di antara hal-hal yang bisa membuat seseorang semakin takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

  1. الْخَوْفُ الْمُبَاحُ (Takut yang dibolehkan)

Takut yang dibolehkan adalah takut yang menjadi tabiat manusia. Di antaranya seperti takut kepada ular, binatang buas, takut kepada ketinggian. Dan contoh nyata dalam perkara takut yang dibolehkan adalah kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

Sebab aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.” (QS. Asy-Syu’ara : 14)

Demikian pula tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam keluar dari Mesir karena telah memukul seseorang hingga terbunuh, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Qashash : 21)

Bahkan rasa takut Nabi Musa ‘alaihissalam tergambar dalam firman Allah tentang perkataan ayah dari dua orang putri yang telah dibantu oleh Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Ketika (Musa) mendatangi ayahnya wanita tersebut dan dia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia (ayah wanita) berkata, ‘Janganlah engkau takut. Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu’.” (QS. Al-Qashash : 25)

Ini menunjukkan bahwa ketika Nabi Musa ‘alaihissalam sampai ke negeri Madyan pun dia masih takut. Dan bagaimana mungkin dia tidak takut, sementara Fir’aun memiliki pasukan yang sangat banyak sedangkan Musa álahis salam tidak memiliki apa-apa. Oleh karenanya takut seperti ini adalah takut yang wajar.

Dan di antara rasa takut yang merupakan tabiat adalah takut kepada hantu (syaithan). Tatkala seseorang takut tatkala melihat penampakan yang mengerikan dari hantu di depan matanya, maka hal tersebut adalah hal yang wajar. Akan tetapi telah menjadi keharusan bagi seseorang untuk melawannya dengan dzikir-dzikir, ayat-ayat Alquran, dan doa yang telah disyariatkan.

Akan tetapi takut yang wajar (dibolehkan) ini memiliki satu syarat, yaitu rasa takut tersebut tidak boleh menghalangi seseorang dari perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. ([15])Contoh, banyak orang yang takut dengan pedang, dan takut semacam ini adalah takut yang wajar. Akan tetapi ketika seseorang yang takut akan pedang terkena kewajiban jihad (perang), maka dia harus menyingkirkan sifat takut tersebut untuk memenuhi kewajiban jihad tersebut([16]). Contoh lain adalah seseorang yang takut melewati kuburan di malam hari. Meskipun pada dasarnya seseorang tidak boleh takut dalam hal ini, namun kenyataannya banyak orang yang karena diganggu oleh Jin, sehingga takut seperti menjadi takut yang wajar (tabiat). Karena Jin memang bisa mengganggu manusia dengan rupa yang sangat mengerikan, sehingga ketakutan itu menjadi wajar. Namun ketika antara rumah seseorang dengan masjid terdapat kuburan yang harus dilewati, maka dia harus tepis dan lawan rasa takut tersebut untuk bisa shalat berjemaah di masjid, karena shalat di masjid adalah di antara dari perintah-perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, ini pula yang merupakan pembahasan kita dari bab ini, yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka hanyalah Syaithan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali-‘Imran : 175)

Ini merupakan dalil bahwasanya jika rasa takut tersebut telah bertentangan dengan perintah Allah, maka takut tabi’i (tabiat) ini harus dikalahkan.

  1. الْخَوْفُ الْمُحَرَّمُ (Takut yang haram)

Takut yang haram terbagi menjadi dua model,

  • الْخَوْفُ الشِّرْكِيُّ (Khauf yang syirik)

Para ulama menamakan khauf syirik dengan الْخَوْفُ السِّرِّيُّ (Al-Khauf As-Sirri), yaitu rasa takut yang menimpa sesuatu tanpa ada sebab yang dzahir. Contohnya adalah seseorang yang takut tertimpa musibah jika tidak memberi sesajen kepada penghuni kubur. Maka telah jelas bahwa rasa takut seperti ini bisa menjerumuskan kepada kesyirikan. Karena pada dasarnya tidak ada yang bisa menurunkan musibah tanpa ada sebab yang dzahir kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan penghuni kubur. Dan khauf sirri ini adalah di antara perkara yang dilakukan oleh kaum musyrikin kepada para Nabi. Di antaranya adalah seperti perkataan kaum Nabi Hud kepada Nabi Hud ‘alaihissalam,

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ

Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sembahan (Tuhan) kami akan menimpakan penyakit gila atas dirimu.” (QS. Hud : 54)

Mereka menakut-nakuti Nabi Hud ‘alaihissalam bahwa dia akan ditimpa kemudharatan karena mencela tuhan-tuhan mereka. Maka Nabi Hud ‘alaihissalam berkata,

قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ، مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ، إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dia (Hud) menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dengan yang lain, sebab itu jalankanlah semua tipu dayamu terhadapku dan jangan kamu tunda lagi. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil).” (QS. Hud : 54-56)

Sebagian para ulama mengatakan bahwa meskipun Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menyebutkan apa mukjizat Nabi Hud ‘alaihissalam secara spesifik, namun ayat ini sejatinya menggambarkan mukjizat beliau, yaitu berani menghadapi orang-orang musyrikin dan tidak takut kepada mereka. ([17])

Oleh karenanya inilah khauf sirri, yaitu rasa takut tertimpa suatu musibah tanpa ada sebab yang dzahir.

Khauf sirri adalah rasa takut yang bisa sampai pada derajat kesyirikan, karena meyakini adanya selain Allah Subhanahu wa ta’ala yang bisa mendatangkan kemudharatan tanpa sebab yang dzahir. Dan sifat takut semacam ini berkaitan dengan uluhiyah dan rububiyah Allah Subhanahu wa ta’ala. Berkaitan dengan uluhiyah karena pada dasarnya seseorang tidak boleh takut kecuali kepada Allah, dan berkaitan dengan rububiyah karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa ta’ala yang mendatangkan kemudharatan kapan saja. Maka tatkala seseorang meyakini bahwa ada selain Allah Subhanahu wa ta’ala yang bisa mendatangkan kemudharatan dengan segala macam bentuknya baik secara dzahir ataupun tidak, maka inilah yang dinamakan syirik akbar.

  • الْخَوْفُ الْمُحَرَّمُ – مُجَرَّدُ الْمَعْصِيَةِ لاَ تَبْلُغُ حَدَّ الشِّرْكِ (Takut yang merupakan maksiat dan tidak sampai derajat syirik)

Pada dasarnya takut yang merupakan maksiat ini masuk pada model takut yang merupakan tabiat. Hanya saja letak perbedaannya ada pada tindakan yang ditimbulkan, yaitu menghalangi seseorang untuk beramal saleh atau menjerumuskan ke dalam maksiat. Maka sebagaimana telah disebutkan tentang syarat dari takut tabiat, jika seseorang melanggar syarat tersebut maka dia akan terjerumus kepada takut yang diharamkan. Contohnya adalah seorang wanita Muslimah baligh yang enggan untuk menggunakan jilbab karena takut diejek oleh kawan-kawannya. Rasa takutnya terhadap ejekan merupakan sesuatu yang menjadi tabiat manusia, akan tetapi ketika rasa takut membuat dia bermaksiat terhadap Allah dengan tidak mengenakan jilbab, maka inilah yang dimaksud takut yang haram.

Takut yang merupakan maksiat ini hukumnya haram. Akan tetapi terkadang bisa menjerumuskan seseorang kepada riya’ atau mencari keridhaan manusia yang merupakan kesyirikan, sehingga akhirnya dia beramal karena orang lain. Contohnya adalah orang yang mau shalat berjamaah karena untuk menyenangkan hati orang tertentu, karena jika ditinggalkan akan dimarahi. Artinya adalah orang ini takut dengan cercaan orang sehingga dia beramal agar dipuji orang, maka yang demikian adalah riya’.

Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata tentang bagaimana agar seseorang terhindar dari rasa takut yang haram. Dia mengatakan,

مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ

Barangsiapa yang mengenal kondisi manusia, maka dia akan istirahat (tenang).”([18])

Yaitu mengetahui bahwasanya manusia tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot, pujian mereka dan cercaan mereka tidak memberi manfaat ataupun mudorot. Cercaan mereka tidak akan merendahkan kedudukan seseorang di sisi Allah, dan sebaliknya pujian mereka tidaklah mengangkat derajat seseorang di sisi Allah sedikit pun. Manusia pada hakikatnya adalah orang yang sangat lemah dan tidak kuat, jika dia sakit tidak bisa berbuat apa-apa dan jika dia mati dagingnya akan membusuk, maka untuk apa kita berharap dari orang seperti itu? Ketika seseorang telah menyadari betapa tidak bisanya seseorang bergantung kepada manusia, maka dia akan bergantung kepada Allah dan terjauhkan dari rasa takut yang haram.

Antara Khauf dan Raja’

Sebagaimana telah disebutkan bahwa dalam Al-Khauf Al-Masyru’ (takut yang disyariatkan), syarat agar seseorang bisa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan takut yang benar adalah harus menghadirkan sifat raja’ (pengharapan). Ketahuilah bahwa seseorang beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala harus dibangun diatas tiga perkara, yaitu sebagaimana telah disebutkan pada bab sebelumnya, rukun ibadah hati antara lain Al-Khauf (takut), Raja’ (harap), dan Al-Mahabbah (cinta). ([19]) Maka rasa takut tidak boleh berdiri sendiri dan harus disertai pengharapan. Ketika seseorang hanya menghadirkan rasa takut tanpa rasa harap, maka dia akan terjerumus pada keputusasaan terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala, dan hal tersebut merupakan dosa besar dan bahkan merupakan kekufuran. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala tentang perkataan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam kepada anak-anaknya,

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr : 56)

Oleh karenanya rasa takut itu hanya akan bernilai sebagai ibadah ketika disertai dengan raja’ (rasa harap) kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana telah disebutkan bahwa rasa takut dan harap itu adalah ibarat dua sayap burung, jika hilang salah satunya maka burung tersebut tidak akan bisa terbang, sehingga antara rasa takut dan harap harus ada. Maka demikianlah kita dalam beramal saleh, kita berharap amal kita diterima, namun di sisi lain kita juga takut jika amal kita tidak diterima.

Oleh karenanya di antara perkara lain yang menambah takut kita kepada Allah adalah rasa takut bahwa jangan sampai amalan yang kita lakukan selama ini tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Kita tidak suuzan kepada Allah, akan tetapi kita suuzan kepada diri kita sendiri. Kita berburuk sangka kepada diri kita bahwa jangan-jangan niat kita dalam ibadah tidak tulus. Karena tidak ada yang mengetahui ketulusan kita kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya tatkala seseorang beribadah hendaknya berada di antara rasa khauf (takut) dan raja’ (harap).

Para ulama mengatakan bahwa barangsiapa yang ibadah hanya dengan rasa takut, maka dia termasuk khawarij. ([20]) Karena orang-orang Khawarij adalah orang-orang yang berputus asa dan memutuskan harapan orang lain. Dan barangsiapa yang beribadah hanya dengan rasa pengharapan tanpa rasa takut dan selalu merasa aman, maka dia akan menjadi Murji’ah. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Yusuf : 49-50)

Para ulama khilaf tentang kapan seorang hamba menguatkan sisi khaufnya dan kapan dia menguatkan sisi raja’nya, ataukah keduanya harus senantiasa seimbang. Wallahu a’lam bisshawwab, pendapat yang paling kuat adalah hendaknya seorang hamba senantiasa menjaga agar rasa khauf dan raja’nya seimbang terus. Akan tetapi ketika dia banyak melakukan maksiat, maka dia berusaha untuk khauf agar bisa berhenti dari maksiat. Dan apabila mulai timbul keputusasaan, maka dia meningkatkan pengharapannya. Namun hukum asalnya adalah seseorang berusaha untuk menyeimbangkan antara khauf dan raja’nya, dan tidak berlebihan pada salah satunya. Terkhusus apabila seorang hendak meninggal dunia, mereka dianjurkan untuk memperbanyak raja’ (rasa harap). ([21]) Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali ia berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”([22])

Namun hadits ini tidaklah menunjukan bahwa harus mendominasikan harapan di atas rasa takut (khouf). Akan tetapi hadits ini menganjurkan untuk berbaik sangka kepada Allah, yang tentu berbaik sangka adalah bentuk berharap kepada Allah. Karenanya dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,

دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي المَوْتِ، فَقَالَ: كَيْفَ تَجِدُكَ؟، قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَرْجُو اللَّهَ، وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا المَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk seorang anak muda menjelang kematiannya, beliau bertanya: ‘Bagaimana dirimu?’ Pemuda itu menjawab; ‘Wahai Rasulullah, aku mengharap Allah, namun aku juga takut akan dosa-dosaku.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidaklah dua hal (khauf dan raja’) terkumpul dalam jiwa seorang hamba pada keadaan seperti ini, kecuali Allah akan mengabulkan apa yang dia harapkan dan memberikan keamanan dari apa yang dia takutkan.”([23])

Ini dalil bahwa tatkala seseorang hendak meninggal dunia, dia tetap mengumpulkan antara raja’ dan khauf. Akan tetapi bagi orang yang tidak terbiasa menghadirkan keduanya, maka dia pasti akan kesulitan. Karena sesungguhnya sakratul maut bukanlah perkara yang ringan, seseorang akan meninggal sebagaimana dengan kebiasaannya. Ketika seseorang terbiasa dengan rasa aman, maka dia akan merasa aman dari neraka hingga meninggalnya. Demikian pula ketika seseorang terbiasa dengan rasa takut, maka bisa jadi dia meninggal dalam keadaan berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya sekali lagi bahwa seseorang harus menggabungkan antara sifat khauf dan raja’ dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai sebagian para ulama mengatakan bahwa jika dikatakan seluruh penduduk bumi masuk surga kecuali satu orang, maka hendaknya kita khawatir bahwa bisa jadi kita orang yang tidak masuk surga tersebut. Dan apabila dikatakan seluruh penduduk bumi masuk neraka kecuali satu orang, maka hendaknya kita berharap bahwa diri kitalah yang dikecualikan tersebut. Ketika seseorang bisa menata hatinya agar sisi khauf dan raja’ sama-sama kuat, maka dia akan dapat beribadah dengan baik.

Ini semua menunjukkan bahwa sifat Al-Khauf kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah ibadah yang istimrariyah (berkesinambungan/continue), yaitu ibadah yang harus ada di dalam hati kita secara berkesinambungan. Artinya dari hari ke hari, waktu ke waktu berikutnya, selalu hadir dalam hati kita rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka tatkala beramal saleh kita harus takut bahwa bisa jadi amalan tersebut tidak diterima, dan tatkala bermaksiat juga kita harus takut bahwa bisa jadi kita meninggal dalam kondisi melakukan maksiat tersebut. Intinya harus selalu ada rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sampai kita meninggal dunia. 

Matan

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali-‘Imran : 175)

Syarah

Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kita untuk mengalahkan khauf tabi’i (takut yang bersifat tabiat) untuk taat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebab ayat ini turun adalah ketika setelah terjadinya perang Uhud, kaum musyrikin telah pergi, akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengejar mereka karena beliau diejek oleh sebagian orang sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala sebelumnya,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ

(Yaitu) ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, ([24]) “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.” (QS. Ali-‘Imran : 173)

Ada yang menakut-nakuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat bahwasanya kaum Quraisy telah bangkit kembali mengumpulkan pasukannya untuk melakukan perlawanan kembali ke kota Madinah setelah perang Uhud tersebut. Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak takut dengan perkataan mereka, bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit dan ingin mengejar mereka. Maka ketika itu Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan firmanNya,

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali-‘Imran : 175)

Matan

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan([25]) mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah : 18)

Syarah

            Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut tentang orang-orang yang memakmurkan masjid. Para ulama menyebutkan bahwa memakmurkan masjid dalam ayat ini ada dua pengertian, ([26]) pertama adalah memakmurkan dalam artian membangun masjid; kedua adalah memakmurkan dalam artian meramaikan masjid dengan ibadah. Kita melihat betapa banyak orang yang pergi ke masjid, akan tetapi apakah mereka semua dikatakan orang yang memakmurkan masjid secara hakiki? Tentu tidak. Oleh karenanya ayat ini menyebutkan lima syarat kapan seseorang dikatakan sebagai orang yang memakmurkan masjid yang hakiki, Pertama, beriman kepada Allah; Kedua, beriman kepada hari akhir; Ketiga, melaksanakan shalat; Keempat, menunaikan zakat; Kelima, tidak takut kecuali kepada Allah. ([27])

Dan pada ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala memuji orang-orang yang tidak takut kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya seseorang harus menghadirkan rasa takutnya hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dia menjalankan ketaatan karena takut kepada Allah, dan dia siap menerima resiko berupa cercaan-cercaan orang dan tidak takut terhadap-Nya.

Matan

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ

Dan di antara manusia ada sebagian yang berkata, “Kami beriman kepada Allah,” tetapi apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap cobaan manusia itu sebagai siksaan Allah.” (QS. Al-‘Ankabut : 10)

 

Syarah

Ayat ini merupakan kisah yang turun kepada sebagian orang-orang Mekkah yang mereka masuk Islam namun keimanan mereka tidak kuat. Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan perumpamaan tentang sebagian orang-orang yang ketika mereka diuji dan disiksa dengan gangguan manusia, mereka menjadikan siksaan tersebut seperti azab Allah sehingga mereka memilih untuk selamat dari siksaan manusia dengan cara murtad (keluar dari Islam). ([28]) Padahal kita tahu bahwa gangguan manusia tidak sama dengan azab Allah Subhanahu wa ta’ala, sehingga tatkala mereka meninggalkan perintah Allah untuk menghindari gangguan manusia, sejatinya mereka terancam dengan azab Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan lanjutan dari ayat ini adalah,

وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ، وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

Dan jika datang pertolongan dari Tuhanmu, niscaya mereka akan berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu’. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada semua manusia? Dan Allah pasti mengetahui orang-orang yang beriman dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang munafik.” (QS. Al-‘Ankabut : 10-11)

Artinya mereka itu bermuka dua. Jika mereka mendapat gangguan maka mereka meninggalkan kaum mukminin, adapun ketika datang pertolongan Allah maka mereka kembali kepada kaum mukminin. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Allah tahu siapa yang beriman dan siapa yang munafik. Dan ayat-ayat Alquran yang semacam ini sangat banyak, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

الم، أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut : 1-3)

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi. Maka jika dia memperoleh kebajikan dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj : 11)

Demikianlah, di antara manusia ada yang seperti Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman-Nya. Yang tatkala mereka diuji dengan gangguan manusia, maka imannya goyang, bahkan ada di antara mereka yang meninggalkan iman (keluar dari Islam) karena takut kepada manusia.

Padahal dalam kehidupan kita ini, tentunya kita akan diuji tatkala menjalankan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Terkadang ujian tersebut datang dari orang-orang kafir dan munafik, terkadang dari keluarga dekat, bahkan terkadang ujian tersebut datang dari anak-anak kita sendiri. Terlebih lagi ketika seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, maka tentu mereka akan mendapatkan ujian atas ketaatan tersebut. Jika seseorang diuji dan tidak sabar, maka imannya bisa goyang dan dia bisa kembali kepada kekufuran atau perkara-perkara yang haram.

Oleh karenanya ayat ini merupakan cercaan terhadap orang-orang yang tidak sabar menghadapi gangguan manusia, serta takut kepada manusia melebihi takutnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Matan

Diriwayatkan secara marfu’ dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ ضَعْفِ الْيَقِينِ أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ، وَأَنْ تَحْمَدَهُمْ عَلَى رِزْقِ اللهِ، وَأَنْ تَذِمَّهُمْ عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللهُ إِنَّ رِزْقَ اللهِ لَا يَجُرُّهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كُرْهُ كَارِهٍ

Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan adalah jika kamu mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, dan memuji mereka atas rezeki yang Allah berikan kepadamu, dan mencela mereka atas dasar sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu melalui mereka. Ingat, ssesungguhnya rezeki Allah tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak, dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebencian orang yang membenci.”

Syarah

Derajat hadits ini asalnya lemah karena di dalam sanadnya ada seorang perawi bernama Muhammad bin Marwan As-Suddiy yang para ulama menyebutkan bahwa dia adalah perawi yang dhaif. ([29]) Demikian pula ada ‘Athiyyah Al-‘Aufiy yang juga seorang perawi yang dhaif. ([30]) Akan tetapi makna hadits ini sahih sebagaimana dijelaskan para ulama. Dan hadits-hadits seperti ini banyak dijumpai. Contohnya adalah hadits yang menyebutkan,

الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ

Doa adalah inti sari ibadah.”([31])

Hadits ini sanadnya dhaif akan tetapi maknanya sahih.

Dalam hadits ini, disebutkan beberapa perkara yang menunjukkan lemahnya iman seseorang,

  1. Mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah.

Artinya dia melakukan sesuatu demi agar manusia senang, akan tetapi di sisi lain dia melanggar perintah Allah ataupun meninggalkan perintah-Nya. Membuat orang senang namun mengundang murka Allah adalah perkara yang sangat berbahaya. Ini merupakan tanda yang sangat jelas akan lemahnya keimanan seseorang. Sesungguhnya kita hidup sebagai makhluk sosial sehingga kita pasti berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Agar interaksi tersebut bisa berjalan dengan baik, maka terkadang diperlukan adanya kesamaan antara kita dan orang yang berinteraksi dengan kita. Dan ketika kita atau mereka berbeda, maka akan timbul kejanggalan. Misalnya seseorang yang bekerja di suatu perusahaan yang seluruh karyawannya korupsi kecuali dia. Kalau sekiranya dia tidak tanda tangan, maka karyawan yang lain tidak dapat melakukan korupsi. Maka dalam kondisi seperti ini, dia akan dihadapkan dua pilihan, yaitu mencari keridhaan manusia namun mendatangkan murka Allah, atau dia mencari ridha Allah meskipun manusia tidak senang kepadanya. Tentunya jika dia memilih untuk bertanda tangan karena mencari keridhaan manusia, maka ini menunjukkan bahwa imannya lemah, padahal yang demikian mendatangkan murka Allah Subhanahu wa ta’ala. Misalnya lagi adalah ketika seseorang berada di lingkungan yang kegiatan masyarakatnya adalah maksiat seperti judi atau bermain musik. Maka ketika dia takut cercaan manusia dan ingin agar mereka senang dengan memberikan sumbangsih terhadap acara maksiat tersebut, maka itu menunjukkan akan lemahnya iman.

Maka seseorang hendaknya waspada akan hal-hal seperti ini. Janganlah seseorang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa ta’ala dengan meninggalkan perintahnya atau melanggar larangan-Nya.

  1. Memuji manusia atas rezeki dari Allah Subhanahu wa ta’ala

Di antara tanda lemahnya iman seseorang adalah dia memuji orang lain atas rezeki yang Allah berikan kepada melalui orang tersebut, yang seharusnya dia memuji Allah Subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya yang mengirimkan rezeki melalui orang-orang adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, maka tidak boleh seseorang memuji-muji orang-orang yang dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai perantara secara berlebihan. Yang boleh dilakukan seseorang ketika mengambil rezekinya dari Allah melalui seseorang adalah berterima kasih dan mendoakannya. Kalau sekiranya seseorang langsung terfokus pada pujian kepada orang yang menjadi perantara rezeki Allah, maka ini menujukkan betapa lemahnya keimanannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya yang harus kita perhatikan adalah berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah.” (QS. An-Nahl : 53)

Kemudian Allah juga berfirman:

وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ

“Dan Kalian jadikan rasa syukur kalian dengan pengingkaran kalian (dengan menyandarkannya kepada selainAllah”. ([32])

Asalnya kita diajarkan untuk sering berterima kasih kepada orang yang membantu kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.”([33])

Hadits ini menunjukkan bahwa kita dituntut untuk berterima kasih, mengingat, dan membalas kebaikan orang yang telah membantu kita, terlebih lagi ketika dia membantu kita dalam masa-masa sulit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah, kemudian apabila kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka doakanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya.”([34])

Kita diajarkan untuk membalas kebaikan orang dengan setimpal agar kita tidak merasa berutang budi kepadanya sehingga kita murni bertawakal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Maka dari sini kita pahami bahwa berbeda antara berterima kasih dengan memuji manusia hingga hati condong kepadanya. Meyakini bahwa manusia merupakan sebab utama datangnya rezeki dan tanpa dia rezeki itu tidak akan datang adalah hal yang keliru. Karena keyakinan yang demikian membuat hati seseorang akan terpaku pada manusia yang sebagai perantara, bukan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sang pemberi yang sesungguhnya. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

وَاللَّهُ الْمُعْطِي وَأَنَا القَاسِمُ

Allah adalah Yang Maha Pemberi, dan aku adalah Al-Qasim (yang membagi-bagi).([35])

Maka tatkala kita mendapat rezeki melalui seseorang, maka jangan fokuskan pujian kepadanya. Cukup kita membalas kebaikannya dengan berterima kasih dan mendoakannya. Adapun jika terlalu memuji orang tersebut secara terus-menerus, maka terkadang hal itu bisa membuat kita lupa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa itu termasuk kondisi lemahnya iman.

  1. Mencela manusia ketika menjadi penghalang rezeki

Demikian pula ketika rezekinya terhalang, dia tidak boleh memaki dan mencela orang-orang yang menjadi penghalang rezeki Allah. Contohnya, kita sedang menjual barang, kemudian ada pembeli datang melihat-lihat, akan tetapi setelah beberapa saat dia tidak jadi membeli. Maka tidak boleh kita sebagai penjual mencela sikap pembeli tersebut, karena hakikatnya yang menahan rezeki adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikian pula misalnya ketika kita memiliki kontrak kerja dengan seseorang, kemudian orang tersebut memutuskannya, maka kita tidak boleh mencelanya. Kita boleh menegurnya jika caranya salah, akan tetapi ingatlah bahwasanya yang menhalangi rezeki adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Tenggelam dalam sikap mencaci orang lain dalam hal ini merupakan bentuk seakan-akan kita meyakini bahwa orang tersebutlah yang memberi rezeki. Oleh karenanya jangan kita terlalu mencela seseorang yang hanya sebagai perantara rezeki Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketika seseorang telah sadar bahwa segala rezeki telah menjadi takdir Allah Subhanahu wa ta’ala, maka seharusnya dia berdoa kepada Allah untuk memudahkan rizkinya melalui perantara tersebut.

Maka jangan sampai seseorang mencari keridhaan manusia jika akhirnya dia dimurkai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagian orang berani untuk menghalalkan yang haram demi untuk disenangi oleh banyak orang. Padahal yang demikian mengundang murka Allah, dan itu adalah sebuah musibah.

Matan

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa yang mencari ridha Allah sekalipun berakibat mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah akan meridhainya, dan akan menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban)

Syarah

Dalam riwayat yang lain, hadits ini menceritakan tentang Mu’awiyah yang meminta nasihat kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu. Disebutkan dalam Sunan At-Tirmidzi,

كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ

Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mu`minin radhiallahu ‘anha ‘Tulislah kepadaku suatu tulisan yang berisi wasiat kepadaku dan jangan wasiat yang banyak’. Maka ‘Aisyah menulis surat kepada Mu’awiyah, ‘Salaamun ‘alaiika. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun memperoleh kemurkaan manusia, Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan dari Allah, maka Allah akan menjadikannya bergantung kepada manusia”. Wassalaamu ‘alaika’.”([36])

Hadits ini menunjukkan bagaimana keutamaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, sampai-sampai kepala negara meminta nasihat kepada beliau.

Bagi seorang da’i, kita harus berusaha menjelaskan kepada manusia tentang kebenaran dengan cara terbaik, bijak, dan dengan dalil. Adapun jika orang-orang kemudian marah, maka tidak mengapa. Yang terpenting adalah kita telah menyampaikan kebenaran. Kalau semua orang takut kemarahan masyarakat, maka kapan yang haq bisa diketahui oleh orang-orang? Kapan orang-orang akan paham tentang yang mana syirik dan mana yang bid’ah? Maka seseorang ketika memiliki niat yang tulus dan tidak ingin dipuji dalam menyampaikan suatu kebenaran untuk mencari ridha Allah, meskipun orang-orang yang dia dakwahi marah dan tidak senang, maka Allah Subhanahu wa ta’ala pasti akan membantunya. Akan tetapi sebaliknya jika seseorang mencari keridhaan manusia namun mendatangkan murka Allah, maka dia akan binasa karena Allah akan buat dia bergantung kepada manusia karena rasa takutnya kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Tentu saja ini adalah bentuk rasa takut yang haram, bahkan bisa sampai kepada kesyirikan, karena melakukan suatu amalan untuk mencari pujian manusia dan takut dicela oleh manusia adalah perbuatan riya’.

Intinya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita mencari keridhaan Allah meskipun kita dimurkai oleh manusia. Karena mencari keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah tujuan yang bisa kita capai, adapun keridhaan manusia merupakan tujuan yang tidak mungkin tercapai. Sebagaimana ungkapan ahli hikmah,

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ وَرِضَا اللهِ غَايَةٌ لَا تُتْرَكُ، فَاتْرُكْ مَا لَا يُدْرَكُ، وَأَدْرِكْ مَا لَا يُتْرَكُ

Ridha seluruh manusia adalah satu cita yang tidak dapat dicapai, sedangkan ridha Allah adalah satu cita yang tidak sepatutnya ditinggal. Oleh karena itu, tinggalkanlah apa yang tidak mampu dicapai, dan capailah apa yang tidak sepatutnya ditinggal.” ([37])

Tidak semua manusia akan senang kepada diri kita. Siapa pun dia, jika dia orang baik maka pasti dia akan disenangi oleh orang yang baik dan dibenci oleh orang yang buruk. Adapun jika dia orang yang buruk maka akan dibenci oleh orang yang baik, dan disenangi oleh orang yang buruk. Oleh karena itu seseorang hendaknya mencari keridhaan yang mungkin bisa dia raih, yaitu keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Jangan takut dengan cercaan manusia, karena cercaan manusia tidak akan memberi kemudharatan. Karena jika Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menakdirkan keburukan bagi seseorang maka tidak ada yang bisa memberikan keburukan tersebut. Oleh karenanya dalam sebuah riwayat disebutkan ada seorang Arab Badui dari Bani Tamim berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا مُحَمَّدُ أَعْطِنِي فَإِنَّ حَمْدِي زَيْنٌ وَإِنَّ ذَمِّي شَيْنٌ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Wahai Muhammad, berikan kepadaku (harta). Karena sesungguhnya pujianku itu adalah kebaikan, dan cercaanku adalah keburukan”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Itu hanyalah miliki Allah ‘Azza wa jalla’.”([38])

Artinya orang Arab Badui tersebut meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengatakan bahwa jika dia diberi maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan dipuji dan itu adalah kebaikan. Adapun jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberi maka orang Arab Badui tersebut akan mencela dan itu merupakan keburukan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan jawaban yang luar biasa bahwa hal tersebut hanyalah milik Allah Subhanahu wa ta’ala. Artinya cercaan manusia belum tentu membuat kita binasa, dan pujiannya pun belum tentu bisa memberikan keselamatan. Maka dari itu, jangan kita teperdaya dengan cercaan dan pujian manusia. Ketahuilah bahwa meskipun satu dunia seluruhnya memuji Anda, tidak akan mengangkat derajat Anda sedikitpun. Demikian pula satu dunia orang mencela Anda, tidak akan menurunkan derajat Anda sama sekali jika Anda mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya penulis sering sampaikan sebuah hadits dalam Shahih Al-Bukhari, dari Sahl bin Sa’d dia berkata,

مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا؟ فَقَالَ: رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ، هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ، قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا؟ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ المُسْلِمِينَ، هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لاَ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لاَ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَنْ لاَ يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِثْلَ هَذَا

Ada seorang laki-laki melintasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Nabi bersabda kepada orang yang duduk di dekat beliau, ‘Apa pendapat kalian dengan laki-laki ini?’ Maka seorang menjawab, ‘Dia termasuk orang-orang yang mulia. Demi Allah, apabila dia meminang, pasti akan diterima, dan bila dimintai bantuan pasti akan dibantu’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam. Beberapa saat kemudian, lewatlah seorang laki-laki lain, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu dengan orang ini?’ Dia menjawab; ‘Wahai Rasulullah, menurutku orang ini adalah orang termiskin dari kalangan kaum Muslimin, apabila ia meminang pasti pinangannya ditolak, dan jika dimintai pertolongan dia tidak akan ditolong, dan apabila berkata, maka perkataannya tidak akan didengar’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh orang ini (yang terlihat miskin) lebih baik daripada seluruh bumi yang isinya orang ini (yang kelihatanya bangsawan)’.”([39])

Intinya jangan kita teperdaya dengan pujian dan celaan manusia, karena celaan dan pujian mereka tidak mendatangkan manfaat dan mudharat sama sekali. Kalau sekiranya seseorang dicela karena tidak menjalankan syariat maka ini merupakan kesalahan sendiri. Akan tetapi ketika seseorang telah menjalankan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala namun dia dicerca oleh manusia, maka hal itu tidak mengapa karena dia lebih memilih untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi ini,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan meridhainya dan Allah akan membuat manusia yang meridhainya. Barangsiapa yang mencari ridha manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.”([40])

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu,

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

Ketahuilah bahwa jika seandainya umat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Dan jika seandainya bila mereka bersatu untuk memberikan kemudharatan kepadamu, mereka tidak akan dapat memudharatkanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu.”([41])

Kalau sekiranya orang-orang tidak bisa memberikan kemudharatan kepada kita dengan fisik kecuali jika Allah menakdirkannya, maka bagaimana lagi jika hanya dengan cercaan? Sedih dan gelisah tentu ada, akan tetapi selama kita benar di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala, maka tenanglah karena apa yang kita lakukan akan mendatangkan keridhaa-Nya. Dan sebagaimana telah kita sebutkan bahwa Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اِسْتَرَاحَ

Barangsiapa yang mengenal kondisi manusia, maka dia akan istirahat (tenang).”([42])

Kalau kita selalu menjadikan manusia sebagai barometer kita, maka tentu kita akan lelah. Akan tetapi barangsiapa yang mengetahui hakikat manusia, maka pasti dia akan tenang dan memusatkan tujuannya untuk hanya meraih ridha Allah Subhanahu wa ta’ala.

Inilah dalil-dalil yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam bab tentang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maksud beliau membawakan dalil-dalil ini adalah jangan sampai seseorang karena takut kepada manusia, akhirnya dia melanggar perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya tidak mengapa ketika kita melihat seseorang melakukan kemungkaran maka kita tegur dan beri nasihat, dan tidak perlu takut jika dicaci maki. Selama kita merasa bahwa ada kemungkinan kita bisa menjadi sebab hilangnya kemungkaran tersebut, dan kita memberi bisa nasihat dengan cara yang baik, maka lakukanlah. Adapun jika akhirnya kita hanya mendapat cacian dan celaan, maka ingatlah bahwa apa yang kita lakukan itu insyaallah diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Matan

Pelajaran yang terkandung dalam bab ini,

  1. Penjelasan tentang ayat dalam surah Ali-‘Imran
  2. Penjelasan tentang ayat dalam surah At-Taubah
  3. Penjelasan tentang ayat dalam surah Al-‘Ankabut
  4. Keyakinan itu bisa menguat dan melemah
  5. Tanda-tanda melemahnya iman antara lain tiga hal yang disebutkan dalam hadits Abu Sa’id
  6. Memurnikan rasa takut hanya kepada Allah termasuk kewajiban
  7. Adanya pahala bagi orang yang melakukannya
  8. Adanya ancaman bagi orang yang meninggalkannya

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab At-Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

([1])  Madarij As-Salikin, Ibnu Al-Qoyyim, 2/371

([2])  Madarij As-Salikin, Ibnu Al-Qoyyim, 2/37

[3]  Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 34532

([4])  H.R. Ibnu ‘Abdil-Bar, Jami’ Bayan Al-‘Ilmi Wa Fadhlihi, No.1400. dan lengkapnya adalah:

«لَيْسَ الْعِلْمُ عَنْ كَثْرَةِ الْحَدِيثِ، إِنَّمَا الْعِلْمُ خَشْيَةُ اللَّهِ»

(Bukanlah ilmu itu tentang banyaknya ia meriwayatkan hadits, akan tetapi ilmu itu adalah takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla).

Dan yang perlu dicatat disini: “Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu tidak sedang meremehkan memperbanyak ilmu, akan tetapi beliau ingin memberi pesan bahwa yang namanya orang memiliki ilmu harusnya ia takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

[5]  HR. Ahmad no. 24956

([6])  Thoriq Al-Hijrotain Wa Bab As-Sa’adatain, Ibnu Al-Qoyyim, 1/271

([7])  Al-Bahr Al-Madiid 2/590

([8])  HR. Muslim no. 2121

([9])  HR. Bukhari no. 2442

([10])  HR. Bukhari no. 6064

([11])  HR. Bukhari no. 716 dalam Adabul Mufrad

([12])  HR. Muslim no. 2463

([13])  Al-Bidayah wa An-Nihayah tahqiq At-Turkii 14/422

([14])  HR. Bukhari no. 683 dalam Adabul Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani

([15])  Al-Qoul Al-Mufid, Ibnu ‘Utsaimin, 2/68

([16])  Namun jika takut itu bukan suatu kelaziman ibadah (seperti takut pedang, namun berhadapan dengan pedang adalah suatu keharusan dalam jihad), boleh seseorang untuk tidak melakukannya.

Contoh: takut dibegal di jalan ia menuju masjid, atau takut penyakit menular jika shalat di masjid, atau yang lainnya, maka boleh baginya untuk tidak shalat di masjid.

Contoh: takut penyakitnya semakin parah (dengan syarat: atas rekomendasi ahli) jika ia berpuasa, maka tidak mengapa ia tidak berpuasa.

([17])  Berkata syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di:

وَمِن آيَاْتِهِ، وِبَيِّنَاتِهِ الدَّالَّةِ عَلَى صِدْقِهِ أَنَّه ُشَخْصٌ وَاحِدٌ، لَيْسَ لَهُ أَنْصَارٌ وَلَا َأْعَوَانٌ، وَهُوَ يَصْرَخُ فِي قَوْمِهِ، وَيُنَادِيْهِم، وَيُعْجِزُهُم، وَيَقُوْلُ لهُم: {إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ}…وَهُم الأَعْدَاءُ الذِيْنَ لَهُم السُّطْوَةُ وَالْغَلَبَة، وَيُرِيْدُوْنَ إِطْفَاءَ مَا مَعَهُ مِن النُّور، بِأَيِّ طَرِيق كان، وَهُوَ غَيْرُ مُكْتَرِثٌ مِنْهُم، وَلَا مُبَال بِهِم، وَهُم عَاجِزُوْنَ لَا يَقْدِرُوْنَ أَنْ يَنَالُوْهُ بِشَيْءٍ مِن السُّوءِ، إِنَّ فِي ذلِكَ لَآيات لِقَومٍ يَعْقِلُوْن.

“Dan termasuk mukjizat nabi Hud ‘alaihissalam dan bukti-bukti akan kebenarannya: “Bahwa beliau hanya sendiri, tidak ada penolong dan pembantunya, namun beliau berani berbicara lantang di hadapan kaumnya dan menyeru mereka dan melemahkan mereka, dan ia berkata (Sungguh aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian semua)…Dan mereka adalah musuh-musuh yang memiliki kekuatan dan mendominasi, dan mereka ingin memadamkan cahaya yang ia bawa dengan segala cara, dan beliau tidak merasa sedih dengan semua itu, begitu juga mereka lemah dan tidak mampu untuk memberikan keburukan kepadanya. Sungguh dalam semua itu ada bukti-bukti nyata bagi orang-orang yang berakal” (Taisir Al-Karim Ar-Rohman, As-Sa’di hal 383)

([18])  Thabaqatul Auliya’ 1/267

([19])  Madarij As-Salikin, Ibnu Al-Qoyyim, Thoriq Al-Hijrotain, 1/282

([20])  Ada perkataan yang dinisbahkan kepada Makhul As-Syami:

مَن عَبَدَ الله بِالحُبِّ وَحدَه فَهو زِندِيقٌ، ومَن عَبَدَه بالرَّجَاء وَحدَه فهو مُرجِئٌ، ومَن عَبَدَه بِالخَوفِ وَحدَه فَهو حَرُورِيٌّ، ومَن عَبَدَه بِالحُبِّ وَالخَوفِ والرَّجَاءِ فهو مُؤمِنٌ مُوَحِّدٌ

“Siapa yang beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla hanya dengan rasa cinta, maka ia adalah orang yang zindiq. Dan siapa yang beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla hanya dengan rasa takut saja, maka ia adalah orang khowarij. Dan siapa yang menyembah Allah ‘Azza wa Jalla dengan cinta, rasa takut, dan rasa harap, maka dia adalah orang mukmin dan bertauhid” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 15/21, Badai’ Al-Fawaid, Ibnu Al-Qoyyim, 3/11, dan dinisbahkan oleh Al-Ghozali kepada Makhul dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Din, 4/166. Dan perkataan ini dibenarkan oleh ‘ulama-‘ulama Ahlussunnah)

([21]) At-Tamhid, Sholeh Alu Syaikh, 1/384 -385

[22]  HR. Muslim no. 2877

[23]  HR. Tirmidzi no. 983, Sahih menurut Syaikh Al-Albani

([24])  ‘Ulama berselisih siapa orang ini:

  1. Kafilah yang bertemu dengan Abu Sufyan, lalu mereka bergabung untuk menakuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  2. Dia adalah Nu’aim bin Mas’ud Al-Asyja’I.
  3. Mereka adalah orang-orang munafiq.

(Lihat : Zaad Al-Masir, Ibnu Al Jauzi, 1/349)

([25])  Kalimat semoga di sini bermakna pasti: “Allah ‘Azza wa Jalla pasti Allah ‘Azza wa Jalla jadikan mereka sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk”. Karena jika suatu itu dikaitkan dengan syarat, dan syaratnya terpenuhi, maka pasti hal itu terjadi. Dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mengingkari janji.

([26])  Tafsir Ibnu Rojab, 1/490

([27])  Tafsir As-Sa’di, 1/331

 

([28])  Tafsir At-Thobari, 20/12

 

([29])  ‘Abdullah bin Ahmad mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan: melihat Marwan bin Al-‘Uqoili dan sedang ia meriwayatkan hadits, dan aku menyaksikannya namun aku tidak menulisnya, aku meninggalkannya dengan sengaja, dan teman-teman kami menulisnya. Sepertinya ia mendhoifkannya. (Al-Jarhu Wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 8/86)

([30])  Pada ‘Athiyyah dalam hadits ini ada dua permasalah:

  1. Ia adalah perowi yang dho’if.

Abu Dawud mengatakan: “ia bukan orang yang dijadikan pegangan dalam periwayatan”. (Sualat Abi ‘Ubaid, 1/105)

Dinyatakan dho’if oleh An-Nasai. (Lihat Ad-Dhu’afa Wa Al-Matrukin, An-Nasai, 1/85)

Oleh imam Ahmad. (Lihat Al-Jarh Wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 6/383).

  1. Hadits ini diriwayatkan ‘Athiyyah dari Abu Sa’id. Dan ‘Athiyyah memberi kinayah secara khusus untuk Al-Kalbi dengan Abu Sa’id (Lihat Al-Khilafiyyat, Al-Baihaqi, 2/383, Al-‘Ilal Wa Ma’rifah Ar-Rijal, Ahmad bin Hanbal, 1/549). Dan Al-Kalbi adalah orang yang dho’if. Bisa jadi ini dari jalur Al-Kalbi, namun perowi setelahnya mengira dari Abu Sa’id Al-Khudri.

([31])  HR. At-Tirmidzi no. 3371, Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini dhaif dalam Dhaif Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 3003

([32])  Q.S. Al-Waqi’ah:82.

([33])  HR. Abu Daud no. 4811, dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad

([34])  HR. Abu Daud no. 1672

([35])  HR. Bukhari no. 3116

[36]  HR. Tirmidzi no. 2414

([37])  Perkataan ini dinisbatkan kepada imam As-Syafi’i dengan lafazh

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ. فَعَلَيْكَ بِمَا فِيهِ صَلَاحُ نَفْسِكَ فَالْزَمْهُ

“Ridho semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin bisa tercapai. maka hendaklah engkau menyibukkan diri dengan hal-hal yang berguna untuk dirimu dan tetaplah di atasnya” (Madarij As-Salikin, Ibnu Al-Qoyyim, 2/286, Shifat As-Shofwah, Ibnu Al-Jauzi, 1/436)

([38])  Majmu’ Fatawaa 1/52

([39])  HR. Bukhari no. 6447

([40])  HR. Ibnu Hibban no. 276

[41]  HR. At-Tirmidzi no. 2516

[42]  Thabaqatul Auliya’ 1/267