Cinta Kepada Allah (BAB-30)

 قول الله تعالى: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

Cinta Kepada Allah

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Syarah

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mulai membawakan pada bab ini ibadah-ibadah hati yang sangat agung, dan beliau memulai dengan bab Al-Mahabbah (cinta).

Al-Mahabbah (cinta) kepada Allah adalah ibadah yang sangat agung dan merupakan puncak dari ibadah seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. ([1]) Tidaklah seseorang bisa beribadah kepada Allah dengan kenikmatan dan kelezatan tanpa disertai dengan Al-Mahabbah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena agungnya cinta kepada Allah, sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam doanya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ

Ya Allah, aku memohon kepadaMu kecintaanMu, dan kecintaan orang yang mencintaiMu, serta (kecintaan) amalan yang menyampaikanku kepada kecintaanMu.”([2])

Berdoa untuk meminta kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala itu adalah hal yang penting, karena tidak semua orang bisa merasakan kelezatan mencintai Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya seseorang dalam doanya meminta agar hatinya diberikan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Doa ini juga mencjadi dalil bahwa ada amalan-amalan yang bisa mengantarkan seseorang bisa cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dan juga di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Aku memohon kelezatan memandang kepada wajah-Mu serta kerinduan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.”([3])

Jika telah ada kerinduan di dalam hati seseorang untuk bertemu dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, maka ringanlah dunia ini baginya, serta akan menjadi berat akhirat di hatinya.

Saat ini banyak orang yang takut mati, berat terhadap dunia, disebabkan karena kerinduannya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala kurang. Akhirnya banyak di antara kita yang beribadah kepada Allah hanya sekedar atas dasar harapan dan ketakutan, takut disiksa oleh Allah dan berharap dapat surga. Tentu ini kurang sempurna, karenanya perlu untuk kita menumbuhkan satu hal lagi (selain takut dan berharap) yaitu beribadah atas dasar cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan rindu ingin bertemu denganNya.

Di antara Maha Baiknya Allah Subhanahu wa ta’ala adalah selain Allah bisa dicintai ternyata Allah juga bisa mencintai.

Kalau kita perhatikan kebanyakan hubungan antara majikan dengan pembantu, raja dengan budak, bos dengan karyawan, dan yang semisalnya rata-rata hubungan mereka bukan atas dasar atasan yang mencintai bawahan, akan tetapi jika atasan bersikap baik kepada bawahan biasanya karena karena “kasihan” kepada bawahan. Hal ini wajar karena level atasan jauh lebih tinggi dari pada level bawahan. Sementara biasanya rasa cinta itu muncul diantara orang-orang yang selevel, seperti antara seseorang dengan sahabatnya, antara seorang suami dengan istrinya, antara seseorang dengan koleganya. Adapun antara bos dengan anak buah, antara majikan dengan pembantu, antara tuan dan budaknya biasanya hubungan mereka atas dasar atasan yang mengasihani yang di dibawah.

Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala meskipun maha tinggi, dengan sifat-sifatNya yang maha sempurna, namun Dia bisa mencintai hambaNnya dan ciptaan-Nya yang penuh dengan kekurangan dan kehinaan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sungguh, Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222)

فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-‘Imran : 76)

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-‘Imran : 134)

Dan masih banyak ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai hamba-hambaNya.

Hal yang penting bagi seorang hamba adalah bagaimana agar Allah Subhanahu wa ta’ala mencintainya, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah,

فَلَيْسَ الشَّأْنُ فِي أَنْ تُحِبَّ اللَّهَ، بَلِ الشَّأْنُ فِي أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ

Perkaranya bukan pada apakah enkau mencintai Allah, akan tetapi perkaranya ada pada apakah engkau dicintai oleh Allah.”([4])

Jika Allah Subhanahu wa ta’ala telah mencintai seorang hamba, maka tidak akan mungkin Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengazabnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ

Orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (QS. Al-Maidah : 18)

Ayat ini merupakan bantahan telak bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku-ngaku dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena jika sekiranya Allah mencintai kaum Yahudi niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan mengadzab mereka, namun buktinya Allah pernah mengadzab sebagian Yahudi yang dirubah oleh Allah menjadi babi-bai dan monyet-monyet.

Intinya Allah selain bisa dicintai oleh para hambaNya, Allah juga bisa mencintai para hambaNya jika mereka bertakwa kepada Allah. Di antara firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang menerangkan hal tersebut adalah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah : 54)

Sebagaimana juga telah disebutkan dalam bab-bab sebelumnya, tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Khaibar, beliau bersabda,

لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Sungguh bendera perang ini akan aku berikan esok hari kepada seseorang yang peperangan ini akan dimenangkan melalui tangannya. Orang itu mencintai Allah dan Rosul-Nya, dan Allah dan Rosul-Nya juga mencintainya”([5])

Inilah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang sangat mudah dipahami oleh kaum muslimin secara umum. Allah dicintai dan Allah juga mencintai. Betapa banyak orang awam denga mudahnya berkata, “Allah sayang sama kita”, “Allah cinta sama kita”, dan lafal-lafal yang semisalnya. Akan tetapi jika seseorang mulai menelaah akidah Jahmiah, Muktazilah dan Asya’irah, maka mereka akan mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak bisa dicintai dan tidak mencintai. Sebagian mereka berkata Allah bisa dicintai namun tidak bisa mencintai. Jika mengatakan “Allah mencintai” berarti telah melakukan kesyirikan karena telah menyamakan Allah dengan makhlukNya. Akhirnya demi melegalkan “akidah” mereka tersebut, mereka harus melakukan takwil terhadap dalil-dalil yang begitu banyak yang menyatakan bahwa Allah dicintai dan juga mencintai.

Mencintai Allah merupakan ibadah yang sangat agung.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

Dalam ayat yang dibawakan penulis ini, ternyata Allah Subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa ada sebagia manusia yang mereka mencintai sesembahan mereka sebagaimana mereka mencintai Allah Subhanahu wa ta’ala. Tentunya hal ini merupakan cinta yang merupakan kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Berikut ini beberapa model cinta, agar kita tidak salah dalam mencintai.

Model-Model Cinta

  1. الْمَحَبَّةُ الْمُتَعَلِّقَةُ بِاللهِ (Cinta yang berkaitan dengan Allah) ([6])
  2. مَحَبَّةُ اللهِ (Mencintai Allah)

“Mencintai Allah” merupakan ibadah yang sangat agung. Dan telah kita sebutkan sebelumnya bahwa seseorang hendaknya menghadirkan di dalam dirinya untuk cinta kepada Allah. Ketika beribadah kepada Allah ia hadirkan cintanya kepada Allah, bukan hanya sekedar karena takut dan berharap. Jika seseorang beribadah dengan “cinta” kepada Allah, maka semakin mudah baginya untuk meraih kekhyusyu’an serta merasakan kelezatan dalam beribadah.

Adapun bukti konsekuensi dari cinta kepada Allah adalah melakukan perintah-perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan meninggalkan larangan-laranganNya. Allah telah menjadikan bukti dan syarat cinta hambaNya kepadaNya adalah dengan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah hai Muhammad : jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, sungguh Allah ‘Azza akan mencintai kalian”. (QS Ali Imron : 31) ([7])

Betapa indah ayat ini, dimana cinta (kepada Allah) dibalas dengan cinta (Allah kepada sang hamba), dengan syarat cinta sang hamba harus disertai bukti.

  1. الْمَحَبَّةُ فِي اللهِ (Mencintai karena Allah)

“Mencintai karena Allah” maksudnya adalah mencintai sesuatu bukan karena dzatnya, akan tetapi mencintai karena sesuatu yang lain. Contohnya adalah kita mencintai kawan kita yang dari sisi ekonomi tergolong tidak mampu, dari sisi akal tidak pintar, akan tetapi kita cinta kepadanya karena dia rajin beribadah, akhlaknya mulia. Yang demikian ini adalah kecintaan karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika sekiranya kita mencintainya karena dunia, maka pasti kita hanya akan mencintai orang yang kaya lagi cerdas. Oleh karenanya kita harus berusaha untuk belajar mencintai sesuatu karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana penyair Majnun Laila berkata,

أمُرُّ عَلى الدِيارِ دِيارِ لَيلى……..

…… أُقَبِّلَ ذا الجِدارَ وَذا الجِدارا

Aku melewati rumah, rumahnya Laila. Aku mencium dinding demi dindingnya.”

وَما حُبُّ الدِيارِ شَغَفنَ قَلْبِي…

…وَلَكِن حُبُّ مَن سَكَنَ الدِّيارا

Dan bukanlah cinta pada rumah yang menimpa hatiku. Akan tetapi kecintaan pada yang dibalik dinding itu.” ([8])

Inilah yang dimaksud mencintai karena sesuatu.

Dan disebutkan dalam hadits-hadits, bahwa cinta karena Allah ini akan mendatangkan kelezatan iman. Di antaranya adalah persahabatan karena Allah, yang Allah Subhanahu wa ta’ala meletakkan pahala yang besar bagi orang yang bisa mencintai saudaranya karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya di antara tujuh golongan yang Allah Subhanahu wa ta’ala naungi pada hari kiamat kelak kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ:… وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah dibawah naunganNya (pada hari kiamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu; (Di antaranya) dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah.”([9])

Tatkala Islam belum datang, seluruh hubungan, persahabatan, atau segala bentuk keterikatan yang tejadi semuanya dibangun karena dasar duniawi, yaitu karena satu kabilah, karena memiliki hubungan kekerabatan, karena sama-sama tinggal di Mekkah, dan yang lainnya. Semua hubungan yang mereka bangun sebelum datangnya Islam di dibangun karena dunia. Maka tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang (diutus), beliau mengajarkan suatu hal yang lain yaitu hubungan yang dibangun karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan hubungan yang dibangun karena Allah Subhanahu wa ta’ala itu terkadang lebih kuat daripada hubungan yang sekedar dibangun karena kekerabatan, kenegaraan, dan yang lainnya. Oleh karenanya dalam suatu hadits juga disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala akan berfirman pada hari kiamat kelak dengan berkata,

أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي؟ الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini kunaungi mereka, di mana tidak ada naungan pada hari ini selain naungan-Ku.”([10])

Oleh karenanya saat ini kita perlu untuk instrospeksi diri, perkawanan yang kita miliki dengan kawan-kawan kita itu sebenarnya karena apa? Apakah karena Allah, atau karena perkara dunia? Karena ketika seseorang mengatakan “Uhibbuka fiillah” (Aku mencintaimu karena Allah), maka ketahuilah bahwa ini adalah perkataan yang berat dan akan ada pertanggungjawabannya kelak. Jika ternyata persahabatan tersebut karena Allah Subhanahu wa ta’ala, maka kita akan mendapatkan pahala. Dalam sebuah hadits disebutkan,

أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ، عَلَى مَدْرَجَتِهِ، مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ، قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ، قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لَا، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ، بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di negeri lain. Kemudian Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menemui orang tersebut. Ketika orang itu ditengah perjalanannya ke negeri yang dituju, maka malaikat tersebut bertanya; ‘Kemana kamu hendak pergi?’ Orang itu menjawab; ‘Saya hendak menjenguk saudara saya yang berada di negeri ini’. Malaikat itu terus bertanya kepadanya; ‘Apakah kamu mempunyai satu perkara yang menguntungkan dengannya?’ Laki-laki itu menjawab; ‘Tidak, saya hanya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’. Akhirnya malaikat itu berkata; ‘Sesungguhnya aku ini adalah malaikat utusan yang diutus untuk mengbarkan kepadamu bahwasanya Allah akan mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah’.”([11])

Oleh karenanya ibadah cinta karena Allah juga merupakan ibadah yang sangat agung. Dan hendaknya kita berusaha dan melatih diri kita untuk bisa mencintai sesuatu karena Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ

Ya Allah, aku memohon kepadaMu kecintaanMu, dan cinta kepada orang yang mencintaiMu, serta (kecintaan) amalan yang menyampaikanku kepada kecintaanMu.”([12])

Lihatlah tatkala kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anshar, terjadi kisah-kisah yang luar biasa, kisah yang seakan-akan merupakan dongeng akan tetapi ternyata merupakan kenyataan yang pernah terjadi. Lihatlah bagaimana kisah persaudaraan Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Rabi’, Anas bin Malik menuturkan,

قَدِمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فَآخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ الأَنْصَارِيِّ وَعِنْدَ الأَنْصَارِيِّ امْرَأَتَانِ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ أَنْ يُنَاصِفَهُ أَهْلَهُ وَمَالَهُ، فَقَالَ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ، فَأَتَى السُّوقَ فَرَبِحَ شَيْئًا مِنْ أَقِطٍ، وَشَيْئًا مِنْ سَمْنٍ

Ketika Abdurrahman bin Auf datang (ke Madinah), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari. Seorang Anshari itu memiliki dua istri, maka ia menawarkan satu istri dan setengah dari hartanya kepada Abdurrahman bin Auf. Namun, Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahimu dalam harta dan juga keluargamu. Cukup engkau tunjukkan padaku dimanakah pasar.” Setelah itu, ia pun langsung ke pasar dan langsung memperoleh keuntungan berupa keju dan samin.”([13])

Demikianlah bentuk cinta karena Allah Subhanahu wa ta’ala, yang seharusnya setiap diri kita memilikinya. Jalinlah persahabatan-persahabatan yang terjalin atas dasar cinta karena Allah. Kalau sekiranya selama ini kita bersahabat dengan kawan kita karena dunia, maka hendaknya kita memperbaiki diri.

  1. الْمَحَبَّةُ مَعَ اللهِ (Mencintai selain Allah bersama Allah)

Al-Mahabbah ma’a Allah adalah kesyirikan. Dan inilah yang dibahas oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam bab ini. Beliau membawakan firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

Al-Mahabbah yang dimaksud pada kategori ini adalah mahabbah ibadah, yaitu mahabbah yang menimbulkan pengagungan kepada yang dicintai dan perendahan diri terhadap yang dicintai.

Apa maksud firman Allah, كَحُبِّ اللَّهِ (seperti mereka mencintai Allah)? Terdapat dua tafsiran dikalangan para ulama tentang firman Allah Subhanahu wa ta’ala ini, ([14])

Tafsiran pertama, maksudnya adalah “seperti kecintaan mereka (orang-orang musyrik) kepada Allah”. Artinya kaum musyrikin mencintai sesembahan-sesembahan mereka dengan kecintaan seperti kecintaan mereka kepada Allah.  Yaitu dengan menampakkan ketundukan, kehinaan, dan pengagungan kepada sesembahan-sesembahan mereka tersebut, sebagaimana ketundukan dan pengagungan mereka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ini menunjukan bahwa kaum musyrikin juga mencintai Allah, hanya saja mereka mensekutukan Allah dalam hal cinta, sehingga selain mencintai Allah mereka juga mencintai sesembahan-sesembahan mereka dengan kadar kecintaan yang sama dengan kecintaan mereka kepada Allah.

Tafsiran kedua, maksudnya adalah “seperti cintanya kaum mukminin kepada Allah”. Artinya adalah, orang-orang musyrik tidak cinta kepada Allah. Mereka hanya cinta kepada wali-wali atau sesembahan mereka seperti cintanya kaum mukminin kepada Allah, sehingga menunjukkan bahwa orang-orang musyrik tidak cinta kepada Allah.

Wallahu a’lam bisshawwab, pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama. ([15]) Hal ini dikarenakan lanjutan firman Allah Subhanahu wa ta’ala tersebut berbunyi,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

Makna dari ayat ini adalah orang-orang beriman lebih besar cintanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, daripada kecintaan orang-orang musyrik kepada Allah, karena mereka (orang-orang beriman) memurnikan cinta mereka hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Hal ini (orang-orang musyrik juga mencintai Allah) juga ditunjukan dengan pernyataan kepada sesembahan-sesembahan mereka pada hari kiamat kelak. Ketika orang-orang musyrik dipertemukan dengan sesembahan mereka di nereka, mereka mengatakan,

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ، إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kamu (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara : 97-98)

Penyamaan mereka kepada sesembahan mereka terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala bukanlah pada sisi rububiyah Allah, akan tetapi pada sisi kecintaan mereka terhadap sesembahan mereka yang mereka samakan dengan kecintaan mereka terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala.

Oleh karenanya orang-orang musyrikin dahulu juga cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Buktinya cinta mereka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah mereka berhaji, tawaf, umrah, sedekah, dan i’tikaf di Masjidil Haram. Hanya saja mereka membagi cinta mereka terhadap Allah kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Itulah cinta yang dimaksud cinta kepada Allah bersama dengan selain Allah, dan hal tersebut adalah syirik.

  1. المحَبَّةُ الطَّبِيعِيَّةُ (Cinta yang merupakan tabiat)

Cinta yang merupakan tabiat (alami) di antaranya adalah cinta orang tua kepada anak karena rasa kasihan; cinta seorang anak kepada orang tua; rasa suka terhadap makanan tertentu, rasa cinta terhadap istri atau suami, dan yang lainnya. Ini semua di antara cinta yang merupakan tabiat, dan merupakan hal yang dibolehkan, karena ini bukan merupakan mahabbah ibadah.

Cinta yang merupakan tabiat adalah hal yang wajar dan boleh selama tidak melanggar syariat. Karena terkadang sebagian orang mencintai dengan cinta yang berlebihan sehingga berani melanggar syariat, dan hukumnya jatuh kepada maksiat. Akan tetapi cinta tabiat yang boleh ini juga bisa menjadi ibadah ketika dijadikan sebagai Al-Mahabbah fiillah (cinta karena Allah). Contohnya adalah cinta seorang suami kepada istri. Ini adalah cinta tabiat, akan tetapi seseorang bisa menghadirkan bahwa dia cinta karena hal tersebut merupakan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika demikian, maka terkumpul pada diri seorang suami dua Al-Mahbbah, yaitu Mahabbah Thabi’iyah (cinta karena tabiat) yang tidak memiliki pahal dan Mahabbah fiillah (cinta karena Allah) yang memiliki pahala.

Oleh karenanya dalam suatu kecintaan terkadang bisa tergabung dua kecintaan, yaitu kecintaan yang bersifat tabiat dan kecintaan karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sebab-sebab yang bisa menimbulkan cinta kepada Allah

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madarij As-Salikin menyebutkan sebab-sebab yang bisa mendatangkan cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan kita harus menempuh sebab-sebab tersebut agar kita bisa cinta kepada Allah, karena cinta kepada Allah adalah ibadah. Ibnul Qayyim menyebtukan ada sepuluh perkara yang bisa mendatangkan cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.([16])

  1. Membaca Alquran dengan tadabbur dan memahami makna-maknanya.

Ibnul Qayyim mengatakan,

أَحَدُهَا: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّفَهُّمِ لِمَعَانِيهِ وَمَا أُرِيدَ بِهِ، كَتَدَبُّرِ الْكِتَابِ الَّذِي يَحْفَظُهُ الْعَبْدُ وَيَشْرَحُهُ. لِيَتَفَهَّمَ مُرَادَ صَاحِبِهِ مِنْهُ

Yang pertama, membaca Alquran dengan tadabbur dan berusaha memahami makna seperti yang dikehendaki. Sebagaimana halnya dengan menelaah buku yang harus dihapalkan seseorang agar dia dapat memahami maksud pengarangnya.”

Banyak di antara kita yang membaca Alquran dengan targert agar dalam sehari selesai satu atau beberapa juz, akan tetapi kita lupa untuk membaca Alquran dengan tadabbur. Padahal membaca Alquran dengan tadabbur akan lebih menambah iman kita, karena maksud dari membaca Alquran adalah untuk menambah keimanan.

Ketika seseorang telah menyadari bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah menurunkan Alquran dengan keindahannya, kandungan yang begitu dalam, secara tidak langsung akan membuat orang tersebut cinta kepada sang pemiliki firman-firman tersebut. Dia akan merasakan kebahagiaan dan kelezatan yang luar biasa yang tidak dirasakan oleh para penyanyi dan pemain musik. Oleh karenanya jika sesoerang membaca Alquran dengan tadabbur, maka dia akan dengan mudah mencintai Allah Subhanahu wa ta’ala. Hanya saja masalahnya adalah masih banyak di antara kita yang tidak paham Bahasa Arab, sehingga firman-firman Allah masih belum bisa kita pahami.

  1. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah

Ibnul Qayyim mengatkan,

الثَّانِي: التَّقَرُّبُ إِلَى اللَّهِ بِالنَّوَافِلِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ. فَإِنَّهَا تُوَصِّلُهُ إِلَى دَرَجَةِ الْمَحْبُوبِيَّةِ بَعْدَ الْمَحَبَّةِ.

Kedua, bertaqarrub kepada Allah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah amalan-amalan wajib, karena yang demikian ini bisa menghantarkan seorang hamba kepada derajat orang yang dicintai setelah dia memiliki cinta.”

Seseorang yang ingin menimbulkan kecintaan kepada Allah hendaknya melaksanakan amalan-amalan sunnah, seperti sedekah, shalat-shalat sunnah, dan perkara-perkara sunnah lainnya. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Dan tidaklah hambaKu terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, sampai Aku mencintai dia.”([17])

Ini dalil bahwasanya mengerjakan amalan-amalan sunnah akan menumbuhkan cinta kepada Allah, dan Allah juga mencintainya. Hanya saja amalan tersebut harus ikhlas.

  1. Selalu berdzikir kepada Allah

Ibnul Qayyim mengatakan,

الثَّالِثُ: دَوَامُ ذِكْرِهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ: بِاللِّسَانِ وَالْقَلْبِ، وَالْعَمَلِ وَالْحَالِ. فَنَصِيبُهُ مِنَ الْمَحَبَّةِ عَلَى قَدْرِ نَصِيبِهِ مِنْ هَذَا الذِّكْرِ.

Yang ketiga, senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan lisan dan hati, dan dalam beramal disetiap keadaan. Cinta yang dia dapatkan tergantung dari dzikirnya tersebut.”

Berdzikir disetiap keadaan, atau dengan merenungkan sesuatu yang membuat kita bisa mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala, atau mengingat firman-firmanNya, itu semua bisa menambah kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sejauh mana kita mengingat Allah, maka sejauh itu pulalah kecintaan kita kepada Allah dan cinta Allah kepada kita.

  1. Mendahulukan apa yang dicintai oleh Allah daripada apa yang dicintai diri kita

Ibnul Qayyim mengatakan,

الرَّابِعُ: إِيثَارُ مَحَابِّهِ عَلَى مَحَابِّكَ عِنْدَ غَلَبَاتِ الْهَوَى

Yang keempat, lebih mengutamakan terhadap apa yang dicintaiNya daripada apa yang engkau cintai ketika hawa nafsu menguasai.”

Ketika hawa nafsu kita ingin untuk kita melihat kepada wanita-wanita yang haram kita pandang, dan kita sadar bahwa hal itu dilarang oleh Allah, maka kita menundukkan pandangan sebagai bentuk mendahulukan keridhaan dan apa yang disukai oleh Allah daripada apa yang disukai oleh hawa nafsu kita.

Apapun yang kita kerjakan, meskipun bertentangan dengan hawa nafsu kita, akan tetapi hal itu lebih disukai oleh Allah, maka kerjakan. Berkorbanlah, niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala akan mencintai kita, dan kita pun mencintai Allah.

  1. Merenungi nama-nama Allah yang terindah

Ibnul Qayyim mengatakan,

الْخَامِسُ: مُطَالَعَةُ الْقَلْبِ لِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، وَمُشَاهَدَتُهَا وَمَعْرِفَتُهَا. وَتَقَلُّبُهُ فِي رِيَاضِ هَذِهِ الْمَعْرِفَةِ وَمَبَادِيهَا. فَمَنْ عَرَفَ اللَّهَ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ: أَحَبَّهُ لَا مَحَالَةَ. وَلِهَذَا كَانَتِ الْمُعَطِّلَةُ وَالْفِرْعَوْنِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ قُطَّاعَ الطَّرِيقِ عَلَى الْقُلُوبِ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَحْبُوبِ.

“Yang kelima, mengarahkan perhatian hati kepada nama-nama dan sifat-sifatNya, mempersaksikan dan mengenalinya (mendalaminya). Bertamasya di taman-taman mengenal nama-nama Allah. Siapa yang mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatannya maka ia pasti mencintai Allah, tidak bisa tidak. Karenanya kaum Muátthilah (para penolak sifat) dan Firáuniyah (para pengikut madzhab Firáun yang menolak Allah di atas), serta al-Jahmiyah adalah para penyamun yang menghalangi hati dari mengenal Allah”

Artinya adalah merenungkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala, tentang apa itu Al-Lathif, Al-Khabir, As-Ssami’, Al-Bashir, dan yang lainnya. Merenungi nama-nama Allah Subhanahu wa ta’ala ini merupakan cara cepat untuk bisa cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dan benar pepatah yang mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Bagaimana seseorang mau mencintai Allah Subhanahu wa ta’ala, sementara dia tidak mengenal siapa Allah? Sementara Allah Subhanahu wa ta’ala telah memperkenalkan dirinya hampir disetiap lembar Alquran. Sesungguhnya kalau hanya sekedear pengakuan, semua orang pun bisa mengaku. Akan tetapi yang benar adalah pembuktian. Oleh karenanya di antara cara cepat untuk cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dengan mempelajari nama-nama dan sifat-sifatNya.

  1. Mengingat nikmat-nikmat yang Allah berikan

Ibnul Qayyim mengatakan,

السَّادِسُ: مُشَاهَدَةُ بِرِّهِ وَإِحْسَانِهِ وَآلَائِهِ، وَنِعَمِهِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ. فَإِنَّهَا دَاعِيَةٌ إِلَى مَحَبَّتِهِ.

Yang keenam, mempersaksikan kebaikanNya, kemurahan dan karuniaNya, dan nikmat-nikmatNya yang zahir maupun yang batin. Karena itu bisa mendatangkan cinta kepadaNya.”

Berusalahan untuk selalu mengingat nikma-nikmat dan karunia Allah Subhanahu wa ta’ala. Sungguh di antara kita telah ada yang dikaruniai nikmat hidayah, dijauhkan dari maksiat, dan nikmat-nikmat yang luar biasa lainnya, sementara masih banyak orang yang tidak shalat, tenggelam dalam maksiat, memiliki keluarga yang berantakan. Nikmat apa lagi yang kurang bagi kita? Sungguh telah banyak kenikmatan yang Allah telah berikan, dan nikmat islam dan iman adalah nikmat terindah yang Allah berikan kepada kita. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim : 34)

Oleh karenanya nikmat dari Allah perlu untuk diingat, karena dengan mengingat nikmat-nikmat Allah lahir dan batin akan membuat kita semakin cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika seseorang yang memberi hanya sebuah hadiah kepada kita menjadikan kita mencintainya, lantas bagaimana dengan Allah yang telah memberikan kepada kita seluruh kenikmatan yang kita rasakan?

  1. Merendahkan diri dihadapan Allah

Ibnul Qayyim mengatakan,

السَّابِعُ: وَهُوَ مِنْ أَعْجَبِهَا، انْكِسَارُ الْقَلْبِ بِكُلِّيَّتِهِ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ تَعَالَى

Yang ketujuh, dan ini adalah yang paling menakjubkan, (yaitu) memasrahkan hati secara menyeluruh di hadapan Allah ta’ala.”

Menangis tatkala sujud dan dalam doa yang menunjukkan memasrahkan hati kepada Allah, benar-benar bisa membuat orang bisa cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

  1. Berkhalwat bersama Allah

Ibnul Qayyim mengatakan,

الثَّامِنُ: الْخَلْوَةُ بِهِ وَقْتَ النُّزُولِ الْإِلَهِيِّ، لِمُنَاجَاتِهِ وَتِلَاوَةِ كَلَامِهِ، وَالْوُقُوفِ بِالْقَلْبِ وَالتَّأَدُّبِ بِأَدَبِ الْعُبُودِيَّةِ بَيْنَ يَدَيْهِ. ثُمَّ خَتْمِ ذَلِكَ بِالِاسْتِغْفَارِ وَالتَّوْبَةِ.

Yang kedelapan, berkhalwat (berdua-duaan) dengan Allah pada waktu Dia turun ke langit dunia, bermunajat, membaca firmanNya. Dan menghadap dengan sepenuh hati dengan memperhatikan adab-adab ubudiyah di hadapanNya, kemudian menutup dengan istighfar dan taubat.”

Berkhalwat bersama Allah adalah di antara cara mudah agar seseorang bisa cinta kepada Allah. Terlebih lagi jika seseorang melakukannya di sepertiga malam terakhir, dia harus mengalahkan cintanya dari rasa kantuk di waktu puncak-puncaknya seseorang sangat ingin untuk tidur, kemudian memaksakan dirinya untuk bangun berkhalwat dengan Allah pada waktu tersebut. Dia menegakkan shalat, bertilawah dalam shalatnya dan menutupnya dengan istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 18)

Yang demikian adalah nikmat iman, dia mengalahkan hawa nafsunya untuk menyenangkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan tentunya hal tersebut adalah hal yang bisa menambah cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

  1. Berkumpul bersama dengan orang-orang yang mencintai Allah

Ibnul Qayyim berkata,

التَّاسِعُ: مُجَالَسَةُ الْمُحِبِّينَ الصَّادِقِينَ، وَالْتِقَاطُ أَطَايِبِ ثَمَرَاتِ كَلَامِهِمْ كَمَا يَنْتَقِي أَطَايِبَ الثَّمَرِ. وَلَا تَتَكَلَّمْ إِلَّا إِذَا تَرَجَّحَتْ مَصْلَحَةُ الْكَلَامِ، وَعَلِمْتَ أَنَّ فِيهِ مَزِيدًا لِحَالِكَ، وَمَنْفَعَةً لِغَيْرِكَ.

Yang kesembilan, duduk (berkumpul) bersama orang-orang yang mencintaiNya dengan jujur. Dan mengambil manfaat dari perkataan mereka sebagaimana memetik buah segar dari pohon. Dan janganlah berbicara kecuali jika merasa yakin bahwa perkataan itu mendatangkan maslahat, mengetahui bahwa hal itu menambah baik keadaanmu, dan memberi manfaat bagi orang lain.”

Di antara hal yang bisa menambah cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah berteman dengan orang-orang saleh dan mengambil manfaat dari perkataan-perkataan mereka yang penuh hikmah dan pelajaran. Dan di antara hal yang membuat bisa cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, yaitu memikirkan apakah perkataan yang akan diucapkan itu disukai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala atau tidak. Kalau perkataan tersebut bermanfaat untuk diri dan orang lain dan disukai oleh Allah maka berbicaralah, dan jika tidak maka diamlah.

Dengan sifat yang senantiasa memikirkan apa yang akan diucapkan, seseorang akan senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala.

  1. Menjauhi hal-hal yang bisa menjauhkan hati dengan Allah

Ibnul Qayyim mengatakan,

الْعَاشِرُ: مُبَاعَدَةُ كُلِّ سَبَبٍ يَحُولُ بَيْنَ الْقَلْبِ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Yang kesepuluh, menjauhkan diri dari segala sebab-sebab yang menjauhkan antara hati dengan Allah ‘Azza wa Jalla.”

Orang yang cerdas adalah orang yang mengetahui dimana, kapan dan sebab-sebab apa yang membuat imannya berkurang, sehingga akhirnya dia menjauhi hal tersebut. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengaruniakan setiap manusia ilmu, sehingga dia bisa tahu sebab-sebab yang bisa menurunkan keimanannya. Sesungguhnya terkadang Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan sinyal kepada seseorang tatkala hendak melakukan sesuatu dan perkara itu bisa menurunkan imannya. Maka seorang yang cerdas tahu akan sinyal-sinyal tersebut dan tahu kapan imannya turun sehingga dia bisa menghindarinya. Oleh karenanya segala hal yang bisa menjauhkan hati kita dengan Allah harus kita jauhi.

Matan

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah : 24)

Syarah

Pada ayat yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang delapan perkara yang menjadi kecintaan manusia. Perkara tersebut adalah cinta kepada orang tua, cinta kepada anak-anak, cinta kepada saudara, cinta kepada istri, cinta kepada kerabatnya, cinta kepada harta yang dia usahakan, cinta kepada perdangangan yang telah dia geluti, dan cinta kepada rumah yang telah dia bangun dengan susah payah. Kalau ternyata seseorang lebih cinta kepada delapan perkara yang disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya ini daripada cintanya Allah dan RasulNya, daripada cintanya terhadap jihad di jalan Allah baik dengan jiwa atau harta, maka dia digolongkan sebagai orang fasik, karena dia akhir ayat Allah Subhanahu wa ta’ala mengancam dengan mengatakan,

فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah : 24)

Delapan perkara yang disebutkan dalam ayat ini, ketika seseorang melanggarnya (lebih dia cintai daripada Allah dan RasulNya), maka dia telah melakukan cinta yang merupakan maksiat kepada Allah dan bukan cinta yang berupa kesyirikan. Contohnya adalah orang tua yang menuruti kemauan anaknya untuk nonton bioskop karena sayang kepada anaknya; atau sesorang yang menghadiri acara keluarga yang ada maksiat di dalamnya hanya karena merasa tidak enak kepada kerabatnya; atau seorang pedagang yang memilih untuk transkasi riba agar mendapatkan keuntungan. Ini semua bukanlah cinta yang syirik, akan tetapi cinta yang menjerumuskan seseorang ke dalam maksiat. Karena sebagaimana telah kita sebutkan bahwa cinta yang syirik adalah cinta yang menimbulkan keagungan, ketundukan, kehinaan, perendahan diri kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ibnu ‘Umar berkata :,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jika kalian berjual beli secara cara ‘inah (riba), dan kalian mengikuti ekor sapi (sibuk berternak -pent), dan kalian suka dengan bercocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian’.”([18])

Dari hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak melarang seseorang berdangang, membangun rumah, sayang kepada keluarga, hanya saja yang terpenting adalah jangan sampai itu semua membuat seseorang meninggalkan kewajibannya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketika seseorang telah mendahulukan perkara-perkara tersebut sampai meninggalkan perintah-perintah Allah, maka dia telah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Matan

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, daripada orang tuanya dan manusia semuanya.” (HR. Bukhari Muslim)

Syarah

Hadits ini menunjukkan bahwasanya kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus didahulukan daripada kecintaan terhadap seluruh manusia, dan ini hukumnya wajib. Karena dalam hadits di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan bahwa orang yang lebih mencintai orang lain selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka imannya tidak sempurna. Ketika sesorang lebih cinta kepada orang tuanya, kepada anaknya, kepada dirinya, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berdosa.

Menimbulkan rasa cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cinta kepada orang tua, anak, istri, kawan dan diri sendiri adalah hukumnya wajib. Di antara hal yang mendukung ini adalah hadits dalam Shahih Al-Bukhari, dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu beliau berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الآنَ، وَاللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الآنَ يَا عُمَرُ

Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala-galanya selain diriku sendiri.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, (engkau belum beriman) hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berujar, ‘Sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku’. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sekarang (baru benar) wahai Umar.”([19])

Oleh karenanya para sahabat cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cinta mereka kepada diri mereka sendiri, nyawa mereka terasa ringan di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berperang, para sahabat ingin agar mereka meninggal di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits tatkala perang Uhud, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنَّا وَلَهُ الْجَنَّةُ؟ أَوْ هُوَ رَفِيقِي فِي الْجَنَّةِ

Barangisapa yang dapat menghalau mereka dariku, maka baginya surga” atau Nabi mengatakan “Maka dia akan bersamaku di surga.”([20])

Maka para sahabat pun akhirnya berbondong-bondong maju untuk membela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berharap meninggal di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar kelak mereka bisa bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Para ulama menyebutkan bahwa ada dua perkara yang bisa membuat kita bisa mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebih cinta kita kepada diri kita sendiri.

Pertama, kita mengingat bagaimana indahnya akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya untuk mengetahui akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita harus belajar sirah beliau tentang bagaimana sikapnya, tutur katanya, akhlaknya kepada istri-istri beliau, sikap beliau sebagai seorang sahabat bagi sahabat-sahabatnya, bagaimana sikap beliau sebagai seorang pemimpin, dan yang lainnya. Dengan mempelajari itu semua kita akan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sosoknya yang luar biasa.

Kedua, kita mengingat jasa-jasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cara agar kita bisa sangat cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengingat bagaimana perjuangan beliau dalam berdakwah hingga diusir dari negerinya, dilempar dengan batu, dihinakan dengan kotoran yang diletakkan diatas tubuhnya, dan berbagai macam kesusahan-kesusahan yang beliau alami. Kita juga perlu mengingat bahwa tatkala Allah Subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah, maka saat itu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak istirhat dari ujian yang silih berganti hingga beliau meninggal dunia. Ketika kita mengingat jasa-jasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan cinta kepada beliau. Karena jasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih besar daripada jasa orang tua kita kepada kita. Sesungguhnya orang tua kita hanya berjasa bagi kita dalam merasakan berbagai macam kenikmatan dunia, akan tetapi jasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita jika kita mengikutinya dengan benar adalah kenikmatan abadi di surga dan terselamatkan dari api neraka. Dan jasa untuk mendapatkan kenikmatan di surga adalah jasa yang tidak tertandingi. Oleh karenanya ketika kita tahu jasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih besar, maka wajib bagi kita untuk lebih cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi orang tua kita.

Dengan mengingat dua perkara ini, yaitu dengan mempelajari bagaimana akhlak dan jasa-jasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan lebih cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada seluruh manusia.

Matan

Dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: dia menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan,

لَا يَجِدُ أَحَدٌ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى…إلى آخره

Tidak akan merasakan manisnya iman hingga…(hingga akhir hadits)

Syarah

Sesungguhnya iman itu punya rasa yang manis, sehingga orang yang memilikinya akan merasakan kebahagiaan. Makanan memiliki kelezatan tersendiri, bergaul dengan istri juga memiliki kelezatan tersendiri, bertemu dengan sahabat juga memiliki kelezatan tersendiri, maka demikian pula dengan iman yang memiliki kelezatan tersendiri. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ada tiga perkara yang jika terdapat pada diri seseorang maka dia akan merasakan manisnya iman. Dan yang dimaksud dengan kelezatan iman adalah: “Merasa nikmat dan bahagia ketika kita mengerjakan ketaatan-ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan merasa bahagia ketika menanggung beban demi menggapai keridhoan Allah ‘Azza wa Jalla dan rasulnya, dan lebih mengedepankannya dari kenikmatan dunia yang semu”. ([21]) Adapun tiga perkara yang disebutkan dalam hadits tersebut :

Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.

Karena tidaklah mungkin seseorang mendapatkan rasa manis dan nikmat kecuali jika ia melakukan tiga perkara tersebut atas dasar cinta, karena jika tidak atas dasar cinta, maka ia tidak bisa merasakan manis dan bahagianya. ([22]) Ini merupakan dalil bahwasanya janganlah seseorang beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas dasar takut dan berharap semata. Hendaknya sesorang menumbuhkan rasa cinta kepada Allah. Sebagaimana kita ketahui bahwa tiga rukun ibadah hati ada tiga, takut, harap, dan cinta. Tiga rukun ini diibaratkan dengan seekor burung, di mana rasa takut dan rasa harap ibarat sayanya, dan rasa cinta adalah kepalanya. Sehingga seharusnya cinta kepada Allah yang menggerakkan seseorang untuk rajin beribadah.

Kedua, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah. Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya tentang mencintai seseorang karena Allah dan bukan karena orang tersebut.

Ketiga, benci kepada kekufuran sebagaimana dia benci jika dilemparkan ke dalam neraka. Orang tersebut tidak ingin lagi berinteraksi dengan kekufuran dan kesyirikan. Dan ini isyarat bahwasanya kita melatih diri kita untuk benci terhadap maksiat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat : 7)

Oleh karenanya kita berdoa kepada kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk dibuat benci kepada kemaksiatan, dan berdoa agar maksiat yang telah kita tinggalkan tidak kita kembali lagi kepadanya. Dengan meninggalkan kemaksiatan, kita baru akan bisa merasakan manisnya iman.

Dan perlu diketahui, bahwa tidaklah kelezatan itu bisa didapatkan kecuali dengan sehat dan bersihnya hati, karena iman adalah makanan pokoknya hati. Sebagaimana kita tidak bisa merasakan nikmatdan lezatnya makanan (meskipun pada dasarnya ia adalah makanan yang nikmat) jika badan kita sedang sakit. Maka jika hati itu bersih dari penyakit, barulah ia merasakan nikmatnya iman. ([23])

Matan

Dari Ibnu Abbas radahiallahu ‘anhu, dia berkata,

مَنْ أَحَبَّ فِي اللَّهِ، وَأَبْغَضَ فِي اللَّهِ، وَوَالَى فِي اللَّهِ، وَعَادَى فِي اللَّهِ، فَإِنَّمَا تُنَالُ وَلَايَةُ اللَّهِ بِذَلِكَ، وَلَنْ يَجِدَ عَبْدٌ طَعْمَ الْإِيمَانِ وَإِنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ وَصَوْمُهُ حَتَّى يَكُونَ كَذَلِكَ. وَقَدْ صَارَتْ عَامَّةُ مُؤَاخَاةِ النَّاسِ عَلَى أَمْرِ الدُّنْيَا، وَذَلِكَ لَا يُجْدِي عَلَى أَهْلِهِ شَيْئاً

“Barangsiapa yang mencintai sesorang karena Allah, membenci karena Allah, membela karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan perwalian Allah itu diperoleh dengan hal-hal tersebut. Dan sorang hamba tidak akan bisa menemukan lezatnya iman, meskipun dengan banyak melakukan shalat dan puasa, sampai ia bersikap demikian. Pada umumnya persahabatan yang dijalin di antara manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu tidak berguna sedikitpun baginya (orang yang beriman).”

Syarah

Jika seseorang ingin menjadi wali Allah Subhanahu wa ta’ala, maka hendaknya cintanya, bencinya, pembelaannya, permusuhannya, semuanya dibangun karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Hanya sekedar banyak puasa dan banyak shalat tidak bisa menjadikan seseorang merasakan manisnya iman sampai dia mencintai, membenci, membela dan memusuhi karena Allah. Oleh karenanya seseorang harus melatih diri untuk mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berloyal karena Allah, dan bermusuhan karena Allah. Kalau sekiranya kita memiliki kerabat yang dekat namun ternyata dia adalah musuh Allah, maka kita juga memusuhinya karena dia adalah musuh Allah. Dengan seseorang bertindak karena Allah, barulah dia akan merasakan manisnya iman. Dan dalam suatu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya.”([24])

Oleh karenanya kita harus melatih diri kita agar apapun itu kita lakukan karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

Matan

Dari Ibnu Jarir, Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَتَقَطَّعَتْ بِهِمْ الأَسْبَابُ، قَالَ: الْمَوَدَّةُ

Dan segala hubungan antara mereka terputus.” Ibnu Abbas berkata, ‘Yaitu kasih sayang’.”

Syarah

Ayat ini diambil dari firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ (166) وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ (167)

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus. Dan orang-orang yang mengikuti berkata, “Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal per-buatan mereka yang menjadi penyesalan mereka. Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah : 166-167)

Maksud Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu adalah segala bentuk kasih sayang akan terputus di hari akhir nanti. Ketika dahulu di dunia seseorang bersahabat atau menyambung relasi di atas dasar kemaksiatan, maka tidak ada pertolongan, bahkan mungkin yang timbul pada hari kiamat adalah saling menjatuhkan demi menyelamatkan diri.

Lain halnya jika persahabat atau relasi yang terjalin karena Allah. Karenanya seseorang berusaha bersaudara dengan kawannya karena Allah Subhanahu wa ta’ala, karena yang demikian itulah yang bermanfaat pada hari kiamat kelak. Adapun semua interaksi dan hubungan yang bukan dibangun karena Allah Subhanahu wa ta’ala, maka akan terputus dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Bahkan kalaulah kebersamaan itu bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla, mereka akan menjadi lawan satu sama lain kelak di hari akhir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Dan setiap teman pada saat itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang beriman” (Q.S Az-Zukhruf : 67)

_________________________________
([1])  Madarij As-Salikin, Ibnu Al-Qoyyim, 1/119

([2])  HR. Tirmidzi no. 3490

([3])  HR. An-Nasa’i no. 1305

([4])  Madarij As-Salikin 3/39

([5])  HR. Bukhari no. 3009 dan HR. Muslim no. 2406

([6])  Al-Jawab Al-Kafi Liman Saala ‘An Ad-Dawa’ As-Syafi, Ibnu Al-Qoyyim, 189-190, At-Tamhid Syarh Kitab At-Tauhid, Sholih Alus-Syaikh, 381

([7])  Madarij As-Salikin, Ibnu Al-Qoyyim, 1/119

([8])  Ini adalah sya’ir yang ditulis oleh قَيْسُ بْنُ الْمُلَوَّحِ  Qois bin al-Mulawwah, yang dikenal dengan Majnuun Laila (Orang yang tergila-gila kepada Laila). Para ulama berselisih tentang apakah Qois bin al-Mulawaah ini ada sosok yang nyata ataukah hanyak fiktif. Mayoritas ulama menyatakan bahwa beliau adalah sosok yang nyata yang wafat 68 H, hal ini karena para perawi yang meriwayatkan dari beliau jumlahnya banyak.

Qois bin al-Mulawwah dikenal dengan Majnun Laila karena cintanya kepada Laila yang tidak kesampaian. Ia tidak gila akan tetapi tergila-gila kepada Laila. Orang tua Qois melamar Laila ke keluarga Laila akan tetapi keluarga Laila menolak. Padahal Laila pun sangat mencintai Qois, hanya saja Qois sudah tersohor tergila-gila kepada Laila, sehingga keluarga Laila tidak mau mereka jadi hinaan orang-orang yang akan berkata mereka menikahkan putri mereka dengan orang gila. (Lihat Diwan Qois bin al-Mulawwah, riwayat  Abu Bakar al-Walibi hal 31)

([9])  HR. Bukhari no. 1423

([10])  HR. Muslim no. 2566

([11])  HR. Muslim no. 2567

([12])  HR. Tirmidzi no. 3490

([13])  HR. Bukhari no. 5072

([14]) Zad Al-Masir, Ibnu Al-Jauzi, 1/130

([15]) Lihat Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, Madarij As-Salikin, Ibnu Al-Qoyyim, 3/21, 7/188, At-Tamhid Syar Kitab At-Tauhid, Syaikh Sholih Alu syaikh, 85, Taisir Al-‘Aziz Al Hamid, 1/404

([16])  Madarij As-Salikin 3/18-19

([17])  HR. Bukhari no. 6502

([18])  HR. Abu Daud no. 3462

([19])  HR. Bukhari no. 6632

([20])  HR. Muslim no. 1789

([21])  Syarah Shohih Al-Bukhori, Ibnu Batthol, 1/66

([22])  Al-‘Ubudiyyah, Ibnu Taimiyyah, 110.

([23])  Fthu Al-Bari, Ibnu Rojab Al-Hanbali, 1/50

([24])  HR. Abu Daud no. 4681