Ilmu Perbintangan  مَا جَاءَ فِيْ التَّنْجِيْمِ (BAB-28)

 مَا جَاءَ فِيْ التَّنْجِيْمِ

Ilmu Perbintangan

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Syarah

Ilmu perbintangan terbagi menjadi dua, ([1])

  1. عِلْمُ التَّأثِيْر (Ilmu At-Ta’tsir)

Ilmu At-Ta’tsir memberikan pengertian bahwasanya gerakan-gerakan bintang, baik bertemunya dengan bintang yang lain atau terpisahnya, atau gugusannya, atau munculnya dan tenggelamnya, atau yang lainnya yang memengaruhi الحَوَادِثْ الأَرْضِيَّة (kejadian-kejadian di bumi). Atau dengan kata lain Ilmu At-Ta’tsir adalah ilmu tentang gerakan-gerakan di langit punya pengaruh terhadap kejadian-kejadian di bumi. Dan Ilmu At-Ta’tsir ini adalah hal yang dilarang oleh syariat, karena ini pulalah yang disebut dengan ilmu perdukunan atau ilmu sihir. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

Barangsiapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum (perbintangan), maka ia telah mempelajari bagian dari sihir. Semakin bertambah ilmu yang dia pelajari, semakin bertambah sihir yang dia pelajari.”([2])

Oleh karenanya semakin pakar seseorang pada ilmu perbintangan dalam hal ini, maka semakin pakar orang dalam kesyirikannya, karena syirik juga bertingkat-tingkat.

Praktik Ilmu At-Ta’tsir ini banyak terjadi di tanah air kita. Banyak di antara kita yang membagi-bagi gugusan bintang dengan nama tertentu dan mengaitkan dengan sifat kepribadian manusia, padahal ini semua adalah kedustaan dan khurafat. Oleh karenanya orang yang memercayai yang seperti ini, kita katakan bahwa tauhid orang tersebut bermasalah. Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa orang yang membaca ramalan bintang itu sama seperti dia mendatangi dukun, karena ramalan bintang itu sendiri adalah praktik perdukunan sebagaimana telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya. Maka ketika seseorang membaca ramalan bintang untuk ingin tahu, itu berarti sama saja dia bertanya kepada dukun sehingga shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Adapun jika dia membenarkan ramalan bintang tersebut, maka sama saja dia membenarkan perkataan dukun sehingga dia termasuk telah kufur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka dari sini kita sadar bahwa tauhid adalah perkara yang sangat penting, karena masih banyak orang yang tidak paham tentang tauhid dan percaya kepada ramalan-ramalan dukun-dukun tersebut.

Keyakinan manusia terhadap bintang-bintang terbagi menjadi dua bagian,

1, Meyakini bahwa bintang-bintang atau benda-benda langit memiliki kehendak, sehingga memengaruhi kejadian atau peristiwa-peristiwa di bumi. Orang yang meyakini hal seperti ini hukumnya kafir karena tidak mungkin bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya memiliki kehendak untuk mengatur. Melainkan benda-benda langit justru diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya,

وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ

Matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada aturan-Nya.” (QS. Al-A’raf : 54)

Maka telah jelas bahwa benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang tidak memiliki kehendak untuk bergerak semaunya, melainkan gerakannya diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin : 40)

Maka jika benda-benda langit tidak memiliki kehendak untuk bergerak semaunya, maka bagaimana mungkin dia bisa mengatur atau memengaruhi kejadian di bumi. Maka barangsiapa yang meyakini bahwasanya bintang-bintang memiliki kehendak, maka dia kafir sebagaimana orang-orang yang ditemui oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di negeri Syam yang mereka menyembah benda-benda langit.

2. Meyakini bintang-bintang atau benda-benda langit tersebut hanyalah sebab yang Allah jadikan sebagai petunjuk untuk menentukan peristiwa-peristiwa di bumi. Jika seseorang meyakini bahwa bintang tertentu menandakan akan terjadi kejadian-kejadian tertentu, maka yang seperti ini hukumnya sama dengan perdukunan dan termasuk syirik akbar.

Inilah dua keyakinan seseorang terhadap bintang-bintang yang keduanya tidak diperbolehkan karena termasuk syirik akbar. Maka meskipun seseorang tidak menjadikan bintang sebagai tuhan, akan tetapi meyakini bahwa bintang-bintang tersebut memiliki pengaruh tentang kejadian di masa depan, maka hukumnya sama seperti seseorang yang percaya kepada dukun. Wallahu a’lam bishshwwab.

  1. عِلْمُ التَّسْيِيْر (Ilmu At-Tasyir)

Ilmu At-Tasyir memberikan pengertian bahwasanya lokasi bintang-bintang membantu untuk menunjukkan arah atau musim tertentu, serta tidak ada kaitannya dengan kejadian-kejadian di bumi. Ilmu At-Tasyir boleh untuk dipelajari, ([3]) karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus : 5)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.” (QS. Yasin : 39)

Di ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang posisi bulan yang bisa dipakai untuk mengetahui hitungan-hitungan tertentu yang bermanfaat.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang bintang-bintang,

وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 16)

Artinya adalah dengan bintang seseorang bisa mengetahui suatu arah, atau untuk mengetahui musim tertentu dengan muncul dan terbenamnya bintang. Oleh karenanya mempelajari ilmu perbintangan untuk hal ini adalah hal yang tidak Mengapa.

Dan ini semua adalah dalil bahwasanya benda-benda di langit diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan aturan yang tidak berubah, sehingga terkadang peredaran benda-benda tersebut ada yang berulang setahun sekali, atau beberapa tahun sekali. Akan tetapi peredaran tersebut memiliki aturan yang bisa memberikan manfaat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin : 40)

Ini semua berlaku dengan begitu indah, teratur, rapi dan kokoh karena semua itu adalah ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Semuanya hanya bisa rusak atau Allah Subhanahu wa ta’ala rubah aturannya ketika tiba waktunya di hari kiamat. Maka pada waktu itu bintang-bintang berjatuhan, matahari dan rembulan redup tak bercayaha, serta matahari terbit dari barat. Adapun saat ini benda-benda langit berjalan sesuai dengan aturannya dan tidak berubah sebagaimana orang-orang menyebutnya dengan ikatan gravitasi, dan karena aturannya yang konsisten membuat orang-orang bisa belajar. Oleh karenanya itu dengan hal tersebut seseorang akan mendapatkan ilmu yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada manusia. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu).” (QS. Yunus : 5)

Semua benda-benda langit pada dasarnya tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan mereka juga beribadah dan sujud kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Tidakkah engkau tahu bahwa apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj : 18)

Maka bagaimana mungkin benda-benda langit bisa menjadi pengatur sedangkan sebagian dari benda-benda langit hanya muncul pada Sebagian hari, dan hilang pada sebagian hari. Oleh karenanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan beberapa dalil yang berkaitan dengan bab ini, sebagaimana berikut ini :

Matan

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Qatadah bahwa ia berkata,

خَلَقَ الله هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ: جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا، فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا بِغَيْرِ ذَلِكَ أَخْطَأَ، وَأَضَاعَ نَصِيبَهُ، وَتَكَلَّفَ مَا لاَ عِلْمَ لَهُ بِهِ

Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga tujuan: sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar syaithan, dan sebagai tanda untuk petunjuk (arah dan sebagainya). Maka barangsiapa yang berpendapat selain dari hal tersebut, maka ia telah melakukan kesalahan, dan menyia-nyiakan nasibnya, serta membebani dirinya dengan hal diluar batas pengetahuannya.”

Syarah

Qatadah menyebutkan bahwa ada tiga hikmah diciptakannya bintang-bintang,

Pertama adalah sebagai hiasan di langit. Kehadiran bintang-bintang serta benda-benda langit lainnya di langit menjadikan langit semakin indah, dan tentunya ini semua karena Allah Subhanahu wa ta’ala ingin memberikan keindahan bagi ciptaan-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

(Dan sungguh Kami telah menghiasi langit dengan bintang-bintang). ([4])

Kedua adalah sebagai pelempar syaithan. Hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surah Al-Jin,

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا، وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengan mendengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengan (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Al-Jin : 8-9)

Para ulama mengatakan bahwa bintang yang digunakan untuk melempar Jin tidaklah keluar dari edarannya, melainkan hanya percikan api dari bintang tersebut.

Ketiga adalah sebagai tanda-tanda suatu arah atau musim. Orang-orang dahulu tidak memiliki kompas untuk menunjukkan arah, sehingga mereka menggunakan gugusan-gugusan bintang tertentu sebagai penunjuk arah. Tentunya ini adalah ilmu yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada mereka orang-orang dahulu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

“Dan Dia yang menjadikan bagi kalian bintang-bintang agar kalian menjadikannya sebagai petunjuk di tengah kegelapan malam baik di daratan maupun di lautan”. ([5])

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan tanda-tanda (yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan di muka bumi), dan dengan bintang-bintang mereka menjadikannya sebagai petunjuk”. ([6])

Perkataan Qatadah yang dinukil oleh Imam Al-Bukhari ini sebenarnya hanya sebagian saja. Perkataan Qatadah yang lengkap diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Kitab An-Nujum. Lanjutan dari perkataan Qatadah di atas,

وَإِنَّ أُنَاسًا جَهَلَةً بِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى قَدْ أَحْدَثُوا فِي هَذِهِ النُّجُومِ كِهَانَةً

Dan sesungguhnya ada sekelompok orang yang jahil terhadap syarát Allah ta’ala. Mereka telah membuat ilmu perdukunan dengan bintang-bintang ini.”([7])

Keterangan Qatadah di atas memberikan pengetahuan bahwasanya ilmu perdukunan telah ramai di zaman tabi’in.

Oleh karenanya perkataan Qatadah ini menerangkan tiga fungsi bintang, dan tidak boleh lebih daripada itu.

Matan

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

وَكَرِهَ قَتَادَةُ تَعَلُّمَ مَنَازِلَ القَمَرِ، وَلَمْ يُرَخِّصْ ابْنُ عُيَيْنَةُ فِيْهِ. ذَكَرَهُ حَرْبٌ عَنْهُمَا. وَرَخَّصَ فِيْ تَعَلُّمِ الْمَنَازِلِ أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ

Dan Qatadah tidak suka (benci) mempelajari ilmu tata letak peredaran bulan, sedangkan Sufyan Ibnu Uyainah mengharamkan (tidak membolehkan) hal tersebut, sebagaimana diungkapkan Harb dari mereka berdoa. Dan Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih membolehkan untuk mempelajari ilmu tata letak peredaran bulan.”

Syarah

Dari perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ini menunjukkan bahwa ada dua pendapat dikalangan para ulama tentang mempelajari ilmu perbintangan.

Pendapat pertama, sebagian ulama tidak membolehkan mempelajarinya sama sekali dalam rangka menutup pintu-pintu dan celah-celah kesyirikan dan perdukunan.

Pendapat kedua, sebagian ulama yang lain seperti Imam Ahmad dan Imam Ishaq bin Rahawaih membolehkan mempelajari ilmu perbintangan jika ada manfaatnya.

Sufyan bin Uyainah dan Ishaq bin Rahawaih dahulunya adalah seorang fuqaha, serta dahulu mereka memiliki murid-murid. Adapun mereka tidak menjadi imam mazhab karena ilmu mereka tidak dilestarikan oleh murid-muridnya, padahal mereka adalah orang ‘alim dan sekelas tingkatannya dengan Imam Ahmad dan Imam Syafi’i. Akan tetapi meskipun ilmu mereka tidak dilestarikan sebagaimana ilmu dari empat Imam mazhab, namun perkataan dan pendapat mereka masih terus dinukil oleh para ulama, di antaranya oleh Abu Isa At-Tirmidzi([8]).

Matan

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ خَمْرٍ، وَقَاطِعُ رَحِمٍ، وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ

Tiga orang yang tidak akan masuk surga; ([9]) pencandu (peminum) khamr, orang yang memutuskan silaturahmi, dan orang yang memercayai sihir.” HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya

Syarah

Kelanjutan dari hadits yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di atas berbunyi,

وَمَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ سَقَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ. قِيلَ: وَمَا نَهْرُ الْغُوطَةِ؟ قَالَ: نَهْرٌ يَجْرِي مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِمْ

Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan kecanduan khamr, maka Allah ‘Azza wajalla akan memberinya minum dari sungai Ghuthah.” Ditanyakanlah, ‘Apa itu sungai Ghuthah?’ Beliau menjawab: ‘Suatu sungai yang airnya mengalir dari kemaluan para pezina yang baunya mengganggu para penduduk neraka’.”([10])

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang tiga orang yang terancam masuk ke dalam neraka atau tidak akan masuk surga di antaranya, pecandu khamr, pemutus silaturahmi, dan orang yang membenarkan sihir. Sebab hadits ini dimasukkan dalam bab ini karena telah disebutkan oleh sang penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah bahwa ilmu perbintangan bagian daripada sihir, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

Barangsiapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum (perbintangan), maka ia telah mempelajari bagian dari sihir. Semakin bertambah ilmu yang dia pelajari, semakin bertambah sihir yang dia pelajari.”([11])

Oleh karenanya ini adalah dalil bahwasanya belajar sihir dari ilmu perbintangan akan menghalangi seseorang dari surga. Dan tiga perkara yang disebutkan dalam hadits ini semuanya adalah dosa besar.

Maka sepatutnya seseorang berhati-hati dari tiga dosa ini,

  1. Kecanduan dengan khamr

Kecanduan khamr adalah hal yang sangat berbahaya, karena orang yang meminum khamr telah menghilangkan kemuliaan yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya berupa akal yang membedakannya dengan hewan. Dan orang yang meminum khamr telah menggolongkan dirinya ke dalam orang-orang gila.

  1. Memutuskan silaturahmi

Hendaknya seseorang juga berhati-hati dalam perkara silaturahmi. Selain menyambung silaturahmi memiliki pahala yang sangat besar, namun di sisi lain memutuskannya memiliki dosa yang sangat besar. Oleh karenanya dalam satu halaman surah Ar-Ra’d Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang ciri-ciri penghuni surga dan neraka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ciri-ciri penghuni surga,

الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ، وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ، وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ، جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ، سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

(yaitu) Orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan (silaturahmi), dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d : 20-24)

Menyambung silaturahmi itu butuh kesabaran, karena akhir dari ayat di atas malaikat berkata, “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu”. Terlebih lagi jika kita harus menyambung yang telah putus, ini sungguh berat sehingga membutuhkan kesabaran. Dan menyambung silaturahmi adalah hal yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan kalau kita mau memperhatikan, banyak ayat yang Allah Subhanahu wa ta’ala mendahulukan penyebutan kerabat daripada anak yatim, orang miskin dan yang lainnya. Oleh karenanya menyambung silaturahmi adalah sebab utama masuk surga, namun butuh kesabaran.

Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang ciri-ciri penghuni surga, Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan sifat-sifat penghuni neraka jahannam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkannya, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar disambungkan (silaturahmi) dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itu memperoleh laknat dan tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (QS. Ar-Ra’d : 25)

Terkadang ada orang yang karena ego dan angkuhnya dia tidak mau menyambung silaturahmi. Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang dua orang yang bertengkar,

لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam, (jika bertemu) yang ini berpaling dan yang ini juga berpaling, dan sebaik-baik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (Muttafaqun ‘alaih)([12])

Dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini telah jelas bahwasanya yang menyambung silaturahmi terlebih dahulu adalah orang yang terbaik. Kalau hadits ini saja menceritakan seseorang yang bukan kerabat, maka bagaimana lagi jika yang bertengkar adalah kerabat? Tentu lebih utama lagi untuk menyambung silaturahmi kepadanya. Oleh karenanya seseorang yang ribut dengan kawannya itu perkaranya lebih ringan daripada seseorang ribut terhadap kerabatnya, karena memutuskan silaturahmi adalah dosa besar dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Tidak masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi).” (Muttafaqun ‘alaih)([13])

Oleh karenanya hendaknya seseorang berusaha untuk beramal dengan sebanyak-banyaknya. Dan di antara amalan yang pahalanya besar serta memudahkan seseorang masuk surga adalah menyambung silaturahmi. Kalau seseorang telah bisa menjadi terbaik bagi kerabatnya, maka bisa kita katakan bahwa dia telah masuk dalam salah satu ciri-ciri penghuni surga.

  1. Membenarkan sihir

Di antara orang yang tidak masuk surga adalah orang yang membenarkan sihir, membenarkan perdukunan, atau membenarkan ilmu perbintangan yang digunakan untuk perdukanan. Ini semua adalah hal yang terlarang, dan jangan sampai di antara kita terjerumus kedalamnya.

Matan

Kandungan Bab ini:

  1. Hikmah diciptakannya bintang-bintang
  2. Sanggahan terhadap orang yang mempunyai anggapan adanya fungsi lain selain tiga fungsi tersebut.
  3. Adanya khilaf pendapat dikalangan ulama tentang hukum mempelajari ilmu tata letak peredaran bulan.
  4. Ancaman bagi orang yang memercayai sihir (yang di antara jenisnya adalah ilmu perbintangan), meskipun ia mengetahui akan kebathilannya.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

___________________

([1])  Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, Sulaiman bin ‘Abdillah, 1/385

([2])  HR. Abu Daud 3905

([3])  Lihat kitab Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 4/243, Kifayah At-Tholib Ar-Robbani (Karya Al-Khorsyi Al Maliki), Wa Ma’ahu Hasyiyah Al-‘Adawi, 2/494-495.

Al-Khurosyi Al-Maliki berkata :

(وَلَا يَنْظُرُ فِي) عِلْمِ (النُّجُومِ) ع: وَهَلْ الْمَنْعُ مَنْعُ تَحْرِيمٍ أَوْ مَنْعُ كَرَاهَةٍ (إلَّا) فِي شَيْئَيْنِ فَإِنَّ النَّظَرَ فِيهِ لَهُمَا مُسْتَحَبٌّ لِوُرُودِ الشَّرْعِ بِهِ أَحَدُهُمَا (مَا يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى) مَعْرِفَةِ سَمْتِ (الْقِبْلَةِ وَ) ثَانِيهِمَا: مَا يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَعْرِفَةِ (أَجْزَاءِ اللَّيْلِ) مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ، وَيَبْقَى قِسْمٌ ثَالِثٌ جَائِزٌ … وَهُوَ النَّظَرُ فِيمَا يُهْتَدَى بِهِ فِي السَّيْرِ

“Dan tidak boleh melihat (mempelajari) tentang ilmu perbintangan”. Apakah larangan itu haram atau makruh? “kecuali” pada dua perkara, maka mempelajari ilmu perbintangan karena dua perkara itu adalah dianjurkan, karena adanya dalil tentang itu. Yang pertama: yang dengan ilmu perbintangan tersebut bisa untuk mengetahui arah qiblat. Yang kedua: yang dengan ilmu perbitangan bisa diketahui “bagian-bagian waktu malam”, waktu yang sudah berlalu dan waktu yang tersisa. Dan sisa yang ketiga, dan yang demikian adalah boleh…yaitu mempelajari ilmu perbintangan untuk bisa tahu arah ketika perjalanan”. (Kifayah At-Tholib Ar-Robbani (Karya Al-Khurosyi Al Maliki), Wa Ma’ahu Hasyiyah Al-‘Adawi, 2/494-495)

([4])  Q.S. Al-Mulk:5

([5])  Q.S. Al-An’am:97

([6])  Q.S. An-Nahl:16

([7])  Al-Qoul Fi An-Nujum, Al Khothib Al Baghdadi, 1/186

([8])  Di antara keistimewaan Sunan At-Tirmidzi selain meriwayatkan hadits adalah kita tersebut menukil perkataan para salaf tentang fikih dari hadits yang dibawakan. Dan keistimewaan ini tidak didapatkan dalam kitab hadits-hadits yang lain.

([9])  Maksud dari sabda beliau “tidak masuk surga di sini adalah”:

Mungkin:

  1. Dia tidak akan masuk ke surga bersama orang-orang As-Sabiqin (yang pertama kali masuk surga).
  2. Dia masuk neraka dan kekal di neraka, karena menghalalkan khomer, bukan karena minum khomer itu sendiri. Karena keyakinan Ahlussunnah adalah: “Tidak mengkafirkan orang muslim yang melakukan dosa besar”.

Dan perkataan beliau “tidak masuk surga” itu lebih membuat orang takut dan lebih mengena dari hanya sekedar “masuk neraka”. (Lihat : Mirqot Al-Mafatih, Mulla ‘Ali Al-Qori, 6/2389)

‘Umar bin Al-Khotthob radhiallahu’anhu meriwayatkan:

أَنَّ رَجُلًا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وَكَانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وَكَانَ يُضْحِكُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَلَدَهُ فِي الشَّرَابِ، فَأُتِيَ بِهِ يَوْمًا فَأَمَرَ بِهِ فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العَنْهُ، مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: )لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ(

“Ada seseorang di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama ‘Abdullah, dan ia digelari dengan himar (keledai), dan ia sering membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah pernah mencambuknya karena minum khomer. Suatu hari ia minum khomer dan didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau memerintahkan untuk mencambuknya. Tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan “ya Allah laknatlah ia, sudah berapa banyak ia melakukan ini? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian laknat ia, sungguh aku tidak mengetahui darinya kecuali ia mencintai Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulnya”.(H.R. Bukhori, No.6780)

Hadits ini jelas menunjukan bahwa peminum khamr tidaklah kafir.

([10])  HR. Ahmad no. 19587; HR. Ibnu Hibban no. 5346; HR. Ath-Thabrani no. 13180; HR. Al-Hakim no. 7234. Hadits ini di sahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Az-Zahabi rahimahumullah

([11])  HR. Abu Daud 3905

([12])  HR. Bukhari no. 6077 dan HR. Muslim no. 2560

([13])  HR. Bukhari no. 5984 dan HR. Muslim no. 2556