Malaikat Makhluk Yang Agung Saja Begitu Takut Kepada Allah (BAB-15)

Malaikat Makhluk Yang Agung Saja Begitu Takut Kepada Allah

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Dalil Pertama :

Firman Allah :

حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka (malaikat), mereka berkata: “apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab: “perkataan yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Saba’: 23)

Diriwayatkan dalam kitab shahih Imam Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَضَى اللهُ الأَمْرَ فِيْ السَّمَاءِ ضَرَبَتْ المَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ يَنْفُذُهُمْ ذَلِكَ، âحَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُá فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ، وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ – وَصَفَهُ سُفْيَانٌ بِكَفِّهِ، فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ – فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيْهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، ثُمَّ يُلْقِيْهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، حَتَّى يُلْقِيْهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوْ الكَاهِنِ، فَرُبَمَا أَدْرَكَهُ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَرُبَمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ، فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِيْ سُمِعَتْ مِنَ السَّمَاءِ

“Apabila Allah menetapkan suatu perintah di atas langit, para malaikat mengibas-ngibaskan sayapnya, karena patuh akan firman-Nya, seolah-olah firman yang didengarnya itu bagaikan gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal ini memekakkan mereka (sehingga jatuh pingsan karena ketakutan), “sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati-hati mereka, mereka berkata: “apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab: “ (perkataan) yang benar, dan Dialah yang maha tinggi lagi maha besar”, ketika itulah (syetan-syetan) pencuri berita mendengarnya, pencuri berita itu sebagian diatas sebagian yang lain – Sufyan bin Uyainah menggambarkan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari jemarinya – ketika mereka (penyadap berita) mendengar berita itu, disampaikanlah kepada yang ada di bawahnya, dan seterusnya, sampai ke tukang sihir dan tukang ramal, tapi kadang-kadang syetan pencuri berita itu terkena syihab (meteor)  sebelum sempat menyampaikan berita itu, dan kadang-kadang sudah sempat menyampaikan berita sebelum terkena syihab, kemudian dengan satu kalimat yang didengarnya itulah tukang sihir dan tukang ramal itu melakukan seratus macam kebohongan, mereka mendatangi tukang sihir dan tukang ramal seraya berkata: bukankah ia telah memberi tahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar), sehingga ia dipercayai dengan sebab  kalimat yang didengarnya dari langit”.

Ayat yang dibawakan oleh penulis ditafsirkan dengan hadits setelahnya tentang sebab malaikat ketakutan dan bagaimana takut itu dicabut dari diri para malaikat tersebut.

Patut diketahui bahwasanya metode para ulama dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran ada empat tingkatan, sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir.

Pertama, menafsirkan ayat dengan ayat yang lain. Ini adalah metode terbaik di dalam penafsiran.

Kedua, menafsirkan ayat dengan hadits, sebagaimana ayat di dalam bab ini.

Ketiga, menafsirkan ayat dengan perkataan para sahabat lalu perkataan para tabiin, jika tidak dijumpai adanya ayat lain atau hadits yang menafsirkan ayat tersebut.

Keempat, menafsirkan ayat berdasarkan konsekuensi dari sisi bahasa, jika tidak dijumpai ayat lain atau hadits atau perkataan para sahabat yang menafsirkan ayat tersebut.

Namun harus diperhatikan bahwasanya ke empat metode dilakukan secara berurutan dan tidak boleh menggunakan metode kedua jika masih bisa ditafsirkan dengan metode pertama, begitu seterusnya. Karena dijumpai pada sebagian ahlul bid’ah mereka menafsirkan ayat dengan konsekuensi bahasa langsung tanpa memperdulikan adanya ayat lain yang menjadi tafsirannya. Padahal makna sebuah lafadz jika dibawa ke sisi bahasa akan menimbulkan banyak makna, sehingga ahlul bid’ah akan menggunakan kesempatan tersebut untuk memilih makna-makna bathil kemudian menafsirkannya sesuai hawa nafsunya.

Tujuan penulis membawakan ayat ini di dalam bab adalah untuk menegaskan bahwa malaikat tidak layak untuk disembah, walaupun pada diri mereka terdapat kehebatan dan keagungan yang besar. Hal ini karena malaikat juga takut kepada Allah.

Keistimewaan dan karakteristik para malaikat :

Diantara keistimewaan dan karakteristik yang ada pada diri malaikat namun itu tidak dijumpai pada diri manusia:

Pertama : Dari sisi kedekatan, maka para malaikat sangat dekat di sisi Allah, berbeda dengan manusia yang tinggal di bumi jauh dari Allah. Dengan malaikat Allah sering bertemu dan berbicara dengan mereka. Allah berfirman,

فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ ۩

“Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.” (QS Fusshilat : 38)

Kedua : Dari sisi ibadah, malaikat jauh melampaui manusia. Para malaikat beribadah kepada Allah siang malam tanpa henti dan tanpa dihinggapi rasa lelah serta rasa bosan. Berbeda dengan manusia yang sangat mudah dihinggapi kebosanan. Allah berfirman,

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada letihnya.” (QS Al-Anbiya : 20)

Ketiga : Dari sisi keshalihan, para malaikat tidak pernah bermaksiat kepada Allah dan sealalu taat kepada Allah. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim : 6)

Berbeda dengan manusia yang terlalu sering membangkang dan melanggar perintah Allah

Keempat : Dari sisi fisik :

Pertama : Malaikat diciptakan lebih dahulu dibanding manusia. Nabi bersabda,

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُوْرٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api dan Adam diciptakan sebagaimana telah dijelaskan kepada kalian (dari tanah).” ([1])

Malaikat tidak makan dan tidak minum, meskipun demikian energi mereka tidak pernah habis. Sungguh hebat cahaya yang Allah ciptakan sebagai sumber ciptaan mereka.

Kedua : Malaikat memiliki sayap . Allah berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Fathir : 1)

Karenanya para malaikat terbang dan bergerak dengan begitu cepat, bahkan kecepatan mereka melebihi kecepatan jin yang terbang. Mereka berterbangan dari langit yang begitu tinggi kemudian dalam waktu yang singkat mereka sudah tiba di bumi, dan sebaliknya dari bumi terbang dalam waktu yang singkat menuju langit. Sementara jin terbatas kemampuannya sehingga tatkala hendak mencuri berita di langit mereka harus bertumpuk-tumpuk, selain itu karena gerakan mereka yang lambat banyak diantara mereka yang terkena lemparan bintang hingga akhirnya terbakar.

Ketiga : Besarnya tubuh sebagian malaikat.

Dari Ibnu Mas’ud radhialahu ‘anhu beliau berkata,

رَأَى مُحَمَّدٌ ﷺ جِبْرِيْلَ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ قَدْ سَدَّ الأُفُق

“Muhammad melihat Jibril (dalam wujud aslinya pen.) Ia memiliki 600 sayap yang menutupi langit.”([2])

Nabi bersabda :

أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ، إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِ مِائَةِ عَامٍ

“Telah diizinkan kepadaku untuk menceritakan tentang satu malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang memikul árys. Sesungguhnya antara daun telinganya hingga pundaknya jarak perjalanan 700 tahun” ([3])

Kelima : Dari sisi kekuatan, maka para malaikat adalah makhluk yang sangat kuat sebagaimana dalam kisah diadzabnya kaum Nabi Luth. Malaikat mengangkat negeri kaum Nabi Luth lalu membalikkannya hanya dengan sayapnya([4]). Demikian juga malaikat gunung yang pernah mendatangi Nabi dan menawarkan untuk mengangkat dua gunung dan menimpakannya kepada kaum musyrikin, akan tetapi Nabi menolak hal tersebut([5]).

Bersamaan dengan kehebatan-kehebatan dan keagungan-keagungan yang dimiliki malaikat, mereka tetap takut kepada Allah sehingga mereka tidak boleh disembah.

Sungguh tersesat kaum musyrikin yang menyembah para malaikat. Mereka menganggap malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Allah berfirman,

أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِنَاثًا ۚ إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا

“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS Al-Isra : 40)

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ

“Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah : 116)

Diantara faidah yang bisa diambil dari hadits ini bahwasanya malaikat itu lebih hebat dari syaithan. Syaithan tatkala ingin mencuri berita-berita dari langit maka dia membutuhkan syaithan yang lain agar bisa mencurinya, mereka harus membentuk susunan dari atas ke bawah agar yang paling atas bisa mencuri lalu menyampaikannya ke bawah secara estafet hingga sampai ke tangan dukun. Hal ini menunjukkan bahwa para syaithan bisa terbang, tetapi jarak terbangnya tidak jauh. Berbeda dengan para malaikat yang bisa terbang dari langit paling atas hingga turun ke bumi.

Berita-berita yang berhasil dicuri oleh jin dilemparkannya ke jin di bawahnya, begitu seterusnya hingga sebagian berita tersebut ada yang berhasil sampai ke dukun, namun ada pula yang tidak berhasil karena malaikat sudah terlebih dahulu menghentikan mereka dengan lemparan bintang. Kemudian berita yang sampai ke tangan para dukun tersebut ditambahi dengan seratus kedustaan. Tetapi anehnya yang diingat oleh manusia adalah satu kalimat yang kebetulan benar tersebut. Ini menunjukkan akan lemahnya hati manusia.

Dalil Kedua :

An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ تَعَالَى أَنْ يُوْحِيَ بِالأَمْرِ تَكَلَّمَ بِالْوَحْيِ أَخَذَتِ السَّمَوَاتُ مِنْهُ رَجْفَةً، أَوْ قَالَ: رَعْدَةً شَدِيْدَةً خَوْفًا مِنَ اللهِ، فَإِذَا سَمِعَ ذَلِكَ أَهْلُ السَّمَوَاتِ صُعِقُوْا وَخَرُّوْا سُجَّدًا، فَيَكُوْنُ أَوَّلَ مَنْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ جِبْرِيْلُ، فَيُكَلِّمُهُ اللهُ مِنْ وَحْيِهِ بِمَا أَرَادَ، ثُمَّ يَمُرُّ جَبْرِيْلُ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ، كُلَّمَا مَرَّ بِسَمَاءٍ سَأَلَهُ مَلاَئِكَتُهَا: مَاذَا قَالَ رَبُّنَا يَا جِبْرِيْلُ؟ فَيَقُوْلُ جِبْرِيْلُ: قَالَ الْحَقَّ وَهُوَ العَلِيُّ الْكَبِيْرُ، فَيَقُوْلُوْنَ كُلُّهُمْ مِثْلَ مَا قَالَ جِبْرِيْلُ، فَيَنْتَهِي جِبْرِيْلُ بِالْوَحْيِ إِلَى حَيْثُ أَمَرَهُ اللهُ

“Apabila Allah hendak mewahyukan perintah-Nya, maka Dia firmankan wahyu tersebut, dan langit-langit bergetar dengan kerasnya karena takut kepada Allah, dan ketika para malaikat  mendengar firman tersebut mereka pingsan dan bersujud, dan di antara mereka yang pertama kali bangun adalah Jibril, maka Allah sampaikan wahyu yang Ia kehendaki kepada Jibril, kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap ia melewati langit maka para penghuninya bertanya kepadanya: “apa yang telah Allah firmankan kepadamu? Jibril menjawab: “Dia firmankan yang benar, dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, dan seluruh malaikat yang ia lewati bertanya kepadanya seperti pertanyaan pertama, demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh Allah kepadanya.”

Sisi pendalilan dari hadits ini sama dengan dalil sebelumnya, yaitu Hadits ini juga menunjukan bahwa para malaikat yang begitu dahsyatnya sangat takut kepada Allah. Begitu mereka mendengar suara Allah mereka langsung sujud tersungkur. Jika mereka begitu takut kepada Allah padahal begitu shalihnya mereka ini menunjukan mereka tidak pantas untuk disembah. Maka terlebih lagi orang-orang shalih untuk disembah yang tentu dibawah kedudukan para malaikat dari berbagai sisi.

Kandungan bab ini:

  1. Penjelasan tentang ayat yang telah disebutkan di atas.
  2. Ayat tersebut mengandung argumentasi yang memperkuat kebatilan syirik, khususnya yang berkaitan dengan orang-orang shaleh, dan ayat itu juga memutuskan akar-akar pohon syirik yang ada dalam hati seseorang.
  3. Penjelasan tentang firman Allah: “mereka menjawab: “(perkataan) yang benar” dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. ([6])
  4. Menerangkan tentang sebab pertanyaan para malaikat tentang wahyu yang difirmankan Allah.
  5. Jibril kemudian menjawab pertanyaan mereka dengan perkataan: “Dia firmankan yang benar …”
  6. Menyebutkan bahwa malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril.
  7. Jibril memberikan jawaban tersebut kepada seluruh malaikat penghuni langit, karena mereka bertanya kepadanya.
  8. Para malaikat penghuni langit jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah.
  9. Langitpun bergetar keras ketika mendengar firman Allah itu.
  10. Jibril adalah malaikat yang menyampaikan wahyu itu ke tujuan yang telah diperintahkan Allah kepadanya.
  11. Hadits di atas menyebutkan tentang adanya syetan-syetan yang mencuri berita wahyu.
  12. Cara mereka mencuri berita, sebagian mereka naik di atas sebagian yang lain.
  13. Peluncuran syihab (percikan bintang) untuk menembak jatuh syetan-syetan pencuri berita.
  14. Adakalanya syetan pencuri berita itu terkena syihab sebelum sempat menyampaikan berita yang didengarnya, dan adakalanya sudah sempat menyampaikan berita ke telinga manusia yang menjadi abdinya sebelum terkena syihab.
  15. Adakalanya ramalan tukang ramal itu benar.
  16. Dengan berita yang diterimanya ia melakukan seratus macam kebohongan.
  17. Kebohongannya tidak akan dipercaya kecuali karena adanya berita dari langit (melalui syetan penyadap berita).
  18. Kecenderungan manusia untuk menerima suatu kebatilan, bagaimana mereka bisa bersandar hanya kepada satu kebenaran saja yang diucapkan oleh tukang ramal, tanpa memperhitungkan atau mempertimbangkan seratus kebohongan yang disampaikannya.
  19. Satu kebenaran tersebut beredar luas dari mulut ke mulut dan diingatnya, lalu dijadikan sebagai bukti bahwa apa yang dikatakan oleh tukang ramal itu benar.
  20. Menetapkan sifat sifat Allah (seperti yang terkandung dalam hadits di atas), berbeda dengan faham Asy’ariyah yang mengingkarinya.
  21. Penjelasan bahwa bergetarnya langit dan pingsannya para malaikat itu disebabkan karena rasa takut mereka kepada Allah ﷻ.
  22. Para malaikat pun bersujud kepada Allah.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Kitab Tauhid Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

________________

([1]) HR. Muslim no. 2996

([2]) HR. An-Nasai di As-Sunan al-Kubro no 11542 dan Ahmad no 3915

([3]) HR Abu Daud no 4727 dan dishahihkan oleh Al-Albani

([4]) Sebagaimana disebutkan dalam buku-buku tafsir, akan tetapi tidak ada satu haditspun yang shahih yang menunjukan akan hal ini. Yang ada hanyalah riwayat dari perkataan para tabiín, seperti Mujahid bin Jabr rahimahullah. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/293 tatkala menafsirkan QS Huud ayat 82)

([5]) Sebagaimana dalam HR Al-Bukhari no 3231 dan Muslim no 1795

([6])  Firman Allah ini menunjukkan: bahwa Kalamullah bukanlah makhluk (ciptaan), karena mereka berkata: “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? menunjukkan pula bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, dan Maha Besar yang kebesaran-Nya tidak dapat dijangkau oleh pikiran mereka.