Tafsir Surat Al-Kafirun

Tafsir Surat Al-Kafirun

Surat Al-Kafirun adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah. Surat ini juga dikenal dengan nama surat qul ya ayyuhal kafirun. Selain itu, surat ini juga disebut sebagai surat Al-Ikhlas bersama surat Al-Ikhlas yang sudah diketahui oleh seluruh kaum muslimin yang diawali qul huwallahu ahad. Hal itu karena kedua surat ini menjelaskan tentang bara’ah minas syirk (berlepas diri dari kesyirikan).

Surat Al-Kafirun adalah surat yang menjelaskan tentang berlepas diri dari kesyirikan secara amalan. Sedangkan surat Al-Ikhlas adalah surat yang menjelaskan tentang berlepas diri dari kesyirikan, tetapi dari sisi ilmu yaitu bahwasanya Allah itu Maha Esa.

Nabi sering kali membaca kedua surat ini dalam shalatnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai hadits. Nabi bersabda:

نِعْمَتِ السُّوْرَتَانِ يَقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الفَجْرِ : { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ } وَ { قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ }

Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua raka’at qobliyah shubuh adalah Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan Qul yaa ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun).” (HR Ibnu Khuzaimah 4/273)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan,

مَا أُحْصِى مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ بِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}

Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat pada shalat dua raka’at ba’diyah maghrib dan pada shalat dua raka’at qobliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al Kafirun) dan qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash).” (HR Tirmidzi no. 431)

Dalam shalat witirnya Nabi juga membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Dari ‘Abdul Aziz bin Juraij, beliau berkata,  “Aku menanyakan pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah membaca Al Fatihah) ketika shalat witir?”

‘Aisyah menjawab,

كَانَ يُوتِرُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ يَقْرَأُ فِى الأُولَى بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَفِى الثَّانِيَةِ بِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَفِى الثَّالِثَةِ بِ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada raka’at pertama: Sabbihisma robbikal a’la (surat Al A’laa), pada raka’at kedua: Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan pada raka’at ketiga: Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas).” (HR An-Nasai no. 1699, Tirmidzi no. 463, Ahmad 6/227)

Kemudian diantara sunnah Nabi yaitu membaca surat Al-Kafirun sebelum tidur. Dan ini adalah sunnah yang sering ditinggalkan oleh manusia. Nabi bersabda:

اقْرَأْ عِنْدَ مَنَامِكَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ

“Bacalah ketika akan tidur, ‘qul yaa ayyuhal kaafiruun,’ kemudian tidurlah setelah selesai menamatkannya, sesungguhnya ia pelepasan diri dari syirik.” (HR Ahmad, 5/456)

Dari sini bisa disimpulkan bahwa Nabi sering membaca surat Al-Kafirun di awal hari dan di penghujung malam sebelum tidur. Ini menunjukkan bahwasanya surat Al-Kafirun adalah surat yang penting yang sering dibaca oleh Nabi karena isinya adalah bara’ah minas syirk yaitu pernyataan berlepas dirinya Nabi dari kesyirikan.

Para ahli tafsir menyebutkan tentang sebab turunnya surat ini. Orang-orang musyrikin senantiasa merayu Nabi agar menghentikan dakwahnya, dakwah yang mengajak kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan. Akhirnya mereka menempuh berbagai macam cara, mereka menawarkan kepada Nabi harta, tahta, dan jabatan. Tapi Nabi tidak tertarik dengan itu semua. Akhirnya ditawarkan kepadanya wanita tercantik, tetapi Nabi juga tidak tertarik dengan itu. Mereka terus memberikan penawaran kepada Nabi dan beliau terus menolak.

Akhirnya mereka memberikan penawaran yang lain, mereka mengajak Nabi menyembah Tuhan mereka selama setahun saja dan setelah itu giliran mereka menyembah Tuhannya Nabi selama satu tahun berikutnya. Allah memerintahkan kepada Nabi untuk menolak penawaran tersebut. Kemudian Allah menurunkan surat Al-Kafirun, sebagai bentuk tegas penolakan Nabi terhadap ajakan mereka.

Lihatlah bagaimana usaha yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin untuk mengehentikan dakwah tauhid, bahkan mereka rela bertauhid selama setahun. Andai saja Nabi menyembah tuhan-tuhan mereka walaupun sekejap mata niscaya Nabi telah terjerumus ke dalam kesyirikan sehingga rusaklah tauhidnya.

Oleh karena itu, Nabi tidak tawar-menawar dalam masalah ini. Dengan tegas Nabi menolaknya. Berbeda dalam kondisi-kondisi yang lain, terkadang Nabi menggunakan kata-kata yang lembut untuk mengambil hati mereka. Tetapi karena ini berkaitan tauhid dan syirik maka Nabi membantah dengan perkataan yang tegas dengan ayat-ayat pada surat ini.

 

Allah berfirman pada permulaan surat:

 

  1. قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad), Hai orang-orang kafir’”

  1. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah

  1. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah

  1. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah

Nabi mengulangi dua pernyataan yang kurang lebih bermakna sama, yaitu ayat keempat dan ayat kedua. Namun para ulama berbeda pendapat tentang alasan pengulangan tersebut, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Qurthubi. Sebagian ulama menyatakan bahwasanya ayat kedua yaitu لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ berkaitan dengan perkara yang telah lampau, sedangkan ayat keempat وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ berkaitan dengan masa depan. Sehingga Nabi ingin mengatakan kepada mereka secara tegas, “Aku tidak pernah menyembah apa yang kalian sembah dan aku tidak akan pernah menyembah apa yang kalian sembah.” Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Nabi mengulanginya dua kali karena tawaran tersebut juga datang berulang-ulang.

Imam Al-Qurthubi juga menyebutkan perbedaan pendapat tentang tafsiran مَا pada ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya. Pada tafsiran sebelumnya مَا pada ayat-ayat tersebut adalah مَا الْمَوْصُوْلَةُ sehingga makna ayat adalah, “Aku tidak pernah menyembah apa yang kalian sembah.” Sebagian yang lain berpandangan bahwa مَا pada ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya adalah مَا الْمَصْدَرِيَّةُ sehingga makna ayat adalah, “Aku tidak akan menyembah sebagaimana cara beribadah kalian” karena mereka beribadah dengan cara kesyirikan meskipun mereka mengaku menyembah Allah akan tetapi cara beribadah mereka salah. Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa mereka menyembah Allah dan juga menyembah selain Allah.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Dan kalian tidak pernah pula menyembah Tuhan yang aku sembah

Di akhir ayat Allah berfirman:

  1. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku

Ayat ini adalah dalil bahwasanya agama tauhid dan agama kesyirikan tidak mungkin bergabung dan tidak mungkin pula disamakan antara agama tauhid dengan agama kesyirikan. Sekaligus ini merupakan bantahan yang sangat tegas kepada orang-orang liberal atau penganut pluralisme yang menyatakan bahwasanya semua agama itu sama. Mereka memahami ayat ini secara terbalik, dianggap bahwa ayat ini menunjukan Islam mengakui kebenaran agama lain. Padahal seluruh ahli tafsir memahami bahwa ayat ini “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku” adalah sebagai ancaman, bahwasanya mereka orang-orang kafir tidak akan beriman, dan bahwasanya jelas berbeda antara agama tauhid dengan agama kesyirikan. Bagaimana ayat ini bisa dianggap sebagai pembenaran terhadap agama lain sementara ayat ini dibuka dengan firmannya :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad), Hai orang-orang kafir’”

Penamaan mereka -kaum muysrikin Arab- dengan kafirun menunjukan bahwa ini bukanlah membenarkan mereka akan tetapi justru menghina mereka dengan menamakan mereka orang-orang kafir.

 

Agama yang diridhai oleh Allah hanyalah Islam. Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَام

“Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah hanya Islam.” (QS Ali ‘Imran : 19)

Allah juga berfirman dalam ayat yang lain:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran : 85)

Hal itu karena satu-satunya agama yang menyeru kepada tauhid dan penyembahan kepada pencipta alam semesta ini hanyalah Islam. Selain Islam semuanya adalah agama kesyirikan baik itu Nasrani, Hindu, Budha, Yahudi, dan lain-lain semuanya menyeru agar menyembah makhluk. Oleh karena itu, orang-orang yang hendak menyamakan antara Islam dengan Nasrani atau Yahudi maka orang tersebut telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.

Seandainya semua agama benar maka untuk apa Nabi Muhammad diutus, untuk apa Nabi memerangi orang-orang Yahudi dan Nasrani, untuk apa Nabi mengirim para da’i untuk mendakwahi kaum Yahudi dan Nasrani. Dengan jelas Nabi bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya. Tiada seorang-pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka.” (HR Muslim no.153)