Tafsir Surat Al-Kautsar

Tafsir Surat Al-Kautsar

Para ulama berselisih pendapat tentang status surat Al-Kautsar, apakah tergolong Makkiyah atau Madaniyah. Sebagian ulama menyatakan bahwa surat Al-Kautsar adalah Makkiyah berdasarkan topik pembahasan surat ini. Sebab surat ini diturunkan karena munculnya cercaan orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi.

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) nikmat yang banyak

Surat ini berisi pemuliaan terhadap Nabi Muhammad dimana Allah telah memberikan untuk beliau Al-Kautsar. Para ulama berbeda pendapat tentang makna Al-Kautsar. Pendapat pertama, Al-Kautsar artinya kebaikan yang banyak. Diambil dari kata كَثْرَةٌ yang berarti banyak, kemudian dibentuk dengan wazan فَوْعَلْ sehingga menjadi الْكَوْثَرَ yaitu Allah telah memberikan kepada Muhammad kebaikan yang banyak dan diantaranya adalah sungai al-Kautsar di surga dan telaga al-Kautsar di padang mahsyar. Sehingga pendapat pertama ini bersifat umum.

Pendapat kedua, Al-Kautsar adalah khusus sungai di surga sebagaimana dikuatkan oleh banyak hadits dan juga termasuk telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat”, jawab beliau. Lalu beliau membaca,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut.  Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah amalan baru sesudahmu.” (HR Muslim no. 400)

Hadits ini menunjukan bahwa termasuk Al-Kautsar adalah telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Telaga Nabi dinamakan juga dengan al-Kautsar karena sumber airnya berasal dari sungai al-Kautsar yang ada di surga. Ibnu Hajar berkata :

وَيُطْلَقُ عَلَى الْحَوْضِ كَوْثَرٌ لِكَوْنِهِ يُمَدُّ مِنْهُ

“Dan telaga Nabi disebut juga dengan al-Kautsar karena airnya berasal dari sungai al-Kautsar” (Fathul Baari 11/466)

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا آنِيَةُ الْحَوْضِ قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ نُجُومِ السَّمَاءِ وَكَوَاكِبِهَا أَلاَ فِى اللَّيْلَةِ الْمُظْلِمَةِ الْمُصْحِيَةِ آنِيَةُ الْجَنَّةِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا لَمْ يَظْمَأْ آخِرَ مَا عَلَيْهِ يَشْخُبُ فِيهِ مِيزَابَانِ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ عَرْضُهُ مِثْلُ طُولِهِ مَا بَيْنَ عَمَّانَ إِلَى أَيْلَةَ مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ »

Dari Abu Dzarr, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan bejana yang ada di al-haudh (telaga Al-Kautsar)?” Nabi menjawab, “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Wadah untuk minum yang ada di telaga Al-Kautsar banyaknya seperti jumlah bintang dan benda yang ada di langit pada malam yang gelap gulita. Itulah gelas-gelas di surga. Barang siapa yang minum air telaga tersebut, maka ia tidak akan merasa haus selamanya. Di telaga tersebut ada dua saluran air yang mengalirkan air dari surga dengan deras. Barang siapa meminum airnya, maka ia tidak akan merasa haus. Lebarnya sama dengan panjangnya, yaitu seukuran antara Amman dan Ailah. Airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada manisnya madu.” (HR Muslim no. 2300)

Nabi juga menyebutkan bahwasanya akan ada sebagian dari umatnya yang datang menuju ke telaga, kemudian diusir. Dari Abu Wail, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR Bukhari no. 7049)

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.”  (HR Bukhari no. 7051)

Demikianlah keadaan yang menimpa orang-orang setelah Nabi yang gemar membuat perkara-perkara baru dalam agama. Hadits ini juga adalah dalil yang sangat kuat bahwasanya Nabi setelah meninggalnya, dia tidak mengetahui apa yang terjadi dengan ummatnya. Sebagaimana keyakinan khurafat sebagian manusia yang meyakini bahwa Nabi mengetahui keadaan ummatnya karena Nabi bisa hadir di tengah-tengah mereka menyaksikan perbuatannya.

 

Kemudian Allah berfirman:

 

  1. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)

Shalat dan menyembelih keduanya merupakan ibadah yang sangat agung yang sering Allah gandengkan. Dua-duanya merupakan bukti tauhid. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

 إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah, ‘sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’.” (QS Al-An’am : 162)

Oleh karena itu, barangsiapa yang menyembelih untuk selain Allah maka sungguh dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan. Nabi  bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR Ahmad 1: 309)

Maka barangsiapa yang menyembelih untuk Jin, wali, sunan, penunggu gunung, nyi roro kidul maka dia telah melakukan kesyirikan. Penyembelihan hanya boleh ditujukan untuk Allah semata.

Beberapa faidah dari ayat ini (lihat Majmuu al-Fataawaa, Ibnu Taimiyyah 16/531-533) :

Pertama : Allah menggunakan huruf فَ di awal ayat فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ yang artinya “Maka dirikanlah shalat…”. Yang hal ini menunjukan sebab, yaitu seakan-akan Allah berkata, “Wahai Rasulullah, karena engkau telah diberikan al-Kautsar, maka sholatlah dan menyembelihlah”. Ini menunjukan bahwa dua ibadah ini -sholat dan menyembelih- adalah bukti terbesar akan syukur kepada Allah. Karena sholat adalah ibadah badan yang termulia, dan menyembelih adalah ibadah harta yang termulia.

Dan Nabi benar-benar menjalankan perintah ini, sehingga beliau banyak sekali sholatnya dan banyak sekali menyembelih. Bahkan tatkala haji wadaa’ beliau menyembelih 100 ekor unta, 63 ekor diantaranya beliau sembelih langsung dengan tangan beliau yang mulia

Kedua : Allah memerintahkan untuk menggabungkan kedua ibadah ini karena keduanya menunjukan akan tawadhu’, merasa butuh kepada Allah, kuatnya keyakinan, berprasangka baik kepada Allah bahwasanya Allah akan memberi ganti yang lebih baik kepadanya. Tidak sebagaimana sebagian orang yang tidak menyembelih karena takut miskin dan kekurangan.

Ketiga : Tatkala Allah menjanjikan Nabi dengan sungai al-Kautsar sekaan-akan Allah mengatakan, “Wahai Rasulullah janganlah engkau bersedih karena terluputkan sesuatupun dari perkara dunia. Karena perkara dunia itu tidak ada apa-apanya dengan ganjaran akhirat”

Keempat : Perintah Allah kepada Nabi untuk sholat dan menyembelih sebagai isyarat agar Nabi jangan peduli dengan cercaan kaum musyrikin, akan tetapi hendaknya Nabi menghadapi cercaan mereka dengan sibuk beribadah kepada Allah. Dan ini semisal firman Allah :

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (98) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (QS Al-Hijr 97-99)

 

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)

Oleh sebagian ulama ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya surat Al-Kautsar adalah surat Makkiyyah sebagaimana yang dalam suatu riwayat ketika Ibrahim putra Rasulullah wafat maka kaum Quraisy berkata, “Sekarang Muhammad menjadi abtar (terputus keturunannya).” (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/222). Hal ini menyebabkan beliau bersedih hati. Maka turunlah ayat ini sebagai penghibur baginya. Karena seseorang tidak mungkin jaya kecuali jika dia mempunyai anak yang akan meneruskan perjuangannya kelak. Ketika anak Nabi yang laki-laki semuanya meninggal, maka mereka mengatakan bahwa Muhammad akan selesai urusannya. Tetapi Allah menurunkan ayat ini dan mengatakan bahwa merekalah yang mencela yang akan terputus.

Lihatlah bagaimana Nabi namanya indah dan abadi sampai sekarang, semua orang menyebut-nyebutnya. Sedangkan para pencela Nabi Muhammad namanya sudah hilang, hilang dalam sejarah dan tidak ada yang mengenalnya. Ini merupakan bentuk pemuliaan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.