Tafsir Surat Al-‘Ashr

 Tafsir Surat Al-‘Ashr

Para ulama berselisih pendapat tentang status surat Al-‘Ashr, apakah tergolong Makkiyah atau Madaniyah. Mayoritas ulama berpandangan bahwa surat Al-‘Ashr adalah surat Makkiyah yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah. Dan sebagian kecil berpandangan bahwa surat Al-‘Ashr adalah surat Madaniyah.

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan di awal tafsirnya tentang kisah pertemuan ‘Amr bin al-‘Aash radhiyallahu ‘anhu dan Musailimah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai Nabi. Pertemuan itu terjadi setelah Rasulullah diutus sebagai Rasul dan sebelum ‘Amr masuk Islam. Musailimah bertanya kepada ‘Amr, “Apa yang telah diturunkan kepada Sahabatmu selama ini?” Lalu ‘Amr menjawab, “Sungguh, telah diturunkan kepadanya surat yang pendek tapi padat.” Musailimah bertanya, “Surat apa itu?” Kemudian ‘Amr membacakan surat Al-‘Ashr kepada Musalimah.

Musailimah pun berpikir sejenak, kemudian berkata, “Telah diturunkan juga kepadaku seperti surat tersebut.” ‘Amr lalu bertanya kepadanya, “Apa itu?” Musailimah pun membacakannya

يَا وَبْرُ يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ وَسَائِرُكَ حَفْر نَقْرٍ

“Wahai marmut. Wahai marmut. Sungguh engkau hanyalah dua telinga dan dada. Dan sisa tubuhmu adalah lobang dan bolong.” Kemudian Musailimah berkata, “Bagaimana pendapatmu, wahai ‘Amr?” ‘Amr lalu menjawabnya,

وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَعْلَمُ أَنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ تَكْذِبُ

“Demi Allah engkau pasti mengetahui bahwa aku tahu engkau ini sedang berdusta.”

Imam Ath-Thabrani menyebutkan riwayat dari ‘Abdullah bin Hafsh Abu Madinah, dia berkata:

كَانَ الرَّجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ : ” وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ” ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ

“Apabila dua orang dari sahabat Nabi bertemu, mereka tidak akan berpisah hingga salah satunya diantara kedua orang tersebut membacakan surat Al-‘Ashr sampai akhir untuk yang lain. Kemudian salah satu diantara kedua orang tersebut memberi salam kepada yang lain.” (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 5 : 215)

Karena kedalaman makna yang terkandung dalam surat ini, sampai-sampai Imam Asy-Syafi’i mengatakan:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

“Seandainya orang-orang mentadabburi surat Al-‘Ashr ini, maka surat ini akan mencukupi bagi mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/456)

 

Kemudian para ulama mencoba mencari hubungan antara surat Al-‘Ashr dan surat At-Takaatsur. Surat At-Takaatsur menjelaskan tentang salah satu sebab seorang terjerumus ke dalam neraka Jahannam yaitu sifat takaatsur yaitu berlomba-lomba untuk memperbanyak harta. Karena waktunya untuk mencari dunia yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya menyibukkannya, sehingga akhirnya dia terjatuh dalam kerugian yaitu mendapatkan adzab kubur dan neraka Jahannam. Sedangkan surat Al-‘Ashr menjelaskan bahwasanya manusia pada dasarnya berada dalam kerugian.

Topik utama surat ini adalah Allah ingin menjelaskan bahwasanya manusia semuanya berada dalam kerugian. Agar bisa lolos dari kerugian tersebut maka dia harus melakukan empat perkara yaitu dia harus beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, serta saling menasehati dalam kesabaran. Barang siapa yang tidak melakukan keempat perkara tersebut sekaligus maka dia akan ditimpa kerugian.

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. وَالْعَصْرِ

“Demi masa”

Para ulama berbeda pendapat tentang makna الْعَصْرِ. Sebagian memahaminya sebagai waktu ashar sebagaimana yang telah dimaklumi, yaitu sejak masuknya waktu ashar dan berakhir ketika panjang bayangan seseorang dua kali panjang tubuhnya sebagaimana yang ada dalam hadits Jibril. Dan waktu ashar mempunyai dua waktu, waktu ikhtiyary dan waktu idhthirary. Waktu ikhtiyary adalah waktu dimana seseorang tidak boleh sengaja shalat ashar diluar waktu ini kecuali ada halangan dan waktu idhthirary (waktu darurat) adalah waktu dimana seseorang boleh mengerjakan shalat ashar hingga terbenam matahari jika ada udzur.

Para ulama mengatakan bahwa Allah bersumpah dengan waktu ashar karena di waktu ashar tersebut terdapat padanya shalat ashar yang termasuk shalat yang sangat penting. Sebagaimana yang disebutkan khusus oleh Allah di dalam firman-Nya:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah: 238)

Allah memerintahkan para hambanya untuk menjaga shalat wustha atau shalat ashar karena banyak orang yang lalai darinya. Terutama ketika orang-orang kembali dari aktivitasnya dalam keadaan yang letih pulang, sehingga shalat ashar ditinggalkan atau dikerjakan tidak tepat waktu. Nabi juga memberikan peringatan kepada ummatnya agar jangan sampai meninggalkannya, beliau bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya.” (HR Bukhari no. 594)

Dalam hadits yang lain, Nabi juga bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)

Yang dimaksudkan dengan shalat di dua waktu dingin tersebut ialah shalat shubuh dan shalat ashar. Karena waktu shubuh adalah waktu awal dingin di pagi hari dan waktu ashar adalah waktu mulainya dingin menuju malam hari.

Sebagian ulama yang lain berpendapat mengapa Allah bersumpah dengan waktu ashar yaitu Allah ingin menunjukkan bahwasanya manusia tidak akan selamanya kuat dan sehat sebagaimana waktu muda, kelak dia akan mengalami kondisi semakin lemah dan akhirnya akan meninggal dunia sebagaimana pada waktu ashar tersebut matahari mulai meredup dan semakin lama maka matahari tersebut akan hilang digantikan oleh malam.

Namun jumhur ulama berpendapat bahwa yang disebut dengan الْعَصْرِ adalah masa atau zaman secara umum. Allah bersumpah dengannya karena masa adalah tempat manusia beramal, tempat dimana manusia akan mendapatkan keberuntungan dan atau akan mendapatkan kerugian. Dia akan mendapatkan keberuntungan jika dia beramal shalih, beriman, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Tetapi dia akan mendapatkan kerugian jika dia lalai, tidak beriman, dan tidak beramal shalih.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian

Pada ayat ini Allah benar-benar menekankan bahwasanya manusia benar-benar dalam kerugiaan. Hal ini dapat dilihat dari tiga bentuk penekanan yang terdapat pada ayat ini.

Pertama, Allah bersumpah dengan وَالْعَصْرِ (Demi masa) pada ayat sebelumnya. Dan telah dimaklumi bahwasanya tidaklah Allah bersumpah dengan suatu hal kecuali untuk menekankan suatu makna tertentu.

Kedua, Allah menggunakan huruf إِنَّ yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai alat taukid untuk menekankan sesuatu yang artinya “sesungguhnya.”

Ketiga, Allah menggunakan لَ pada lafadz لَفِي yang dalam bahasa Arab juga berfungsi sebagai alat taukid untuk menekankan sesuatu.

Dalam ayat ini pula, Allah tidak membawakannya dengan kalimat إِنَّ الْإِنْسَانَ لَخُاسِر yang bermakna Sesungguhnya manusia merugi tetapi dengan kalimat إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ dengan tambahan dzharaf فِي sehingga maknanya menjadi Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian”. Makna kalimat yang kedua lebih mengena dari kalimat pertama. Karena seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwasanya manusia itu tenggelam dalam kerugian yang banyak, segala sisinya diliputi dengan kerugian. Seandainya kerugian itu diibaratkan dengan lautan maka manusia sedang tenggelam dalam lautan kerugian tersebut. Dari arah mana saja dia diliputi dengan lautan kerugian.

Dalam ayat ini pula, Allah menggunakan harakat tanwin pada kata خُسْرٍ. Para ulama ahli tafsir seperti Thahir bin Asyur mengatakan bahwasanya makna yang terkandung padanya ada dua kemungkinan:

Pertama, lit tanwi yaitu bahwasanya kerugian yang manusia alami berbagai macam modelnya.

Kedua, lit ta’dzhim yaitu bahwasanya sesungguhnya manusia berada dalam kerugian yang besar.

Kemudian terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang kata الْإِنْسَانَ apakah yang dimaksudkan adalah orang kafir atau mencakup seluruh manusia. Perbedaan ini tidak lepas dari perbedaan dalam penerapan kaidah bahasa Arab. Yaitu pada ayat selanjutnya yang diawali dengan alat istitsna إِلَّا (kecuali), apakah إِلَّا disitu adalah istitsna muttashil atau istitsna munqathi’. Seandainya الْإِنْسَانَ pada ayat ini maksudnya adalah orang kafir, maka makna ayat menjadi seakan kontradiktif, kecuali إِلَّا pada ayat selanjutnya adalah istitsna munqathi’. Namun hukum asal dari istitsna adalah istitsna muttashil.

Kesimpulan tentang الْإِنْسَانَ adalah kata tersebut diawali dengan alif lam yang merupakan alif lam al-istighraqiyyah yang bermakna ‘seluruhnya’ sehingga الْإِنْسَانَ mencakup seluruh manusia. Dan ini bersesuaian jika istitsna pada ayat selanjutnya adalah istitsna muttashil. Sehingga manusia disini mencakup orang kafir dan orang-orang beriman. Semuanya berada dalam kerugian kecuali empat jenis manusia.

 

Allah berfirman:

  1. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”

Berdasarkan ayat ini, sifat-sifat yang bisa menyelamatkan manusia dari kerugian ada empat:

Pertama, beriman

Iman adalah keyakinan terhadap hal-hal ghaib. Jika dimutlakkan maka iman mencakup seluruh perkara dalam syariat. Oleh karena itu, Nabi bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan, dan rasa malu merupakan bagian dari iman.” (HR Muslim no. 51)

Ini menunjukkan bahwasanya iman cakupannya luas. Sampai-sampai para ulama menulis buku-buku tentang Syu’abul Iman (cabang-cabang keimanan) seperti Imam Al-Baihaqi dengan Kitabnya Syu’abul Iman, dimana beliau berusaha mengumpulkan berbagai macam cabang-cabang keimanan. Semakin banyak cabang-cabang keimanan pada seseorang maka semakin tinggi keimanannya, sebaliknya semakin banyak yang hilang maka semakin kurang keimanannya.

Berdasarkan hadits ini pula dapat disimpulkan bahwa iman mencakup amalan jawarih (perbuatan tubuh)  semisal shalat, amalan lisan semisal berdzikir, amalan hati semisal rasa malu yang merupakan keimanan.

Akan tetapi apabila disebutkan secara khusus maka kebanyakannya iman itu berkaitan dengan hal-hal yang ghaib. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa rukun iman itu ada enam dan kebanyakannya adalah hal ghaib. Dan mengimani sesuatu hal yang ghaib inilah yang menjadi pembeda antara orang mukmin dan orang kafir. Karena andai saja perkara-perkara yang dituntut untuk diimani itu bisa dilihat oleh mata niscaya orang-orang kafir semuanya akan beriman. Seandainya bentuk asli Malaikat bisa dilihat oleh semua manusia niscaya seluruh manusia akan beriman. Seandainya surga dan neraka ditampakkan secara langsung niscaya seluruh manusia akan beriman.

Kedua, beramal shalih

Amal shalih merupakan bagian daripada iman. Sebagaimana pada poin sebelumnya diketahui bahwa iman mencakup seluruh perkara syariat dan termasuk di dalamnya adalah amalan-amalan shalih. Namun Allah mengkhususkan penyebutan amalan shalih karena amalan shalih merupakan perkara yang sangat penting yang harus diberi perhatian khusus.

Bentuk-bentuk pengkhususan seperti ini dapat dijumpai dalam beberapa ayat. Seperti firman Allah sebelumnya:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah: 238)

Nabi mengkhususkan perintah menjaga shalat ashar setelah sebelumnya diawali perintah menjaga shalat lima waktu. Contoh lain, Allah berfirman di dalam Al-Quran:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 98)

Allah menyebutkan secara khusus Malaikat Jibril dan Mikail padahal sebelumnya telah disebutkan Malaikat secara umum, karena kedua Malaikat tersebut adalah Malaikat yang penting. Maka demikian pula pada ayat ini, Allah mengkhususkan penyebutan amal shalih yang mana merupakan bagian dari iman, karena amalan shalih adalah perkara yang harus diberi perhatian khusus.

Para ulama telah menyimpulkan bahwasanya suatu amalan tidak akan dikatakan sebagai amalan yang shalih kecuali memenuhi dua persyaratan yaitu dia mengerjakannya ikhlas karena Allah, lalu amalan tersebut harus mencocoki sunnah Nabi. Seseorang yang melakukan amalan seperti mengeluarkan hartanya sebanyak-banyaknya, dia berpuasa sehingga membuat dia lapar dan haus namun niatnya bukan karena Allah, tetapi karena ingin dipuji dan disanjung-sanjung maka Allah tidak akan menerima amal tersebut. Demikian juga ketika dia melakukan sebuah amalan dengan sangat ikhlas namun tidak sesuai dengan yang diajarkan Nabi maka tidak juga diterima oleh Allah.

Ketiga, saling menasehati dalam kebenaran

Beramar ma’ruf nahi mungkar itu sendiri merupakan bagian dari beramal shalih. Itu artinya beramar ma’ruf nahi mungkar sepatutnya mendapat perhatian khusus diantara amalan shalih lainnya. Agar seseorang yang telah melakukan amalan shalih tidak lantas merasa selamat padahal dia belum melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim apabila dia telah beramal shalih maka dia melanjutkan amalannya dengan meningatkan dan saling menasehati diantara saudaranya. Jika dia melihat saudaranya terjatuh dalam kesalahan maka dia berusaha menegurnya, mengingatkan dan mengajaknya kepada kebaikan. Dan itulah jalan keselamatan. Allah berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Imran : 104)

Allah juga memuji umat Islam sebagai umat yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Al-Imran : 110)

Pada ayat ini, Allah menggunakan kata تَوَاصَوْا yang mempunyai wazan (pola) تَفَاعَلَ yang memiliki faedah ‘saling’ atau yang mengerjakan adalah dua belah pihak. Sebagaimana kalimat Tadhaaraba Zaidun wa Amrun yang artinya Zaid dan Amr saling memukul. Maka Allah memerintahkan ummatnya agar saling menasehati diantara kaum muslimin, jangan hanya menasehati tetapi tidak mau dinasehati.

Sesuatu yang sangat menyedihkan, kita jumpai pada zaman sekarang banyak kaum muslimin yang mulai enggan untuk menasehati kawannya jika terjerumus dalam kesalahan. Seorang muslim apabila dia telah melakukan kebaikan untuk dirinya dengan beramal shalih maka hendaknya dia juga memperhatikan saudaranya, mengingatkannya jika keliru, dan menegurnya jika salah.

Keempat, saling menasehati dalam kesabaran

Diantara keiistimewaan ayat ini adalah Allah menyebutkan bagian besar terlebih dahulu yaitu beriman, kemudian diantara iman itu Allah mengkhususkan beramal shalih. Lalu diantara beramal shalih tersebut, Allah mengkhusukan saling menasehati dalam kebenaran. Kemudian diantara bentuk saling menasehati dalam kebenaran adalah saling menasehati dalam kesabaran.

Allah memerintahkan agar sesama muslim saling menasehati dalam kesabaran, para ulama menyebutkan hikmahnya yaitu jika seorang muslim saling menasehati dengan berdakwah, maka setelah itu dia harus bersabar. Karena merupakan kepastian jika dia akan mendapatkan gangguan dari orang yang tidak menyukainya. Hal ini karena dia telah menghalangi manusia dari syahwatnya. Telah dimaklumi bahwa kebanyakan manusia ingin mengikuti keinginan nafsu dan syahwatnya. Orang yang menghalanginya tentu akan membuatnya jengkel dan tidak senang, sehingga dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi gangguannya. Karenanya Luqman Al-Hakim pernah menasehati anaknya sebagaimana yang ada di dalam Al-Quran, Allah berfirman:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman : 17)

Oleh karena itu, seseorang yang terjun di dalam dunia dakwah harus bersiap menerima segala kritik bahkan gangguan-gangguan. Jika dia tidak ingin mendapat gangguan dan inginnya hidup hanya tenang-tenang saja, maka dia tidak pantas di dalam medan ini.

Namun menasehati itu bisa berbagai macam bentuknya, bisa dalam bentuk tulisan atau ceramah. Adapun beramar ma’ruf nahi mungkar dengan kekerasan maka itu adalah cara yang tidak baik, sebagaimana hal ini dilakukan oleh sebagian kelompok. Sampai tahap kekerasan adalah urusan pemerintah. Sedangkan kita hendaknya menasehati dengan hujjah dan bayan dan dengan nasehat yang yang sebaik-baiknya dan berusaha bersikap lembut. Akan tetapi, tetap saja akan ada sebagian manusia yang tidak menyukainya, namun itu adalah sesuatu yang wajar.

Dan ketika dia berdakwah, meskipun diperintahkan untuk berdakwah dengan sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya tetapi hendaknya yang disampaikannya adalah sesuatu yang haq dan jangan basa-basi dalam kebenaran. Dia tidak mengikuti keinginan masyarakat, akan tetapi kebenaranlah yang dia ikuti. Dia harus konsisten berjalan di atas jalan kebenaran, sehingga dia akan butuh dengan kesabaran.

Oleh karena itu, sabar merupakan sifat yang sangat agung. Dan Allah menyebutkan di dalam Al-Quran bahwa sabar adalah diantara penyebab masuk surga. Allah berfirman:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“(sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS Ar-Ra’d : 24)

Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman:

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.” (QS Al-Insan : 12)

Para ulama menjelaskan bahwasanya sabar terbagi menjadi tiga, yaitu:

Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah

Melakukan ketaatan-ketaatan itu butuh kekuatan dan kesabaran. Shalat shubuh di masjid membutuhkan kekuatan dan kesabaran untuk menahan kantuk. Membangunkan anak-anak untuk shalat perlu kesabaran. Allah berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha : 132)

Bahkan para pelaku maksiat untuk melakukan kemaksiatannya mereka bersabar. Orang-orang musyrik jika ingin berbuat syirik mereka bersabar. Orang-orang kafir pendeta misionaris mereka akan berkorban masuk ke dalam daerah pelosok untuk menyebarkan agamanya. Bahkan demi menghalangi kaum muslimin mereka rela mengeluarkan hartanya. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (QS Al-Anfal : 36)

Allah juga berfirman tentang kesabaran kaum musyrikin:

وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ

“Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): ‘Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki’.” (QS Shad : 6)

Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman tentang perkataan kaum musyrikin:

إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا ۚ

“Sesungguhnya hampirlah ia (Muhammad) menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya.” (QS Al-Furqan: 42)

Perhatikanlah keadaan kaum musyrikin, mereka membanggakan kesabaran mereka dalam berbuat kesyirikan. Perhatikan pula kesabaran para orang-orang kafir dan pelaku maksiat. Dahulu berjalan di kampung-kampung dengan aurat yang terlihat mungkin hal yang sangat tabu dan tak pantas, tapi sekarang hal itu menjadi sesuatu yang lumrah. Semua itu karena kesabaran mereka menunggu hingga masyarakat di sekelilingnya mulai terbiasa melihat kemaksiatan mereka dan tidak akan ada lagi larangan. Padahal kesabaran mereka adalah kesabaran yang mengantarkan ke dalam neraka Jahannam.

Oleh karena itu, selayaknya kaum muslimin lebih bersabar di dalam menjalani ketaatan. Karena kesabarannya akan berbuah manis, Allah akan membalasnya dengan surga. Hidup hanya sebentar, jika kita tidak bersabar dalam beribadah maka kita tidak akan meraih istirahat yang abadi,  dan tidak ada kata istirahat kecuali setelah kaki menginjak surga.

Kedua, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan

Meninggalkan kemaksiatan bukan suatu hal yang mudah. Melawan dorongan hawa nafsu itu sulit dan butuh kesabaran. Diri manusia terkadang cenderung ingin mengikuti syahwat. Namun kita tahu bahwa jika mengikuti keinginan syahwat maka ancamannya bisa neraka. Nabi bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR Muslim no. 2822)

Menundukan pandangan itu tidak mudah, manusia normal asalnya akan menyukai untuk memandangi perempuan cantik. Akan tetapi karena kita diperintahkan oleh Allah untuk menundukkan pandangan melihat perempuan yang tidak halal. Allah berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (QS An-Nūr: 30)

Ketiga, sabar tatkala ditimpa musibah

Ditimpa musibah membutuhkan kesabaran yang luar biasa, barang siapa yang bersabar maka dia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Dan hendaknya seorang muslim untuk bersabar dan yakin bahwasanya musibah itu datangnya dari Allah, dia meyakini bahwa itu semua karena akibat dari dosa-dosa yang dia lakukan. Kemudia dia yakin dibalik musibah tersebut pasti ada hikmah, dan Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Sehingga balasan untuknya adalah surga. Allah berfirman:

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.” (QS Al-Insan : 12)