Tafsir Surat Al-Qari’ah

Tafsir Surat Al-Qari’ah

Para ulama sepakat bahwasanya surat Al-Qari’ah adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah, sebagaimana topik utama pembicaraan dalam surat ini yang berkaitan tentang hari yang sangat dahsyat yaitu hari kiamat. Yang ingin ditujukan untuk kaum musyrikan Arab yang mengingkari adanya hari kebangkitan dan hari kiamat. Surat Al-Qari’ah berkaitan dengan surat Al-‘Adiyat karena sama-sama berbicara tentang kejadian yang akan berjalan pada hari kiamat dimana Allah akan mengeluarkan seluruh apa yang tersembunyi di dalam dada-dada manusia.

Al-Qari’ah merupakan salah satu nama dari nama-nama hari kiamat, karena nama-nama hari kiamat sangat banyak. Diantaranya yang paling masyhur adalah Yaumul Qiyamah yang diambil dari kata قِيَامٌ yang artinya berdiri. Karena pada hari kiamat di padang mahsyar semua manusia akan berdiri. Mereka berdiri dalam waktu yang lama menantikan kedatangan Allah untuk memulai persidangan.

Diantara nama hari kiamat yang lain yaitu الصَّاخَّةُ (suara yang sangat keras dan memekikkan telinga dan membuat orang binasa ketika itu). Sebagaimana Allah berfirman:

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS ‘Abasa : 33)

Diantara namanya yang lain adalah الطَّامَّةُ (bencana besar). Yaitu sebuah bencana yang meliputi segala sesuatu sehingga tidak ada yang selamat dari bencana tersebut.

Diantara namanya yang lain adalah الغَاشِيَةٌ (menutupi). Karena bencana tersebut menutupi dan meliputi segala sesuatu sehingga tidak ada yang terkecualikan.

Diantara namanya yang lain adalah Yaumul Hisab (hari perhitungan) karena manusia seluruhnya akan disidang pada hari tersebut dengan persidangan yang sangat ketat. Tidak ada yang bisa berlari dari persidangan Allah.

Diantara namanya yang lain adalah Yaumud Din (hari pembalasan) karena semua amalan manusia kelak akan dibalaskan. Di dunia yang ada hanyalah amal, namun di akhirat yang ada hanyalah pembalasan dan tidak ada lagi amal.

Diantara namanya yang lain adalah Yaumul Mizan (hari pertimbangan) karena di akhirat kelak amalan-amalan manusia akan ditimbang. Manakah yang lebih berat, apakah kebaikannya atau keburukannya. Sebagaimana yang akan disinggung di akhir-akhir surat Al-Qari’ah.

Diantara namanya yang lain adalah القَارِعَةُ (ketukan keras) yaitu dahsyatnya hari kiamat yang mengetuk dan menakutkan hati manusia (lihat Tafsir At-Thobari 24/592). Karena orang yang menghadiri hari kiamat semuanya pasti ketakutan dengan ketakutan yang sangat dahsyat. Sebagaimana yang Allah gambarkan di dalam Al-Quran tentang kengeriannya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (2)

“(1) Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Sungguh guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar; (2) (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalm keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi adzab Allah itu sangat keras.” (QS Al-Hajj : 1-2)

Semua itu disebabkan karena kedahsyatan neraka jahannam. Allah juga menggambarkan tentang ketakutan orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan. Allah berfirman:

يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ ۚ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا

“Pada hari (kiamat) sangkakala ditiup (yang kedua kali) dan pada hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa dengan (wajah) biru muram.” (QS Al-Muzzammil : 102)

Karena ketakutan yang amat sangat, membuat mereka pucat berlebihan, sampai-sampai tubuh mereka menjadi berwarna biru. Demikianlah Allah gambarkan juga kejadian pada hari kiamat dalam firman-Nya:

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)

“(33) Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua); (34) Pada hari itu manusia lari dari saudaranya; (35) Dan dari ibu dan bapaknya; (36) Dan dari istri dan anak-anaknya; (37) Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS ‘Abasa : 33-37)

Pada ayat di atas, Allah menyebutkan orang-orang terdekat dari seseorang seperti saudaranya, ibunya, ayahnya, istri dan anak-anaknya karena pada hari tersebut semua orang tidak akan peduli bahkan keluarganya sendiri akan meninggalkannya semuanya. Karena semua orang pada hari tersebut masing-masing akan sibuk dengan urusannya. Sehingga Allah menamakannya dengan hari yang menakutkan hati.

 

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. الْقَارِعَةُ

“Hari kiamat”

Pada ayat ini Allah hanya menyebutkan الْقَارِعَةُ sebagai mubtada tetapi tidak menyebutkan khabarnya yang akan melengkapinya. Ini adalah salah satu uslub untuk menunjukkan akan dahsyatnya sesuatu. Seakan-akan Allah ingin mengatakan bahwa hari kiamat itu sudah dekat dan sungguh akan terjadi hari kiamat itu.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. مَا الْقَارِعَةُ

“Apakah hari kiamat itu?”

Allah kembali menyebutkan kata yang sama sebagai bentuk penguatan. Ini adalah pertanyaan dengan tujuan pengagungan terhadap perkara hari kiamat. Allah ingin menekankan dan menjelaskan bahwasanya hari itu adalah hari yang sangat dahsyat.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ

“Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?”

Allah kembali mengulanginya dan kembali menekankan bahwasanya hari itu benar-benar dahsyat. Metode pengulangan seperti ini dapat dijumpai dalam ayat yang lain. Contohnya firman Allah:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (17) ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (18)

“(17) Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?; (18) Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu.” (QS Al-Infithar : 17-18)

Setelah Allah mengulang-ngulang penyebutannya, Allah pun menjelaskan tentang hari tersebut. Allah berfirman:

  1. يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ

“Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan”

Manusia pada hari itu keluar dari kuburan mereka dalam keadaan bingung ketakutan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat. Mereka bingung sebagaimana saat kita melihat laron di malam hari yang bertebaran bertumpuk-tumpuk tidak tentu arahnya. Bahkan ketika ada apa api maka laron-laron tersebut segera berebutan untuk berjatuhan menuju api yang membakar mereka, ini semua karena kebingungan dan tidak paham (lihat Tafsir As-Sa’di hal 933). Maka kira-kira demikian kondisi manusia tatkala dibangkitkan.  Allah juga memisalkannya dengan bentuk yang lain, Allah berfirman:

خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنتَشِرٌ

“Pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.” (QS Al-Qamar : 7)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan”

اَلْعِهْنُ dalam bahasa Arab adalah bulu-bulu yang diambil dari hewan yang biasa diambil untuk ditenun seperti kain wol. Apabila kita mengambil bulu-bulu tersebut kemudian kita buang atau kita pukulkan pada sesuatu maka dia akan bertebaran, mudah tertiup oleh angin. Demikianlah kondisi gunung-gunung pada hari kiamat.

Gunung-gunung yang ada di dunia ini akan mengalami beberapa kejadian. Ada beberapa tahapan, pertama Allah akan mencabut gunung-gunung tersebut kemudian menerbangkannya. Allah berfirman:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An-Naml : 88)

Allah juga berfirman dalam ayat yang lain:

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

“Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS An-Naba’ : 20)

Kemudian Allah akan menghancurkan gunung-gunung tersebut dan membenturkannya dengan bumi. Allah berfirman:

وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً (14) فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (15)

“(14) Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dengan sekali benturan; (15) Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat.” (QS Al-Haqqah : 14-15)

Allah berfirman dalam ayat yang lain:

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنبَثًّا (6)

“(5) Dan gunung-gunung dihancurkan dengan sehancur-hancurnya; (6) Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS Al-Waqi’ah : 5-6)

Demikianlah keadaan gunung pada hari kiamat, yang tadinya kokoh, kemudian dihancurkan oleh Allah menjadi seperti debu yang beterbangan. Maka Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (105) فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (106) لَّا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا (107)

“(105) Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ‘Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya; (106) Kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali; (107) (Sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi disana’.” (QS Thaha : 105-107)

Bumi yang kita tempati sekarang ini adalah bumi yang bulat. Namun pada hari kiamat kelak semua akan dirubah oleh Allah menjadi datar untuk dijadikan padang masyhar sebagai tempat berkumpulnya manusia dari awal sampai akhir dunia.

Di padang mahsyar semua manusia akan melalui hari yang namanya Yaumul Hisab yaitu hari persidangan. Setelah itu baru kemudian manusia akan menjumpai Yaumul Mizan yaitu hari pertimbangan. Allah berfirman:

  1. فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ

“Maka adapun orang yang berat timbangannya”

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani akan adanya mizan (timbangan) yang Allah akan hadirkan pada hari kiamat. Hanya saja terdapat khilaf diantara para ulama apakah mizan tersebut hanya satu atau banyak. Dzhahir ayat menunjukan bahwasanya mizan itu ada banyak karena datang dalam bentuk jamak (banyak). Hal ini dapat dijumpai dalam firman Allah yang lain:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS Al-Anbiya : 47)

Namun terkadang pula mizan datang dalam bentuk mufrad (tunggal). Seperti hadits Nabi:

وَالْـحَمْدُ لِله تَـمْلَأُ الْـمِيْزَانَ

“Kalimat alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan.” (HR Muslim no. 223)

Pada hari kiamat kelak akan ada tiga perkara yang ditimbang yaitu (1) amalan shalih, atau (2) pemilik amalan shalih itu sendiri, atau (3) buku catatan amalannya.

Tentang amalan shalih maka ada banyak dalil yang menunjukkan akan ditimbangnya hal tersebut, seperti hadits Nabi:

اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الإِيْـمَـانِ ، وَالْـحَمْدُ لِله تَـمْلَأُ الْـمِيْزَانَ

“Bersuci adalah sebagian dari iman, kalimat alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan.” (HR Muslim no. 223)

Nabi juga bersabda:

مَا مِنْ شَىْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada suatu yang lebih berat di timbangan daripada akhlak mulia.” (HR Abu Daud no. 4799)

Berdasarkan hadits di atas, sebagian ahli bid’ah mengingkari adanya timbangan yang hakiki. Mereka menyangkal dan menganggap tidak mungkin amalan itu bisa ditimbang karena amalan adalah sesuatu yang abstrak. Sehingga mereka mengatakan bahwa timbangan itu hanyalah majas/kiasan. Padahal Allah Maha Kuasa untuk mengubah segala sesuatu menjadi mudah, apakah mengubahnya menjadi sesuatu yang konkret atau terserah Allah bagaimana. Demikian pula dengan kematian, kematian adalah sesuatu yang abstrak. Tetapi di akhirat kelak Allah akan mendatangkannya dalam bentuk kambing yang disembelih di antara surga dan neraka yang menunjukkan tidak adanya lagi kematian setelah itu. Begitu pula dengan amalan keburukan yang akan mendatangi pelakunya di alam barzakh dalam bentuk yang sangat mengerikan.

Yang kedua yang akan ditimbang adalah pemilik amalan shalih itu. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits tentang sahabat yang memiliki betis yang kurus.

Suatu ketika Nabi hendak bersiwak, Nabi menyampaikan kepada Abdullah Ibnu Mas’ud atas keinginan Nabi tersebut, Abdullah Ibnu Mas’ud naik di atas sebuah pohon yang rantingnya digunakan untuk bersiwak, tiba-tiba tertiup angin dan menyingkap pakaian Abdullah Ibnu Mas’ud dan terlihat betis beliau yang sangat kecil, spontan para sahabat yang bersama dengan Nabi pada waktu itu mereka tidak sengaja melihat 2 betisnya Abdullah Ibnu Mas’ud mereka kemudian tertawa, menertawai betisnya Abdullah Ibnu Mas’ud yang sangat kecil, adapun Nabi beliau marah dengan sikap sebagian sahabat menertawai betis  Abdullah Ibnu Mas’ud beliau menengok kepada sahabat yang tertawa dan mengatakan: “Kenapa kalian tertawa?”, mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, karena kedua betisnya yang kurus (sehingga ia tergoyang karena tertiup angin-pen)”. Nabi berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada gunung Uhud.” (HR Ahmad no. 3991)

Dalam hadits yang lain Nabi bersabda:

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ

“Sungguh pada hari kiamat akan datang seorang yang gemuk namun timbangannya di sisi Allah tidak melebihi berat sayap seekor nyamuk.” (HR Bukhari no. 4729 dan Muslim no. 2785)

Kemudian Nabi membacakan firman Allah:

فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Dan Kami tidak menilai timbangan mereka sama sekali pada hari kiamat.” (QS Al-Kahfi : 105)

Ini dalil bahwasanya manusia sebagai pelaku amalan shalih itu juga akan ditimbang pada hari kiamat.

Yang ketiga yang akan ditimbang adalah catatan amalnya. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang masyhur yang dikenal dengan nama hadits bithaqah tentang kisah pelaku maksiat yang meninggal dalam keadaan bertauhid kemudian dimaafkan dosa-dosanya. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ ! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan memilih seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini ?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendzalimimu?’ Orang itu berkata: ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman: ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan?’. Orang itu pun tercengang dan berkata: ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman: ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedzaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis: Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman: ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata: ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini?’ Dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR Ahmad 6994, Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Ini adalah dalil bahwasanya catatan amalan seseorang juga akan ditimbang di hari kiamat kelak. Imam Ibnul Qayyim mengomentari hadits ini dan mengatakan, “Setiap orang yang bertauhid memiliki kartu ini yaitu Laa ilaha illallah.” Akan tetapi kualitas tauhid masing-masing orang bisa berbeda-beda. Bisa saja orang yang melaksanakan shalat tetap diadzab di neraka Jahannam, atau orang yang bertauhid juga diadzab karena tauhidnya kurang kuat.

Adapun shahibul bithaqah ini, asalnya dia melakukan banyak kemaksiatan akan tapi di penghujung hayatnya dia benar-benar bertauhid kepada Allah, dia meninggalkan segala bentuk kesyirikan lalu meninggal di atas tauhidnya sehingga tauhidnya tersebut membakar semua kemaksiatan yang pernah dia lakukan. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR Tirmidzi no. 3540)

Inilah keutamaan yang akan didapatkan oleh orang yang benar-benar mewujudkan tauhid yang benar di dalam dirinya beserta konsekuensi-konsekuensinya seperti shahibul bithaqah ini. Namun hendaknya seorang muslim tidak terperdaya dengan kartu Laa ilaha illallah yang dimilikinya, karena setiap orang memiliki tetapi kualitasnya berbeda-beda.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa diantara perkara yang ditimbang adalah amalan shalih, pemilik amalan shalih tersebut ataupun catatan amalannya. Namun para ulama mengatakan meskipun yang ditimbang itu berbeda-beda akan tetapi semuanya kembali kepada amalan shalih. Bithaqah tersebut menjadi berat karena amalan shalihnya. Ibnu Mas’ud menjadi berat karena amalan shalihnya.

Mizan (timbangan) yang dimiliki oleh Allah memiliki dua sifat yaitu adil dan detail. Sebagaimana dalam firman Allah:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS Al-Anbiya : 47)

Dalam surat Luqman, Allah berfirman tentang perkataan Luqman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Lukman berkata), ‘Wahai anakku! Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqman : 16)

Meskipun Allah telah mengetahui bagaimana akhir dari setiap hamba-Nya apakah surga atau neraka, akan tetapi Allah ingin menampakkan keadilannya. Pada hari tersebut Allah akan menegakkan segala bentuk hujjah kepada manusia sehingga tiada satu manusia pun yang bisa memohon diberi udzur pada hari itu. Seluruh maksiat yang dia lakukan akan dipersaksikan oleh banyak saksi dari tangannya, kakinya, kulitnya, dan catatan amalnya semua akan menjadi saksi. Allah berfirman:

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (QS Al-Isra’ : 14)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ

Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang)”

Bagaimana mungkin hal tersebut tidak dikatakan sebagai suatu kepuasan, Allah telah memasukkan dia ke dalam surga. Allah berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS Yunus : 62)

Berbeda dengan di dunia yang setiap manusia akan merasakan keletihan dan kepayahan. Untuk meraih kenikmatan perlu perjuangan dan kepayahan. Adapun di surga semuanya menjadi mudah. Seseorang yang menginginkan buah tidak perlu bersusah payah memetiknya ke tempat yang tinggi, ranting dan buah tersebut akan mendekat sendiri. Bidadari yang dijanjikan untuk penghuni surga telah disiapkan tanpa seseorang harus bersusah payah mencarinya. Sungguh itu adalah kehidupan yang sangat memuaskan.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُه

“Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya”

  1. فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

“Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”

Haawiyah yaitu neraka yang sangat dalam dan terjal ke bawah yang tidak diketahui sejauh mana kedalamannya (Lihat Tafsir Al-Baghowi 8/514). Sebagaimana telah dimaklumi bahwasanya neraka Jahannam sangat dalam, bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi dan para sahabat pernah mendengar suatu bunyi seperti bunyi batu yang jatuh, kemudian Nabi menjelaskan bahwa bunyi tersebut adalah batu yang telah dilepaskan 70 tahun yang lalu, dan baru sampai ke dasarnya neraka Jahannam.

Pada ayat ini Allah menggunakan ungkapan فَأُمُّهُ yang dalam bahasa Arab artinya adalah “ibunya” yaitu “ibunya adalah neraka”. Sebagian mengatakan maksudnya adalah أَمَّ رَأْسِهِ  artinya dia dilemparkan ke dalam neraka Jahannam dengan kepala terletak di bagian bawah sehingga ketika jatuh maka yang pertama kali jatuh adalah kepalanya. (lihat Tafsir al-Baghowi 8/514)

Pendapat lain yaitu neraka disebut sebagai “ibunya”, karena anak kecil tempat kembalinya dan tempat bernaungnya yang pertama adalah ibunya. Maka demikianlah neraka adalah tempat kembalinya dan  bernaungnya orang-orang kafir. (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/514). Sebagaimana seorang ibu selalu melazimi anak kecilnya maka demikian pula neraka (lihat Tafsir as-Sa’di hal 933). Sebagaimana ibu ketika memeluk anaknya maka dia akan mendekapnya erat-erat dan tidak akan dilepaskannya. Demikian pula neraka jahannam, orang-orang kafir mustahil untuk keluar dari neraka Jahannam.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ

“Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?”

  1. نَارٌ حَامِيَةٌ

“(Yaitu) api yang sangat panas”

Api di neraka akan dipanaskan terus menerus oleh Allah sehingga semakin sangat panas. Nabi menyebutkan tentang perbandingan api neraka dengan api dunia, beliau bersabda:

نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ

“Api yang biasa kalian nyalakan merupakan sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka jahanam.” (HR Bukhari no. 3265)

Yaitu 70 kali lipat dari panasnya api dunia. Padahal sungguh api di dunia ini tidak ada seorang pun yang bisa bertahan dari panasnya, lalu bagaimana dengan api yang dilipat gandakan sebanyak 70 kali lipat. Sebagian ulama mengatakan bahwa 70 kali lipat itu adalah 70 kali lipat secara hakiki, namun sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa 70 adalah simbol untuk menunjukkan berlipat-lipatnya api tersebut tanpa dibatasi berapa kali, karena orang Arab dahulu sering menggunakan angka 70 untuk menunjukkan sesuatu yang banyak sekali.

Ada banyak ayat-ayat yang menunjukkan akan panasnya api neraka. Seperti firman Allah:

نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ (6) الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ (7)

“(6) (Yaitu) api (adzab) Allah yang dinyalakan; (7) yang (membakar) sampai ke hati.” (QS Al-Humazah : 6-7)

Karena terlalu panas api yang membakarnya maka terbakarlah organ-organ yang ada di dalam tubuhnya. Tetapi itu semua tidak membuat dia mati, namun tidak pula hidup. Allah berfirman:

ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ

“Selanjutnya dia disana tidak mati dan tidak (pula) hidup.” (QS Al-A’laa : 13)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan adzab. Sungguh Allah Maha Perkasa Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa : 56)

Panas yang mereka rasakan membuat mereka tidak kuat untuk menanggungnya, lantas mereka memohon agar siksaan yang mereka rasakan bisa dihentikan walaupun hanya sehari. Akan tetapi, permohonan mereka hanya sekedar harapan belaka. Allah tidak menguranginya bahkan semakin menambahnya. Allah berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ

“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari’.” (QS Ghafir : 49)

فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا

“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” (QS An-Naba’ : 30)

Intinya hari kiamat adalah hari yang sangat dasyhat dan pada hari itu akan ada hari dimana amalan-amalan shalih itu akan ditimbang. Hendaknya setiap muslim yakin bahwa setiap kebaikan yang dia lakukan walaupun sedikit tetap akan diletakan oleh Allah dalam daun timbangan, begitupun dengan keburukan bagaimanapun sedikitnya. Oleh karena itu, hendaknya setiap hamba tidak pernah meremehkan kebaikan apapun, karena bisa jadi itu adalah pemberat timbangan amalannya di hari kiamat kelak.