Tafsir Surat Az-Zalzalah

Tafsir Surat Az-Zalzalah

Para ulama berselisih pendapat tentang status surat Az-Zalzalah, apakah tergolong Makkiyah atau Madaniyah. Sebagian ulama menyatakan bahwa surat Az-Zalzalah adalah Makkiyah berdasarkan topik pembahasan surat ini. Karena surat ini berisi tentang kondisi-kondisi hari kiamat. Sedangkan telah dimaklumi bahwasanya surat-surat yang berbicara tentang hari kiamat pada umumnya adalah surat Makkiyah. Akan tetapi jumhur ulama menyatakan bahwasanya surat ini adalah surat Madaniyyah.

Adapun pembahasan utama surat Az-Zalzalah adalah berbicara tentang bagaimana proses terjadinya hari kiamat, dimana bumi akan digoncangkan oleh Allah dengan sedahsyat-dahsyatnya lalu mengeluarkan isi perutnya, sehingga manusia terkaget-terkaget melihat kejadian tersebut. Kemudian dalam surat ini, Allah juga menjelaskan bahwasanya manusia dibangkitkan dalam banyak kelompok yang bermacam-macam, dan tentang balasan surga dan neraka.

Para ulama mencoba menjelaskan tentang hubungan surat Az-Zalzalah dan surat Al-Bayyinah. Mereka mengatakan, pada surat Al-Bayyinah Allah menjelaskan tentang makhluk paling baik dan makhluk paling buruk sedangkan pada surat Az-Zalzalah Allah juga menjelaskan bahwa manusia dibangkitkan berkelompok-kelompok sebagian masuk surga sebagian masuk neraka.

Terkait surat Az-Zalzalah, terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tentangnya. Diantaranya Nabi  pernah membaca surat Az-Zalzalah dalam shalat shubuh di setiap rakaatnya. Dari seorang laki-laki dari Juhainah dia berkata:

أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا

“Bahwa dia telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dalam shalat subuh Idza Zulzilatil Ardhu Zilzalaha’ pada kedua rakaatnya.” (HR Abu Daud no. 816)

Sampai-sampai perawi yang membawakan riwayat ini mengatakan, “Aku tidak tahu, apakah Nabi lupa atau beliau mengulang bacaannya dengan sengaja.”

Diantara hadits yang juga berkaitan dengan surat Az-Zalzalah adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash, dia berkata:

نَزَلَتْ إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا، وَأَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَاعِدٌ، فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا يُبْكِيكَ يَا أَبَا بَكْرٍ؟ ، قَالَ: أَبْكَتْنِي هَذِهِ السُّورَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَنَّكُمْ لَا تُخْطِئُونَ وَلَا تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللهُ مِنْ بَعْدِكُمْ أُمَّةً يُذْنِبُونَ وَيُخْطِئُونَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Ketika diturunkan firman-Nya, ‘Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat).’ (QS Az-Zalzalah : 1) Saat itu Abu Bakar As-Siddiq sedang duduk, lalu ia menangis, maka Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis, wahai Abu Bakar?” Maka Abu Bakar menjawab, “Surat inilah yang membuatku menangis.” Rasulullah bersabda: “Seandainya kalian tidak pernah berbuat kesalahan dan dosa hingga Allah tidak perlu memberikan ampunan bagi kalian, tentulah Dia akan menciptakan umat yang berbuat kesalahan dan melakukan perbuatan dosa, lalu Dia memberikan ampunan bagi mereka.” (HR Thabrani no. 87)

 

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang sangat dahsyat

زُلْزِلَتْ bermakna حُرِّكَتْ بِعُنْفٍ yaitu digoncangkan dengan keras (lihat Al-Muharror al-Wajiiz 5/510). Dan kegoncangan atau gempa yang terjadi pada hari kiamat kelak tidak sama dengan gempa yang ada sekarang ini. Allah mengingatkan akan dahsyatnya gempa bumi pada hari kiamat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيم * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya kegoncangan (pada hari) kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS Al-Hajj : 1-2)

Terjadinya kegoncangan bumi pada hari kiamat adalah pertanda akan munculnya alam lain yaitu alam akhirat. Sebagaimana banyak ayat lain yang mengisyaratkan kehancuran alam semesta pada hari kiamat kelak, seperti langit. Allah berfirman:

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ

“Apabila langit terbelah.” (QS Al-Infithar : 1)

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

“Apabila langit terbelah.” (QS Al-Insyiqaq : 1)

وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ

“Apabila langit dilepas.” (QS At-Takwir : 11)

Begitupun dengan gunung-gunung. Allah berfirman:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَاب

“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan.” (QS An-Naml : 88)

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا * فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا

“(5) Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya; (6) maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS Al-Waqi’ah : 5-6)

Demikian pula dengan bumi. Semuanya akan berubah dan akan diganti dengan bumi yang lain. Allah berfirman:

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ

“Dan apabila bumi diratakan.” (QS Al-Insyiqaq : 3)

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَات

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (QS Ibrahim : 48)

Dan diantara proses perubahan bumi tersebut adalah dengan digoncangkannya bumi dengan goncangan yang sangat dahsyat. Sebagaimana firman Allah dalam ayat pertama surat Az-Zalzalah ini. Para ulama berkata, makna زَلْزَلةٌ bukan sekedar digoncangkan akan tetapi digoncangkan dengan goncangan yang sangat dahsyat, ditambah setelahnya Allah menambahkan lafadz زِلْزَالَهَا sebagai maf’ul muthlaq yang berfungsi untuk penekanan arti dan penguatan.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا

“Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya”

Apabila dicermati lebih lanjut dalam buku-buku tafsir semisal tafsir Al-Qurthubi, tafsir Ibnu Katsir, tafsir As-Sa’di, atau tafsir-tafsir lainnya maka perkataan para salaf untuk ayat ini kembali kepada dua penafsiran. Pertama, bumi mengeluarkan isi perutnya berupa mayat-mayat yang dikuburkan sejak Nabi Adam sampai manusia terakhir di muka bumi ini (lihat Tafsir At-Thobari 24/558). Kedua, bumi mengeluarkan isi perutnya berupa benda-benda berharga yang tersimpan di dalam bumi seperti emas, perak, dan benda-benda lainnya yang selalu diperebutkan oleh manusia. (lihat Zaadul Masiir 4/477 dan Tafsir al-Qurthubi 20/147).Namun saat itu tidak ada lagi yang berminat dengan harta tersebut karena telah tegak hari kiamat. Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna.” (QS Asy-Syu’ara : 88)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا

“Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”

Sebagian ulama memberi tafsiran bahwasanya di hari kiamat nanti manusia akan bertanya-tanya dan kaget bumi yang tadinya tenang dan kokoh lalu tiba-tiba bergoncang dengan goncangan yang dahsyat. Sehingga orang-orang pun akan berkata, “Apa yang telah terjadi?”. Sehingga lafal الْإِنْسَانُ “manusia” di sini bersifat umum mencakup orang beriman dan juga orang kafir. Orang beriman kaget dengan kondisi bumi meskipun ia beriman dengan hari kebangkitan. Akan tetapi sebagaimana sabda Nabi لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ “Tidaklah sama antara mendengar khabar dengan melihat langsung”[1] (lihat Al-Muharror al-Wajiiz 5/510)

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan الْإِنْسَانُ “manusia” adalah khusus orang kafir yang kaget ketika mereka dibangkitkan pada hari kiamat, karena mereka tidak beriman dengan hari kebangkitan. Allah berfirman:

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ

“Mereka (orang-orang kafir) berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur).” (QS Yasin : 52)

Adapun orang-orang beriman mereka telah bersiap akan hal itu. Dalam kelanjutan ayat, Allah berfirman:

هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

“Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah para Rasul.” (QS Yasin : 52)

Manusia akan kaget melihat perubahan yang terjadi pada bumi. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwasanya bumi akan dihancurkan lalu bumi akan diubah menjadi bentuk yang baru yang berupa dataran. Allah berfirman:

لَا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا

“(Sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi disana.” (QS Thaha : 107)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya

Ada dua pendapat tentang makna ayat ini. Pertama yaitu bumi menyampaikan beritanya bahwa Allah memerintahkannya untuk bergoncang dan untuk mengeluarkan isi perutnya.

Adapun pendapat kedua yaitu bumi pada hari kiamat akan menjadi saksi tentang seluruh kebaikan keburukan yang pernah dilakukan di atasnya. (lihat Tafsir At-Thobari 24/559-561). Dia akan menyampaikan bahwa si fulan pernah berzina di atasnya, si fulan pernah mencuri di atasnya, si fulan pernah berbuat durhaka kepada orang tuanya di atasnya. Atau dia akan menyampaikan bahwa si fulan telah shalat di atasnya, si fulan telah bersedekah di atasnya.

Apa yang dilakukan oleh bumi kelak sebagai saksi tidak berarti menafikan bahwa Allah tidak mengetahui semua tingkah laku manusia. Tetapi hal tersebut adalah sebagai hujjah yang semakin kuat agar manusia tidak mungkin mengelak lagi. Karena bukan hanya bumi yang menjadi hujjah, tangan dan kaki orang yang melakukan amalan tersebut juga akan menjadi saksi, demikian pula malaikat. Allah berfirman:

كِرَامًا كَاتِبِينَ * يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

“(11) (Para malaikat) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu); (12) Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Infithar : 11-12)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS Qaf : 18)

Allah juga berfirman tentang tangan dan kaki yang menjadi saksi perbuatan kita selama di dunia:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Yasin : 65)

Oleh karena itu, tidak mungkin seseorang bisa menghindar agar bisa melakukan kemaksiatan dan tidak ada yang mengetahuinya, karena tangan dan kakinya akan menjadi saksinya. Bahkan kulitnya yang selalu menempel pada dirinya juga akan bersaksi. Allah berfirman:

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ (Kulit) mereka menjawab, ‘Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara’.” (QS Fushshilat : 21)

Demikian pula ketika seseorang melakukan kebaikan-kebaikan, maka bumi, tangan, kaki, dan kulitnya akan menjadi saksi yang akan membelanya. Betapa pun seseorang menyembunyikan amalannya, semua akan tercatat dengan rapi. Karena tangan juga akan menjadi saksi, kaki, kulit, dan lainnya. Sehingga tidak perlu dia memamerkan amalannya, bahkan bumi dimana dia berpijak akan menjadi saksi. Oleh karena itu, sebagian ulama menyebutkan hikmah kenapa Nabi ketika berangkat shalat ‘Id beliau pergi melalui suatu jalan dan pulang  melalui jalan yang lain, yaitu untuk memperbanyak bukti dari bumi sebagai saksi atas kebaikannya.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا

“Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya

Bumi pada hari kiamat dizinkan oleh Allah untuk berbicara menyampaikan segala persaksiannya tentang apa saja yang pernah dikerjakan di atasnya (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/502).

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ

Pada hari itu manusia keluar dari kuburannya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya”

Inilah bentuk keadilan Allah. Allah membangkitkan semua manusia di hari kiamat dalam keadaan yang berbeda-beda sesuai dengan amalannya selama di dunia yang berbeda-beda pula. Allah berfirman:

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ

“Sungguh usahamu memang beraneka ragam.” (QS Al-Lail : 4)

Maka manusia akan dikumpulkan berkelompok-kelompok berdasarkan tingkatan dan derajat mereka dalam kebaikan maupun keburukan (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/494)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”

Dalam ayat ini, lafadz خَيْرًا “kebaikan” datang dalam bentuk nakirah dan di awal ayat terdapat isim syarat  مَنْ “Barang siapa”. Berdasarkan kaidah ushul fiqih, jika suatu kata dalam bentuk nakirah disebutkan dalam bentuk syarat maka akan memberikan faedah keumuman. Dan kaidah ini berlaku pada ayat ke tujuh ini. Sehingga kebaikan yang dimaksud adalah umum meliputi segala macam kebaikan, walaupun seberat dzarrah.

Para ulama menjelaskan, dzarrah dalam bahasa Arab ada 3 tafsiran:

Pertama, semut kecil (semut yang baru lahir). Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَال

“Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil dengan rupa manusia.” (HR Tirmidzi no. 2492)

Kedua, apabila seseorang meletakkan debu di tangannya, kemudian dihempaskan maka sisa-sisa butiran-butiran debu yang ada di tangannya itulah yang disebut dzarrah.

Ketiga, partikel-partikel kecil yang terlihat di sela-sela cahaya matahari ada debu-debu yang berterbangan, dan tidak bisa dilihat kecuali ada cahaya matahari. Itulah yang disebut dengan dzarrah. (lihat Fathul Baari 1/104)

Al-Qurthubi berkata وَهِيَ فِي الْجُمْلَةِ عِبَارَةٌ عَنْ أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ وَأَصْغَرِهَا “Secara umum maksud dari dzarroh adalah ibarat dari sesuatu yang tersedikit dan terkecil” (Tafsir Al-Qurthubi 5/195)

Intinya, dzarrah adalah benda yang sangat kecil yang secara dzhahirnya tidak mempunyai berat apabila ditimbang, atau bahkan tidak berasa ketika dipegang. Pada ayat ini, Allah ingin menjelaskan bahwasanya kebaikan sekecil apapun bahkan sampai-sampai tidak terasa beratnya juga akan dibalas oleh Allah. Inilah ke-Maha Adil-an Allah, tidak ada yang terluputkan untuk mendapatkan balasan.

Muqotil ketika menafsirkan ayat ini dan menjelaskan sababun nuzulnya turun tentang dua orang. Yang pertama ketika turun firman Allah

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS Al-Insan : 8)

Diantara ciri-ciri ahli surga yaitu memberikan makanan yang dia sukainya, bukan makanan bekas atau makanan tidak enak. Ketika turun ayat tersebut, ada sesoerang didatangi oleh peminta-minta, lantas ia memeriksa persediaan makanan yang ia punyai, tetapi tidaklah dijumpai makanan melainkan hanya sedikit. Sehingga hal itu membuatnya enggan dan tidak jadi bersedekah kepada peminta-minta tersebut, karena menganggap pemberian itu adalah khusus untuk barang yang bernilai, adapun yang remeh maka tidak pantas untuk diberikan kepada orang lain dan tidak bernilai di sisi Allah. Akhirnya turunlah ayat ini, yaitu barang siapa yang melakukan kebaikan sedikit pun maka dia akan melihat hasilnya.

Demikian juga sebaliknya ada orang yang meremehkan dosa-dosa yang dianggap sepele seperti memandang yang haram, menurutnya yang Allah ancam dengan neraka adalah para pelaku dosa besar. Maka turunlah ayat ini (Lihat Tafsir Al-Baghowi 8/503)

Sebagaimana Nabi juga memotivasi agar memberi itu tidak harus berupa barang yang banyak. Akan tetapi berikanlah walaupun itu sedikit. Nabi pernah bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah.” (HR Bukhari no. 6539, Muslim no. 1016)

Kebaikan apapun walau itu sekecil apapun hendaknya diberikan dan tidak diremehkan. Nabi bersabda:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْق

“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR Muslim no. 6637)

Maka hendaknya seorang muslim tidak merasa bahwa pemberiannya yang kecil tidak akan bermanfaat. Karena paling tidak, kebaikannya tersebut akan dicatat oleh Allah. Bukankah gunung yang besar tersusun dari batu-batu kecil? Begitupun dengan kebaikan yang besar tersusun dari berbagai macam kebaikan. Dan yang paling utama adalah niat yang tulus, sebagaimana perkataan Ibnul Mubarak:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيْرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيْرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Betapa banyak amalan yang kecil jadi besar karena niat, dan betapa banyak amalan yang besar jadi kecil karena niat”

Setiap ada kesempatan untuk beramal shalih hendaknya dimanfaatkan, sedikit apapun jangan pernah terlalaikan. Bisa dengan dzikir-dzikir ringan atau amalan-amalan ringan lainnya seperti senyum kepada orang lain, berjabat tangan, bertutur kata yang baik, dan sebagainya.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”

Dua ayat ini adalah ayat yang komprehensif yang mencakup segala sesuatu. Barangsiapa yang menjadikan ayat ini sebagai pegangannya maka dia akan berusaha selalu bertakwa kepada Allāh dan dia akan semangat beribadah serta semangat meninggalkan kemaksiatan.

Ayat ini menjadi dalil bahwasanya keburukan sekecil apapun hendaknya tidak diremehkan, sebagaimana diremehkan oleh sebagian orang. Karena dosa yang diadzab oleh Allah bukan hanya dosa-dosa besar saja, tetapi seluruh kemaksiatan sekecil apapun itu akan dicatat oleh Allah dan akan ada pertanggungjawabannya. Bahkan sekedar lirikan mata, Allah berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS Ghafir : 19)

Jangankan lirikan mata bahkan isi hati juga diketahui oleh Allah. Tidak ada yang sepele di sisi Allah. Oleh karena itu, Nabi bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

Hatihatilah kalian dengan dosadosa yang dianggap ringan karena sesungguhnya dosadosa tersebut berkumpul pada diri seseorang sampai membinasakannya.” (HR Ahmad no. 3627)

Jika surat ini dicermati maka didapati bahwasanya balasan-balasan Allah itu akan didapatkan di hari kiamat. Allah berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan.”  (QS Ali ‘Imran : 30)

Allah juga berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil, dan yang besar melainkan tercatat semuanya,’ dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzhalimi seorang jua pun.” (QS Al-Kahfi : 49)

Namun sebagian ulama seperti Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwasanya balasan kebaikan maupun keburukan bukan hanya di akhirat, akan tetapi di dunia juga[2]. Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini. Seperti firman Allah:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيم * وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

“(13) Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan; (14) Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS Al-Infithar : 13-14)

Terkait ayat ini, Imam Ibnul Qayyim berkata bahwasanya orang-orang yang baik tersebut ada dalam tiga kenikmatan, kenikmatan dunia, kenikmatan di alam kubur, dan kenikmatan yang sempurna di akhirat kelak.

Ibnu Taimiyyah pernah berkata:

إِنَّ فِيْ الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَا يَدْخُلْ جَنَّةَ الآخِرَةَ

“Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan memasuki surga akhirat.” (Madarijus Salikin, 1/488)

Orang yang beriman dan beramal shalih akan merasakan kebahagiaan, sebelum kebahagiaan di akhirat dia akan merasakan kebahagiaan di dunia, begitu pun di alam barzakh. Demikian juga pelaku kemaksiatan, dia akan mendapatkan balasannya di dunia sebelum di akhirat. Oleh karena itu, seandainya seorang muslim terjerumus dalam kemaksiatan sekecil apapun dia akan melihat dampaknya. Allah berfirman:

مَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura : 30)

Sampai-sampai Rasulullah juga bersabda dalam sebuah haditsnya:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit yang berkepanjangan, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab-sebab tersebut.”  (HR Bukhari no. 5641)

Telah diriwayatkan bahwasanya ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu membaca firman Allah:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan ahlil Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS An-Nisa’ : 123)

Maka Abu Bakar berkata:

فَكُلَّ سُوءٍ عَمِلْنَا جُزِينَا بِهِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ ، أَلَسْتَ تَمْرَضُ ؟ أَلَسْتَ تَنْصَبُ ؟ أَلَسْتَ تَحْزَنُ ؟ أَلَسْتَ تُصِيبُكَ اللَّأْوَاءُ ؟ ” قَالَ : بَلَى ، قَالَ : ” فَهُوَ مَا تُجْزَوْنَ بِهِ

“Apakah setiap keburukan yang kita lakukan, kita akan dibalas (di akhirat kelak)?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar, tidakkah engkau merasakan sakit? Tidakkah engkau merasakan letih ? Tidakkah engkau merasakan sedih? Tidakkah menimpa engkau kesulitan-kesulitan hidup?” Abu Bakar berkata: “Tentu saja wahai Rasulullah” Rasulullah berkata, “Inilah balasan yang Allah berikan di dunia.” (HR Ahmad no. 65)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang dengan kesedihan dan kegundah-gulanaan yang dia rasakan serta kesulitan yang dia hadapi selama di dunia. Akan tetapi pengaruh yang sempurna adalah di akhirat.

[1] HR Ahmad no 1842, Ibnu Hibbaan no 6213, Al-Hakim no 3250, dan dishahihkan oleh Al-Albani di Shahih al-Jaami’ no 5374

[2] Lihat kembali tafsir surat al-Infithoor ayat 13